Mona Lisa dari Galilei

27/01/2010

Hasil-hasil penggalian arkeologis di Sepphoris memunculkan sebuah potret baru tentang dunia Yesus.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

Apa yang bisa diceritakan oleh temuan-temuan arkeologis di Sepphoris itu pada kita tentang pekerjaan Yesus, kelas sosialnya, dan bagaimana ia mendapatkan penghidupan?

Sepphoris terkenal sebagai mutiaranya Galilei. Itu adalah salah satu kota besar Galilei dan ibukota pertama anak lelaki Herodes, yang merupakan raja independen Yahudi yang menjadi client Roma di masa Yesus hidup . . . . .Sepphoris adalah sebuah kota yang cantik dan kaya. Itu adalah sebuah kota Yahudi. Tetapi seperti kebanyakan kota-kota Yahudi di jaman Greko-Roman, ekspresi-ekspresi arsitekturalnya dinyatakan dengan idiom Greko-Roman.  Itu tidak berarti bahwa kebudayaannya adalah kebudayaan Greko-Roman. Persis sebagaimana kita tidak akan menganggap Thomas Jefferson adalah orang Yunani atau Romawi hanya karena Monticello [rumahnya] mempunyai elemen-elemen arsitektur Yunani. . . . . .

Sepphoris . . . . . banyak duit. Itu adalah pusat perdagangan untuk kawasan itu. Dan jika Yesus dibesarkan di Nazareth, dengan jarak tinggal jalan kaki sebentar untuk orang yang sehat. . . . . saya kira sekitar tiga mil. Andaikata dia seorang tukang kayu, atau pengrajin entah apa, dia pasti gampang cari kerjaan di Sepphoris. . . . . Apa implikasi dari hal ini pada kelas sosial Yesus? Itu sulit diketahui.  Saya kira karena ia sering digambarkan sebagai orang Yahudi yang saleh, dan karena Yahudi-Yahudi saleh mempunyai hari kerja enam hari per minggu, dan mengingat pada hari ketujuh mereka mempunyai kewajiban khusus yang tidak memungkinkan mereka melakukan perjalanan jarak jauh—pada hari Sabbath anda harus benar-benar istirahat—Mungkin sekali anda tidak akan jalan-jalan ke Sepphoris dan mungkin main-main setelah tengah hari, atau entah apa. Saya kira secara kultural Sepphoris tidak banyak berbeda. Saya kira sebagaimana kebanyakan orang di masa itu yang tidak memiliki tanah, Yesus mungkin bekerja selama enam hari per minggu dan istirahat pada hari Sabbath. . . . . .

Eric Meyers:

Professor of Religion and Archaeology Duke University

Sepphoris adalah sebuah kota yang sudah ada di jaman Hellenistik, abad pertama, kedua SEB. Tetapi itu baru benar-benar dikembangkan oleh anak Herodes, Antipas, yang pergi ke sana pada tahun 4 atau 3 SEB, setelah kematian bapaknya. Tetapi rentang aktivitas-aktivitas Antipas, sebagaimana digambarkan oleh siapa lagi kalau bukan Josephus, sejarawan era itu, adalah sangat carut-marut. Diperkirakan oleh banyak peneliti bahwa skema bangunan Antipas sangat mirip dengan punya bapaknya di Yerusalem. Tetapi setelah menggali selusin tahun di situs itu, sulit sekali memunculkan gambaran sebuah kota Romawi timur yang riil di jaman Yesus atau awal abad pertama di jaman Antipas. . . . . .

Theater yang oleh setiap orang dikira dibangun di jaman Yesus atau di jaman Antipas, pada hemat saya, dan saya kira begitu juga sekarang opini para arkeolog yang menggali di situs itu, itu baru dibangun di paruh kedua abad pertama, jika bukan awal abad kedua, EB. . . . Kita mendapatkan villa-villa kelas atas yang mentakjubkan di mana orang-orang Yahudi dan imam-imam tinggal, beberapa di antara mereka mempunyai hubungan sangat dekat dengan Yerusalem. Dan kita mendapatkan serangkaian pemandian-pemandian ritual abad pertama, yang digunakan untuk kungkum, untuk melaksanakan perintah Levitikal sebagaimana ditemukan dalam Injil Hibrani, untuk menghormati perintah penyucian ritual, penyucian badani. . . . .

Jadi Antipas mempercantik kota itu, tetapi itu belum menjadi kota besar Romawi Timur. Saya yakin betul tentang hal ini. Itu terwujud di masa kemudian, ketika theater itu dibangun dan ketika legiun-legiun dan serdadu-serdadu Romawi datang dan memantapkan kehadiran mereka dengan galak di awal abad kedua. Ada satu petunjuk lagi yang bercerita banyak pada kita tentang karakter Sepphoris abad pertama. Dan yang mengherankan, itu datang dari tulang-tulang yang kami temukan di rumah-rumah itu dan di villa-villa itu. Di Sepphoris di awal periode Romawi kami praktis tidak menemukan tulang-tulang babi. Sesekali kami menemukan sepotong tulang aneh-aneh di sana-sini, tetapi praktis tidak ada tulang babi. Ketika kami naik ke abad-abad lain, bahkan abad kedua, kami menemukan peningkatan yang signifikan, antara 8 sampai 10 persen dari tulang-tulang yang ditemukan adalah tulang babi, dan tidak diragukan lagi hal itu berkaitan dengan kehadiran pasukan Romawi.  Dan memasuki abad keempat ketika ada orang-orang Kristen di sana, kami menemukan 18 sampai 20 persen tulang babi. . . . .

Saya kira awal-mula kebudayaan Yahudi di Sepphoris, sebagaimana bisa kita rekonstruksikan sekarang dari arkeologi di abad pertama, bisa dikarakterisasikan sebagai upscale—kelas atas—yang hidup sama persis dengan beberapa orang Yahudi dari Yerusalem hidup pada masa yang sama di kawasan Yahudi. Kami menemukan kamar-kamar yang dihias dengan fresco-fersco. Kami menemukan rumah-rumah, masing-masing dengan pemandian ritual privat. Itu extravaganza, mengingat dari mana air harus didatangkan dan teknik yang harus digunakan untuk mendapatkan air murni yang dicampur dengan air mandek. Tetapi itu budaya mainstream. Saya rasa mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Itu bukan komunitas yang asimilatif. Gambaran yang kami dapatkan adalah komunitas yang mencerminkan mainstream, tetapi di tataran yang tertinggi. Itu adalah kota kelas atas yang sedang dalam tahap akan mapan. Belum menjadi  kota besar kawasan timur, tapi jelas sudah menjadi kota yang lahir di jaman Antipas.

MONA LISA DARI GALILEI

Salah satu dari temuan-temuan yang lebih menggairahkan yang kami capai di Sepphoris adalah sebuah villa Romawi megah dengan mosaik sangat, sangat indah di lantai di bangsal pesta. Dan villa itu, yang kami sebut Villa Dionysus karena begitu banyak adegan di sana berkaitan dengan legenda dan mitologi dewa Dionysus, mempunyai, di dua sisi bangsal pesta tadi, satu mosaik wanita yang sangat menarik dan satu lagi mosaik wanita yang kurang begitu menarik. Lady yang tidak begitu menarik itu tidak dilukiskan sebagus wanita yang sangat menarik, tetapi dia juga rusak parah akibat gempa bumi besar yang menghancurkan Sepphoris pada tahun 363. Tetapi wanita di sisi seberang dijuluki “Mona Lisa” oleh pers ketika kami menemukannya, sebab dia adalah lukisan batu yang benar-benar luar biasa dari seorang wanita cantik jaman Romawi. Dia mungkin [perwujudan dari] salah satu dari keempat musim.  Tetapi kami mempunyai perasaan bahwa di balik wajah itu ada seorang wanita sungguhan dan sosok sungguhan. Karena kelihaian seniman yang melukiskannya dengan batu begitu cermat, begitu halus, dan sangat mirip lukisan. Dan karena itu dia telah menjadi sinonim dengan situs itu, sekalipun dia berasal dari abad ke-3, titik puncak Hellenisasi di situs itu. Sekarang dia sudah sinonim dengan Romanisasi situs itu dan Hellenisasi . . . . .

Penemuan adegan-adegan dari mitologi Dionysus di lantai sebuah bangsal pertemuan di sebuah kota Yahudi jelas menyentak kepala setiap orang. Dan membuat kami untuk pertama kalinya berpikir bahwa ada sikap yang jauh lebih liberal terhadap perintah kedua yang melarang imaji-imaji piktorial dalam Yudaisme, dan bahwa orang-orang Yahudi jauh lebih fleksibel dalam kaitan dengan image-making dan presentasi serta aktivitas artistik, justru di jaman ketika Mishna, kumpulan hukum Yahudi pertama yang dibukukan di Palestina di abad ketiga, ditulis bersamaan waktu dengan karya seni besar ini.

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/first/kingdoms.html

Terjemahan: Bern Hidayat, 28 Desember 2009

ale Za `Y(U adalah kota dengan aneka macam kemegahan, sebagaimana kita ketahui dengan begitu baik dari sedemikian banyak sumber. Tetapi Caesarea adalah puncaknya kota bandar besar. Kota besar dengan demografi campuran, dengan populasi etnis campuran. Jauh sebelum jaman Romawi kota itu sudah menjadi bandar utama. Aktivitas-aktivitas Herodes di sana membuatnya menjadi sebuah exit besar dan pusat transfer, di mana barang-barang dan aneka macam perbekalan masuk dan barang-barang lain diperdagangkan dan dibawa keluar. Dan penampilannya megah. Dan tempat itu penuh dengan para pelaut, penuh dengan para serdadu. Penuh dengan orang-orang Romawi, sebab di situlah para procurator berdiam. Dan kota itu mempunyai komunitas Yahudi kelas atas yang beraneka ragam. Kita tahu bahwa populasi Yahudinya yang minoritas di jaman itu juga berjalan dan akhirnya berkembang menjadi salah satu pusat Yahudi yang signifikan di jaman kemudian. Tetapi karakter kota itu oriental, megah, cantik, indah, dermaga-dermaga raksasa terbuka lebar, kapal-kapal keluar masuk.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

CAESAREA MARITIMA

Caesarea Maritima adalah kota yang didirikan oleh Herodes Agung untuk dijadikan gerbang utama menuju Kekaisaran Romawi.  Itu dirancang secara serius dan njlimet untuk menjadi sebuah kota baru. Sebuah kota yang akan memberikan dia akses menuju jalur-jalur pelayaran dan ke perdagangan Kekaisaran Romawi. Dan karena itu, jika anda membayangkan . . . . Caesarea dan pelabuhan besar yang ia bangun, anda memandang sebuah tempat di mana ia menginginkan agar orang-orang melihat dunia terbuka lebar. . . . agar dunia luas mengenal kerajaannya. Jadi dia membangun pelabuhan itu juga demi kebesaran dirinya sendiri.

Herodes merancang kota itu sebagai sebuah pelabuhan baru, justru karena tidak ada pemecah gelombang alami, tidak ada pelabuhan alam di bentangan pantai itu. Dan karena itu, dia harus membangun pelabuhan buatan. Ia menggunakan insinyur-insinyur Romawi, yang didatangkan dari sana, dan mereka menciptakan pelabuhan itu, dengan mengambangkan bargas-bargas ke tengah laut dan menenggelamkan mereka dengan balok-balok raksasa seberat 30 ton dari batu atau beton cor untuk membangun bagian bawah permukaan. Kemudian, di atas pondasi itu, dia lalu menciptakan pelabuhan bagian dalam, jalur-jalur kapal, dan jaringan gudang—yang kemudian menjadi Caesarea Maritima. Di tengah kota—itu  adalah kota Romawi, lengkap dengan  kompleks pemerintahan, kuil-kuil untuk dewa-dewa Roma, yang menjadi personifikasi Roma itu sendiri, juga personifikasi Kaisar Augustus, patron Herodes.

Tadinya saya mengira Herodes adalah raja Yahudi. Apa tidak ada sinagoga di sana, tidak ada mausoleum?

Well, ada, kenyataannya, ada sinagoga-sinagoga di Caesarea. Kita akan mendengar tentang mereka nanti. Dan kadang-kadang, ada ketegangan-ketegangan akibat hal ini. Tapi itu adalah kota Romawi, itu dirancang dan dibangun sebagai kota Romawi. Sebuah rancangan jalan Romawi dengan presisi Romawi tingkat tinggi, dengan sebuah theater, dengan sebuah amphitheater, dengan semua renik-pernik kehidupan civic Romawi, dan juga banyak pengaruh Hellenistik.

SEPPHORIS

Eric Meyers

Sepphoris adalah sebuah kota yang sudah ada di jaman Hellenistik, abad pertama, kedua SEB. Tetapi itu baru benar-benar dikembangkan oleh anak Herodes, Antipas, yang pergi ke sana pada tahun 4 atau 3 SEB, setelah kematian bapaknya. Tetapi rentang aktivitas-aktivitas Antipas, sebagaimana digambarkan oleh siapa lagi kalau bukan Josephus, sejarawan era itu, adalah sangat carut-marut. Diperkirakan oleh banyak peneliti bahwa skema bangunan Antipas sangat mirip dengan punya bapaknya di Yerusalem. Tetapi setelah menggali selusin tahun di situs itu, sulit sekali memunculkan gambaran sebuah kota Romawi timur yang riil di jaman Yesus atau awal abad pertama di jaman Antipas. . . . . .

Theater yang oleh setiap orang dikira dibangun di jaman Yesus atau di jaman Antipas, pada hemat saya, dan saya kira begitu juga sekarang opini para arkeolog yang menggali di situs itu, itu baru dibangun di paruh kedua abad pertama, jika bukan awal abad kedua, EB. . . . Kita mendapatkan villa-villa kelas atas yang mentakjubkan di mana orang-orang Yahudi dan imam-imam tinggal, beberapa di antara mereka mempunyai hubungan sangat dekat dengan Yerusalem. Dan kita mendapatkan serangkaian pemandian-pemandian ritual abad pertama, yang digunakan untuk kungkum, untuk melaksanakan perintah Levitikal sebagaimana ditemukan dalam Injil Hibrani, untuk menghormati perintah penyucian ritual, penyucian badani. . . . .

Jadi Antipas mempercantik kota itu, tetapi itu belum menjadi kota besar Romawi Timur. Saya yakin betul tentang hal ini. Itu terwujud di masa kemudian, ketika theater itu dibangun dan ketika legiun-legiun dan serdadu-serdadu Romawi datang dan memantapkan kehadiran mereka dengan galak di awal abad kedua. Ada satu petunjuk lagi yang bercerita banyak pada kita tentang karakter Sepphoris abad pertama. Dan yang mengherankan, itu datang dari tulang-tulang yang kami temukan di rumah-rumah itu dan di villa-villa itu. Di Sepphoris di awal periode Romawi kami praktis tidak menemukan tulang-tulang babi. Sesekali kami menemukan sepotong tulang aneh-aneh di sana-sini, tetapi praktis tidak ada tulang babi. Ketika kami naik ke abad-abad lain, bahkan abad kedua, kami menemukan peningkatan yang signifikan, antara 8 sampai 10 persen dari tulang-tulang yang ditemukan adalah tulang babi, dan tidak diragukan lagi hal itu berkaitan dengan kehadiran pasukan Romawi.  Dan memasuki abad keempat ketika ada orang-orang Kristen di sana, kami menemukan 18 sampai 20 persen tulang babi. . . . .

Saya kira awal-mula kebudayaan Yahudi di Sepphoris, sebagaimana bisa kita rekonstruksikan sekarang dari arkeologi di abad pertama, bisa dikarakterisasikan sebagai upscale—kelas atas—yang hidup sama persis dengan beberapa orang Yahudi dari Yerusalem hidup pada masa yang sama di kawasan Yahudi. Kami menemukan kamar-kamar yang dihias dengan fresco-fersco. Kami menemukan rumah-rumah, masing-masing dengan pemandian ritual privat. Itu extravaganza, mengingat dari mana air harus didatangkan dan teknik yang harus digunakan untuk mendapatkan air murni yang dicampur dengan air mandek. Tetapi itu budaya mainstream. Saya rasa mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Itu bukan komunitas yang asimilatif. Gambaran yang kami dapatkan adalah komunitas yang mencerminkan mainstream, tetapi di tataran yang tertinggi. Itu adalah kota kelas atas yang sedang dalam tahap akan mapan. Belum menjadi  kota besar kawasan timur, tapi jelas sudah menjadi kota yang lahir di jaman Antipas.

MONA LISA DARI GALILEI

Salah satu dari temuan-temuan yang lebih menggairahkan yang kami capai di Sepphoris adalah sebuah villa Romawi megah dengan mosaik sangat, sangat indah di lantai di bangsal pesta. Dan villa itu, yang kami sebut Villa Dionysus karena begitu banyak adegan di sana berkaitan dengan legenda dan mitologi dewa Dionysus, mempunyai, di dua sisi bangsa pesta tadi, satu mosaik wanita yang sangat menarik dan satu lagi mosaik wanita yang kurang begitu menarik. Lady yang tidak begitu menarik itu tidak dilukiskan sebagus wanita yang sangat menarik, tetapi dia juga rusak parah akibat gempa bumi besar yang menghancurkan Sepphoris pada tahun 363. Tetapi wanita di sisi seberang dijuluki “Mona Lisa” oleh pers ketika kami menemukannya, sebab dia adalah lukisan batu yang benar-benar luar biasa dari seorang wanita cantik jaman Romawi. Dia mungkin salah satu dari keempat musim.  Tetapi kita mempunyai perasaan bahwa di balik wajah itu ada seorang wanita sejati dan sosok sejati. Karena kelihaian seniman yang melukiskannya dengan batu begitu cermat, begitu halus, dan sangat mirip lukisan. Dan karena itu dia telah menjadi sinonim dengan situs itu, sekalipun dia berasal dari abad ke-3, titik puncak Hellenisasi di situs itu. Sekarang dia sudah sinonim dengan Romanisasi situs itu dan Hellenisasi . . . . .

Penemuan adegan-adegan dari mitologi Dionysus di lantai sebuah bangsal pertemuan di sebuah kota Yahudi jelas menyentak kepala setiap orang. Dan membuat kami untuk pertama kalinya berpikir bahwa ada sikap yang jauh lebih liberal terhadap perintah kedua yang melarang imaji-imaji piktorial dalam Yudaisme, dan bahwa orang-orang Yahudi jauh lebih fleksibel dalam kaitan dengan image making dan presentasi serta aktivitas artistik, justru di jaman ketika Mishna, kumpulan hukum Yahudi pertama yang dibukukan di Palestina di abad ketiga, ditulis bersamaan waktu dengan karya seni besar ini.

Judul asli: “Portraits of Greco-Roman Cities”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 5 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: