Yesus dan Yehohanan: Sebuah Catatan Arkeologis tentang Penyaliban

27/01/2010

Temuan-temuan arkeologis menyodorkan informasi baru mengenai praktek penyaliban Romawi.
by Reverend Dr. J. H. Charlesworth from Expository Times,
February 1973

Pada awal musim panas 1968 sebuah tim arkeolog dibawah pengarahan V. Tzaferis menemukan empat gua-kuburan di Giv’at ha-Mivtar (Ras el-Masaref), pesis di utara Yerusalem, dekat Bukit Scopus, dan persis di sisi barat jalan ke Nablus. Tanggal kuburan-kuburan itu, sebagaimana terungkap dari gerabah in situ, berkisar antara akhir abad kedua SEB sampai 70 EB. Kuburan-kuburan keluarga itu, dengan kamar-kamar yang bercabang-cabang, yang dikeruk di tanah batu kapur yang lunak, menjadi bagian dari kuburan Yahudi di jaman Yesus, yang merentang dari Gunung Scopus di timur sampai kuburan Sanhedriya di barat-laut.

Dalam gua-gua itu ditemukan 15 osuari (guci tulang) yang berisi tulang-belulang dari 35 orang. Di bawah pemeriksaan para spesialis, tulang belulang itu mengungkapkan sebuah kisah yang mengejutkan mengenai kekejaman dan penderitaan yang dihadapi oleh orang-orang Yahudi di abad Yesus hidup itu. Sembilan dari ke-35 orang tadi menemui kematian dengan kekerasan. Tiga orang anak, dari usia delapan bulan sampai delapan tahun, mati karena kelaparan. Seorang anak umur hampir empat tahun mati menderita dengan anak panah yang menembus dari kiri tengkoraknya (tulang occipital). Seorang pemuda berumur 17 tahun dibakar sampai mati dalam keadaan terikat di tonggak kayu, sebagaimana disimpulkan dari garis-garis kelabu dan putih pada fibula kirinya. Seorang perempuan yang sedikit lebih tua juga mati karena dibakar. Seorang perempuan tua umur hampir 60 tahun kemungkinan mati karena pukulan benda tumpul seperti tongkat pada tengkorak kepalanya; atlas, axis vertebrae dan tulang occipitalnya remuk. Seorang perempuan usia awal 30an mati sewaktu melahirkan, dengan bayi masih dalam pelvisnya. Terakhir, dan yang penting untuk dicatat, seorang lelaki usia antara 24 sampai 28 tahun mati disalib.

Nama orang itu sebagaimana ditorehkan pada osuari dengan huruf-huruf setinggi 2 cm: Yehohanan. Diperkirakan dia disalib antara tahun 7 EB, masa pemberontakan sensus, sampai 66 EB, awal peperangan melawan Roma.  . . . . . Menurut Dr. N. Haas dari Department of Anatomy, Hebrew University—Hadassah Medical School, Yehohanan mengalami tiga episode traumatik. Langit-langit mulut yang dekik-dekik di sisi kanan dan asimateri muka yang terkait dengan itu kemungkinan besar adalah akibat kerusakan diet ibunya dalam minggu-minggu pertama kehamilannya. Disproporsi cerebral cranium (pladiocephaly) diakibatkan oleh kesulitan-kesulitan sewaktu kelahiran. Semua tanda kekerasan pada tulang kerangka adalah akibat langsung atau tidak langsung dari penyaliban.

Deskripsi kematian Yehonanan akan bermanfaat untuk membayangkan penderitaan Yesus mengingat kedua orang itu disalib oleh orang-orang Romawi di abad yang sama dan tidak jauh dari tembok Yerusalem. Tulang radial kanan nomor tiga dari bawah Yehohanan berisi sebuah alur yang kemungkinan besar diakibatkan oleh friksi antara sebuah paku dengan tulangn itu. karena itu kedua lengannya dipakukan ke patibulum menembus lengan—bukan menembus pergelangan tangan, karena tulang-tulang pergelangan tangannya utuh.  Karena itu adalah logis untuk menyimpulkan bahwa, bertentangan dengan penggambaran tipikal pada lukisan-lukisan dan biografi-biografi, yang dipaku adalah lengan Yesus, bukan tangannya. Barangkali kita harus menerjemahkan hanya dua bagian dari injil-injil yang menyebutkan Yesus disalib (Luk 24, Yoh 20) bukan di “tangan,” melainkan—sesuai keterangan Hesiod, Rufus Medicus, dan orang-orang lain—di “lengan.” Karena itu, menurut Yoh 20, Yesus mengatakan pada Thomas, “Masukkan jarimu ke sini dan lihatlah lenganku. . . .”

Kedua kaki Yehohanan dirapatkan menjadi satu, dibengkokkan, dan dipuntir sehingga kedua pahanya paralel dengan patibulum. Kedua kaki dilekatkan pada kayu salib dengan sebatang paku yang secara simultan menembus kedua mata kaki (tuber calcanei). Paku besi di bagian bawah kepalanya mengandung: sedimen-sedimen, fragmen-fragmen kayu Pistacia atau Acacia, kerak kapur, satu bagian tulang mata kaki kanan, satu bagian lebih kecil tulang mata kaki kiri, dan sebuah fragmen kayu zaitun. Rupanya Yehohanan dipakukan ke salib kayu zaitun dengan kaki kanan di atas kaki kiri. Lebih jauh lagi, Dr. Haas menyimpulkan bahwa paku besi itu bengkok sekitar 2 cm karena menghantam soca kayu, yang membuat kaki-kaki itu harus diamputasi untuk melepasnya dari kayu salib.

Sementara Yehohanaan masih di kayu salib, mungkin setelah beberapa waktu, kedua kakinya dipukul remuk. Satu pukulan keras dari sebuah benda tumpul dan berat memberikan coup de grace, mengakibatkan tulang kering (gares) kanannya pecah menjadi serpihan-serpihan, dan gares kirinya retak-retak, dengan garis-garis yang searah dengan kayu salib (simplex).

Temuan-temuan di atas bisa memberikan kejelasan mengenai bagaimana Yesus mati, tetapi pertanyaan pertama kita tetap belum terjawab secara memadai. Mengapa Yesus mati begitu cepat?

Seni Kristen tidak henti-hentinya menggambarkan Yesus sebagai terpaku di kayu salib dengan ujung-ujung jari terbuka penuh. Torso Yehohanan dibekuk ke posisi terpuntir, dengan kedua pangkal paha dan paha bawah ditekuk dan dipuntir secara tidak alami. Karena paku itu tidak mengencangkan kaki-kaki itu ke kayu salib, sebuah papan (sedecula) kemungkinan besar dipakukan pada simplex, sehingga memberikan topangan untuk pantat dan memperpanjang siksaan. Andaikata Yesus disalib dengan posisi sama, dan kita tidak bisa yakin apakah kemungkinan itu besar, otot-ototnya yang tertarik pasti akan mengakibatkan kontraksi-kontraksi spasmodik (tetanisasi) dan kram-kram kaku yang akhirnya akan menyebar sampai ke diafragma dan paru-paru sehingga menarik dan menghela nafas akan terganggu. Yesus bisa mati sesudah enam jam.

Tetapi kedua orang lain yang disalib bersama-sama Yesus tidak mati secepat itu. Mungkinkah hal itu karena sebelumnya mereka tidak disiksa terlebih dulu, ataukah karena mereka disalib dengan cara lain? Barangkali logis untuk berasumsi bahwa karena Yesus telah menjadi pusat perhatian selama setidak-tidaknya satu pekan, maka dia kemudian diberi perhatian ekstra oleh para algojonya sebelum akhirnya disalib. Khususnya akan seperti itu situasinya jika kedua orang yang lain itu disalib karena mereka dituduh perampok atau penjahat (bandingkan Km 15, Mt 27, dan Lk 23), tetapi Yesus disalib karena pemberontakan melawan Roma. Ini bukan spekulasi-spekulasi yang ngawur, tetapi spekulasi-spekulasi itu memang tidak tercakup dalam data yang tersedia. Kita hanya bisa bertanya-tanya mengapa Yehonanan disalib; mengapa kaki-kakinya diremuk; dan adakah sesuatu bentuk penyaliban khusus untuk orang yang dituduh memberontak? Sementara kita mencari jawaban-jawabannya, kita harus ingat bahwa situasi dan kondisi khusus Yesus: siksaan tidak mungkin lebih dari tujuh jam, sebab hari Sabbath yang semakin mendekat itu tidak boleh dilanggar, khususnya dekat Yerusalem yang konservatif itu.

Akhir kata, kita sekarang mempunyai bukti empiris tentang penyaliban. Kematian di kayu salib bisa lama atau cepat. Penyaliban kenalan Josephus yang katanya mampu bertahan hidup itu tidak boleh diproyeksikan pada penyaliban Yesus. Josephus tidak lagi digunakan sebagai paradigma non-injil utama bagi penyaliban; paradigma utamanya sekarang adalah data arkeologis seperti diuraikan di atas. Penyaliban Yesus, yang tidak memiliki fisik dan stamina seorang gladiator, bukan dimulai, melainkan mencapai puncaknya, ketika ia dipaku di kayu salib. Setelah sepanjang malam dipukuli secara brutal oleh serdadu-serdadu Romawi, yang pasti menikmati kesempatan untuk meluapkan kebencian mereka pada orang-orang Yahudi dan kemuakan mereka pada gaya hidup Palestina, Yesus praktis sudah mati. Saya tidak melihat alasan apapun mengapa kisah-kisah Sinoptik tidak menyebutkan satu pun bruta facta dari kehidupan Yesus ketika injil melaporkan bahwa, ketika Yesus mulai berjalan terhuyung-huyung dari istana Herodes ke Golgotha, ia terlalu lemah untuk memanggul salibnya. Simon dari Cyrene memanggul salib itu untuknya. Metafor-metafor jangan sampai dikacaukan dengan aktualitas-aktualitas, atau kepercayaan dikacaukan dengan sejarah. Bukanlah suatu pengakuan iman untuk menegaskan bahwa Yesus mati di Golgotha pada siang hari Jum’at itu; itu adalah sebuah probabilitas yang diperoleh dari kanon-kanon tertinggi penelitian historis ilmiah. Jawaban enteng para humanis dan rasionalis atas pertanyaan mengapa Yesus mati begitu cepat tidak lagi bisa diterima di lingkaran-lingkaran para ahli. Catat saja, misalnya, komentar penyimpul dalam “biografi” paling mutakhir tentang Yesus oleh seorang ahli Yahudi: “Others thought that he called out in despair: ‘My God, my God (Eli, Eli), why hast thou forsaken me?’ And Jesus died.’”

Bacalah komentar para ahli tentang penyaliban Yesus.

© Appeared in the Expository Times February 1973 volume IXXXIV No. 6. The Expository Times is published by:

T&T Clark
59 George Street
Edinburgh EH2 2LQ
Scotland

Judul asli: “Jesus and Jehohanan: An Archaeological Note on Cruxifixion”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, 17 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: