Yesus Historis – 2

27/01/2010

Ceramah oleh L. Michael White

30 Mei 1998, Harvard University

PENCARIAN YESUS HISTORIS

“Sekarang tidak seorang pun berada dalam posisi untuk menulis tentang Yesus. Adalah kesimpulan yang tidak mengherankan dan niscaya dipertanyakan lagi pada hari ini [pada 1954] mengenai sebuah kiprah  pencarian yang selama hampir 200 tahun telah menyumbangkan tenaga yang begitu besar, dan sama sekali bukan tanpa buah,  untuk memperoleh kembali dan menggambarkan serta menjelaskan kehidupan Yesus historis yang terbebas dari segala renik-pernik dogma dan doktrin. Pada akhirnya penelitian mengenai kehidupan Yesus ini hanya bisa menyaksikan kegagalannya sendiri.”

Itu adalah kalimat-kalimat pembukaan Gunther Bornkamm untuk bukunya, Jesus of Nazareth, yang diterbitkan pada 1956. Akhirnya buku itu terjual sebanyak hampir 100.000 kopi dalam lebih dari sebelas cetakan, dalam berbagai bahasa. Itu adalah salah satu dari pengkajian-pengkajian yang paling berpengaruh dari pertengahan abad ini mengenai Yesus historis. Tetapi apa yang pada hemat saya menarik adalah apa yang oleh Bornkamm dianggap tidak mengherankan. Bahwa untuk menulis sebuah buku tentang kehidupan Yesus itu sudah tidak mungkin lagi adalah tidak mengherankan, dari perspektif Bornkamm pada 1954.

Sekarang, 43 tahun kemudian, bagi banyak orang, sekarang hal itu mengherankan. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dalam proses generasi terakhir, di mana banyak hal sekarang menjadi jauh lebih mengherankan bagi jauh lebih banyak orang?

Saya kira jawaban atas pertanyaan itu adalah adanya sebuah kesenjangan ganda, sebuah kesenjangan yang berkembang dalam kesadaran kita sebagai masyarakat luas. Pertama, di pertengahan abad ini, saya kira sebenarnya ada kesadaran yang jauh lebih besar tentang isu-isu hisoris kritis di seputar kehidupan Yesus. Ada pengetahuan yang jauh lebih luas mengenai hal itu. Selama satu generasi terakhir ini terjadi penyusutan minat pada diskusi-diskusi seperti itu. dan banyak dari diskusi-diskusi mengenai kehidupan Yesus historis didominasi oleh suara-suara dari dalam komunitas-komunitas iman tertentu yang berbicara di antara mereka sendiri.

Para akademisi barangkali juga keliru. Dan itu adalah masalah kedua. Ada kesenjangan kesadaran tentang apa yang tengah dikerjakan oleh penelitian yang sekarang marak. Dan saya tidak menyalahkan para akademisi. Dibutuhkan waktu panjang untuk mengusung beberapa dari isu-isu itu ke dunia luar. Penemuan-penemuan baru telah terjadi secara besar-besaran dalam 20 tahun terakhir ini, khususnya dalam arkeologi di Timur Tengah. Banyak dari temuan-temuan arkeologis baru itu dicapai baru sesudah perang tahun ’67 dan ’73, antara lain berkat bom-bom yang jatuh di tempat yang tidak ditargetkan tetapi justru membuka daerah-daerah yang sampai saat itu belum pernah diekskavasi. Tetapi kadang-kadang hal itu memberikan penerangan pada hal-hal yang sampai saat itu belum pernah kita ketahui—dan dengan demikian sebuah kesenjangan yang berkembang akibat ledakan informasi baru, dan juga kurangnya diskusi-diskusi lama dilakukan. Akibatnya, kita sekarang harus mengejar ketinggalan. Kita harus kembali ke upaya memahami dari mana banyak dari hal-hal itu berasal. Dan itulah sebenarnya yang tengah kami lakukan dalam segala macam program-program seminari, sekolah-sekolah teologi, dan program-program universitas di mana kita mempelajari materi ini.

Meskipun begitu, pernyataan Bornkamm juga mencerminkan adanya proses pengembangan lain di abad ke-20. Setelah awal yang tumpul itu, di mana ia mengatakan tidak seorang pun bisa menulis buku tentang kehidupan Yesus lagi (ingat, itu adalah kalimat pembukaannya), sekarang Bornkamm menyediakan 231 halaman (dalam bahasa Inggris; 211 halaman dalam bahasa aslinya, Jerman) untuk berbicara tentang kehidupan Yesus. Bisa-bisanya dia melakukan hal itu? Apa yang dia lakukan, jika tidak seorang pun bisa menulis buku tentang kehidupan Yesus lagi? Yang ia maksudkan dengan “Leben Jesu” (“life of Jesus”) ternyata bukan Yesus historis. Ketidak-mungkinannya bukan itu, melainkan menulis buku tentang kehidupan tradisional Yesus sebagai sebuah genre sastra yang umum sepanjang abad ke-18 dan 19 serta awal abad ke-20. Ekuivalennya adalah apa yang Marilyn dan saya sebut efek “video Christmas card”—meminjam istilah television programming yang menayangkan Yesus. Anda telah melihat mereka pada dokumenter-dokumenter lain yang sekedar membeokan kisah injil tanpa resonansi historis kritis apapun. Itulah “kehidupan Yesus” sebagai komoditas tradisional. Dan memang tidak ada salahnya melihat apa yang ada dalam tradisi. Saya kira itu sangat penting. Tetapi melihat garapan tradisional mengenai kisah Yesus tidak berarti sama dengan memandang sejarah dan memandang Yesus historis. Dan dalam arti tertentu, itulah yang dibicarakan Bornkamm pada 1956, dan itulah yang sedang kami lakukan sekarang ini.

Dengan demikian, adalah penting bahwa dalam bab ini, mengenai fakta-fakta yang tak terbantahkan mengenai kehidupan Yesus, hal-hal yang diasumsikan dalam kisah-kisah “video Christmas card” tradisional itu sekarang harus dianggap, dalam pandangan Bornkamm, sebagai tidak memiliki nilai historis sama sekali. Ia mengatakan, misalnya, tidak ada naratif kelahiran atau masa kanak-kanak yang matang sebelum waktunya yang bisa dipertahankan sebagai sebuah diktum historis dalam pengkajian tentang Yesus. Tidak ada tahun-tahun tersembunyi dari kehidupan Yesus sebelum ia terjun dalam pelayanan publik. Dan, Bornkamm katakan, Yesus tidak mempunyai kesadaran-diri messianik selama masa hidupnya sendiri. Ia praktis menjadi Messiah dalam benak para pengikutnya baru sesudah kematiannya sendiri. 1956. Seperti itulah pergulatan waktu itu dalam penelitian tentang Yesus historis.

Apakah keadaan sudah mengalami perubahan yang signifikan sejak saat itu? Yes and No. Isu-isunya pada dasarnya masih sama. Proses penggarapannya pada dasarnya masih sama. Tetapi sekarang ada banyak informasi baru dan mode-mode pendekatan baru untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu, dengan menggunakan arkeologi, menggunakan sosiologi dan antropologi dan metode-metode lain yang bisa membawa kita menyelami pertanyaan-pertanyaan itu.

Nah, kita juga harus sadar bahwa titik tolak Bornkamm adalah hasil dari pengkajian selama dua abad sebelum Bornkamm, yang semakin menunjukkan (sebagaimana diisyaratkan oleh pernyataannya) betapa anakronistiknya lukisan-lukisan tradisional tentang Yesus dalam kebudayaan populer masing-masing jaman. Beginilah Bornkamm melanjutkan pernyataan pembukaan tadi:

Mengapa usaha-usaha (untuk menulis buku tentang kehidupan Yesus) itu gagal? Barangkali hanya karena kemudian tampak jelas—dan itu mengkhawatirkan—bahwa masing-masing penulis secara tak terelakkan membawa semangat jamannya sendiri kedalam figur Yesus yang dipresentasikannya. Kenyataannya, lukisan-lukisan yang berubah-ubah dalam aneka macam kehidupan Yesus itu tidak begitu membesarkan semangat—kadang-kadang memunculkan sosok guru bijaksana yang mengajarkan tentang Tuhan, keutamaan, dan hidup abadi; kadang-kadang figur jenius religius seperti yang sering ditampilkan oleh para romantik; kadang-kadang figur guru etika dalam pengertian Kantian; dan kemudian figur protagonis teori sosial. Lukisan-lukisan yang muncul ternyata berbeda-beda, tergantung pada siapa yang menulis kisahnya.

Dan semua lukisan itu, kata Bornkamm, datang dari perangkat sumber-sumber yang sama: injil-injil dan tradisi Kristen. Bagaimana semua lukisan itu bisa benar? Itulah pertanyaan yang paling mendasar. Pertanyaan itulah yang selama ini menghantui diskusi tentang Yesus historis. Dan di sini kita melihat bahwa dilema itu masih bersama kita. Seorang ahli menyebutnya sebagai dilema upaya mencari Yesus sejarah dengan latar Kristus kepercayaan. Dan itulah definisi klasik tentang masalah yang, pada hemat saya, senantiasa menghantui sebagian besar diskusi ilmiah: kesadaran bahwa adalah mungkin untuk memiliki sesuatu tradisi tentang Yesus yang berbeda dari figur aktualnya. Dan dalam beberapa hal, kita harus mengusahakan agar kedua hal itu tetap aktif dan operatif sementara kita mengamati prosesnya.

Seorang penulis lain, Henry Cadbury dari Harvard, menyebut dilema di atas “the peril of modernizing Jesus.” Dan hal itu juga sudah ditangani dalam sejumlah buku akhir-akhir ini. Kenyataannya, sejumlah buku baru telah muncul sejak awal tahun ‘90an mengenai berbagai aspek dari pengkajian tentang Yesus historis. Saya akan menyebutkan buku Jesus through the Centuries karya Jaroslav Pelikan. Pelikan mengatakan bahwa salah satu cara terbaik untuk mendapatkan semangat jaman adalah dengan mengamati bagaimana semangat itu melukiskan Yesus. Itu berlaku sepanjang abad-abad Kristen. Apa yang melintas dalam benak anda, misalnya, ketika anda melihat sebuah lukisan Florence yang menggambarkan Madonna dan Kanak-kanak, atau Maria di tempat penyaliban, yang mengenakan gaun brokat Florentine sementara para pengawal di makam mengenakan seragam pasukan Swiss Guard? Bagaimana lukisan itu menceritakan kisahnya? Yesus, kata Pelikan, menjadi cermin masing-masing jaman, sebagaimana masing-masing periode memantulkan keprihatinan-keprihatinan serta masalah-masalah pada Yesus dan membaca dari Yesus itu sebuah dukungan bagi keprihatinan-keprihatinannya.

Nah, saya ingin agar kita sadar bahwa hal itu mempunyai dua efek yang menarik. Di satu pihak, ada efek penghormatan, secara keagamaan. Itu adalah bagian dari bagaimana agama-agama bekerja, bahwa mereka memikirkan para pendiri mereka dengan cara-cara itu. Begitu juga lah bangsa-bangsa bekerja untuk para pendiri bangsa. Kita menggunakan figur-figur seperti itu sebagai cara untuk memikirkan siapa diri kita ini. Itu sangat manusiawi, dan barangkali sangat sesuai  dalam semua aspek tentang apa yang kita kerjakan. Di pihak lain, hal itu juga mengubah figurnya, entah itu George Washington atau Yesus atau Musa atau . . . . atau siapa saja. Figur-figur itu selalu difilter melalui lensa-lensa usage. Dan kita harus sadar bahwa sementara kita melakukan hal itu (dan barangkali melakukan hal itu adalah okay, sebagaimana kebudayaan-kebudayaan), kita juga mengubah aneka hal.

Tetapi jika anda ingin mengajukan pertanyaan historis, anda harus mengupas lapisan-lapisan penambahan dan resonansi-resonansi kultural yang dipantulkan di situ. Dan sebenarnya itulah yang disebut proses historis. Holly melakukan hal itu dengan sangat cantik ketika ia berbicara tentang metafora tentang tugas arkeolog, yaitu mengupas lapisan-lapisan. Arkeolog yang baik tidak hanya tertarik pada menggali sampai ke dasar lubang galian yang sedang mereka gali dan menemukan apa yang ada di sana. Arkeolog itu juga harus tertarik pada masing-masing lapisan sementara ia bergerak turun ke bawah, dan mengevaluasi apa yang ia temukan sepanjang perjalanan itu. Dan sekali lagi, itu sama persis dengan proses kami. Saya pernah mendengar metafora lain yang juga bagus. Itu ibarat mengupas bawang merah. Anda mulai mengupas lapisan sebutir bawang merah, dengan tujuan ingin melihat pusatnya, dan yang anda temukan ternyata adalah lapisan-lapisan bawang merah. Di tengahnya tidak ada apa-apa. Well, di tengah tidak ada apa-apa, kecuali sebuah benda kecil mungil. Dan lapisan-lapisan itu sendiri adalah bagian dari substansi yang sedang anda cari. Dan saya kira itu adalah analogi yang sangat bermanfaat untuk apa yang tengah kami lakukan, sebab kami juga harus mengamati proses pelapisan itu dengan sama seriusnya.

Tetapi proses ini bukan hal baru.  Ketika Bornkamm bicara seperti itu di pertengahan abad ini, pembicaraannya pada waktu itu disebut “new quest for the historical Jesus.” Sekarang kita berada dalam “third quest for the historical Jesus.” Yang keempat akan ada, itu bisa saya pastikan, entah kapan. Tetapi pada waktu itu pencarian itu disebut “new quest,” karena Bornkamm, sebagai tercermin dari pernyataannya, tengah berpikir setengah abad ke belakang dia, ketika Albert Schweitzer, pada 1901, menerbitkan buku orisinil yang belakangan disebut The Quest for the Historical Jesus. Dan Schweitzer, pada 1901, menyampaikan kesimpulan yang persis sama: Tidak banyak yang kita ketahui. Pencarian itu menghasilkan kegagalan, dalam arti kita sama sekali tidak tahu banyak tentang sosok historis ini. Dan pencarian pertama akan Yesus historis itu, yang dilakukan antara pertengahan abad ke-18 sampai 1901, menghasilkan sejumlah informasi dan scholarship baru yang masih mempengaruhi lapangan kita sekarang ini, tetapi juga, banyak di antaranya telah secara radikal digugat dalam scholarship yang lebih baru. Jadi kita masih bergulat dengan isu-isu yang dahulu mereka ketengahkan.

Pada suatu saat Marilyn dan saya menggarap sebuah vignette pembukaan yang sangat bagus untuk show yang akhirnya tidak pernah terwujud. Kami ingin membuat film di White House dan Monticello, karena Thomas Jefferson, pada 1804 dan 1821, menulis injil versinya sendiri. Itu disebut The Jefferson Bible. Pada 1804 ia mulai memikirkan masalah Yesus historis. Ia sedang membaca penelitian pencarian gelombang pertama itu pada akhir abad ke-18. Ia sadar apa yang sedang terjadi. Dan ia mulai memikirkan masalah itu. Dan jika anda membaca surat-surat Jefferson kepada John Adams, ia mengatakan: “Kau tahu, yang ada dalam injil itu bukan Yesus yang sebenarnya.” Kenyataannya, ia mengatakan (ini kata-katanya sendiri): “Ini seperti mencari berlian-berlian di dalam gundukan tahi sapi, untuk menemukan kata-kata otentik Yesus dalam timbunan sampah.” Maka mulailah dia bergerak menyaring kata-kata otentik itu dari aneka macam hal-hal lain yang dionggokkan di atasnya. Camkan, dia bekerja dengan cara persis sama dengan para peneliti modern: mengenali masalah dasarnya, dan mulai melakukan penelusuran untuk sampai pada Yesus yang orisinil dari antara lapisan-lapisan yang tercipta sampai saat itu. dan hasil kiprahnya adalah Injil Jefferson itu, amanat-amanat otentik Yesus setelah disaring secara habis-habisan.

Nah, apa yang benar-benar menarik (terutama bagi Pelikan), bahwa jika anda mengamati Yesus-nya Jefferson, menurut anda apa yang anda lihat? Jefferson sendiri, tentu saja. Jefferson si manusia renaissance itu. Jefferson si pemikir humanis dan Enlightenment. Dan Yesus yang ia temukan otentik dalam kata-kata itu tidak membuat mukjijat sama sekali. Jefferson tidak percaya pada mukjijat sama sekali. Pada dasarnya ia membuang semua mukjijat dengan alasan itu adalah tambahan-tambahan klenik, juga sejumlah ucapan Yesus yang lain. Misalnya, Yesus-nya Jefferson mengatakan hal-hal seperti, “Terberkatilah yang rendah hati; terberkatilah yang berjiwa miskin.” Tetapi Yesus-nya Jefferson tidak mungkin mengatakan, “Jangan kamu anggap aku datang membawa perdamaian ke dunia ini. Aku datang tidak membawa perdamaian, melainkan sebilah pedang.” Padahal semua pernyataan itu ditemukan dalam injil-injil, dan dinyatakan sebagai perkataan Yesus. Anda lihat, masalahnya adalah bahwa Yesus [yang ditemukan] adalah Yesus yang memang anda ingin lihat. Dan pertanyaan inilah yang harus kita hadapi dalam diskusi ini.

PENCARIAN GELOMBANG KETIGA

Nah, generasi Bornkamm adalah generasi yang benar-benar menebar benih dari semua yang pengkajian kita sekarang ini. Tetapi sejumlah perkembangan telah terjadi.

Nah, dalam gelombang minat baru yang disebut “the third quest” itu, penemuan-penemuan baru, metode-metode baru, dan pada saat yang sama minat evangelik yang lebih kuat telah menciptakan cara-cara baru untuk berbicara. Tentu saja, banyak dari anda telah mendengar tentang the Jesus Seminar dan minat-minatnya. Dan kami secara sengaja dalam serial itu belum berusaha merenungkan karya Jesus Seminar itu secara langsung. Dahulu kami memikirkan hal itu, memprofilkan Jesus Seminar dan apa-apa yang harus mereka lakukan. Tetapi akhirnya kami memutuskan bahwa serial itu sebenarnya bukan tentang itu. Serial itu sebenarnya adalah tentang sejarah dan apa yang bisa diketemukan, dan bukan memprofilkan tugas kelompok-kelompok peneliti yang bekerja di lapangan. Tetapi Jesus Seminar hanyalah satu aspek, seperangkat pendekatan-pendekatan (yang dalam beberapa hal memang tidak lumrah) untuk melaksanakan pekerjaan itu. Dan sebenarnya ada perhatian yang semakin lama semakin membesar dalam hal itu,  ebgitu pula karya-karya yang telah dihasilkan. Saya hanya ingin menyebutkan beberapa saja.

Di antara buku-buku yang telah muncul ada Jesus: The Unanswered Questions tulisan John Bowden yang diterbitkan pada 1988. Saya kira ia mempunyai satu bab yang menarik, dengan judul “The Kaleidoscope Christ,” di mana ia berusaha mengamati bagaimana kiprah ini selama ini berjalan. Tetapi anda mungkin lebih akrab dengan buku-buku lain. Ada The Historical Jesus: The Life of a Mediterranean Jewish Peasant tulisan John Dominic Crossan, dan bukunya yang lain versi, Jesus: A Revolutionary Biography. Ini adalah versi ringkas dengan subyek sama. Dan dia juga menulis Who Killed Jesus? Itu diterbitkan pada 1991. Juga ada buku John Meier, dengan judul A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus.

Itu adalah sebagian dari buku-buku yang paling mutakhir dan paling penting tetapi toh mereka tidak satu pendapat. Apa yang sebenarnya menarik adalah betapa bedanya karya-karya itu, betapa mereka tidak sependapat dalam satu atau banyak hal, tetapi juga betapa radikalnya mereka dalam hal-hal lain, dan juga serupa dengan satu sama lain. Maksud saya begini: Apa yang mereka lakukan? Bagaimana mereka melakukan hal itu?

[Sebagian besar dari buku-buku itu memberikan] diskusi yang lumayan bagus mengenai banyak dari isu-isu penelitian. Tetapi seringkali apa yang mereka tidak katakan pada anda adalah bagaimana mereka sampai di sana. Itulah masalah terbesar saya dengan sebagian besar pengkajian-pengkajian itu. Mereka memberi anda kesimpulan-kesimpulan; mereka memberi anda Yesus historis sebagaimana mereka melihatnya; tetapi mereka tidak menceritakan pada anda mengapa dan bagaimana dan isu-isu apa yang membawa mereka ke kesimpulan-kesimpulan mereka itu. Dan saya kira apa yang sebagian besar dari kita butuhkan, untuk mengikuti diskusi seperti itu, adalah mengetahui betul apa pertanyaan-pertanyaan yang lain itu dulu, agar anda bisa memasuki dialog dengan buku yang sedang anda baca, agar anda tahu mengapa pas betul untuk mempertanyakan kesimpulan-kesimpulan Meier atau Crossan atau saya. Paham? Dan dalam arti tertentu, itulah yang saya harapkan telah dihasilkan oleh serial ini.

Bagaimana kita menalarkan apa yang dilakukan oleh para pakar itu? Itulah yang sebenarnya ingin saya sampaikan untuk menyimpulkan pembicaran ini, dan menyarankan satu-dua hal. Bagi saya, kuncinya adalah sejarah. Bagaimana kita memanfaatkan semua temuan-temuan itu dan menghubung-hubungkannya? Masalah yang menarik begini. Bidang-bidang itu tidak berkembang terpisah dari satu sama lain; begitu pula penelitian di satu area tidak berhenti dan menunggu agar penelitian di area lain menyusul ketertinggalan. Semua riset itu berjalan secara simultan. Dan tantangan bagi para peneliti maupun non-peneliti adalah menjaga agar semua hal itu bekerja secara simultan. Itu akan seperti penelitian medis jika, untuk memecahkan krisis AIDS, semua penelitian kanker harus ditunda. Bagi komunitas medis, anda tidak bisa melakukan hal seperti itu. dan komunitas medis harus menyadari apa yang sedang terjadi dalam riset kanker pada saat yang sama riset AIDS juga dilakukan, dan juga riset-riset yang lain lagi. Kita tidak bekerja seperti itu. Penelitian harus jalan terus secara simultan di semua front . . . . dan kemudian terserah pada para peneliti untuk mencoba melihat apa ada titik-titik temu. . . . . seberapa banyak dari area-area itu yang mulai nyambung. Analisa sastra tradisional tentang injil-injil, yang bekerja dalam tradisi-tradisi Yunani dan Latin di jaman mereka, arkeologi, pengkajian-pengkajian sastra, dan semua hal lain yang telah berjalan secara simultan itu, dan mulai menghasilkan beberapa informasi penting.

ANALISA SASTRA DAN YESUS HISTORIS

Nah, dalam bebrapa menit terakhir ini kita akan berbicara sedikit tentang bagaimana injil-injil itu berawal dan berkembang, sebagai cara untuk memahami proses itu. Saya ingin menunjukkan prosesnya berjalan seperti ini. Kita tahu tentang tanggal aktual kelahiran dan kematian Yesus. Dan ijinkan saya mengatakan, saya kira sekarang tidak ada lagi keraguan historis bahwa Yesus adalah seorang figur historis nyata, yang benar-benar lahir, benar-benar mati. Dan kita tahu tanggal-tanggalnya kapan, kurang lebih. Ia lahir sebelum tahun 4 SEB jika, sebagaimana tradisi injil isyaratkan, ia lahir di masa pemerintahan Herodes Agung. Kita tahu kapan Herodes mati. Itu tahun 4 SEB. Jadi Yesus pasti lahir sebelum itu. Seberapa banyak “sebelum” itu, kita tidak tahu pasti. Tiga, empat tahun, itu bisa saja. Tetapi tanggal yang biasanya ditetapkan dalam perkiraan kelahiran Yesus adalah sekitar 7 sampai 4 SEB.

Ia mati barangkali pada 27 atau 29 EB. Setidak-tidaknya, sekitar itulah tanggal yang ingin saya tetapkan. Itu bisa saja mundur menjadi tahun 30 atau 33. Toh tanggal-tanggal kita untuk kematian Yesus juga ditentukan oleh informasi historis lain dari jaman itu. Kita tahu tanggal Pontius Pilatus menjadi gubernur di Yudea: 26 sampai 36. Dan itu memberi kita parameter penanggalan dalam mana kita bisa menempatkan kematian aktual Yesus. Tetapi kemungkinan besar, khususnya jika Yesus berumur 30 (sebagaimana injil Lukas katakan), jika Yesus berusia sekitar 30 ketika ia memulai pelayanannya, dan ia lahir sebelum 4 SEB, maka ia mati sekitar 27, mungkin 29. Instink saya mengatakan kemungkinan lebih awal, bukan lebih belakangan, dan saya ingin mengatakan sekitar 27, dalam tempo satu tahun setelah kedatangan Pilatus. Tetapi sekali lagi, itu instink. Itu bukan fakta yang bisa dibuktikan.

Tetapi inilah yang benar-benar menarik secara historis dalam perkembangan itu, sebab injil yang pertama, Markus, ditulis baru sesudah hancurnya Yerusalem pada tahun 70. Secara historis, apa yang kita bisa lihat dari analisa itu adalah bahwa injil-injil ditulis kurang lebih secara kronologis, dan pada rentang waktu ini: 70 sampai 75 untuk Markus; 80 sampai 85 untuk Mateus; 85 sampai sekitar 95 adalah tanggal yang biasanya ditetapkan untuk Lukas (saya ingin mengatakan bisa sampai 100; sekali lagi, pandangan saya sedikit beda dari para peneliti lain); 95 adalah tanggal yang biasanya ditetapkan untuk Yohanes, tetapi injil Yohanes sepenuhnya rampung baru pada sekitar 125, dalam bentuk seperti yang sekarang kita miliki dalam Perjanjian Baru. Tetapi jika tanggal-tanggalnya seperti itu, saya ingin anda memperhatikan hal ini. Perhatikan, kita satu abad penuh sesudah kematian Yesus, plus minus satu atau dua tahun. Kita satu abad penuh setelah kematian Yesus sebelum Yohanes dirampungkan. Tapi, selain itu, perhatikan gap antara kematian Yesus dengan injil Markus. Kita mendapatkan satu generasi penuh dalam perkembangan Kristianitas sebelum injil pertama ditulis. Dan kita tahu ada sebuah event politis besar yang maha penting, sebuah event politis traumatik yang terjadi sebelum itu dan merupakan stimulus bagi proses penulisannya.

Pertanyaan bagi pengkajian historis, pertanyaan yang sebenarnya ada di belakang semua diskusi Yesus historis selama sekian tahun ini, adalah: Bagaimana anda mengisi gap itu? Hal-hal apa saja yang bisa anda dapatkan di sana dan memahami apa yang sedang terjadi? Dan secara umum jawaban atas pertanyaan tadi datang dalam dua bentuk: (1) mencari tradisi-tradisi lisan yang lebih tua, dan (2) mencermati apa yang ada di belakang injil-injil itu sendiri. Nah, ini adalah satu cara untuk mengisi gap tadi, sebab penulis Kristen paling tua dalam Perjanjian Baru bukanlah Markus, melainkan Paulus, penulis surat-surat itu. Dan surat-surat otentik Paulus semuanya berasal dari periode yang sama dalam aktivitasnya, antara sekitar 49 sampai 60, ketika Paulus berkarya di kota-kota Yunani seperti Ephesus dan Corinth dan Philippi dan Thessaloniki, di mana Paulus bepergian dan menulis dan berkhotbah. Itu adalah tulisan-tulisan paling tua dalam literatur Kristen. Dan ketika kita mengamati tulisan-tulisan Paulus, kita menemukan bahwa Paulus menyitir tradisi-tradisi lisan yang lebih tua tentang Yesus, yang berasal dari masa sebelum dia berkarya. Dan ketika kita bisa mengidentifikasikan tradisi-tradisi itu, potongan-potongan informasi itu bisa memberi kita saksi-saksi tertua kita mengenai apa yang orang-orang Kristen katakan. Dengan kata lain, banyak dari tradisi-tradisi yang orang temukan di [Injil] sebenarnya merupakan perkembangan-perkembangan masa kemudian, dan evolusi-evolusi, dari hal-hal yang Paulus ketahui dalam perjalanannya untuk lebih mengenal Yesus. Dan kita bisa melihat banyak hal mengenai itu.

PAULUS DAN TRADISI LISAN

Saya ingin tunjukkan pada anda bagaimana kami melakukannya. Nah, ini bukan sulapan. Ini kerja keras, sebagai peneliti. Ini sebuah teks dari I Korintus 11. Ini adalah ilustrasi yang sangat bagus tentang bagaimana para peneliti menggarap materi-materi seperti ini. Misalnya, teks itu berbunyi, “Sebab aku menerima dari Tuhan apa yang aku juga teruskan kepadamu, bahwa Tuhan Yesus pada malam dia—terjemahan biasanya adalah “dikhianati,” tetapi di sini aslinya adalah “diserahkan”—pada malam dia diserahkan, mengambil roti, dan setelah mengucap syukur, ia memecah-memecahnya dan berkata, ‘Inilah tubuhku.’” Inilah penetapan tradisi “perjamuan terakhir,” dalam versi Paulus.

Apa yang bisa kita lihat dalam tulisan Yunani dan dalam analisa tentang tulisan itu, kenyataannya, adalah Paulus sedang menulis, jadi kata-katanya dalam warna hitam. Warna biru adalah formula dia yang memberitahu kita bahwa dia sedang mengutip tradisi lisan. Di kalangan para peneliti itu disebut Tradition Summary Formula. Dan di sini formulanya “aku menerima dan aku meneruskan.” Dan, kenyataannya, para rabbi menggunakan formula yang sama untuk meneruskan tradisi rabbinik (tradisi lisan).  Itu sangat umum dalam penerusan materi-materi lisan. Nah, ketika anda melihat formula seperti itu, anda mencari, dalam bahasa Yunani, kata hoti (“bahwa”).  Dan. . . .“bahwa” ini adalah petunjuk kita bahwa kata-kata berikutnya (di sini dalam warna merah) adalah kata-kata yang Paulus kutip.

Nah, Paulus menulis surat itu pada tahun sekitar 54. Kita bisa menetapkan tanggal itu dengan cukup akurat. Tetapi Paulus mengutip sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang ia harapkan sudah sangat akrab bagi para pendengarnya, dan sesuatu yang barangkali sudah pernah ia katakan pada mereka, pada kunjungan terdahulu. Dan kita tahu kapan Paulus berada di Corinth, pada sekitar 50 atau 51. Jadi apa yang kita peroleh adalah sesuatu yang berasal dari masa sebelum 50, yang lebih tua. Dan begitulah kami menemukannya.

Nah, kenyataannya, dan yang juga cukup menarik, ini adalah salah satu potongan informasi awal tentang Yesus, salah satu informasi tertua yang kita miliki. Salah satu unit inti tertua dari Yesus historis adalah pernyataan ini. Nah, itu masih 20 tahun after the fact. Tetapi toh yang terdekat yang bisa diperoleh adalah itu. dan itulah yang kami lakukan. Tapi perhatikan bahwa itu juga menghasilkan beberapa dari elemen-elemen kecil tapi penting yang secara keseluruhan membentuk kisah injil. Jadi kita bisa mulai menghubung-hubungkan elemen-elemen itu.

VERSI PAULUS TENTANG KEBANGKITAN KEMBALI

Nah, jika kita mengikuti itu dengan bagian lain dari bab 15, kita bisa melakukan hal yang sama. Dan cara kerjanya persis sama. Kali ini: “Aku meneruskan kepadamu sebagai hal yang teramat penting apa yang aku telah terima.” Jadi itu formula yang sama. Dan kemudian bahwa Kristus mati, bahwa ia dikubur (perhatikan, ia selalu memelihara “bahwa” itu, jadi itu penting sekali), bahwa ia dikubur, bahwa ia dibangkitkan di hari ketiga. Dalam kasus ini, warna hijau itu mewakili editorial comments Paulus. Nah, itu terbuka untuk didiskusikan: mana kata-kata yang secara aktual merupakan editorial comments Paulus, mana kata-kata yang merupakan bagian dari tradisi lisan. Tapi itu bagian yang terbuka untuk diperdebatkan. Itu bagian dari penelitian. Tapi kita bisa melihatnya, dengan sangat jelas di kalimat ini: “Ia menampakkan diri pada lebih dari 500 saudara pada suatu saat, yang kebanyakan masih hidup sekarang ini meskipun beberapa sudah meninggal.” Anda lihat, itu mencerminkan jaman Paulus sendiri. Itu adalah editorial comment Paulus, jadi itu bukan bagian dari tradisi lisan, kemungkinan besar. Tapi itu rangkuman dasarnya.

Sekarang mari kita lihat yang satu ini sebentar, sebab ini sangat menarik, khususnya ketika didampingkan dengan kalimat terakhir yang kita lihat tadi, sebab di antara mereka kita mendapatkan inti naratif sengsara Kristus dalam bentuknya yang paling tua. Kita mendapatkan perjamuan terakhir dan penahanan dalam bagian pertama, dan dalam bagian ini kita mendapatkan kematian, penguburan, dan kebangkitan kembali, dan tiga penampakan yang dirinci. Saya ingin melihat beberapa hal. Pertama, kita sudah mendapatkan basics-nya. Tidak banyak keterangan. Itu masih belum bercerita banyak pada kita apa yang terjadi, namun itu memberi kita sebuah outline inti.

MAKAM YANG KOSONG

Ijinkan saya menyebutkan satu langkah lagi dalam proses ini, lalu berhenti untuk hari ini, sebab sekarang kita bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam injil-injil. Tetapi ini adalah sebuah perbandingan aktual dari kisah-kisah dalam Mateus dan Markus mengenai adegan makam kosong. Dan yang ingin saya tun jukkan adalah bagaimana kisah itu berkembang. Saya telah memberikan teksnya pada anda dari versi NRSV. Saya tidak mengubah satu katapun. Teks sama persis, dijajarkan paralel di mana mereka paralel, dipasang beda ketika mereka beda. Ini adalah mekanisme pengkajian standar dalam scholarship. Ini disebut parallel gospel. Baca kisahnya dari Markus, tapi Markus saja, dan pikirkan apa yang kisah itu sedang ceritakan pada anda. “Ketika Sabbath usai, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus dan Salome membeli rempah-rempah sehingga bisa pergi dan mengurapi dia. Dan dinihari di hari pertama pekan itu, ketika matahari telah naik, mereka pergi ke makam.” Nah, apa yang hendak mereka lakukan? Mengurapi jasad. Jadi apa yang hal itu asumsikan mengenai makamnya? Bahwa makam itu terbuka. Bahwa mereka bisa masuk ke sana. Tetapi mereka khawatir, sebab jika anda membaca berikutnya: Oh, ada batu besar di sana. Kita harus menggelindingkan batu itu dulu. Tapi perhatikan apa yang hilang. Apa yang tidak ada dalam kisah itu? Batu itu tidak disemen dan tidak dijaga. Dalam versi Markus mengenai bagian sangat penting ini, para wanita hendak pergi dan mengurapi jasad. Oh ya, ingat, tidak ada makam sama sekali dalam Paulus. Jadi ini adalah versi yang sepenuhnya baru mengenai kisah itu, dari apa yang kita lihat dalam Paulus. Tidak ada makam dalam Paulus. Dalam Paulus kita mendapatkan “bangkit dari mati,” kita mendapatkan penampakan-penampakan; apa yang tidak kita dapatkan adalah makam kosong. Markus adalah yang pertama, kita lihat itu. tetapi ketika kita melihatnya, Markus membuat wanita-wanita berencana pergi ke makam, secara literal pergi memasuki makam dan menggarap jasadnya untuk tatacara pemakaman, pengurapan. Itu adalah tatacara pemakaman sangat standar. Ketika mereka sampai di sana, mereka mendapatkan batu itu sudah digelindingkan, dan mereka secara aktual pergi memasuki makam, dan di sana mereka melihat seorang anak muda, berpakaian putih, bukan malaikat, seorang pemuda berpakaian putih, duduk di tempat jasad itu dahulu berada. Dan anak muda itu mengatakan, “Dia tidak di sini. Dia sudah pergi ke Galilei. Pergilah dan cari dia.” Dan wanita-wanita itu meninggalkan makam dan tidak menceritakan apa-apa pada siapapun. Dan itulah ending injil Markus, ending orisinil injil Markus.

Di pihak lain, Mateus menggarap sesuatu yang berbeda. Lihat apa yang terjadi. Maria Magdalena dan Maria yang lain ada di sana, duduk di sisi makam, ketika mereka menguburkan [Yesus]. Dan setelah Sabbath, pada hari pertama pekan itu merekah, Maria Magdalena dan Maria yang satunya lagi pergi untuk melihat makam itu. Apakah mereka masuk ke dalam? Tidak. Mengapa mereka tidak masuk ke dalam? Karena dalam Mateus, kita mendapatkan kalimat-kalimat yang menghadang. Itu tidak ada dalam Markus. Dan itu adalah kisah tentang bagaimana mereka memasang pengawal di makam sehingga tidak seorang pun bisa mencuri jasad itu. Itu dalam Mateus. Dan tidak hanya tidak ada dalam Markus, tetapi juga tidak mungkin dalam konstruksi naratif Markus. Anda lihat itu? Apa yang terjadi? Kita bergerak dari outline kerangka kisah sengsara dan kebangkitan kembali, yang Paulus percayai benar secara absolut. Tetapi dalam prosesnya, kisah itu mengalami pelapisan-pelapisan tambahan.

Nah, beberapa dari anda secara diam-diam mengajukan pertanyaan ini. Mengapa? Mengapa mereka melakukan hal itu? Mereka katakan sebabnya. Injil-injil selalu menceritakan pada anda apa yang mereka kerjakan, dengan sesuatu cara. Ini misalnya. Sebagaimana diceritakan dalam Mateus, bagian itu memberitahu kita bahwa ketika para penjaga tahu bahwa jasad Yesus hilang, mereka menyuap para penjaga itu dan menyuruh mereka bercerita bahwa murid-murid Yesus telah mencuri jasadnya. Tetapi lihat baris terakhir. “Dan cerita itu diceritakan di antara orang-orang Yahudi bahkan sampai hari ini.”

Nah, setiap kali anda melihat itu dalam Injil, frasa itu, “sampai hari ini,” camkan betul hal itu. Sebenarnya itu banyak terdapat di sana, baik di kitab-kitab Hibrani maupun Perjanjian Baru Kristen. Setiap kali anda melihatnya, perhatikan bagaimana hal itu ibarat menaikkan bendera bagi anda dan mengatakan, hey, lihat ke sini, aku akan ceritakan padamu perspektif dari mana kisah itu ditulis. Mengapa injil Mateus menyelipkan pengawal-pengawal di makam sebelum adegan makam kosong itu? Dan perhatikan apa yang baru saja saya katakan. Saya membuat sebuah pernyataan penelitian, dan itu adalah bagian dari proses kerjanya. Mengapa Mateus menyelipkan pengawal-pengawal di makam di depan kisah tentang makam kosong itu? Sangat sederhana. Untuk menjelaskan kisah tandingan versi Yahudi yang beredar di masa injil Mateus itu ditulis, dan yang sampai sekarang ini juga masih terus beredar. Perhatikan apa yang baru saja kita lihat. Kita mendapatkan sebuah kisah, sebuah kisah Kristen yang bereaksi terhadap sebuah kisah-tandingan Yahudi, yang barangkali bereaksi terhadap sebuah kisah Kristen versi lebih tua lagi, yang mungkin bereaksi terhadap sebuah kisah Yahudi lebih tua lagi, dst dst. Dan lapisan-lapisan mulai berkembang. Dengan cara seperti itulah injil-injil tersusun. Dan alasan saya memilih ini, jelas, ini adalah salah satu dari bagian-bagian paling penting dalam keseluruhan tradisi: adegan makam kosong. Tetapi, kenyataannya, makam kosong sebagai bagian dari kisah itu merupakan proses perkembangan masa belakangan. Tahap awalnya adalah pernyataan Paulus yang sangat sederhana, sangat lugu: “Dia bangkit dan dia menampakkan diri.” And that’s it.

Nah, semua penelitian biblikal sebenarnya seperti itu, khususnya dalam injil-injil. Sesederhana itu dan selugu itu—sebagai sebuah proses. Memang, ada hal lain. Anda harus melakukan hal itu untuk setiap baris terakhir di keempat injil. Orang-orang meluangkan seluruh waktu hidup mereka untuk menyimak satu injil. Tidak. Jangan. Jauh lebih menarik untuk menyimak lebih dari satu injil. Begitulah cara kerjanya.

Nah, injinkan saya menunjukkan ini sekarang, sebagai penutup. Saya kira pengkajian injil seperti ini sebenarnya mempunyai dua pertanyaan yang harus beredar secara simultan dalam apapun yang kami kerjakan. Kita selalu mengajukan dua pertanyaan dan mengusahakan agar keduanya berimbang. Apa yang sebenarnya terjadi, itu adalah pertanyaan pertama, selalu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sejarah katakan apa yang terjadi pada waktu itu? Di situlah semua penelitian Yahudi, di situlah semua sejarah dan arkeologi dan yang lain-lain itu masuk kedalam gambar. Apa yang waktu itu terjadi? Tetapi pertanyaan itu sendiri tidak akan pernah menjawab segala sesuatu, sebab kita mungkin tidak tahu. Pertanyaan kedua adalah: Mengapa mereka menceritakan kisahnya seperti itu, belakangan? Dan pertanyaan tentang “mengapa” itu, “mengapa”-nya proses perkembangan belakangan itu, juga sangat menentukan prosesnya. Dan kita secara konstan harus memikirkan hal-hal itu secara simultan. Dan itulah sebabnya, ketika Marilyn Mellowes mendatangi saya dan mengatakan, “Mari kita bikin film tentang Yesus historis,” saya jawab, “Nggak mungkin. Jangan. Mari kita bicara tentang bagaimana Kristianitas purba berkembang, dan sambil itu jalan, kita akan menemukan bahwa itulah cerita tentang Yesus, dengan cara yang lain.” Terima kasih.

Penulis dan ahli Injil Amerika L. Michael White menjabat Ronald Nelson Smith Chair in Classics and Christian Origins dan direktur the Institute for the Study of Antiquity and Christian Origins di the University of Texas at Austin. Beliau ikut tampil dalam tayangan serial khusus PBS From Jesus to Christ: The First Christians (1998) and Apocalypse! Time, History, and Revolution (1999). Buku-buku yang diterbitkannya meliputi:

  • The Tabula of Cebes: Text and Translation, Chico, CA: Scholars Press, 1983
  • The HarperCollins Concise Atlas of the Bible, San Francisco: HarperCollins, 1991
  • From Jesus to Christianity, San Francisco: HarperCollins, 2004.

Judul asli: “The Historical Jesus”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 18 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: