Kemartiran Polycarpus

27/01/2010

Dari umat Tuhan di Smyrna kepada umat Tuhan di Philomelium [di Phrygia, Asia Minor] dan kepada semua komunitas umat kudus yang memeluk semua orang di semua tempat.

Kami  menulis kepada kalian, saudara-saudara, tentang apa yang terjadi pada sebagian di antara kami yang telah memberikan kesaksian dengan mempersembahkan nyawa, khususnya Polycarpus yang terberkati, yang ibaratnya mengakhiri penganiayaan dengan jalan mengetok palu hukuman dengan kesaksiannya sendiri.

Dicabik-cabik oleh pukulan-pukulan sampai bagian-bagian dalam tubuhnya kelihatan, bahkan sampai ke pembuluh-pembuluh dan arteri-arteri, mereka menahan segala penderitaan. Bahkan para penonton iba dan menjerit-jerit menangisi mereka. Para martir Kristus yang mulia itu menunjukkan kekuatan jiwa sedemikian besar sehingga tidak satu orang pun mengeluarkan teriakan atau erangan. Mereka membuktikan kepada kita semua di saat penyiksaan mereka bahwa mereka terbebas dari si tubuh, atau lebih tepat lagi bahwa Tuhan sendiri berdiri di samping mereka dan berbicara dengan mereka.

Dengan cara yang sama mereka menanggung siksaan ketika mereka dilemparkan ke depan binatang-binatang buas. Mereka diseret di atas cangkang-cangkang kerang dan dihadapkan pada segala macam siksaan lain, sebab penguasa berharap bisa memaksa mereka mengingkari kepercayaan mereka dengan siksaan yang berkepanjangan, andaikata hal itu mungkin. Iblis dari neraka itu menggunakan banyak alat untuk melawan mereka, tetapi berkat Tuhan ia tidak berdaya melawan mereka. Germanicus yang mulia memperkuat orang-orang lain yang lemah dengan menunjukkan ketegarannya. Ia bergulat dengan perkasa melawan binatang-binatang buas itu. Ketika proconsul berusaha membujuknya, dengan mengatakan ia menyayangkan usianya yang masih sangat muda, ia dengan kuat-kuat menarik binatang buas itu ke arah dirinya sendiri, dengan harapan akan terbebas lebih cepat dari kehidupan yang tidak adil dan tidak mengenal Tuhan itu. Seluruh penonton, yang ketakutan melihat ketegaran sekte Kristen yang mencintai Tuhan dan hanya takut pada Tuhan itu, pada berteriak-teriak, “Enyahkan para ateis! Pergi! Tangkap Polycarpus!”

Hanya satu orang, yang bernama Quintus dari Phrygia, yang baru saja datang dari sana, berubah menjadi pengecut ketika ia melihat binatang-binatang buas itu. Dia lah satu-satunya orang yang secara sukarela menyerahkan diri ke pengadilan dan juga membujuk yang lain-lain untuk berbuat sama. Dengan bujukan secara bermanis muka, proconsul berhasil membujuknya untuk mengambil sumpah dan mempersembahkan korban. Karena itu, saudara-saudara, kami merasa tidak pantas jika beberapa di antara kita menyerahkan diri secara sukarela. Injil tidak mengajarkan hal itu kepada kita. Tetapi, sebaliknya, ketika ia mendengar tentang hal itu, Polycarpus bertindak secara mengagumkan dengan tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. . . . . Ketika mereka tidak menemukan dia, mereka menangkap dua orang budak yang masih muda, yang salah satunya berkhianat di bawah siksaan.

Dengan membawa budak muda itu bersama mereka, para upas berangkat untuk menangkapnya pada hari Jum’at sore dengan satu skuadron pasukan berkuda dengan persenjataan seperti biasa. Menjelang gelap mereka berhasil menemukan dia di lantai atas sebuah rumah pedesaan yang kecil. . . . . Mereka tercengang melihat usianya yang sudah sangat tua dan ketenangan serta keagungannya. . . . . Ia langsung memerintahkan agar makanan dan minuman disuguhkan kepada mereka, sebanyak yang mereka inginkan, dan ia meminta mereka memberinya waktu satu jam untuk berdoa tanpa diganggu. . . . . Dan ketika saat keberangkatan tiba, mereka mendudukkan dia di atas seekor keledai dan membawanya ke kota. Waktu itu hari Sabbath. Herodes, kepala polisi, dan Nicetes, ayahnya, berkuda menyambutnya. Mereka memasukkan Polycarpus kedalam kereta mereka dan, setelah duduk di sampingnya, mereka membujuknya dengan mengatakan, “Apa susahnya menyebutkan ‘Tuhan’ dan ‘Kaisar’ dan mempersembahkan korban, dan yang lain-lainnya, dan dengan demikian menyelamatkan nyawamu?” Mula-mula Polycarpus tidak menjawab mereka, tetapi ketika mereka tidak mau berhenti mengganggunya ia mengatakan, “Aku tidak bersedia melakukan apa yang kau nasehatkan.” . . . . . Ketika ia memasuki arena, orang-orang pada berteriak riuh rendah sampai tidak satu pun perkataan orang bisa dimengerti.

Ketika ia digiring ke depan, proconsul bertanya apakah dia Polycarpus. Itu ia akui. Proconsoul membujuknya agar mengingkari kepercayaannya, dengan mendesaknya, “Pertimbangkan umurmu yang sudah lanjut,” dan semua hal lain yang biasa mereka katakan dalam kasus-kasus seperti ini. “Bersumpahlah demi dewa pelindung Kaisar; ubahlah pikiranmu. Katakanlah, ‘Enyahlah para ateis.’” Tetapi Polycarpus hanya menatap dengan wajah bersungguh-sungguh pada seluruh penonton yang berkumpul di arena. Ia melambaikan tangan pada mereka, menghela nafas dalam-dalam, mendongak ke langit, dan mengatakan, “Enyahlah para ateis.”

Tetapi proconsul mendesaknya lebih jauh lagi, dan mengatakan padanya, “Bersumpahlah dan aku akan melepaskanmu! Kutuklah Kristus!” Dan Polycarpus menjawab, “Delapanpuluh-enam tahun aku melayani dia, dan ia belum pernah menyusahkan aku. Bagaimana aku bisa menghojat Raja dan Penyelamatku?” Ketika proconsul masih juga mendesaknya dengan mengatakan, “Bersumpahlah demi dewa pelindung Kaisar,” Polycarpus menjawab, “Jika kamu menginginkan kemenangan hampa dengan memaksaku bersumpah demi dewa pelindung Kaisar sesuai dengan kemauanmu, dan jika kamu berpura-pura bahwa kamu tidak tahu siapa aku, maka dengarlah pengakuanku yang sejujurnya: aku adalah orang Kristen. Jika kamu bersedia belajar memahami apa Kristianitas itu, tetapkanlah waktunya kapan kamu bisa mendengarkan aku.”

Proconsul menjawab, “Cobalah meyakinkan orang-orang itu.”

Polycarpus menjawab dia, “Kamu lah yang aku anggap berharga sehingga aku harus memberikan penjelasan, sebab kami telah diajar untuk memberikan hormat pada pemerintah dan pejabat-pejabat yang ditunjuk oleh Tuhan selama hal itu tidak menyusahkan kami. Tetapi mengenai gerombolan orang banyak itu, aku tidak menganggap mereka cukup berharga untuk mendengarkan pembelaanku.”

Karena itu proconsul menyatakan, “Aku mempunyai binatang-binatang buas. Aku akan memerintahkan mereka dilepaskan untuk mengeroyok kamu jika kamu tidak mengubah pikiranmu.”

“Biarlah mereka datang,” sahut Polycarpus. “Tidak mungkin bagi kami untuk berubah dari yang lebih baik menjadi yang lebih jelek, tetapi yang sebaliknya pantas dihormati: yaitu berpaling dari kejahatan ke keadilan.”

Proconsul melanjutkan, “Jika kamu meremehkan binatang-binatang itu dan tidak mengubah pendirianmu, aku akan memerintahkan kamu dilemparkan kedalam api.”

Polycarpus menjawabnya, “Kamu mengancam aku dengan api yang menyala selama satu jam dan tak lama kemudian padam, karena kamu tidak tahu tentang api pengadilan yang akan datang dan tentang hukuman abadi bagi orang-orang tak bertuhan. Apa lagi yang kau tunggu? Lakukan apa yang kau maui.”

Ketika Polycarpus mengucapkan kata-kata itu dan kata-kata lain yang serupa, ia penuh dengan keberanian dan kegembiraan.  Wajahnya bersinar dengan terang yang muncul dari dalam. Ia sama sekali tidak keder oleh semua ancaman itu. Proconsul terkesima. Tiga kali ia mengirim juru bicaranya ke tengah-tengah arena untuk mengumumkan, “Polycarpus sudah mengaku bahwa dia orang Kristen!”

Ketika pengumuman itu disampaikan oleh juru bicara, saat itu juga seluruh massa, baik orang-orang kafir maupun Yahudi, seluruh penduduk Smyrna, marah dan berteriak-teriak sekeras mungkin., “Dia adalah guru Asia! Bapa orang-orang Kristen! Penghancur dewa-dewa kita! Ia membujuk banyak orang untuk tidak mempersembahkan korban dan untuk tidak beribadah.” Itu mereka teriakkan, dan mereka menuntut Filipus, imam agung peribadahan umum, agar melepaskan seekor singa terhadap Polycarpus. Filipus menjelaskan bahwa ia tidak diijinkan melakukan hal itu karena pertarungan-pertarungan binatang buas telah ditutup. Kemudian terdengar seruan serentak bahwa Polycarpus harus dibakar hidup-hidup. Dengan cara itu maka terpenuhilah sebuah penampakan di mana Polycarpus melihat bantalnya terbakar ketika ia sedang berdoa. Kepada kaum beriman yang ada bersamanya, ia telah mengucapkan kata-kata ramalannya, “Aku pasti dibakar hidup-hidup.”

Sekarang segala sesuatu terjadi dengan sangat cepat.  Kerumunan orang banyak itu bergegas mengumpulkan balok-balok kayu dan ranting-ranting dari toko-toko dan dari pemandian-pemandian umum: orang-orang Yahudi seperti biasanya adalah yang paling bersemangat dalam tindakan seperti ini. Ketika tumpukan unggun siap, Polycarpus melepaskan semua pakaian luarnya, membuka ikat pinggangnya, dan berusaha melepaskan sepatunya. Itu biasanya tidak ia lakukan sendiri, sebab masing-masing orang beriman akan berebutan untuk menyentuh tubuhnya. Sebelum kemartirannya ia sudah sangat dihormati karena kebaikan hidupnya.

Bahan bakar untuk unggun itu dengan cepat menumpuk di sekitarnya. Ketika mereka ingin mengencangkan dia dengan paku-paku, ia menolak. “Biarkan aku seperti ini. Dia yang memberiku kekuatan untuk menanggung api ini juga akan memberiku kekuatan untuk tetap berdiri di tiang tanpa bergeming, tanpa bantuan paku-pakumu.”

. . . . . Setelah dia mengucapkan doanya dan mengatakan Amin, para algojo menyulut unggun itu.

Akhirnya, ketika gerombolan massa tak bertuhan itu melihat bahwa tubuh Polycarpus tidak terbakar oleh api, mereka memerintahkan algojo untuk menusukkan sebilah belati ke dadanya. . . . . . Ketika setan itu, penghojat dan penjahat itu, musuh umat yang lurus itu, melihat segala kebesaran kematian Polycarpus sebagai martir dan kehidupannya yang tak bercela dari awal mula . . . . . ia mendesak Nicetes, ayah Herodes, dan saudaranya, Alce, untuk meminta proconsul agar tidak menyerahkan jasad Polycarpus. . . . . . “karena takut,” begitulah kata-katanya sendiri, “jangan-jangan mereka akan meninggalkan orang yang disalibkan itu dan ganti menyembah orang ini.” Mereka mengatakan hal ini lewat penyelidikan dan desakan orang-orang Yahudi yang mengawasi ketika kami berusaha mengeluarkan Polycarpus dari api. Mereka tidak tahu bahwa kami tidak akan pernah meninggalkan Kristus. Ia menderita demi keselamatan semua orang yang tengah diselamatkan di atas bumi ini, dia yang tanpa kesalahan demi orang-orang yang bersalah. Kita tidak bisa menyembah yang lain manapun. Kita menyembahnya karena dia adalah putera Allah. Kepada para martir kami berikan cinta kasih kami sebagai para rasul dan pengikut Tuhan. Dengan semua penderitaan itu mereka telah mengasihi raja dan junjungan mereka dengan cinta kasih tanpa batas. Betapa kami berharap agar kami bisa menjadi sahabat mereka dan sesama rasul!

Ketika perwira komandan melihat hiruk-pikuk yang dimulai oleh orang-orang Yahudi itu, ia menyuruh jasad Polycarpus ditempatkan di tengah-tengah api unggun dan dibakar, menurut adat kebiasaan mereka. Sesudah itu barulah kami bisa mengumpulkan tulang belulangnya, yang lebih mulia daripada intan berlian dan lebih berharga daripada emas, untuk membaringkannya di tempat penguburan kami. Di sana kami akan berkumpul sesering Tuhan mengijinkan kami, dalam sukacita dan  kegembiraan, sebanyak kami bisa. Di sana kami akan merayakan ulangtahun kemartiran dan kematiannya seperti merayakan hari ulang tahun kelahiran, sambil mengenang orang-orang yang telah terlebih dulu bertempur dan memenangkan pertarungan, dan untuk memperkuat dan menyiapkan orang-orang yang masih harus menghadapinya kelak.  Begitulah kabar dari kami tentang Polycarpus yang, dengan menghitung mereka yang berasal dari Philadelphia, menjadi orang keduabelas yang mati sebagai martir di Smyrna.

The Martyrdom of the Holy Polycarpus, recorded February 22, A.D. 156.

Sumber: The Early Christians in Their Own Words. Eberhard Arnold. 1926.

Terjemahan: Bern Hidayat, 20 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: