Kematian dan Kebangkitan Kembali

27/01/2010

Klimaks dari kisah Yesus—kematian dan kebangkitan kembali— menjadi sentral bagi kepercayaan Kristen yang tengah berkembang. Tetapi masing-masing injil menceritakannya dengan cara berlainan.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

PENYALIBAN DAN KEBANGKITAN KEMBALI DALAM INJIL-INJIL

Kita tidak mendapatkan banyak detil tentang penyaliban aktual Yesus. Yang kita dapatkan adalah kisah-kisah dalam injil-injil itu. Dan, yang menarik dan memang wajar, para penulis injil itu banyak meminjam dari Mazmur.  Mazmur-mazmur yang dalam kanon Yahudi sering merupakan jeritan-jeritan kepada Tuhan. Mereka meraih literatur itu untuk membangun sajian naratif mereka tentang penyaliban itu. Saya tidak akan memberikan kepercayaan besar pada detil-detil naratifnya. Anda tahu, jika ada orang yang akan mencoblos lambung Yesus atau jika ada orang yang bertaruh memperebutkan jubahnya. . . .hal-hal seperti itu. Tetapi saya ingin mengamati nadanya. . . . . yang diisyaratkan oleh ketergantungan pada Mazmur tadi. Sebab itu adalah jeritan-jeritan ketakutan dan kesepian. Mereka benar-benar memohon Tuhan agar diberi pencerahan makna. Meskipun mereka adalah kata-kata yang dimasukkan ke mulut Yesus dalam Markus, “Mengapa kau meninggalkan aku?” Greget religius Mazmur lah yang merupakan salah satu momen paling mentakjubkan tentang kontinuitas yang konkret antara apa yang mungkin ada dalam benak orang Yahudi abad pertama yang sangat religius ini, sementara dia sekarat secara sangat menyakitkan di kayu salib, sebagai puncak dari satu minggu yang penuh dengan hingar-bingar dan komitmen keagamaan. . . . . . Dengan menanyai Tuhan apa yang telah terjadi.

Jadi Yesus tetap mati?

Tentu saja kisah itu tidak berakhir di kayu salib. Kisahnya berakhir, setidak-tidaknya menurut Markus, ianjil yang paling tua, dengan makam yang kosong secara misterius. Kita mendapatkan pengikut-pengikut Yesus yang istirahat pada hari Sabbath. . . . .lagi-lagi, satu detil yang tidak begitu menonjol, jika barusan berkhotbah menentang Sabbath, lalu mengapa mereka istirahat pada hari Sabbath? Mereka bisa saja pergi dan mengunjungi jasad itu pada hari Sabtu. Tapi itu tidak mereka lakukan. Mereka menunggu sampai Minggu pagi. Dan makam itu kosong. Injil Markus berakhir dengan wanita-wanita yang diberitahu oleh seorang anak muda misterius bahwa Yesus sedang menunggu mereka dan menunggu murid-murid di Galilei. Dan . . . . .mereka tidak mengatakan apa-apa karena mereka ketakutan. Di situlah injil itu berakhir.

Dalam Mateus, dan kemudian dalam Lukas, ada penampakan-penampakan pasca-kebangkitan yang njlimet. Yesus menampakkan diri pada murid-muridnya di Galilei, dalam Mateus, dan di Yerusalem, dalam Lukas. Dan memberikan instruksi-instruksi secara agak mendetil mengenai apa yang murid-murid itu harus lakukan sekarang. . . . . Dalam injil-injil itu, kebangkitan kembali itu seperti dikemas; pembaca sudah disiapkan untuk itu, karena Yesus sebelumnya senantiasa meramalkan kebangkitannya sendiri dengan jelas, dengan konsisten, di injil-injil itu. Yang menarik, jika anda bisa mendengar disharmoni di balik penyajian yang sangat mulus itu, adalah bahwa kematian Yesus adalah sangat traumatik. Meskipun murid-murid itu sudah mendapatkan ramalan-ramalan yang terperinci mengenai apa yang akan terjadi, mereka ketakutan, dan mereka lari, dan mereka meninggalkan dia. Dia mati sendirian. Dan kemudian anda mendapatkan momen resolusi, di mana mereka semua dipersatukan kembali di seputar kemenangan Tuhan yang telah bangkit kembali. Tetapi benar-benar sulit, atas dasar kisah yang kita peroleh dalam injil-injil, untuk menguak ke belakang dan memahami seperti apa penampakan-penampakan kebangktian kembali yang pertama itu bagi para rasul.

Sebagai seorang sejarawan, apa kesimpulan anda mengenai . . . . . kebangkitan kembali ini, mengenai keyakinan  orang banyak bahwa Yesus telah bangkit dari kematian?

Kisah-kisah tentang kebangkitan kembali dalam injil-injil itu mengetengahkan dua poin yang sangat jelas. Pertama, bahwa Yesus benar-benar mati. Dan kedua, bahwa murid-muridnya benar-benar dan dengan keyakinan absolut melihatnya kembali sesudah itu. Injil-injil itu sama-sama jelas bahwa itu bukan hantu. Maksud saya, bahkan andaikata Yesus yang telah bangkit itu menembus sebuah pintu toko dalam salah satu injil itu, kemudian mendadak dia mengejawantah di tengah-tengah pertemuan yang sedang diselenggarakan oleh murid-murid itu, Yesus toh masih kesulitan untuk meyakinkan mereka. “Sentuhlah aku, rabalah aku, ini tulang dan daging sungguhan.” Dalam Lukas ia makan seekor ikan. Hantu-hantu tidak bisa makan ikan. Jadi apa yang tradisi ini tengah tekankan lagi dan lagi dan lagi dan lagi, adalah bahwa itu bukan ilusi. Itu bukan mimpi sambil  jalan. Itu Yesus yang dibangkitkan dari mati.

Nah, sebagai seorang sejarawan, hal itu tidak menceritakan apa-apa pada saya tentang apakah Yesus sendiri secara aktual dibangkitkan kembali atau tidak. Tetapi hal itu memberi saya sebuah wawasan yang mencengangkan tentang para pengikut Yesus, dan karena itu, secara tidak langsung, tentang sang pemimpin yang telah berhasil menempa orang-orang itu menjadi sebuah komunitas yang memiliki komitmen kuat. Gagasan tentang kebangkitan kembali itu, gagasan tentang pembenaran terhadap seseorang yang benar dan lurus, adalah sesuatu yang, sekali lagi, merupakan sebuah elemen—satu dari sekian banyak elemen—yang bisa kita bangun untuk harapan apokaliptik Yahudi. Andaikata Yesus tidak bicara tentang Kerajaan Allah, andaikata ia tidak mengatakan apapun tentang Tuhan menang atas kejahatan, benar-benar akan jadi mukjijat jika murid-muridnya tiba-tiba saja yakin bahwa Yesus telah dibangkitkan kembali. Tetapi mereka meyakini hal itu. Dengan kata lain, komitmen pada kepercayaan bahwa Yesus telah dibangkitkan kembali itu adalah indeks tentang komitmen apokaliptik para pengikut Yesus. Dalam pengertian itu, seperti melihat ke kaca spion, saya kira kisah-kisah kebangkitan kembali itu, yang merupakan inti dari proklamasi Kristianitas—kisah-kisah kebangkitan kembali itu memberi kita sebuah pandangan tak langsung mengenai apa yang akan dikatakan oleh Yesus historis.

John Dominic Crossan:

Professor Emeritus of Religious Studies DePaul University

PENYALIBAN DALAM INJIL-INJIL

Nah, ketika Yesus tergantung di kayu salib, dapatkah kita mengatakan apa yang ada di benaknya? Adakah sesuatu signifikansi dalam apa yang ia katakan sementara ia tergantung di kayu salib itu? Bukti apa yang ada yang bisa menceritakan pada kita sesuatu mengenai dia dan bagaimana dia hidup?

Ketika anda mengatakan penyaliban, anda mengatakan dua hal secara langsung. Kelas bawah, karena orang-orang Romawi tidak terbiasa menyalib kelas atas. Itu terlalu berbahaya. Orang-orang mungkin akan mendapatkan ide yang enggak-enggak jika mereka melihat bahwa para bangsawan mati persis seperti sembarang orang lain. Jadi, kelas bawah dan subversi. [Penyaliban] itu bercerita pada kita bahwa Yesus dipandang, setidak-tidaknya oleh para algojonya, sebagai subversif kelas bawah. Dan itu sangat penting. Detil-detil mengenai kata-kata terakhir Yesus, misalnya—kita secara total berada di wilayah injil, dan bukan wilayah sejarah.  Markus menceritakan pada kita bahwa Yesus mati diolok-olok dan menderita kesakitan hebat, dan saya kira Markus menulis bagi pengalaman hidup orang-orang pada tahun 70an yang mati seperti itu, dan yang membutuhkan penghiburan bahwa Yesus dahulu juga mati seperti itu, merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Ketika anda sampai pada Yohanes, anda mendapatkan skenario yang berbeda secara total. Yesus mati ketika ia sehat dan siap. Kata-kata terakhirnya akan memenuhi alkitab. Tidak ada penderitaan yang sebenarnya. Tidak ada kesakitan. Itu adalah visi-visi injil yang berlainan mengenai fakta historis bahwa Yesus pasti mati menderita di kayu salib . . . . . .

LAIN INJIL, LAIN ENDING

Kisah tentang makam kosong itu ditemukan, sejauh saya ingat, hanya dalam Markus. Bab terakhir injil Markus, Markus 16, menceritakan kisah tentang pagi Minggu Paskah [ketika] wanita-wanita datang ke makam. Mereka mendapatkan makam itu terbuka dan kosong. Itu makam dengan sebuah batu raksasa digelundungkan di depannya. Itu terbuka dan itu kosong. Dan ada seorang anak muda, seseorang makluk transendental, kita katakan saja malaikat, di makam itu yang mengatakan, “Yesus telah bangkit. Dia tidak di sini.” Begitu ceritanya. Tapi dia juga mengatakan, “Kasih tahu murid-murid.” Dan . . . . wanita-wanita itu lari dan tidak bercerita pada siapa pun tentang apa yang terjadi. Nah, itu ending yang luar biasa. Luar biasa bukan karena makam itu kosong, tetapi karena wanita-wanita itu tidak bercerita pada siapa pun. Jadi, anda mungkin sekali akan bertanya-tanya, lalu dari mana Markus tahu ceritanya? Di situlah Markus mengakhiri injilnya. Itu berakhir di sana. Tidak ada penampakan. Tidak ada visi. Yang ada hanya adegan itu.  Itu datang dari mana? Saya tidak dapat menemukannya dalam sumber apapun yang lebih tua daripada Markus, atau dalam sembarang sumber yang tidak tergantung pada Markus, dalam pertimbangan saya. Ia menulis pada tahun 70an untuk sebuah gereja yang sedang dianiaya. . . . . Ia mengakhiri nyaris dengan seorang Yesus yang absen, sebab begitulah yang dirasakan oleh komunitasnya dalam penganiayaan—seorang Yesus yang absen. Nah, tidak seorang pun sesudah Markus akan mau menerima itu. Mateus akan mengubahnya. Lukas akan mengubahnya. Yohanes akan mengubahnya. Para penyalin kitab bahkan akan mengubah Injil Markus untuk memasukkan ending-ending lain di sana. Markus menciptakan makam kosong, sejauh yang bisa saya lihat, sebagai cara dia mengakhiri kisahnya. . . . . .

Sebagaimana saya menginterpretasikan Markus, Markus sendiri lah pencipta kisah tentang makam kosong itu. Dan setiap orang lain—mari kita ambil satu contoh, Mateus—Mateus membaca Markus. Mengenai hal ini ada konsensus sangat kuat sebagai hasil dari banyak pengkajian yang suntuk. Dia mendapatkan bahwa Markus mengakhiri dengan wanita-wanita lari dan tidak bercerita pada siapa pun. Begitukah cara Mateus menceritakannya? No. dia membuat Yesus menemui wanita-wanita itu. Dan sekarang wanita-wanita. . . . mereka pergi dan bercerita. . . . . . Dan adegan terakhir dalam Mateus, tentu saja, adalah Yesus, yang menemui murid-murid di sebuah gunung di Galilei di mana kisah itu dimulai. . . . . itu Khotbah di atas Bukit, dan mereka disuruh pergi keluar dan mewatakan kabar gembira pada seluruh dunia.  Itulah Mateus yang mengubah Markus. Dan itu cukup nalar. Anda juga akan menebak begitu [jika anda merenungkan] apa yang Markus harus lakukan . . . . .

Nah, ketika Mateus dan Lukas secara efektif menambahkan sebuah ending baru, apakah mereka sekedar menulis fiksi, ataukah mereka mengandalkan sesuatu tradisi lisan yang telah beredar di seputar gerakan itu?

Saya tidak membawa-bawa tradisi lisan kalau saya tidak punya bukti untuk itu. Tradisi lisan adalah penjelasan yang cerdik dan aduhai tentang segala sesuatu yang kita tidak pahami. Sejauh saya bisa lihat, Mateus menciptakan ending yang layak, ending yang nyaris tak terbayangkan untuk injil Mateus. Begitu juga Lukas. Begitu juga Yohanes. Mereka harus sadar betul tentang apa persisnya yang sedang mereka kerjakan. . . . . bahwa Mateus mengatakan pada dirinya sendiri, “Aku harus menyimpulkan injil ini. Aku sedang bicara tentang sesuatu yang terjadi pada, katakanlah,  tahun 30, tapi aku harus membuat injilku relevan dengan tahun 85. Nah, apa pernyataan terakhir Yesus yang klimaktik? Di mana aku akan menempatkannya, dan apa yang dia katakan, dan pada siapa?” Dan sebagainya dan sebagainya, masing-masing penulis injil menulis dengan cara lain dan mereka pasti sadar bahwa mereka sedang mencipta. Nah, mereka tidak menciptakannya sekedar sebagai sebuah fiksi murni. Mereka menciptakannya sebagai sebuah klimaks rangkuman yang tepat bagi injil mereka. . . . . . .

Judul asli: “Death and Resurrection”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 9 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: