Konflik Antar Kerajaan

27/01/2010

Dapatkah orang-orang Kristen, yang percaya pada Kerajaan Allah, menjadi warga negara yang setia pada Kekaisaran Romawi? Banyak orang kafir mengatakan, “Tidak.”

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin.

KESETIAAN PADA KRISTUS VERSUS KESETIAAN PADA KAISAR

Memasuki abad kedua, ketika Kristianitas menjadi kekuatan yang mulai diperhitungkan di Kekaisaran Romawi, ada beberapa masalah politis yang masih terlekat padanya. Kita harus ingat bahwa orang banyak tahu bahwa Yesus dieksekusi sebagai penjahat polityis dan tradisi-tradisi injil sendiri melestarikan tradisi Pilatus yang menginterogasi Yesus. “Apa kau raja? Apa kau Raja orang Yahudi?” Nah, apakah Pilatus benar-benar pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu pada Yesus atau tidak, kesannya tetap sama. . . . bahwa Yesus mengklaim diri seorang raja. Semacam seorang Messianic claimant. “Raja Orang Yahudi” dipakukan di kayu salibnya. Tradisi itu, warisan itu, meskipun merupakan bagian yang sangat penting dari pengakuan dan tradisi Kristen, juga membuka pintu bagi aneka macam masalah dalam hubungan dengan Kekaisaran Romawi, karena jika Kristus adalah raja mereka, maka kesetiaan mereka pada raja, yaitu Kaisar Roma, akan dipertanyakan. Yang kita dapatkan adalah kasus konflik antara raja dan antar kerajaan. Imajeri apokaliptik lama tentang kerajaan Allah yang akan segera tiba, tentang Messiah yang akan datang dari surga, bisa diinterpretasikan sebagai penolakan terang-terangan terhadap Kekaisaran Romawi dan rajanya, yaitu Kaisar.

Apakah literatur Kristen memuat . . . . ramalan-ramalan yang bisa membuat orang menaruh kecurigaan tentang ketidak-setiaan pada negara?

Kadang-kadang tradisi Kristen agak ambivalen terhadap negara Romawi. Kita mempunyai tradisi apokaliptik ini yang rupanya merupakan kritik terselubung terhadap negara dan, sungguh, beberapa bagian dari tradisi apokaliptik yang mewarnai Kristianitas masih terus antagonistis terhadap Kekaisaran Romawi dan struktur-struktur negara kekaisaran. Kitab Wahyu, yang dalam dokumen-dokumen Perjanjian Baru disebut atau apocalypse, adalah kutukan yang sangat keras terhadap negara. Di sini kaisar dan kalangan istana kekaisaran digambarkan sebagai seekor naga yang keluar untuk memangsa Ibu Perawan seorang anak surgawi. Tidak ada interpretasi lain selain bahwa ini adalah sebuah polemik absolut mengenai sifat kebinatangan kekaisaran itu yang bertentangan dengan sifat spiritual dari gereja Kristen, dan dalam tradisi ini juga jelas apa yang ada dalam benak Tuhan untuk masa depan manusia. . . . . Dalam Kitab Wahyu rencana masa depan Tuhan mempunyai yang ending sangat jelas dan tegas. Roma akan dihancurkan. Gereja akan bertahan hidup dalam kemenangan. Warisan apocalypse di masa sekarang ini bisa kita saksikan dalam cabang-cabang tertentu  Kristianitas.

Di satu sisi, kita mendapatkan orang-orang Kristen yang mengatakan justru kebalikannya, bahwa kaisar dan para gubernur dan negara secara keseluruhan ditahbiskan oleh Tuhan dan orang harus bersikap hormat pada negara dan pejabat-pejabat pemerintah kota. Orang-orang Kristen tertentu rupanya mengalah untuk menghindari penganiayaan, dan bukan hanya untuk menghindari penganiayaan, tetapi bahkan jangan sampai dipandang tidak setia pada negara. Paulus sendiri rupanya mengatakan hal ini dalam Roma 13. . . . . Memasuki abad kedua dan ketiga, orang-orang Kristen masih mengklaim kami setia pada negara: “Kami bukan warga negara yang jelek. Kami tidak melakukan tindakan-tindakan jelek. Lihat apa yang kami lakukan. Lihat apa yang kami ajarkan. Lihat . . . . apa yang kami praktekkan. Lihat etika kami, dan anda akan melihat bahwa kami adalah warga negara yang sama baiknya dengan anda.”

Jadi apa yang kita lihat pada saat itu adalah bahwa orang-orang Kristen sebenarnya berada dalam situasi ambivalen dalam Kekaisaran Romawi. Mereka masih belum mendapatkan tempat tersendiri, dan kadang-kadang orang-orang Kristen dijadikan kambing hitam untuk bencana-bencana yang jelas tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka. . . . . . Ada kutipan yang menarik dari penulis Kristen, Tertullian. Dia seorang satiris tulen dan dia mengatakan, “Apa permukaan Sungai Nil kurang tinggi? Apa ada sampar, ada banjir, ada bencana kelaparan? Saat itu juga semua tetangga berteriak keras, ‘Lempar orang Kristen ke singa! Lempar  orang Kristen ke singa!” dan kemudian ia berbalik dengan mata satirisnya yang tajam itu dan mengatakan, “Apa, lemparkan semua orang Kristen itu ke satu ekor singa?”

PARA  APOLOGIS  KRISTEN

Bagaimana para apologis Kristen seperti Justin Martyr berusaha merekonsiliasikan konflik itu atau apa yang tampak seperti konflik itu antara kesetiaan pada Kristus dengan kesetiaan pada Kaisar? Apakah ia bicara tentang hakekat kerajaan [surga]?

Ketegangan yang dirasakan oleh orang-orang Kristen mengenai masalah kesetiaan pada negara—Apakah negara bagian dari rencana Tuhan? Bolehkah orang-orang Kristen berpartisipasi dalam urusan-urusan publik dan kehidupan sosial publik?—agaknya menjadi masalah yang semakin membesar ketika mereka bergerak memasuki abad kedua dan awal abad ketiga. Hal itu khususnya menjadi tema utama bagi aktivitas sastra Kristen yang tengah marak, khususnya kelompok penulis yang biasa kita sebut apologis. Nah, para apologis dikenal dengan sebutan itu karena mereka menulis apologi. Kata Yunani “apologia” berasal dari istilah untuk pembelaan di pengadilan. Kita mempunyai apologi Plato tentang Socrates, yang isinya adalah pembelaan Socrates di hadapan dewan kota Athena. Sebelum ia dieksekusi.

Jadi ketika orang-orang Kristen mulai menulis apologi, apa yang mereka lakukan adalah semacam pembelaan secara hukum dalam arena perdebatan publik mengenai apa artinya menjadi orang Kristen. Apakah menjadi orang Kristen itu legal? Apa tidak legal? Apakah mereka baik? Apakah mereka jahat? Nah, para apologis Kristen itu mulai dengan serius berbicara tentang Kristianitas dari perspektif itu. itu semacam pembelaan, dan selalu ada dilemma jika orang tahu bagaimana membaca beberapa dari dokumen-dokumen yang ada. Beberapa di antaranya benar-benar ditujukan kepada kaisar sendiri, dan jika bukan kaisar, kepada para gubernur dan pejabat-pejabat penting lain, tetapi sebenarnya nyaris mustahil bahwa seorang kaisar bersedia membaca salah satu dari dokumen-dokumen Kristen itu. jadi sebenarnya untuk siapa mereka menulis apologi-apologi itu? jawabannya: barangkali mereka menulis untuk orang-orang Kristen sendiri. apologi-apologi itu ditulis untuk orang-orang Kristen yang hidup dalam masyarakat luas. Dengan kata lain, untuk orang-orang yang akan bertemu dengan tetangga-tetangga kafir yang tinggal di seberang jalan atau di rumah sebelah, dan literatur apologetik adalah sebuah cara untuk membekali orang-orang Kristen itu dengan jawaban-jawaban serta argumen-argumen yang akan memungkinkan mereka menjadi bagian dari masyarakat dan juga untuk menanggapi klaim-klaim serta tuduhan-tuduhan yang dilontarkan terhadap orang-orang Kristen oleh tetangga-tetangga mereka yang kafir.  Jadi apa yang ditunjukkan pada kita oleh tradisi apologetik adalah bahwa orang-orang Kristen mulai berhadapan dengan argumen-argumen serta kehidupan sosial dunia Romawi mereka yang kafir pada level intelektual yang sangat semarak.

JUSTIN MARTYR

Salah seorang apologis Kristen paling terkenal dari abad kedua adalah orang yang bernama Justin Martyr, yang akhirnya mati sebagai martir. Begitulah dia mendapatkan nama itu. Justin sendiri sebenarnya lahir di Palestina di kota Flavia Neapolis. Itu nama baru, nama Romawi; nama lamanya adalah Samaria, yang banyak kita dengar dalam tradisi injil itu.  Keluarga Justin rupanya adalah keluarga kafir yang tinggal di daerah itu. Justin sendiri rupanya seorang anak muda yang sangat cemerlang dan karenanya ia mengejar pendidikan dalam tradisi-tradisi filosofis, dan kenyataannya kita mendengar tentang dia yang pindah dari sekolah filsafat yang satu ke sekolah lainnya sampai dia harus menimba ilmu keluar dari Palestina. Pertama ke Yunani, dan setelah mampir kesana kemari akhirnya ia tiba di Roma, dan ia pindah-pindah dari sekolah filsafat yang satu ke sekolah lainnya sambil mencari apa yang ia anggap sebagai filsafat kehidupan sejati. Dalam perjalanan intelektual itu Justin bertemu dengan Kristianitas, dan ia kemudian memeluk agama Kristen dan juga menjadi salah satu pendukungnya yang paling vokal ketika ia mengembangkan sebuah pembelaan filosofis tentang Kristianitas. Jadi apologi Justin untuk Kristianitas juga merupakan argumen filosofis bagi legitimasi Kristianitas dalam kasanah kehidupan intelektual dan religius Romawi yang lebih luas. . . . . .

Memasuki tahun 150, Justin Martyr tinggal di Roma dan mendirikan sekolah filsafatnya sendiri di kota Roma. Kenyataannya, tradisi tentang kejadian-kejadian di seputar kematiannya, apa yang disebut “Kemartiran Justin dan Teman-temannya” sebenarnya menceritakan pada kita bahwa Justin menyelenggarakan sebuah sekolah di lantai atas sebuah rumah sewa di mana ia tinggal. . . . . sekarang kita tahu bahwa sebenarnya Justin menyelenggarakan semacam sekolah kateketik Kristen dengan model tradisi sekolah filsafat Yunani, dan mengajarkan filsafat Kristen. Justin sangat penting bukan hanya karena ia mengajukan pembelaan intelektual yang penting mengenai tradisi Kristen. Ia juga penting karena ia mendefinisikan Kristianitas dari sudut pandang filosofis untuk apa yang harus kita bayanghkan sebagai sebuah elit intelektual yang semakin berkembang dalam tradisi Kristen di eprtengahan abad kedua. . . . . .

JUSTIN MARTYR MEMBEDAKAN ORANG KRISTEN DARI ORANG KAFIR

Salah satu masalah yang dihadapi integrasi intelektual Kristianitas yang semakin berkembang kedalam dunia Romawi itu adalah seberapa jauh anda bisa melangkah sebelum anda kehilangan iodentitias anda sebagai orang Kristen? Justin Martyr si apologis itu juga dihadapkan pada masalah ini. Ada banyak kesamaan antara apa yang dilakukan oleh orang-orang Kristen dengan beberapa kepercayaan misteri yang lain itu. sebenarnya sulit bagi Justin untuk menunjukkan apa yang unik dengan Kristianitas. Justin sendiri mempunyai jawaban yang menarik pada pertanyaan itu. ia mengatakan bahwa kenyataannya Kristianitas bukanlah agama baru dalam proses itu; Kristianitas adalah kebenaran lama. Orang-orang Kristen adalah bagian dari bentuk kehidupan religius tertua di dunia ini, dan kultus-kultus misteri itu—begitulah sebutannya waktu itu—justru merupakan imitator dari Kristianitas. Kenyataannya, ia bahkan mengatakan bahwa suatu konspirasi setan telah membuat kepercayaan-kepercayaan misteri itu tampak sangat mirip dengan Kristianitas sehingga orang-orang kafir yang tidak tahu menahu menjadi terpedaya mengikuti agama palsu itu ketimbang mengikuti Kristianitas sejati. Tetapi titik kuncinya di sini adalah kesamaan-kesamaan, dan kesamaan-kesamaan itu sangat menonjol.

JUSTIN MENGENAI YESUS

Meskipun begitu, kesamaan-kesamaan antara Yesus dengan tokoh-tokoh lain senantiasa menjadi masalah bagi orang-orang kafir maupun Kristen. Bahkan dari perspektif Justin Martyr sebagai seorang apologis yang tengah berusaha membela legitimasi Kristianitas, adalah sangat penting bahwa ia bisa menunjukkan sebuah model tentang orang-orang lain, orang-orang yang sangat terkenal di masa lalu dalam tradisi Yunani dan Romawi yang juga mati demi kepercayaan-kepercayaan mereka. Yang menjadi model-model tentang orang lurus yang menderita, martir bagi kepercayaan-kepercayaan mereka, seperti Socrates sendiri. dan dengan demikian, ketika Justin bicara tentang Yesus, Yesus sebenarnya lalu menjadi seorang figur filsuf baru. Orang yang membawa kepercayaan-kepercayaan dan ajaran-ajaran yang berwawasan mendalam ke dunia ini dan yang harus mati sebagai hasil dari menghayati prinsip-prinsip itu. Yesus adalah seorang Socrates baru.

Para apologis seperti Justin barangkali mempunyai impak penting pada penyebaran Kristianitas terutama karena mereka memberikan pada Kristianitas suatu intellectual respectability . . . . . dalam . . . . tradisi intelektual Yunani dan Romawi. Mereka menjadikan Kristianitas secara filosofis bisa diterima, dan akibatnya, saya rasa, kita harus membayangkan bahwa paroh kedua abad kedua, dan yang jelas memasuki awal abad ketiga, Kristianitas mulai memikat lebih banyak orang dari masyarakat papan atas.

Judul asli: “Kingdoms in Conflict”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat 30 November 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: