Peranan Wanita Kristen Purba

27/01/2010

Meskipun belakangan digusur, wanita-wanita dalam komunitas-komunitas Kristen purba seringkali memiliki “rumah-rumah gereja” di mana jemaat-jemaat beribadah.

Elizabeth Clark:

John Carlisle Kilgo Professor of Religion and Director of the Graduate Program in Religion Duke University

Bagaimana status wanita dalam gereja purba? Apakah mereka benar-benar tertarik pada gereja?

Status para wanita dalam Kristianitas purba telah banyak diperdebatkan dalam dekade-dekade belakangan ini, tak pelak lagi berkat minat pada gerakan wanita di negeri-negeri Barat sekarang ini. Saya kira bukti yang ada campur aduk. Jelas ada bukti dari Perjanjian Baru tentang para wanita yang mengerjakan banyak hal dalam Kristianitas awal. Dalam surat-surat Paulus, dia menyapa wanita-wanita. Menyebut mereka rekan-rekan kerja. Mengacu pada salah satu dari mereka dengan sebuah kata dalam bahasa Yunani yang seharusnya kita terjemahkan sebagai “diakon wanita.” Bahkan menyebut salah satu dari mereka seorang rasul. Apa persisnya arti istilah-istilah itu memang agak sulit dipastikan, mengingat adanya selisih jarak waktu yang begitu panjang, tetapi ada banyak bukti tentang aktivitas wanita yang marak. Saya kira bagian dari aktivitas di periode awal itu, yaitu periode Perjanjian Baru itu sendiri, barangkali terkait dengan peranan wanita di rumah-rumah gereja. Komunitas-komunitas Kristen purba bertemu di rumah-rumah orang. Mereka belum memiliki gereja, dan itu berjalan sampai waktu lama, bahkan sepanjang Perjanjian Baru. Secara khusus surat-surat Paulus dalam Kisah Para Rasul menyebutkan bahwa para wanita adalah pemilik dari rumah-rumah yang dijadikan gereja tempat jemaat Kristen itu bertemu.  Saya kira hal ini sangat signifikan, sebab saya yakin para wanita itu bukan sekedar menyediakan kopi dan kue-kue bagi jemaat Kristen itu. saya kira hal itu memberi mereka sesuatu jalan ke arah kekuasaan. . . . di gereja.

Apa yang rupanya terjadi dalam beberapa abad pertama adalah bahwa aktivitas-aktivitas wanita, biarpun terbatas, mungkin sejak awal mula sudah mulai ditekan ketika ada perkembangan hirarki anggota-anggota pejabat gereja, dengan  uskup-uskup dan presbyter-prebyter, diakon-diakon—dan itu menjadi begitu mapan sehingga wanita tidak boleh menjadi uskup atau imam. Banyak bapa gereja menulis tentang hal ini. Sebegitu rupa sehingga wanita cenderung digusur dari fungsi-fungsi itu, meskipun mereka masih memegang beberapa peran, misalnya bergabung dengan kelompok-kelompok janda atau diakon perempuan di abad ke-4. Kita mempunyai bukti kuat tentang adanya sebuah ordo diakon wanita, tetapi mereka dikesampingkan dari jajaran imamat.

THECLA

Thecla adalah seorang tokoh karya sastra kristianitas abad kedua yang belakangan, menjelang abad ke-4,  diyakini merupakan tokoh historis aktual. Thecla muncul dalam sebuah teks yang disebut Kisah Paulus dan Thecla, yang merupakan salah satu dari sekian banyajk kisah yang belakangan dilabeli kisah-kisah apokrifal . . . . Thela ditampilkans ebagai seorang wanita bangsawan muda yang mendengar ajaran-ajaran Paulus, dan setelah mendengar ajaran Paulus, yang dalam teks itu dinyatakan sebagai ajaran tentang pembebasan seksual, Thecla melepaskan tunangannya dan ingin pergi mengembara dan mengikuti Paulus dalam perjalanan-perjalanan misinya. Keluarganya dengan keras menentang kemauan itu. Ibunya bahkan berusaha agar anak perempuannya dibakar di api unggun untuk mencegahnya melaksanakan niat itu, tetapi setelah banyak petualangan yang semarak, termasuk membaptis dirinya sendiri di sebuah kolam yang penuh dengan singa laut, Thecla berhasil menjadi seorang misionaris dan hidup sampai usia tua sambil berkhotbah dan mewartakan kabar gembira. Jadi itu adalah salah satu dari beberapa cerita dalam kisah-kisah apokrifal di mana para wanita ditampilkan sebagai merelakan harta mereka dan khususnya perkawinan dan aktivitas seksual demi mengikuti ajaran-ajaran para rasul. . . .

Pada dasarnya, apa pesan moral dari kisah tentang Thecla itu?

Saya kira pesan moral dari kisah tentang Thecla itu adalah bahwa para wanita muda akan lebih baik tidak menikah, tetapi jika mereka sudah menikah, maka berusaha untuk secepat mungkin . . . . menjalani hidup selibat dan merelakan seks, dan dengan cara itu mereka akan lebih baik dalam memenuhi kehendak Tuhan. Dalam Kisah Thecla, misalnya, Paulus menyampaikan sebuah pidato di mana ia menyitir bagian dari kitab suci yang kita sebut “beautitudes” itu. Itu bagian “Terberkatilah . . . bla. . . bla . . . bla . . .” Versi Paulus dari hal itu adalah terberkatilah tubuh para perawan. . . . terberkatilah mereka yang suci. Itu semua tentang kesucian seksual. Bahwa mereka adalah orang-orang yang terberkati dalam pengemasan baru terhadap ajaran Kristen itu.

Bacalah cuplikan-cuplikan dari Kisah Paulus dan Thecla

Apakah cerita-cerita seperti Thecla—fakta bahwa gereja purba tengah mendorong orang-orang untuk selibat, untuk. . .  praktisnya saja. . . membubarkan keluarga mereka, meninggalkan tunangan mereka—apakah hal itu menciptakan ketegangan dalam gereja, ataukah hal itu menciptakan ketegangan dalam masyarakat?

Fakta bahwa beberapa pemuda dan pemudi, atas dasar mendengar seruan-seruan yang mengutamakan kesucian seksual itu, lantas ingin meninggalkan kehidupan kemasyarakatan, tidak menikah, tidak mempunyai anak sebagaimana mungkin dikehendaki oleh orangtua mereka, jelas digambarkan dalam tulisan-tulisan Kristen purba sebagai memunculkan aneka macam masalah. Saya kira di jaamn sekarang ini kita harus menganalisa hal itu sebagai sebuah kasus pemberontakan remaja. Bahwa anda mendengar banyak cerita dario abnad ke-4 dan ke-5, khususnya, tentang wanita-wanita muda bangsawan yang memutuskan mereka tidak akan mematuhi perintah orangtua mereka untuk menikah. Pada waktu itu . . . . gadis-gadis bangsawan menikah sangat muda, mungkin di tahun-tahun belasan, dan penolakan mereka untuk melakukan hal itu, dan berkaitan dengan itu kepemilikan mereka atas uang dalam jumlah besar, adalah aset yang sangat besar bagi gereja Kristen, dan wanita-wanita itu banyak disanjung dan ditulis dan dipuji-puji oleh para penulis pria di masa itu. . . . .

Yesus sering digambarkan bersama wanita-wanita. Apa arti penting dari hal itu?

Dalam injil-injil wanita-wanita, meskipun nama mereka tidak selalu disebutkan,  sering digambarkan bersama-sama dengan Yesus. Saya kira itu adalah bagian dari kecenderungan umum injil-injil itu untuk merepresentasikan Yesus sebagai banyak bergaul dengan orang-orang terbuang, dengan kalangan terbawah masyarakat. Orang-orang yang tidak mempunyai status tinggi atau berkuasa. Persis sebagaimana Yesus direpresentasikan sebagai ebrgaul dengan para pendosa, ebgitu pula wanita-wanita sering menjadi bagian dari rombongannya. Beberapa dari injil-injil itu lebih bersemangat dalam melukiskan Yesus dengan cara ini ketimbang injil-injil yang lain. Injil Lukas, misalnya, sering sekali menampilkan Yesus bersama-sama dengan para wanita. Anda mempunyai banyak cerita tentang Maria dan Martha dalam Injil Lukas.

MARIA MAGDALENA

Ceritakan bagaimana tokoh Maria Magdalena berevolusi. Maksud saya, apakah tokoh itu betul-betul ada, atau apakah itu cuma cerita tentang orang yang seperti itu?

Maria Magdalena jelas merupakan salah satu dari tokoh-tokoh yang sering muncul dalam injil-injil dan kemudian banyak didiskusikan dalam literatur Kristen, khususnya abad ke-4 dan ke-5. Adalah menarik untuk melihat apa yang terjadi pada tokoh itu. Kita praktis tidak tahu apa-apa tentang dia, tetapi sudah sejak awal dia dicampur-adukkan dengan wanita pendosa yang diceritakan mendatangi jamuan makan malam di mana Yesus sedang dijamu di rumah salah seorang pemimpin Yahudi dan yang membasuh kaki Yesus dan mengeringkan kakinya dengan rambutnya dan dia disebut seorang pendosa. Nah, tidak dikatakan apa dosa wanita itu, tetapi cerita itu belakangan dicampur-adukkan dengan cerita Maria Magdalena. Maria Magdalena akhirnya dianggap sebagai seorang pelacur yang bertobat. Nah, mengapa hal ini menarik sekali bagi orang-orang Kristen purba itu saya sama sekali tidak tahu, kecuali bahwa ia merupakan contoh tentang seorang pendosa besar dan kemudian bertobat dan menemukan pujian besar di mata Tuhan. Dia juga direpresentasikan sebagai menjadi salah seorang saksi kebangkitan kembali dalam injil-injil; dan ini  adalah poin sangat penting, sebab di sini anda bisa melihat perbedaan dalam surat-surat Paulus. Paulus tidak mengetengahkan wanita-wanita sebagai saksi-saksi kebangkitan kembali, sementara semua injil mengetengahkan wanita-wanita sebagai saksi kebangkitan kembali dan Maria Magdalena adalah yang sangat menonjol di antara mereka. . . . .

Barangkali Maria Magdalena adalah contoh yang bagus tentang seorang tokoh yang muncul beberapa kali dalam teks injil sendiri dan yang kemudian diangkat dan dikembangkan dan diberi reniok pernik. Barangkali ini agak tipikal—apa yang terjadi pada banyak tokoh. Kehidupan mereka menjadi terhias dengan aneka macam rumbai-rumbai sampai kita tidak bisa mengenalinya lagi dari teks injil itu sendiri. Akhirnya Maria Magdalena dianggap sebagai seorang pendosa yang bertobat. Ini dielaborasi menjadi pelacur yang bertobat, khususnya ketika Kristianitas belok arah ke jaklur yang sangat asketik di abad ke-4 dan ke-5. Bertobat dari menjadi pelacur jelas akan merupakan hal yang mentakjubkan bagi seorang wanita andaikata dia Kristen. . . . .

WANITA-WANITA PERKASA DAN KAYA

Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan banyak wanita yang disebutkan, beberapa dengan nama, beberapa tidak. . . . Mereka disebut sebagai rekan-kerja, beberapa dari mereka merupakan pasangan suami-isteri misionaris yang pergi keluar dan membantu menyebarkan Kristianitas. Kita menemukan bukti yang semakin menipis ketika kita memasuki abad ke-2 dan ke3. Ketika Kristianitas menjadi semakin mapan dan hirarki pejabat gereja pria dikembangkan, wanita cenderung semakin disingkirkan. . . . .

Meskipun begitu, bersamaan dengan berkembangnya arus sangat asketik dalam Kristianitas dan khususnya pendirian biara-biara di abad ke-4 dan awal abad ke-5, anda mendapatkan jalan terbuka lebar bagi aktivitas wanita di gereja. Beberapa dari wanita-wanita itu menguasai uang dalam jumlah sangat besar dan mereka memutuskan akan menggunakan uang mereka untuk mendirikan biara-biara dan mereka kadang-kadang menjadi kepala biara itu sendiri. Salah satu wanita seperti itu adalah Olympias di Constantinople. Dia sahabat dekat dan, sungguh, penampung curahan hati John Chrysostom, yang menjadi Uskup Constantinople pada beberapa tahun terakhir abad ke-4 dan tahun-tahun pertama awal abad ke-5.  Ia memiliki properti yang luar biasa besar; telah dikalkulasikan, dengan menggunakan perkiraan yang agak konservatif tentang bagaimana anda menterjemahkan uang jaman kuno ke dollar Amerika masa kini, sumbangan-sumbangan Olympias pada Gereja Constantinople dan wilayah-wilayah sekitarnya adalah sekitar $900 juta. Anda bisa melihat mengapa para pejabat gereja menyukai wanita-wanita seperti itu dan mengapa hal itu sangat penting bagi operasi-operasi amal gereja, yang waktu itu harus memberi makan ratusan, bahkan ribuan, orang miskin, anak yatim piatu, janda-janda; rumah-rumah sakit yang perlu dibangun, yang kemudian diorganisir oleh orang-orang Kristen. Gereja membutuhkan banyak uang untuk menjaga agar operasi-operasi itu tetap bisa berjalan, dan wanita-wanita seperti Olympias dan yang lain-lain, Malania Tua, Malania Muda, mereka sangat membantu, baik dalam mendirikan biara-biara maupun mengelola biara-biara itu, selain memberikan dana untuk penyelenggaraan operasi-operasi amal.

GALATIA 3:28

Apa yang dikatakan Paulus di sini; apa maksudnya?

Galatia  3:28 adalah sebuah pernyataan yang memberikan pengaruh sangat beasr pada Kristianitas kontemporer, khususnya dalam cabang-cabang feminis Kritianitas. Itu adalah bagian di mana Paulus mengatakan, “Dalam Yesus Kristus tidak ada budak atau merdeka, Yahudi atau Yunani, pria. . . .”di sini ada orang yang menyelipkan sebuah koreksi. Yang diselipkan adalah “tidak ada pria dan wanita.” Maksudnya, bukannya mengatakan A atau B, sebagaimana ia lakukan pada kasus Yahudi atau Yunani, budak atau merdeka. Pada pria-wanita, yang dipakai adalah “dan” di tengah-tengahnya, dan para ahli bertanya-tanya apa maksudnya dan mengapa yang satu itu berbeda?

Tentu saja, orang-orang Kristen kontemporer, banyak di antara mereka, ingin mengambil cuplikan itu sebagai sebuah slogan kesetaraan bagi wanita dalam gereja purba. Saya pribadi cenderung mengira Paulus tidak begitu tertarik pada kesetaraan wanita. Ia sangat tertarik pada kesetaraan Yahudi dan kafir. Itu adalah kepedulian utama Paulus, tidak diragukan lagi. Ia mengambil-alih frasa itu, dan itu kita ketahui, dari sebuah formula baptisan yang usianya lebih tua. Ada bukti dalam Injil Thomas dan injil-injil lain bahwa Yesus mungkin pernah mengatakan ungkapan-ungkapan “tidak ada pria dan wanita” itu dan beberapa orang mengira itu adalah kutipan dari Genesis, Bab 1, di mana dikatakan, “Tuhan menciptakan mereka pria dan wanita, ia menciptakan mereka.” Dalam hal ini, saya kira paling tidak kita tidak bisa mengambilnya sebagai sebuah slogan indah untuk kesetaraan, meskipun wanita-wanita masa kini akan suka menggunakannya seperti itu, dan mungkin mereka perlu dipersilahkan saja dan menggunakannya, tanpa peduli apa maksud Paulus yang sebenarnya.

Elaine H. Pagels:

The Harrington Spear Paine Foundation Professor of Religion Princeton University

WANITA-WANITA DALAM GEREJA PURBA

Beberapa orang memperkirkaan bahwa gerakan Kristen awal itu adalah gerakan yang egaliter. Saya tidak begitu yakin dengan hal itu. bagi saya, yang betul adalah gerakan itu egaliter ketika ia menjadi gerakan marjinal, ketika menjadi bagian dari gerakan itu benar-benar berbahaya. [Dalam surat-suratnya] Paulus berbicara tentang para wanita sebagai rekan-rekan pewarta kabar gembira dan guru-guru dan patron-patron dan sahabat-sahabat, persis sebagaimana ia katakan juga tentang para pria. Jadi rupanya gerakan itu ingin merangkul siapa saja, dan tergantung pada mereka dengan cara-cara yang barangkali tidak akan diijinkan oleh kelompok-kelompok yang lebih mapan, misalnya komunitas Yahudi di sebuah kota kecil yang kaya seperti Sepphoris. Memang benar bahwa ada kecairan peran dalam gerakan itu. Pertanyaannya adalah, jika budak dan merdeka bisa menjadi bagian yang setara dari gerakan itu, apakah pria dan wanita juga bisa sederajat dalam gerakan itu?

Jelas kita mempunyai sumber-sumber yang mengisyaratkan bahwa ini adalah isu-isu yang sangat semarak. Inji Maria Magdalena, misalnya, menunjukkan pada kita sebuah komunitas Kristen di mana Maria Magdalena dianggap sebagai seorang rasul, sebagai seorang pemimpin, sebagai salah seorang guru utama dalam kelompok itu. dan injil yang menyatakan bahwa wanita-wanita harus bisa mengajar. Dalam injil yang itu juga, dia digugat dan disuruh tutup mulut oleh saudaranya, Petrus, yang mengisyaratkan bahwa wakil-wakil gereja yang menyatakan dirinya sendiri ortodoks dan berbasis di Roma tidak menyukai wanita-wanita yang berdiri tegak. Kita tahu bahwa Tertullian, salah satu pemimpin gereja di Afrika, berbicara tentang seorang wanita yang cuma ia sebut “ular berbisa itu,” karena wanita itu membaptisi orang-orang. Dan Tertullian mengatakan, “Perempuan bidaah ini, berani-beraninya mereka. Maksudku mereka, mereka mengajar, mereka membaptis, mereka melakukan segala macam hal yang seharusnya tidak boleh mereka kerjakan. Singkat kata, itu mengerikan.” Dan karena itu kita tahu bahwa ada banyak kasak-kusuk dalam komunitas-komunitas itu mengenai peranan wanita.

Saya tidak melihat adanya sesuatu Abad Keemasan egalitarianisme di belakang sana. Yang saya lihat adalah sebuah gerakan yang baru, tanpa bentuk, cerai-berai, dan terancam, yang memperjuangkan keleluasaan lebih besar bagi wanita-wanita dalam peran-peran tertentu, yang berjalan untuk sesaat, di beberapa tempat dan tidak di tempat-tempat lain. Itu juga memunculkan banyak perasaan sangat tidak suka, yang bisa anda lihat dalam beberapa dari penulis-penulis Perjanjian Baru, misalnya, dalam penulis 1 Timotius,  yang mengatakan “wanita-wanita harus tutup mulut di semua gereja,” dan yang dikasak-kusukkan sebagai sudut pandang Paulus.

Apakah para wanita, dalam perjalanan waktu, menjadi tergusur?

Kita mempunyai informasi mengenai akhir abad ke-2 bahwa terlepas dari peran-peran apapun yang dulu pernah perempuan raih, para pemimpin gereja mulai menjelaskan bahwa wanita tidak boleh memegang posisi resmi apapun dalam gereja yang sedang mereka bangun itu. Dan itu dianggap sebagai ciri-ciri kelompok bidaah. Gereja ortodoks tidak akan menerima hal seperti itu, dan memang tidak pernah menerima hal itu, sejauh yang kita ketahui, dari abad ke-2 sampai sekarang ini. Di mana wanita-wanita menonjol dalam komunitas ortodoks, itu adalah sebagai martir. . . . . Dan ada wanita-wanita terkenal yang menjadi martir. Ada seorang wanita kudus yang terkenal, Thecla, yang ceritanya menggambarkan oposisi yang sangat kuat. tidak ada satupun wanita terkenal di gereja purba yang ceritanya tidak menunjukkan oposisi sangat besar dari beberapa lelaki dalam kelompoknya.

MARIA MAGDALENA

Apakah Maria Magdalena seorang rasul lain?

Injil-injil Perjanjian Baru menceritakan kisah-kisah tentang Maria Magdalena, dan di sana ia muncul bersama wanita-wanita. . . . [Dalam Lukas] Maria adalah salah satu dari orang-orang yang Yesus sembuhkan. Tetapi dalam injil-injil lain, dia tampil beda. Kenyataannya, dia tampil sebagai salah seorang rasul, bukan hanya salah seorang rasul, tetapi salah satu dari orang-orang terpilih untuk memperoleh pengajaran istimewa, untuk pengajaran dan kebijaksanaan yang lebih mendalam. Dalam Injil Maria Magdalena, dia tampil sebagai rasul yang memiliki keberanian besar dan menghibur rasul-rasul lain yang sedang putus asa. Ia tampil sebagai orang yang berbicara pada rasul-rasul lain untuk mendorong semangat mereka. Jadi tampaknya dia adalah salah satu darir asul-rasul besar itu menurut beberapa dari sumber-sumber yang lain itu. Tradisi yang muncul kemudian mengisyaratkan bahwa dia seorang pelacur, dan bahwa dia adalah wanita yang melap kaki Yesus dengan rambutnya. Itu tidak dinyatakan dalam injil-injil. Itu tidak mempunyai dasar sama sekali dalam sejarah. Saya curiga bahwa ada orang-orang Kristen yang berusaha menggugat status Maria Magdalena di antara kelompok-kelompok tertentu yang memandangnya sebagai seorang rasul besar. Misalnya, bahkan sekarang di Bukit Zaitun di Yerusalem, ada sebuah gereja Ortodoks Russia Maria Magdalena sebagai seorang santa besar. Dan orang-orang lain bereaksi dengan sengit, dengan mengatakan, “Oh no, dia kan pelacur.” Jadi, itu dia, dalam pribadi Maria Magdalena, [kita lihat bagaimana] kelompok-kelompok saling bertarung mempersoalkan status dan peran wanita.

Lebih lanjut mengenai wanita dalam gereja purba, baca esei tulisan Karen L. King.

Sumber: www.pbs.org/wgbh/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 10 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: