Ritual Kanibalisme Kristen

27/01/2010

Dari:  Octavius Minucius Felix

Dan sekarang, karena hal-hal jahat berkembang dengan sangat cepat, dan dari hari ke hari sopan-santun semakin ditinggalkan, kuil-kuil yang menjijikkan dari kumpulan orang-orang biadab itu semakin marak di seluruh penjuru dunia. Jelas kumpulan orang-orang itu harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Mereka saling mengenal satu sama lain dengan tanda-tanda dan isyarat-isyarat rahasia, dan mereka mencintai satu sama lain bahkan sebelum mereka saling mengenal; dan di mana pun mereka berkumpul, mereka berada di tengah-tengah agama hawa nafsu, dan, seperti pelanggar tabu-tabu,  mereka menyebut satu sama lain saudara dan saudari, sehingga bahkan dengan menyebutkan nama kudus itu rayuan yang biasa-biasa saja pasti mengarah ke incest: itu sebabnya kepercayaan klenik mereka yang tidak nalar itu malah memuliakan kejahatan-kejahatan.

Melaporkan hal-hal seperti ini tidak perlu diprakatai dengan permintaan maaf, kecuali kalau isi laporannya memang tidak benar. Aku mendengar bahwa mereka menyembah kepala seekor keledai, makluk yang paling hina itu, yang dikuduskan oleh kepercayaan tolol yang namanya apa aku tidak tahu, tapi jelas agama yang cocok lah untuk orang-orang yang kelakuannya serendah itu. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka menyembah kemaluan pemuka agama atau imam mereka, dan memuja alam, seakan-akan alam adalah orangtua mereka bersama. Aku tidak tahu itu kabar bohong atau bukan, tetapi kecurigaan memang wajar muncul karena upacara-upacara mereka dilakukan secara rahasia dan di waktu malam; dan orang yang bicara dalam upacara-upacara mereka menyebut-nyebut seorang lelaki yang dihukum dengan hukuman paling menyakitkan karena kejahatannya, dan menyebut-nyebut hukuman kayu salib, dan menyiapkan altar-altar untuk orang-orang jahat dan orang-orang yang minta ampun, jadi yang disembah dan yang menyembah memang sudah klop.

Cerita tentang inisiasi untuk anggota-anggota baru sudah dikenal luas dan sangat menjijikkan. Seorang bayi ditutupi rapat-rapat dengan makanan, supaya orang yang tidak waspada jadi mudah terpedaya, lalu diletakkan di hadapan anggota baru yang akan diupacarai. Bayi itu disembelih oleh si pemuda anggota baru itu, yang disuruh memukuli bagian permukaan makanan itu, yang akan mengakibatkan luka-luka rahasia dan gelap. Betul-betul menjijikkan—mereka menjilati darahnya, dan dengan penuh semangat mencabik-cabik kaki tangannya lalu membagi-bagikannya. Oleh korban itu mereka dipersatukan bersama-sama, dan karena sadar bahwa itu jahat maka mereka semua bersumpah untuk bersama-sama membisu.

From Minucius Felix, Octavius, R. E. Wallis, trans. in The Ante-Nicene Fathers
(Buffalo, N. Y.: The Christian Literature Publishing Co., 1887), Vol. 4, pp. 177-178.

Dugaan ritual kanibalisme seperti di atas barangkali didasarkan pada cerita-cerita yang salah-kaprah tentang ekaristi Kristen. Hyppolytus dari Roma bercerita pada kita apa yang sebenarnya terjadi dalam perjamuan Kristen. Doa ekaristik purba di bawah ini, yang sekarang masih digunakan di gereja-gereja tertentu, berasal dari awal abad ke-3.

Hippolytus. Tradisi Apostolik

Ketika seseorang dipilih menjadi uskup, semua memberinya ciuman perdamaian. . . . dan para diakon membawakan persembahan kepadanya. . . . . ia meletakkan tangan di atasnya bersama semua imam dan mengucap syukur, dengan mengatakan “Tuhan besertamu.” Dan semua menjawab, “Dan bersama rohmu.” “Angkatlah hatimu.” “Telah kami angkat hati kami kepada Tuhan.” “Marilah kita bersyukur kepada Tuhan.” “Sudah benar dan selayaknya.”

Dan ia pun melanjutkan, “Kami bersyukur kepadamu ya Tuhan, melalui anakmu tercinta Yesus Kristus, yang di saat-saat akhir ini telah kau kirimkan kepada kami sebagai penebus dan penyelamat dan pembawa pesan kehendakmu. Ia adalah sabdamu yang tak perpisahkan, melalui dia kau menciptakan semua, dan kepadanya kau berkenan. Kau kirim dia dari surga kedalam kandungan sang Perawan dan dalam kandungannya ia menjadi manusia, yang lahir dari Roh Kudus dan dari sang Perawan.  Dengan memenuhi kehendakmu dan menebus umat yang suci bagimu, ia merentangkan kedua tangannya ketika ia menderita sengsara, dan dengan sengsaranya ia membebaskan mereka yang percaya kepadamu. Ketika ia dikhianati dan menerima sengsara atas kehendaknya sendiri, untuk mengalahkan kematian, untuk meretas belenggu setan, untuk menginjak-injak neraka, untuk menerangi yang percaya, dan untuk menyatakan kebangkitannya, dengan mengambil roti dan mengucap syukur kepadamu, ia berkata: Ambil dan makanlah, inilah tubuhku yang akan dipecah-pecahkan untukmu. Dan dengan mengambil piala, ia berkata: Inilah darahku, yang akan ditumpahkan untukmu; ketika kau melakukan ini, lakukanlah itu untuk mengenangku.

Maka dari itu, dengan mengenang kematian dan kebangkitannya, kami persembahkan roti dan piala ini kepadamu, dengan mengucap sykur kepadamu karena kau telah mendapatkan kami pantas untuk berdiri di hadapanmu dan mengabdi kepadamu. Dan kami mohon kirimkanlah Roh Kudus atas persembahan gereja suci agar menyatu dengan semua umat yang menerimanya. . . . . agar kami bisa memuji dan memuliakanmu melalui puteramu Yesus Kristus. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dalam gerejamu yang kudus, sekarang dan sepanjang segala masa. Amen.”

Dari:  H. Achelis, Die Canones Hippolyti (Leipzig, 1881), pp. 48-55.

Sumber: halsall@murray.fordham.edu (Internet Ancient History Sourcebook).

Terjemahan: Bern Hidayat 30 November 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: