Konflik Antar-Yahudi dan Sengsara Yesus

27/01/2010

Menyatakan bahwa semua penulis injil berkonspirasi untuk mengubah sejarah sambil mengutuk orang-orang Yahudi dan membersihkan orang-orang Romawi dari segala kesalahan agaknya sedikit kebablasen

Oleh Anthony J. Tomasino
Bethel College
Mishawaka, IN
April 2004

Film baru karya Mel Gibson, The Passion of the Christ, telah memprovokasi banyak kegusaran baik di kalangan pendukung maupun pengritiknya. Jauh sebelum film itu diluncurkan, ada tuduhan-tuduhan bahwa film itu anti-Semitis, atau akan mempromosikan anti-Semitisme dengan jalan menghidupkan kembali gagasan bahwa bangsa Yahudi adalah para “pembunuh Kristus.” Para pembela Gibson membela diri dengan menyatakan bahwa film itu tidak mempunyai agenda politis atau sosial serta sekedar sesuai dengan kisah-kisah injil. Penegasan itu mengundang sejumlah tanggapan. Salah satunya menyatakan bahwa film itu sebenarnya memasukkan banyak tradisi non-injil kedalam interpretasinya. Tetapi tanggapan yang lain jauh lebih merisaukan bagi orang-orang Kristen. Dalam tanggapan itu ada tuduhan-tuduhan bahwa film itu mau tidak mau anti-Semitis karena Injil-injil itu sendiri memang anti-Semitis.

Tidak ada hal yang benar-benar baru dalam klaim itu. Tuduhan-tuduhan bahwa Injil-injil “mengkanonkan” suatu kebencian terhadap Yudaisme sudah beredar sangat lama. Tetapi kasak-kusuk akibat film Passion itu membuat tuduhan-tuduhan tadi menggugah perhatian masayarakat Amerika, barangkali untuk yang pertama kalinya. Tidak diragukan lagi, hal itu memang membingungkan bagi beberapa pembaca. Bagaimanapun juga, kebanyakan orang sadar tentang fakta bahwa Yesus dan semua rasul itu sendiri adalah orang-orang Yahudi. Menurut tradisi dan bukti internal, para penulis injil (barangkali dengan satu kekecualian) itu sendiri juga orang Yahudi.  Apakah kita harus percaya bahwa para penulis injil itu menginginkan agar seluruh dunia mempersalahkan bangsa mereka sendiri atas kematian Yesus dan membersihkan Pontius Pilatus dan orang-orang Romawi dari segala kesalahan? Apakah Markus dan penulis-penulis injil yang lain mengubah sejarah sedemikian rupa untuk mengubah seorang gubernur yang terkenal kejam dan korup menjadi sosok yang “positif”?

Apakah orang-orang Kristen purba itu begitu kesengsem pada orang-orang Romawi sehingga mereka dengan sengaja mengalihkan tanggungjawab atas kematian Yesus dari Kekaisaran ke bangsa orang-orang Kristen itu sendiri? pada waktu injil-injil itu ditulis, orang-orang Kristen sudah pada dibakar di tumpukan kayu Romawi, dicabik-cabik oleh aning-anjing Romawi, dan tewas di arena-arena pertandingan binatang buas Romawi. Bangsa-bangsa taklukan di seluruh penjuru Romawi—bukan hanya orang-orang Yahudi—benar-benar menderita di bawah penghancuran dan penindasan rejim Romawi. Apocalypse Yohanes menunjukkan begitulah seharusnya sikap orang Kristen terhadap Roma pada waktu itu.  Roma adalah si Binatang Besar, si pelacur Babylon. Roma ditakdirkan akan hancur dengan cepat dan sempurna. Menyatakan bahwa semua penulis injil berkonspirasi untuk mengubah sejarah dengan mengutuk orang-orang Yahudi dan membersihkan dosa-dosa orang-orang Romawi terasa agak kebablasen.

Saya tidak bisa berkomentar tentang anti-Semitisme dalam film Passion tadi karena saya sendiri belum pernah melihat film itu. Atau lebih spesifik lagi, saya ingin menyodorkan sebuah perspektif lain mengenai tuduhan bahwa kisah-kisah injil tentang pengadilan dan kematian Yesus itu telah “direkayasa” sedemikian rupa untuk membuat orang-orang Yahudi tampak bertanggungjawab atas kematian Yesus. Poin-poin yang akan saya ajukan bukan sangat baru dan tidak merepresentasikan temuan-temuan historis. Tetapi mengingat adanya perdebatan baru-baru ini, saya yakin poin-poin itu perlu dinyatakan kembali.  Pertama, saya percaya bahwa tuduhan-tuduhan bahwa kisah-kisah injil itu anti-Semitis tidak memberikan pertimbangan yang memadai pada polemik antar-Yahudi dalam periode akhir Bait Allah Kedua. Dan kedua, setiap argumen bahwa jajaran imam tinggi dan pejabat politik Yahudi tidak terlibat dalam usaha untuk melenyapkan Yesus adalah secara historis mustahil. Yang lebih tepat: adalah sangat musykil bahwa para pemimpin Yahudi akan membiarkan saja guru pengembara itu melintasi wilayah Galilei dan Yudea, menyerang institusi penguasa Bait Allah, dan tidak mengambil tindakan serius apapun terhadapnya.

Polemik antar-Yahudi

Sebuah prasyarat penting untuk memahami pernyataan-pernyataan anti-Semitisme dalam injil-injil itu adalah memahami bahwa injil-injil itu sendiri adalah literatur Yahudi. Di abad pertasma EB, ketika semua injil ditulis, Kristianitas belum terpisah dari akar-akar Yahudi-nya. paulus, Yakobus, Petrus, dan rasul-rasul yang lain kesemuanya adalah orang-orang Yahudi dan tidak pernah mengingkari Yudaisme mereka. Begitu pula, para pemimpin gereja generasi kedua—di bawah siapa injil-injil itu ditulis—juga terutama orang-orang Yahudi. Sejarawan gereja Eusebius melaporkan bahwa semua uskup Yerusalem sampai pemberontakan Bar Kochba (135 EB) adalah orang-orang Yahudi (Ecclesiastical History 4.5.1-4). Deskripsi mengenai pelayanan dan warisan Yesus yang ditemukan dalam Antiquities (18.63) karya Josephus terasa berbicara mengenai Kristianitas sebagai sebuah kelompok dalam Yudaisme.

Meskipun Kristianitas telah banyak menambah orang-orang non-Yahudi kedalam orang-orang yang bertobat pada akhir abad pertama, ia masih memiliki aura Yahudi yang kuat (yang ditunjukkan dengan tegas dalam apa yang dianggap sebagai teks terakhir Perjanjian Baru, yaitu Apoxalypse Yohanes). Baru sesudah pemberontakan Bar Kochba maka kristianitas mulai menyimpang tajam dari Yudaisme, dan menyerap sentimen-sentimen anti-Yahudi dunia kafir. sentimen-sentimen anti-Semitis yang keras dari Bapa-bapa Gereja abad ke-3 adalah bagian yang berbeda jauh dari dunia injil-injil. Dan bahkan pada waktu itu, retorika anti-Yahudi itu antara lain muncul karena banyak orang awam Kristen tetap beribadah di sinagoga-sinagoga Yahudi—yang membuat sangat kecewa banyak rabbi Yahudi maupun  para pemimpin gereja Kristen non-Yahudi.

Fakta bahwa banyak orang Kristen memandang diri sendiri sebagai sebuah cabang darui agama yahudi di abad pertama menempatkan pernyataan-pernyataan anti-Yahudi injil-injil dalam cahaya yang berbeda. Kita tidak sedang membaca serangan-serangan kebencian orang-orang non-Yahudi luar, melainakn sisa-sisa dari persaingan antar-kepercayan. Bahkan Injil Yohanes, ketika dengan ebrani berbicara tentang “orang-orang Yahudi” menentang dan menghukum mati Yesus, barangkali tidak menggeneralisir semua orang Yahudi, melainkan hanya lawan-klawan Yesus. Yohanes menggunakan istilah “Yahudi” sebagai acuan etnik baik untuk orang-orang yang ia anggap baik (orang-orang yang memilih untuk percaya pada Yesus ; lihat 8:34, 12:9-11, 19:38-39), maupun untuk orang-orang yang ia anggap jelek (orang-orang yang menolak Yesus, dan khususnya orang-orang yang menghendaki Yesus mati). Seringkali istilah itu cuma netral (“orang-orang Yahudi” takjub pada kebijaksanaan Yesus dalam 7:15; mereka terbelah sikapnya terhadap Yesus dalam 10:19; “orang-orang Yahudi” menghibur Maria dan Martha dalam 11:19; dan “orang-orang Yahudi” melihat begitu besarnya Yesus mengasihi Lazarus dalam 11:36). yohanes tidak melukiskan semua orang Yahudi sebagai penjahat. Kenyataannya, ia menggambarkan bebrapa pemimpin Yahudi, misalnya Nicodemus dan Joseph dari Arimathea, sebagai tokoh-tokoh yang simpatik (misalnya, Yoh 19:38-39). Juga pantas dicatat bahwa Injil Yohanes memberikan penekanan khusus pada gagasan bahwa Yesus adalah “raja orang-orang Yahudi” (18:33, 39; 19:3, 14, 19, 21).

Saya percaya bahwa identifikasi Yohanes ten tang lawan-lawan Yesus sebagai “orang Yahudi” bukanlah bukti tentang kebencian etnik, melainkan bukti bahwa penulisnya mengantisipasi bahwa sebagian besar pembacanya adalah orang-orang non-Yahudi. Josephus secara konsisten mengacu pada tokoh-tokoh naratifnya sebagai “orang Yahudi,” bahkan ketika yang ia maksudkan hanyalah sejumlah kecil orang Yahudi (misalnya, ia menulis bahwa “orang-orang Yahudi jahat” merajam sampai tewas  seorang nabi lurus bernama Onias, padahal yang secara aktual terlibat dalam insiden itu hanya segelintir orang [Ant. 14.24]).  Paulus juga, yang menulis sebagai seorang Yahudi untuk audiens yang multi-etnik, kadang-kadang menyebut lawan-lawannya “orang-orang Yahudi”—bahkan sekalipun banyak orang Yahudi adalah sekutunya. Ketika ia menulis bahwa Injil adalah “batu sandungan bagi orang-orang Yahudi” (1 Kor 1:23), jelas yang ia maksudkan bukanlah semua orang Yahudi, sebab pada waktu itu kebanyakan orang Kristen adalah Yahudi. Bahasa seperti itu harus dimasukkan kedalam konteks internasional: para wartawan modern mungkin sekali menulis, “The Iraqis invaded Kuwait.” Tidak seorang puin akan mengatakan bahwa pernyataan itu mengisyaratkan bahwa semua orang Irak sama-sama terlibat, atau sama-sama bertanggungjawab, atas tindakan itu.

Ketika kita memandang Injil-injil dengan mempertimbangkan polemik antar-Yahudi di jamannya, injil-injil itu praktis tampak jinak. Sekte Gulungan Kitab Laut Mati mengutuk lawan-lawannya, dengan mengelompokkan mereka bersama-sama dengan orang-orang non-Yahudi sebagai “anak-anak Belial (Setan)” dan “keturunan Kegelapan”.” (Perhatikan: sekte Laut Mati itu menyatakan bahwa orang-orang yang tidak mengikuti ajaran-ajaran mereka adalah “anak-anak Setan.” Yohanes 8:44 menggambarkan lawan-lawan Yesus dengan cara yang sama.) Pemimpin yang menindas kelompok itu disebut “pengucur dusta-dusta” (1QpMicah). Komentar gulungan-gulungan kitab Laut Mati terhadap Nahum menggambarkan semua orang Farisi “pengejar sanjungan” yang berperilaku dengan “kepalsuan dan penipuan.” Sekalipun begitu, saya masih mendengar seorang ahli menyatakan bahwa orang-orang sekte Laut Mati itu “anti-Yahudi”! kita mengenali retorika dalam teks-teks ituseperti apa adanya: sesuatu yang muncul dari persaingan antar-Yahudi.

Skip to: Site Menu | Main content

Penindasan antar-kepercayaan

Tetapi friksi antara sekte-sekte Yahudi jarang terbatas hanya pada perang kata-kata. Ketika sekte-sekte itu memegang kekuasaan, mereka sering menggunakan kekerasan untukm membungkam lawan-lawan. Sebuah kasus yang didokumentasikan dengan baik adalah Guru Lurus dari sekte Kitab Laut Mati, seorang tokoh yang kemungkinan besar hidup di abad kedua SEB. Ia dan kelompoknya menentang apa yang mereka pandang sebagai  kesemrawutan dalam administrasi Bait Allah dan kekeliruan-kekeliruan dalam praktek-praktek keagamaan masyarakat banyak. Tetapi tak lama kemudian mereka baru tahu bahwa imam agung bukanlah orang yang sudi menerima kritik dengan hati besar. “Imam jahat” itu, begitu sebutannya dalam gulungan-gulungan kitab itu, menyerang sang Guru dan para pengikutnya dan memaksa mereka melarikan diri ke tempat perlindungan yang mereka sebut “Damascus” (apakah itu mengacu pada kota Damascus atau bukan sampai sekarang menjadi bahan perdebatan). Tidak jelas apa yang dilakukan oleh sang Guru sehingga ia memprovokasi serangan tadi—sumber-sumber kita agak sepihak. tetapi gulungan kitab 4QMMT, yang menjelaskan alasan mengapa sekte Kitab Laut Mati itu memisahkan diri dari orang-orang Yahudi yang lain, hanya mencatat perbeedaan-perbedaan religius, bukan masalah-masalah politis. Sang Guru bukannya berusaha mengobarkan pemberontakan melawan pemerintah, tetapi dia rupanya memiliki pengaruh karismatik yang dianggap berbahaya. Imam agung merasa sekte Kitab Laut Mati itu adalah sebuah ancaman bagi stabilitas rejimnya, dan ia menggunakan kekuasaannya untuk memaksa sekte itu bersembunyi.

Insiden di atas bukanlah kali terakhir imam agung menggunakan kekerasan untuk melindungi posisinya—sebuah posisi yang seringkali membawa otoritas politis maupun otoritas religius yang sangat besar. Pada 88 SEB, raja Hasmonean Alexander Janneus (yang bertindak sebagai raja sekaligus imam agung), menyalib 800 orang Farisi yang berusaha menjatuhkan kedudukannya. Ia juga memerintahkan isteri-isteri serta anak-anak mereka dieksekusi. Tetapi orang-orang Farisi itu tidak membalas perlakuan tadi dengan menyodorkan “pipi kanan” mereka. Setelah kematian Janneus, mereka mengawali pemerintahan teror mereka sendiri terhadap orang-orang Saduki (Ant. 13.410-19; War 1.113-4). Di jaman Herodes Agung, banyak kekuasaan imam agung dikebiri. Tetapi setelah kematian Herodes, di jaman ketika Judea di bawah pemerintahan para gubernur Roma, imam agung kembali merebut kekuasaan.

Imam agung dan Sanhedrin (yang diketuai oleh imam agung) berkuasa atas urusan-urusan lokal, sementara para gubernur Roma memastikan agar pajak-pajak dibayar dan pemberontakan dikendalikan. Tetapi para gubernur jelas memegang kekuasaan untuk mengendalikan hakim-hakim lokal, menjaga mereka agar tidak melanggar batas-batas tertentu. Josephus melaporkan bahwa di masa peralihan antara pemerintahan gubernur Festus dengan Albinus, imam agung Annanus meraih kesempatan untuk melenyapkan nyawa Yakobus, saudara Yesus dan pemimpin gereja Yerusalem (Ant. 20.197-203). Josephus dengan jelas mengisyaratkan bahwa eksekusi itu pasti tidak akan terjadi andaikata gubernur ada di tempat. (Fakta ini bisa menguatkan bukti bagi penegasan-penegasan Injil-injil bahwa orang-orang Yahudi tidak diijinkan mengeksekusi Yesus atas kemauan mereka sendiri [Yoh 18:31].

Sisi lain yang menarik dari episode itu adalah bahwa Josephus tidak menceritakan mengapa Annanus ingin melenyapkan Yakobus. Ia menulis bahwa Annanus melontarkan tuduhan-tuduhan palsu bahwa Yakobus melanggar hukum, tetapi Josephus tidak mengatakan pelanggaran yang dituduhkan itu apa. Josephus hanya melaporkanj bahwa Annanus adalah seorang Saduki, dan seperti orang-orang lain dari sekte itu, bersikap sangat keras terhadap siapapun yang bertentangan dengan mereka. Mungkin saja kejahatan Yakobus hanyalah karena ia menegaskan bahwa Yesus dibangkitkan kembali—yang praktis mencemooh teologi Saduki. Bagaimanapun juga, eksekusi itu meletupkan kemarahan besar di “kebanyakan” orang Yahudi yang merasa bahwa Annanus telah bertindak semena-mena (bukti bahwa tuduhan-tuduhan terhadap Yakobus itu palsu). Mereka menyampaikan protes pada gubernur Roma dengan menyatakan bahwa Annanus mengambil tindakan itu tanpa ijin gubernur. Akibatnya, Annanus dipecat dari kedudukannya sebagai imam.

Insiden itu mustinya membuat kita bertanya-tanya tentang orang-orang yang berargumen bahwa para penulis injil merekayasa fakta palsu bahwa ada pemimpin Yahudi yang mau menggunakan kekerasan untuk melenyapkan Yesus. Jika Yakobus, pemimpin gereja Kristen itu, orang yang sangat dihormati oleh orang banyak di Yerusalem, bisa mengobarkan murka imam agung hanya karena teologinya, apakah Yesus mustahil mengobarkan kemarahan yang jauh lebih besar di jajaran para imam? Bagaimanapun juga, Yesus secara fisik menyerang Bait Allah dan pasarnya. Ia mencemooh orang-orang Farisi dan mengritik pemahaman mereka tentang Hukum Torah. Bagi imam agung, Yesus mengancam stabilitas posisinya. Dalam pandangan orang-orang Farisi, Yesus menjauhkan banyak orang dari iman sejati memasuki suatu antinomianisme yang berbahaya. Yesus bukan cuma seorang idealis pengembara—ia seorang troublemaker. Dan di jaman itu troublemakers bisa ditangani dengan sangat keras.

Peranan Pilatus

Mustinya sudah tidak ada keraguan lagi bahwa eksekusi aktual Yesus dilaksanakan oleh orang-orang Romawi atau bahwa ia dituduh mengobarkan pemberontakan. Tuduhan yang dipajang di atas kepalanya di kayu salib—“yesus dari Nazareth, Raja orang-orang Yahudi”—adalah sebuah tuduhan politis (tidak seorang pun akan dieksekusi karena berkuasa atas sebuah kerajaan “yang bukan dari dunia ini”). Juga sudah dikenal luas bahwa Pilatus adalah orang yang kejam dan sangat tidak berperasaan. Kadang-kadang ia dengan sengaja mengobarkan kemarahan orang-orang Yahudi dan orang-orang lain di bawah pemerintahannya. Jika begitu, lalu buat apa Injil-injil beranggapan bahwa Pilatus adalah partisipan yang ogah-ogahan dalam eksekusi Yesus?

Kita tidak perlu berusaha membela detil-detil dari kisah-kisah Injil. Tidak diragukan lagi, injil-injil itu mengandung treologisasi dan rekonstruksi sampai ke tingkat tertentu. Tetapi gambaran umum trentang seorang Pilatus yang ogah-ogahan bukannya begitu mustahil sebagaimana diargumentasikan oleh beberapa ahli. Pertama, Pilatus memang sudah terlebih dulu ditegur secara resmi oleh Roma akibat mismanajemen yang dilakukannya dalam urusan-urusan Judea (Philo, Legatio 299-305). Dia tahu betul insiden-insiden lebih jauh bisa membuatnya kehilangan jabatan (dan akhirnya insiden-insiden itu betul-betul terjadi). Sementara Pilatus tidak sungkan-sungkan mengeksekusi seorang bandit di wilayah kekuasaannya sendiri—dan roma pasti tidak akan menganggapnya bersalah dalam kasus seperti itu—Yesus tidak ebrada di bawah wilayah kekuasaan Pilatus. Yesus adalah orang Galilei, dan secara resmi berada di bawah kekuasaan Herodes Antipas. Sebelum itu Pilatus pernah mengeksekusi beberapa Yahudi Galilei di daerah kekuasaan Pilatus sendiri (Lukas 13:1), dan insiden itu mungkin sekali telah memperburuk hubungan antara dia dengan Herodes Antipas (Lukas 23:12).

Andaikata Pilatus mengeksekusi Yesus bertentangan dengan kemauan Herodes, itu pasti fatal bagi Pilatus. Lebih-lebih lagi, barangkali Pilatus tidak tahu menahu tentang Yesus sebelum imam agung dan kroninya mengajukan tuduhan-tuduhan mereka terhadap Yesus. Sebagian besar dari aktivitas Yesus terbatas di Galilei dan tidak pernah mengakibatkan kekacauan publik yang besar. Mengingat kecenderungan Pilatus untuk mengejek dan memamer-mamerkan kemauan orang-orang yang ada di bawahnya, mungkin sekali Pilatus cenderung untuk membebaskan Yesus justru karena pihak imam agung begitu ngotot menghendaki agar Yesus dihukum mati. Dan terakhir, Pilatus memang “thas-thes,” tetapi bukan  angin-anginan sebagaimana diperkirakan oleh beberapa ahli. Insiden yang membuatnya kehilangan jabatan—menghajar sekelompok pejiarah yang sedang dalam perjalanan menuju Gunung Gerizim untuk melihat sebuah mukjijat yang telah diramalkan—bukannya tanpa alasan sama sekali, karena bahkan Josephus memberikan kesaksian bahwa para pejiarah itu bersenjata (Ant. 18.86).

Penutup

Adalah sangat penting bagi umat Kristen untuk bersikap peka pada kepercayaan-kepercayaan lain, dan kita harus sigap dalam menghindari setiap pernyataan yang berbau anti-Yudaisme. Kita harus paham betul bahwa kisah-kisah Injil bukanlah anti-Yahudi, melainkan hanya “anti –penindasan.” Kita juga harus cermat dalam menterjemahkan, menulis, mengajarkan, dan mengkhotbahkan Injil sehingga bisa membedakan antara power-brokers Yahudi yang menghendaki Yesus dibungkam dan massa Yahudi yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Tetapi kisah tentang penentangan yang diterima Yesus dari imam agung dan para politikus Yahudi lainnya tidak perlu diingkari. Sama sekali bukanlah anti-Yahudi untuk mengatakan bahwa pihak imam agung mengakibatkan kematian Yesus, persis sebagaimana bukan anti-Amerika untuk mengatakan bahwa Presiden Truman menjatuhkan bom atom dalam Perang Dunia II. Para pemimpin Yahudi itu mengambil tindakan yang mereka rasakan perlu untuk melindungi posisi mereka sendiri dan orang-orang mereka sendiri. Kita tidak harus merestui tindakan-tindakan mereka, tetapi menyatakan bahwa tindakan-tindakan itu tidak pernah terjadi tidak memiliki dasar historis yang memadai.

Judul asli: “Inter-Jewish Conflict and the Passion of Jesus”

Sumber: http://www.bibleinterp.com.

Terjemahan: Bern Hidayat, 2 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: