Pilatus, Politik Roma, dan Politik Evangelis

27/01/2010

Ketika Yesus sibuk mempermasalahkan pengelolaan aneka hal di Bait Allah, tanpa dia sadari kejadian-kejadian di Roma telah mengubah lanskap politis di seputar dirinya.


oleh Bruce Chilton

Bernard Iddings Bell Professor of Religion
Bard College
Februari 2005

Kontroversi di seputar kematian Yesus dan tanggungjawab atas eksekusinya tidak henti-hentinya bermunculan setiap musim semi, dipicu oleh kalender ibadah Kristen yang mengenang kembali Sengsara Yesus di akhir masa Paskah. Isu tentang tanggungjawab orang Yahudi—yang kadang-kadang dinyatakan sebagai kesalahan sebuah bangsa—muncul sebagai salah satu poin utama. Tetapi di abad pertama, Roma memegang otoritas tunggal untuk melaksanakan eksekusi. Dengan mengetengahkan perspektif Pontius Pilatus, kita bisa dengan lebih baik mengevaluasi presentasi Injil, dan membantah salah satu hal yang sering memicu anti-Semitisme di masyarakat Kristen Barat.

*

Pilatus menghadapi sebuah situasi yang pelik di dua front sekaligus pada musim gugur tahun 31 EB (Era Bersama, pengganti Masehi).

Masalah yang pertama adalah hal yang pada awal mulanya adalah masalah rutin. Seorang rabbi bernama Yesus telah berselisih dengan imam agung Caiaphas menyangkut pengaturan-pengaturan perdagangan di dalam kompleks Bait Allah. Mengingat betapa seringnya Josephus mengacu pada kekacauan-kekacauan akibat ulah orang-orang Galilei di Bait Allah di abad pertama,  satu insiden lagi mustinya bukanlah hal yang istimewa bagi Pilatus.

Tetapi kekacauan yang dipicu oleh Yesus telah untuk sementara menghentikan pelaksanaan ibadah korban di Bait Allah (Markus 11:15-17) [1] dan gangguan seperti itu mempunyai pengaruh langsung pada kepentingan-kepentingan Roma. Bagi orang-orang Romawi, salah satu simbol utama dari kekuasaan mereka atas orang-orang Yahudi adalah bahwa imam agung bisa setiap hari menerima persembahan-persembahan atas otoritas Kaisar, dan dengan demikian akan menjadi perantara Tuhan demi kesejahteraan Kaisar, dan kesejahteraan hegemoni Romawi. Fakta bahwa banyak orang menentang upaya Caiaphas untuk memusatkan kekuasaan di tangannya sendiri—sebagaimana ditunjukkan oleh sumber-sumber Rabbinik—tidak mempengaruhi Pilatus secara langsung. Tetapi fakta bahwa satu orang pergi memasuki alun-alun besar Bait Allah sambil membawa satu pasukan—yang mungkin antara 150 sampai 200 orang—untuk mengusir para pedagang, menyingkirkan hewan-hewan kurban, dan menjebol kandang-kandang burung, hal itu jelas memberikan efek langsung.

Sementara Yesus bertikai di Bait Allah Yerusalem, tanpa ia sadari situasi di Roma telah mengubah lanskap politis di seputar dirinya. Tiberius mengirimkan sepucuk surat dari Capri, dengan perintah agar dibacakan di depan Senat dengan dihadiri oleh Sejanus, orang-kuat Roma [2] Sejanus telah melangkah terlalu jauh. Regent yang sangat berkuasa itu, Prefect yang memegang komando atas 9000 serdadu Praetorian Guard, telah menjadi target dari pesan-pesan ambivalen sang Kaisar sendiri. Menulis dari Villa Jupiter di pulau Capri kepada Senat, Tiberius menyeimbangkan kritik-kritik pedas terhadap kebijaksanaan Sejanus yang merampas kekuasaan yudisial dari orang-orang yang mengritiknya di Roma, dengan sanjungan-sanjungan tentang pribadi Sejanus. Berkembanglah spekulasi di Roma bahwa riwayat Sejanus tamat sudah.

Setiap keprihatinan yang mungkin pernah dirasakan sendiri oleh Sejanus ditenggelamkan oleh gosip-gosip mutakhir yang ia dengar bahwa Tiberius berniat mempromosikan dia, dengan menjadikannya pemegang komando tertinggi kedua setelah Kaisar sendiri di seantero Kekaisaran. Senat  bersidang pada 18 Oktober di kuil Apollo di bukit Palatine, dan mendengarkan pembacaan surat Tiberius yang bertele-tele dan tanpa arah jelas, yang sudah menjadi ciri khasnya. Tetapi pesan surat itu menjadi semakin tajam dalam kritiknya terhadap Sejanus, dan akhirnya menuduh Sejanus melakukan pengkhianatan.

Usai pembacaan surat kekaisaran itu, Vigiles (polisi lokal) mengikat Sejanus dan menyeretnya ke penjara bawah tanah Mamertine. Massa telah berkumpul di jalanan dan mereka berteriak-teriak melontarkan kebencian sementara Sejanus diseret sambil ditendangi melewati mereka. Tiberius telah melemparkan seekor kambing hitam ke arah massa—orang yang harus diserang untuk melampiaskan segala ketidak-puasan dan kekerasan hidup yang selama ini mereka rasakan. Massa berlarian liar kesana kemari sambil menghancurkan patung-patung Sejanus yang dulu ia dirikan sendiri, dan pasukan penjaga ketertiban di Roma tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan mereka. Di selnya Sejanus mungkin mengharapkan hukuman pengasingan, ketimbang hukuman mati, tetapi Senat ternyata bertindak dengan cepat, sebelum Sejanus menyusun gagasan cemerlang apapun tentang apa yang harus ia lakukan dengan 9000 serdadu kawakan Praetorian Guard yang berada di bawah komandonya.

Menjelang matahari tenggelam, Senat telah memerintahkan agar Sejanus dijerat, yang bahkan untuk Roma merupakan bentuk eksekusi yang dianggap menjijikkan. Algojo mengalungkan seuntai tali kulit ke leher Sejanus, menyilangkan kedua ujungnya, menyentakkannya, dan menghancurkan tenggorokan si korban. Para serdadu menyeret mayat itu ke jalanan. Massa yang sudah menunggu menerkamnya beramai-ramai dan mencabik-cabiknya.

Pilatus pasti mengetahui kejadian-kejadian itu dari para pedagang dan pejabat Romawi yang baru saja tiba dari Roma sendiri. Penahanan seorang pejabat tinggi negara atas tuduhan pengkhianatan cukup untuk memunculkan ketakutan di hati setiap orang. Tetapi cerita yang menakutkan itu ternyata tidak berhenti sampai di situ. Paman dan anak lelaki Sejanus juga dibunuh, begitu juga teman-teman dan para kolaboratornya. Isterinya yang sudah dicerai, Apicata, melakukan bunuh diri. Bahkan dua orang anaknya yang masih kecil-kecil dieksekusi, anak gadisnya diperkosa beramai-ramai oleh para serdadu sebelum dibunuh. Livilla, tunangan Sejanus, juga tidak diampuni, meskipun ia merupakan salah satu anggota kerabat kaisar sendiri. Ibunya sendiri, untuk menunjukkan kesetiaan pada sang Kaisar, membiarkan anak perempuannya kelaparan sampai mati. Kemauan-kemauan sang Kaisar benar-benar semena-mena, selaras dengan kekuasaannya yang tidak mengenal batas; ia adalah “Divi filius,” Anak Tuhan.  Sebuah pepatah Yahudi terkenal (lihat Mateus 26:52 dan Isaiah Targum 50:11) mengatakan bahwa orang yang hidup dengan pedang juga akan mati dengan pedang. Itu berlaku khususnya untuk orang-orang yang mengabdi pada Kaisar.

Pilatus tahu bahwa Senat akan kelabakan dalam usahanya untuk mengisi kekosongan akibat dilenyapkannya Sejanus. Dulu mereka meratapi pengaruh mereka yang lenyap ketika Republik oligarkis yang mereka perintah berubah menjadi sebuah kekaisaran pada tahun 31 SEB, akibat fakta brutal konsentrasi kekuatan militer di tangan Kaisar. Tidak diragukan lagi sekarang Senat akan berusaha membalikkan kebijaksanaan-kebijaksanaan Sejanus dan memperkenalkan pendekatan yang lebih halus dan lunak terhadap kebijaksanaan Kekaisaran. Pilatus terkenal sebagai salah seorang anggota garis keras dalam mengurusi orang-orang Yahudi, dan ia ketakutan. Keterkaitan dengan Sejanus dan kebijaksanaan-kebijaksanaannya bisa membuatnya bukan cuma kehilangan kedudukan, tetapi juga nyawa.

Sementara ia merenungkan kematian Sejanus, tak pelak lagi Pilatus pasti teringat pada Caiaphas. Sekarang hubungan yang kuat dengan imam agung itu menjadi wajib, suka atau tidak suka. Caiaphas pasti sudah menyadari hal itu, dan ia mendesak Pilatus dalam masalah penahanan Yesus. Semula Rabbi Yesus tertangkap dalam radar sang prefect [3] hanya sebagai orang gila yang menjengkelkan tetapi tidak berbahaya. Sekarang Pilatus ingin menyenang-nyenangkan Caiaphas dan menunjukkan pada Roma bahwa ia mengendalikan Yudea tanpa secara sengaja menimbulkan permusuhan di kalangan para pemimpin lokal sebagaimana biasa ia lakukan di masa lalu. Teror dan pelecehan masih tetap merupakan taktik Pilatus, tetapi ia harus belajar menemukan sasaran yang tepat.

Pilatus tidak mempunyai pilihan selain bersekutu dengan Caiaphas. Dengan meninjau kembali dan menyesuaikan persekutuan yang sangat vital dan penting itu, Pilatus membuktikan dirinya seorang politikus yang berpengalaman. Ia menunggu waktu. Ia tidak akan membiarkan dirinya tampak lemah dalam pandangan orang-orang yang ia perintah. Bagaimana pun juga, kota itu tengah bersiap-siap untuk menyambut musim  dingin; sang prefect tidak akan bertindak jika tidak betul-betul perlu, dan itupun hanya jika tindakan itu benar-benar menguntungkan dia.

Seakan-akan Yesus tidak cukup menghadapi bahaya besar dari sang prefect maupun imam agung, seteru bebuyutannya, Antipas, Tetrarch Galilei dan Perea itu, juga dengan cermat mengikuti perkembangan di Roma dan menguatnya aliansi antara Pilatus dengan Caiaphas. Bagaimanapun juga, orang-orang yang dibunuh di Yerusalem selama huruhara tahun 30 EB itu adalah warga Galilei rakyat Antipas (lihat Josephus, Jewish War 2 §§ 175-177; Antiquities 18 §§ 60-62 dan Lukas 13:1-3); Antipas merasa bahwa Pilatus mempunyai hutang padanya setelah tindakan kejam sang prefect itu, dan ini adalah saat yang tepat untuk menyodokkan klaim itu. Yang lebih penting lagi, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya memegang komando atas wilayahnya sendiri dan bersikap kooperatif dengan agen-agen Roma yang lain serta para pemimpin agama lokal dalam situasi dan kondisi yang tidak menentu setelah eksekusi Sejanus itu. Bisakah dia memanfaatkan koleganya yang orang Roma itu beserta sang imam agung untuk melenyapkan Yesus dan memantapkan posisinya sendiri? Kecuali jika Antipas, Caiaphas, dan Pilatus bersama-sama menunjukkan bahwa mereka mampu secara efektif memerintah rakyat Yahudi mereka, maka masing-masing dari ketiga orang itu berada dalam bahaya kehilangan gelar, jabatan, dan kekuasaan mereka.

Nuansa-nuansa dari kepentingan bersama yang baru antara imam agung, prefect Yudea, dan tetrarch Galilei serta Perea itu mungkin tak terpikirkan oleh Yesus, begitu pula kompleksitas-kompleksitas kekuasaan yang baru saja berubah di Roma. Secara politis Yesus sekarang berada dalam posisi sangat rawan. Sebagaimana pernah dikomentari oleh salah seorang mahasiswa saya, tindakan Yesus di Bait Allah itu terfokus pada isu persembahan korban, tetapi apa yang ia lakukan ternyata mengawali sebuah badai oposisi politis dahsyat dari Tiberius di Roma, Antipas di Galilei, dan Pilatus serta Caiaphas di Yerusalem. Interpretasi-interpretasi mutakhir juga naif ketika memperlakukan eksekusi Yesus seakan-akan hal itu disebabkan oleh penentangan orang-orang Yahudi terhadap ajaran Yesus.

*

Titik tolak terbaik untuk memahami persepsi para ahli masa kini mengenai eksekusi Yesus adalah tulisan monumental Raymond Brown, yang nyaris secara komprehensif mengevaluasi kisah sengsara Yesus. [4] Brown bergerak dari perikop ke perikop, menganalisa isu-isu eksegetis maupun historis di bagian-bagian tertentu  dalam konteks literatur sekunder. Ia dengan tepat menggambarkan kejadian-kejadian sebagai terpusat pada konfrontasi Yesus di Bait Allah, yang ia pandang sebagai “aksi profetik dramatik menentang aneka ketidak-beresan di Bait Allah.” [5]

Di tingkat rekonstruksi historis (lebih menonjol di sini daripada di tempat lain manapun dalam bukunya), Brown berpendapat bahwa Sanhedrin bersidang untuk membahas masalah Yesus sebelum penahanannya, persis sebagaimana diisyaratkan oleh Injil Yohanes (11:47-53). Kemudian si pesakitan dibawa ke hadapan Caiaphas sebelum diserahkan kepada Pilatus. Seluruh skenario dikembangkan dalam kerangka diskusi Brown yang cermat mengenai realita-relita politis di Yerusalem pada masa itu [6] Ia sadar betul akan keberatan-keberatan terhadap histiorisitas kisah tentang pengadilan Yesus: “Konflik-konflik antara cerita-cerita Injil dengan prosedur rabbinik dari masa yang lebih belakangan. . . . . kadang-kadang diperkirakan mencapai 27 butir.” [7] Ia sadar bahwa “Sanhedrin” [versi Injil] tidak seperti yang digambarkan dalam Mishnah, bahwa lembaga itu tidak mempunyai kewenangan untuk menjatuhkan hukuman mati, bahwa lembaga itu tidak mungkin bersidang di malam hari, apalagi di masa Paskah. Dalam interpretasi Brown, injil-injil lebih mencerminkan “interogasi” [8] terhadap Yesus ketimbang suatu pengadilan—interogasi di hadapan dua otoritas yang berkompeten, yaitu dewan tetua dan Imam Agung.

Brown sendiri merangkum skemanya sebagai berikut: [9]

  • sebuah sesi persidangan Sanhedrin diselenggarakan untuk membahas masalah Yesus
  • salah satu isu dalam persidangan itu adalah ancaman yang dihadapkan Yesus terhadap Bait Allah
  • orang yang mendorong orang-orang lain untuk memutuskan kematian Yesus adalah Imam Agung
  • ada suatu pertimbangan yang setara dengan penjatuhan hukuman mati
  • ada penyelidikan imam agung terhadap Yesus pada malam ia ditahan.

Singkat kata, dari kisah injil-injil, Brown mengabstraksikan materi yang ia yakini historis, sambil mengakui bahwa keseluruhan kisah itu disusun untuk tujuan-tujuan dramatis. Kalimat penyimpul Brown bisa membantu untuk mengevaluasi keseluruhan analisanya:

Kejelasan dan greget dari presentasi pengadilan yang dipadukan itu telah menggerakkan hati dan diingat-ingat oleh ratusan juta orang; kejanggalan-kejanggalannya telah menggelisahkan segelintir peneliti yang menempatkan naratif itu di bawah mikroskop penyelidikan. [10]

Dalam menulis buku itu, Brown membuktikan bahwa ia termasuk salah satu di antara segelintir peneliti yang gelisah tadi, tetapi ia juga menulis dengan perasaan tanggung-jawab atas alur kepercayaan yang dihadirkan dalam injil-injil. Loyalitas yang mendua itu memunculkan sesuatu inkonsistensi.

Analisa Brown dengan bijaksana memberikan bobot jauh lebih besar pada masalah Bait Allah itu sendiri ketimbang yang selama ini secara konvensional dilakukan oleh para penulis lain. Ia memberikan komentar panjang-lebar mengenai masalah umum itu, [11] tetapi secara keseluruhan tujuannya adalah memperkirakan apakah Yesus memberikan sesuatu pernyataan yang bertentangan dengan Bait Allah (sebagaimana dalam Markus 14:58). Ia menyimpulkan bahwa Yesus pasti telah melontarkan pernyataan seperti itu, tetapi bentuk kepedulian Brown mengakibatkan kurangnya fokus pada apa yang Yesus lakukan. Ramalan-ramalan yang menggugat Bait Allah sudah menjadi tradisional sejak jaman Jeremiah, dan bahkan di bawah situasi dan kondisi kacau balau di masa kemudian (empat tahun sebelum perang melawan Roma), Yesus anak Ananias dihukum cambuk karena ramalan yang ia lontarkan, bukan dieksekusi (lihat Josephus,  Jewish War 6.5.3 § 300-309). Yesus dari Nazareth rupanya menyodorkan ancaman yang lebih tajam, baik bagi para pejabat agama maupun bagi Pilatus, yang kepentingan utamanya adalah ketertiban umum.

Anehnya, Brown tidak menyinggung-nyinggung tulisan-tulisan Victor Eppstein, [12] atau Benjamin Mazar, [13] atau tulisan saya sendiri, [14] atau Craig Evans. [15] Semua kontribusi itu membahas tata pengelolaan Bait Allah yang diinovasi oleh Caiaphas, dan yang mengakibatkan pendudukan oleh Yesus. Brown mengacu pada beberapa bagian Talmud yang relevan ( (Bavli Sanhedrin. 41a; Shabbat 15a; Abodah Zarah 8b), tetapi tidak dalam hubungan dengan masalah semakin membesarnya kekuasaan Caiaphas. Ia tidak mengacu pada bukti tentang tindakan-tindakan kaum Farisi yang terkait dengan Yesus (lihat Bavli Besa 20a-b dan Mishnah Keritot 1:7), ataupun pada tradisi kebobrokan pengelolaan Bait Allah 40 tahun sebelum Bait Allah dihancurkan (Bavli Yoma 39b):

Empat puluh tahun sebelum penghancuran Bait Allah, segala sesuatu berantakan, cemeti merah itu tidak pernah berubah menjadi putih, dan lampu barat tidak mau menyala, dan gerbang-gerbang Bait Allah terbuka sendiri . . . . .

Dalam sebuah komentar yang berjangkauan nyaris komprehensif, adalah mengherankan jika hal-hal seperti ini luput dari perhatian.

Karena Brown tidak mengembangkan pemahaman yang memadai mengenai isu yang mempertentangkan Pilatus dengan Yesus, ia hanya mengandalkan argumen bahwa bentuk “penghojatan” Yesus adalah bahwa ia bicara dengan otoritas dan pada saat yang tidak tepat [16] Di sini Brown menunjukkan kecenderungan para peneliti soleh yang dominan sejak tahun-tahun 50’an. [17] Meskipun Brown menyatakan bahwa Yesus tidak mengajukan klaim-klaim messianik, [18] masalah identitas Yesus menenggelamkan masalah Bait Allah, meskipun Brown telah menunjukkan bahwa Bait Allah merupakan puncak dari kejadian-kejadian historis. Itu adalah contoh dari kemenangan apologetik Kristen atas nalar historis yang sehat. Tidak seorang pun bisa membaca episode-episode Talmudik tentang tindakan-tindakan rabbinik di Bait Allah, termasuk menggiring hewan-hewan korban ke tempat seharusnya dan mengubah peraturan=-peraturan pengorbanan untuk mengendalikan harga-harga persembahan, dan menyimpulkan bahwa pengaturan-pengaturan kultis di situ benar-benar kacau-balau, atau bahwa mengklaim otoritas untuk diri sendiri merupakan pelanggaran terbesar di tempat seperti itu. Bukannya menelusuri mengapa Yesus terkesan lebih membahayakan bagi para pejabat agama ketimbang orang-orang lain yang sejaman dengannya, Brown kembali kepada gambaran tentang “otoritas” Yesus yang membuat Sanhedrin memusuhi dia dan Caiaphas menjatuhkan keputusan final karena jengkel pada sesuatu pernyataan yang Yesus lontarkan di Bait Allah. Asumsi implisit bahwa ucapan yang tidak pada tempatnya akan secara otomatis mengakibatkan eksekusi adalah tidak nalar.

Ketidaknalaran yang sama ada pada klaim bahwa Yesus dijatuhi hukuman mati karena menyatakan diri messiah atau membiarkan orang lain melontarkan pernyataan itu atas nama dia. Distorsi Brown diperluas ketika para ahli menyatakan bahwa klaim messianik Yesus memprovokasi kematiannya di tangan Pilatus. [19] Brown barangkali tidak akan sependapat dengan orang-orang yang memperluas tulisannya dengan cara seperti itu.[20] Penggambaran masalah messianik itu mencerminkan perspektif orang-orang yang menceritakan kisahnya, dan bukan perspektif Yesus, Caiaphas, atau Pilatus.

*

Tetapi perspektif Kristen purba itu sama pentingnya untuk mengapresiasi perspektif Yesus, jika kita ingin memahami Injil-injil (yang semuanya ditulis sesudah tahun 70 EB). Orang-orang Kristen, sebagai partisan Kristus, menyatakan bahwa Yesus adalah Putera Allah, dan karena itu mereka menolak klaim Caesar sebagai Divi filius. Hal itulah yang mengakibatkan penganiayaan dan pogrom di tangan orang-orang Romawi sejak kebakaran kota Roma pada tahun 64 EB sampai edict Milan hasil keputusan Constantine. Selama periode yang panjang itu, yang bisa orang-orang Kristen harapkan paling banter adalah bahwa Roma akan memberlakukan kebijaksanaan “don’t ask, don’t tell.” Dalam korespondensi antara Pliny Muda dengan kaisar Trajan di abad kedua, persis itulah yang mereka dapatkan, dan Tertullian  dengan gembira menyambut preseden itu. [21]

Injil-injil dirancang antara lain untuk mendorong kebijaksanaan itu.  Anda bisa melihat hal itu dalam penambahan-penambahan unik dari masing-masing Injil untuk melepaskan Pilatus dari jeratan tanggung-jawab politis yang seharusnya ia emban sendirian. Dalam Injil Yohanes, Yesus mengatakan pada Pilatus, “Kerajaanku bukan dari dunia ini” (18:36). Meskipun tukar-pikiran mengenai teori politik itu mustahil terjadi, setidak-tidaknya hal itu disajikan dalam bahasa Yunani, bukan Latin (sebagaimana dalam “The Passion of the Christ” yang dibintangi oleh Mel Gibson). Di antara Injil-injil, hanya Lukas yang menegaskan pembebasan itu pada saat kematian Yesus (Lukas 23:47-48):

Centurion yang berdiri di sebelahnya menyaksikan apa yang terjadi dan memuliakan Tuhan, mengatakan, Sungguh orang ini tidak bersalah.  Dan semua orang yang melihat itu, dan mengamati apa yang telah terjadi, pulang sambil menebah dada mereka.

Markus adalah satu-satunya yang mengisahkan seorang Pilatus yang “terheran-heran mendengar bahwa Yesus telah meninggal” (15:44), seolah-olah ia tidak tahu bahwa sebelum disalib Yesus pasti sudah digebuki. Injil Mateus adalah yang paling kreatif, dengan mengedarkan legenda tentang isteri Pilatus (27:19), meskipun para prefect setingkat Pilatus tidak diberi kewenangan untuk membawa isteri mereka di tempat kerja. Bagaimanapun juga, Pilatus dan rombongannya berdiam di Caesaria, bukan Yerusalem. Mateus peka pada fakta itu (sementara Mel Gibson tidak), sehingga ia membuat sang isteri “mengirim” sebuah pesan kepada Pilatus.

Dengan embel-embel dan legenda-legenda itu, orang-orang Kristen purba mendukung kebijaksanaan “don’t ask, don’t tell” Romawi  dan berusaha sedapat mungkin mengalihkan kesalahan penyaliban Yesus dari tanggungjawab orang-orang Romawi. Dengan melakukan hal itu, mereka praktis mengulang-ulang sebuah versi dari apa yang dikatakan oleh Paulus, Silvanus dan Timotius dalam 1 Thessalonica. Para penulis itu dengan gencar menandaskan bahwa guru-guru Farisi dari Yudea yang telah berusaha mencegah kontak dengan orang-orang Gentiles merupakan kendala bagi pengajaran mereka (2:14): “Sebab kamu, saudara-saudara, adalah sama dengan jemaat-jemaat Tuhan yang di Yudea dalam Yesus Kristus, sebab mereka juga menderita hal-hal yang sama dari orang-orang sesama mereka sendiri selain dari orang-orang Yahudi.”

Hal ini merujuk kembali pada perselisihan tajam di Yerusalem di antara orang-orang Yahudi pengikut Yesus. Paulus, Silas, dan Timotius menggunakan kata “Yahudi” (Ioudaioi dalam bahasa Yunani) untuk mengacu pada orang-orang yang tinggal di Yudea yang “melarang kami berbicara pada orang-orang Gentiles” (2:16). Yang ada dalam benak mereka adalah beberapa murid Yesus, guru-guru seperti orang-orang Farisi yang percaya pada ajaran Yesus tetapi bersikeras bahwa sunat adalah salah satu syarat untuk mendapatkan keselamatan (Kisah 15:5). [22] Tetapi pada saat yang sama istilah itu  juga digunakan selama abad pertama (dan tentu saja di masa kemudian) untuk mengacu pada penganut Yudaisme di manapun juga, dan itulah arti kata “Yahudi” yang digunakan secara umum. Garis keturunan dari 1 Thessalonika 2:16 adalah massa gaya Wagnerian dalam Mateus 27:25 yang menyatakan, “Tanggungkan darahnya pada kami dan anak-anak kami.”

Jadi tiga serangkai itu, yang menulis kepada orang-orang Thessalonica dan membahas masalah-masalah lokal serta sejarah mutakhir, [23] berbicara dengan cara yang mendorong munculnya anti-Semitisme. Andaikata Paulus, Silas, dan Timotius tahu bahwa apa yang mereka tulis di masa kemudian akan berkembang menjadi kitab yang disebut Perjanjian Baru, dan bagaimana kata-kata mereka akan digunakan untuk membenarkan penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi, mereka pasti akan bicara dengan cara lain. Begitu pula para penulis Injil. Begitu pula kita—mustinya.

Skip to: Site Menu | Main content

NOTES

[1] Untuk banyak referensi lain ke Injil-injil, Rabbinica, dan literatur sekunder yang relevan di sini, bersama-sama dengan kronologi, lihat Rabbi Jesus. An Intimate Biography (New York: Doubleday, 2000). Esei yang sekarang disajikan ini aslinya disiapkan untuk sebuah simposium yang berjudul “Jesus’ Death and Anti-Semitism” di the House of the Redeemer di Manhattan, yang disponsori oleh Auburn Theological Seminary, the Ecumenical and Interfaith Commission of the Episcopal Diocese of New York, dan the Institute of Advanced Theology at Bard College. Mitra utama saya dalam simposium itu, Professor Jacob Neusner, telah menerbitkan temuan-temuannya dengan judul “Good Friday and Easter Sunday. Reading the Passion Narratives in the Context of the Mishnah’s Rabbinic Theology, or: How, in the Mishnah, the Death Penalty is Merciful” New Blackfriars 85 (2004) 239-246.

[2] Sejarah Sejanus yang bernasib malang itu didiskusikan dalam sejarah-sejarah kuno tulisan Dio Cassius, Suetonius, dan Tacitus, didukung oleh sumber-sumber lain; lihat Barbara Levick, Tiberius the Politician: Aspects of Greek and Roman Life (London: Thames and Hudson, 1976); Charles Merivale, History of the Romans under the Empire 5 (London: Longmans, Green, and Co., 1903); Robin Seager, Tiberius (Berkeley: University of California Press, 1972); David Shotter, Tiberius Caesar: Aspects of Greek and Roman Life (London: Thames and Hudson, 1976); Charles Merivale, History of the Romans under the Empire 5 (London: Longmans, Green, and Co., 1903); Robin Seager, Tiberius (Berkeley: University of California Press, 1972); David Shotter, Tiberius Caesar: Lancaster Pamphlets (London and New York: Routledge, 1992). Untuk relevansi khusus bagi Yesus dari naik-turunnya Sejanus ke tampuk kekuasaan, lihat juga Harold W. Hoehner, Herod Antipas. A Contemporary of Jesus Christ (Grand Rapids: Zondervan, 1980). David Kennedy dan Martin Goodman menyajikan sebuah pandangan panoramik mengenai situasi politis yang harus dihadapi oleh Caiaphas, Jesus, dan Pilatus dalam artikel-artikel mereka mengenai Syria dan Yudea dalam The Cambridge Ancient History X (Cambridge: Cambridge University Press, 1996). 703-736, 737-781.

[3] Ini adalah gelar Pilatus pada waktu itu, “procurator” adalah gelar Pilatus di masa kemudian.

[4] R. E. Brown, The Death of the Messiah: From Gethsemane to the Grave (2 vols., ABRL 7; New York: Doubleday, 1994). Pada 1974, Professor Brown mengijinkan saya berpartisipasi dalam seminar doktoral di the Union Theological Seminary di New York di mana beliau mulai menyusun karya ini. Bahwa beliau menginjinkan saya melakukan hal itu bahkan sebelum saya menjadi kandidat doktor, dan meskipun saya adalah seorang mahasiswa “downtown” di the General Theological Seminary, benar-benar menunjukkan pribadi beliau yang lembut.

[5] Brown, The Death of the Messiah, 458.

[6] Brown, The Death of the Messiah, 328-97.

[7] Brown, The Death of the Messiah, 358.

[8] Brown, The Death of the Messiah, 399, 408-28 dan lain-lain.

[9] Brown, The Death of the Messiah, 425, 557-60.

[10] Brown, The Death of the Messiah, 560.

[11] Brown, The Death of the Messiah, 434-60.

[12] V. Eppstein, “The Historicity of the Gospel Account of the Cleansing of the Temple,” ZNW 55 (1964) 42-58.

[13] B. Mazar, “The Royal Stoa in the Southern Part of the Temple Mount,” Proceedings of the American Academy for Jewish Research 46-47 (1979-80) 381-86; The Temple of the Lord (Garden City: Doubleday, 1975) 126.

[14] Galilean Rabbi and His Bible: Jesus’ Use of the Interpreted Scripture of His Time (Good News Studies 8; Wilmington: Glazier, 1984) 17-18; The Temple of Jesus. His Sacrificial Program Within a Cultural History of Sacrifice (University Park: The Pennsylvania State University Press, 1992) 91-107; A Feast of Meanings. Eucharistic Theologies from Jesus through Johannine Circles: Supplements to Novum Testamentum 72 (Leiden: Brill, 1994), 46-74.

[15] C. A. Evans, “Jesus and the ‘Cave of Robbers’: Towards a Jewish Context for the Temple Action,” in Evans, Jesus and His Contemporaries: Comparative Studies (AGJU 25; Leiden: Brill, 1995) 345-65 (sebuah artikel yang terbit pada 1993).

[16] Brown, The Death of the Messiah, 520-47.

[17] Lihat, misalnya, V. Taylor, The Gospel according to St. Mark (London: Macmillan, 1966 [1st ed., 1952]), setiap kali istilah “authority” (exousia) muncul, misalnya dalam Markus 1:22.

[18] Brown, The Death of the Messiah, 473-80.

[19] Lihat Paula Fredricksen, Jesus of Nazareth, King of the Jews. A Jewish Life and the Emergence of Christianity (New York: Knopf: 1999) dan wawancara dalam Bible Review 16.4 (August, 2000) 54-58.

[20] Brown, The Death of the Messiah, 520-27.

[21] Sebuah diskusi mengenai kebijaksanaan-kebijaksanaan ini tersedia dalam Trading Places. The Intersecting Histories of Judaism and Christianity (bersama Jacob Neusner; Cleveland: Pilgrim, 1996; juga Eugene: Wipf and Stock, 2004).

[22] Lihat “James and the (Christian) Pharisees,” When Judaism and Christianity Began. Essays in Memory of Anthony J. Saldarini I. Christianity in the Beginning: Supplements to the Journal for the Study of Judaism 85 (eds. A. J. Avery-Peck, D. Harrington, J. Neusner; Leiden: Brill, 2004) 19-47.

[23] Untuk pembahasan mengenai hal-hal ini, lihat Rabbi Paul. An Intellectual Biography (New York: Doubleday, 2004).

Sumber:  http://www.bibleinterp.com/articles/index.html.

Terjemahan: Bern Hidayat, 25 November 2009

Baca juga: Pontius Pilatus—Gubernur Romawi

n”‘$u U(ULegitimization under Constantine”

Sumber:  http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, 9 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: