“Kristus atau Agama?”

27/01/2010

Yoh 2:13-2

Orang-orang Lutheran suka bicara tentang rahmat. Konon rahmat adalah ciri khas kita. Dan ini aneh, sebab kita tidak begitu penuh rahmat— biasanya. Kita berusaha keras untuk tidak tersandung kaki sendiri. Kadang-kadang kita tersandung teologi kita sendiri, dan itu sebabnya kita mengamankan diri dengan jalan memadukan injil dengan hukum (Torah). Ketika rahmat dirasakan tidak memayungi sesuatu situasi, kita katakan, “Well, kalau begitu itu soal Torah. Bagaimanapun juga, kita kan orang yang percaya pada injil dan Torah.” Dan kita berharap di antara kedua hal itu, apapun yang sedang kita bicarakan akan terpayungi. Tetapi kita penganut rahmat yang kuat, bahkan sekalipun kita sendiri tidak begitu penuh rahmat.

Itu istilah yang ganjil, ‘kan —rahmat itu? Kita menggunakan kata “grace” untuk melukiskan apa saja, dari keanggunan seorang nyonya rumah sampai ke gemulainya seorang ballerina sampai ke kerendahan hati seorang politikus yang terpuruk sebagai pecundang. Dan sebagai orang Kristen Lutheran, kita menggunakan istilah itu untuk melukiskan inti kepercayaan kita. Sebagaimana begitu banyak kata-kata besar, istilah itu menjadi kelewat umum sehingga maknanya menghilang, tetapi, bagi kita, istilah itu melukiskan kasih gratis yang Tuhan berikan pada kita siapapun diri kita dan bagaimanapun keadaan kita—bahkan ketika kita tersandung-sandung karena polah sendiri. Itu adalah momen kegembiraan yang mencengangkan di dunia yang serba harus mbayar ini; kadang-kadang itu rasanya seperti sesuatu nostalgia kecil yang hanya ada di jaman ketika orang-orang masih punya hati—jaman ketika orang-orang peduli satu sama lain, jaman ketika matahari tenggelam terasa indah, ketika orang-orang benar-benar meluangkan waktu untuk ngobrol dengan tetangga, ketika orang-orang tidak serba ngebut agar bisa mendahului orang lain, sehingga bisa berhenti sebentar, mengingat-ingat, dan menyapa satu sama lain. Itu ibarat masuk kelas satu SD dan mendengar guru mengatakan, “Ibu sudah memberi kalian nilai A semua. Nah, sekarang kita mulai belajar.” Ini tidak sering terjadi ‘kan?

Salah satu hal yang aneh tentang rahmat adalah bahwa agama seringkali terkenal owel dengan ini. Salah satu dari kebutuhan-kebutuhan terdalam kita adalah diterima oleh orang-orang lain—khususnya orang-orang yang lebih kuat daripada kita. Misalnya Tuhan. Agama memenuhi kebutuhan ini dengan jalan menjadi wahana lewat mana kita diyakinkan tentang penerimaan Tuhan, dan seringkali kita berusaha mencapai hal ini dengan jalan membujuk dia dengan aneka macam cara agar baik hati dan pemurah. Di jaman Perjanjian Lama, korban-korban disajikan untuk meredakan kemarahan dewa-dewa, dan upacara-upacara kesuburan dilakukan untuk memastikan agar dewa-dewa tidak lupa mengusahakan agar dunia ini tidak berhenti berputar. Bentuk-bentuknya mungkin sudah berubah, tetapi idenya bahkan sampai sekarang masih tetap —kebanyakan orang merasa bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk membuat Tuhan menerima dan mencintai mereka. Taruhannya jelas tinggi. Dan sekali agama bisa meyakinkan seseorang bahwa ia bisa membuat Tuhan melakukan apa yang mereka ingin agar Tuhan lakukan, maka agama menjadi kekuatan yang maha kuat dalam hidup. Tidak sulit membuat seseorang bekerja sangat keras bagi agama seperti itu. Kita tahu bahwa orang-orang akan dengan senang hati mati demi itu. Mereka akan membunuh orang-orang lain, menanam bom, dan melontarkan banyak kata-kata busuk tentang orang-orang lain, jika mereka mengira bahwa dengan melakukan hal-hal itu mereka akan mendapatkan nilai rapor bagus dari Tuhan. Karena itu orang-orang yang memegang kendali atas agama memiliki kepentingan besar untuk senantiasa menghidupkan gagasan bahwa mereka memegang kunci kerajaan Allah. Tentu saja kabar paling buruk yang bisa anda sampaikan pada seorang makelar agama adalah bahwa produk yang tengah mereka jajakan itu sebenarnya gratis—tis—seperti udara terbuka.

Itulah konflik dasar antara Yesus dengan para penguasa agama di jamannya. Tetapi tentu saja konflik itu diawali jauh sebelum konfik-konflik Yesus dengan orang-orang Farisi. Kisah Perjanjian Lama itu sebenarnya diawali dengan tindakan Tuhan yang melimpahkan rahmat memilih sebuah kelas budak Mesir—orang-orang “haibru,” para penggembala ternak nomaden yang nasibnya di Mesir jadi kedhungsang-dhungsang.  Ia yakinkan pada mereka bahwa, meskipun mereka bukan apa-apa di mata orang lain, mereka adalah istimewa baginya, mereka adalah orang-orangnya, dan ia berjanji tidak akan meninggalkan mereka atau menyengsarakan mereka. Dan mereka dipaksa untuk tanpa henti-hentinya bergulat dengan fakta yang satu ini—bahwa Tuhan mengejar-ngejar mereka, bahkan ketika mereka lari menghindari dia. Dengarkan kata-kata Daud dalam Mazmur 139:

Where shall I go from your Spirit?
Or where shall I flee from your presence?
If I ascend to the heavens, you are there!
And if I make the grave my bed, you are there!
And if I take the wings of the morning,
And dwell in the uttermost parts of the sea,
Even there your hand shall lead me,
And your right hand hold me fast!

What marvelous words of grace! That note fills the Old Testament. Yet slowly, relentlessly, the laws and rituals and customs of Israel, meant to convey God’s grace, became the property of religion-mongers. Instead of being proclamations of God’s love, and means of giving thanksgiving to him; in the hands of the religionists they became means of buying off God. The prophets kept telling Israel not to go the way of the religionists. Hosea says, “I desire steadfast love, not sacrifice; the knowledge of God rather than burnt offerings.” Amos goes so far as to say, speaking for God: “I hate your feasts; I take no delight in your solemn assemblies…. But let justice roll down like waters and righteousness like an ever-flowing stream!” Needless to say, the religionists didn’t like that, and many prophets paid dearly for their proclamation of grace. And the religionists of our day still don’t like it. That’s where we enter the Gospel story today.

Setiap lelaki Yahudi dewasa, selain membayar pajak persepuluhan seperti biasanya,  diwajibkan membayar pajak Bait Allah tahunan—yang besarnya setengah shekel, yang nilainya setara dengan upah dua hari kerja. Ia juga diwajibkan mempersembahkan korban-korban tertentu sepanjang tahun. Tetapi ketika dia sampai ke Bait Allah dengan membawa uang di koceknya,  rasanya seperti harus antre di loket jalan toll. Pertama, dia harus menukar uangnya dengan mata uang Bait Allah, lewat seorang makelar, sebelum bisa membayarkan uang setengah shekel itu. Kemudian ada makelar hewan korban, yang menjual hewan-hewan korban. Jika kamu bawa hewan sendiri dari rumah, mungkin para imam akan mengatakan hewanmu tidak memenuhi syarat, jadi kamu harus menemui salah satu makelar hewan korban itu. Dan semua itu berlokasi di  alun-alun luar Bait Allah, alun-alun orang kafir—tempat yang khusus disediakan bagi orang-orang kafir yang hendak beribadah pada Allah. Tempat itu mirip pasar jalanan, dengan para penjaja asongan meneriakkan dagangan dan tawar-menawar, tukar menukar, tipu menipu —semuanya di satu tempat yang seharusnya dipakai untuk beribadah.

Bagi para penguasa Bait Allah, itu sama sekali bukan masalah—bagaimanapun juga itu toh daerah orang kafir. Sebagaimana biasanya, orang-orang luar lah yang harus menanggung beban masalah. Orang-orang kafir adalah orang-orang yang terpaksa gelut agar bisa beribadah di tengah pasar alun-alun itu, dan orang-orang miskin lah yang diperas habis-habisan oleh para pedagang itu. Bait Allah itu sendiri makmur; kenyataannya, Bait Allah berkembang menjadi bank terbesar di Timur Tengah, dan orang-orang Romawi sering meminjam dari Bait Allah untuk mendanai proyek-proyek bangunan publik favorit mereka.

Bazaar komersial, eksploitatif, dan murahan—cuma itulah jadinya iman Israel. Cuma itulah jadinya iman Abraham, Isak, dan Daud. Cuma itulah arti Tuhan yang tidak henti-hentinya mengejar-ngejar mereka untuk mengulurkan rahmat dan cinta kasih.

Kita biasa menganggap orang Kristen sebagai orang lembek yang menjadi keset pintu bagi seluruh dunia. Tetapi itu bukan iman ajaran injil. Kadang-kadang, untuk menunjukkan iman, kamu harus bangkit membela apa yang benar. Kadang-kadang iman menyuruh kita gelut. Kadang-kadang integritas meledakkan kemarahan. Sejak insiden itu, orang-orang menjadi risau dengan apa yang Yesus lakukan. Kita mirip para pengusaha di jaman Martin Luther King, yang mengatakan bahwa King tidak anti-kekerasan, sebab ketika King bangkit untuk membela yang benar, ia membuat bisnis mereka anjlok. Tuhan tidak menghendaki bisnis merugi. Kita berpikir seperti itu ketika kita menganggap bisnis sebagai Tuhan kita. Kita suka menutup-nutupi masalah,  memalingkan muka, khususnya ketika sampai pada “business as usual” —jangan sampai kendhil kita njomplang. Tetapi kadang-kadang, agar kebenaran menang, kebenaran harus gelut untuk mendapatkan pengakuan. Persis ketika Yesus memasuki Bait Allah, ia melihat apa yang sedang terjadi di sana. Ia melihat situasinya lewat mata Allah. Dan kemarahannya meledak. Dengan mengambil beberapa buluh yang biasa dipakai sebagai alas tidur hewan-hewan, dengan tekad yang dingin, ia memilin sebatang cemeti. Kemudian ia datangi para pedagang uang  dan pedagang hewan, ia jungkir-balikkan meja-meja mereka dan ia lecuti mereka sampai keluar dari Bait Allah.

Tentu saja, para religionis itu berang. “Apa maksudmu, mengganggu ibadah?” begitu teriak mereka, dan, tentu saja, yang sebenarnya mereka maksudkan adalah, “Apa maksudmu, mengganggu bisnis?” “Memangnya siapa kamu ini? Apa wewenangmu melakukan ini?” Anda lihat betapa subtil argumen mereka? Itu adalah argumen yang selama sekian abad digunakan oleh para religionis: “Allah telah menunjuk kami untuk mengurusi distribusi rahmatnya. Soal agama, kami ahlinya. Berani-beraninya kamu menggugat kami.” Kemudian, atas nama agama, mereka bangkit untuk menghancurkan iblis yang bernama Yesus itu dan melindungi investasi-investasi mereka.

Begitulah cara kerja agama. Ketika iman menjadi agama, ia jadi lebih memikirkan institusi-institusi dan sistem-sistem yang ia sponsori ketimbang kehidupan yang diwarnai rasa syukur yang sederhana. Ketika iman menjadi agama, ia jadi lebih memikirkan upaya membangun dan melindungi dirinya sendiri dan kantor-kantornya ketimbang memikirkan respon iman sederhana dari orang-orang yang beriman. Ketika iman menjadi agama, ia jadi lebih berkepentingan untuk mengusahakan agar uang selalu mengalir, ketimbang mengusahakan agar iman tetap hidup dan menggelora. Dan iman yang sudah menjadi agama itu akan selalu menyerang dan berusaha menghancurkan siapapun yang mengancam posisinya yang istimewa.

Yesus mengatakan pada para religionis di jamannya: “Robohkan Bait Allah ini dan dalam tiga hari aku akan membangkitkannya kembali.” Dalam bahasa Yunani, itu adalah sebuah tantangan. “Silahkan! Coba kalau kau berani!” Tetapi si penulis injil itu mencatat bahwa imam-imam bait Allah itu begitu terbelenggu oleh persepsi “kompleks perkantoran” mereka sehingga mereka tidak menangkap makna yang sebenarnya—bahwa Yesus sedang berbicara tentang tubuhnya sendiri, bukan tentang kuil mereka yang megah. Sebagaimana biasa, mereka sama sekali tidak mengerti. Mereka mengira Yesus berniat merobohkan Bait Allah itu—dan memang cuma itu yang mereka ingin ketahui. Mereka takut Yesus akan menutup panggung sandiwara mereka, dan mereka memandang diri mereka sendiri sebagai pengawal Bait Allah. Allah tergantung pada mereka. Mereka menguasai loket penjualan tiket ke surga.

Tetapi Yesus tengah menunjukkan bahwa Tuhan tidak tinggal dalam kuil-kuil. Tuhan tidak menghendaki jawaban dari batu-batu. Merdunya gemerincing uang di piring kolekte tidak membuat Tuhan meneteskan air mata. Ketika kita mendatangi Tuhan, kita mendatangi dia —bukan mendatangi sebuah gedung. Kita mendatangi Yesus; dialah Bait Allah itu, dialah tempat Allah tinggal, dialah tempat Allah disembah dalam roh dan dalam kebenaran. Tetapi bahkan andaikata bait itu—bait yang jauh lebih megah daripada bait di mana ia tengah berdiri—andaikata bait itu dihancurkan, Allah lah yang akan membangkitkannya kembali, bukan para religionis, sebab itu adalah perbuatan Allah sendiri, karyanya yang mentakjubkan. Tidak satu manusia pun memiliki kuasa untuk membolehkan orang masuk atau mengusir orang keluar dari bait itu; hanya Allah lah yang memegang otoritas atas bait itu.

Nah, bagaimana dengan kita sendiri?

Ini adalah gedung yang cantik. Ini adalah salah satu dari gereja-gereja paling cantik yang pernah saya masuki. Siapa pun yang memasuki tempat kudus ini berkomentar betapa indahnya tempat ini. Tetapi ini bukan rumah Tuhan. Tuhan tidak tinggal di sini. Tuhan tinggal dalam diri kamu—karena Kristus tinggal dalam diri kamu. Tidak seorang  pastur pun, atau uskup, atau paus, bisa memberimu kursi terdepan di stadion surga, atau sebaliknya mengusirmu keluar. Kunci ke surga ada di sakumu sendiri—di hatimu sendiri. Kamu sudah mendapatkan kursi terbaik di gedung itu. Kamu bahkan sudah mendapatkan hotline langsung ke surga—itu disebut doa. Tidak seorang pun lebih dekat pada Tuhan ketimbang kamu sendiri, sebab Tuhan tinggal dalam hatimu. Para religionis mungkin mengklaim semua jawaban ada di tangan mereka, dan, jika kita mengikuti mereka, menjaga agar uang senantiasa mengalir, dan mematuhi semua aturan dan tatanan—jika kita melakukan apa pun yang mereka perintahkan agar kamu lakukan, maka mereka akan meladeni kita—Tuhan akan memandang kita dengan ramah, ia akan mengampuni dosa-dosa kita, dan pada hari khiamat ia akan menimbang kita di timbangan kosmik besar di langit sana dan memutuskan apakah kita boleh masuk surga. Tapi itu omong kosong.

Kalau mereka mau memeluk agama seperti itu, silahkan, monggo.  Tetapi Yesus mengatakan pada wanita Samaria itu, “Percayalah, akan tiba waktunya ketika kau menyembah Bapa tidak di gunung [Gerizim] ini, tidak di Yerusalem. . . . . Akan tiba waktunya, dan itu adalah sekarang ini juga, ketika orang-orang yang beriman sejati menyembah Bapa dalam roh dan dalam kebenaran, sebab itulah yang Bapa kehendaki untuk menyembahnya.” Roh Tuhan  tinggal dalam dirimu, kata St. Paulus, bahkan membawa doa-doa hatimu yang tak terucapkan ke tahta rahmat Tuhan. Kau adalah tabernakel Tuhan. Bukan karena seorang religionis telah memanipulasi Tuhan sehingga berkenan padamu, melainkan karena Tuhan senantiasa sudah berkenan padamu—Tuhan senantiasa mencintaimu dan dalam baptismu telah menjadikan kau miliknya. Ia memilihmu menjadi anak kesayangannya, karena rahmat dan kasihnya sendiri. Ia memutuskan bahwa ia ingin tinggal dalam hatimu. Kasih Tuhan adalah harta yang tidak bisa dibeli. Itu adalah harta yang tidak seorang pun bisa jual padamu. Tetapi — terima kasih, Tuhan— itu adalah harta yang gratis, tinggal nerima.

Judul asli: “Christ or Religion?”

Sumber: www.stjohn’s-online.org

Terjemahan: Bern Hidayat, 1 November 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: