Wanita di Jaman Yesus

27/01/2010

Oleh Mark McFall

Apakah Injil menggambarkan wanita dalam cahaya yang merendahkan dan memalukan? Bagaimana kebudayaan memainkan peran dalam hal ini? Apakah Yesus seorang male chauvinist? Ataukah dia memiliki sikap revolusioner terhadap wanita? Bagaimana dengan Paulus? Bagaimanapun juga, begitu kata para kritikus, Paulus menunjukkan sikap “sit-down-and-shut-up!” terhadap wanita. Ketika kita mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan itu, saya berniat membantu mengurangi tajamnya kritik-kritik yang selama ini paling dominan.

Bukanlah rahasia bahwa sejak Injil ditulis sampai sekitar 1500 tahun kemudian, wanita dipandang lebih rendah daripada laki-laki. Catatan-catatan non-religius memberitahu kita bahwa para wanita tidak hanya tidak memiliki hak-hak politis, tetapi mereka juga tidak memiliki kredibilitas dalam public domain. Menurut sejarawan Flavius Josephus, yang tulisannya sejaman dengan Perjanjian Baru,  praktek pengesampingan terhadap wanita dalam tata pemerintahan Yahudi sebagai saksi hukum tercermin dari komentar berikut:

“Tetapi jangan sampai satu orang saksi dipercaya, melainkan tiga, atau paling tidak dua, dan dari kedua saksi itupun kesaksiannya harus dipertegas oleh kehidupan yang baik. Tetapi jangan sampai kesaksian wanita dimasukkan, mengingat wanita cenderung lantang bicara dan cengengesan.” (Antiquities of the Jews, Bk. IV. Ch. Vlll. 15)

Dalam kebudayaan itu, ideologi yang umum adalah, “meskipun wanita tunduk pada perintah-perintah, ia tidak dianggap layak untuk memberikan bukti” (Jewish Talmud, Baba Kamma 88a). Pemikiran seperti apa yang menggaris-bawahi pembatasan ini? Barangkali cerminan terbaik diberikan oleh satu amanat dari kumpulan proverbs terpisah yang diketemukan dalam kitab deuterokanonical/apokrifal Sirach: “kejahatan seorang lelaki adalah lebih baik daripada perempuan yang berbuat baik” (Sirach 42:14).  Sungguh! Pembatasan-pembatasan dan ideologi-ideologi itu terkesan keras, tetapi itu mencerminkan kebudayaan jaman itu. Tetapi bagaimana sikap Injil dalam hal ini?

Sepanjang Perjanjian Lama, ada banyak contoh di mana wanita memainkan peranan penting dalam rencana Tuhan sebagaimana terlihat lewat lensa para penulis pria. Misalnya, Miriam, nabi perempuan yang memusatkan pelayanannya bagi para wanita Israel (Exodus 15:20). Deborah, seorang nabi wanita lain, menjadi hakim bangsa Israel (seperti Samuel) untuk urusan dokumen legal (Hakim-hakim 4:4-5:7). Huldah, seorang nabi perempuan lain, menjadi tempat berkonsultasi bagi petinggi-petinggi Yosia (2 Raja-raja 22:14-20). Jael, seorang wanita terkemuka, menjadi  saksi hidup bagi kelemahan Barak dan lelaki-lelaki lain di Israel (Hakim-hakim 4:9); dan adalah Abigail (1 Samuel 25) yang berhasil membujuk Daud agar tidak membunuh Nabal. Dan jangan lupa, dalam Sepuluh Perintah Allah kita menemukan kata-kata yang mengisyaratkan kesetaraan dalam penghormatan baik bagi ibu maupun bapak (Exodus 20:12).

Jadi mengapa di beberapa kalangan tertentu Injil mendapatkan reputasi yang begitu jelek karena merendahkan perempuan? Pada hemat saya, hal itu terutama akibat para interpreter yang masih hijau yang mengacaukan narasi sejarah kebudayaan (lihat Kejadian 19:8; Hakim-hakim 11; 19:22-30; dsb) dengan pesan sentral Injil. Dengan kata lain, memang benar bahwa Injil mengandung adegan-adegan yang merendahkan wanita di beberapa halamannya; tetapi suatu permenungan mengenai bagaimana para penulis Injil menggarap adegan-adegan itu akan menunjukkan adanya kehati-hatian dalam pendekatan mereka  terhadap bagaimana mereka menggunakan adegan-adegan itu. Ekspresi-ekspresi personal yang merendahkan, yang mencerminkan sikap-sikap para penulis injil, sebenarnya asing dalam teks itu. Sebagai gantinya, anda mendapatkan penulis-penulis itu mencatat kejadian-kejadian yang merendahkan itu dalam lingkungan kultural mereka sendiri sebagaimana hal-hal itu terjadi tanpa menekankan atau memaksakan pandangan mereka sendiri. Bagian-bagian Perjanjian Lama lain yang menunjukkan aura ketidak-setaraan mencerminkan baik praktek-praktek kultural maupun aspek-aspek sosial dalam mana para penulis injil itu hidup. Meskipun begitu, situasi-situasi kultural itu jangan sampai membuat kita mengalihkan perhatian dari pesan sentral Injil tentang perhatian dan penyelamatan Tuhan bagi umatNya.

Menentang Arus

Menurut para rabbi Yahudi, wanita tidak mampu atau inferior dalam proses belajar untuk belajar. Kitab hukum Yahudi yang dikenal dengan nama Mishnah menyatakan, “biarlah kata-kata Torah [kelima kitab pertama dari apa yang kita kenal sebagai Perjanjian Lama] dibakar daripada mereka diserahkan ke tangan wanita” (Sota, 10a), dan, “barang siapa mengajarkan Torah pada anak perempuannya berarti mengajarkan kemesuman” (Sota, 21).[1] Tetapi Injil mencatat Yesus menjungkir-balikkan ideologi seperti itu. Yesus tidak hanya mengajar wanita-wanita, tetapi bahkan memuji wanita tertentu karena kemampuan belajarnya, yang dibedakan dari saudarinya sendiri yang menjalankan tugas-tugas tradisional (Lukas 10:38-42). Lewat sikap itulah Yesus memunculkan kasak-kusuk tidak hanya di luar lingkaran orang-orangnya, tetapi bahkan di antara orang-orang Yesus sendiri.

Misalnya, penulis injil Yohanes menunjukkan ketercengangan  di antara murid-murid Yesus ketika mereka secara sekilas melihat Yesus berinteraksi dengan seorang wanita Samaria keturunan asing. Interaksi itu sangat membingungkan murid-murid Yesus sendiri. Mengapa? Sebab interaksi seperti itu sangat tidak lumrah. Penulis Yohanes mencatat bahwa “mereka heran melihat Yesus berbicara dengan seorang wanita,” tetapi “tidak satu pun di antara mereka [murid-murid Yesus] yang bertanya padanya, Apa maksudmu? Atau, Mengapa kau bicara dengannya?” (Yoh 4:27). Sementara murid-murid Yesus memikirkan apa yang mereka saksikan, mereka tidak memahami fakta bahwa pada si wanita tadi Yesus baru saja memberikan penegasannya yang paling eksplisit bahwa ia adalah Messias (lihat Yoh 4:1-42).

Lebih-lebih lagi, secara keseluruhan Injil mengetengahkan Yesus sebagai seorang revolusioner. Yesus tidak hanya mengajar wanita-wanita sebagai sederajat dengan para pria sebagai anak-anak perempuan Abraham (Lk. 13: 10-17), tetapi juga secara terbuka mengajar mereka sebagai “anak-anak kebijaksanaan” (Lk. 7:35-50) yang pantas dihormati (Mt. 5:28). Yesus bahkan melangkah lebih jauh dengan mengabaikan semua pembatasan kenajisan yang begitu keras pada waktu itu untuk menyembuhkan seorang wanita yang sudah selama 12 tahun menderita masalah pendarahan [menstrual] (Mk 5:25). Beberapa orang wanita, yang telah disembuhkan, bahkan kemudian menjadi anggota lingkaran-inti Yesus (Lukas 8:1-3). Jadi tidaklah mengherankan bahwa di saat-saat terakhirnya, dalam perjalanan menuju Bukit Tengkorak, Yesus justru berpaling pada “anak-anak perempuan Yerusalem” (Lukas 23:27-28).  Meskipun masih ada contoh-contoh lain yang bisa ditambahkan di sini, apa yang sudah kita ketengahkan sudah cukup untuk melihat kepekaan Yesus terhadap situasi wanita di era ketidak-pekaan masa itu.

Pergulatan Idealogis dalam Teologi Paulus

Bagaimana dengan tulisan-tulisan yang sampai ke tangan kita di bawah nama Paulus? Apakah tulisan-tulisan itu mengisyaratkan bahwa wanita harus di bawah pria? Well, dalam hal ini ada tiga bagian bacaan yang biasa dituding oleh para kritikus.

Dalam 1 Cor 11:2-16, argumen yang diketengahkan adalah bahwa pria harus berdoa dengan kepala tanpa tutup, sementara wanita berdoa dengan kepala bertudung. Kemudian dalam 1 Cor 14:33-35, kita lihat bahwa wanita disuruh “tutup mulut di gereja-gereja, sebab mereka tidak diijinkan bicara.” Sebuah bacaan serupa ada dalam Tim 2:8-15 di mana, penulisnya secara kategoris menyatakan, “Aku tidak mengijinkan wanita mengajar atau berkuasa atas pria; wanita harus tutup mulut.” Tetapi muncul pertanyaan: apakah bagian-bagian itu mewakili pandangan Paulus tentang wanita secara keseluruhan?

Pada hemat saya, jawabannya adalah “tidak.” Kita lihat bagian-bagian lain dari kitab-kitab yang menyandang nama Paulus mengisyaratkan kesetaraan. Dalam surat-suratnya Paulus tidak hanya menyapa para wanita sebagai setara dengan para pria (Phil 4.2; Philemon 2) tetapi  melalui tulisan-tulisan Paulus pula kita temukan bahwa wanita diijinkan memegang peranan-peranan kepemimpinan dalam kehidupan gereja. Sungguh, Paulus mencatat para wanita sebagai rekan-rekan kerja (Phil 4:3; Rom 16:6, 12), sebagai diakon (Rom 15.1-2), sebagai rasul (Rom 16.7, Junia?),[2] [3] sebagai emissary (utusan resmi) dan anggota delegasi resmi (Rom 16:1-2), dan sebagai nabi-nabi dan tentara-tentara doa (1 Cor 11:5). Paulus juga tidak mempunyai masalah dengan wanita yang beribadah berdampingan dengan para pria (1 Cor 11-14),  dan beberapa orang wanita bahkan menjadi pemimpin dari gereja-gereja rumah (1 Cor 16:19). Lebih jauh lagi, teologi Paulus mengajarkan bahwa “tidak ada Yahudi atau Yunani, budak atau merdeka,  pria atau wanita, sebab kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus” (Gal 3.28).

Meskipun para ahli yang memperdebatkan masalah ini kadang-kadang menggunakan pendekatan yang menggelikan (lihat The International Standard Bible Encyclopedia, Vol. IV, hal. 1098-1099), satu hal penting yang harus ditandaskan mengenai wawasan Paulus adalah: meskipun di situ ada elemen subordinasi, itu juga dibarengi dengan banyak peringatan untuk tidak semena-mena, untuk tidak menggunakan mentalitas “sit-down-and-shut-up” dalam memperlakukan wanita.

Paulus terkenal dengan ayat-ayat “tunduklah pada suamimu” (Eph 5.22; Col 3.18; Tit 2.). Sekali lagi, ini jangan diterima secara sepenggal-sepenggal. Bagian-bagian lain dari tulisan Paulus menandaskan ketertundukan yang bersifat mutual antara suami dan isteri (misalnya. Rom 12.10b; Phil 2.3; Gal 5.13).

Singkat kata, kita sadar bahwa para penulis injil menceritakan adegan-adegan yang merendahkan wanita itu dari dalam budaya dan lingkungan mereka sendiri. Tetapi kita juga sadar bahwa cara mengkomunikasikan narasi mereka juga bersifat obyektif. Mereka sendiri TIDAK menekankan atau memaksakan pandangan-pandangan negatif tentang perempuan itu pada para pembaca mereka. Yesus sendiri menjadi contoh yang secara revolusioner menentang dominasi pria. Paulus mempunyai basis Farisi, dengan ideologi yang didominasi pria, tetapi kepercayaannya pada Yesus membuahkan perubahan revolusioner dalam sikap terhadap wanita, meskipun perubahan ini tidak  selalu mulus.  Kita sebagai pembaca modern bisa melihat Paulus yang di satu pihak berkarya berdampingan dengan para wanita, dan di pihak lain dia kadang-kadang menekan mereka. Tetapi pada akhirnya yang dijunjung tinggi oleh orang-orang Kristen kontemporer adalah penerimaan institusional Paulus terhadap wanita.

Tambahan:

Yang menarik, wanita-wanita dinyatakan sebagai saksi-saksi pertama kebangkitan kembali Yesus  (Lk. 24:1-11; Jn. 20:18). Andaikata teks-teks itu ditulis oleh murid pria yang kelewat berorientasi pada lelaki, mereka pasti tidak akan mencantumkan kesaksian wanita dalam masyarakat yang menolak mereka sebagai saksi legal, seperti yang dinyatakan oleh Josephus di atas.

Baca juga: “Wanita-wanita Paulus,” tulisan JM Blankenship yang menanggapi Mark McFall.

Judul asli: “Women in Biblical Times”

Sumber: http://www.frontline-apologetics.com c. 2007

Terjemahan: Bern Hidayat, 10 Desember 2009


[1] Sebaliknya, dalam Perjanjian Lama kita tidak hanya melihat Yoshua membacakan Torah pada “wanita-wanita Israel” (Yoshua 8:36), tetapi juga imam Ezra yang mengajar “wanita-wanita” (Neh. 8:2-3).

[2] Meskipun ada banyak kontroversi di seputar gender Junia/Junias. Daftar para exeget patristik yang memahami orang kedua yang disebutkan dalam Rom 16:7 itu sebagai isteri Andronicus adalah: Ambrosiaster (c. 339-97); Jerome (sek. 342-420); John Chrysostom (sek.347-407); Jerome; Theodoret dari Cyrrhus (sek.393-458); Ps.-Primasius (sek. abad ke-6); John Damascene (sek. 675-749); Haymo (d. 1244); Hatto (?); Oecumenius (sek. Abad ke-6); Lanfranc of Bec (sek.1005-89); Bruno the Carthusian (sek.1032-1101); Theophylact (sek. 11th cent.); Peter Abelard (1079-1142); and Peter Lombard (sek. 1100-1160). (Dikutip dari Schultz, n.2).

[3] Istilah apostolos rupanya bersifat cair dalam surat-surat Paulus, di mana kita mendapatkan dua macam rasul. Lihat: Elisabeth Schüssler Fiorenza, The Apostleship of Women in Early Christianity (http://www.womenpriests.org/classic/fiorenz2.htm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: