Kematian Yudas

27/01/2010

Mateus tentang kematian Yudas:

3 Ketika Yudas, pengkhianatnya, melihat bahwa ia dijatuhi hukuman mati, ia menyesal dan mengembalikan 30 uang perak itu kepada para imam agung dan tetua, 4 dengan mengatakan, “Aku berdosa mengkhianati orang yang tidak bersalah.” Mereka berkata, “Apa artinya itu bagi kami? Itu urusanmu sendiri.” 5 Dan sambil melemparkan keping-keping perak itu di Bait Allah, ia pergi dan menggantung dirinya sendiri. 6 Tetapi imam agung tertinggi, sambil mengambil keping-keping perak itu, berkata, “Kita tidak boleh memasukkan uang ini ke gedung bendahara Bait Allah, karena ini uang darah.” 7 Karena itu mereka berunding, dan membeli ladang tukang pot dengan uang itu, untuk dijadikan kuburan orang-orang  tak dikenal. 8 Karena itu ladang itu sampai sekarang disebut Ladang Darah. 9 Maka terpenuhilah apa yang telah diucapkan oleh nabi Yeremiah, yang mengatakan, “Dan mereka mengambil 30 keping perak, harga dia yang diserahkan oleh beberapa anak Israel, 10 dan mereka menggunakannya untuk membeli ladang tukang pot, sebagaimana Tuhan telah wahyukan kepadaku.” (Mat 27:3-10).

Kisah Para Rasul tentang kematian Yudas:

15 Pada waktu itu Petrus berdiri di antara saudara-saudara (yang semuanya berjumlah sekitar seratus duapuluh orang), dan mengatakan, 15 “Saudara-saudara, alkitab harus dipenuhi, yang telah diucapkan oleh Roh Kudus melalui mulut David, menyangkut Yudas yang memimpin orang-orang yang menangkap Yesus. 17 Sebab ia termasuk di antara kita, dan diberi bagian dalam pelayanan ini. 18 (Kemudian orang itu membeli sebidang tanah dengan uang hasil kejahatannya; dan karena jatuh dengan kepala di bawah, perutnya robek dan semua isinya terburai keluar. 19 Dan hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu disebut dalam bahasa mereka Akel’dama, yang berarti Ladang Darah). 20 Sebab telah tertulis dalam kitab Mazmur, “Biarlah tempat tinggalnya menjadi gersang, dan biarlah tak seorang pun tinggal di situ”; dan “Biarlah kedudukannya diambil orang lain.” (Kisah Para Rasul 1:15-20).

PENYEBAB KEMATIAN YUDAS

Ini adalah kontradiksi yang sangat kentara. Dalam Mateus, Yudas menggantung dirinya sendiri, tetapi dalam Kisah Para Rasul, ia jatuh dengan kepala di bawah dan isi perutnya terburai keluar. Usaha-usaha untuk mempertemukan kontradiksi itu, misalnya tulisan ini sendiri, secara tipikal mengasumsikan bahwa kedua hal itu memang benar-benar terjadi: Yudas menggantung dirinya sendiri—tali gantungan putus—Yudas jatuh dengan kepala di bawah—dan isi perutnya terburai ketika tubuhnya menghantam batu-batu. Selain itu ada sumsi bahwa Mateus lebih memikirkan penyebab kematiannya yang paling mendasar, sementara Kisah Para Rasul lebih tertarik pada penyebab kematiannya secara teknis.

Pertama, harus dicatat bahwa Yudas jatuh dengan kepala di bawah. Jadi dibutuhkan sebuah penjelasan mengenai mengapa tubuh Yudas berputar arah 180 derajat ketika tali gantungan itu putus. Mungkin Yudas menggantung dirinya di dahan sebuah pohon yang menjulur di atas sebuah tebing dengan jarak cukup jauh sehingga ketika jatuh tubuhnya bisa terpuntir, tetapi perkiraan ini terasa aneh, seakan-akan Yudas memang menginginkan agar tali itu putus. Selain itu, Yudas mencari kesulitan yang tidak perlu jika memang harus memanjat cabang yang menjulur jauh. Mungkin juga pada waktu jatuh, Yudas menghantam benda lain, misalnya dahan pohon lain, yang mengakibatkan tubuhnya terpuntir. Ini memang mungkin, tetapi akan lebih nalar lagi jika Yudas memilih cabang paling rendah yang bisa ia temukan, tetapi cukup tinggi untuk menggantung diri. Sebuah cabang dengan sebuah cabang lain di bawahnya pasti akan merepotkan.

Berbagai asumsi bisa diajukan mengenai penataan cerita Mateus dan cerita Kisah untuk memahami penempatan bagian menggantung di Mateus dan bagian jatuh di Kisah. Mungkin saja Mateus lebih suka bercerita tentang hal-hal yang terjadi di langit, sementara Kisah lebih suka bicara tentang hal-hal yang terjadi di darat. Asumsi-asumsi seperti itu jelas akan semena-mena jika tidak dilaraskan dengan bagian lain teksnya.

Terlepas dari apa yang diasumsikan mengenai penataan cerita Mateus dan cerita Kisah Para Rasul, Yudas mati hanya satu kali. Entah Yudas mati ketika ia menggantung diri dan kemudian baru jatuh, atau ia masih hidup ketika jatuh dan baru mati ketika tubuhnya menghantam tanah. Dalam kedua hal itu, baik Mateus maupun Kisah lupa menyebutkan bagaimana persisnya Yudas mati. Asumsi lain, yaitu bahwa penulis injil Mateus dan penulis Kisah sudah saling mengenal dan menyurati agar masing-masing pihak jangan sampai bercerita sampai dua kali agaknya sulit dipertahankan jika diingat banyaknya materi yang diulang-ulang di bagian lain Perjanjian Baru, khususnya injil-injil sinoptik.

PEMBELI LADANG DARAH

Kontradiksi lain berkaitan dengan pembeli ladang darah. Dalam Mateus 27:7-8 para imam agung membeli ladang itu. Dalam Kisah 1:18-19 Yudas lah yang membeli ladang itu. Usaha-usaha untuk merekonsiliasikan kontradiksi itu, termasuk tulisan ini juga, seringkali mempergunjingkan kata kerja yang dipakai dalam menceritakan bagaimana Yudas mendapatkan ladang itu. Dalam Kisah 1:18, kata kerjanya diterjemahkan menjadi antara lain:

Verb Translations
acquired NAS NRSV
bought RSV
got Darby
obtained ASV WEB
purchased AKJV KJV YLT

Kata kerjanya dalam bahasa Yunani adalah “ktomai,” yang berarti “jadi memiliki sesuatu.” . . . . Jadi semua terjemahan di atas memang nalar.

Mungkin ada godaan untuk mengira bahwa yang dimaksudkan dalam Kisah 1:18 adalah bahwa Yudas mendapatkan ladang itu dalam arti yang abstrak, yaitu secara tidak langsung memberikan uangnya kepada para imam, yang kemudian membeli ladang itu. Tetapi dalam Mateus 27:5, Yudas melemparkan uang itu di Bait Allah, jadi kita tidak bisa berasumsi bahwa Yudas memikirkan apa yang terjadi dengan uang itu setelah dia pergi. Selain itu, menurut Mateus, Yudas mati sebelum para imam membeli ladang itu. Jadi dalam pengertian ini Yudas tidak pernah memiliki tanah itu sepanjang masa hidupnya.

Terakhir, perhatikan bahwa Kisah 1:20 (“. . . . Biarlah tempat tinggalnya menjadi gersang, dan biarlah tidak seorang pun tinggal di situ. . . .”) memperkuat gagasan bahwa Yudas membeli sebidang tanah yang akhirnya tidak ditinggali baik oleh dia maupun orang lain manapun. Akan terasa janggal untuk menerapkan kata posesif “nya” dalam Kisah 1:20 pada imam-imam dalam Mateus 27:7, yang memanfaatkan tanah itu untuk kuburan umum.

BAGAIMANA TANAH ITU DISEBUT LADANG DARAH

Dalam Mateus 27:7-8 kita lihat bahwa petak tanah itu disebut ladang darah karena dibeli dengan uang darah. Dalam Kisah 1:18-19 ada kemungkinan petak tanah itu disebut ladang darah akibat kematian Yudas yang berdarah-darah di situ, karena Kisah 1:19 langsung mengikuti deskripsi tentang berdarah-darah di Kisah 1:18. Dalam Kisah “uang darah” tidak disebut-sebut.

BAGAIMANA YUDAS DILUKISKAN

Salah satu dari perbedaan-perbedaan yang lebih mencolok antara Mateus dengan Kisah adalah dalam melukiskan Yudas. Dalam Mateus, Yudas dilukiskan sebagai dipenuhi dengan penyesalan setelah menyadari apa yang ia lakukan, mengembalikan uang yang ia rasakan tidak pantas ia terima, dan kemudian melakukan bunuh diri. Dalam Kisah, Yudas dilukiskan membeli sebidang tanah dengan uang yang ia simpan, dan kemudian mati secara nista dan berantakan. Satu-satunya adjective yang dengan jelas diterapkan pada Yudas dalam Kisah adalah “jahat” (1:18).

Dengan kata lain, Mateus secara sistematik melukiskan Yudas dalam cahaya yang lebih bagus daripada Kisah. Andaikata orang harus membaca salah satu kitab saja, Mateus saja atau Kisah saja, maka pembaca akan mendapatkan kesan yang sangat berbeda mengenai karakter Yudas.

Ijinkan saya memperkirakan sebuah alasan mengapa beberapa penulis injil mempunyai motivasi untuk melukiskan Yudas dalam cahaya yang lebih bagus daripada yang lain-lain. Mungkin dahulu memang sudah ada perdebatan (di antara para murid) mengenai seberapa jauh Yudas itu jahat. Di satu pihak, Yudas dipilih oleh Yesus untuk membantu memenuhi ramalan Perjanjian Lama dan membantu penyelamatan itu benar-benar terwujud. Tetapi di lain pihak Yudas mengkhianati Yesus demi uang. Jika ini adalah alasan mengapa Mateus dan Kisah melukiskan Yudas dengan cara berbeda, maka hal ini konsisten dengan tema-tema utama Mateus dan Kisah.

Mateus berkepentingan dengan kitab Perjanjian Lama, khususnya bagaimana ramalan akan dipenuhi oleh Yesus, sebagaimana bisa dilihat dari banyaknya kata “memenuhi” dan “ramalan.” Lihat saja ketika Yudas mengkhianati Yesus dalam Mateus:

46 “Bangunlah, mari kita pergi; lihat, pengkhianatku sudah dekat.” 47 Ketika ia masih berbicara, Yudas datang, salah seorang dari keduabelas itu, dan bersamanya satu rombongan dengan bersenjatakan pedang dan gada, dari imam-imam agung dan para tetua bangsa. 48 Pengkhianat itu telah memberi mereka sebuah isyarat, dengan mengatakan, “Orang yang aku cium, itulah dia; tangkaplah dia.” 49 Dan ia mendatangi Yesus seketika itu juga dan berkata, “Salam, Guru!” Dan ia menciumnya. 50 Yesus berkata kepadanya, “Sahabat, mengapa kau di sini?” Kemudian mereka mendekat dan mencekalnya dan menangkapnya. 51 Dan lihatlah, salah seorang yang bersama Yesus menghunus pedangnya, dan menyerang budak imam agung, dan memutuskan telinganya. 52 Kemudian Yesus ebrkata kepadanya, “Sarungkan pedangmu kembali; sebab semua yang mengangkat pedang akan binasa oleh pedang. 53 Apakah kau mengira bahwa aku tidak bisa meminta kepada Bapaku, dan dia saat itu juga akan mengirimkan kepadaku duabelas legiun malaikat? 54 Tetapi jika demikian bagaimana alkitab akan terpenuhi, bahwa memang ahrus demikian halnya?” 55 Saat itu juga Yesus berkata kepada kerumunan orang itu, “Apakah kamu hendak menangkapku seperti seorang perampok, dengan pedang dan gada? Hari demi hari aku duduk di Bait Allah mengajar, dan kamu tidak datang untuk menangkapku. 56 Tetapi semua itu telah terjadi, agar kitab para nabi terpenuhi.: Kemudian semua murid lari meninggalkan dia. 57 Kemudian orang-orang yang menangkap Yesus memabwanya kepada imam agung Kaifas, di mana patra ahli kitab dan tetua telah berkumpul (26:46-57).

Perhatikan bahwa Yersus menyebut Yudas sebagai “sahabat,” dan bahwa Yesus bisa saja melakukan intervensi, tetapi tidak melakukannya agar “kitab para nabi terpenuhi.” Bandingkan ini dengan Kisah, di mana orang-orang Kristen dengan sukarela memartirkan diri demi Kristus sebagai salah satu tema utamanya:

58 Kemudian mereka menyeretnya keluar kota dan merajamnya; dan saksi-saksi meletakkan pakaian mereka di kaki seorang pemuda bernama Saul. 59 Dan ketika mereka merajam Stefanus, ia berdoa, “Tuhan Yesus, terimalah rohku.” 60 Dan ia berlutut dan berseru dengan suara keras, “Tuhan, jangan pertanggungkan dosa ini kepada mereka.” 60 Dan setelah mengucapkan ini, ia jatuh tertidur (Kisah 7:58-60)

Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa Mateus, yang menjunjung tinggi pemenuhan ramalan, akan lebih parsial terhadap Yudas ketimbang Kisah, yang menjunjung tinggi kesetiaan yang tak tergoyahkan pada Yesus. Karena itu perbedaan dalam bagaimana Yudas dilukiskan antara dalam Mateus dan dalam Kisah adalah perbedaan yang memang sudah bisa kita harapkan .

RAMALAN YEREMIAH

Mat 27:9 mengisyaratkan bahwa kematian Yudas memenuhi sebuah ramalan yang disebutkan oleh Yeremiah:

Maka terpenuhilah apa yang telah diucapkan oleh nabi Yeremiah, yang mengatakan, “Dan mereka mengambil 30 keping perak, harga dia yang diserahkan oleh beberapa anak Israel. “

Tetapi rasanya tidak ada ramalan seperti itu dalam ayat-ayat Yeremiah. Ayat-ayat yang paling mendekati adalah ayat-ayat Zechariah:

12 Kemudian aku katakan kepada mereka, “Jika menurut kalian ini benar, maka berikan upahku kepadaku; tetapi jika tidak, simpanlah itu.” Dan mereka menghitung upahku sebesar 30 shekel perak. 13 Kemudian Tuhan berkata kepadaku, “Masukkan itu ke dalam gedung bendahara” —harga tuhan yang dibayarkan kepadaku oleh mereka. Karena itu aku membawa 30 shekel perak itu dan memasukkannya ke gedung bendahara rumah Tuhan. (Zec 11:12-13).

Perhatikan bahwa teks di atas memadukan beberapa elemen yang relevan. Seseorang dibayar 30 shekel yang kemudian ia masukkan ke dalam gedung bendahara Bait Allah. Selain itu, bagian dari kitab Septuagint itu (terjemahan Perjanjian Lama kedalam bahasa Yunani yang banyak dipermasalahkan itu dan yang dikutip oleh para penulis Perjanjian Baru) menyebutkan adanya seorang “potter” (tukang pot) di Bait Allah yang bertugas menerima 30 shekel itu. Jadi ada kemungkinan Mateus mengutip buku yang keliru.

Tetapi masalah yang lebih besar adalah bahwa Mateus mempunyai kecenderungan untuk menemukan pemenuhan ramalan dalam ayat-ayat Perjanjian Lama, misalnya Mateus 27:9, meskipun tidak ada indikasi bahwa penulis aslinya memaksudkannya sebagai sebuah ramalan tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Lebih jauh mengenai hal ini, tengoklah link “Prophecies: Imaginary and Unfulfilled.” Ramalan-ramalan yang disebutkan dalam Kisah 1:20 juga bisa dipertanyakan.

PENUTUP

Masalah-masalah biblikal yang diketengahkan dalam artikel ini bukanlah yang paling sulit dijembatani. Yang sulit dijelaskan adalah jumlah masalah yang begitu banyak, padahal jumlah ayat-ayat yang memuatnya begitu sedikit. Dengan kata lain, bahkan andaikata ditetapkan bahwa masalah-masalah yang diketengahkan dalam artikel ini hanya masalah penampilan, bukan masalah aktual, masih ada pertanyaan yang harus dijawab: mengapa ada begitu banyak masalah penampilan dalam ayat yang jumlahnya cuma segelintir.

Links:

Comments

. . . . . .

Saya rasa post anda mengenai Yudas sangat cermat dan secara intelektual jujur. Saya sendiri ingin sekali bisa menganggap diri sendiri secara intelektual jujur (saya Professor di UT) dan orang Kristen (saya memeluk Kristen baru di usia senja dan dahulu menganggap Kristianitas itu miskin intelektualisme).

Penutup anda menyatakan bahwa kisah-kisah tentang Yudas terkesan mengandung banyak kontradiksi, termasuk kontradiksi-kontradiksi yang tidak disebutkan dalam artikel anda. Yes, memang ada berton-ton kontradiksi, tetapi tidak ada kontradiksi yang sudah dibuktikan secara meyakinkan [“iron-clad”]. Sebenarnya sangat mengherankan bahwa ada banyak sekali buku-buku yang bisa begitu harmonis dari periode-periode yang berlainan. Yes, bacaan sekilas bisa mengungkap banyak hal, dan daftarnya bisa sangat panjang, tetapi bacaan yang lebih mendalam akan mengungkapkan kekayaan yang sebelumnya tidak kasat mata. Saya sendiri pernah menyelidiki beberapa dugaan error, yang salah satunya termasuk yang paling rumit.

Mungkin anda tidak menemukan eksegesis yang cemerlang betul di internet, tetapi para ahli yang sangat cemerlang telah meneliti semua tuduhan itu selama berabad-abad, jadi pembahasan yang betul-betul mendalam ada di buku-buku tua. Di bawah ini saya temukan blog link yang singkat tetapi cermat, sehingga jauh lebih baik daripada banyak websites Kristen yang pembahasannya superfisial.

Saya rasa poin utama saya adalah bahwa orang akan secara alami pergi mencari kontradiksi yang paling berat dalam injil. Ada bias seleksi, dan masing-masing dari ini harus disimak secara individual, dan harus dibuktikan kalau keliru. Jika sebuah cerita terasa kontradiktif tetapi bisa direkonsiliasikan, maka hal itu mengarah pada fakta bahwa (a) para penulis injil tidak mengandalkan satu sama lain untuk menuliskan ceritanya, dan (b) kejadiannya benar-benar terjadi seperti diceritakan. Banyak nama dalam Lukas (http://www.leaderu.com/orgs/probe/docs/arch-nt.html) dahulu pada 1800an dianggap bertentangan dengan sejarah, tetapi sekarang oleh penggalian-penggalian arkeologis  dibuktikan sebagai secara historis correct.

john
http://thisblogchoseyou.wordpress.com/2008/05/24/the-death-of-judas-is-t…
garisbesar saya singkat saja:

1. Yudas melemparkan uangnya pada para imam. “uang darah” dalam teks.
2. Mereka tidak boleh mengatasnamakan tanah itu dalam nama mereka. Tidak seorang pun akan menginginkan atau mengijinkan tanah itu diatasnamakan dalam nama mereka (ini adalah orang-orang yang mencuci tangan X kali sehari), jadi mereka mendaftarkannya atas nama Yudas.

3. Yudas menggantung diri di atas tebing di ladang itu sehingga muncul gosip dia menggantung diri.
4. Tubuhnya menjadi matang di sana (sungguh, saya tahu betul rusa atau celeng yang matang akan melembung dan baunya mengerikan).
5. Pada suatu ketika talinya putus atau diputus orang dan tubuhnya nyeprot dan jatuh dengan kepala di bawah lalu njebluk waktu menghantam tanah.
6. Waktu itu imam-imam belum membeli tanah itu, tetapi mereka lalu kasak-kusuk, hey, kita beli aja ladang tempat denmase ini nggantung.
Tentu saja, urutannya bisa 6 lalu 4 . . . . dia mungkin saja menggantung diri di ladang yang mereka beli atas nama dia. Ini mungkin kedengaran terlalu kebetulan, tapi bayangkan saja andaikata dia tahu ladang itu dibeli dengan 30 shekel perak itu atas nama dia. Dia mungkin nengok ke sana, lalu ngenes, lalu nggantung. Coba pikir, masing-masing kitab injil itu cuma beberapa halaman, padahal harus menceritakan masa hidup Yesus sepanjang 3 atau 33 tahun. Jelas mereka harus ekstra singkat dan standar penulisannya adalah cukup menyajikan poin-poin terpenting saja. Tidak seperti menulis surat kontrak seperti di jaman sekarang ini.

Mon, 10/20/2008 – 18:46 — sle

Re: post on Judas…

Terima kasih atas umpan-baliknya yang serius mengenai artikel saya.

Mengenai argumen-argumen yang “iron-clad,” saya dengan senang hati mengakui bahwa kita tidak bisa secara absolut membuktikan sesuatu kontradiksi yang ditulis dalam sesuatu bahasa natural, katakan saja bahasa Inggris. Misalkan saja teks “The sky is blue. The sky is red.” Mungkin saja saat itu matahari sudah tenggelam. Mungkin langitnya berwarna ungu, sehingga cukup nalar untuk menyebutkan dua warna, biru dan merah. Dengan kreatif, kita bisa merekonsiliasikan dua pernyataan. Jadi saya berharap saya tidak memberikan kesan bahwa saya telah membuktikan sesuatu secara “iron-clad.”

Yang lebih menarik bagi saya adalah ketika teks-teks yang berbeda tidak hanya mempunyai kontradiksi-kontradiksi, tetapi juga tema-tema yang berbeda yang menyatukan mereka bersama-sama (dalam kasus kita sekarang: seberapa disloyal Yudas itu vs. seberapa penting dia sebagai agen untuk memenuhi sesuatu ramalan). Lebih kecil kemungkinannya bahwa kontradiksi-kontradiksi yang nampak ternyata konsisten dengan sesuatu tema.

Saya pernah mendengar tentang teori bahwa Yudas pertama menggantung dirinya sendiri dan kemudian entah dengan cara bagaimana jatuh dengan kepala di bawah di ladang itu. Dengan untuk sementara mengesampingkan bahwa harus ada sesuatu mekanisme dengan mana tubuhnya berputar ketika jatuh (misalnya karena sebuah dahan, sebagaimana diperkirakan oleh beberapa orang), alasan mengapa hal itu terasa kurang nalar bagi saya adalah terkait dengan bagaimana orang berkomunikasi.

Orang-orang berkomunikasi secara efisien dengan mempertimbangkan apa yang sudah diketahui oleh pendengarnya. Orang-orang berkomunikasi dengan jalan memberikan detil-detil yang paling relevan yang pendengarnya belum ketahui. Karena itu terasa ganjil bagi saya bahwa dalam satu kasus penulis menganggap bagian Yudas menggantung diri itu merupakan bagian yang relevan sementara kejatuhannya dengan kepala di bawah itu tidak relevan. Tetapi kemudian penulis yang lain, karena sesuatu alasan yang tidak diketahui, mempunyai opini sebaliknya mengenai mana yang relevan. Tidak hanya masing-masing penulis harus mempunyai opini yang berbeda mengenai bagian mana dari kematian Yudas (menggantung atau jatuh) yang lebih penting, tetapi mereka masing-masing juga harus tahu bahwa penjelasan mereka akan memberi pembaca sebuah gambaran yang tidak lengkap mengenai apa yang terjadi.

Sumber: http://selliott.org/essays.

Terjemahan: Bern Hidayat, 24 Januari 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: