Yesus Historis 1

27/01/2010


Peneliti Claudia Setzer menyelami penemuan-penemuan dan kontroversi-kontroversi dari kiprah penyelidikan tahun 1990an sekarang ini, dengan membandingkannya dengan periode-periode intens di masa lalu dalam kiprah penyelidikan kehidupan Yesus.

oleh Claudia Setzer,
TIKKUN MAGAZINE, A BI-MONTHLY JEWISH CRITIQUE OF POLITICS, CULTURE, AND SOCIETY

17 Juli  1995 No. 4, Vol. 10; Pg. 73

Ketika Paus Yohanes Paulus II melakukan kunjungan historisnya ke sinagoga Roma pada 1986, ia mengenakan salib yang merupakan bagian dari pakaian hariannya. Beberapa orang Yahudi di kalangan pers Israel menyayangkan keberadaan salib yang tidak pada tempatnya itu dalam sebuah upacara yang dimaksudkan untuk memperbaiki hubungan Yahudi-Kristen. Apa yang bagi orang Kristen merupakan simbol kasih Tuhan bagi dunia ini,  bagi orang-orang Yahudi adalah sebuah pengingat tentang penganiayaan. Yesus, sebagaimana salib di mana ia tergantung, adalah sebuah simbol dalam arti klasik, sebuah bejana kosong yang bisa kita isi dengan aneka macam makna pilihan kita sendiri.

Imaji-imaji tentang Yesus sepanjang sejarah sama bervariasinya dengan orang-orang yang memeluknya—Putera Allah, Sabda Ilahi oleh siapa dunia ini diciptakan, korban Paskah demi umat manusia, Pelayan yang Menderita yang menerima dosa-dosa dunia, Imam Agung yang baru, atau yang baru-baru ini muncul, Yesus sang intelektual jenius, pembebas kaum tertindas, atau sang feminis. Masing-masing kelompok dan generasi melihat dalam diri Yesus sebuah cerminan dari pribadi kelompok itu sendiri.

Itukah hubungan antara personae itu dengan Yesus historis—pengkhotbah dengan wujud darah-dan-daging di jaman Israel kuno, yang dieksekusi oleh orang-orang Romawi itu? Persisnya tidak seperti itu, begitu yang sering dikatakan oleh para ahli. “Tidak ada yang lebih negatif daripada hasil pengkajian kritis mengenai kehidupan Yesus ini,”kata Albert Sweitzer, salah satu tokoh kunci dalam “quest for the historical Jesus” di masa lalu. Tetapi ketika kita mendekati awal abad ke-21, sebuah kiprah baru untuk mencari informasi mengenai Yesus historis ternyata menggugah semangat banyak ahli maupun awam.

Orang-orang Kristen kadang-kadang terheran-heran dan tersinggung karena reaksi alergis banyak orang Yahudi terhadap Yesus—bahkan hanya dengan menyebutkan namanya saja. Tetapi energi itu sebenarnya tidak tertuju pada Yesus sang pribadi, karena orang-orang Yahudi (begitu juga semua orang lain) nyaris tidak tahu apa-apa tentang dia. Energi itu tertuju pada pemaknaan Yesus oleh gereja dan penindasan terhadap orang-orang Yahudi yang dilakukan dalam nama Yesus.

Tetapi selama ini orang-orang Yahudi juga dibuat terpukau oleh Yesus. Ketika orang-orang Yahudi mulai berpikir tentang sejarah mereka sendiri, mereka terpaksa mempertimbangkan Yesus sebagai bagian dari sejarah itu. Ada referensi-referensi sporadis pada Yesus dalam Talmud meskipun sifatnya tidak memuji. Para peneliti abad ke-19 yang menyelidiki Yesus termasuk para sejarawan Yahudi Heinrich Graetz dan Abraham Geiger. Penulis Yahudi Inggris Claude Montefiore menulis sebuah komentar dua-volume tentang injil-injil sinoptik di awal abad ini, dan What a Jew Thinks about Jesus, yang diterbitkan pada 1935. Penulis Yahudi Lithuania Joseph Clausner menulis Jesus of Nazareth dalam bahasa Hibrani pada 1922. Diterjemahkan kedalam beberapa bahasa lain, buku itu masih tetap merupakan buku yang dikenal paling luas mengenai Yesus yang ditulis oleh orang Yahudi dan dikutip dengan nada positif dalam buku John Meier yang ditulis pada 1994 tentang Yesus.

Secara tipikal para penulis Yahudi memisahkan Yesus orang Yahudi dari Kristianitas yang menghidupkannya, bicara dengan nada positif tentang Yesus si orang Yahudi dan dengan nada negatif tentang Kristianitas. Mereka sering mengkarakterisasikan dia sekedar sebagai orang kudus Yahudi lumrah, yang biasa-biasa saja di luar citra public-relation masa kemudian, atau yang begitu beda dari harapan-harapan orang Yahudi mengenai Messiah sehingga tidak mengherankan jika hanya segelintir orang Yahudi mau menerimanya di masa-masa awalnya. Generasi yang sekarang menarik garis yang tebal antara Yesus si orang Yahudi dengan gambaran Kristianitas mengenai dia. Persis sebagaimana para ahli generasi yang lalu sering memisahkan Yesus dari Yudaismenya, para ahli generasi sekarang, baik Yahudi maupun Kristen, membuat jarak antara dia dengan Kristianitas yang mengklaimnya.

Beberapa tahun terakhir ini menyaksikan maraknya buku-buku tentang Yesus historis.

Ketika melongok toko buku di seminari lokal saya, tampak tujuh buku tentang Yesus yang diterbitkan pada 1994. Volume kedua dari trilogi John Meier mengenai Yesus historis, A Marginal Jew, dengan tebal lebih dari 1000 halaman, sudah terjual habis. Tahun lalu dua orang peneliti, seorang Yahudi dan seorang Kristen, membuat padat sebuah auditorium di Fordham University dengan topik mereka, “The Jewishness of Jesus.” Jurnal Theology Today terbitan April 1995 dikhususkan untuk perdebatan ilmiah tentang topik itu.

Buku-buku populer, misalnya Jesus the Man yang sangat aduhai karya Barbara Thiering, atau buku idiosinkratik Jesus tulisan A.N. Wilson, berhasil memikat publisitas besar, tetapi tidak mampu memberikan impak pada dunia intelektual. Sejumlah inovasi Wilson dianggap biasa-biasa saja bagi para ahli, dan rekonstruksi spekulatif yang disodorkan oleh Thering dan Wilson  tidak didasarkan pada metodologi yang bertanggungjawab atau common sense.

Tetapi bahkan buku-buku yang lebih serius menemukan audiens yang populer. Contohnya adalah buku Meier, dengan catatan kakinya yang nggedabyah itu.  Buku John Dominic Crossan  yang baru saja diterbitkan, Jesus:A Revolutionary Biography, adalah jauh lebih populer dan enak dibaca daripada buku versi ilmiahnya yang sarat dengan sumber-sumber, The Historical Jesus: The Life of a Mediterranean Jewish Peasant, tetapi buku yang asli ini sendiri terjual lebih dari 50.000 kopi. Marcus Borg, yang sekarang laris sebagai penceramah, baru-baru ini menerbitkan sebuah buku populer, Meeting Jesus Again for the First Time, yang berangkat dari karya ilmiahnya, Jesus, A New Vision. Tahun lalu, HarperCollins dan Trinity Institute mensponsori sebuah diskusi antara Borg, Crossan, dan seorang peneliti Yesus lain, Burton Mack, yang disiarkan ke gereja-gereja dan colleges di seluruh penjuru [Amerika Serikat].

Selama berabad-abad gereja bisa akur dengan dunia akademik tanpa Yesus historis. Yesus historis, manusia yang hilir mudik di jalan-jalan Israel kuno, mengumpulkan murid-murid, dan dieksekusi oleh orang-orang Romawi itu, seringkali dikontraskan dengan “Kristus kepercayaan,” figur supra-historis yang kehadirannya di dunia ini menghidupkan dan menyemarakkan komunitas-komunitas Kristen. Yang disebutkan belakangan itu jauh lebih penting bagi kebanyakan orang Kristen.

Mengapa sekarang ada perhatian yang begitu besar pada pribadi Yesus itu? Apakah itu bagian dari interest kita pada kisah-kisah pribadi orang-orang, impuls yang senantiasa mampu menggandakan talk shows televisi dan melaris-maniskan majalah People? Apakah itu kebutuhan kita untuk memanusiakan pahlawan-pahlawan kita untuk membuat mereka lebih mudah diakrabi? Apakah itu bagian dari keinginan kita untuk mencari akar-akar, mereklaim masa lalu kita dengan cara yang mampu menyumbang makna pada masa kini kita? Apakah itu bagian dari minat abadi manusia pada agama, yang bisa mengambil aneka macam bentuk, tetapi tidak pernah benar-benar padam itu? Jawabannya: barangkali semua itu, masing-masing secuwil.

Kenyataannya, maraknya penerbitan buku-buku tentang Yesus historis sekarang ini merupakan gelombang ketiga. Gelombang yang pertama terutama adalah kiprah Protestan—dari akhir abad ke-18 sampai akhir abad ke-10—yang menghembuskan nafas Enlightenment, yang menghadirkan Yesus dari kacamata yang sepenuhnya rasional, dengan menjelaskan mukjijat-mukjijatnya sebagai fenomena alami, dan menggambarkan dia sebagai seorang guru kebijaksanaan abadi. Gelombang itu diakhiri dengan buku Albert Schweitzer The Quest for the Historical Jesus, yang diterbitkan pada 1906.  Ia menyimpulkan bahwa Yesus historis mustinya adalah “a stranger and an enigma.” Yesus yang didisain oleh para rasionalis abad ke-19 itu tidak pernah mendapatkan eksistensi apapun. Lebih jauh lagi, apa yang kita ketahui tentang Yesus itu, selain kecil sekali, ternyata juga tidak relevan dengan teologi. “Yesus memiliki sesuatu makna bagi dunia kita karena sesuatu kekuatan spiritual yang perkasa memancar dari Dia dan mengalir ke jaman kita juga,” tulis Schweitzer. “Fakta ini tidak dapat digoyahkan ataupun diteguhkan oleh penemuan historis apapun.” Begitu pula, para peneliti Yesus generasi yang sekarang telah memasung pertanyaan-pertanyaan tentang teologi.

Gelombang yang kedua terpusat di Jerman pada 1950an dan 1960an, dipimpin oleh Ernst Kasemann dan penulis-penulis lain yang dipengaruhi oleh dan bereaksi terhadap ahli Perjanjian Baru yang perkasa, Rudolf Bultmann, yang berargumen bahwa kebanyakan kisah Injil tentang kehidupan Yesus berkembang dari mitos gereja purba. Ahli-ahli itu berargumen bahwa teologi Kristen tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan mengembangkan seperangkat kriteria untuk memutuskan apa saja yang bersifat historis dalam injil-injil. Meskipun teologi eksistensialis mereka sekarang terkesan ketinggalan jaman, banyak dari aturan-aturan mereka untuk mengevaluasi historisitas masih tetap digunaskan, misalnya oleh “Jesus Seminar” baru-baru ini, sekelompok ahli yang mengkaji-kembali tradisi-tradisi sinoptik dan khususnya amanat-amanat Yesus. Mereka memproduksi The Five Gospels, sebuah karya yang mengevaluasi keempat injil kanon dan Injil Thomas yang non-kanonik untuk mencari amanat-amanat Yesus yang otentik.

Meskipun upaya menemukan kembali Yesus sejarah itu telah sering dinyatakan sia-sia, uopaya itu toh membuahkan sebuah literatur yang sangat luas. Apa yang membedakan kelompok ahli-ahli Yesus yang terbaru ini dari para pendahulu mereka adalah bahwa mereka memahami Yesus dalam konteks orang-orang Yahudi dan Yudaisme abad pertama. Jika beberapa ahli di masa lalu mungkin berbicara tentang latar belakang Yahudi dari Perjanjian Baru, dengan kesan  latar belakang itu hanyalah sebuah saputan selintas bagi Kristianitas, atau berbicara tentang “late Judaism” dengan kesan seakan-akan Yudaisme dalam keadaan sekarat dan sebentar lagi digantikan oleh Kristianitas, sekarang ini tidak ada peneliti Perjanjian Baru serius yang berbicara tentang “gerakan Yesus” atau Yesus sendiri sebagai berada di luar orbit Yudaisme abad pertama. Buku-buku yang menelusuri keYahudian Yesus meliputi Jesus the Jew, Jesus and the World of Judaism dan The Religion of Jesus the Jew tulisan Geza Vermes, dan Jesus and Judaism serta The Historical Figure of Jesus tulisan E.P. Sanders. Dahulu di setiap generasi,  peneliti seperti George Foot Moore, yang memahami Yesus dalam Yudaisme di jamannya, adalah minoritas. Sekarang peneliti seperti dia menjadi mayoritas. Lebih jauh lagi, kita mendapatkan pandangan yang lebih bernuansa mengenai varietas Yudaisme-Yudaisme di abad pertama dan di mana Yesus dan para pengikutnya mungkin hidup.

Generasi yang sekarang juga mendapatkan akses menuju bahan-bahan penelitian yang lebih banyak. Gulungan-gulungan Kitab Laut Mati, yang baru belum lama ini bisa diakses oleh aneka macam peneliti, memang tidak menyebut-nyebut Yesus, tetapi  mereka memberikan kejelasan tentang sebuah cabang pemikiran dan pengharapan apokaliptik yang hidup di abad pertama. Urgensi dari apokalipse yang akan segera tiba, yang dikhotbahkan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus itu, telah terbungkam oleh sejarah gereja selama 2000 tahun, tetapi Skrol Laut Mati itu mengingatkan kita kembali bahwa banyak orang memperkirakan akhir jaman itu benar-benar sudah dekat dan akan sangat dahsyat.

Selain materi-materi dari Qumran, temuan-temuan arkeologis mutakhir ternyata bergayut dengan detil-detil kisah injil tentang Yesus. Kerangka seorang laki-laki yang disalib telah ditemukan di Israel di Giv’at ha Mivtar. Mata kakinya dicoblos paku dan kaki-kakinya diremuk, yang memberikan bukti tentang renik-pernik penyaliban Romawi. Pada 1990, para arkeolog menemukan sebuah osuari yang berisi tulang belulang Joseph Caiaphas, imam agung yang menginterogasi Yesus dalam Injil Mateus dan yang disebut-sebut dalam Injil Lukas dan Yohanes.

Para peneliti generasi sekarang menggunakan banyak disiplin, dengan meminjam metode-metode antropologis dan sosiologis. Misalnya, Crossan mengandalkan beberapa wawasan antropologi untuk menjelaskan masyarakat tani Laut Tengah; Richard Hosely dan yang lain-lain menggunakan data sosiologis untuk memahami Yesus sebagai seorang figur politis radikal yang tengah menanggapi penindasan ekonomis dan politis.

Sejumlah potret yang berbeda-beda mengenai Yesus telah muncul. Marcus Borg menggambarkan Yesus sebagai seorang ekstatik religius, seorang guru kebijaksanaan dan nabi sosial, yang terfokus pada masa kini. “Hubungan Yesus dengan sang Roh adalah sumber dari segala keberadaannya,” kata Borg. Burton Mack menggambarkan Yesus sebagai seorang Cynic Yahudi, seorang bijak populer yang menyentak pemahaman orang-orang lewat ucapan-ucapannya yang tajam dan meresahkan. Seperti Borg, ia memandang Yesus sebagai terfokus pada masalah dunia masa kini, seorang penceramah kebenaran-kebenaran yang abadi. Crossan menggambarkan dia sebagai seorang pengkhotbah egalitarianisme radikal, yang berbicara pada sebuah masyarakat tani yang menderita dibawah penindasan-penindasan politis dan ekonomis, yang menyodorkan sebuah pesan penyembuhan. “Kamu adalah para penyembuh yang telah disembuhkan, jadi bawalah kerajaan ini kepada orang-orang lain, sebab aku bukan patronnya dan kamu bukan pialangnya. Kerajaan itu dahulu, sekarang, dan di masa mendatang senantiasa tersedia bagi siapa saja yang menginginkannya.”

Salah satu poin esensiil dari pemikiran Crossan dan para peneliti lain adalah bahwa Yesus tidak mengajarkan dirinya sendiri serta membesar-besarkan dirinya sendiri, melainkan mengajarkan kerajaan Allah. E.P. Sanders sependapat, tetapi menggeser penekanan ke masa depan. Ia memandang Yesus sebagai seorang nabi eskatologis, seorang figur yang menyiapkan umat manusia untuk menyambut kedatangan kerajaan Allah, yang Allah akan datangkan di masa depan. John Meier mengkombinasikan masa kini dengan masa mendatang, dengan mengisyaratkan bahwa Yesus adalah seorang guru eskatologis yang dalam pelayanannya memandang pemerintahan kerajaan Allah sebagai sudah ada di masa kini, tetapi belum sempurna. Rencana Allah untuk membangun kerajaanNya atas umatNya masih harus dipenuhi.

Sementara para peneliti itu mempertajam teori-teori mereka, isu-isu tertentu mendominasi gambaran yang mulai muncul tentang Yesus historis:

  • Yesus mengajarkan kerajaan Allah, bukan dirinya sendiri.

Dengan sesuatu cara, Allah akan bertindak dalam sejarah (atau sekarang juga sedang bertindak) untuk menciptakan sebuah perubahan dalam masyarakat sebagaimana mereka mengetahuinya. Entah hal itu akan di masa mendatang (Sanders) atau sudah mulai terjadi dalam masa pelayanan Yesus (Borg, Crossan, Mack) atau sebagai sebuah drama dinamis yang berada di tahap pertamanya, jadi masa kini maupun masa mendatang (Meier), Yesus mengajarkan kuasa Tuhan untuk membalikkan nilai-nilai dan memunculkan sebuah masyarakat yang adil.

Kerajaan ini adalah kerajaan Allah, bukan kerajaan Yesus sendiri, dan kerajaan ini ada di atas bumi. Kerajaan itu menjawab dua masalah utama bagi para petani: roti dan kematian. “Tentang yang kedua yang mereka miliki terlalu banyak, tentang yang pertama yang mereka miliki terlalu sedikit,” kata Crossan.

  • Yesus adalah seorang Yahudi, dan gerakan kerajaan perdana itu—pengharapan akan datangnya kerajaan Allah di muka bumi serta pembebasan Israel dari penindasan asing—bukanlah mendirikan sebuah agama yang disebut Kristianitas, melainkan sebuah fenomena yang sepenuhnya mengenai orang-orang Yahudi. Sayangnya, kita hanya tahu relatif sedikit tentang Yudaisme abad pertama, dan sebagian besar dari yang kita ketahui itu berasal dari Perjanjian Baru.
  • Yesus historis tidak memiliki banyak kesamaan dengan Yesus gereja purba. Yang bahkan lebih tidak meyakinkan lagi adalah hubungan antara Yesus historis dengan Kristianitas masa kemudian. Para peneliti Yesus kontemporer rupanya sependapat bahwa orang bisa menjadi orang Kristen yang baik tanpa mengetahui sedikit pun tentang Yesus historis. Yesus sebagai darah dan daging dari masa tahun 20an digantikan oleh Yesus hasil rekonstruksi dan interpretasi injil-injil yang ditulis pada tahun 70an dan 80an, dan kemudian digeser oleh “Kristus kepercayaan” dari gereja masa kemudian.  Ketika kaum beriman berbicara tentang kepercayaan mereka pada Yesus, figur terakhir itulah yang mereka acu.
  • Penekanan pada keilahian Yesus telah sering menenggelamkan kemanusiaan Yesus. Banyak kontroversi gereja terfokus pada masalah-masalah kredo, misalnya hubungan Yesus dengan Bapa. Sejak abad ke-19, banyak perdebatan intelektual bergulir di seputar elemen-elemen supernatural dari kisah Yesus, misalnya kelahiran dari perawan dan kebangkitan kembali. Sanders mencatat maraknya minat akhir-akhir ini pada “keperawanan Maria dan jasad Yesus.” “Namun Yesus si manusia meninggalkan jejak-jejak yang mengisyaratkan bahwa dahulu ia benar-benar sangat manusiawi—manusia yang seronok, yang cenderung lebih menyukai pesta ketimbang puasa, dan bergaul dengan manusia-manusia tipe kurang terhormat yang barangkali membuat keluarganya sendiri cemberut.”
  • Yohanes Pembaptis memberikan pengaruh sangat besar pada Yesus dan ajarannya. Meskipun para peneliti kontemporer akan mengakui bahwa hubungan dengan Yohanes Pembaptis itu merupakan salah satu dari potongan-potongan yang kemungkinan besar otentik dari tradisi-tradisi injil (mengingat para penulis injil itu terkesan agak dipermalukan oleh hal itu, barangkali hubungan itu bukan hasil kreasi)  Meier mengembangkan gagasan bahwa Yesus di masa awalnya barangkali menjadi bagian dari lingkaran Yohanes Pembaptis dan teologi apokaliptiknya yang berapi-api itu merupakan hal yang konstan dalam pelayanan Yesus sendiri. Ketika Yesus meninggalkan lingkaran Yohanes Pembaptis itu untuk memulai pelayanannya sendiri, rupanya ia membawa serta beberapa dari pengikut-pengikut Yohanes Pembaptis.
  • Pandangan Yesus mengenai dirinya sendiri berbeda jauh dari pandangan gereja purba. Apakah ia memandang dirinya sendiri sebagai Messiah memang bisa diperdebatkan, tetapi yang nyaris bisa dipastikan adalah bahwa ia tidak memandang dirinya sendiri sebagai ilahi. Sebagaimana Bork nyatakan, “Andaikata salah satu murid Yesus berbicara tentang dia dengan kata-kata Kredo Nicene, orang hanya bisa membayangkan dia tersentak ‘Apa?’” Sanders mengetengahkan komentar yang sangat bermakna bahwa Yesus mungkin sekali mati sebagai orang yang sangat kecewa. Injil tertua melaporkan jeritan terakhirnya dari kayu salib sebagai jeritan keputus-asaan, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa kau meninggalkan aku?” Entah jeritan itu historis atau tidak, kita tidak akan pernah bisa tahu, tetapi hal itu menunjuk pada adanya elemen tragedi dalam kematiannya.
  • Para pengikut Yesus, dan bahkan non-pengikut seperti Josephus si sejarawan Yahudi itu, mengenang Yesus sebagai seorang penyembuh, seorang pengusir setan, dan pekerja mukjijat. Yang menarik, musuh-musuhnya tidak pernah menyebutnya penipu, atau mengatakan bahwa mukjijat-mukjijatnya palsu, tetapi mengatakan bahwa kekuasaannya berasal dari Setan atau demit-demit.
  • Terkecuali segelintir perempuan, sebagian besar pengikut Yesus meninggalkan dia pada saat kematiannya. Selama masa pelayanannya, keluarganya sendiri rupanya juga tidak mendukung dia. Pada suatu ketika (Mark 3:20-21), mereka bahkan menganggap dia kerasukan setan.
  • Yang mencengangkan, kematian Yesus tidak menandai akhir dari gerakannya. Para pengikutnya masih terus percaya pada ajarannya tentang Kerajaan Allah. “Sari buahnya menetes tanpa henti,” kata Crossan.

Sepanjang sejarah Yahudi para pemimpin apokaliptik lain juga bermunculan. Bar Kochba dan Sabbatai Sevi, misalnya, berhasil menarik banyak pengikut setia. Tetapi kegagalan mereka untuk mewujudkan cita-cita mengubah masyarakat telah mengakhiri gerakan-gerakan mereka. Ketika para pengikut Yesus, yang mungkin sedang bersembunyi entah di mana, mendengar bahwa ia mati, berita itu ternyata bukan lonceng kematian bagi kelompok itu. Entah dengan cara bagaimana, harapan tetap hidup dan mengejawantah menjadi sebuah kekuatan yang mampu mengubah sejarah. Siapapun yang mengamati peta gereja-gereja yang didirikan di abad pertama, kedua, dan ketiga mau tidak mau akan ternganga melihat begitu cepatnya Kristianitas menyebar. Ketegaran dan pertumbuhan luar biasa dari para pengikut Yesus setelah kematiannya adalah mukjijat yang harus dijadikan fokus penelitian—kata Crossan—bukan kebangkitannya. Sungguh, transformasi dari beberapa messianis yang kecewa menjadi sebuah gerakan yang dinamis adalah satu dari sekian banyak kisah-kisah yang mentakjubkan tentang sejarah.

Ketika seseorang menanyai Franz Rosenzweig apa yang orang-orang Yahudi pikirkan tentang Yesus, ia hanya menjawab, “They don’t.” Tetapi jawaban yang sama akan diperoleh dari orang Kristen yang ditanyai apa yang orang-orang Kristen pikirkan tentang Yesus historis. Apakah Whitney Houston mengucapkan terima kasih pada Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat pribadinya di Grammy Awards, atau sri Paus mengucapkan namanya dalam doa privat hariannya, selalu yang dimaksudkan adalah “Kristus kepercayaan,” yang kehadirannya yang maha kuat dan kekal memberikan makna tertentu pada kehidupan orang-orang. Pengkhotbah karismatik dari Palestina abad pertama itu tetap tinggal dalam bayang-bayang.

Namun langkah gerakan Yesus historis menuju tengah-tengah panggung merupakan kabar gembira bagi orang-orang Yahudi maupun Kristen dalam hubungan mereka dengan satu sama lain. Setelah secara efektif dipisahkan dari gereja, Yesus menjadi lebih Jewish. Orang-orang Yahudi tidak lagi merasa bahwa berpikir dan berbicara tentang dia adalah sebuah ancaman. Graetz dan Geiger memahami Yesus sebagai bagian dari sejarah Yahudi. Ketika orang-orang Yahudi kontemporer bergulat dengan sejarah mereka, mereka terpaksa memikirkan tempat Yesus historis dalam sejarah itu.

Kebanyakan orang Yahudi menghindari Kristus gereja, Tuhan yang disalibkan itu, tetapi tidak berkeberatan mengklaim Yesus sejarah, pengkhotbah dari Palestina kuno itu, sebagai anggota keluarga mereka. Ketika terbebas dari beban teologi Kristen dan Kristianitas yang terorganisasi dari masa belakangan, mereka bisa melakukan hal itu dengan lebih leluasa. Setelah itu barulah kita bisa bergerak lebih jauh dari isu-isu lama tentang penderitaan Yahudi dan rasa bersalah Kristen, dengan mencari titik-titik temu, meskipun kesimpulan-kesimpulannya nanti tidak sama.

Claudia Setzer adalah Professor of Religious Studies di Manhattan College, New York City. Beliau mendapatkan gelar doktor dari Columbia University/Union Theological Seminary. Bidang keahlian khususnya meliputi Perjanjian Baru dan Sejarah Kristianitas. Beliau adalah penulis buku Jewish Responses to Early Christians. Beliau juga menerbitkan artikel-artikel mengenai Yesus historis, Maria Magdalena, dan orang-orang Yahudi serta Kristen-Yahudi di Afrika Utara.

Terjemahan: Bern Hidayat, 16 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: