Legitimasi di bawah Constantine

27/01/2010

Dari minoritas yang dianiaya menjadi agama resmi kekaisaran —apa penyebab perubahan nasib yang luar biasa itu pada Kristianitas

JALAN MENUJU KEMENANGAN

Shaye I.D. Cohen:

Samuel Ungerleider Professor of Judaic Studies and Professor of Religious Studies Brown University

Kemenangan Kristianitas benar-benar merupakan fenomena sejarah yang luar biasa. . . . . Kita mulai dengan sebuah kelompok kecil dari wilayah terpencil Kekaisaran Romawi dan setelah dua, tiga abad berlalu, lhoo. . . . kelompok itu dan anak keturunan mereka entah dengan cara bagaimana tahu-tahu telah menguasai kekaisaran Romawi dan telah menjadi agama resmi, bahkan satu-satunya agama yang ditolerir, dari Kekaisaran Romawi pada akhir abad ke-3. Itu perkembangan yang benar-benar luar biasa, dan usaha memahami bagaimana hal itu terjadi merupakan persoalan ilmu sejarah yang juga monumental. Tentu saja, orang-orang Kristen soleh tidak ragu-ragu sedikit pun mengenai bagaimana dan mengapa hal itu terjadi. “Itu adalah karya Tuhan dalam sejarah.” Dan orang-orang Kristen jaman kuno memang sudah menunjuk pada hal ini; fakta bahwa Kristianitas berjaya adalah bukti dari kebenarannya.

Bagi para sejarawan, jawaban itu, meskipun di satu hal benar, dalam hal lain tidak sepenuhnya memuaskan. Kami para sejarawan ingin mendapatkan penjelasan-penjelasan lain bagi kegemilangan Kristianitas, dan, sungguh, bahkan sejak Gibbon menulis sejarahnya yang terkenal itu, para sejarawan sudah berusaha memahami apa sih sebenarnya yang mendongkrak Kristianitas sampai ke puncak. Saya tidak bisa sepenuhnya menjawab pertanyaan itu sendiri, tetapi kita bisa dengan jelas mengidentifikasikan berbagai tahap dalam perjalanan Kristianitas menuju ke puncak . . . .

Dalam tahap pertamanya, Kristianitas berangkat bukan sebagai sebuah agama, melainkan sebagai gerakan orang-orang di seputar seorang guru atau pengkhotbah yang karismatik—guru atau pengkhotbah atau entah apa, sulit sekali mengetahui apa tepatnya kata-benda yang harus digunakan. Saya akan menyebutnya orang kudus yang menarik banyak murid, yang mengikuti dia dan pengembaraan-pengembaraannya sementara ia melakukan penyembuhan-penyembuhan, sementara ia memberikan pengajaran-pengajaran. Tetapi orang kudus itu akhirnya sampai ke Yerusalem dan dieksekusi oleh pemerintah, mungkin sebagai seorang trouble-maker, orang yang pilihan terbaiknya adalah mati, bukan hidup, sebab kalau hidup, siapa yang tahu apa nanti yang akan terjadi? Dia sebuah ancaman bagi tatanan sosial. Pilihan terbaik untuknya adalah dieksekusi.

Begitulah Kristianitas dimulai. Ia dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Apa yang diawali sebagai sebuah kumpulan orang-orang kelas bawah, pengikut-pengikut seorang orang kudus, berubah menjadi apa yang boleh kita sebut sebuah sekte Yahudi, yang sekarang menginterpretasikan kehidupan, ajaran-ajaran dan kematian orang kudus itu sebagai, entah dengan cara bagaimana, memiliki sesuatu signifikansi kosmik, sebagai memiliki makna sepanjang masa, bukan hanya untuk sesaat, tetapi yang entah dengan cara bagaimana mempengaruhi hubungan Tuhan dengan orang-orang Yahudi dan akhirnya dengan seluruh dunia. . . . . Itulah kemudian sekte Yahudi atau aliran Yahudi itu, yang bisa anda sebut tahap berikut dalam perkembangan tadi.

Setelah itu, tahap berikutnya mungkin diwakili oleh Paulus, yang kemudian membawa aliran Yahudi itu, filsafat Yahudi itu, sekte Yahudi itu, dan kemudian mengatakan bahwa ajaran-ajaran sekte itu adalah sedemikian rupa sehingga seluruh peta dunia perlu direvisi, sehingga sekarang kita tidak lagi memiliki dikotomi sederhana tentang Yahudi dan kafir, dan kita tidak lagi memilki sebuah aliran Yahudi yang bersilat-lidah dengan Yahudi-Yahudi lain mengenai interpretasi-interpretasi hukum dan teologi. Sekarang kita mempunyai, kata Paulus, sebuah peta dunia yang baru. Ajaran-ajaran kita, di dalamnya, memegang rahasia menuju pemahaman tentang tatanan kosmik baru itu. Begitu rupa sehingga perbedaan-perbedaan lama antara Yahudi dan kafir sekarang terhapus. Perbedaan-perbedaan itu diganti dengan sebuah peta baru yang lebih benar dan lebih indah dan lebih mentakjubkan, di mana kita mempunyai sebuah Israel baru yang akan merangkul baik orang Yahudi maupun kafir, yang semuanya sekarang menerima perjanjian baru itu dan kepercayaan baru itu. Itulah Paulus, yang dalam ajaran-ajarannya memiliki awal mula dari apa yang boleh kita sebut pelepasan Kristianitas dari setting sosial Yahudi. . . . .

Tentu saja hal itu terjadi secara bertahap dalam rentang waktu beberapa dekade sampai jauh memasuki abad ke-2. . . . . Itu tidak terjadi di setiap tempat dan setiap waktu secara serentak. Itu adalah proses yang kompleks dan makan waktu panjang. Dan kita harus mempertimbangkan varietas-varietas; tempat Kristianitas, katakan saja di tahun 100 EB, yang di Yudea mungkin tidak sama dengan yang di Mesir. Yang di Roma mungkin tidak sama dengan yang di Asia Minor. Kita harus senantiasa menanyai diri sendiri—Bagaimana orang-orang Kristen memandang diri mereka sendiri? Bagaimana orang-orang Yahudi memandang orang-orang Kristen? Bagaimana orang-orang kafir memandang orang-orang Kristen? Bagaimana masing-masing kelompok itu memahami satu sama lain, dan mereka menyesuaikan diri kedalam masyarakat yang lebih besar? Dan jawaban-jawabannya mungkin tidak sama. Tidak ada jaminan bahwa orang-orang Kristen dan Yahudi memandang satu sama lain dengan cara yang sama pada setiap saat. Kita harus memeprtimbangkan kemungkinan adanya variasi-variasi opini. Sekalipun begitu, saya kira kecenderungan yang ada sudah sangat jelas: orang-orang Kristen menjadi semakin kurang “Jewish” dan berbelok menjadi sesuatu yang baru dan berbeda. . . . . .

Bagi orang-orang Kristen tertentu, hal itu tidak pernah terjadi. Mereka tidak bersedia mengatakan bahwa Tuhan telah secara tuntas merevisi peta kosmos dan telah mengeluarkan mereka dari dunia Yahudi dan menyorong mereka memasuki tahap sejarah yang baru. . . . Tentu saja, orang-orang Kristen lain tidak sependapat dengan Paulus mengenai persisnya bagaimana harus membaca peta baru itu dan persisnya apa arti peta baru itu, dan yang terpenting, di mana posisi orang-orang Yahudi itu sekarang, orang-orang Yahudi yang “ketinggalan jaman” itu. . . . . Tetapi, bagaimanapun juga, pada pertengahan abad ke-2 gereja Kristen itu sendiri mulai muncul sebagai sebuah kelompok yang baru dan independen.

Abad kedua EB adalah abad definisi sebelum Kristianitas. Setelah sadar bahwa ia bukan Yudaisme, atau sudah bukan Yudaisme lagi, maka ia harus memikirkan—lalu persisnya apa? Apa Kristianitas itu? Apa yang menjadikannya bukan Yudaisme? Apa yang menjadikannya bukan Jewish? Bagaimana ia bisa berpegangan pada Kitab-kitab Yahudi, yang kita sebut Perjanjian Lama itu, tetapi pada saat yang sama bukan Yudaisme, atau tidak Jewish? Itu adalah satu dari pertanyaan-pertanyaan besar yang dihadapi oleh para pemikir, penulis, dan pemimpin gereja Kristen di abad kedua. Itu adalah abad kebhinekaan Kristen, dengan segala macam sekte-sekte, aliran-aliran, bidaah-bidaah—itulah yang dihadapi oleh para pemikir Kristen, dan baru di abad kedua itulah kita mulai melihat munculnya apa yang boleh kita sebut ortodoksi, atau sesuatu yang cukup disebut “Kristianitas” dalam kumpulan doktrin-doktrin dan teks yang seragam— maksudnya “Perjanjian Baru.”  Perjanjian Baru sebagai kumpulan teks-teks adalah produk abad kedua, ketika gereja memikirkan kitab-kitab mana yang kudus, kitab-kitab mana yang otoritatif, dan mana yang tidak. . . . .

Mulai abad ketiga, kita mempunyai sesuatu yang disebut Kristianitas, dengan kitab-kitab sucinya sendiri, ritual-ritualnya sendiri, ide-idenya sendiri—tetapi itu juga abad konfrontasi dengan  Kekaisaran Romawi. Abad ketiga adalah abad penganiayaan, di mana Kekaisaran Romawi sekarang membuka mata dan sadar bahwa sesuatu yang baru, dan yang dari perspektif mereka dianggap gelap dan berbahaya, telah mendasari kelompok-kelompok yang mengancam tatanan sosial dan akhirnya tatanan politis Kekisaran Romawi. Dan Kekaisaran Romawi tidak keliru. Orang-orang Romawi dengan tepat mengendus bahwa kemenangan Kristen akan berarti kiamatnya Kekaisaran Romawi, kiamatnya dunia klasik. . . . Tentu saja kita sering memikirkan penganiayaan itu dari kacamata Romawi. Kita melihatnya sebagai tindakan-tindakan heroik dalam menghadapi kekuasaan Romawi, dan itu memang benar. Dan martir-martir itu memang menghadirkan pemandangan yang mentakjubkan—mereka menyajikan demonstrasi yang mentakjubkan tentang kepercayaan Kristen. Itu memang betul. Sebaliknya, kita harus sadar bahwa Kekaisaran Romawi tengah melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh semua birokrasi. Mereka sedang melindungi dirinya sendiri, berusaha melestarikan. . . . .

Orang-orang Romawi berusaha menekan Kristianitas tetapi gagal. Pada awal abad ke-4 Kristianitas menjadi agama negara, dan menjelang akhir abad ke-4 di seluruh kekaisaran melakukan ibadah terbuka selain Kristianitas dinyatakan illegal. Ada misteri luar biasa besar mengenai bagaimana hal itu terjadi—bagaimana nasib berbalik 180 derajat, yang dimulai dari Yesus yang dieksekusi sebagai penjahat musuh masyarakat, sebagai ancaman bagi tatanan sosial, dan entah dengan cara bagaimana tiga abad kemudian Yesus yang satu itu dielu-elukan sebagai Tuhan, sebagai bagian dari Yang Esa, Tuhan sejati yang merupakan Tuhan Kekaisaran Romawi Kristen baru. Itu adalah kemajuan yang mentakjubkan, sebuah perkembangan yang mentakjubkan dalam rentang waktu tiga abad. . . . Sulit memahami persisnya bagaimana hal itu terjadi atau mengapa itu terjadi, tetapi penting untuk menyadari bahwa kita mempunyai suatu progresi dan satu perangkat perkembangan-perkembangan, dan bahwa Kristianitas abad ke-4 tidak sama dengan Kristianitas yang telah kita saksikan di abad pertama dan abad ke-2.

PERTOBATAN CONSTANTINE

Salah satu hero yang paling mencengangkan dalam tradisi Kristen, saya kira, adalah Constantine. Pertama-tama, dia adalah seorang jendral yang sukses. Dia juga anak seorang jendral yang juga sukses dan panglima pasukan Barat. Dan dia tengah bertempur melawan seorang jendral sukses lain, bergulat memperebutkan siapa yang akan menduduki puncak eselon sangat tinggi dalam pemerintahan Romawi. Yang terjadi adalah bahwa Constantine memperoleh penampakan. Untung bagi Gereja, ada seorang uskup di dekat Constantine yang bisa menginterpretasikan apa makna penampakan tadi. Secara teknis Constantine sebenarnya tidak lalu pindah agama, melainkan menjadi patron dari salah satu cabang gereja. Kebetulan itu adalah cabang dari gereja yang mempunyai Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sebagai bagian dari kanonnya. Yang berarti mengingat cabang Kristianitas yang satu itu meliputi kisah tentang Israel historis sebagai bagian dari sejarah keselamatannya sendiri, maka ia mempunyai satu bahasa penuh untuk mengartikulasikan hubungan antara pemerintahan dengan kekudusan. Dan dengan model pemerintahan itulah uskup tadi menjelaskan penampakan itu pada Constantine.

Dari sudut pandang tertentu Constantine menjadi pengejawantahan dari raja yang kudus/benar. Dan sekali dia mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan penaklukan, akhirnya, tidak hanya di Barat, tetapi juga di Yunani Timur di mana ada jauh lebih banyak orang Kristen yang terkonsentrasi di kota-kota, yang merupakan kantong-kantong kekuasaan sosial dari kebudayaan itu, maka dia berada dalam posisi yang mencengangkan—memiliki teologi pemerintahan yang bisa ia gunakan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan sekulernya sendiri. Dan itu bekerja di dua arah. Pada dasarnya kemudian uskup-uskup ibaratnya lalu memiliki pendanaan federal untuk menyelanggarakan rapat-rapot komite bersponsor sehingga mereka bisa berusaha menyeterika kredo-kredo dan memaksa tiap orang untuk menerimanya.

KRISTIANITAS IMPERIAL CONSTANTINE

Salah satu dari hal-hal pertama yang Constantine lakukan, sebagai kaisar, adalah menganiaya orang-orang Kristen yang lain. Orang-orang Kristen Gnostik menjadi sasaran utama . . . . juga orang-orang Kristen dualis lain. Orang-orang Kristen yang tidak memiliki Perjanjian Lama sebagai bagian dari kanon juga dijadikan sasaran. Daftar musuh Constantine berderet-deret. Ada semacam pembersihan internal dalam gereja ketika kaisar yang berkuasa berusaha mengistimewakan gereja yang satu itu sebagai otot-otot religius dari visinya tentang sebuah Romawi baru. Dan dengan benak yang dipenuhi oleh visi teologis ini lah maka Constantine tidak hanya membantu uskup-uskup menyetrika suatu kebijaksanaan penyatuan mengenai apa yang harus dipercayai oleh orang-orang Kristen sejati, tetapi juga, dan ini yang menarik, memalingkan perhatiannya ke Yerusalem. Dan membangun kembali Yerusalem sebagaimana seharusnya dilakukan oleh seorang raja yang kudus. Tetapi yang Constantine lakukan adalah menguasai kota itu, yang lebih tepat lagi dikatakan tanah yang sudah berubah menjadi gersang dan terbelakang itu, dan ia mulai membangun basilika-basilka yang megah dan proyek-proyek arsitektur ambisius lain di kota itu sendiri. Tanah suci di Gunung Bait ia tinggalkan. Lokasi itu tidak bisa direklamasi. Dan apa yang ia lakukan adalah secara religius merelokasi pusat gravitasi kota ke sekitar tempat-tempat di mana dahulu Kristus menderita, di mana dia dikubur, atau di mana dia dibangkitkan kembali—sedemikian rupa sehingga dalam basilika-basilika yang ia bangun itu, Constantine memiliki sebuah Yerusalem baru, yang megah dan indah dan . . . . . reputasinya sebagai arsitek kekaisaran senantiasa menggema bersama-sama dengan tokoh-tokoh injil seperti David dan Solomon. Dari satu sudut pandang , Constantine adalah seorang Messias non-apokaliptik bagi gereja . . . . .

Para uskup benar-benar bersyukur atas perhatian kaisar itu. Itu bukan Abad Menengah wilayah Barat. Jalur-jalur kekuasaan sangat jelas dan tegas. Constantine adalah sumber otoritas yang absolut. Dan itu sama sekali tidak disangsikan. Tetapi uskup-uskup itu bisa memanfaatkan mood Constantine dan minat intelektualnya dalam hal-hal seperti Kristologi dan Trinitas dan organisasi Gereja. Mereka bisa meminta injil-injil disalin atas biaya negara. Akhirnya mereka bisa memiliki arsitektur Kristen yang bersifat publik dan basilika-basilika besar. Jadi ada hubungan simbiotik yang nyaman antara gereja dengan kekaisaran, hubungan yang, dari sudut pandang tertentu, mampu mendikte pusat kultural Eropa dan Barat.

SEORANG KAISAR KRISTEN

Ada sebuah kalimat dalam injil tentang memberikan pada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan pada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan . Yesus mengatakan hal itu dalam konteks kaisar kafir. Sekali Kaisar sendiri Kristen, berbagai hal lalu tampak beda. Sementara uskup-uskup adalah tokoh-tokoh religius dan anda tidak mempunyai tokoh seperti raja-uskup, seperti yang anda punyai dalam Plato, katakanlah saja raja-filsuf atau pendeta-ratu atau entah apa, ada suatu teologisasi terhadap kekuasaan sekuler dan sekularisasi terhadap kekuasaan episkopal. Orang seperti Augustine bertindak sebagai seorang hakim, selain juga sebagai teolog tertinggi dan tokoh agama. . . . .

Ada sebuah mozaik yang indah di Ravenna, sebuah kota di Italia utara, yang secara rutin saya tunjukkan pada rombongan mahasiswa saya. Itu adalah mozaik yang melukiskan seorang lelaki yang tampan, sangat tampan, dengan otot-otot atletik, muka halus tanpa kumis tanpa jenggot. Dia mengenakan seragam perwira militer Romawi. Dan satu kakinya menginjak kepala seekor singa, dan satu tangannya memegangi sebuah standard. Dan standard itu bertuliskan: “Aku adalah Jalan. Kebenaran. Dan hidup.” Dan biasanya mahasiswa-mahasiswa saya tidak bisa membaca tulisan Latin, dan saya bertanya, “Gambar siapa itu?” Dan mereka menebak, “Kaisar Romawi.” Salah. Itu gambar Yesus.

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament Yale Divinity School

KOMENTAR EUSEBIUS TENTANG CONSTANTINE

Siapa Eusebius?

Eusebius adalah uskup Caesarea di Palestina di abad ke-4, dan ia memainkan peranan sangat aktif dalam politik gereja pada masa itu. Ia hadir dalam Konsili Nicea, yang merupakan konsili ekumenis besar pertama. Dan Eusebius mempunyai kontak dengan Kaisar Constantine. Jadi dia orang yang sangat terkemuka. Tetapi dia paling penting bagi kita pertama-tama sebagai seorang sejarawan gereja. Ia menulis beberapa karya selama masa hidupnya yang panjang dan aktif, termasuk sebuah sejarah tentang martir-martir Palestina, sebuah kumpulan teks-teks profetik. Tetapi karyanya yang terpenting adalah sejarah gerejanya, yang menggambarkan perkembangan gereja sampai ke masa dia hidup, dan kemudian penganiayaan-penganiayaan yang terjadi dalam dekade pertama abad ke-4. Dan akhirnya pembenaran gereja dengan naik-daunnya Constantine sampai ke puncak tertinggi kekuasaan. . . . .

Pertama-tama, Eusebius penting sebagai seorang sejarawan karena ia melestarikan sejumlah besar sumber yang tidak tersedia dalam bentuk-bentuk lain. Tentu saja dia memiliki pertimbangan atau motivasi pribadi yang berkaitan dengan status orang-orang Kristen dan hubungan mereka dengan para pejabat kekaisaran.

Constantine, yang belakangan Eusebius gambarkan dalam “A Life of Constantine” dan juga dalam sebuah orasi pada sebuah kesempatan sangat penting, adalah seorang penguasa besar yang oleh Tuhan dikaruniai kebijaksanaan, wawasan, dan sebuah misi ilahi untuk membenarkan gereja dan membawa negara dan gereja kedalam satu kesatuan. Dan karena itu Constantine oleh Eusebius dipandang sebagai sebuah pengejawantahan kehendak Tuhan dalam sejarah manusia.

Dan bagaimana Eusebius melukiskan Constantine?

Oleh Eusebius Constantine pasti akan dipandang dan dilukiskan dengan kata-kata yang maha agung. Dan anda harus mengerti bahwa Constantine, ketika Eusebius melukiskan dia, adalah orang yang baru saja mencapai dominasi total atas seluruh Kekaisaran Romawi. Dan ia sosok yang sangat berwibawa, yang memancarkan otoritas dan kekuasaan, tokoh yang pada tahun 324 tidak mempunyai rival di seluruh kekaisaran. Dan karena itu dalam busana kekaisaran dan memancarkan kebesaran matahari, ia tampak dalam potret-potret Eusebius sebagai sosok yang semu-semu ilahi. . . . .

KONSILI NICEA

Apa persisnya Konsili Nicea itu?

Konsili Nicea, yang diselenggarakan pada tahun 325, adalah sebuah respon terhadap sebuah krisis yang berkembang di gereja berkaitan dengan ajaran-ajaran seorang presbyter, atau pendeta, sebuah gereja di Alexandria. Dan ajaran-ajarannya mengisyaratkan bahwa Yesus tidak sepenuhnya ilahi, bahwa Yesus adalah sesuatu sosok  supernatural, tetapi bukan Tuhan dalam arti sepenuhnya. Lawan-lawannya termasuk orang yang belakangan menjadi uskup Alexandria, Athanasius, dan orang-orang yang berseberangan dengan pendeta tadi menandaskan bahwa Yesus sepenuhnya ilahi. Konsili Nicea diselenggarakan untuk menjembatani perselisihan itu, dan Konsili itu akhirnya memihak pada mereka yang berpendapat bahwa Yesus adalah sepenuhnya ilahi. Jika diintisarikan, semua perselisihan itu bersumber pada satu perbedaan. Dan perdebatan-perdebatan di abad ke-4 mengenai status Yesus banyak berkaitan dengan istilah Yunani yang menjelaskan masalah itu. Satu pihak mengatakan bahwa Yesus homo usias dengan Bapa—maksudnya mampunyai substansi atau jatidiri yang sama dengan Bapa. Pihak yang lain, yang dijuluki Arian, menyatakan bahwa Yesus homoi usias dengan Bapa—cuma selisih “i,” yang artinya memiliki substansi atau jatidiri mirip dengan Bapa. Jadi perbedaan antara sama dengan dan mirip dengan substansi Bapa merupakan inti dari perselisihan mengenai Arianisme tadi. Dan Konsili Nicea memutuskan bahwa pengajaran yang benar adalah bahwa Yesus mempunyai substansi sama dengan Bapa.

Siapa penyelenggara Konsili Nicea?

Kaisar Constantine menjadi motor penggerak dalam Konsili itu dan praktis dia lah yang menyelenggarakan konsili itu untuk menyelesaikan perselisihan itu. Itu ia lakukan pada saat ia baru saja merampungkan konsolidasi otoritas atas seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Sampai tahun 324, ia baru menguasai separuh dari kekaisaran Romawi. Dan ia menghendaki keseragaman kepercayaan, atau setidak-tidaknya tidak ada perselisihan besar dalam gereja yang ada di bawah pengaruhnya. Dan karena itu ia kecewa mendengar perselisihan itu marak di Alexandria selama beberapa tahun sebelum ia berhasil menguasai kontrol total atas kekaisaran. Dan untuk memadamkan kontroversi itu ia menyelenggarakan konsili tadi.

Allen D. Callahan:

Associate Professor of New Testament, Harvard Divinity School

IMPLIKASI-IMPLIKASI PERTOBATAN CONSTANTINE

Apakah Constantine memberikan keuntungan-keuntungan nyata pada Gereja Kristen?

Keuntungan-keuntungan dari patronase kekaisaran itu maha besar. Memang ada banyak pertanyaan mengenai kedalaman pengalaman pertobatan Constantine, sebab setelah itu ia masih tetap berperilaku seperti orang kafir. Tetapi saya kira semua itu adalah masalah apologi yang ditulis untuk Constantine sesudah akhir hayatnya. Yang penting adalah bahwa ia menengarai sesuatu détente yang tercapai antara (a) gereja sebagai sebuah kekuatan yang harus dipertimbangkan dalam masyarakat kekaisaran dan (b) negara Romawi. . . . . Saya kira itu adalah dua proyek di mana banyak orang terlibat dengan sangat serius, dan kedua proyek itu bertemu arah sedemikian rupa sehingga memunculkan sebuah resolusi yang harus dicapai oleh seseorang—kalau tidak, keduanya akan saling menghancurkan satu sama lain atau mengkompromikan integritas satu sama lain. Dan karena itu Constantine adalah seorang manusia titik sejarah, penentu hubungan antara negara Romawi dengan gerakan Kristen yang terus berkembang sebagai sebuah kekuatan institusional dalam masyarakat masa itu.

Praktisnya, keuntungan-keuntungan apa yang ia berikan?

Ada dukungan dana kekaisaran untuk jiarah dan situs-situs pejiarahan, dan karena itu banyak uang mengalir untuk memperbaiki situs-situs pejiarahan yang sudah ada dan menjadikan mereka lebih besar dan lebih baik, bahkan menjadikannya atraksi yang lebih megah, serta menciptakan situs-situs pejiarahan yang sebelumnya memang tidak ada. . . . . Ini ibarat mengirimkan pesan kultural pada seluruh masyarakat. Nah, pejiarahan adalah salah satu aktivitas paling penting di antara para elit Romawi dan orang-orang lain yang sekarang mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Kristen—untuk pergi ke tempat-tempat suci dan melihat hal-hal yang suci. . . . . Sesudah détente itu, boleh dikatakan Kristianitas menjadi sebuah kekuatan institusional. . . . . .

Dari awal-mula gerakan Yesus, selalu ada masalah merundingkan hubungan yang pas antara anggota-anggota gerakan itu, siapa yang menyatakan kesetiaan pada Tuhan yang berbeda, dan kekuasaan-kekuasaan negara—kebetulan negara yang membunuh Yesus. Ada sebuah cerita tentang koin yang diproduksi untuk Yesus dan mereka mengatakan, “Haruskah kita membayar pajak pada Kaisar?” Dan Yesus mengatakan, “Well, tunjukkan koinnya padaku. Wajah siapa di atas koin ini? Wajah Kaisar. Kita akan memberikan pada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” Itu adalah jawaban non-jawaban yang terkenal dari Yesus untuk menanggapi pertanyaan tentang hubungan antara gerakan Yesus dengan kekuasaan negara. Dalam ideologi politis Byzantium awal, setelah détente antara Roma dengan Yerusalem, setelah apa yang dijuluki pertobatan Constantine, adalah mungkin untuk menempatkan kedua tahta itu secara berdampingan. Di tahta yang satu duduk sang kaisar. Tahta yang lain dibiarkan kosong karena di sana, Kristus, penguasa dunia itu, dianggap sebagai pemegang kekuasaan yang sebenarnya, sementara sang kaisar adalah wakil Kristus. Resolusi itu, jawaban atas pertanyaan yang merisaukan tadi, menjadi mungkin setelah [pertobatan] Constantine.

Seberapa tuntas atau tulus pertobatan Constantine itu?

[Menjawab pertanyaan itu] benar-benar musykil.  Ini adalah salah satu penyelewengan terburuk dari psikologi kutu-buku tentang Kristianitas purba. Constantine tetap berperilaku seperti orang kafir bahkan jauh sesudah apa yang orang katakan “pertobatan.” Pertobatan tidak membuatnya berhenti membunuh orang-orang.  Pertobatan tidak membuatnya berhenti melakukan segala macam kejahatan seperti biasa dilakukan oleh para kaisar Roma. Tetapi,  sekali lagi—saya berpikir dengan perspektif institusional—perubahan yang diawali oleh. . . . katakan saja, reorientasi dari komitmen-komitmen personalnya. . . . menengarai rekonfigurasi hubungan-hubungan antara institusi-institusi di Kekaisaran Romawi masa kemudian. Jika kita melangkah lebih jauh dari itu, kita melangkah ke Eusebius dan para apologists lain, maka kita akan tahu apa yang mereka ingin lakukan.  Mereka ingin menampilkan wajah terbaik Constantine, sekalipun mereka terpaksa membedakinya tebal-tebal. . . . Kita memahami motivasi-motivasi Eusebius, tetapi pada hemat saya, hal terpenting di sini adalah bahwa ada pengalaman pertobatan itu, bagaimana kita memahami pertobatan itu, bahwa individu yang satu itu menengarai sesuatu yang maha penting bagi kebudayaan dan institusi-institusi masa lampau itu. . . . itulah aspek terpenting dari pengalaman pertobatan orang yang satu itu bagi kita. . . .

Holland Lee Hendrix:

President of the Faculty Union Theological Seminary

PERTOBATAN CONSTANTINE

Pada hemat saya, pertobatan Constantine ke Kristianitas harus dipahami dengan sudut pandang khusus. Yaitu bahwa kita tidak bisa memahami pertobatan Constantine ke Kristianitas sebagai sebuah agama yang eksklusif.  Jelas bahwa Constantine mempunyai banyak basis yang semuanya harus ia payungi. Saya kira istilah kontemporer yang bisa kita gunakan adalah “Pascal’s Wager”—itu adalah polis asuransi yang diambil oleh seseorang untuk mengamankan asuransi lainnya. Dan Constantine adalah seorang pragmatis ulung dan seorang politikus ulung. Dan saya kira ia dengan baik menyadari meningkatnya perhatian dan dukungan pada Kristianitas, dan karena itu menungganginya dan malahan memasukkannya kedalam kubunya sendiri. Tetapi jelas bahwa setelah ia beralih kiblat ke Kristianitas, ia masih memberikan perhatian pada dewa-dewa yang lain. Ini kita ketahui dari puisi-puisinya; ini juga kita ketahui dari dedikasi-dedikasinya. . . . Tetapi yang penting untuk dipahami dan diapresiasi mengenai Constantine adalah bahwa Constantine adalah seorang pendukung Kristianitas yang luar biasa. Ia melegitimasi Kristianitas sebagai agama yang dilindungi di kekaisaran. Ia menaunginya dengan murah hati. . . . Dan itulah poin yang benar-benar penting. Boleh dikatakan, dengan Constantine, kerajaan Allah itu telah datang. Pemerintahan Kaisar sekarang telah dilegitimasi dan dilandasi dengan kekuasaan Tuhan, dan itu adalah titik balik penting dalam sejarah Kristianitas. . . .

Untuk mengapresiasi perkembangan begitu dramatis yang terjadi dalam rentang waktu ayng begitu pendek, kita bisa menyandingkan imaji tentang Pliny dan ruang pengadilannya di bawah Kaisar Trajan—yang mengirim orang-orang Kristen ke eksekusi hanya karena mereka disebut Kristen—dengan gambaran agung Constantine yang menaungi pertemuan agung para uskup yang telah ia kumpulkan untuk memecahkan masalah-masalah tertentu. Di satu pihak Imperium yang satu jelas digunakan untuk mematikan sebuah gerakan keagamaan, di pihak lain Imperium digunakan untuk melandasi dan mendukung gerakan keagamaan yang sama, dengan selang waktu begitu pendek. . . . .

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

SEORANG YESUS RAJA

Transformasi Kristianitas selama 300 tahun pertama eksistensinya adalah transformasi yang benar-benar mendalam. Apa yang berangkat dari seseorang yang menyatakan diri sebagai Messias atau seorang pemberontak politik, seorang korban Pax Romana, pada waktu pertobatan Constantine lantas berubah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Dan bahkan pada waktu itu, itu bukan transformasi yang sederhana. Masih diperlukan waktu seratus tahun lagi sebelum sebagian besar dari dunia Romawi itu benar-benar bertobat memeluk Kristianitas. Tetapi toh, dengan pertobatan Constantine itu, perubahan itu sudah sangat signifikan, dan perubahan itu adalah perubahan yang bisa kita saksikan dalam beberapa tahap. Apa yang dahulunya sebuah gerakan yang ditindas oleh Kaisar karena ia adalah pesaing, akhirnya menjadi sebuah kultus . . . . Kristus Raja, pada waktu kita sampai pada akhir abad pertama dan awal abad kedua. Tetapi dengan pertobatan Constantine, gerakan itu ditransformasi menjadi sebuah agama kekaisaran. Nah, Yesus telah ditransformasi menjadi Kristus Raja Surgawi dan Constantine, sang kaisar, berkuasa dalam namaNya. . . . .

Imperialisasi terhadap Kristianitas bisa dilihat di beberapa monumen kota Roma sendiri, di mana ideologi dan simbolisme imperial, renik-pernik keagungan imperial, dimasukkan ke dalam dan dilekatkan pada tradisi Kristen sendiri. barangkali hal itu terlihat paling jelas dalam mozaik apse di Gereja Santa Podenziana di Roma. Di sini, kita mempunyai apa yang sepintas lalu merupakan adegan sangat tradisional dari injil: Yesus duduk di tengah murid-muridnya, yang duduk di kanan-kirinya. Adegannya sangat mirip dengan Perjamuan Terakhir, dan anda akan melihat dua orang wanita duduk di belakang, dan keduanya sangat mirip putri bangsawan Romawi. Barangkali keduanya adalah Perawan Maria dan Maria Magdalena, yang juga mengapit para rasul. Tetapi jika anda mengamati dengan lebih cermat, akan terlihat bahwa Yesus tampak jauh berbeda dari tradisi ikonografis masa lampau, misalnya seperti yang diketemukan di katakomba-katakomba. Yesus yang satu ini mengenakan toga yang sangat njlimet dan mewah, duduk diatas tahta kekaisaran. . . . Yesus yang satu itu tampak seperti sang kaisar sendiri, dan ia duduk di depan latar belakang pemandangan kota yang njlimet. Dan itu bukan kota Roma, itu adalah kota kekaisaran Yerusalem. Di belakang Yesus kita lihat Gereja Makam Kudus yang dibangun oleh Constantine, yang baru saja dirampungkan di Yerusalem sendiri, dan di belakangnya tampak bagian kota Yerusalem lainnya, yang dibangun kembali untuk pertama kalinya, secara sangat signifikan, setelah disama-ratakan dengan tanah dalam pemberontakan Yahudi pertama. Jadi patronase kekasiaran Constantine terhadap gereja tercermin dalam aneka macam cara— dalam pembangunan  kembali Yerusalem, dalam pendirian monumen Kristen, di tempat Kristianitas di Roma, dan satu lagi: dalam presentasi Yesus,  dalam murid-muridnya. Sekarang mereka tampak seperti kalangan bangsawan Romawi; mereka adalah bagian dari mainstream masyarakat Romawi. Itu adalah Yesus Raja.

Judul asli: “Legitimization under Constantine”

Sumber:  http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, 9 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: