WANITA SAMARIA—FEMINISME INJIL

27/01/2010

www.womeninthebible.net

Penulis injil Yohanes mempunyai sejumlah tokoh yang namanya tidak disebutkan. Di antara mereka adalah Ibu Yesus, Murid Terkasih, Lelaki Lumpuh di Kolam, Lelaki yang Lahir Buta, dan Pejabat Kerajaan. Mereka adalah orang-orang nyata dengan identias-identitas dan kisah-kisah mereka sendiri, tetapi tidak menyebutkan nama mereka justru mempertegas simbolisme kisah-kisah mereka.

Kisah Wanita Samaria

Kisah tentang wanita Samaria merupakan pernyataan tegas mengenai peranan wanita dalam komunitas-komunitas Kristen purba. Wanita tidak bisu, dan wanita tidak terbatas pada dunia privat para wanita. Ia mempunyai suara; ia berkiprah di arena publik, memasuki ruang pria. Wanita memasuki perdebatan-perdebatan dengan Yesus mengenai masalah-masalah dan pertanyaan-pertanyaan di mana wanita memiliki kepentingan. Wanita tidak menunggu ijin untuk melakukan hal itu, tetapi mengambil inisiatif sendiri.

Potret peti  jenazah, wanita Timur Tengah, abad ke-2 EB

Tiga seksi kisah wanita Samaria:

1 Wanita itu menemui Yesus di sebuah sumur (Yohanes  4:1-26)
Di tengah perjalanan bersama murid-murid dan teman-temannya, Yesus berhenti di sebuah sumur. Di sana ia bertemu dengan dan ditanyai oleh seorang wanita. Wanita itu menjadi percaya bahwa Yesus adalah Messias.

2 Wanita itu kembali ke kotanya (Yoh  4:27-38)
Murid-murid kembali. Wanita itu kembali ke kotanya, dan bercerita pada tiap orang tentang Yesus. Mereka datang menemui Yesus untuk meyakinkan diri mereka sendiri. Murid-murid mendesak Yesus untuk makan, tetapi ia menyatakan bahwa ia sudah makan.

3 Wanita itu meyakinkan banyak orang tentang Yesus (Yoh 4:39-42)
Banyak orang Samaria percaya pada Yesus, berkat wanita itu. Yesus tinggal bersama orang-orang itu selama dua hari.

WANITA ITU MENEMUI YESUS DI SEBUAH SUMUR

(Yoh 4:1-26)

Yesus melakukan perjalanan dari Yudea di selatan kembali ke Galilei di utara. Biasanya orang-orang Yahudi berjalan memutari Samaria untuk menghindari kontak dengan orang-orang Samaria, tetapi Yesus mengambil rute langsung. Ia sampai di Sychar, sebuah kota kecil dekat sumur Yakob.

Dahulu ada sebuah kota besar di sana, persis di tempat kejadian itu. Di puncak Gunung Gerizim di dekatnya ada sebuah kuil pesaing Bait Allah Yerusalem. Tetapi kota dan kuilnya sudah dihancurkan sebelum jaman Yesus, dan yang tersisa tinggal sebuah desa. Di situ Yesus berhenti, kecapaian dan kehausan di siang hari yang terik.  Teman-temannya telah pergi ke kota untuk membeli makanan. Hanya seorang wanita Samaria yang ada di sana, yang sedang menarik air dari sumur.

“Yesus, yang kelelahan akibat perjalanan itu, sedang duduk dekat sumur itu. Waktu itu sekitar tengah hari. Seorang wanita Samaritan datang untuk mengambil air, dan Yesus mengatakan padanya, ‘Berilah aku minum.’ (Murid-muridnya telah pergi ke kota untuk membeli makanan). Wanita Samaritan itu berkata padanya, ‘Bagaimana bisa engkau, seorang Yahudi, meminta minum dariku, seorang perempuan Samaria?’  Yesus menjawabnya, ‘Andaikata kau mengetahui karunia Tuhan dan siapa yang meminta padamu, ‘Berilah aku minum,’ kau pasti telah memintanya darinya, dan ia pasti memberikan padamu air kehidupan’” (Baca Yohanes 4:1-10).

Setiap tetes air yang digunakan di rumah harus diambil dari sumur lokal. Jadi setiap hari wanita-wanita berjalan ke dasar anak tangga yang ditatah di bebatuan, mengisi tempayan-tempayan gerabah mereka yang berat, menapak ke atas, dan membawa air itu ke rumah. Biasanya itu dikerjakan oleh wanita-wanita yang masih muda dan kuat, tetapi yang terjadi sekarang tidak seperti itu. Wanita Samaria itu sudah tidak muda, dan karena ia membawa airnya sendiri, rupanya tidak ada wanita muda di rumahnya untuk mengerjakan tugas yang berat itu.

Yesus meminta air dari wanita Samaria itu untuk minum, dan di situlah dimulai sebuah percakapan terpanjang yang pernah tercatat antara Yesus dengan siapa pun [dalam Injil].  Yang mengherankan, percakapan itu terjadi justru dengan seorang wanita—kafir pula. Wanita itu sendiri heran ketika Yesus berbicara padanya, sebab orang-orang Yahudi dan Samaria saling memusuhi.

Ada konflik yang berkepanjangan antara orang-orang Yahudi dengan Samaria. Samaria dahulu adalah ibukota kerajaan utara Israel di masa perpecahan kerajaan-kerajaan. Pada 721 SEB (Sebelum Era Bersama), Asiria mengalahkan Israel, dan mengusung sebagian besar penduduknya ke Asiria. Orang-orang Asiria menggantikan penduduk asli dengan lima suku asing yang kemudian menetap di daerah itu (lihat 2 Raja-raja 17:13-34).

Akhirnya banyak dari bekas penduduk asli tadi pulang ke Samaria dan kawin dengan orang-orang dari kelima suku asing tadi. Di jaman Yesus, orang-orang Yahudi menganggap orang-orang yang tinggal di Samaria bukan keturunan sejati dari para nenek moyang Yahudi, dan agama mereka bukan Yudaisme sejati, melainkan campuran aneka macam kepercayaan.

Yesus dengan santai mengabaikan perseteruan turun temurun antara dua kelompok itu. Ia mulai bicara pada wanita itu tentang “air kehidupan.” Wanita itu menanyai dia dan mengajaknya berbincang-bincang. Yesus menerangkan bahwa ketika orang-orang minum air biasa, mereka akan haus lagi. Tetapi ia memiliki air yang memberikan kehidupan kekal, bukan kehidupan sementara. Tentu saja hal itu memikat perhatian wanita itu, apalagi sebagai orang yang setiap hari harus mengambil air.  Ia memohon agar diberi “air kehidupan” itu sekedarnya.

Yesus menyuruh wanita itu pergi memanggil suaminya. Saya tidak punya suami, jawab wanita itu.   Kamu pernah mempunyai lima orang suami, kata Yesus, tetapi lelaki yang sekarang hidup bersamamu itu bukan suamimu.

Di titik ini kisah itu mengandung banyak simbolisme. Wanita itu sendiri melambangkan Samaria, dan kelima suaminya adalah kelima suku asing tadi. Lelaki dengan siapa wanita itu sekarang hidup, yang bukan suami syahnya, melambangkan agama Samaritan.

Wanita itu langsung memahami makna Yesus. Yesus sedang berbicara tentang agama Samaritan sebagaimana nabi-nabi Yahudi lakukan di jaman dulu.  Menyadari hal itu, wanita itu menyebutnya nabi, dan mulai menanyakan perbedaan-perbedaan antara agama Yahudi dengan Samaritan. Ia tahu bahwa kuil di puncak Gunung Gerizim di dekat situ dahulu menjadi pusat ibadah orang-orang Samaria, menyaingi Bait Allah di Yerusalem. Orang-orang Samaria dan Yahudi saling memusuhi karena berselisih paham mengenai mana di antara kedua kuil itu yang merupakan tempat ibadah yang benar.

Pada dasarnya wanita itu berbincang-bincang dengan Yesus mengenai di mana dan bagaimana kamu menyembah Tuhan, sebuah masalah yang menarik perhatiannya. Ia berbicara dengan Yesus sebagai intelektual  yang sederajat, dan Yesus menanggapi.

Yesus menyatakan padanya bahwa tidak lama lagi semua argumen itu tidak akan berarti sama sekali. Messias akan segera datang, dan ia akan mengubah segala-galanya. Kenyataannya, kata Yesus, Messias telah datang, dan dialah sang Messias itu.

Tempat yang diduga situs sumur Yakob sekarang dinaungi sebuah gereja Yunani Ortodoks

WANITA ITU KEMBALI KE KOTANYA
(Yoh 4:27-38)

Teman-teman Yesus kembali, dan terheran-heran melihat Yesus berbincang-bincang dengan seorang perempuan. Perhatikan bahwa murid-murid itu terheran-heran melihat Yesus berbincang-bincang dengan seorang wanita. Mereka tidak akan heran jika Yesus berbicara dengan seorang lelaki Samaria, bahkan sekalipun di jaman Yesus itu (sekitar tahun 30 EB) orang-orang Samaria dicurigai dan tidak disenangi.  Pada waktu Yohanes menulis injilnya, situasi itu sudah berubah, dan sudah ada kesediaan lebih besar untuk memasukkan wanita kedalam posisi-posisi otoritas ketimbang menerima laki-laki Samaria sebagai sesama warga masyarakat.

Wanita itu meninggalkan tempayan yang ia bawa dan bergegas kembali ke kota.

‘Ia mengatakan pada orang-orang, “Datang dan temuilah orang yang menceritakan padaku segala sesuatu yang pernah aku lakukan. Tidak mungkin dia Messiah, ‘kan?” Mereka meninggalkan kota dan pergi menemuinya.’ (Baca Yohanes 4:28-30).

Meninggalkan tempayan air  itu sepintas lalu merupakan informasi yang sepele, tetapi tindakan itu paralel dengan insiden-insiden lain dalam injil-injil, ketika berbagai orang meninggalkan kegiatan sehari-hari mereka, meninggalkan jaring penangkap ikan atau meja-meja pengumpulan pajak untuk dengan segera merespon pada Yesus.

Wanita itu  bercerita pada setiap orang tentang Yesus, dengan mengisyaratkan bahwa dia mungkin Messias. Setelah kematian dan kebangkitan kembali Yesus, murid-murid pria berangkat dan menceritakan pada orang-orang tentang Yesus karena mereka diutus untuk melakukan hal itu. Wanita itu juga melakukan hal yang sama, tetapi itu ia lakukan atas prakarsanya sendiri. Ia melihat apa yang harus ia lakukan, dan itu ia lakukan.

WANITA ITU MEYAKINKAN BANYAK ORANG TENTANG YESUS
(Yoh 4:39-42)

Sementara itu, sahabat-sahabat Yesus mendesaknya untuk makan. Tetapi Yesus menolak, dengan mengatakan bahwa ia sudah menyantap makanan yang tidak mereka ketahui. Yang ia maksudkan adalah bahwa makanan yang kita berikan pada roh dan pikiran kita setidak-tidaknya sama pentingnya dengan makanan yang kita berikan pada tubuh kita. Itu serupa dengan gagasan Yunani tentang pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat, tetapi Yesus memperluas gagasan itu dengan memberinya sebuah dimensi spiritual.

Kemudian Yesus berbicara tentang memanen. Ia bukannya tengah mengacu pada memanen hasil pertanian, melainkan mengacu pada memanen orang-orang yang bersedia mempercayainya. Di antara mereka adalah orang-orang kota Samaria, yang telah mendengarkan kata-kata wanita Samaria tadi. Dimasukkannya orang-orang Samaria kedalam kelompok orang-orang yang Yesus kasihi adalah revolusioner, karena ada permusuhan turun temurun antara orang-orang Yahudi dengan Samaria. Wanita itu berhasil meyakinkan mereka untuk percaya pada Yesus. Dalam hal itu, ia bertindak sebagai seorang rasul, dengan pergi keluar untuk menceritakan pada orang-orang tentang Yesus, dan membawa mereka padanya.

Banyak orang Samaritan dari kota itu percaya padanya berkat kesaksian wanita itu. “Ia menceritakan padaku segala sesuatu yang telah aku perbuat.”  Jadi ketika orang-orang Samaritan itu mendatangi dia, mereka memintanya agar tinggal bersama mereka, dan ia tinggal di sana selama dua hari.(Baca  Yohanes 4:39-42)

Orang-orang Samaria itu mengundang Yesus untuk tinggal. Dan Yesus tinggal selama dua hari. Banyak orang percaya pada Yesus, bukan karena wanita itu, melainkan karena mereka telah menyaksikan sendiri bahwa Yesus adalah Penyelamat dunia. “Penyelamat Dunia” adalah salah satu gelar Kaisar Roma, tetapi di jaman injil Yohanes ditulis, gelar itu semakin banyak digunakan di antara orang-orang Kristen untuk menggambarkan Yesus.

Rangkuman

Dalam cerita ini,seorang wanita mengalami tahap-tahap kepercayaan yang progresif pada Yesus. Ia bertemu dengan Yesus, ia belajar tentang dia, dan akhirnya ia percaya padanya. Kemudian ia pergi dan bercerita pada orang-orang tentang dia.

Orang-orang yang mendengarkan dia akhirnya juga percaya pada Yesus. Tidaklah penting bahwa dia seorang wanita dan seorang Samaria. Gender dan kebangsaan tidak penting. Tidak satu orang pun ditolak dari komunitas Kristen.

SIKAP TERHADAP WANITA DI JAMAN YESUS

Dongeng-dongeng injil sering didiskusikan seakan-akan mereka terjadi dalam isolasi, di luar dunia nyata. Tetapi kenyataannya mereka terjadi dalam sebuah konteks sejarah, dengan latar belakang kultural yang berbeda dari jaman kita. Tahu tentang dunia injil memberi pembaca pemahaman yang lebih baik mengenai dongeng-dongeng itu.

Filsafat Yunani sangat dikagumi di jaman Yesus, dan filsafat itu memberikan impak besar pada cara orang-orang memandang dunia mereka. Salah seorang filsuf terbesar, Plato, mengetengahkan teori tentang dualisme, dengan mengisyaratkan bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki kembarannya yang setara dan berkebalikan. Teori itu memberikan impak mendalam pada bagaimana wanita-wanita dipandang, dan itu sangat tidak menguntungkan bagi para wanita. “Wanita” ditempatkan dalam sebuah kategori yang mengandung elemen-elemen yang dipandang negatif:
PRIA                          WANITA

Peradaban                   Alam

Nalar/logika                 Emosi

Baik                             Jahat

Terang                         Kegelapan

Camkan bahwa

Peradaban itu ideal; Alam tidak bisa dipercaya dan berpotensi berbahaya

Logika dan nalar dikagumi; Emosi harus ditundukkan

Kebaikan selalu lebih disukai daripada Kejahatan

Terang, khususnya di dunia industri, lebih disukai daripada Kegelapan

“Dosa”—karya

Franz Stuck

Itu semua cuma contoh, tetapi mereka menunjukkan bahwa dualisme Platonik menempatkan wanita dalam kategori yang negatif. Wanita dipandang lebih dekat dengan dunia alam/binatang ketimbang pria. Secara kodrat, wanita dipandang irrasional dan tidak bisa dipercaya, dan karenanya tidak layak untuk mengambil keputusan sendiri dan mengatur hidup mereka sendiri.  Mereka harus diatur dan dikendalikan, jangan sekali-kali diperlakukan sebagai sederajat.

Itu berbeda dari cara orang-orang Yahudi tradisional memandang dunia. Mereka memandang semua hal dalam ciptaan sebagai terintegrasi dan saling mengisi, bukannya sebagai kebalikan dari satu sama lain. Salah satu contohnya adalah kisah penciptaan Hawa, yang menceritakan bahwa wanita pertama diciptakan dari sebuah tulang rusuk yang diambil oleh Tuhan dari dada Adam, yang dengan demikian mengisyaratkan bahwa seorang lelaki tidak pernah lengkap kecuali jika dia bermitra dengan seorang wanita.

Wanita-wanita Yahudi dan Yahudi-Kristen menentang ide-ide dualisme Plato, yang menggurui wanita dan merendahkan status mereka. Ketika Kristianitas masih berupa salah satu sekte Yudaisme, status wanita dalam komunitas-komunitas Kristen benar-benar tinggi. Tetapi ketika ide-ide Kristianitas bergerak memasuki dunia Hellenistik, non-Yahudi, orang-orang Kristen purba mendapatkan bahwa mereka terpaksa menggunakan kerangka filosofis Yunani untuk menjelaskan kepercayaan-kepercayaan mereka agar diterima. Peran-peran wanita harus dikompromikan agar kepercayaan-kepercayaan itu bisa diterima dalam kebudayaan Hellenistik. Dengan demikian, gereja Kristen melangkah mundur dari ideal-ideal radikal orang-orang Yahudi/Kristen pertama.

Para wanita masih kuat di wilayah privat, tetapi digusur dari arena publik. Itu kentara sekali, misalnya, dalam penceritaan-ulang kisah-kisah injil abad pertama dan kedua. Jika kisah-kisah yang dahulu seringkali memiliki wanita sebagai tokoh-tokoh, sekarang kisah-kisah itu difokuskan pada tokoh-tokoh dan kegiatan-kegiatan pria.

Salah satu contoh adalah kisah tentang kelahiran Musa dalam Antiquities tulisan Josephus (seorang penulis Yahudi dan sejarawan Abad Pertama). Dalam penceritaan alkitab aslinya (Eksodus 1 dan 2),  bayi Musa diselamatkan oleh dua orang bidan, oleh ibunya, oleh kakak perempuannya, dan oleh anak perempuan Pharaoh—yang semuanya jelas wanita.

Ketika Josephus menceritakan kembali kisah itu dalam tulisannya pada tahun  94 (EB), fokus utama diarahkan pada ayah Musa, Amram. Amram ini melakukan hal-hal yang dulu dalam alkitab lama dinyatakan sebagai  perbuatan para wanita. Tokoh-tokoh perempuan dalam kisah itu diubah. Bidan-bidan dalam penceritaan-ulang Josephus adalah orang-orang Mesir—bukan Yahudi lagi—tanpa nama—tidak hadir di saat kelahiran Musa—dan membunuhi bayi-bayi Yahudi, bukannya menyelamatkan mereka.  Kisah dasar tentang kelahiran Musa tetap sama, tetapi dimensi wanita telah lenyap.

Josephus mempunyai berbagai alasan untuk mengubah detil-detil kisah itu. Ia sedang berusaha melawan anti-semitisme yang waktu itu marak di Roma, jadi ia menulis tentang wanita-wanita Yahudi yang berperilaku seperti matron-matron Romawi yang santun.  Ideal kewanitaan Romawi telah dipromosikan dengan gencar dalam sebuah program “back to basics” oleh kaisar Augustus dan pejabat-pejabat Romawi.

Wanita Romawi ideal, kata mereka, adalah seorang ibu dengan banyak anak, yang harus puas dengan tugas-tugas rumah-tangganya. Ia setia pada peran tradisionalnya, yaitu di rumah, dan tidak berbicara secara asertif pada para pria dalam keluarganya. Ia tidak memasuki ruang publik. [Lihat gambar matron Romawi ideal di atas ini].

AKTIVITAS DAN PERTANYAAN FOKUS

Aktivitas pemetaan

Dengan menggunakan Google map, carilah lokasi situs-situs kuno di Palestina:

  • Samaria
  • Galilei
  • Yudea
  • Phoenicia
  • Decapolis (ini adalah kawasan “sepuluh kota,” yang didirikan oleh orang-orang Macedonia dan Yunani; dahulunya mereka secara politis independen, tetapi di jaman Yesus mereka dijajah oleh orang-orang Romawi)
  • Kota Sebaste/Samaria
  • Gunung Gerizim
  • Yerusalem
  • Sungai Yordan

Melongok Dunia Lain

Berpura-puralah anda seorang wanita Samaria, dan anda sedang menceritakan kehidupan anda atau mengetengahkan sudut pandang anda. Untuk itu, anda harus:

  • membaca cerita di atas dengan suntuk
  • menyusun daftar hal-hal yang anda ketahui dengan jelas mengenai tokoh di atas
  • menyusun daftar hal-hal yang anda ingin ketahui mengenai tokoh di atas
  • meriset detil-detil latar belakang, misalnya periode historis, renik-pernik urusan rumah-tangga, tata cara berpakaian, latar belakang keluarga, pendapat-pendapat dan pengalaman-pengalaman yang mungkin ada
  • mencari mitra belajar, yang akan mencecar anda dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai watak perempuan Samaria tadi
  • melakukan riset lebih jauh jika perlu
  • menulis sebuah cerita tentang apa yang terjadi, dari sudut pandang wanita Samaria itu

Menulis script televisi

Dengan menggunakan teks di atas sebagai sumber informasi anda, tulislah sebuah script televisi yang menggambarkan adegan antara wanita Samaria itu dengan orang-orang sekotanya. Dalam adegan itu, wanita itu

  • menceritakan pada warga kota percakapannya dengan Yesus
  • menggambarkan reaksinya
  • menanggapi pertanyaan-pertanyaan dan sanggahan-sanggahan mengenai apa yang telah terjadi

Pertanyaan-pertanyaan fokus untuk bacaan injil

  1. Apa saat-saat yang paling menarik dalam cerita di atas? Mengapa saat-saat itu paling menarik bagi saya?
  2. Dalam cerita itu, siapa bicara dan siapa mendengarkan? Siapa bertindak? Siapa mendapatkan apa yang ia inginkan? Orang mana yang anda ingin hindari?
  3. Bagaimana interaksi Yesus dengan tokoh-tokoh utama dalam bacaan itu? Apa yang hal ini ceritakan pada anda tentang imaji si narator tentang Yesus? Anda setuju dengan imaji itu?
  4. Apa yang terjadi dalam bab sebelum kisah tadi dan bab sesudahnya? Apakah struktur itu membantu anda memahami apa yang sedang diceritakan?
  5. Narator/editor telah memutuskan untuk menceritakan beberapa hal dan menyembunyikan hal-hal lain. Apa yang disembunyikan dan yang membuat anda ingin tahu?
  6. Apakah karakteristik dan tindakan-tindakan dari tokoh-tokoh dalam cerita itu juga terjadi di dunia sekarang ini? Bagaimana kisah itu relevan bagi kehidupan modern, khususnya kehidupan anda sendiri?

Sumber: www.womeninthebible.net

Terjemahan: Bern Hidayat, 19 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: