Penganiayaan Kaisar Nero

27/01/2010

Tidak satu pun upaya kebaikan, tidak satu pun kemurahan petinggi negara, tidak satupun upaya menyenang-nyenangkan para dewa, mampu menghapus kecurigaan besar bahwa terbakarnya kota [Roma] adalah hasil dari sebuah perintah. Untuk membungkam kasak-kusuk itu, Nero mengajukan orang-orang Kristen sebagai kambing hitam dan menghukum mereka dengan hukuman-hukuman yang kreatif dan keji, karena mereka pada umumnya sudah dibenci karena perbuatan-perbuatan mereka yang tidak disukai orang banyak. Orang yang menjadi biang dari sebutan itu, Kristus, telah dieksekusi di masa pemerintahan Tiberius di tangan procurator Pontius Pilatus. Untuk sesaat kepercayaan klenik yang membahayakan itu mereda, tetapi kemudian merebak kembali, tidak hanya di Yudea di mana hal busuk itu dimulai, tetapi bahkan di kota {Roma] sendiri, di mana segala kepercayaan yang menjijikkan dan memalukan dari segala penjuru mengalir masuk dan menemukan banyak pengikut.

Mula-mula orang-orang yang secara terbuka mengaku pada ditahan, dan kemudian massa yang begitu besar pada dijatuhi hukuman didasarkan pada laporan para informan tadi, lebih karena kebencian mereka terhadap umat manusia ketimbang karena tuduhan membakar kota. Eksekusi terhadap mereka dijadikan tontonan umum: mereka diselimuti dengan kulit hewan buas lalu dicabik-cabik oleh anjing-anjing. Mereka digantung di salib-salib. Mereka dibakar, dibungkus dengan bahan yang mudah terbakar lalu dinyalakan sebagai obor ketika hari telah gelap. Nero membuka taman-tamannya agar masyarakat luas bisa menyaksikan pemandangan itu serta menyelenggarakan pertandingan-pertandingan sirkus. Ia sendiri membaur dengan massa dengan jalan berpakaian seperti sais kereta perang atau berdiri tegak di atas sebuah kereta perang. Bahkan sekalipun orang-orang itu bersalah dan pantas mendapatkan hukuman berat, semua hal itu justru menumbuhkan perasaan iba bagi mereka, karena masyarakat merasa bahwa mereka tengah dikorbankan bukan demi kepentingan umum, melainkan untuk memuaskan kekejian satu orang saja.

(In the year 64) Tacitus, Annals XV.44.

Sumber: The Early Christians in Their Own Words. Eberhard Arnold. 1926.

Terjemahan: Bern Hidayat, 22 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: