Magic, Mukjijat, dan Injil

27/01/2010

Sebuah lokakarya dengan pengarahan L. Michael White

Ceramah oleh L. Michael White
30 Mei 1998, Harvard University

Barangkali dalam beberapa hal, dan melebihi isu lain manapun dalam perkembangan Kristianitas purba, mukjijat merupakan salah satu wilayah yang paling problematik. Dan di dunia modern yang disebut ilmiah ini, atau dunia post-scientific ini, perlakuan terhadap mukjijat-mukjijat menjadi masalah ditinjau dari sejumlah sudut, karena kita cenderung ingin menerangkan hal-hal yang mentakjubkan dengan mengutamakan penjelasan-penjelasan yang lebih rasionalistis, banyak di antaranya memang terasa logis, dengan korban greget pesonanya hilang. Hal itu memunculkan berbagai kesulitan, sekalipun, dalam menggeluti Perjanjian Baru, saya sudah mencatat dalam kasus Thomas Jefferson bahwa Jefferson pada dasarnya menyingkirkan mukjijat-mukjijat. Dan itu memang tipikal orang-orang Englightenment. Mereka ingin menjelaskan segala sesuatu sedemikian rupa sampai rohnya sendiri justru menghilang.

Ijinkan saya memberi anda sebuah contoh klasik. Dalam kasus Yesus berjalan di atas air, ini adalah move yang tipikal digunakan: “Yesus sebenarnya tidak benar-benar berjalan di atas air. Pada waktu itu Laut Galilei sedang berkabut. Waktu itu pagi dini hari atau menjelang malam. Tiap orang tahu Laut Galilei itu bisa seperti apa, pada saat seperti itu.” Begitulah yang dikatakan. Jadi, bukannya berjalan di atas air, Yesus dinyatakan sebagai hanya berjalan di pasir pantai, mungkin dekat sekali dengan air, cukup dekat. Tetapi ketika terlihat oleh para murid yang sedang berada di atas perahu, Yesus tampak seperti berjalan di atas air. Itu adalah rasionalisasi tipikal yang biasa anda temui di jaman Enlightenment, dan sampai sekarang pun anda kadang-kadang masih mendengarnya.

Barangkali contoh yang lebih baik lagi adalah penggandaan roti. Yesus dikatakan sebenarnya tidak menggandakan roti dan ikan itu. Kita semua tahu tentang itu. Yang terjadi tidak seperti itu. Mukjijat-mukjijat tidak bekerja seperti itu. Apa yang terjadi? Well, Yesus membuat si anak kecil itu merelakan makanannya, dan hal itu memberikan sebuah contoh yang mentakjubkan tentang etika bagi semua orang lain sehingga mereka kemudian mengeluarkan bekal makanan mereka dari dalam jubah. Dan ketika mereka semua sudah mengeluarkan bekal mereka, yang ada sudah cukup untuk membuat kenyang semua orang. Nah, perhatikan apa yang terjadi dalam rasionalisasi itu. apa yang terjadi dalam rasionalisasi cerita tadi adalah—anda membuang auranya yang mentakjubkan, dan sebagai gantinya anda memasukkan moralitas. Moralitas lah yang menjadi mukjijat, moralitas lah yang menjadi transformatif. Dan itulah yang tipikal pada interpretasi Enlightenment dan post-Enlightenment mengenai mukjijat-mukjijat secara keseluruhan.

Itu juga masih terjadi sekarang, misalnya seperti yang dilakukan dalam kelompok-kelompok seperti The Jesus Seminar. Dan saya kira salah satu dari masalah-masalah terbesar dalam Jesus Seminar adalah ketidak-sediaan mereka bahkan untuk berbicara tebntang tradisi mukjijat sebagai salah satu tradisi penting dalam Kristianitas purba. Maksudnya, saya kira, salah satu perbedaan besar, katakanlah begitu, antara buku John Meier tentang Yesus (The Marginal Jew), di mana ia mengajukan diskusi yang panjang-lebar mengenai tradisi mukjijat, yang kontras dengan Jesus Seminar, yang pada dasarnya mengabaikan tradisi itu sebagai tidak historis dan karenanya tidak penting untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak ingin bicara tentang cerita-cerita mukjijat dalam injil-injil sebagai penting bagi perkembangan tradisi injil. Dan saya kira pada dasarnya hal seperti itu lah yang membuat penelitian historis mengalami korslet.

Kita harus menganggap mukjijat-mukjijat itu dengan serius, dengan dasar karena kita menganggap aspek-aspek lain dari tradisi itu juga dengan serius. Orang-orang di jaman kuno itu secara literal, secara serius, percaya bahwa mukjijat betul-betul terjadi. Dan kita harus menempatkan diri kita sendiri kedalam alam pikiran mereka untuk memikirkan hal itu, dan kemudian mencermati bagaimana kisah-kisah itu bekerja, dengan kepercayaan mereka ada di latar depan pembahasan kita, bukannya memulai pembahasan dengan mengatakan “Mukjijat tidak ada.” Jadi kita harus melepaskan pikiran modern kita untuk sementara dan berpikir dengan alam pikiran kuno itu. Dan itulah yang saya ingin coba sarankan dengan beberapa dari diskusi-diskusi siang ini, dan kemudian secara aktual membuka kisah-kisah itu sedikit demi sedikit dan mencermati bagaimana mereka sebenarnya bekerja dalam tradisi itu.

Ada satu aspek lain lagi mengenai hal ini, dan itu adalah bagaimana aura kemukjijatan itu bergayut dengan tradisi tentang Yesus dan tentang keilahian Yesus itu sendiri. Mukjijat-mukjijat itu sendiri mempunyai posisi yang ambivalen dalam Kristianitas purba. Bukannya mukjijat-mukjijat itu digunakan secara seragam. Misalnya: Paulus. Nah, kita sudah berbicang-bicang tentang Paulus sebagai sumber penting paling tua yang ada pada kita untuk sebagian besar dari tradisi lisan mengenai Yesus. Tetapi apa yang menarik pada Paulus adalah, ia tidak pernah menyebutkan satu pun mukjijat Yesus, selain kebangkitan kembali itu. Yesus pekerja mukjijat tidak menjadi bagian dari teologi Paulus. Jadi jika asumsi normal anda, yang didasarkan pada tradisi injil-injil yang datangnya kemudian itu, adalah bahwa mukjijat-mukjijat itu secara absolut adalah karya-karya Yesus, Paulus tidak mempunyai teologi itu sama sekali. Paulus tidak mempunyai versi tradisi Kristen yang menekankan mukjijat-mukjijat Yesus sebagai sentral bagi pemahaman tentang siapa Yesus itu dan di mana tempatnya dalam tradisi Kristen. Injil-injil itu, tentu saja, agak beda.

Satu aspek lain lagi mengenai hal ini—dan ini maha penting—adalah bahwa, mungkin melebihi aspek lain manapun mengenai titulature Yesus, mengenai gelar-gelar yang dikaitkan dengan Yesus dan teologi, setidak-tidaknya sebagaimaan hal itu secara umum dipandang sejak Abad Menengah, adalah bahwa gelar Putera Allah adalah yang paling terkait dalam pikiran umum itu dengan tradisi-tradisi mukjijat (kelahiran yang miraculous dan kemampuan untuk membuat mukjijat-mukjijat). Kenyataannya, dalam Injil Yohanes, itu digunakan secara eksplisit. Yesus membuat banyak tanda-tanda lain dan mukjijat-mukjijat lain. Dan jika kita berusaha menuliskan semua itu, buku yang akan mereka penuhi tidak akan terhitung. “Tetapi semua ini diberikan agar kamu percaya bahwa Yesus Kristus adalah Putera Allah.” (Itu Yoh 20:31.)  Dan hubungan itu, antara kekuasaan mukjijat dengan sifat ilahi Yesus, adalah hubungan yang sangat penting dalam tradisi injil-injil belakangan.

Tetapi sejak jaman Enlightenment, di mana orang-orang yang mengabaikan mukjijat sudah begitu dominan, hubungan tadi lantas terputus, dan diganti dengan beberapa hal baru. Di satu pihak, kecenderungan untuk merasionalisasikan mukjijat-mukjijat melalui penjelasan ilmiah, dan memperlakukan mukjijat-mukjijat lain melalui skeptikisme, telah mengakibatkan dibalikkannya cara berpikir orang mengenai mukjijat-mukjijat dalam tradisi Yesus—dan ini menarik. Misalnya, jika semua elemen yang miraculous yang kita lihat di seantero dunia kuno itu cuma klenik omong kosong, maka mukjijat-mukjijat Yesus adalah mukjijat-mukjijat sungguhan, dan semua mukjijat lain adalah mukjijat bohong-bohongan. Well, mengapa mukjijat-mukjijat Yesus adalah mukjijat sungguhan, dan tidak satu pun mukjijat lain di dunia kuno mukjijat itu sungguhan? Jawab: karena dia Putera Allah. Anda lihat apa yang terjadi? Aspek itu tadi, yang diharapkan membuktikan bahwa ia adalah Putera Allah dalam tradisi Yohanes, telah dibalikkan di muka anda, sehingga mukjijat-mukjijat Yesus adalah mukjijat-mukjijat sungguhan karena dia Putera Allah, sementara mukjijat-mukjijat lain di dunia kuno itu tidak benar. Dan saya akan mengatakan bahwa baik sikap secara radikal mengesampingkan mukjijat-mukjijat maupun pembalikan terhadap penggunaan mukjijat-mukjijat itu (untuk membuktikan bahwa mukjijat-mukjijat Yesus itu sungguhan). . . . . kedua-duanya tidak selaras dengan dunia kuno itu dan dengan penggunaan mukjijat-mukjijat dalam tradisi injil.

Nah, mari kita lihat dalam beberapa konteks yang akan membuat hal ini terasa nalar, karena dalam arti itu, setidak-tidaknya bagi sebagian besar orang di abad pertama dan sepanjang jaman kuno, dan kenyataannya sepanjang sebagian besar Abad Menengah, mukjijat-mukjijat betul-betul terjadi. Kekuatan magis adalah nyata. Tetapi ini tidak berarti bahwa mereka tidak bisa dipahami atau irrasional. Ada sebuah penjelasan, sebuah pemahaman mengenai tatanan dunia ini yang memungkinkan hal-hal yang mukjijati itu terjadi. Itu yang saya maksudkan dengan pandangan dunia magis.

Nah, pembuatan mukjijat-mukjijat yang mengubah hakekat ini-itu atau yang menyembuhkan seseorang (cara tipikal kita memikirkan kisah-kisah mukjijat), aspek mukjijat itu hanyalah salah satu bagian dari tradisi magis. Ada divination, orakel, tafsir mimpi, sihir, kutukan, dan banyak aspek-aspek lain tenang pengobatan dan penyembuhan. Semua itu adalah bagian dari pandangan dunia magis, begitu pula semua aspek dari apa yang boleh kita sebut agama lugu. Jadi mereka tidak memilah-milah, dengan cara-cara seperti yang dilakukan oleh orang-orang modern ilmiah, antara religiositas klenik dengan religiositas nyata atau agama nyata. Dan bahkan definisi-definisi teologis dan sosiologis modern yang berusaha memebdakan antara praktek-praktek magis dengan agama (yang satu klenik, yang lain rasional dan intelektual), saya kira, juga cacat karena dari arah yang keliru berusaha memahami apa yang terjadi di dunia kuno. Sebab di dunia kuno, hal-hal magis menjadi bagian dari struktur yang sangat magis tentang dunia ini, yang menggaris-bawahi pandangan religius setiap orang, baik Yahudi maupun kafir. Dan mekanisme magic tampak menonjol setiap kali orang menemui diskusi-diskusi kuno mengenai kosmologi dan tatanan yang tercipta, termasuk dalam teks-teks apokaliptik Yahudi.

Misalnya, ada teks yang mentakjubkan ini, yang disebut 1 Enoch. Itu adalah cerita tentang bagaimana malaikat-malaikat memberontak terhadap Tuhan dan ditendang keluar dari surga. itu adalah cerita tentang Setan, yang ditulis mungkin sekitar tahun 200 SEB, atau mungkin sedikit lebih tua lagi. Tetapi di dalamnya, cerita itu menjelaskan asal-usul kekuatan-kekuatan mukjijat dari efek-efek jahat yang oleh para malaikat yang terusir dibawa ke bumi. Tetapi eprhatikan, teks itu (yang merupakan salah satu dari teks-teks pendahulu kita yang sangat penting bagi perkembangan Kristianitas purba), menjelaskan mengapa mukjijat-mukjijat benar-benar terjadi di dunia ini. Nah, mereka kekuatan-kekuatan setani, mereka jahat, tetapi mereka tetap nyata. Dan anda tetap membutuhkan sesuatu untuk melawan mereka, itu juga sama-sama nyata, dan kenyataannya bahkan lebih kuat. Dan itu sebabnya anda mencari-cari malaikat pelindung dan kekuatan-kekuatan mukjijati yang setara. Nah, ini adalah sebuah tradisi Yahudi kuno yang mulai menjadi faktor yang masuk ke pandangan dunia magis lewat sebuah dualisme apokaliptik: baik dan jahat, gelap dan terang, dan sebagainya dan sebagainya, aspek-aspek lain dari apa yang menciptakan lingkungan politis. Nah, kita lihat ini adalah bagian dari tradisi mukjijat itu sendiri.

Dan kita melihat hal itu secara ekstensif lewat dunia keagamaan Greko-Romawi, dengan sejumlah praktek-praktek filosofis maupun populer. Penjelasan standar mengenai magic di antara para filsuf Greko-Romawi, khususnya para Stoik, didasarkan pada sebuah pandangan dunia Yunani, di mana planet-planet dan matahari dan bintang-bintang beredar mengitari bumi. Tetapi itu adalah sebuah lingkup yang tertutup, dengan cangkang yang keras di laurnya. Tak ada ruang yang tanpa batas. Dan lingkup tertutup yang bernama dunia itu, di mana mereka hidup, setidak-tidaknya sejauh yang mereka pikirkan tentang realita mereka, lingkup itu dihuni oleh sesuatu plasma yang menyelimuti segala sesuatu. Plasma itu, yang persis seperti darah anda yang mengalir di sekujur tubuh anda—jika anda meggoyangnya di titik sini, anda akan mendapatkan efek di titik sana, persis sebagaimana setiap sistem benda cair. Begitulah magic bekerja. Jika anda bisa menarik benang yang tepat di titik sini, anda bisa membuat sesuatu terjadi di titik sana. Dan mereka memperlakukan hal itu sebagai sains.

Nah, hal itu juga memiliki elemen superstitious. Dan istilah-istilah serta praktek-praktek serta sistem-sistem serta buku-buku resep dan segala macam feature lain dari dunia magic yang pernah dikenal orang. Jadi “abra cadabra”—ucapan terkenal yang tiap orang pernah dengar itu—sebenarnya adalah sebuah formula magic yang amat sangat kuno. Ambil saja alfabetnya, tambahkan beberapa bunyi vokal, dan anda akan mengubahnya menjadi sebuah kata yang kedengaran spooky, setidak-tidaknya dari perspektif Yunani.

Ketika Yesus dalam injil-injil, khususnya dalam Injil Markus, membuat sebuah mukjijat dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Aramaik, apa yang ia lakukan, atau setidak-tidaknya apa yang penulis injil Markus itu lakukan, dari perspektif Yunani, adalah menggunakan kata-kata magic yang kedengaran mistis. Ablanathan alba. Itu adalah sebuah palindrome. Palindrome itu spooky dan magical. Dan segala macam hal seperti ini ditemukan di seluruh penjuru dunia kuno.

Salah satu harta karun amat berharga yang ditemukan oleh para ahli di abad terakhir ini adalah sesuatu yang dijuluki Paris Magical Papyrus, dan secara literal itu adalah sebuah buku masakan isi resep-resep magic kuno yang dikumpulkan oleh seseorang dan yang dulu biasa dijual. Anda butuh pelet asmara? Pergilah ke seorang magician, belilah sebuah pelet asmara, pulang ke rumah dan kerjakan apa yang dia perintahkan, dan anda dijamin akan mendapatkan si gadis idaman. Anda punya saingan bisnis yang tidak anda sukai? Cari sebuah tenung. Dan sebagainya dan sebagainya. Dan buku resep itu betul-betul sudah di tangan kita, dan buku itu menunjukkan bagaimana cara kerjanya.

Ini ada satu contoh: Untuk orang-orang yang kerasukan roh jahat, sebuah mantra oleh Pibicus. Ambillah minyak dari buah-buah zaitun yang belum masak bersama-sama dengan tanaman mastiga dan bagian dalam yang lunak dari batang lotus, dan didihkan bersama marjoram, dan ucapkan—nah, perhatikan, anda harus melakukan sesuatu, dan anda harus melakukannya dengan benar, dan kemudian anda mengucapkan sesuatu. Itu formula yang akan mengawali semua yang lain. Dan kemudian anda mengucapkan “Io el asothormi emari”—dan sebagainya dan sebagainya, kata-kata yang panjang dan kedengaran aneh. Tapi itulah magicnya. Dan anda tidak akan mendapatkan ucapan-ucapan itu kecuali dari si pemberi magic. Dan begitulah anda membuat ramuannya. Dan anda menuliskan sebuah philactery—itu sebuah jimat kecil— pada sepotong seng kecil, dan menggantungkannya di sekitar si penderita. Itu akan membuat gemetar semua roh jahat, sebab itu yang paling ditakuti. Dan kemudian anda berdiri ebrhadapan dengan orang yang kerasukan roh jahat, dan anda mengucapkan, “Aku perintahkan kau, Setan, keluar dari dalam tubuhnya,” dengan menggunakan formulanya. Dan kemudian anda mendapatkan formula yang beda lagi, “Aku perintahkan kau dengan kuasa Tuhan orang-orang Hibrani, Jesu Jaba Jae Abro Ie tos.” Dan seterusnya dan seterusnya. Dan begitulah cara kerjanya.

Tapi perhatikan apa yang baru saja kita bicarakan. Ini adalah sebuah buku resep magic kafir, yang menyebut-nyebut Tuhan orang-orang Hibrani dengan nama Jesu (Yesus) sebagai sebuah formula khusus untuk mengusir setan. Dari mana mereka mendapatkan ide seperti itu? Tentu saja buku itu mencerminkan apa yang juga kita lihat dalam tradisi injil-injil. Yesus adalah seorang pekerja mukjijat yang kuat, dan dalam banyak hal secara khusus mengusir setan-setan. Tetapi itu juga cerminan dari sinkretisme yang maha besar itu, yang campur-aduk dengan segala macam tradisi agama yang kita temukan di seluruh penjuru dunia kuno. Dan itu sebenarnya, saya kira, adalah sebuah teks yang luar biasa, tetapi hanya satu dari amat sangat banyak teks-teks lain.

Nah, apa yang kita ketahui tentang magic dunia kuno datang dari dua sumber utama. Pertama, kita mendapatkan teks-teks magic seperti yang baru saja saya sebutkan tadi, yang memberi kita cara kerja batiniah magic, dan bahkan para filsuf, yang disebut para rasionalis dunia kuno, yang menerangkan bagaimana mereka bekerja. Kita mempunyai teks-teks sendiri, dan kita bisa mencermati proses magic. Kedua, sumber penting lain tentang magic adalah, kita punya cerita-cerita. Kita punya cerita-cerita tentang para magicians dan pekerja mukjijat. Dan satu dari bentuk-bentuk terpenting dari cerita-cerita itu adalah cerita-cerita novelistik mengenai apa yang biasanya kita sebut orang-orang kudus, maksudnya orang-orang yang memiliki kemampuan-kemampuan istimewa, orang-orang yang malang melintang di dunia kuno dalam jumlah lumayan besar, dan yang banyak hal tampak seperti Yesus.

Kenyataannya, salah satu dari yang paling terkenal adalah orang yang bernama Apollonius dari Tyana, orang-orang yang benar-benar pernah ada, sejaman dengan Yesus, tetapi mengenai dia ditulislah sebuah biografi yang luar biasa pada awal abad ketiga, yang melukiskan kelahirannya yang bernuansa mukjijat, masa kanak-kanaknya yang luar biasa, dan menghilangnya dia di akhir hidupnya sehingga dia hanya seolah-olah saja mati tetapi sebenarnya tidak mati, dan sejumlah hal-hal lain. Kenyataannya, kitab itu tampak sekali seperti sebuah biografi injil tandingan, tetapi bukan untuk kultus Yesus, melainkan untuk kultus Apollonius dari Tyana. Dan salah satu dari hal-hal yang terpenting adalah bahwa Apollonius membuat mukjijat-mukjijat.

Misalnya, ini salah satu mukjijat Apollonius: seorang gadis muda rupanya telah mati pada saat ia dinikahkan, dan pengantin pria berjalan mengikuti keranda, sambil meratapi [perkawinannya yang tidak terpenuhi. Roma juga berduka, sebab kebetulan gadis itu berasal dari salah satu keluarga terbaik. Apollonius kebetulan ada ketika mereka sedang berduka, dan ia mengatakan, “Letakkan keranda itu, sebab aku akan menghentikan tangismu buat gadis itu.” Dan pada saat yang sama, ia menanyakan nama gadis itu. Orang-orang yang berada di sekitar mengira ia akan berpidato layaknya orang-orang di sebuah upacara pemakaman, untuk menegaskan dukacita setiap orang—semacam peratap bayaran. Tetapi ternyata bukan itu yang ia lakukan. Sebaliknya, ia menyentuh gadis itu, sambil mengucapkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang-orang, membangunkan gadis yang tampak sudah mati itu. Dan si gadis membuka mulut dan pulang kembali ke rumah ayahnya, persis seperti Alcestis, yang dihidupkan kembali oleh Heracles. Dan ketika kerabat gadis itu menyodorkan 150.000 keping perak kepada Apollonius, ia menjawab bahwa ia akan mengembalikan hadiah itu pada si gadis sebagai hadiah bagi mas kawin dia. Ada mukjijat yang kedengaran familier bagi anda? Menghidupkan kembali seorang gadis kecil? Itu mukjijat dari Markus 5, yang disebut mukjijat anak perempuan Jairus. Mukjijat yang amat sangat mirip. Kenyataannya, mukjijat itu mengikuti pola mukjijat injil dengan sangat persis.

Nah, tadi saya katakan bahwa pada dasarnya ada dua sumber informasi. Yang pertama adalah materi fisik yang menceritakan pada kita tentang beberapa hal. Bagian yang lain dari bukti itu adalah cerita-cerita itu sendiri. Dan saya beranggapan kita tidak bisa mengabaikan cerita-cerita itu. Apa yang kita harus lakukan adalah mencermati bagaimana mereka digunakan dan apa yang mereka katakan pada kita tentang tradisi itu. Apa yang telah saya berikan pada anda adalah sesuatu bentuk cerita mukjijat dunia kuno yang telah sangat disederhanakan. Dan saya sudah membacakan satu untuk anda. Dan jika anda mencermati bentuk alur cerita mukjijat itu, anda akan melihat bahwa mukjijat Apollonius pas sekali dengan sesuatu pola. Tetapi mukjijat-mukjijat dalam injil-injil juga pas sekali dengan sesuatu pola.

Tetapi ini yang penting dari kisah-kisah mukjijat. Kita mempunyai dua tipe dasar. Kita mempunyai mukjijat-mukjijat alam (meredakan badai laut, mengerdilkan [pohon-pohon, dan sebagainya) dan kita mempunyai mukjijat-mukjijat penyembuhan. Dan mukjijat-mukjijat penyembuhan cenderung satu dari tiga tipe dasar, yaitu penyakit-penyakit nyata, penyakit-penyakit standard, dan exorcisme, di mana penyakit-penyakitnya diakibatkan oleh kerasukan roh jahat (dan mereka menganggap roh jahat persis seperti kita menganggap kuman; anda mengusir roh jahat, anda mengusir kuman penyakit); dan kemudian resuscitasi (maksudnya, membangkitkan dari mati, di mana penyakit pada dasarnya adalah kematian). Dan itu adalah bentuk-bentuk mukjijat.

Tetapi kita mendapatkan beberapa hal menarik dalam injil-injil. Misalnya, mukjijat dalam Markus 5:7 adalah mukjijat yang menarik. Di situ Yesus ebrtemu dengan seorang lelaki yang kerasukan roh jahat. Kenyataannya, orang itu kerasukan roh jahat yang bernama Legion, karena jumlahnya ribuan. Dan ia bicara pada roh jahat itu. tetapi ketika Yesus mendekat, roh jahat itu mengatakan pada Yesus, “Aku perintahkan kau dengan kuasa Tuhan. Jangan ganggu aku, Yesus, putera Yang Maha Mulia.” Roh jahat itu ngapain? Nah, itu si roh jahat yang bicara— ingat. Ngapain dia? Ia mengexorsis Yesus agar menjauhinya. Nah, cerita dalam injil Markus itu tidak ada artinya sama sekali, jika anda tidak menangkap bahwa Markus sebenarnya tengah melakukan permainan yang komik dan ironik pada tradisi mukjijat standard, dengan jalan membuat roh jahat itu mengexorsis Yesus, sebelum Yesus bisa mengexorsis dia. Yang kita peroleh adalah seperti dua orang wizards yang tengah saling menyihir. Tetapi tentu saja dalam injil Markus, kisah itu juga dibangun agar menjadi sebuah adegan pengakuan yang sangat penting, sebab apa yang diakui oleh roh jahat itu mengenai Yesus dalam proses tadi? Injil Mateus atau Lukas tidak menyuguhkan elemen roh jahat mengusir Yesus ini. Itu seperti plintiran yang komik. Dan penulis-penulis injil itu bisa bermain-main dengan cerita-cerita dengan jalan menggunakan elemen-elemen standard dalam tradisi, tetapi membelokkannya di sana-sini untuk menyodorkan maksud-maksud teologis dan religius mereka sendiri. Itu lah yang sebenarnya terjadi dalam cerita kecil yang sangat penting itu.

Nah, saya ingin menunjukkan  pada anda, singkat saja, satu atau dua contoh cerita mukjijat dalam injil. Lihatlah teks “Meredakan Badai” dalam sebuah format injil paralel. Saya beri anda dua versi dari mukjijat itu, yaitu dari Markus dan dari Mateus. Dan apa yng bisa kita lihat pada teks itu adalah, jika anda membaca urutan teks itu dalam Mateus 8, anda menemukan bahwa mukjijat itu dimulai, dan kemudian kita mendapatkan selipan ucapan-ucapan dalam teks itu, dan kemudian mukjijatnya sendiri diteruskan, sementara dalam Markus mukjijat itu disampaikan dalam satu naratif yang tidak terputus. Kenyataannya, apa yang terjadi adalah: cerita mukjijat itu secara literal telah dipangkas separuh dalam injil Mateus. Mateus memotong cerita mukjijat yang disampaikan injil Markus menjadi separuh, dan di tengah-tengahnya lalu menyelipkan ucapan-ucapan. Dan, sungguh, ucapan-ucapan itu, jika anda membacanya: Seorang juru salin kitab mendatangi dia dan dia mengatakan, “Jangan  khawatir. Ikutilah aku. Rubah-rubah mempunyai liang, burung-burung mempunyai sarang, dan sebagainya. Jangan khawatir. Ikutilah aku.” Dan motifnya begini: Ikutilah aku. Ikutilah aku. Dan sekarang lihat apa yang terjadi dalam versi Mateus tentang mukjijat badai itu: Dan kemudian ia memasuki perahu, murid-muridnya mengikutinya. Baik Markus maupun Lukas tidak menyebutkan “mengikutinya” dalam teks. Apa yang Mateus lakukan dalam teks itu adalah dia secara literal dan secara kesastraan memodifikasi cerita muukjijat itu untuk mengetengahkan sebuah poin penting tentang “ikutilah aku”—tentang kerasulan dan kepercayaan. Dan cerita tentang meredakan badai itu menjadi sebuah cerita tentang keopercayaan murid-murid yang bersedia mengikuti Yesus. Dan keseluruhan segmen cerita Mateus di situ kenyataannya dipusatkan di seputar tema “ikutilah aku” tadi. Dan hal itu diterapkan di banyak cerita-cerita yang lain dalam injil Mateus. Dalam injil Markus, bentuk cerita-ceritanya sama, tetapi urut-urutan mukjijatnya berbeda, lokasinya sedikit berbeda, pengaturan penyajiannya berbeda, dan hasilnya juga berbeda.

Nah, cerita mukjijat dasarnya sama. Itu tidak diragukan lagi. Jika anda mengamatinya secara paralel, cerita dalam Markus dan Mateus pada dasarnya sama. Tetapi para penulis injil itu mempunyai ruang imajinasi yang memungkinkan mereka menempatkan cerita itu di tempat-tempat yang berlainan, untuk mengubah mereka secara internal, untuk mengubah kemasan kata-katanya. Ya, tentu saja, mereka percaya Yesus melakukan mukjijat-mukjijat itu. Tetapi justru karena mereka mempercayai hal itu,  maka mereka kemudian menggunakan cerita itu untuk mengetengahkan klaim-klaim teologis mengenai kepercayaan mereka.

Nah, salah satu dari cerita-cerita yang paling menarik dan terkenal dalam hal ini adalah cerita tentang wanita yang mengalami masalah pendarahan itu. Seorang wanita telah 12 tahun menderita pendarahan, yang diperkirakan semacam suatu gangguan menstrual. Andaikata bisa, wanita itu mustinya bisa saja pergi ke kuil Asclepius dan mempersembahkan uterusnya kepada dewa itu. tetapi kenyataannya, apa yang kita lihat tentang cerita itu adalah, Markus secara sengaja membangunnya secara kesastraan sedemikian rupa sehingga bagian pertama dari mukjijat itu adalah versi Yesus membangkitkan gadis ekcil yang telah  mati, persis seperti mukjijat Apollonius tadi. Itu dimulai dengan Yesus dalam perjalanan untuk menangani gadis kecil yang sedang sakit. Dalam Markus, gadis itu belum mati. Dalam Mateus, gadis itu sudah mati. Tetapi dalam perjalanan itu, Yesus bergerak lamban, dan sementara itu si gadis mati. Dan Yesus belum membangkitkannya, itu nanti jauh di belakang cerita.

Tetapi sementara itu, sebenarnya apa yang membuatnya bergerak lamban adalah: sementara dia dalam perjalanan, ketika ia sedang menembus kerumunan orang, ia merasakan sebuah sentuhan di jubahnya, dan si perempuan tua kotor yang mengalami gangguan penyakit menstrual tadi (yang di sebagian besar dunia kuno, dan khususnya menurut aturan-aturan kebersihan dalam hukum agama Yahudi, pasti akan dianggap seperti untouchable India, yang tidak akan disentuh oleh orang lain dan orang lain tidak akan mau disentuh dia—begitulah cara berpikir waktu itu), dia mendekati secara diam-diam dan menyentuh jubahnya. Dalam Markus, yang cukup menarik, saat itu jugalah wanita itu sembuh—langsung. Dalam Mateus, Mateus membuat Yesus berpaling dan memperhatikan wanita itu, dan baru kemudian wanita itu sembuh. Mateus mengubah urutan. Dalam Markus, dan ini menarik, wanita itu pada dasarnya menyembuhkan dirinya sendiri, yaitu dengan menunjukkan kepercayaannya pada Yesus. Tokoh marjinal tanpa nama itu menjadi seorang saksi bagi identitas dan kekuasaan sejati Yesus.

Cerita mukjijat tidak tertarik pada apakah mukjijatnya betul-betul terjadi atau tidak. Orang-orang percaya bahwa mukjijat seperti itu terjadi sepanjang masa. Kenyataannya, kita tahu itu semua adalah mukjijat-mukjijat biasa. Apollonius membuat mukjijat-mukjijat. Orang-orang lain membuat mukjijat-mukjijat. Kenapa Yesus tidak? Intinya adalah bahwa cerita itu bukan sekedar harapan bahwa itu akan terjadi, atau bahwa itu sudah terjadi. Itu adalah sebuah pernyataan mengenai kepercayaan pada orang yang mereka katakan menjadikannya terjadi. Dengan kata lain, cerita-cerita itu adalah lebih mengenai presentasi teologi dan kepercayaan ketimbang pergulatan dengan kekhawatiran apakah mukjijat itu realita atau non-realita. Dan begitulah kita harus mencermati cerita-cerita mukjijat dalam injil-injil. Terima kasih.

Judul asli: “Magic, Miracles, and the Gospel”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, 20 November 2009

published april 1998

FRONTLINE is a registered trademark of wgbh educational foundation.
web site copyright 1995-2008 WGBH educational foundation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: