Potret Kota-kota Greko-Romawi

27/01/2010

Seperti apa hidup di Corinth, Thessalonica, Sepphoris, dan Caesarea Maritima?

Holland Lee Hendrix:

President of the Faculty, Union Theological Seminary

KOTA-KOTA PROVINSI ROMAWI

Mari kita main pura-pura:  Anda seorang pejabat Romawi dan anda baru saja tiba di Caesarea Maritima. Apa yang anda pikirkan?

Well, misalkan saja kita masuk ke sembarang ibukota provinsi Romawi yang maritim itu. . . . . anda akan melihat sesuatu yang tipikal pada banyak kota-kota Romawi, tetapi dengan skala yang sangat cantik dan sangat megah. Dan saya kira hal terpenting adalah bahwa anda melihat institusi-institusi tipikal dari kebudayaan Romawi. . . . . Anda akan melihat odeum Romawi, hippodrome Romawi, tempat di mana anda menyelenggarakan pacuan kuda. Anda akan melihat toko-toko yang menjual buku-buku dalam bahasa Latin dan barangkali juga Yunani di rak-raknya—perdagangan budaya membaca Romawi sangat marak—Orang akan melangkah memasuki sebuah tempat yang ditengarai dengan masyarakat dan kebudayaan Romawi, yang ditunjukkan oleh institusi-institusi yang mempunyai kekuatan ekonomi dan politik Romawi. . . .

Anda akan bertemu dengan bauran aneka macam orang dari berbagai ras, karena khususnya di kawasan Laut Tengah, di pinggiran kawasan lautnya, lalu-lintas populasi yang berjalan sangat besar, sehingga anda akan menemukan orang-orang yang bahkan berasal dari sub-kontinen, yang jelas dari Timur, anda akan menemukan orang-orang dari Yunani, dari Mesir, dari Barat bahkan sampai dari Gaul, dan mungkin juga dari Inggris.

Apa yang anda lihat ketika anda meninggalkan gerbang kota, batas kota, ketika anda masuk ke pedesaan?

Ketika anda meninggalkan kota Romawi, khususnya di ibukota provinsi, anda akan melihat gradasi-gradasi kehidupan kota, yang diekspresikan terutama lewat apa yang kita sebut suburbs dan ini masih terikat erat dengan kota. Dan kemudian ketika anda semakin jauh masuk ke pedalaman, perbedaannya akan menjadi makin lama makin tegas dan lugu, dan anda akan menghadapi dua hal yang terpisah jauh: di satu pihak kebudayaan pribumi dan masyarakat dari orang-orang yang sudah berabad-abad tinggal di sana, jika bukan malah ribuan tahun—di pihak lain, anda akan melihat terobosan-terobosan dari kekuatan ekonomi Romawi, dalam beberapa hal juga kekuatan politis Romawi. Misalnya, di semua provinsi ada estates dengan tanah luas yang berlokasi terutama di daerah-daerah pedesaan, jauh dari kota-kota. Dan estates itu bisa agak besar, dengan populasi seratus orang lebih. Dan itu pasti sudah meliputi, mungkin, sejumlah besar populasi budak, yang diwakili oleh sejumlah besar etnisitas dan nasionalitas yang berbeda-beda. Kontraskan itu dengan populasi-populasi pribumi yang terutama masih agraris atau terikat pada dukungan infrastruktur kota-kota, yang dalam beberapa kasus juga terikat pada estates besar tadi. . . . . Tetapi yang jelas anda akan menemukan, di daerah-daerah pedesaan, selain estates besar tadi, anda akan menemukan populasi subsisten, dan ini kontras tajam dengan pusat-pusat urban.

CORINTH

Corinth adalah sebuah kota yang pasti mentakjubkan karena dia menjadi contoh dari kota pantai maritim seperti yang kita dapatkan di Caesarea Maritima. Pertama, anda akan mendapatkan pelabuhan dan segala macam aktivitas yang berkaitan dengan pelabuhan . . . . . Anda akan mendekati kota itu dari sebuah jalan raya Romawi yang bagus. Dan ketika anda mendekat, anda akan pertama-tama menemukan sebuah sanctuary Asclepius yang sangat cantik—di jaman dulu anda pergi ke situ jika ingin penyakit anda disembuhkan—dan menurut aturan-aturan statutoris untuk Asclepius, sanctuary harus ditempatkan jauh dari kota, di mana anginnya semilir dan tempatnya jauh dari hingar-bingar kehidupan kota sehari-hari. . . . . Dan kemudian anda berjalan terus menuju kota dan masuk sepanjang jalan monumental yang dinamakan Jalan Lechaion, yang akan membawa anda ke pusat kota itu sendiri. Dan di sana akan ada kuil megah Apollo di Corinth, yang akan anda temukan di sisi kanan anda ketika anda memasuki kota. Mulai sekarang anda harus jalan kaki karena gerobak dilarang lewat sepanjang Jalan Lechaion, bahkan sekalipun anda melihat bekas-bekas roda gerobak di tanah di kanan-kiri jalan, dan itu menarik. Anda akan menemukan, di jaman Romawi, sejumlah kuil untuk dewa-dewa publik . . . . anda akan menemukan sebuah perpustakaan, anda akan menemukan banyak toko. . . . Dan anda juga akan menemukan, khususnya di jaman Romawi, pemandian-pemandian yang monumental dan megah. Pemandian adalah salah satu cara utama dengan mana orang-orang lokal bisa mengekspresikan sumbangan dan perbuatan-perbuatan baik mereka bagi kota, dan tentu saja pemandian-pemandian itu sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial dan ekonomis kota itu.

Di atas Corinth anda akan menemukan sebuah fenomena yang menarik—sanctuary Demeter. Di sanctuary Demeter kita mendapatkan contoh-contoh yang indah untuk ruangan-ruangan makan di mana anda bisa makan. Jika anda membayangkan bagaimana orang makan di jaman kuno, well, apa yang anda sendiri kerjakan pada Jum’at malam di jaman sekarang? Well, fasilitas-fasilitas makan di berbagai kuil itu praktis berfungsi sebagai restoran—jadi anda akan pergi ke kuil Demeter di Corinth dan bersantap di sana bersama dewi Demeter atau salah satu dewa-dewi sanctuary itu sebagai nyonya rumah atau tuan rumah, dan itu akan menjadi salah satu rekreasi utama anda di jaman kuno.

THESSALONICA

Berbeda dari beberapa situs lain yang tengah kita bicarakan, Thessalonica mempunyai sebuah kota modern di atasnya. Thessalonica modern.  Dan jika anda mendekati kota itu dari arah laut, di jaman Romawi, anda akan mendongak dari sisi pantai dan melihat sebuah kota yang menjulang seperti sebuah amphitheater yang menyembul dari laut, sekali lagi dengan acropolis yang diperkuat dengan benteng di puncaknya dan kemudian, di jaman Romawi, sebuah forum multi-teras yang mentakjubkan.

Forum di Thessalonica cukup khas karena mempunyai formasi multi-teras. . . . satu teras mempunyai sebuah odeum yang sangat cantik dan sebuah portico bertutup yang mengelilinginya. Sebuah teras lain kita tahu  dahulu  ada, tetapi kita tidak yakin betul apa yang ada di sana. Kemungkinan besar itu adalah tempat di mana patung-patung para kaisar dipajang secara mencolok. Dan kemudian ada teras ketiga. Jadi itu pasti dramatis sekali, saya rasa—dilihat dari kota, kota itu tampak menjulang tegak di atas pantai, dan lekuk-liku tanah tampak jelas di bawah. . . . . .

Anda juga akan menemukan kuil Dionysus. Dionysus adalah salah satu dewa utama Macedonia, di mana Thessalonica merupakan ibukota provinsinya. Dan juga sejumlah kepercayaan lain, terutama kepercayaan Artemis. Ada banyak bukti tentang Artemis di kota itu. Dan salah satu hal yang indah tentang Thessalonica adalah lokasi geografisnya dan bagaimana kota itu diselaraskan dengan lokasi itu. Dan anda akan menemukan kawasan-kawasan hunian yang pasti mentajubkan. Jadi sekali lagi Thessalonica merepresentasikan kota tipikal Romawi di jaman itu.

Eric Meyers:

Professor of Religion and Archaeology Duke University

CAESAREA MARITIMA

Demografik bagian timur kekaisaran Romawi benar-benar menjadi inti dari upaya memahami dengan benar setting Yesus dan Yudaisme abad pertama di Palestina. Yerusalem adalah kota dengan aneka macam kemegahan, sebagaimana kita ketahui dengan begitu baik dari sedemikian banyak sumber. Tetapi Caesarea adalah puncaknya kota bandar besar. Kota besar dengan demografi campuran, dengan populasi etnis campuran. Jauh sebelum jaman Romawi kota itu sudah menjadi bandar utama. Aktivitas-aktivitas Herodes di sana membuatnya menjadi sebuah exit besar dan pusat transfer, di mana barang-barang dan aneka macam perbekalan masuk dan barang-barang lain diperdagangkan dan dibawa keluar. Dan penampilannya megah. Dan tempat itu penuh dengan para pelaut, penuh dengan para serdadu. Penuh dengan orang-orang Romawi, sebab di situlah para procurator berdiam. Dan kota itu mempunyai komunitas Yahudi kelas atas yang beraneka ragam. Kita tahu bahwa populasi Yahudinya yang minoritas di jaman itu juga berjalan dan akhirnya berkembang menjadi salah satu pusat Yahudi yang signifikan di jaman kemudian. Tetapi karakter kota itu oriental, megah, cantik, indah, dermaga-dermaga raksasa terbuka lebar, kapal-kapal keluar masuk.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

CAESAREA MARITIMA

Caesarea Maritima adalah kota yang didirikan oleh Herodes Agung untuk dijadikan gerbang utama menuju Kekaisaran Romawi.  Itu dirancang secara serius dan njlimet untuk menjadi sebuah kota baru. Sebuah kota yang akan memberikan dia akses menuju jalur-jalur pelayaran dan ke perdagangan Kekaisaran Romawi. Dan karena itu, jika anda membayangkan . . . . Caesarea dan pelabuhan besar yang ia bangun, anda memandang sebuah tempat di mana ia menginginkan agar orang-orang melihat dunia terbuka lebar. . . . agar dunia luas mengenal kerajaannya. Jadi dia membangun pelabuhan itu juga demi kebesaran dirinya sendiri.

Herodes merancang kota itu sebagai sebuah pelabuhan baru, justru karena tidak ada pemecah gelombang alami, tidak ada pelabuhan alam di bentangan pantai itu. Dan karena itu, dia harus membangun pelabuhan buatan. Ia menggunakan insinyur-insinyur Romawi, yang didatangkan dari sana, dan mereka menciptakan pelabuhan itu, dengan mengambangkan bargas-bargas ke tengah laut dan menenggelamkan mereka dengan balok-balok raksasa seberat 30 ton dari batu atau beton cor untuk membangun bagian bawah permukaan. Kemudian, di atas pondasi itu, dia lalu menciptakan pelabuhan bagian dalam, jalur-jalur kapal, dan jaringan gudang—yang kemudian menjadi Caesarea Maritima. Di tengah kota—itu  adalah kota Romawi, lengkap dengan  kompleks pemerintahan, kuil-kuil untuk dewa-dewa Roma, yang menjadi personifikasi Roma itu sendiri, juga personifikasi Kaisar Augustus, patron Herodes.

Tadinya saya mengira Herodes adalah raja Yahudi. Apa tidak ada sinagoga di sana, tidak ada mausoleum?

Well, ada, kenyataannya, ada sinagoga-sinagoga di Caesarea. Kita akan mendengar tentang mereka nanti. Dan kadang-kadang, ada ketegangan-ketegangan akibat hal ini. Tapi itu adalah kota Romawi, itu dirancang dan dibangun sebagai kota Romawi. Sebuah rancangan jalan Romawi dengan presisi Romawi tingkat tinggi, dengan sebuah theater, dengan sebuah amphitheater, dengan semua renik-pernik kehidupan civic Romawi, dan juga banyak pengaruh Hellenistik.

SEPPHORIS

Eric Meyers

Sepphoris adalah sebuah kota yang sudah ada di jaman Hellenistik, abad pertama, kedua SEB. Tetapi itu baru benar-benar dikembangkan oleh anak Herodes, Antipas, yang pergi ke sana pada tahun 4 atau 3 SEB, setelah kematian bapaknya. Tetapi rentang aktivitas-aktivitas Antipas, sebagaimana digambarkan oleh siapa lagi kalau bukan Josephus, sejarawan era itu, adalah sangat carut-marut. Diperkirakan oleh banyak peneliti bahwa skema bangunan Antipas sangat mirip dengan punya bapaknya di Yerusalem. Tetapi setelah menggali selusin tahun di situs itu, sulit sekali memunculkan gambaran sebuah kota Romawi timur yang riil di jaman Yesus atau awal abad pertama di jaman Antipas. . . . . .

Theater yang oleh setiap orang dikira dibangun di jaman Yesus atau di jaman Antipas, pada hemat saya, dan saya kira begitu juga sekarang opini para arkeolog yang menggali di situs itu, itu baru dibangun di paruh kedua abad pertama, jika bukan awal abad kedua, EB. . . . Kita mendapatkan villa-villa kelas atas yang mentakjubkan di mana orang-orang Yahudi dan imam-imam tinggal, beberapa di antara mereka mempunyai hubungan sangat dekat dengan Yerusalem. Dan kita mendapatkan serangkaian pemandian-pemandian ritual abad pertama, yang digunakan untuk kungkum (mandi berendam), untuk melaksanakan perintah Levitikal sebagaimana ditemukan dalam Injil Hibrani, untuk menghormati perintah penyucian ritual, penyucian badani. . . . .

Jadi Antipas mempercantik kota itu, tetapi itu belum menjadi kota besar Romawi Timur. Saya yakin betul tentang hal ini. Itu terwujud di masa kemudian, ketika theater itu dibangun dan ketika legiun-legiun dan serdadu-serdadu Romawi datang dan memantapkan kehadiran mereka dengan galak di awal abad kedua. Ada satu petunjuk lagi yang bercerita banyak pada kita tentang karakter Sepphoris abad pertama. Dan yang mengherankan, itu datang dari tulang-tulang yang kami temukan di rumah-rumah itu dan di villa-villa itu. Di Sepphoris di awal periode Romawi kami praktis tidak menemukan tulang-tulang babi. Sesekali kami menemukan sepotong tulang aneh-aneh di sana-sini, tetapi praktis tidak ada tulang babi. Ketika kami naik ke abad-abad lain, bahkan abad kedua, kami menemukan peningkatan yang signifikan, antara 8 sampai 10 persen dari tulang-tulang yang ditemukan adalah tulang babi, dan tidak diragukan lagi hal itu berkaitan dengan kehadiran pasukan Romawi.  Dan memasuki abad keempat ketika ada orang-orang Kristen di sana, kami menemukan 18 sampai 20 persen tulang babi. . . . .

Saya kira awal-mula kebudayaan Yahudi di Sepphoris, sebagaimana bisa kita rekonstruksikan sekarang dari arkeologi di abad pertama, bisa dikarakterisasikan sebagai upscale—kelas atas—yang hidup sama persis dengan beberapa orang Yahudi dari Yerusalem hidup pada masa yang sama di kawasan Yahudi. Kami menemukan kamar-kamar yang dihias dengan fresco-fersco. Kami menemukan rumah-rumah, masing-masing dengan pemandian ritual privat. Itu extravaganza, mengingat dari mana air harus didatangkan dan teknik yang harus digunakan untuk mendapatkan air murni yang dicampur dengan air mandek. Tetapi itu budaya mainstream. Saya rasa mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Itu bukan komunitas yang asimilatif. Gambaran yang kami dapatkan adalah komunitas yang mencerminkan mainstream, tetapi di tataran yang tertinggi. Itu adalah kota kelas atas yang sedang dalam tahap akan mapan. Belum menjadi  kota besar kawasan timur, tapi jelas sudah menjadi kota yang lahir di jaman Antipas.

MONA LISA DARI GALILEI

Salah satu dari temuan-temuan yang lebih menggairahkan yang kami capai di Sepphoris adalah sebuah villa Romawi megah dengan mosaik sangat, sangat indah di lantai di bangsal pesta. Dan villa itu, yang kami sebut Villa Dionysus karena begitu banyak adegan di sana berkaitan dengan legenda dan mitologi dewa Dionysus, mempunyai, di dua sisi bangsa pesta tadi, satu mosaik wanita yang sangat menarik dan satu lagi mosaik wanita yang kurang begitu menarik. Lady yang tidak begitu menarik itu tidak dilukiskan sebagus wanita yang sangat menarik, tetapi dia juga rusak parah akibat gempa bumi besar yang menghancurkan Sepphoris pada tahun 363. Tetapi wanita di sisi seberang dijuluki “Mona Lisa” oleh pers ketika kami menemukannya, sebab dia adalah lukisan batu yang benar-benar luar biasa dari seorang wanita cantik jaman Romawi. Dia mungkin salah satu dari keempat musim.  Tetapi kita mempunyai perasaan bahwa di balik wajah itu ada seorang wanita sejati dan sosok sejati. Karena kelihaian seniman yang melukiskannya dengan batu begitu cermat, begitu halus, dan sangat mirip lukisan. Dan karena itu dia telah menjadi sinonim dengan situs itu, sekalipun dia berasal dari abad ke-3, titik puncak Hellenisasi di situs itu. Sekarang dia sudah sinonim dengan Romanisasi situs itu dan Hellenisasi . . . . .

Penemuan adegan-adegan dari mitologi Dionysus di lantai sebuah bangsal pertemuan di sebuah kota Yahudi jelas menyentak kepala setiap orang. Dan membuat kami untuk pertama kalinya berpikir bahwa ada sikap yang jauh lebih liberal terhadap perintah kedua yang melarang imaji-imaji piktorial dalam Yudaisme, dan bahwa orang-orang Yahudi jauh lebih fleksibel dalam kaitan dengan image making dan presentasi serta aktivitas artistik, justru di jaman ketika Mishna, kumpulan hukum Yahudi pertama yang dibukukan di Palestina di abad ketiga, ditulis bersamaan waktu dengan karya seni besar ini.

Judul asli: “Portraits of Greco-Roman Cities”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 5 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: