Martir-Martir

27/01/2010

Diperlakukan sebagai penjahat di abad ke-2 dan ke-3, orang-orang Kristen purba dijadikan sasaran penganiayaan di seluruh penjuru kekaisaran

Wayne A. Meeks:

Woolsey Professor of Biblical Studies Yale University

PENGANIAYAAN DECIUS MENJADI BUMERANG

Setelah periode panjang di mana penganiayaan terhadap Kristianitas bersifat sporadis, lokal, dan melibatkan hanya segelintir orang, tiba-tiba saja, di pertengahan abad ke-3, tahun 250, Kaisar Decius memutuskan bahwa orang-orang Kristen adalah musuh nyata yang harus dibasmi di seluruh penjuru kekaisaran, dengan segala kekuatan tentara yang bisa dikerahkan pemerintah. Dan Decius mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa tiap orang harus menyelenggarakan korban pada dewa-dewa Romawi dan mereka harus bisa menunjukkan sertifikat yang ditanda-tangani oleh pejabat Romawi yang menyatakan bahwa orang itu sudah melaksanakan perintah. Mengapa itu terjadi? Jelaslah, salah satu hal yang diindikasikan oleh hal ini adalah bahwa Kristianitas, yang berangkat dari kelompok-kelompok yang sangat mungil itu, yang cerai-berai di berbagai kota di seantero kekaisaran, sekarang telah menjadi sangat besar. Mereka telah menjadi segmen yang signifikan dari populasi di banyak tempat. Ada bukti lumayan banyak bahwa di banyak kota di Afrika Utara, mereka sebenarnya malah sudah menjadi mayoritas. Jadi mereka lantas mengundang perhatian Kaisar. Pada saat yang sama, hal itu jelas mengisyaratkan bahwa kecenderungan kontra-kultural, yang merupakan salah satu aspek dari pemahaman-diri orang-orang Kristen, dari sejak awal-mula. . . . mereka adalah orang-orang yang menyembah, sebagai Putera Allah, orang yang dahulu disalib di bawah Pontius Pilatus, seorang gubernur Romawi. Implikasi kontra-kultural dari kepercayaan-kepercayaan mereka yang paling mendasar itu masih bertahan, dan Kaisar sepenuhnya menyadari kecenderungan kontra-kultural itu dan mengatakan, “Ini berbahaya—kita tidak boleh membiarkan kelompok besar ini, yang juga sangat terorganisasi dan, berbeda dari komunitas-komunitas religius lainnya, diorganisir tidak hanya dengan basis lokal, tetapi dengan basis seluruh kekaisaran. Ini harus ditindak.”

Karena itu, orang-orang Romawi mengerahkan semua kekuatan yang ada pada mereka. Mereka mengatakan, “All right, mari kita sikat pemimpin-pemimpinnya. Kita cari uskup-uskup itu, kita seret ke pengadilan, kita paksa mereka mengingkari agamanya, dan kalau mereka tidak mau, kita basmi mereka.” Dan karenanya anda dapatkan uskup-uskup yang melarikan diri ke pedalaman dan anda dapatkan uskup-uskup lain yang tewas sebagai martir. Anda dapatkan orang-orang biasa, untuk pertama kalinya, digiring bersama-sama, dipaksa untuk menyelenggarakan korban, atau jika mereka mampu, mereka membeli sertifikat palsu. Ada beberapa di antara mereka yang selamat. Dan yang aneh, serangan itu gagal. . . . . Hasil akhirnya—justru muncul sebuah kultus baru dalam Kristianitas, kultus martir, yang justru memperkuat gereja, yang mengobarkan sentimen anti-pemerintah di banyak segmen kekaisaran—wilayah-wilayah geografis terpencil yang jauh dari Roma sudah lebih dulu curiga pada Roma. Serangan tadi justru membawa segmen-segmen ini kedalam pelukan Kristen, dan dalam banyak hal lain serangan itu malah menjadi bumerang. Karena itu pembasmian Decius tadi tidak berumur panjang. . . . .

Apa lagi yang terjadi di kekaisaran di masa penganiayaan itu?

Pada waktu penganiayaan besar-besaran di seantero kekaisaran itu, di bawah Decius—anda harus sadar—itu juga merupakan masa ketika Kaisar merasa di bawah tekanan besar. Pertengahan abad ke-3 seringkali diidentifikasikan sebagai sebuah krisis dalam Kekaisaran Romawi. Ada banyak penentangan internal, ada banyak—apa yang Ramsey MacMullen identifikasikan sebagai—korupsi yang merajalela di kalangan bangsawan, dari Kaisar sendiri sampai ke bawah. Ada perasaan mereka tengah dikepung musuh di perbatasan, bahwa orang-orang barbar akan datang sewaktu-waktu, orang-orang Persia itu berbahaya, suku-suku Jerman itu berbahaya, dan sebagainya dan sebagainya. Ada perasaan kuat bahwa apapun yang mengacau kontrak yang sudah sangat tua antara orang-orang Romawi dengan para dewa adalah sangat berbahaya bagi kita. . . . Ini adalah salah satu dari faktor-faktor yang membuat krisis itu terasa lebih menyengat, yang diekspresikan dengan penganiayaan terhadap gereja. . . .

PENGANIAYAAN: VERSI  HOLLYWOOD

Mengapa orang-orang Kristen dianiaya?

Mengapa orang-orang Kristen dianiaya? Ini adalah salah satu pertanyaan besar yang diturunkan dari generasi ke generasi. Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa pandangan Hollywood yang sudah begitu mapan tentang Kristianitas sebagai semacam komunitas bawah-tanah yang teraniaya, yang sembunyi-sembunyi di sekitar katakomba-katakomba selama tiga abad sebelum akhirnya mereka menampakkan diri setelah pertobatan Constantine—itu jelas tidak mungkin benar. . . . . Sebelum tahun 250, kita dapatkan bahwa penganiayaan terhadap orang-orang Kristen itu jarang terjadi, dan kalau pun terjadi, itu sifatnya lokal, dalam skala kecil, dan dengan penyebab-penyebab yang murni bersifat lokal. Tetapi pertanyaannya tetap, sebab hal-hal yang kita lihat sebagai terjadi memang cukup mencolok mata, setidak-tidaknya di mata kita: mengapa orang-orang menganiaya mereka? Di manakah muncul kecurigaan bahwa mereka melakukan segala macam hal yang anti-sosial atau berbahaya, misalnya kanibalisme, atau hubungan seksual inses, atau orgi, atau hal-hal semacam itu? Mereka beda. Mereka adalah orang-orang yang, dengan sesuatu  cara, menegaskan batas-batas mereka dari masyarakat yang lebih luas dengan menggunakan ritual-ritual mereka, yang mengakibatkan orang-orang beralih agama—orang-orang pada berpaling dari dewa-dewa dan menoleh ke arah Tuhan yang satu, yang hidup dan benar, seperti Paulus katakan dalam surat 1 Thessalonians. Itu berarti mereka tidak akan berpartisipasi dalam banyak acara-acara keagamaan, tetapi juga acara-acara kemasyarakatan atau kenegaraan, yang muncul dalam masyarakat biasa sebuah kota Romawi atau Yunani. Itu pasti membangkitkan kecurigaan. Mengapa orang-orang Kristen tidak berpartisipasi dalam ritual-ritual yang penting untuk memeliharan hubungan antara masyarakat kita dengan dewa-dewa?

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

KEMARTIRAN PERPETUA

Salah satu dokumen paling mencengangkan yang bisa diperoleh para sejarawan Kristianitas purba adalah catatan harian penjara seorang wanita muda yang tewas sebagai martir pada tahun 202 atau 203 di Carthage, sebagai bagian dari perayaan kenegaraan. Namanya Perpetua. Dan dia bersikeras menghendaki mati dibunuh. Itu adalah cerita yang rumit dan mencengangkan. Catatan harian itu berbentuk sandwich. Editor memperkenalkan ceritanya, kemudian ada catatan harian otentik tulisan Perpetua sendiri, yang kemudian penutup oleh editor.

Perpetua menjadi perhatian gubernur karena ulahnya yang sengaja. Dan dia benar-benar menghendaki dilemparkan ke arena binatang buas. Ada adegan pengadilan yang sangat menggetarkan ketika ayah Perpetua sampai mengemis-ngemis padanya dan, akhirnya, benar-benar memukuli dia. Dan Gubernur terpaksa memerintahkan tentara menyeret si bapak pergi. Dan gubernur bertanya, “Please, tidak maukah kamu bekerja sama?” Dan Perpetua, yang bahkan bukan orang Kristen yang dibaptis, yang masih belajar tentang agama itu, mengatakan, “Tidak, aku orang Kristen.” Nah, tidak ada perburuan besar-besaran terhadap orang-orang Kristen [di situ]. Perpetua dikunjungi oleh orang-orang Kristen lain di penjara. Andaikata gubernur berusaha menangkap semua orang Kristen di Carthage, ia tinggal menangkap siapa saja yang mengunjungi Perpetua. Tapi itu tidak dia lakukan. Perpetua adalah apa yang oleh para sejarawan dijuluki seorang “overachiever”—orang yang kelewat bersemangat ingin menampilkan diri sebagai sesuatu. Dia bersikeras dibunuh sebagai martir sebagai bagian dari kesaksian Kristennya. Dia serahkan bayinya pada keluarganya, sebab dia masih menyusui. Dan ia berbicara tentang hal itu. Dan dia benar-benar menghendaki mati sebagai martir karena dia bilang—dan kita harus mempercayai dia, itu satu-satunya kata yang kita dapatkan dari dia—sebab dengan berbuat demikian, ia bisa mendekati Tuhan lewat Yesus . . . .

Catatan harian yang otentik berakhir sebelum Perpetua digiring kedalam arena. Sebagai penutup catatan harian itu ada sebuah deskripsi oleh seseorang yang menyajikan kisah kepahlawanan tadi.  Mayoritas orang-orang Kristen tidak mengajukan diri secara sukarela untuk dijadikan martir. Alasan pertama, tidak akan ada audiens bagi kisah-kisah martir itu. Alasan lain, kita mendapatkan, secara doktrinal, evolusi penyesalan/pertobatan sebagai salah satu cara untuk  merangkul kembali orang-orang Kristen yang pernah bersimpang jalan ketika menghadapi penganiayaan. Jadi Perpetua sebenarnya tengah dilestarikan oleh komunitasnya sebagai seorang role model. Ia menandai batas heroik dengan mana orang-orang Kristen bisa mengukur diri mereka sendiri. Dia digiring memasuki arena. Dia, dengan kesucian heroik, menghadapi binatang-binatang buas dan gladiator-gladiator, dan akhirnya, setelah disiksa oleh beberapa ekor binatang, seorang gladiator dikirim masuk ke arena untuk menghabisi nyawanya.  Itu adegan yang benar-benar gila dan menggetarkan; tangan si gladiator begitu gemetaran sampai dia tidak bisa memenggal wanita itu. Dan Perpetua meraih tangan gladiator itu dan mengarahkan pedang menembus tenggorokan Perpetua sendiri. Itu semacam bunuh diri dengan bantuan orang lain. . . .

Ada orang-orang lain, anggota-anggota komunitas Perpetua sendiri, dan orang yang paling menarik bagi saya adalah seorang gadis budak  yang juga salah seorang dari kelompok itu. Namanya Felicitas. Dia sedang hamil tua ketika kelompok itu dijebloskan kedalam penjara. Dan mereka semua berdoa mengelilinginya sehingga dia bisa melahirkan bayinya sebelum memasuki arena.  Dan dia juga dibunuh bersama-sama kelompok itu. . . . .

Ada rasa kebersamaan yang intens yang mempersatukan orang-orang itu, yang bersikeras ingin mati sebagai martir. Mereka saling menjaga. Ada adegan yang sangat menyentuh ketika Perpetua dan Felicitas saling membantu . . . . membenahi pakaian satu sama lain setelah diseruduk dan dibrakoti hewan-hewan buas itu. Dan akhirnya mereka berpamitan di kehidupan yang ini dengan ciuman kedamaian.

STATUS HUKUM KRISTIANITAS

Bagaimana status hukum Kristianitas [di sekitar masa kematian Perpetua]?

Sulit untuk melacak status hukum Kristianitas di abad ke-2 dan ke-3. Apa yang terjadi sebagai akibat dari penyebaran gerakan itu adalah bahwa kita mendapatkan, di jaman Romawi kuno, sebuah populasi yang sepenuhnya non-Yahudi yang, praktisnya, mengklaim hak-hak istimewa orang Yahudi tetapi pada saat yang sama menandaskan bahwa mereka bukan orang Yahudi. Yudaisme sudah lama mencapai sebuah kesepakatan hukum dengan Kaisar bahwa orang-orang Yahudi tidak akan dipaksa berpartisipasi dalam ritual-ritual kafir. Dan ritual-ritual kafir adalah bagian dari jalinan kehidupan normal di kota-kota Romawi. Orang-orang Yahudi dibebaskan dari hal itu karena orang-orang Romawi tahu bahwa orang-orang Yahudi merasa sangat risih dengan hal-hal seperti itu. Tetapi seorang non-Yahudi yang menolak berpartisipasi dalam kultus kenegaraan tidak mempunyai perlindungan hukum. Jika mereka non-Yahudi, maka yang layak dilakukan adalah menghormati dewa pribadi Kaisar dan dewa-dewa kekaisaran dan dewa-dewa kota. Dan dengan menandaskan bahwa mereka tidak mau melakukan hal itu, orang-orang Kristen tertentu membuat diri mereka sendiri menjadi pusat perhatian, dan menjadikan diri sendiri sasaran tindakan hukum para gubernur. . . . .

Dalam arti tertentu, paganisme adalah artikulasi religius dari warga negara Romawi. Civitas adalah kota. Seorang civis adalah seorang warga kota, dan . . . . analogi antara keluarga dan kota dilakukan secara kontinyu, dalam filsafat, dalam kesalehan populer. Jika anda membebaskan diri dari hal itu, akan ada konsekuensi-konsekuensi sosial yang nyata. Dan ini adalah salah satu alasan, saya kira, bagi penganiayaan orang-orang Kristen. Orang-orang Kristen, yang membebaskan diri dari hal itu, dikecam karena—wah, saya terpaksa bicara dengan dialek California, tapi sebenarnya idenya memang mirip—karena mengacaukan getaran-getarannya, mengacaukan harmoni simpatik antara bumi dan langit.  Mereka melepaskan diri dari kedamaian para dewa, Pax Deorum, dan karena itu seorang bapa gereja, Tertullian, mengatakan, di penghujung abad ke-3, “setiap kali sungai Tiber meluap, atau sungai Nil tidak meluap, orang-orang langsung berteriak, ‘Lempar orang-orang Kristen ke kandang singa.’” Yang saya maksudkan khususnya adalah orang-orang Kristen non-Yahudi. Memang ada Kristen Yahudi, tetapi dalam literatur. . . . orang-orang Kristen non-Yahudi lah yang memenuhi kisah-kisah martir yang kita miliki. Mereka telah menjadikan diri sendiri orang aneh di kota mereka sendiri. dan karena itu mereka cenderung dikaitkan dengan setiap hinaan yang biasanya dilontarkan tentang eksistensi manusia. Sampar. Gempa bumi. Banjir. Itu semua terjadi karena orang-orang Kristen—orang-orang non-Yahudi yang tidak menjalankan kewajiban mereka pada dewa-dewa. . .  . jadi buat apa dewa-dewa berbuat sesuatu bagi kota itu? Dan begitulah anda mendapatkan orang-orang Kristen diseret ke depan gubernur dan ke depan pengadilan-pengadilan dan didakwa sebagai penyebab segala macam onar dan bencana.

Apakah menganiaya orang-orang Kristen itu kebijakan resmi Kekaisaran Romawi?

Semua kekaisaran mempunyai urusan yang lebih penting daripada menganiaya ibu-ibu yang sedang menyusui—tentu saja ini contoh dari Perpetua. Kaisar-kaisar cenderung tidak begitu mempedulikan apa yang orang-orang sedang kerjakan selama pelayan-pelayan dan kuda-kuda tidak diusik, pajak-pajak dibayar, dan tidak satu orang pun mengobarkan pemberontakan. Jadi, kekaisaran-kekaisaran pada umumnya—dan yang ada di benak saya khususnya adalah Kekaisaran Romawi—dalam hal agama cenderung bersikap sangat ekumenis. Jika anda mempunyai wilayah politis raksasa yang masih terus berkembang, dengan seribu-satu agama yang berbeda-beda dalam batas-batas negara, anda tidak peduli pada apa yang dilakukan orang-orang secara keagamaan. Anda cuma ingin pajak anda dibayar. Jadi fakta bahwa kita mempunyai bukti yang tidak bisa diperdebatkan bahwa orang-orang Kristen tengah dianiaya mengisyaratkan beberapa hal penting mengenai pertumbuhan gerakan itu dan kondisi sosial kekaisaran.

Sebelum tahun 250, penganiayaan terhadap orang-orang Kristen bersifat sporadis. Lokal.  Improvisasi. Itu tergantung pada kebijaksanaan seorang gubernur pada siapa keluhan-keluhan diajukan, dan sebagainya dan sebagainya. Itu bukan kebijaksanaan sapu bersih dan bukan kebijaksanaan kekaisaran. Setelah 250, ketika kekaisaran sedang dihajar di setiap perbatasan oleh pasukan-pasukan dari luar, ketika inflasi merajalela, maka terjadi instabilitas pemerintahan yang sulit dipercaya. Rata-rata ada dua atau tiga kaisar tiap tahun. Mereka silih berganti dibunuh. Itu jaman yang luar biasa kacau. Di titik itu pula anda mulai mendapatkan ekspresi kekaisaran tentang penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Tapi yang satu ini juga menarik. Menjadi orang Kristen bukanlah pelanggaran kejahatan. Yang harus anda lakukan cuma mendapatkan surat keterangan, yang menyatakan bahwa anda telah menyelenggarakan korban demi kesejahteraan kekaisaran. . . . Ada berbagai tanggapan yang berbeda-beda antara komunitas Kristen yang satu dengan yang lain. Anda bisa menyuruh pelayan anda pergi dan melakukannya untuk anda. Mungkin dia juga orang Kristen, tapi, anda tahu lah, itu kan urusan dia. Bayar saja dia. Dia akan mendapatkan dua SK dan anda aman. . . . Atau anda bisa membayar SK itu tapi tanpa benar-benar melakukan korban tadi jika anda bisa menyogok teman anda yang jadi hakim. Atau anda bisa jalan terus saja dan lakukan pengorbanan itu, karena tahu bahwa dewa-dewa itu toh bukan apa-apa. Betul, itu ada di. . . . surat-surat Paulus, bahwa dewa-dewa itu bukan apa-apa. Ada seribu satu cara untuk mengatasi hal itu. Tetapi beberapa orang memang secara absolut menolak mematuhi peraturan itu sama sekali. Dan mereka adalah orang-orang—lagi-lagi—minoritas yang heroik tadi—yang akhirnya dimartirkan oleh pasukan pemerintah.

Apa impak dari martirdom itu? Apa impak orang-orang seperti Perpetua?

Martir-martir itu adalah minoritas yang heroik. Mereka tidak mewakili komunitas secara luas. Kita tidak mendapatkan puluhan ribu orang dimartirkan. Yang kita dapatkan adalah puluhan ribu orang yang mengagumi segelintir orang yang dimartirkan. Jadi dari sudut pandang itu, sebagaimana setiap ekstrim, seorang martir menandai sesuatu puncak spiritual yang harus dikagumi, tapi yang tidak lantas harus ditiru. Dari sudut pandang itu, cerita-cerita tentang martir mempunyai efek luar biasa pada imajinasi orang-orang Kristen, sebab siapa sih martir Kristen yang pertama? Yesus sendiri. Dengan jalan secara heroik memberikan kesaksian atas kepercayaannya sendiri, dalam arti tertentu, dan menentang pengadilan pemerintah yang bersikap memusuhi. Jadi ada semacam kontinuitas imajinatif antara Kristus dengan sang martir.

Yang paling menarik adalah ketika jaman heroik itu berhenti dan ketika Gereja sendiri berubah menjadi sesuatu bentuk kebudayaan imperial Romawi, setelah pertobatan Constantine pada tahun 312. Di situlah puncak merebaknya kultus martir. Tempat-tempat kudus para martir, relikui-relikui tubuh  martir, liturgi-liturgi yang ditulis bagi martir-martir. Ada energi yang luar biasa ketika beribadah di makam-makam para martir . . . . setelah jaman martir itu sendiri berhenti. Dan saya kira, dari sudut pandang tertentu, itu adalah usaha Kristianitas untuk mengklaim kembali sejarah heroiknya sendiri setelah dia menjadi salah satu lengan pemerintah—itu sendiri—dan, tentu saja, mulai menganiaya orang-orang Kristen yang lain. Lebih banyak orang Kristen dianiaya oleh pemerintah Romawi setelah pertobatan Constantine,  ketimbang sebelumnya. Perbedaannya, sekarang pemerintah Kristen lah yang menganiaya orang-orang Kristen yang lain.

Elizabeth Clark:

John Carlisle Kilgo Professor of Religion and Director of the Graduate Program in Religion Duke University

POLIKARPUS

[Cerita tentang Polikarpus adalah salah satu dari cerita-cerita martir pertama kita]. Polikarpus adalah seorang uskup sebuah tempat yang disebut Smyrna, yang sekarang berada di Izmir di Turki, dan pada usia yang sudah sangat lanjut ia diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman mati. . . . Barangkali kemartirannya terjadi sekitar tahun 165, plus minus beberapa tahun. Kita tidak begitu yakin tentang hal itu. Yang penting mengenai kisah tentang kemartiran Polikarpus itu, yang ditulis oleh gereja Smyrna. . . . adalah bahwa kisah itu cenderung menyajikan kemartiran Polikarpus sebagai meniru “kemartiran” Yesus—dari sudut pandang tertentu. Maksudnya, ada seorang pejabat pemerintah bernama Herodes yang ikut bertanggung-jawab atas kematian Polikarpus. Polikarpus dinaikkan ke atas seekor keledai dan diarak masuk ke kota. . . . . Para pejabat kafir berusaha memaksa Polikarpus mengingkari kepercayaannya. Mereka menyuruhnya mengutuk Kristus, yang selalu dianggap sebagai pertanda yang meyakinkan sehingga anda benar-benar bukan orang Kristen jika anda mengutuk Kristus, dan . . . . memercikkan dupa ratus bagi Kaisar untuk menunjukkan penghormatan anda pada dewa-dewa Romawi dan pada kekaisaran. Polikarpus menolak melakukan hal-hal itu dan dieksekusi dengan cara dibakar. Salah satu feature yang menarik dari cerita itu adalah bahwa komunitas Polikarpus harus pergi dan mengambil tulang-tulangnya setelah dia dihukum mati. Itu menjadi salah satu kejadian pertama yang kita miliki mengenai apa yang kemudian berkembang menjadi kultus martir. . . . . praktek menyimpan potongan-potongan tubuh dari orang-orang yang dimartirkan dan memperlakukannya dengan sangat hormat. Banyak di antara kisah-kisah martir yang ditulis di jaman Polikarpus cenderung mengikuti model dasar itu.

PENGARUH KISAH-KISAH MARTIR

Bagaimana kisah-kisah martir itu berperan dalam membangun Kristianitas pada masa itu? Impak apa yang mereka berikan?

Saya kira kisah-kisah martir yang kemudian beredar itu sangat penting bagi perkembangan Kristianitas purba. Beberapa dari kisah martir itu berbicara tentang—tentu saja kita tidak tahu bagaimana menghakimi kebenaran historis dari cerita-cerita itu—tetapi mereka memang mengatakan bahwa ada orang-orang kafir yang hadir pada waktu pemartiran itu dan yang terkesan oleh . . . . keberanian orang-orang Kristen itu sehingga belakangan mereka melihat kebenaran dari agama Kristen itu dan tak lama kemudian pindah ke Kristianitas. . . . Tapi, barangkali, sebagian besar dari kisah-kisah martir itu ditulis untuk orang-orang Kristen lain untuk memperkuat iman Kristen di masa penganiayaan. Untuk mendongkrak keberanian anda kalau-kalau hal seperti itu juga menimpa anda. Tetapi secara umum para pemimpin Kristen tidak mendorong orang-orang untuk mengajukan diri secara sukarela sebagai martir. Kita mempunyai cerita-cerita yang lumayan banyak dalam buku-buku itu di mana dalam suatu semangat yang menggelora seseorang lari memasuki arena dan berseru, “Martirkan aku!” dan kemudian ketika binatang buasnya datang mengejar, mereka berubah pikiran, dan hal itu menimbulkan perasaan malu dan aib pada Kristianitas. Jadi kemudian dipikirkan bahwa tidak mengajukan diri secara sukarela itu sama sekali bukan masalah, dan mengajukan diri sebagai martir hanya jika terdesak dan benar-benar tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri.

MASALAH ORANG-ORANG YANG INGKAR

[Apakah banyak orang Kristen mengingkari kepercayaannya selama penganiayaan itu?]

Setelah kedua penganiayaan besar-besaran di abad ke-3 dan awal abad ke-4—ini adalah penganiayaan di bawah Kaisar Decius yang terjadi sekitar tahun 250 dan kemudian penganiayaan di bawah Kaisar Diocletian di tahun-tahun awal abad ke-4—ada masalah yang cukup serius bagi gereja karena banyak orang Kristen tidak memiliki otot-otot moril sealot orang-orang yang mendatangi kematian mereka sendiri sebagai martir. Mereka bersedia mengingkari kepercayaan mereka, memercikkan dupa bagi kaisar. . . atau menyogok pejabat-pejabat di kuil-kuil kafir agar memberi mereka sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan korban padahal kenyataannya tidak.  Semua itu menjadi masalah serius bagi gereja setelah penganiayaannya sendiri berhenti, karena banyak di antara mereka ingin kembali lagi ke gereja. Ada juga masalah karena beberapa uskup yang, katakanlah, membelot selama penganiayaan itu, padahal dulu mereka membaptis orang-orang. Pertanyaannya kemudian, apakah anda benar-benar dibaptis jika anda dulu dibaptis oleh seorang uskup yang kemudian meninggalkan kepercayaannya di masa penganiayaan itu?

Ada banyak kontroversi mengenai hal itu. Beberapa pejabat gereja bersikap sangat longgar mengenai hal itu. “Well, orang-orang pada menyesal. Kita semua toh melakukan dosa. Mereka cuma harus dimaafkan dan dirangkul kembali.” Yang lain bersikap moderat: setelah satu masa pertobatan dan memberikan pernyataan terbuka yang menarik kembali pengingkarannya dahulu, menyesali apa yang telah mereka lakukan, barulah kemudian mereka diijinkan kembali ke gereja. Ada beberapa orang garis-keras yang beranggapan jika anda telah menyerahkan kitab anda, mengingkari kepercayaan, maka tidak bisa anda menjadi orang Kristen lagi. Ada banyak kontroversi di antara orang-orang gereja di masa itu, beberapa di antaranya berlangsung sampai sangat, sangat lama. Di Afrika Utara, misalnya, kelompok orang Kristen yang disebut Donatis sepanjang abad ke-4 sampai masuk jauh ke abad-5 tetap bersikeras tidak mengijinkan orang-orang seperti itu kembali ke gereja.

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, 12 November 2009.

Baca juga: Sertifikat Pelaksanaan Penyelenggaraan Korban Kaisar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: