YOHANES PEMBAPTIS

27/01/2010

Apa pesan dari pengkhotbah yang oleh banyak orang diyakini telah membaptis Yesus itu?

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program,  University of Texas at Austin

YOHANES PEMBAPTIS DAN RITUAL BAPTIS

Pengetahuan kita mengenai sosok Yohanes Pembaptis sangat terbatas. Kita hanya memiliki referensi-referensi mengenai dia dalam injil-injil Kristen, di mana ia berdiri berdampingan dengan Yesus. Kita juga mempunyai referensi mengenai dia dari sejarawan Yahudi Josephus, yang menulis menjelang akhir abad pertama. Jadi Yohanes Pembaptis jelas tokoh yang penting pada masa itu. Dari cara Josephus menggambarkannya, Yohanes rupanya terkenal eksentrik. Tetapi agaknya dia memiliki kualitas sebagai sosok profetik . . . orang yang menyerukan perubahan. Karena itu biasanya dia dianggap menyingkirkan diri ke gurun dengan mengenakan pakaian tidak lumrah . . . semacam seorang asketik (pertapa). Tetapi sebenarnya dia seorang pengritik masyarakat, pengritik keduaniawian, yang rupanya menyerukan perubahan dalam kehidupan religius. Tetapi saya kira kita harus menganggap Yohanes Pembaptis terutama sebagai orang yang menyerukan agar orang-orang kembali pada kesalehan yang khas Yahudi . . . untuk mengikuti jalan Tuhan . . . untuk menyucikan diri sendiri . . . untuk berkumpul dengan Tuhan

Dan mengapa ia membaptis orang-orang, dan baptis itu sendiri apa?

Tentu saja Yohanes Pembaptis dikenal karena telah melakukan pembaptisan. Tetapi banyak orang lain juga melakukan hal itu. kita mendengar tentang kelompok-kelompok lain di seputar masa itu, selain orang-orang Saduki dan Farisi dan Essenes. Ada kelompok-kelompok kecil yang tidak begitu dikenal. Kita hanya mengetahui nama-nama mereka, tetapi salah satu dari mereka disebut kelompok Kungkum Pagi, atau Hemero-Baptists. Ini agaknya mengacu pada kelompok yang mempraktekkan ritual merendam diri sebagai laku penyucian. Dari gulungan-gulungan kitab Laut Mati, kita juga tahu bahwa komunitas Qumran itu merendam diri sebagai laku penyucian juga, untuk menyucikan diri di hadapan Tuhan. Jadi gagasan tentang baptis atau pencucian sebagai pertanda kesucian rupanya, sebenarnya, berasal dari praktek Bait Allah  itu sendiri.

Dan apa arti penting hal itu bagi pengkajian tentang Yesus?

Dari sudut pandang pengkajian Yesus, jika Yesus minta dibaptis, atau dia sendiri membaptis orang-orang lain, itu mengisyaratkan bahwa kita adalah bagian dari sebuah kultur yang mengarahkan pandangan pada kesucian Bait Allah  sebagai ideal kehidupan religius. Yang saya maksudkan dengan kesucian Bait Allah  adalah gagasan bahwa orang harus suci . . . harus dimandikan . . . harus dibersihkan, sebelum dia bisa pergi ke Bait Allah dan melakukan persembahan atau memuja Tuhan. Jadi anda lihat, salah satu masalah dari Bait Allah, dan para Imam yang mengelolanya, adalah bahwa aturan-aturan kesucian yang benar harus ditaati sampai njlimet. Tetapi dalam beberapa hal aturan-aturan kesucian ini juga dijadikan praktek . . . apa yang kita sebut kesalehan personal di antara beberapa kelompok Yahudi. Rupanya ini yang dilakukan oleh kelompok Essenes. Dan mungkin itu juga apa yang tercermin dalam kisah tentang Yohanes yang melakukan pembaptisan. Dan rupanya ia menyerukan pembaptisan sebagai tanda rededikasi atau repurifikasi kehidupan yang khas Yahudi di hadapan Tuhan.

John Dominic Crossan:

Professor Emeritus of Religious Studies, DePaul University

YESUS DAN YOHANES PEMBAPTIS

Bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis itu sudah jelas bagi sejarawan manapun, sama jelasnya dengan yang mereka ketahui tentang Yesus. Tetapi hal ini menjadi agak kabur dalam teks-teks yang kita miliki sekarang akibat fakta bahwa belakangan para pengikut Yesus beranggapan bahwa tidak pada tempatnya jika Messiah harus dibaptis, dan jika Messiah terkesan lebih rendah dari Yohanes Pembaptis.  Yesus dibaptis oleh Yohanes, dan karena itu ia harus menerima pesan Yohanes, setidak-tidaknya pada saat ia sedang dibaptis—apakah belakangan ia berubah, itu masalah lain. Tetapi ia menerima pesan itu ketika ia dibaptis, dan pesan Yohanes adalah, “Allah, tidak lama lagi, kapan pun saatnya, akan turun untuk menghapuskan kejahatan di muka bumi ini dengan suatu penyelesaian yang apokaliptik.

Salah satu pernyataan paling awal yang kita punyai . . . adalah sebuah pernyataan oleh Yesus bahwa Yohanes adalah orang terbesar yang pernah lahir di muka bumi, tetapi yang terkecil di Kerajaan Allah adalah lebih besar daripada Yohanes. Nah, ini adalah pernyataan yang sangat ambigu. Paruh yang pertama memuji-muji Yohanes setinggi langit, paruh yang kedua menempatkan orang terkecil di Kerajaan Allah . . . lebih besar dari dia. Tetapi inilah yang saya tangkap. Itu berarti Yesus mengubah visinya tentang Allah dan Kerajaan Allah dari apa yang dulu ia terima dari Yohanes. Bukannya dia mengecilkan Yohanes, melainkan ia mengatakan Kerajaan Allah itu tidak sama persis dengan yang diajarkan oleh Yohanes.

Dapatkah anda mendefinisikan, dalam pandangan anda sendiri, apa perbedaan di antara keduanya?

Perbedaan yang saya lihat antara Yohanes Pembaptis dengan Yesus adalah—dengan bahasa akademik yang wah itu—bahwa Yohanes adalah seorang “apocalyptic eschatologist.” Eskatologis  adalah orang yang berpandangan bahwa masalah dunia ini begitu radikal sehingga untuk menyelesaikannya dibutuhkan solusi ilahi yang juga radikal. Salah satu tipenya, misalnya, adalah Yohanes. Allah akan turun ke bumi dalam sesuatu event katastrofis untuk menyelesaikan masalah dunia. Ada eskatologi tipe lain. Dan itu adalah yang saya kira tengah diajarkan oleh Yesus. Saya menyebutnya “ethical eschatology.” Ini adalah tuntutan yang disampaikan Allah pada kita—bukan kita yang menuntut Allah—untuk berbuat sesuatu untuk mengatasi kejahatan dunia ini. Dalam apokalipse (kiamat), kita menunggu Allah. Dalam eskatologi etis, Allah lah yang menunggu kita. Itulah, saya kira, yang Yesus bicarakan tentang Kerajaan Allah. Itu adalah tuntutan pada kita agar berbuat sesuatu bersama-sama dengan Allah. Itu adalah Kerajaan Allah. Tetapi itu adalah Kerajaan Allah di muka bumi.

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament,  Yale Divinity School

MASALAH-MASALAH HISTORIS SEHUBUNGAN DENGAN YOHANES PEMBAPTIS

Melihat hubungan antara Yesus dengan Yohanes Pembaptis, apa saja masalah historis yang muncul dari hal itu?

Kita tahu baik dari halaman-halaman injil maupun dari Josephus . . . bahwa Yohanes adalah seorang pengkhotbah apokaliptik. Maksudnya, orang yang menyerukan pesan tentang pengadilan kiamat dan menyerukan agar orang-orang bertobat, untuk menghadapi apa yang ia ramalkan sebagai intervensi Allah yang akan segera terjadi kedalam masalah dunia untuk mengadili yang baik dan yang jahat. Yesus rupanya menanggapi seruan itu . . ., kemudian injil-injil menyatakan bahwa Yesus adalah orang yang diramalkan oleh Yohanes. Jadi salah satu masalah esensiilnya adalah akurasi deskripsi tentang hubungan antara kedua orang itu. Maksudnya, Yohanes sebagai pendahulu yang sadar-diri daripada Yesus. Kebanyakan sarjana kontemporer akan melihat hal itu sebagai sebuah konstruk yang dikembangkan oleh gereja purba untuk membantu menjelaskan hubungan di antara keduanya. Karena bagi gereja purba  akan agak memalukan untuk mengatakan bahwa Yesus, yang dalam pikiran mereka lebih besar daripada Yohanes, telah dibaptis oleh dia, dan karena itu memproklamasikan sesuatu di bawah Yohanes, (katakanlah menjadi rasulnya Yohanes). . . .

Apa arti-penting pembaptisan itu dan apakah pembaptisan itu unik pada Yohanes?

Di seputar waktu Yesus dibaptis, ada banyak guru lain;  ritual-ritual baptis atau penyucian juga merupakan bagian dari Yudaisme yang tidak memiliki orientasi eskatologis, atau orientasi profetik, seperti yang kita kaitkan dengan Yohanes Pembaptis . . . Dari injil-injil dan dari kesaksian dalam Josephus kita bisa tahu bahwa pembaptisan Yohanes itu mempunyai orientasi eskatologis atau profetik. Itu adalah cara untuk mengekspresikan pertobatan untuk menghadapi pengadilan kiamat yang akan segera tiba.

Mengapa Yohanes dibunuh? Apa impaknya pada kehidupan dan karir Yesus?

Yohanes Pembaptis dibunuh karena ia sering mengritik penguasa masa itu, Herodes Antipas. Semua sumber sependapat mengenai hal itu, baik Josephus maupun kesaksian injil-injil. Persisnya seperti apa kritik itu tidak sepenuhnya jelas. Materi dalam injil-injil mengisyaratkan bahwa kritik itu berkaitan dengan praktek perkawinan Herodes dan moralitas pribadinya. Mungkin juga ada sesuatu yang bersifat politis dalam pengutukan Yohanes terhadap Herodes, karena Herodes Antipas memang intim dengan para pejabat kekaisaran Romawi. Bagaimanapun juga, Yohanes dieksekusi oleh Herodes sebagai seorang troublemaker dan provokator politik. Nah, kita tidak tahu bagaimana impaknya pada Yesus, apakah atas dasar kematian Yohanes itu maka ia mempertimbangkan kembali pesan apokaliptik yang berasal dari Yohanes tadi, atau apakah ia ingin melanjutkannya dan melebarkannya. Keduanya mungkin saja. Pernyataannya mengenai hal itu tidak pernah bersifat langsung.

http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, 21 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: