KRISTIANITAS POLITIS DALAM GEREJA PURBA

27/01/2010

oleh Robin Phillips

Adalah anggapan umum bahwa sebelum Constantine di abad ke-4, orang-orang Kristen nyaris tidak berurusan dengan politik sama sekali. Itu sama sekali tidak benar. Di abad pertama saja, Kristianitas dan politik terkait secara mutlak. Untuk mengapresiasi signifkansi dari hal ini, kita membutuhkan informasi latar belakang mengenai iklim keagamaan dan politis Roma kuno.

KULTUS-KULTUS MISTERI

Di Roma kuno di abad pertama, ada banyak kultus misteri yang berlainan. Kultus-kultus misteri  itu dibawa ke Romawi dari seluruh penjuru kekaisaran, banyak di antaranya dari Timur. Kultus-kultus itu berfungsi sebagai hobi devosional personal, yang menawarkan pengikut mereka akses istimewa ke berbagai dewa. Mereka memberi para pemuja suatu sense of belonging yang subyektif , mengingat orang bisa memperoleh hubungan personal dengan seorang dewa atau demigod. Kultus-kultus misteri tidak mempengaruhi kehidupan orang di dunia publik, melainkan diarahkan ke spiritualitas batin orang yang bersangkutan. Dengan pesona yang elitis dan esoterik, mereka menawarkan gairah spiritual, tanpa mengajukan tuntutan-tuntutan pada kehidupan publik.

AGAMA IMPERIAL

Agama Roma adalah kebalikannya. Itu adalah agama politis yang mendikte seluruh kehidupan seseorang di dunia publik. Agama itu menstrukturkan bagaimana orang-orang diharapkan hidup sebagai warga negara yang baik dari negara Romawi.

Banyak kaisar Roma menyatakan diri sebagai anak-anak tuhan atau dewa, dan beberapa orang kaisar bahkan menyatakan diri sebagai Tuhan. Dengan demikian pemujaan kaisar menjadi salah satu ciri dari agama Roma. Meskipun begitu, di provinsi-provinsi di mana kaisar-kaisar Julio-Claudian tidak dicanangkan sebagai tuhan, kita masih bisa berbicara tentang negara Romawi sebagai “religius” dalam arti bahwa negara itu berusaha menstrukturkan seluruh kehidupan, pemikiran, dan kesetiaan publik.  Dengan cara yang mirip Naziisme, negara Romawi menyodorkan sebuah visi tentang kehidupan yang baik; negara Romawi menyodorkan perdamaian; negara Romawi mempersatukan pluralitas-pluralitas yang sebelumnya cuma  saling memerangi; negara Romawi menyodorkan suatu perasaan kemajuan eskatologis; negara Romawi menyodorkan sebuah kerangka makna untuk menjawab pertanyaan “bagaimana kita harus hidup?” Jika anda hidup sebagaimana warga negara Romawi yang baik diharapkan hidup—jika semua kehidupan publik anda mengakui Roma sebagai kekuasaan tertinggi—maka negara itu tidak akan peduli apakah anda terlibat dalam berbagai kultus misteri. Sebagaimana Stephen Perks tunjukkan ketika mengontraskan kultus-kultus misteri dengan agama Roma:

Agama . . . . . menstrukturkan kehidupan.  Agama menstrukturkan kehidupan individua maupun kehidupan masyarakat.  Justru ini yang tidak dilakukan oleh kultus. Kultus tidak menstrukturkan kehidupan orang ataupun menstrukturkan masyarakat. Kultus-kultus Timur yang sangat populer di Romawi kuno, misalnya kultus Mithras dan Isis, tidak menstrukturkan kehidupan para pengikut mereka, setidak-tidaknya tidak jika mereka warga negara Romawi yang baik. Apa yang menstrukturkan kehidupan orang-orang Romawi adalah agama Romawi, yang merupakan agama politis. (Dari ceramah “Christianity as a Cult,” diterbitkan oleh Kuyper Foundation).

Ada bukti bahwa keluarga-keluarga dari beberapa kaisar Roma beribadah di berbagai kultus misteri. Mereka bisa melakukan hal itu karena kultus-kultus misteri tidak berkompetisi dengan agama Roma.

Singkat kata, kultus-kultus misteri diarahkan pada spiritualitas privat, personal, dan devosional individu, sementara agama Roma diarahkan pada masyarakat publik, eksternal, korporat, dan politis secara keseluruhan. Yang satu tidak mempengaruhi yang lain.

TANTANGAN KRISTEN

Memahami perbedaan itu adalah sangat menentukan jika kita ingin mengapresiasi impak Kristianitas purba di abad pertama. Kristianitas menghadapkan tantangan langsung pada agama politis Roma. Kristianitas tidak sama dengan seribu satu kultus misteri yang ada.

Negara Romawi tidak akan menganiaya orang-orang Kristen andaikata kepercayaan pada Yesus tidak lebih dari kultus-kultus misteri yang lain. Sebaliknya, orang-orang Kristen dipandang sebagai subversif justru karena agama mereka bersaing dengan agama politis Roma. Kristianitas menyodorkan sebuah visi tentang bagaimana seharusnya masyarakat secara keseluruhan, dengan menunjukkan bagaimana individu-individu dalam masyarakat itu seharusnya berperilaku. Injil mempunyai banyak hal yang harus dikatakan tentang politik—bagaimana bangsa-bangsa harus diperintah—maupun tentang kehidupan personal kita sendiri. sebagaimana ditunjukkan oleh Stephen Perks:

Selama warga negara Romawi mempraktekkan agama Roma, mereka bebas mempraktekkan kultus apapun sekehendak mereka, termasuk kultus Yesus Kristus. Penolakan Gereja purba untuk membatasi kepercayaan Kristen pada status sebuah kultus itulah yang membuat orang-orang Kristen konflik dengan agama Roma. Itu adalah pertarungan agama, bukan pertarungan kultus (Ibid).

Francis Legge mengajukan gagasan yang sama dalam bukunya Forerunners and Rivals of Christianity:

Para Pejabat Kekaisaran Romawi di jaman penganiayaan berusaha memaksa orang-orang Kristen untuk mempersembahkan korban bukan pada dewa-dewa kafir, melainkan pada Genius Kaisar dan Fortuna kota Roma; dan sepanjang waktu penolakan orang-orang Kristen dipandang sebagai . . . . kejahatan politis.  (Kessinger Publishing, 2003)

Ini membantah mitos umum, yang terus menerus kita temukan, bahwa Kristianitas bersifat apolitis sebelum Constantine di abad ke-4. Bahkan andaikata bukti yang kita miliki hanya Perjanjian Baru, tanpa segudang bukti historis lain, kita masih akan tahu bahwa Kristianitas menantang Roma sebagai sebuah sistem politik. Mari kita lihat beberapa dari bukti Perjanjian Baru.

YESUS ADALAH TUHAN

Proklamasi “Yesus adalah Tuhan”  (Kisah 2:36; 10:36; Rom 8:39; 1 Cor. 1:2; 1:9; 8:5-6; Phil. 2:10-11; 3:20; 2 Pet. 2:20) dipandang sebagai sebuah tantangan langsung terhadap agama politis Roma. (Baca buku N. T. Wright, Paul: Fresh Perspectives, SPCK 2005 dan eseinya ‘Paul’s Gospel and Caesar’s Empire’).  Dengan demikian, subteks yang menggaris-bawahinya kurang lebih berbunyi, “Yesus adalah Tuhan, karena itu Caesar bukan Tuhan.” Itu tidak berarti bahwa orang-orang Kristen mengingkari bahwa Caesar memiliki otoritas sejati. Mereka mengakui otoritas Caesar, tetapi bahkan pengakuan itu mengandung sebuah tantangan yang sifatnya implisit. Sebagaimana sang Penyelamat menyatakannya, “Berikan kepada Caesar apa yang menjadi milik Caesar, berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan” (Markus 12:17). Kita tahu dari Mazmur 24 bahwa semua hal di muka bumi ini milik Tuhan. Itu berarti bahwa Caesar hanya memiliki otoritas yang Tuhan pilih untuk diberikan kepadanya. Sebagaimana Yesus katakan kepada Pilatus, “Kamu tidak bisa mempunyai kuasa apapun atas diriku kecuali kuasa itu diberikan kepadamu dari atas” (Yohanes 19:11).

Otoritas Tuhan atas segala sesuatu adalah basis dari argumen Paulus yang ia kemukakan pada jemaat Kristen di kota Roma mengenai mengapa mereka perlu tunduk pada otoritas sipil. Paulus mengatakan, “Yes, Caesar memiliki otoritas, tetapi hanya karena otoritas itu diberikan kepadanya oleh otoritas yang lebih tinggi, yaitu Tuhan”—parafrase dari Roma 13:1-2. Ajaran Paulus bahwa otoritas Caesar besifat turunan dan bukan mutlak milik sendiri pasti dipandang sama saja dengan membantah, sebuah tantangan langsung terhadap pretensi-pretensi kekaisaran. Karena otoritas Caesar diberikan kepadanya oleh otoritas Yesus Kristus yang lebih tinggi, maka Paulus bisa mengklaim dalam Roma 13:3-4 bahwa para penguasa bertanggung-jawab di hadapan Tuhan untuk berbuat baik dan memerangi karya-karya kejahatan.  Dengan demikian Kristianitas bahkan menempatkan kaisar sebagai bertanggung-jawab kepada standar yang lebih tinggi itu.

Dengan latar belakang ini, adalah tidak mengherankan jika para kaisar Romawi kemudian sangat menekankan upaya memaksa orang-orang Kristen untuk menyatakan “Kaisar adalah Tuhan.” Mereka sadar betul bahwa Kristianitas merupakan sebuah tantangan bagi klaim-klaim kaisar dan ideologi yang dijadikan dasar negara. Kristianitas menantang negara bukan dengan menganjurkan anarki dan pembangkangan sipil, melainkan dengan menunjukkan bahwa kewarganegaraan kita pertama-tama dan terutama didasarkan pada sebuah kekaisaran yang lebih tinggi (Eph. 2:19-20;  Heb. 11:15-16). Kekaisaran yang lebih tinggi itu diperintah oleh seorang Raja yang menuntut bahkan Caesar untuk berlutut dan bertobat (Kisah 17:30).

Andaikata injil adalah sekedar kabar gembira bahwa ada sebuah jalan untuk pergi ke surga ketika anda mati, atau andaikata Kristianitas dipromosikan sekedar sebagai sebuah metode untuk memiliki sesuatu hubungan pribadi dengan Tuhan, maka Kristianitas dari dulu pasti sudah tenggelam di tengah-tengah seribu satu kultus misteri dan hobi devosional privat yang lain. Agama Kristus itu subversif justru karena ia memproklamasikan bahwa Yesus memerintah di muka bumi sekarang ini juga. Kerajaan Yesus mengklaim sebagai kekuasaan tertinggi, bukan sekedar atas masalah-masalah devosional pribadi, melainkan atas masalah-masalah sosial, politis, dan publik.

AGAMA POLITIS YESUS

Kristianitas adalah sebuah agama politis sudah sejak awal-mula, bahkan sebelum Paulus. Kita menemukan penekanan ini dalam kata-kata Kristus sendiri. Dalam Mateus 28, Yesus mengklaim otoritas total atas segala sesuatu dan ia menggunakan hal itu sebagai dasar untuk memperintahkan para rasul agar mempertobatkan bangsa-bangsa, bukan hanya individu-individu.

Dan Yesus datang dan berkata kepada mereka, “Semua kuasa telah diberikan kepadaku di surga dan di muka bumi. Karena itu pergilah dan jadikan semua bangsa murid, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.” (Mt. 28:18-19)

Jika semua otoritas telah diberikan kepada Yesus atas surga dan bumi, maka itu termasuk di setiap tempat.  Tidak ada satu tempat pun di muka bumi ini yang tidak berada di bawah tuntutan Yesus akan kesetiaan penuh (Col. 1:15-18).

Andaikata orang-orang Kristen purba tidak menggugat setiap bidang kehidupan dan masyarakat dengan doktrin Kristus, maka mereka pasti sudah memberikan pesan implisit bahwa ada bidang-bidang di mana Kristus tidak dimuliakan sebagai Tuhan. Mereka pasti sudah mengisyaratkan bahwa ada tempat-tempat di dunia dan kebudayaan yang tidak ditebus oleh Kristus lewat kematiannya.

Kita sering mendengar pernyataan bahwa Yesus menyatakan bahwa kerajaanNya bukanlah kerajaan duniawi. Jika kita mencermati bahasa Yunani aslinya, Yesus tidak pernah mengatakan begitu. RSV menterjemahkan Yohanes 18:36 menjadi yang paling dekat dengan aslinya: “My kingdom is not from this world”—“Kerajaanku  bukan dari dunia ini.” Kerajaan Kristus jelas kerajaan duniawi dan untuk dunia ini, tetapi kerajaan itu tidak muncul dari bumi. Kerajaan itu datang dari atas ke bumi. Itu sebabnya Yesus mengajarkan kita berdoa, “datanglah kerajaanMu di atas bumi seperti di dalam surga” (Mateus 6:10). Ungkapan “kerajaan surga”  dalam injil-injil itu mempunyai makna yang sama, yang mengacu pada pemerintahan surga (yaitu, Tuhan), yang harus diejawantahkan di dunia ini dan di masa kini, dalam ruang dan waktu kini.  Ini mendapatkan dukungan teologis dari Daniel 7: 26-27 dan dari visi Wahyu 11:15, di mana kita diberitahu bahwa “kerajaan-kerajaan dunia ini telah menjadi kerajaan-kerajaan Tuhan kita dan Kristus puteraNya. . . .”

PANGGILAN GEREJA

Jika anda mengamati dunia sekarang ini, kadang-kadang sulit sekali melihat tanda-tanda kehadiran otoritas Yesus. Tetapi justru di situlah gereja berperan. Dalam periode ini—antara pencanangan kerajaan Kristus dengan pemenuhannya—gereja mempunyai panggilan untuk mendatangkan otoritas Kristus pada setiap bidang kehidupan masyarakat.

Ini berarti bahwa sepotong demi sepotong, institusi demi institusi, bangsa demi bangsa, orang demi orang, segala sesuatu sekarang perlu direkonsiliasikan dengan Kristus. Itulah misi semua orang Kristen, yang dipanggil untuk menjadi pelayan rekonsiliasi  (2 Cor. 5:18-19) dalam tugas membawa semua hal kembali tunduk pada Tuhan  (S Cor. 10:5). Seperti dikatakan oleh si pelantun Mazmur, kita harus “menyatakan di antara bangsa-bangsa, ‘Tuhan berkuasa’” (Maz. 96:10). Tentu saja, ini meliputi semua institusi, organisasi, dan kebudayaan yang bersama-sama membentuk bangsa-bangsa itu. Kita harus menghadirkan ketuhanan Kristus pada semua seni, sains, ekonomi, musik, filsafat, sistem-sistem pendidikan, dan tentu saja sistem-sistem politik dunia ini.

Di bidang-bidang ini dan di setiap bidang lain, kita harus memproklamasikan bahwa Yesus memerintah dengan jalan menunjukkan implikasi-implikasi dari pemerintahan itu dalam praktek. Pesan kita kepada kekuatan-kekuatan dunia ini adalah bahwa waktu mereka sudah habis—sekarang Yesus adalah Raja dan pemerintahannya telah dimulai.

TANTANGAN INJIL

Istilah “injil” itu sendiri sudah menghadapkan sebuah tantangan politis terhadap agama Roma. Di seluruh penjuru Romawi di abad pertama, istilah euangelion (“injil,” “kabar gembira”) secara reguler digunakan untuk mengacu pada kelahiran, pencanangan, kenaikan tahta, atau kemenangan besar seorang kaisar. Ada sebuah prasasti di Priene di pantai Asia Minor dari tahun 9 SEB yang mengacu pada kelahiran Augustus. Prasasti itu menyebutkan bahwa hari itu adalah “awal bagi dunia ini dari kabar gembira yang telah turun kepada umat manusia melalui [Augustus]. . . .” Dalam konteks itu, kabar gembira diasosiasikan dengan penciptaan sebuah dunia baru, sebuah era perdamaian dan keadilan yang dimungkinkan oleh adanya seorang penguasa baru. Karena itulah prasasti itu mengacu pada Augustus sebagai “penyelamat bagi kita dan mereka yang datang sesudah kita, untuk menghentikan peperangan, dan untuk menciptakan ketertiban di seluruh penjuru dunia. . . . .”

Yang menarik, persis seperti itulah bahasa yang digunakan oleh orang-orang Kristen purba untuk berbicara, bukan tentang kaisar, melainkan tentang pemimpin lain: yaitu Yesus. “Injil Yesus Kristus” juga mewartakan kabar gembira yang akan mendatangi orang-orang lewat Yesus

(Lk. 2:10-11). Injil itu  juga mengumumkan kedatangan seorang Penyelamat yang akan menghentikan peperangan-peperangan, menciptakan ketertiban di mana-mana dan mendatangkan perdamaian (Isa. 9:6-7; Lk.1:79). Dari perspektif Romawi, Kristianitas pasti dianggap sebagai sebuah cemoohan (parodi) besar bagi negara Romawi, sementara orang-orang Kristen purba pasti memandang Roma sebagai sebuah cemoohan besar bagi kerajaan Kristus sebagai realita sejatinya. Baik Kristianitas maupun Caesar percaya mereka sendirilah yang menguasai jawaban atas terwujudnya keadilan, ketertiban dan perdamaian di muka bumi (Zech. 6:13; Jn. 14: 27). Keduanya menyodorkan a sense of community (Eph. 2:19-22; 1 Pet. 2:9). Keduanya telah berhasil mendatangkan kesatuan dari pluralitas-pluralitas yang sebelumnya saling memerangi (Gal. 3:28; Col. 3:11;Rev. 5:9). Dan keduanya bertekad mencapai dominasi atas seluruh dunia (Isa. 9:7; Col. 1:19-20; Rev. 11:15).

Meskipun Kristianitas dan negara Romawi mempunyai tujuan-tujuan yang serupa, keduanya berusaha mencapai tujuan-tujuan itu dengan cara-cara yang secara radikal berbeda (Yoh. 18:36). Tidak mengherankan jika orang-orang Kristen purba dianiaya. Kabar gembira Yesus adalah kabar buruk bagi Caesar karena kabar gembira mewartakan bahwa ada cara lain untuk mendatangkan perdamaian dan keadilan ke dunia yang lebih baik ketimbang cara Caesar. Kabar gembira Yesus menyatakan bahwa Tuhan telah memanggil umatnya untuk berkarya mencapai perdamaian dan keadilan berdasarkan ajaran-ajaran Yesus, dan bukan ajaran-ajaran Caesar.

Kita telah menelusuri tantangan Kristianitas terhadap Caesar, tetapi sebenarnya kita juga bisa menelusuri bagaimana injil menghadapi paganisme abad pertama. Andaikata injil Paulus tidak lebih dari kisah pengalaman hidup yang personal dan individualistis, yang tidak mempunyai greget pada kehidupan publik, andaikata injil Paulus tidak lebih dari kultus misteri seperti yang lain, maka para pembuat berhala di Ephesus tidak akan menganggap Paulus sebagai sebuah ancaman bagi penghidupan mereka (Kisah 19). Begitu pula, jika kita mengajarkan injil dalam semua kekuatan orisinilnya, maka para pembuat berhala jaman sekarang akan menganggap kita sebagai ancaman bagi penghidupan mereka. Di dunia kita sekarang ini, sebagaimana di abad pertama, kekuatan injil tergantung pada berfungsi atau tidaknya dia sebagai sebuah tantangan subversif terhadap tuhan-tuhan palsu yang ada di mana-mana (1 Cor. 8:5-6). Para penulis Perjanjian Baru bisa menorehkan tantangan-tantangan itu dengan tinta tebal karena mereka yakin betul bahwa Yesus telah memperoleh kemenangan  (Col. 1:19-20; Heb. 1:1-4). Kebangkitan kembali Kristus dan kenaikannya ke surga adalah jaminan kesuksesan dan terwujudnya kerajaan Tuhan di muka bumi (1 Cor. 15:20-28; Eph. 4:8-10). Kemenangan itu tinggal diimplementasikan.

Orang-orang Kristen jaman sekarang mustinya belajar dari teladan Paulus dan gereja purba. Kita perlu menolak formula-formula iman yang tidak mengajukan tuntutan pada lingkup politis. Kita perlu meminta Tuhan mengembalikan syaraf-syaraf yang telah hilang itu kedalam injil—injil yang membuat Herodes resah ketika ia mendengar tentang kelahiran bayi Yesus; injil yang membuat para pemuja berhala di Ephesus mengamuk; injil yang membuat Caesar naik pitam.

Terjemahan: Bern Hidayat, 23 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: