Kompleksitas Identitas Religius Yesus

27/01/2010

Yesus dipandang sebagai penyembuh, guru moral, pengkhotbah apokaliptik, dan akhirnya Messiah.

Shaye I.D. Cohen:

Samuel Ungerleider Professor of Judaic Studies and Professor of Religious Studies Brown University

YESUS SEBAGAI ORANG KUDUS

Apa arti orang kudus di Palestina abad pertama?

Ada aneka macam tradisi historis yang kompleks mengenai Yesus. Ia muncul dalam catatan-catatan kita, terutama injil-injil, dalam wajah-wajah yang berlainan, melakukan hal-hal yang berlainan. Jika anda Yesus dan anda harus mengisi formulir permohonan paspor, atau entah apa, di mana anda mempunyai, katakanlah, sepuluh atau duabelas spasi dan anda harus menuliskan sebuah katabenda . . . . apa yang bisa anda tuliskan? Well, ada banyak kemungkinan, tetapi saya kira semua kemungkinan itu, dalam analisa finalnya.  Pada akhirnya akan sampai pada satu kemungkinan ini: bahwa ia adalah seorang orang kudus. Maksudnya, orang yang diyakini oleh para pengikutnya, oleh murid-muridnya, oleh saksi-saksi mata, sebagai orang yang memancarkan suatu kehadiran ilahi. . . . . Ia bisa melakukan hal-hal yang banyak di antara kita tidak bisa lakukan. Ia melihat hal-hal yang sebagian besar dari kita tidak lihat. Ia mendengar hal-hal yang banyak dari kita tidak dengar. Ia manusia, tentu saja, tetapi entah dengan cara bagaimana ia dikuasai oleh sesuatu tuhan, atau oleh Tuhan,  atau sesuatu roh ilahi, atau seorang malaikat, atau sesuatu  apalah yang entah dengan cara bagaimana telah mengangkatnya menjadi lebih tinggi dari orang-orang kebanyakan, sehingga ia bisa melakukan hal-hal yang kebanyakan dari kita tidak bisa lakukan. Ini adalah tipe yang dikenali secara sosial, baik dalam sejarah Yudaisme dan, kenyataannya, dalam praktis semua agama di dunia, semua masyarakat dan kebudayaan di dunia, yang mempunyai nama-nama yang berlainan untuk orang-orang seperti itu.  dan bahkan dalam Kitab Hibrani kita bisa mengenali tipe ini dalam tipe Eliyah dari Kitab Raja-raja; mereka dikarakterisasikan dengan kemampuan membuat mukjijat-mukjijat. Dalam kasus Yesus, khususnya penyembuhan-penyembuhan, yang sepertinya menjadi spesialisasinya, di mana ia mempunyai reputasi besar. Dilihat dari cerita injil itu, orang-orang mungkin datang dari jarak bermil-mil sambil membawa saudara mereka yang sakit atau lumpuh, mereka bawa ke Yesus untuk minta disembuhkan, seakan-akan  satu sentuhan saja dari orang kudus itu sudah cukup untuk mendapatkan kesembuhan, mungkin hanya melihat Sang Kudus saja orang mungkin bisa langsung sembuh. . . . .

Tentu saja, jika anda percaya padanya, ia adalah orang yang dikuasai oleh Allah. Jika anda tidak percaya padanya, anda mungkin akan mengatakan Yesus seorang dukun, tukang sulap, faker, pretender, atau trickster murahan—bukan siapa-siapa. Jadi tindakan-tindakan yang sama bisa diinterpretasikan dengan cara berlainan tergantung pada dari mana anda berasal, tergantung pada persepsi anda. Dengan demikian inilah yang menjadi inti dari siapa Yesus itu—saya kira.

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament Yale Divinity School

CYNIC ATAU PENGKHOTBAH APOKALIPTIK

Dan bagaimana anda hendak menggambarkan Yesus sebagai seorang pengkhotbah?

Yesus adalah pengkhotbah yang sangat kreatif dan mampu menyita perhatian. Dan para ahli kontemporer telah berusaha menemukan analogi-analogi antara ajarannya dengan imaji-imaji yang ia gunakan, perumpamaan-perumpamaan yang ia gunakan, ramalan-ramalan yang dinyatakan berasal dari dia. . . . antara materi-materi itu dengan berbagai pengkhotbah sejaman. Di tahun-tahun terakhir ini, menjadi cukup populer di antara beberapa ahli untuk menganggap Yesus sebagai seorang cynic. Yang saya maksudkan dengan cynic adalah anggota dari sesuatu gerakan kontrakultural—para hippy dunia Hellenistik kita sebut cynic. Mereka sangat kritis terhadap agama konvensional, filsafat konvensional, perilaku konvensional. Dan kepada dunia Hellenistik secara umum mereka melontarkan seruan untuk kembali pada alam, pada kehidupan yang alami dan sederhana. ada beberapa hal dalam ajaran Yesus yang analog dengan seruan seperti itu. “Lihatlah bunga-bunga bakung di ladang,” misalnya, adalah sesuatu  yang membuat kita berpikir tentang ajaran seorang cynic.

Meskipun begitu, ada sesuatu yang saya kira membedakan Yesus dari kebanyakan cynic yang pernah ada dan yang kebanyakan sangat individualistik. Yesus rupanya mempunyai kepedulian tentang pemerintahan Tuhan sebagai sesuatu yang mempengaruhi orang-orang secara keseluruhan. . . . Dan saya menerima dengan serius klaim bahwa ia memanggil orang-orang bersama-sama dalam sesuatu semangat persaudaraan, dan barangkali menggunakan simbol-simbol yang dengan sesuatu cara terkait dengan tradisi bangsa Israel. Bahwa ia, pada dasarnya, melontarkan panggilan untuk mereformasi orang-orang di Israel, dan bahwa hal seperti itu sama sekali bukan ciri orang cynic. Jadi elemen-elemen dalam ajaran-ajarannya dan dalam proklamasinya yang berhubungan dengan pemerintahan Tuhan dan orang-orang membawanya lebih dekat pada apa yng bisa kita gambarkan sebagai seorang pengkhotbah apokaliptik atau seseorang yang dengan serius memikirkan intervensi Tuhan dalam sejarah manusia, dan untuk memasukkan Yesus dalam sesuatu kategori, saya kira, adalah sebuah kesalahan, dan tidak bersikap adil terhadap kompleksitas dari bukti-bukti yang ada. . . . .

Jika kita ambil Injil Markus, Bab 13, kita temukan serangkaian ramalan mengenai akhir dunia. Langit akan menjadi gelap, bintang-bintang akan jatuh dari langit, akan ada gempa bumi, segala macam bencana dan cobaan, perang, dan kabar burung tentang perang. Dan kemudian pada akhir dari periode itu, suatu figur ilahi, Anak Manusia, akan datang, akan masuk kedalam sejarah umat manusia dan akan mengawali Kerajaan Tuhan. Seluruh rangkaian ramalan itu adalah contoh tentang nubuat apokaliptik. Nubuat tentang intervensi Tuhan kedalam sejarah manusia di akhjir jaman untuk mewujudkan semua hal yang Tuhan telah janjikan pada umatnya. Itulah kurang lebih apa yang kami maksudkan dengan apocalyptic eschatology. Jika kita dengan serius menerima pernyataan bahwa rangkaian ramalan itu berasal dari Yesus, maka kita harus mengklasifikasikan dia sebagai seorang nabi eskatologis.

Tetapi ada alasan untuk percaya bahwa beberapa dari pernyataan-pernyataan yang berisi ramalan dan yang dinyatakan sebagai berasal dari Yesus itu kemungkinan besar adalah kreasi gereja purba, dan sengaja dilekatkan ke bibir Yesus untuk membantu para pengikutnya memahami hubungan mereka dengan sejarah mereka sendiri dan pada bencana-bencana yang tengah berkembang dalam abad pertama itu. Jika kita mencermati beberapa dari elemen-elemen lain dalam ajaran Yesus, rupanya ada sikap yang kritis terhadap beberapa dari elemen-elemen profetik tadi. Jadi, misalnya, ada ucapan-ucapan di mana Yesus mengatakan bahwa ia tidak tahu kapan akhir itu akan datang. Dan jika kita mengamati cara bagaimana ia menggunakan simbol-simbol yang terkait dengan harapan-harapan akan intervensi eskatologis itu, maka kita seolah melihat Yesus menggunakan cara-cara itu dengan cara yang aneh. Cara-cara yang mengisyaratkan bahwa ia mungkin bersikap kritis terhadap beberapa dari harapan-harapan eskatologis tadi.

Jadi pemahaman saya adalah bahwa Yesus barangkali dibesarkan di suatu lingkungan di mana beberapa orang berpegangan pada harapan-harapan akan intervensi eskatologis itu dalam sejarah manusia, bahwa ia mungkin pernah berbagi harapan-harapan itu pada suatu titik dalam hidupnya, dan kebetulan ia memang murid Yohanes Pembaptis dan dibaptis oleh dia. Dan jika Yohanes Pembaptis adalah seorang pengkhotbah apokaliptik, maka adalah nalar untuk beranggapan bahwa Yesus pernah memiliki sesuatu keterkaitan dengan harapan-harapan eskatologis tadi. Tetapi cara Yesus menyatakan harapan-harapan eskatologis dan cara bagaimana ia memahami pemerintahan Tuhan atau Kerajaan Tuhan itu mengisyaratkan bahwa ia tidak sepenuhnya menerioma visi eskatologis itu, yang kemudian dikemas-ulang oleh para pengikutnya dalam teks-teks seperti Markus 13.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

PENYEMBUH, GURU, PENGKHOTBAH

Salah satu dari aspek-aspek yang paling menarik tetapi juga mendatangkan frustrasi paling besar dari kisah-kisah tentang Yesus dalam injil-injil itu adalah bahwa injil-injil itu berbicara tentang Yesus dengan cara-cara yang begitu berlainan. Ada elemen-elemen karir publik Yesus, jika anda ingin memandangnya seperti itu, di mana dia tampak seperti seorang penyembuh. . . . dalam Markus, dia pertama-tama adalah seorang exorcist, orang yang mengusir setan-setan dan menyembuhkan orang-orang dengan mengusir setan-setan dari dalam mereka. Ia digambarkan sebagai seorang guru agama dalam Injil Mateus. Beautitudes, Khotbah di atas Bukit, itu semua adalah bagian dari ajaran itu. Dia tidak henti-hentinya berdebat tentang bagaimana cara hidup Yahudi yang benar . . . . .

Dia juga digambarkan sebagai orang yang bicara tentang Kerajaan Allah yang akan segera datang. Andaikata yang kita miliki cuma injil-injil itu, andaikata yang kita ketahui cuma itu mengenai momen itu dalam perkembangan Kristianitas sebagai sebuah agama, maka kita bisa berpikiran bahwa pernyataan bahwa harapan apokaliptik itu berasal dari Yesus sebenarnya datang dari suatu titik justru sesudah kematiannya, atau mungkin itu adalah keputusan editorial dari penulis injilnya, yang, bagaimanapun juga, menulis antara tahun 70 sampai 100. Dan Yesus wafat sekitar tahun 30. Jadi ada jarak sekian tahun itu. Dengan kata lain, kita bisa mencermati elemen-elemen apokaliptik itu dan memandangnya sebagai sebuah tema kesastraan, tetapi itu tidak menceritakan apa-apa tentang Yesus.

Meskipun begitu, saya kira, adalah penting untuk mencermati surat-surat Paulus yang ditulis 15 tahun lebih awal daripada injil yang pertama, tetapi oleh seseorang yang berada dalam sebuah gerakan yang tengah menciptakan dirinya sendiri di seputar nama dan kenangan tentang Yesus ini. . . . . Paulus sendiri juga berbicara tentang Kerajaan Allah yang akan segera tiba dengan dahi yang agak berkerut, dengan sesuatu improvisasi: bahwa Putera Allah, yaitu Yesus, akan segera kembali. . . . sekarang Kerajaan Allah itu akan segera tiba. Saya ingin menempatkan Paulus antara Yesus sejarah dengan Yesus-Yesus yang berdiri dalam injil-injil, dan menjajarkan apa yang ada dalam injil-injil dengan apa yang ada dalam [surat-surat] Paulus. . . . . Paulus berbicara tentang Kerajaan Allah yang akan segera tiba. Ia bicara tentang transformasi orang yang masih hidup dan kebangkitan kembali orang yang sudah mati. Ia bicara tentang semangat kekudusan yang merasuki komunitas-komunitas Kristen. Ia bicara tentang Tuhan melakukan intervensi secara definitif dalam sejarah. Ia bicara tentang akhir dari kejahatan. Dan entah dia, dan gerakan yang ia dirikan dalam pertengahan abad pertama itu, mendisain semua itu dari selembar kain utuh, dan itu tidak berhubungan dengan perkataan orang yang mereka anggap sebagai pendiri mereka dan guru mereka, atau Yesus sendiri memang pernah mengatakan sesuatu yang seperti itu. Saya rasa tidak susah untuk memikirkan Yesus, Paulus, dan gereja purba sebagai berada pada kontinum seperti ini.

John Dominic Crossan:

Professor Emeritus of Religious Studies DePaul University

SIAPA DIA MENURUT YESUS SENDIRI?

Berdasarkan bukti yang tertinggal pada kita, siapakah Yesus itu menurut Yesus sendiri?

Yesus berbicara dengan cukup jelas mengenai Kerajaan Allah, dan itu tidak diragukan lagi. Dan itu berarti ini adalah kehendak Allah. Yesus membuat pernyataan-pernyatan tentang apa yang Tuhan kehendaki bagi bumi ini. Dan tidak ada “Sabda Allah datang kepadaku,” atau tidak ada “Aku pikir.” Rasanya itu sudah jelas dari teksnya sendiri. Saya kira memang itulah persisnya bagi Yesus. Kerajaan Allah secara radikal subversif terhadap Kerajan Kaisar, dan itu juga sudah gamblang bagi Yesus karena ia dibesarkan—katakanlah—di tataran akar rumput terbawah dan ia tahu [hidup di] tataran itu tidak adil. Itu sudah begitu gamblang bagi dia, itu tidak membutuhkan wahyu. . . . . itu datang langsung dari tradisi Yahudi—bahwa sistem ini tidak beres. Nah, para pengikutnya akan bertanya padanya, tentu saja—pertanyaan yang sudah amat gamblang, “Siapakah kau?” Dan sama sekali bukan masalah bagi saya jika di masa Yesus hidup itu beberapa pengikut mungkin mengatakan, “Dia ilahi.” Dan yang saya maksudkan dengan ilahi adalah, “Di sinilah kita melihat Tuhan berkarya. Beginilah cara kita melihat Tuhan” atau, “Dia lah Messiah.” Tetapi jika begitu mereka lalu harus menginterpretasikan Yesus dari sudut apa yang Yesus lakukan. Ia tampaknya bukan Messiah yang militan, atau mungkin kita lah yang menghendaki agar dia jadi Messiah yang militan. Semua opsi itu mungkin ada selama Yesus masih hidup. Saya tidak punya bukti apapun bahwa Yesus sama sekali tidak memikirkan menerima sesuatu opsi, atau bahkan mendiskusikan sesuatu opsi. [Bagaimana pun], dia lah yang mengumumkan Kerajaan Allah.

Tetapi apakah ia berbicara atas nama Allah?

Yesus harus berbicara atas nama Allah, yes.

Tetapi apakah ia beranggapan ia mempunyai hubungan khusus dengan Allah?

Saya tidak beranggapan bahwa Yesus beranggapan bahwa ia mempunyai hubungan istimewa dengan Allah andaikata hubungan istimewa itu tidak ada di sana bagi orang lain manapun yang memandang dunia ini dan melihat bahwa dunia ini tidak beres. Bagi Yesus sudah sangat gamblang bahwa orang lain manapun mustinya bisa melihat hal itu. Nah, di pihak lain, kebanyakan orang tidak bisa melihat hal itu di abad pertama atau abad ke-20. Jadi dalam arti itu, yes, itu adalah hubungan yang unik. Dan tentu saja itu adalah hubungan yang belakangan akan dijadikan dasar pengembangan teologi.

Saya merasa bahwa implikasi dari apa yang anda ucapkan adalah, kurang-lebihnya, bahwa Yesus bukan Tuhan.

Jika ada orang mengatakan, “Ini kehendak Allah,” maka saya akan bertanya padanya, “Well, ketika saya mendengar anda, apakah itu berarti saya mendengar Allah sendiri?” “Yep.” “Well, then, apakah anda Allah—dalam tanda petik?” “Yep.” “Tetapi ketika anda mati—Allah tidak mati ‘kan?” Jadi, maksud saya, adalah sepenuhnya valid bagi siapa saja untuk mengatakan, “Yesus adalah Tuhan.” Tetapi mereka nanti harus menjelaskan apa itu artinya. Dan bagi saya itu artinya, bahwa Yesus berbicara atas nama Allah. Bahwa apa yang Yesus katakan adalah apa yang Allah kehendaki bagi dunia ini.

Judul asli: “The Complexity of His Religious Identity”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 4 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: