Kultus-kultus Romawi

27/01/2010

PERANAN KULTUS-KULTUS DALAM KEHIDUPAN RELIGIUS ROMAWI

Ketika kita berbicara tentang kultus-kultus Romawi, kita berbicara tentang tiga macam praktek keagamaan. Setiap keluarga mempunyai “kultus” tersendiri, di mana keluarga itu memuja nenek moyangnya yang sudah mati. Beberapa keluarga elit juga mempunyai devosi terhadap dewa-dewa tertentu. Selama generasi demi generasi, anak-anak lelaki dari keluarga-keluarga itu membiayai pengelolaan kuil-kuil dan bertindak sebagai imam-imam dalam ritual-ritual yang menghormati dewa-dewa. Orang-orang Romawi juga mengembangkan sebuah kultus “publik” resmi, yaitu pemujaan kaisar. Ketiga, kekaisraan Romawi secara umum dan dimulai sekitar jaman Augustus (dengan beberapa kekecualian di masa lalu, misalnya Magna Mater), “kultus-kultus misteri” yang berasal dari negeri-negeri asing mulai mendapatkan popularistas di kota Roma.

Kultus Kaisar

Orang-orang Romawi mulai menuhankan para penguasa mereka yang telah mati sejak Julius Caesar. Ini tidak segila-gilaan sepeti yang kita rasakan sekarang ini. Kultus penguasa sudah lama menjadi bagian instrumental dari agama dan pemerintahan Hellenistik sejak Alexander Agung, dan sejumlah kebudayaan di dunia percaya bahwa para penguasa fana mereka mempunyai sesuatu hubungan istimewa dengan sang ilahi. Ketika masih hidup, Caesar menerima hak untuk mendapatkan seorang flamen (imam Romawi) untuk sebuah kultus yang dimaksudkan untuk menghormatinya, untuk menandai rumahnya seperti sebuah kuil, dan untuk menempatkan imago dalam arak-arakan para dewa yang menjadi ciri khas parade-parade dan festival-festival Romawi. Setelah ia mati, Senat mengeluarkan sebuah dekrit yang secara resmi menyatakan Caesar sebagai dewa, dan altar-altar serta kuil-kuil didirikan untuk menghormati dia.

Para ahli telah mengucurkan banyak tinta maupun darah orang-orang Romawi untuk menulis tentang bagaimana memahami penuhanan Caesar. Meskipun asimilasinya ke status dewa atau tuhan pasti akan dirasakan biasa-biasa saja bagi penduduk bagian timur kekaisaran Romawi, yang sudah terbiasa dengan kultus-kultus penguasa Hellenistik itu, dari sudut pandang para warga negara di bagian barat kekaisaran hal itu benar-benar baru (dan karenanya menakutkan) serta asing (dan karenanya jelek). Meskipun begitu, orang-orang Romawi tidak menggariskan perbedaan yang tajam seperti kita sekarang antara makluk fana dengan makluk ilahi. Mereka jelas percaya, misalnya, bahwa Romulus telah menjadi seorang dewa. Ritus-ritus penghormatan orang mati di Romawi dengan jelas memberikan atribut-atribut ilahi pada nenek moyang mereka yang telah mati. Kemenangan Romawi jelas telah mengangkat jenderal yang sukses ke status nyaris dewa atau tuhan.

Tetapi memasuki abad ke-3 SEB, para politisi dan jenderal Romawi terkemuka mulai mengklaim bahwa keluarga-keluarga mereka adalah keturunan dewa-dewa (Scipio Africanus, Aemilius Paullus, dan Julius Caesar). Begitu pula, memasuki akhir jaman Republik, figur-figur dominan seperti Marius dan Pompey menerima penghormatan “seperti penghormatan yang diterima para dewa.” Di bagian timur kekaisaran Romawi, para gubernur dan jenderal Romawi yang berhasil melakukan penaklukan sejak abad ke-2 SEB dihormati oleh pihak pecundang dengan penghormatan-penghormatan ilahi (sekali lagi ini adalah isyarat normal dalam konteks kultus penguasa Hellenistik).

Dari sudut pandang tertentu, satu-satunya inovasi yang direpresentasikan oleh pendewaan Caesar adalah bahwa penghormatan-penghormatan ilahi diberikan kepadanya di Roma. Selain itu, perbedaan yang diakibatkan oleh penghormatan tadi  bersamaan waktu dengan jatuhnya republik Romawi, yang struktur politisnya didasarkan pada ideal libertas (atau kesetaraan, setidak-tidaknya di antara para anggota elit politik). Status dewa mengisyaratkan bahwa, setidak-tidaknya secara ideologis, kekuasaan princeps (seorang anak dewa yang akan didewakan setelah ia mati) adalah menonjol dan lebih baik daripada yang diterima oleh anggota-anggota elit senat. Selain itu, Augustus, penguasa tunggal Romawi pertama yang sukses sejak jaman monarki, secara sadar mengasosiasikan dirinya sendiri dengan otoritas yang oleh orang-orang Romawi diberikan kepada agama. Sebagaimana dahulu dilakukan oleh Julius Caesar, ia menjadi pontifex maximus. Augustus brilyan dalam cara dia menyekutukan otoritas religius dengan otoritas politis. Meskipun ada banyak aktivitas ritus dan kultus yang diasosiasikan dengan kaisar, tidak ada satu upacara pun yang dengan jelas menandai status istimewanya atau dalam mana ia berpartisipasi sebagai aktor dominan (misalnya, penobatan raja). Sebagai gantinya, pemujaan kaisar dipadukan kedalam struktur-struktur agama Romawi yang sudah ada (misalnya, asumsi kewajiban-kewajiban oleh Fratres Arvales dalam kultus-kultus imperial).

Lebih jauh lagi, sepanjang hidupnya Augustus tidak pernah secara personal mengklaim status dewa. Lebih tepat lagi, ia mengijinkan pemujaan genius dan numen miliknya. Bagi orang-orang Romawi, setiap orang (dan setiap makluk) mempunyai suatu genius. Itu adalah energi kehidupan dan kekuatan generatif yang inheren dalam kehidupan. Ketika orang-orang Romawi merayakan hari ulangtahun mereka, misalnya, mereka merayakan genius mereka. Augustus juga menginstitusikan pemujaan publik terhadap Lares dan numen keluarganya. Numen Augustus berupa anggukan Yupiter yang memberikan persetujuan pada sesuatu tindakan. Istilah itu mengisyaratkan kehendak dewa. Itu adalah ekuivalen makluk fana dengan genius. Berbeda dari genius, kebanyakan orang tidak mempunyai numen. Dengan mengorganisir pemujaan kultus terhadap numennya, Augustus bersikap mendua. Di satu pihak, pemujaan itu mengisyaratkan bahwa tidak ada perbedaan besar antara dia sendiri dengan seorang dewa atau tuhan. Di pihak lain, Augustus secara eksplisit tidak mengatakan bahwa dia tuhan.

Setelah Augustus mati, penggantinya, yang juga anak pungutnya, Tiberius, mengatur agar dia didewakan. Seorang senator mengumumkan (dan mengambil sumpah) bahwa ia telah menyaksikan Augustus naik ke surga. Senat memerintahkan membangun sebuah kuil, menunjuk seorang flamen, dan melembagakan satu kelompok imam khusus. Hal itu menjadi kebiasaan Roma untuk mendewakan kaisar-kaisarnya setelah kematian mereka. Retorika dari tindakan-tindakan itu senantiasa mengisyaratkan bahwa kaisar, karena pencapaian-pencapaiannya semasa hidupnya, memang pantas mendapatkan pengakuan. Kadang-kadang seorang kaisar “jelek” tidak mengikuti prinsip-prinsip itu. Caligula, misalnya, menyatakan dirinya dewa ketika ia masih hidup. Para sejarawan dan biografer Romawi yang menulis tentang Caligula menyatakan bahwa hal itu benar-benar ngawur dan merupakan bukti tentang kegilaan Caligula.

Kultus kaisar menjadi cara yang ampuh bagi Roma untuk mengintegrasikan orang-orang yang jumlah serta tipenya semakin lama semakin meningkat kedalam sebuah identitas kultural tunggal. Di luar Italia, misalnya,  pemujaan kaisar biasanya dikaitkan dengan pemujaan dewi Roma. Anggota-anggota elit lokal bisa dikenali dari nominasi mereka kedalam keanggotaan para imam yang khusus melayani Augustus dan Roma. Orang-orang kaya baru tetapi tidak mempunyai garis keturunan yang baik (misalnya bekas budak) bisa diasimilasikan kedalam struktur kekuasaan oleh imam-imam seperti itu.

Kultus-kultus Misteri

Salah satu hal menonjol tentang “kultus-kultus asing” yang masuk ke Roma adalah usaha keras orang-orang Romawi untuk mengendalikan operasi-operasi mereka di kota itu. Kita lihat dalam kasus Magna Mater, misalnya, Roma melarang warga negaranya menjadi imam-imam Cybele (sampai pemerintahan Claudius) dan membatasi pemujaan publik terhadap Ibu Agung itu. Selain itu, kebanyakan kultus dan dewa asing diundang ke Roma atas permintaan Senat setelah mencermati Kitab-kitab Sibylline. Di jaman Republik, agama “kultus” rupanya tunduk pada kontrol efektif oleh elit Roma. Ada beberapa perubahan signifikan selama periode imperial ini.

Pertama, penaklukan Roma terhadap kawasan Laut Tengah berarti bahwa rentang kebudayaan-kebudayaan yang dimasukkan kedalam kekaisaran Roma sekarang sangat besar. Ketika jumlah warga negara Romawi membesar, semakin tak terhindarkan bahwa warga negara mungkin sekali akan menyembah Baal atau Mithras sebagaimana mereka menyembah Vestia atau Jupiter.

Kedua, selama periode imperial, kekuasaan politik di Roma semakin menjadi fungsi atau otoritas militer dan kekayaan yang diperoleh dari daerah. Dengan demikian Roma kemudian sadar bahwa mereka dipimpin oleh kaisar-kaisar dari keluarga-keluarga terkemuka Spanyol, Afrika Utara, dan Syria yang sangat sukses sebagai jenderal-jenderal. Secara tipikal orang-orang itu mengalami “Romanisasi” secara intensif; mereka dan ayah-ayah mereka pernah tinggal di Roma dan dididik di Roma, tetapi orang-orang Romawi memandang mereka sebagai Romawi “Spanyol” dan “Afrika.” Sebagai kaisar, semua orang itu memgang jabatan pontifex maximus. Tidak mengherankan jika mereka seringkali mentolerir dan mendorong kultus-kultus dewa-dewi yang sudah cukup akrab bagi mereka, bahkan jika orang-orang di semenanjung Italia itu sendiri tidak mengenalnya.

Ketiga, orang-orang Romawi sendiri, di berbagai tingkat kelas sosial, semakin banyak melakukan perjalanan dan dengan demikian dihadapkan pada berbagai jenis peribadahan religius. Seorang anggota elit muda kemungkinan besar akan menggunakan sesuatu pelayanan militer atau imperial di sudut-sudut kekaisaran yang jauh sementara ia berusaha naik ke jajaran kekuasaan politik Roma.  Setelah Augustus relatif berhasil menjaga ketertiban politis di Roma, orang-orang Romawi yang berdagang mempunyai kepentingan untuk memperluas operasi-operasi mereka di seluruh penjuru kekaisaran. Mereka, anak-anak mereka, dan bekas-bekas budak mereka pasti melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk mengurusi kepentingan-kepentingan itu, dan karenanya sering melihat atau bahkan mencicipi –pemujaan kultus yang “eksotik” itu. Ketika akhirnya mereka kembali ke Roma, mereka mungkin menemukan pemujaan kultus itu juga sudah ada di sana, dibawa oleh pedagang-pedagang asing, para imigran dan budak. Dengan demikian apa yang dahulu merupakan mode pemujaan yangbersifat lokal kemudian menjadi masyarakat-masyarakat yang semakin kosmopolitan dan internasional.

Karena itu kultus-kultus itu menyediakan tempat untuk interaksi sosial yang didasarkan pada identitas dan preferensi individual. Seorang Romawi yang baru kembali dari timur mungkin akan menemukan sebuah kelompok di Roma yang menyembah Isis, kelompok yang lain lagi menyembah Mithras. Di Roma, mereka bisa mengikuti kelompok orang-orang yang berbagi entusiasme personal apapun yang dahulu menggugah minat mereka pada dewa atau dewi yang bersangkutan. Jika mereka melakukan perjalanan lagi, mereka bisa bertemu dengan orang-orang yang sepemikiran di situs-situs kultus untuk Isis atau Mithras di kota-kota di seluruh penjuru kekaisaran. Enerji yang diberikan oleh asosiasi yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan individual itu cukup berbeda dari enerji yang ditawarkan oleh partisipasi dalam agama negara dan publik Roma. Orang-orang Romawi tetap mengikuti agama negara itu (sekalipun, sebagaimana telah kita lihat, kepatuhan terhadap berbagai agama publik popularitasnya kembang kempis) karena hal itu esensiil bagi Romanitas mereka. Tetapi kultus-kultus menawarkan bentuk perilaku dan asosiasi yang esensiil bagi identias personal mereka—siapa mereka dan apa artinya hidup di dunia ini bagi mereka.

Organisasai kultus-kultus sangat spesifik. Beberapa cukup longgar dan santai—anda tinggal bergabung, dan jika anda tertarik, anda bisa menjadi imam atau imam perempuan. Yang lain bisa sangat hirarkis—hanya orang-orang yang berasal dari kasta imam di Mesir boleh menjadi imam agung Isis, bahkan di situs-situs kultus yang berlokasi di Roma. Meskipun kultus Mithras terbatas pada para lelaki dan cenderung memikat pengikut dari kalangan militer, banyak kultus bersifat sangat demokratis dalam keanggotaan mereka—pria dan wanita dari aneka macam identitas etnik beribadah bersama-sama, juga dengan para bekas budak dan senator (dan kadang-kadang budak).

Kultus-kultus misteri menyodorkan pada para penganut mereka suatu visi sangat spesifik mengenai hakekat dunia, dan akses menuju suatu hubungan personal dengan sang ilahi yang akan memberi mereka suatu kedamaian transenden dalam eksistensi kemanusiaan mereka, dan seringkali prospek sebuah kehidupan yang mengatasi kematian. Secara tipikal, menurut mitologi mereka, dewa-dewa dari kultus-kultus misteri telah mati dan dibangkitkan kembali. Orpheus, Dionysus, Attis, dan Yesus semuanya adalah dewa-dewa yang oleh para penganutnya dipercaya telah mati dan bangkit kembali.  Mereka menawarkan pada para pengikut mereka kemungkinan kebangkitan kembali yang sama. Banyak kultus misteri memiliki ciri-ciri struktural yang serupa: para penganut baru diinisiasi kedalam kultus itu dengan sebuah upacara di mana mereka mengakui dan menyatakan identitas mereka sebagai penganut dewa yang bersangkutan. Upacara-upacara kultus seringkali meliputi himen-himne dan perjamuan-perjamuan ritual. Sebagian besar kultus mematuhi sebuah kalender perayaan-perayaan tahunan yang didahului dengan masa-masa persiapan ritual (misalnya, puasa). Satu-dua kultus mempunyai tradisi kitab atau sastra yang sudah sangat maju dan karena itu mereka secara tipikal tidak memiliki teologi yang koheren atau konsisten. Meskipun mereka mirip antara yang satu dengan yang lain secara struktural, renik-pernik dari kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek mereka bisa berbeda secara dramatis.

Masalah Bacchanalia

Banyak dari aspek-aspek pemujaan kultus yang menjadikan mereka begitu populer di kalangah warga Kekaisaran Romawi ternyata meresahkan jajaran kepemimpinan politis/religius Roma. Kultus-kultus itu secara tipikal bersifat inklusif dan tidak hirarkis, kecuali dalam penghormatan sosial yang diberikan oleh anggota-anggota kultus kepada imam-imam mereka. Selain itu, imam-imamnya seringkali bukan orang Romawi dan tidak mempunyai latar belakang sosial yang “terbaik.” Kultus-kultus itu juga berpotensi menyodorkan sesuatu bentuk identitas sosial yang dianggap melebihi (atau merongrong) nilai-nilai Romawi yang menggaris-bawahi hiarki gender, status, dan kelas. Banyak kultus “asing” diwajibkan menjaga agar lokasi kultus mereka tetap berada di luar pomerium. Ketika popularitas kultus mulai menjangkau keluar dari kelompok etnik atau lokal tertentu (misalnya orang-orang Phoenicia atau Yahudi) di Romawi, Senat Roma (dan Kaisar) cenderung waspada. Kultus-kultus yang mempunyai tempat-tempat pemujaan privat, bahkan rahasia, dan tingkat-tingkat inisiasi yang kompleks (misalnya Mithras, Kristianitas) cenderung membangkitkan kecurigaan Roma. Jika ritus-ritus dan bahasa ritual kultus tidak mudah dipahami oleh orang-orang Romawi (misalnya, “makanlah roti ini, ini tubuhku”), maka kecurigaan dengan cepat berkembang menjadi permusuhan terbuka dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang menindas. Sebaliknya, kultus-kultus yang menyambut baik asimilasi dengan dewa-dewi Romawi yang lebih tradisional dan yang memasukkan perayaan-perayaan demi kesejahteraan kaisar kedalam kalender ritual mereka (misalnya Isis), tidak menghadapkan masalah besar bagi para elit Romawi.

Sampai jauh memasuki abad ke-3 EB, anggota-anggota pria dari elit senatorial dan kalangan elit equites (pasukan berkuda) Romawi biasanya tidak bergabung dengan kultus-kultus misteri, meskipun mereka mentolerir kultus-kultus itu. Tetapi ketika di provinsi-provinsi, mereka mungkin mempersembahkan korban secara hormat pada dewa-dewa yang bersangkutan. Begitu pula, mereka mungkin memberikan sumbangan kepada kultus-kultus itu sebagai patron yang berpikiran terbuka.  Sebaliknya, anggota-anggota dari elit pemerintahan kota lebih sering secara terbuka dan secara penuh berpartisipasi dalam kultus-kultus. Di kota Roma sendiri, anggota-anggota kultus berasal dari jajaran orang-orang biasa dan orang-orang yang dipandang rendah: warga negara yang lahir bebas tetapi tidak mempunyai jaminan ekonomis tertentu, para bekas budak, dan budak-budak (dan orang-orang asing yang sedang melawat atau bermigrasi ke Roma). Bagi hoi polloi, anggota-anggota elit Romawi, menganut kultus dianggap rendah.

Tetapi dalam salah satu segmen keanggotaan mereka, kultus-kultus misteri itu secara tipikal melanggar hirarki-hirarki kelas Romawi. Kultus-kultus misteri secara tipikal melanggar hirarki-hirarki kelas Romawi. Wanita-wanita Romawi dari elit senator seringkali memainkan peranan besar sebagai patron-patron dan partisipan kultus-kultus misteri. Meskipun agama negara tradisional Romawi memberikan tempat pada para wanita, agama itu tidak memberi mereka peranan aktif dalam pelaksanaan ritual-ritual dan, dengan satu-dua kekecualian, tidak memberi mereka posisi otoritas keagamaan apapun. Anggota-anggota pria dari elit Romawi seringkali mengeluh tentang superstitio isteri-isteri dan anak-anak perempuan mereka (well, sebenarnya mengeluhkan isteri-isteri dan anak-anak perempuan orang lain yang tidak terkendali). Keluhan itu biasanya dibesar-besarkan. Pembesar-besaran itu sendiri mewakili kekhawatiran para anggota pria alit senator ketika menghadapi orang-orang “lain,” yang diwakili oleh kultus misteri yang feminin dan asing itu. mereka khawatir kultus itu akan merongrong otoritas pria Romawi dengan jalan terlebih dulu merongrong wanita-wanita yang lemah dan rentan.

Bukti tertua yang kita lihat mengenai respon Romawi yang bersikap memusuhi terhadap sebuah kultus asing dan feminin adalah benar-benar tua. Livy menceritakan bahwa selama Perang Punicia Kedua, seorang praetor Romawi mengambil tindakan publik terhadap sebuah praktek keagamaan oleh wanita-wanita Romawi yang oleh Senat sangat tidak disenangi. Kita tidak tahu banyak mengenai hal itu, tetapi para ahli percaya hal itu berkaitan dengan penindasan senatorial lain yang lebih terkenal (pada 186 SEB) terhadap para pemuja dewa Yunani Dionysus (yang juga disebut Bacchus). Pemuja Dionysus disebut Bacchants dan perayaan-perayaan yang menghormatinya disebut Bacchanalia.

Kultus Bacchic telah berabad-abad mapan di Yunani dan mapan di Etruria dan Italia selatan jauh sebelum 186 SEB dan juga sudah cukup lama mapan di Roma. Dengan demikian tindakan Senat terhadap kultus itu dilakukan setelah Senat mentolerirnya untuk waktu lumayan lama. Para pemeluknya meliputi para budak dan orang-orang merdeka, orang-orang Romawi dan Latin, dan pria maupun wanita. Kultus itu rupanya terorganisasi secara cukup hirarkis, dengan para pemeluk memberi imam-imam otoritas lumayan besar dalam perilaku kehidupan personal mereka. Bagi anggota-anggota elit Romawi, keanggoptaan yang inklusif dipadukan dengan otoritas itu adalah praktek keagamaan yang aneh dan mengancam. Kultus itu juga terlibat dalam praktek-praktek “ekstatik”—mereka mabuk-mabukan dan setidak-tidaknya berbicara dengan bahasa yang sangat erotik mengenai pertemuan mereka dengan sang dewa.

Meskipun banyak dari propaganda Romawi menentang kultus itu difokuskan pada kritik-kritik terhadap praktek ritual, edict Senat kenyataannya diarahkan untuk menentang organisasi hirarkis kultus itu. Edict itu melarang orang-orang Romawi menjadi imam. Edict itu melarang para penganut untuk berbagi uang dan hak milik dalam bentuk barang. Edict itu melarang para penganut  mengakui otoritas imam-imam Bacchus dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, para pengikut Bacchus bisa mabuk dan berhubungan seks sepuas mereka asalkan pemujaan mereka tidak menciptakan sebuah struktur otoritas religius dan sosial yang tidak bisa dikendalikan oleh anggota-anggota elit Senat. Begitu pula, meskipun propaganda yang Livy ulang-ulang menyerang peranan para wanita dalam kultus itu, apa yang rupanya mendorong Senat mengambil tindakan keras adalah fakta bahwa kultus itu telah menjadi populer di kalangan para pria Romawi. Karena itu, struktur kultus yang ada pasti telah memungkinkan otoritas para wanita atas kehidupan sehari-hari para penganut pria yang sepenuhnya merongrong otoritas tradisional pater familias Romawi.

Timing tindakan Senat juga menarik. Para Senator jelas sudah cukup lama mengetahui kultus itu dan aktivitas-aktivitasnya sebelum mereka beruasha menindasnya. Mengapa tidak dari dulu? Para serdadu Romawi yang baru saja kembali dari aktivitas pertama Romawi yang berkepanjangan di negeri asing pasti tidak senang pada gangguan itu. Sekutu-sekutu Roma, yang mentolerir, meskipun tidak mendorong, kultus-kultus Bacchic itu mungkin menunjukkan perasaan tidak senang pada campur tangan otoritas Romawi dalam urusan domestik mereka justru ketika Roma membutuhkan bantuan mereka untuk melawan Hannibal. Meskipun begitu, popularitas kultus itu mengisyaratkan sesuatu kebutuhan dalam populasi Romawi yang tidak bisa dipenuhi oleh praktek-praktek keagamaan negara yang sudah ada. Banyak ahli percaya bahwa keputusan Senat untuk mengimpor kultus Magna Mater, tetapi di bawah kontrol yang kaku, sebenarnya merupakan sebuah usaha untuk memenuhi kebutuhan itu dengan cara yang tidak mengancam otoritas mereka. Tetapi kultus Bacchic itu mampu bertahan hidup, setidak-tidaknya di luar Roma, dan yang jelas secara lebih diam-diam ketimbang sebelum jaman penindasan. Seyoganya anda memikirkan penerimaan Bacchus di Roma ketika anda memikirkan penerimaan Roma terhadap Yesus beberapa abad kemudian.

Sumber: Bahan kuliah Sejarah Peradaban Romawi; http://abacus.bates.edu/

Terjemahan: Bern Hidayat, 23 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: