Kritik Kristus terhadap Korban Darah

27/01/2010

Ada teori yang menyatakan bahwa Yesus marah besar karena penipuan yang dilakukan oleh para pedagang uang itu telah menjadi “terlalu komersiil.” Itu sama saja dengan menyatakan bahwa institusi perbudakan harus dihapuskan karena perbudakan telah menjadi terlalu komersiil. Meskipun baik ibadah korban Bait Allah maupun perbudakan manusia sama-sama mempunyai dasar ekonomis yang kuat, immoralitas sistem-sistem itu sendirilah yang membuat kekuatan-kekuatan historis akhirnya bersatu untuk merobohkannya.


Beberapa ratus tahun setelah nabi-nabi seperti Yesaya, Yeremia, Amos, dan Hosea mengutuk pembantaian hewan untuk korban persembahan, Yesus melakukan apa yang secara euphemistis disebut Pembersihan Bait Allah. Itu terjadi menjelang Paskah dan ia mengobrak-abrik jual-beli hewan korban persembahan. Dan karena para sarjana serta pemimpin agama Kristen terus menerus mengabaikan kutukan-kutukan dalam injil terhadap ibadah yang berdarah-darah itu, maka mereka juga mengaburkan alasan mengapa Yesus menyerang sistem itu.

Mereka melakukan hal itu dengan jalan mengarahkan perhatian hanya pada para pedagang uang, meskipun pedagang uang itu hanya pemain kelas teri dalam drama yang tergelar itu. Kultus persembahan korban itu sendirilah yang Yesus ingin bongkar, bukan sistem pertukaran moneter. Dalam kisah-kisah di ketiga injil, pihak-pihak yang menyediakan hewan untuk korban disebutkan terlebih dulu: merekalah sasaran pertama kemarahan Kristus.

Injil Yohanes memberikan pemaparan paling rinci mengenai kejadian itu:

“Ketika hampir tiba  saatnya untuk perayaan Paskah Yahudi, Yesus pergi ke Yerusalem. Di halaman Bait Allah ia menemukan orang-orang yang menjual lembu, domba, dan burung merpati, dan orang-orang lain yang duduk di meja-meja penukaran uang. Karena itu ia membuat cemeti dari tali dan mengusir mereka semua dari bait Allah, baik domba maupun lembu; ia menyebarkan koin-koin para pedagang uang dan menjungkir-balikkan meja-meja mereka. Kepada orang-orang yang menjual merpati ia memerintahkan, “Keluar dari sini.’” (Yoh. 2:13-16).

Injil Mateus tidak merinci jenis hewan yang dijual untuk korban, tetapi memberikan urut-urutan kejadian secara agak runtut:

“Yesus memasuki halaman Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual-beli di sana. Ia menjungkir-balikkan meja-meja para pedagang uang dan bangku-bangku dari orang-orang yang berjualan merpati. ‘Ada tertulis,’ ia berkata kepada mereka, ‘Rumahku akan disebut rumah doa, tetapi kamu membuatnya menjadi sarang para perampok.” (Mat. 21:12-13).

Cerita yang sama diberikan dalam injil Markus, yang, seperti Mateus, juga melaporkan bahwa Yesus menuduh orang-orang di Bait Allah telah membuat rumah Tuhan menjadi “sarang perampok.” Dan ada pengakuan universal bahwa dalam  kedua injil itu, ketika Yesus mengatakan hal itu, ia mengutip dari nabi Yeremiah (7:11).

Nabi itu telah melontarkan tuduhan yang sama pada orang-orang di jamannya sendiri, hampir 600 tahun lebih awal. Ia menyatakan hal itu sambil berdiri di gerbang Bait Allah, setelah ia terlebih dulu memperingatkan orang-orang itu “jangan menumpahkan darah tak berdosa di tempat ini.” Dan ketika Yeremiah menyatakan rumah Tuhan telah diubah menjadi sarang perampok, pernyataan itu tidak mungkin berkaitan dengan pedagang uang, sebab di jaman Yeremiah pedagang uang belum ada.

Di jaman Yeremiah, sebagaimana di jaman Yesus, ada perbedaan besar antara “perampok” dengan “pencuri.” Di jaman sekarang, perbedaan itu bisa dipahami sebaik-baiknya dengan jalan membandingkan kejahatan pencuri ayam tetangga dengan kejahatan perampokan bersenjata oleh orang-orang yang dengan kekerasan menyerang atau membunuh korban mereka. Tetapi di Israel jaman dahulu ada perbedaan yang jauh lebih besar lagi. Pencuri bisa siapa saja yang menyerah pada dorongan sesaat untuk mencuri sesuatu, tetapi perampok adalah orang yang melakukan kejahatan dengan kekerasan dan pembunuhan sebagai sebuah gaya hidup.

Baik Yesus maupun Yeremiah muak pada kekerasan ibadah pengorbanan, bukan pada kemungkinan terjadinya  pencurian kecil-kecilan oleh para pedagang uang. Ketika mereka mengatakan rumah Tuhan telah menjadi sarang “perampok,” kata Hibrani yang digunakan di situ (yang di sini ditransliterasikan) adalah “per-eets,” yang didefinisikan sebagai “perampok dengan kekerasan, tiran, pengrusak, serakah.” Kekerasan sistem, pembunuhan korban-korban tak berdosa dalam nama Tuhan—itulah yang mereka kutuk. Para pedagang uang yang beroperasi di jaman Yesus diusir keluar dari Bait Allah karena mereka ikut ambil bagian dalam proses agama pengorbanan itu, bukan karena mereka mungkin menipu para pejiarah.

Injil Markus menghubungkan usaha Kristus untuk menghapus sistem korban itu dengan rencana untuk membunuhnya. Seperti injil Mateus, kisah Markus mengenai Pembersihan Bait Allah itu diawali dengan mengatakan bahwa Yesus “mulai mengusir orang-orang yang membeli dan berjualan di sana.” Kemudian injil itu menceritakan bagaimana ia menjelaskan kepada orang-orang mengapa ia melakukan hal itu, dengan mengutip penentangan Yeremiah terhadap korban hewan: “Rumahku akan disebut rumah doa bagi semua bangsa. Tetapi kalian telah membuatnya menjadi sarang perampok.” Dan dalam ayat injil langsung sesudah pernyataan itu, Markus melaporkan bahwa “Imam-imam agung dan guru-guru alkitab mendengar tentang hal itu dan mulai mencari cara untuk membunuhnya, sebab mereka takut padanya, sebab kerumunan orang banyak itu takjub pada ajaran-ajarannya” (Markus 11:18).

Adalah konyol untuk menyatakan bahwa para pemimpin agama di jaman Kristus berencana untuk membunuhnya karena ia merongrong fungsi para pedagang uang. Kerumunan orang banyak itu juga tidak akan “takjub pada ajaran-ajarannya” andaikata Yesus sekedar menyuruh mereka untuk berhati-hati agar tidak tertipu ketika mereka membeli koin-koin Bait Allah. Yang ditakjubi oleh orang-orang itu adalah kutukan Yesus terhadap pengorbanan hewan; sudah ratusan tahun kutukan seperti itu terdengar di Yerusalem. Dan itu tidak akan dibiarkan begitu saja.

Beberapa hari setelah ia berusaha mengobrak-abrik kultus pengorbanan hewan itu, Yesus disalib. Para pemimpin agama di jamannya bertekad melestarikan kepercayaan yang telah diwajibkan oleh Allah, yang menuntut agar kepercayaan itu dilestarikan.

Tekad itu digemakan dalam ajaran-ajaran para pemimpin Kristen kontemporer. Terlepas dari ajaran Yesus, dan terlepas dari begitu banyak kutukan terhadap pengorbanan hewan, mereka terus menerus mempertahankan fiksi kuno bahwa Allah lah yang memerintahkan agar makluk-makluk ciptaanNya dibunuh dan dibantai sebagai sebuah laku ibadah.

Bisa dipahami bahwa di jaman Yesus para pemimpin agama bertekad melestarikan sistem pengorbanan Bait Allah itu dengan segala cara: itu adalah pusat kehidupan mereka dan itu adalah penopang penghidupan mereka.

Dan di jaman injil, kebanyakan orang buta huruf dan tergantung pada apa yang diajarkan oleh para pemimpin agama mereka mengenai alkitab. Tetapi tidak mudah untuk memahami mengapa orang-orang Kristen jaman sekarang memelihara validitas kultus pengorbanan hewan itu. Di jaman melek huruf yang semakin luas ini, ada pilihan yang bisa diambil. Injil dengan jelas menyodorkan konflik yang berkelanjutan terus antara kekuatan-kekuatan yang menuntut ritual pengorbanan hewan dalam nama Tuhan dan kekuatan-kekuatan yang menentangnya sebagai sebuah kesalah-pahaman manusia.

Dan karena ada pilihan yang bisa diambil, adalah sangat menggelisahkan untuk melihat bahwa selama berabad-abad ini pemimpin-pemimpin Kristen bergandengan tangan dengan pemimpin-pemimpin jaman kuno untuk mengesyahkan sebuah sistem ibadah di mana rumah Tuhan menjadi rumah jagal raksasa yang digenangi darah korban-korbannya.

Lebih jauh tentang besarnya uang yang beredar di Bait Allah dan jaringan bisnis di sana, baca . . . .

Judul asli: “Christian Assault on Blood Sacrifice”

Sumber:The Nazarene Way of Essenic Studies di  http://www.thenazareneway.com.

Terjemahan: Bern Hidayat,  27 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: