Wanita-Wanita Paulus

27/01/2010

Tanggapan atas tulisan Mark McFall,  “Women in Bible Times,”

oleh  J.M. Blankenship

Kontroversi mengenai peranan wanita dalam ijil telah mengetengahkan banyak ideologi, beberapa bahkan berbahaya. Banyak denominasi gereja konservatif justru tambah bersemangat untuk kembali ke penindasan wanita abad pertama, dengan menyatakan bahwa tindakan-tindakan mereka dibenarkan oleh injil. Dibesarkan dalam lingkungan yang seperti itu, saya bahkan kuliah di sebuah perguruan tinggi Baptist Bible konservatif, di mana konsensus yang selalu ditegaskan adalah bahwa “wanita-wanita tidak dipanggil untuk menjadi pendeta; pelayanan pendeta adalah panggilan bagi laki-laki.” Dalam pemahaman mereka, Tuhan memperlakukan wanita dan pria secara tidak sama, yang jelas-jelas bertentangan dengan klaim Paulus bahwa “tidak ada . . . wanita atau pria” (Gal 3:28). Pembenaran mereka yang dibuat-buat adalah bahwa pria wanita setara untuk keselamatan, tetapi di wilayah rahmat dan panggilan Allah, wanita berada di tataran yang berbeda. Ketika berbincang-bincang dengan seorang asisten pastur muda yang baru lulus dari sebuah college Bible yang sealiran dengan itu, saya katakan padanya bahwa klaim seperti itu tidak hanya tidak didukung oleh teks injil, tetapi bahkan dibantah oleh bukti sejarah yang mengetengahkan sebegitu banyak contoh tentang para wanita pemimpin pilihan Tuhan di sepanjang masa hidup Gereja. Ternyata pastur muda itu memberikan tanggapan berupa sebuah generalisasi yang begitu menggebyah-uyah, bahwa “semua pelayanan yang diawali oleh wanita itu telah gagal.” Saya bahkan merasa tidak perlu menunjukkan seribu satu masalah yang akan dimunculkan oleh pernyataan seperti itu. Jelas bahwa persoalan itu hanya akan memunculkan perselisihan tanpa juntrung, bahkan malah bisa sangat berbahaya.

Mark McFall telah menunjukkan adanya berbagai masalah akibat memperlakukan aspek-aspek kultural ketika Injil disamakan dengan perintah-perintah. Tetapi itu benar-benar pelik ketika sebuah pernyataan yang sangat eksplisit dari Paulus dianggap sebagai menetapkan posisi yang rendah bagi wanita.  Ketika membaca cuplikan-cuplikan surat Paulus, seakan-akan tidak ada interpretasi lain selain bahwa Paulus menomor-duakan wanita, menempatkan wanita di bawah laki-laki. Penafsiran yang literal terhadap ucapan-ucapan Paulus seakan menandaskan bahwa teori Paulus tentang peranan wanita benar-benar bermasalah. Tetapi ijinkan saya menjelaskan adanya sesuatu yang perlu diluruskan mengenai Paulus.

Barangkali kita sudah akrab dengan bagian aneh dari 1 Korintus 11:15, yang menjelaskan rambut wanita sebagai “puncak keagungan wanita” untuk membenarkan kewajiban bahwa wanita harus mengenakan tudung kepala ketika berdoa atau bernubuat dalam perkumpulan jemaat. Saran Paulus itu seakan mengisyaratkan bahwa ia membantah kebijaksanaan “sit-down-and-shut-up”-nya sendiri, atau di antara kedua kebijaksanaan itu telah terjadi suatu pelunakan sikap. Bahwa ia berkompromi. Atau bahwa ia memang tidak tegas.  Tetapi di pihak lain, kita harus mencermati bab 14 dari kitab yang sama. Di situ ia berbicara tentang “speaking in tongues” (bahasa Jawa: medium prewangan). Karunia Roh yang misterius itu diakui oleh Paulus sebagai karunia yang syah. Meskipun begitu, terasa bahwa ia dibuat agak agak malu karena hal itu. Ia menganjurkan agar orang-orang Korintus tidak memamer-mamerkan hal itu, karena bernubuat itu lebih baik. Mengapa? Karena hal itu lebih praktis. Ia memperingatkan bahwa medium prewangan yang berlebih-lebihan akan memberikan citra jelek pada gereja di mata orang-orang luar; itu juga tidak menguntungkan gereja, melainkan hanya menguntungkan si pelaku. Memang karunia syah dari Roh Tuhan, tetapi ada alasan kuat untuk tidak menonjol-nonjolkannya. Sekali lagi, kita ingat bagaimana Paulus mengalah pada tuntutan orang-orang Farisi yang sudah bertobat agar Timotius disunat (Kisah 16:3), padahal satu bab sebelum itu ia berkhotbah, bersama-sama dengan Barnabas, yang secara sangat tegas menentang tuntutan orang-orang Farisi Kristen bahwa orang-orang kafir harus disunat untuk mengikuti hukum Musa (Kisah  15:1-29).  Jadi, dengan demikian, ia menganjurkan agar para wanita mengenakan tudung kepala, sebagaimana disebutkan di atas, selaras dengan tradisi-tradisi kultural yang populer di jamannya. Dalam kitab yang sama, Paulus mengingatkan agar jangan berlebihan mempraktekkan medium prewangan karena hal itu bisa membuat orang luar mendiskreditkan gereja dan menjauhkan diri dari gereja, selain bahwa hal itu tidak memberikan keuntungan pada jemaat sebagai sebuah kelompok. Jelaslah bahwa, mengingat bahwa agama yang baru saja berdiri itu tengah berjuang keras untuk menumbuhkan akar di Palestina dalam abad pertama itu, maka Paulus tidak ingin agama itu mati akibat mendiskreditkan diri sendiri dengan jalan mengasingkan diri dari trend-trend kultural masa itu, atau dengan konflik yang berlebihan, baik secara internal maupun eksternal. bukannya Paulus menginginkan agar gereja menenggelamkan diri dalam trend-trend kebudayaan yang sedang marak, atau menenggelamkan diri dalam kepercayaan-kepercayaannya sendiri secara eksklusif, melainkan bahwa ia ingin agar gereja sepenuhnya menyadari hal-hal itu dan dan tidak melakukan sesuatu apapun yang bisa mengkompromikan adaptasi Kristianitas kedalam dunia itu. Ingat, untuk menutup diskusinya mengenai wanita dan tudung kepala, Paulus dengan tandas menyatakan bahwa “jika ada orang yang berniat silat-lidah mengenai itu, maka tidak ada hal lain yang akan kita lakukan, begitu pula gereja-gereja Tuhan” (1 Kor 11:15). Di situ dengan jelas ia nyatakan tujuannya: semua gereja melakukan hal ini—jadi ya kita lakukan saja. Sekali lagi, kita melihat Paulus yang berusaha menghindari gugatan dari dalam dan kekacauan kultural.

Paulus jelas orang yang tahu bagaimana harus menetapkan prioritas. Ia “melayani semua orang,” sebab bagi dia pertikaian-pertikaian kecil yang biasanya mendera gereja-gereja kita sebenarnya sangat sepele jika dibandingkan dengan mengusahakan agar dunia ini bertobat. Ia akan bersikap luwes dengan hal-hal kecil, tetapi tegas mengenai hal-hal besar, sebab ia tahu bagaimana harus membedakan masalah-masalah yang ia yakini sebagai temporal dengan masalah-masalah yang ia yakini sebagai eternal. Barangkali secara bawah sadar ia masih memiliki sikap-sikap tradisional yang baginya memang sulit dihapus, juga bagi kita semua. Dan kebetulan konfliknya menyangkut kesetaraan gender yang dikedepankan oleh Kristianitas, sebagaimana ditunjukkan oleh McFall. Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa Paulus paham betul mana yang secara eternal penting dan mana yang tidak, dan bahwa demi kelestarian gereja tidak ada ruginya sedikit mengalah pada kebudayaan lokal.

Sumber: www.// // frontlineapologetics.com. c.2007.

Terjemahan: Bern Hidayat, 3 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: