Yesus lahir, hidup, dan mati sebagai orang Yahudi

27/01/2010

Identitas Yesus tidak dapat dipahami terlepas dari keYahudiannya.

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament Yale Divinity School

Apa pengaruh religius yang paling dominan [pada Yesus]?

Yesus jelas dihadapkan pada pengaruh tradisi-tradisi Israel—itu tidak diragukan sama sekali. Tetapi dalam bentuk apa pengaruh-pengaruh itu mendatanginya di Galilei di awal abad ke-1 itu agak tidak jelas. Ia jelas sudah tahu tentang Bait Allah di Yerusalem, dan barangkali, sebagaimana tradisi-tradisi laporkan. . . . . pasti pernah pergi ke Yerusalem untuk perayaan-perayaan jiarah besar itu. Ia pasti sudah mengetahui ritual-ritual Bait Allah, signifikansi mereka bagi penebusan dosa. Ia pasti pernah merayakan Paskah, saya kira, bersama keluarganya, dan pasti telah mengetahui harapan-harapan yang terkandung dalam Paskah bagi pembebasan ilahi. Barangkali ia sadar akan gerakan Farisi yang semakin menguat yang mengajarkan sebuah gagasan tentang kemurnian yang tersedia bagi semua orang Yahudi, bukan hanya mereka yang memimpin kepercayaan Bait Allah itu. Ia pasti telah mengenal alkitab Yahudi. . . . .Dan kita bisa lihat dalam beberapa perumpamaan bagaimana ia mempermainkan imaji-imaji dari alkitab. Misalnya, cedar besar Lebanon kutipan dari Yeheskiel itu barangkali memainkan peran dalam deskripsi Yesus tentang bibit sawi itu, yang berubah menjadi sebuah pohon, dan jelas ada sebuah unsur parodi di sini. Jadi hubungan Yesus dengan warisan alkitab adalah hubungan yang kompleks, tetapi itu jelas merupakan hubungan yang penting dalam pembentukan dia . . . . . .

Shaye I.D. Cohen:

Samuel Ungerleider Professor of Judaic Studies and Professor of Religious Studies Brown University

Apakah Yesus orang Yahudi, dan, jika dia Yahudi, bagaimana hal itu mempengaruhi pengalaman-pengalamannya sebagai seorang pemuda yang dibesarkan di Galilei?

Apakah Yesus orang Yahudi? Of course, Yesus orang Yahudi. Ia lahir dari seorang ibu Yahudi, di Galilei, sebuah bagian yang Jewish dari dunia ini. Semua teman-temannya, kenalan-kenalannya, kolega-koleganya, murid-muridnya—mereka semua orang Yahudi.  Ia biasa beribadah dalam peribadahan komunal Yahudi, apa yang kita sebut sinagoga itu. Ia mengajar dari teks Yahudi, dari Alkitab. Ia merayakan perayaan-perayaan Yahudi. Ia pergi berjiarah ke kuil Yahudi di Yerusalem di mana dia berada di bawah otoritas para imam. . . . . Dia hidup, lahir, hidup, mati, mengajar sebagai orang Yahudi. Ini sudah amat gamblang bagi setiap pembaca teks injil. Yang menarik bukanlah bahwa Yesus orang Yahudi, melainkan bahwa injil-injil itu sama sekali tidak mengajukan pretensi bahwa Yesus bukan orang Yahudi. Injil-injil itu tidak menunjukkan kesan bahwa Yesus bukan orang Yahudi. Injil-injil bahkan tidak menunjukkan kesan bahwa ia datang untuk mendirikan sebuah agama baru, sebuah gagasan yang sepenuhnya asing bagi semua teks injil., dan yang sepenuhnya asing bagi Paulus. Itu adalah gagasan yang datangnya nanti—belakangan. Jadi, menyatakan bahwa Yesus orang Yahudi berarti menyatakan sebuah truisme, menyatakan hal yang memang sudah amat sangat gamblang, sehingga orang-orang malah bertanya-tanya “lho, kenapa musti dikatakan?” Tetapi tentu saja hal ini perlu dikatakan karena kita semua tahu apa yang terjadi kemudian dalam kisah itu, ketika ternyata Kristianitas berkembang menjadi sesuatu yang berbeda sama sekali dari Yudaisme dan sebagai akibatnya, Yesus dalam retrospeksi dipandang bukan sebagai seorang Yahudi, melainkan sebagai sesuatu yang lain, sebagai pendiri Kristianitas.  Tetapi, tentu saja, Yesus orang Yahudi.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

Apakah Yesus Jewish? Mengapa hal itu penting bagi kita dan mengapa hal itu mewarnai persepsi-persepsinya?

Yang mengherankan saya ketika membaca cerita-cerita tentang Yesus dalam Perjanjian Baru, adalah betapa dia sepenuhnya mapan dalam praktek keagamaan dan kesalehan dunia Yahudi . . . . abad ke-1 itu.  Perhatian kita cenderung teralihkan oleh alur plot utama injil-injil itu, karena kita menunggu-nunggu kisah itu berkembang dan memuncak sampai pada penyaliban. Tetapi, dalam kisah itu, dan kisah-kisah itu diceritakan oleh para penginjil yang mengisi kesenjangan antara Galilei dengan Yerusalem, Yesus dihadirkan sebagai secara kontinyu pergi memasuki sinagoga pada hari Sabbath. Ia diceritakan pergi ke Yerusalem untuk melaksanakan perayaan-perayaan jiarah, khususnya dalam Yohanes, untuk sejumlah hari besar jiarah, dan dalam injil-injil sinoptik, yang terpenting, untuk merayakan Paskah. Yerusalem pada saat Paskah bukanlah tempat di mana anda ingin berada kecuali jika anda benar-benar berniat untuk menjalani aktivitas ritual yang begitu berat itu, dengan resonansi historisnya yang sangat besar itu. . . .

Apa yang kita pelajari dari cerita-cerita injil bukanlah bahwa Yesus bukan orang Yahudi. Justru sebaliknya. Ia sepenuhnya mapan dalam Yudaisme di jamannya. Apa yang kita pelajari dari injil-injil adalah bahwa ia bukan anggota dari salah satu dari kelompok-kelompok yang ciri-ciri identifikasinya diberikan oleh Josephus pada kita. Ia bukan orang Saduki. Ia bukan orang Farisi. Ia selalu berdebat dengan orang-orang Farisi. Ia bukan orang Essene. Ia bukan politikus pejuang kemerdekaan. Dan kenyataan bahwa dia selalu berdebat dengan orang-orang lain yang mungkin merupakan anggota dari kelompok-kelompok lain itu justru menandaskan bahwa dia betul-betul orang Yahudi, sebab memang itulah yang dilakukan semua orang Yahudi dengan satu sama lain—saling mendebat sepanjang segala abad.

Lebih jauh mengenai Yudaisme Yesus, baca The Rabbi tulisan Jaroslav Pelikan.

Judul asli: “He was born, lived, and died a Jew”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/first/kingdoms.html

Terjemahan: Bern Hidayat, 23 November 2009

ie’`YPU:12.0pt;font-family:”Times New Roman”,”serif”;mso-fareast-font-family: “Times New Roman”‘>Saya mungkin akan mengatakan bahwa inti ajaran Yesus adalah amanat-amanatnya yang—katakanlah—enigmatik. . . . . Jika anda kembali ke doktrinnya, jika istilah yang tepat memang itu, apa yang akan anda temukan dan bagaimana anda menerima hal itu?

Amanat-amanat Yesus seringkali memang enigmatik [penuh dengan teka-teki], hanya karena mereka tidak memiliki konteks. Jika, misalnya, anda mengatakan “yang terakhir akan menjadi pertama dan yang pertama akan menjadi terakhir, “ itu bisa berarti apa saja jika diambil di luar konteks. Itu bisa menjadi sebuah klise yang banal, atau itu bisa menjadi sebuah seruan pemberontakan. Jika ditempatkan kembali kedalam konteks sebuah negeri yang terjajah, sebuah negeri Yahudi yang dijajah oleh orang-orang Romawi, urbanisasi Galilei bagian hilir, pernyataan-pernyataan seperti “terberkatilah orang-orang yang miskin” akan memiliki greget religio-politis yang tajam dan tidak akan seenigmatik seperti yang terdengar sekarang.

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN

Yesus paling terkenal, saya rasa, karena perumpamaan-perumpamaan dan aforisma-aforismanya. Dan keduanya adalah cara mengajar orang-orang biasa yang ampuh. Nah, jika anda membaca mereka dalam Perjanjian Baru, mungkin dibutuhkan waktu hanya satu menit untuk membacanya. Saya bayangkan mereka sebagai —mungkin— sebuah interaksi sepanjang satu jam antara Yesus dengan pendengarnya —yang barangkali membantah dia, dan menyela dia, dan mendebat dia, dan beradu pendapat dengannya, dan bertengkar dengannya. Dan perumpamaan adalah —sebenarnya— adalah sebuah cara yang bagus untuk memaksa mereka berpikir keras. Itu adalah cara yang ampuh untuk memprovokasi orang-orang agar mengeluarkan pemikiran mereka sendiri. . . . .

[Misalnya] Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang orang yang mengambil biji mustard,* menanamnya di ladang, dan mustard itu tumbuh menjadi sebatang pohon besar—meskipun sebenarnya itu tanaman liar [gulma]—dalam bahasa rakyat kecil. Nah, bayangkan audiens yang bereaksi pada cerita itu.  Barangkali Kerajaan Surga itu seperti . . . . . dan anda harus membayangkannya. “Seperti apa? Maksudmu, kerajaan itu besar? Tadi kamu kan bilang itu semak liar tapi besar? Kenapa nggak bilang seperti pohon jati? Atau pohon cedar Lebanon? Kenapa semak besar? Lagian, ini kan mustard. Memangnya kamu suka mustard? Lagian ini kan berbahaya untuk ladang-ladang kita. Kita kan harus berjuang keras mencabutinya, menjauhkannya dari tanaman pangan kita. Masak Kerajaan Surga kok kayak gini?” Audiens akan mengeluarkan aneka macam reaksi . . . . . para pendengar akan eyel-eyelen di antara mereka sendiri, semuanya menebak-nebak, semuanya berusaha menjawab Yesus— dan memang itulah yang dia inginkan. Perumpamaan itu membuat mereka berpikir keras, tentu saja bukan tentang mustard, tetapi tentang Kerajaan Surga. Tetapi jebakannya: itu adalah imaji yang sangat provokatif, bahkan konyol-konyolan, tentang Kerajaan Surga. Andaikata Yesus mengatakan Kerajaan Surga itu seperti pohon jati, pendengarnya akan nyeletuk “Tentu saja,” lalu menguap dan tidur. Tapi ketika dikatakan seperti tanaman mustard, semua njingkat, “Hei . . . hei. . .  hei. . . . . apa-apaan nih?”

Apakah gaya pengajaran [dengan perumpamaan] itu khas Yesus?

Perumpamaan-perumpamaan itu unik dalam arti sangat terbatas, yaitu bahwa pengajaran utama Yesus bukanlah dengan menarik teks-teks dari kitab-kitab Yahudi dan menjelaskan mereka, atau mengecam mereka, atau mengomentari mereka. Yang dia lakukan adalah menyampaikan cerita yang biasa-biasa saja. Dan menggunakannya sebagai pengajaran utama. “Kerajaan Allah adalah seperti ini.” Nah, anda harus berpikir, well, saya dengar ceritanya, tapi kok bisa Kerajaan Allah kok seperti itu? itu tugas anda sebagai pendengar. Jadi itu terbuka untuk siapa saja. Dan itu lah, saya kira, intinya perumpamaan.

Jadi dari awal mula pengajarannya memang tergantung pada interpretasi?

Jika anda mengajar dengan perumpamaan-perumpamaan, anda menyerahkan diri anda sendiri pada interpretasi. Jika anda ingin memberitahu orang-orang apa yang harus mereka pikirkan, anda beri mereka khotbah. Jika anda beri mereka perumpamaan, anda membiarkan diri anda sendiri terbuka bagi interpretasi—tak pelak lagi.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

PELAYANAN YESUS

Dengan demikian, dari perspektif historis murni, kita benar-benar tidak tahu banyak tentang pelayanan Yesus. Itu mungkin asngat singkat, tergantung pada injil mana yang anda baca, mungkin sesingkat beberapa bulan saja, atau sepanjang tiga tahun, tetapi jika kita mengambil versi yang lebih kecil dari kisahnya, jika kita mengambil perspektif historis yang lebih terbatas yang disodorkan pada kita oleh injil Markus, misalnya, maka Yesus rupanya mulai mengajar di Galilei. Dia diasosiasikan dengan kota-kota—kota-kota agak kecil seperti Capernaum di Laut Galilei, kota-kota pasar, pusat-pusat perikanan, dan sebagainya. Dan ia bergaul dengan beberapa petani dan beberapa orang kota, tapi cuma itu yang kita dengar . . . . .

Tetapi pelayanan publiknya rupanya terfokus secara khusus di seputar membuat mukjijat-mukjijat, mengusir setan-setan, menyembuhkan orang-orang. Ia terkenal sebagai pekerja mukjijat. Ia banyak melakukan perjalanan, tetapi kebanyakan di Galilei. Dan, setidak-tidaknya dalam injil Markus, ia tidak pernah memikirkan akan pergi ke Yerusalem kecuali di minggu terakhir kehidupannya. Jadi kerangka geografis dari referensi tentang kehidupan Yesus, setidak-tidaknya dalam injil Markus, terbatas pada konteks Galilei—terutama. Dan itu berbeda jauh dari injil Yohanes yang menceritakan Yesus di Yerusalem sejak tahap yang sangat awal. Nah, dari perspektif historis, kedua cerita itu tidak begitu akur, dan kita harus ekstra hati-hati mengenai apa yang katakan tentang kehidupan Yesus. . . . . . Mungkin lebih baik cari jalan aman ketimbang menyesal belakangan, dan mengatakan, “Apa hal paling kecil yang bisa kita katakan? Apa yang bisa benar-benar kita ketahui?” Dan kemudian bertitik-tolak dari sana kita membicarakan bagaimana kedua cerita itu berkembang.

Kedengarannya seperti —ketika anda sampai ke dasarnya— anda benar-benar tidak bisa tahu banyak tentang hal itu.

Kita tidak tahu banyak tentang kehidupan Yesus dalam analisa finalnya. Kita tahu dia adalah seorang public figure; kita tahu dia mempunyai pengikut yang semakin membesar; kita tahu dia akhirnya pergi ke Yerusalem dan di sana ia ditahan dan dieksekusi. Sisa ceritanya diisi oleh injil-injil dengan jalan berbicara tentang kehidupannya sebagai sebuah kehidupan yang signifikan. Tetapi perspektif minimalis yang bisa dikatakan oleh seorang sejarawan adalah: itu adalah sebuah kehidupan yang kita tidak tahu secara rinci sampai kematiannya.

Sumber: www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, 25 Januari 2010


*Dalam injil bahasa Indonesia, kata ini sering diterjemahkan menjadi “sesawi” dan dinyatakan sebagai “sayuran” sehingga interpretasinya pasti jungkir-balik. Sumber-sumber internet menunjukkan beberapa hal penting: (1) kata aslinya dalam bahasa Yunani adalah “sinapi’ yang diterjemahkan secara correct dalam bahasa Inggris menjadi “mustard”; (2) sinapi/mustard tidak tumbuh di Nusantara sehingga padanannya dalam bahasa Nusantara tidak ada; (3) mustard termasuk semak liar, sehingga tidak akan pernah menjadi pohon, meskipun bisa tumbuh sampai 6 meter; (4) mustard bukan sayuran, jenis yang bisa dimanfaatkan cuma black mustard, untuk saus, yang juga tidak disukai meskipun di jaman Yesus; (5) kitab Mishnah melarang orang-orang Yahudi jaman Yesus menanam mustard karena membahayakan pertanian. Saya sendiri pernah makan sandwich dengan saus mustard, lalu muntah-muntah, lalu kapok. Sesudah itu saya lihat cuma orang-orang katrok yang suka makan mustard. Mengenai terjemahannya menjadi “sesawi,” saya rasa itu hasil ulah Gusti Detik (Van der Tuuk), ahli bahasa kenthir yang di jaman tempo doeloe dikontrak para petinggi gereja Protestan Belanda untuk mempelajari bahasa-bahasa Nusantara untuk keperluan menerjemahkan injil. Karena padanannya memang tidak ada, dia lalu main kira-kira. Caranya begini: dia merem dhipet, pasang kuping lebar-lebar, lalu mengucapkan kata Yunaninya keras-keras (dengan catatan:  huruf “p” Latin dalam bahasa Yunani ditulis “v”): sinapi . . . . . sinaphi . . . . sinafi . . . . sinavi . . . . sinaui . . . . sinawi . . . . sisawi . . . . . sesawi . . . . . Nah, itu dia: SAWI ! (Penerjemah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: