Kemartiran Carpus dan Papylus

27/01/2010

Ketika proconsul hadir di Pergamum [Asia Minor], Carpus dan Papylus, martir-martir Kristus yang menerima kemartirannya dengan sukacita, dihadapkan kepadanya. Proconsul duduk dan bertanya, “Siapa namamu?”

Orang yang ditanya menjawab, “Nama pertama dan pilihanku adalah Kristen. Tetapi jika kau menanyakan namaku di dunia ini, maka aku menyebut diriku Carpus.”

Proconsul menyatakan, “Dekrit-dekrit para kaisar telah kau ketahui, bahwa kau harus menyembah dewa-dewa yang maha kuasa. Karena itu aku anjurkan agar kamu maju ke depan dan mempersembahkan korban.”

Carpus menjawab, “Aku seorang Kristen. Aku menghormati Kristus, putera Allah, yang telah datang di jaman akhir untuk menyelamatkan kita dan telah membebaskan kita dari kegilaan Setan. Aku tidak akan mempersembahkan korban pada berhala-berhala seperti itu. lakukan apa yang kau senangi. Mustahil bagiku untuk mempersembahkan korban pada hantu-hantu yang menyesatkan itu, setan-setan itu, karena orang-orang yang mempersembahkan korban pada mereka berubah menjadi seperti mereka.”

Proconsul naik pitam, “Kamu berdua, persembahkan korban pada dewa-dewa dan dengarkan akal sehat kalian!”

Carpus berkata dengan riang, “Enyahlah dewa-dewa yang tidak menciptakan surga maupun bumi.”

Proconsul mengatakan, “Kamu harus memeprsembahkan korban. Kaisar telah memerintahkan hal ini.”

Carpus menjawab, “Yang hidup tidak mempersembahkan korban pada yang mati.”

Proconsul bertanya, “Apakah klamu percaya bahwa dewa-dewa telah mati?”

Carpus menjawab, “Jika kamu ingin tahu, mereka bahkan bukan manusia; mereka juga tidak pernah hidup sehingga mereka bisa mati. Percayalah padaku, kamu tersesat dalam sebuah angan-angan yang jahat.”

Proconsul menjawab, “Aku telah membiarkan kamu bicara omong kosong terlalu banyak dan karena itu telah keliru membiarkan kamu menghojat dewa-dewa dan kaisar. Kamu tidak boleh begini terus. Kamu harus mempersembahkan korban, kalau tidak— Apa katamu?”

Carpus menjawab, “Aku tidak dapat mempersembahkan korban. Aku belum pernah mempersembahkan korban kepada para berhala.”

Saat itu juga proconsul memerintahkan Carpus digantung dan dikuliti hidup-hidup dengan alat-alat penyiksaan, tetapi dia berteriak-teriak terus tanpa henti, “Aku orang Kristen! Aku orang Kristen! Aku orang Kristen!” Setelah siksaan berjalan sampai lama, ia kehabisan tenaga dan tidak bisa betteriak lagi. Karena itu proconsul mengalihkan perhatian dari Carpus kepada Papylus, dan menanyai dia, “Apakah kamu anggota dewan kota?”

Ia menjawab, “Aku seorang warga kota.”

Proconsul bertanya, “Kota mana?”

Papylus menjawab, “Thyatira.”

Proconsul bertanya, “Kamu punya anak?”

Papylus menjawab, “Oh ya, banyak, lewat Tuhan.”

Salah seorang dari massa yang berkerumun berteriak, “Maksudnya dia punya anak-anak dari kepercayaan Kristennya.”

Proconsul berteriak pada Papylus, “Mengapa kamu bohong, mengatakan bahwa kamu punya anak?”

Papylus menjawab, “Maukah kau mengerti bahwa aku tidak berdusta melainkan mengatakan kebenaran? Di setiap distrik dan kota aku punya anak-anak dalam Tuhan.”

Proconsul berkata, “Kamu harus mempersembahkan korban; kalau tidak— Apa katamu?”

Papylus menjawab, “Aku melayani Tuhan sejak masih muda. Aku belum pernah mempersembahkan korban pada berhala-berhala. Aku orang Kristen. Kamu tidak bisa mendapatkan pengakuan lain apapun dariku. Tidak ada hal lain yang bisa aku katakan yang lebih mulia atau lebih mentakjubkan daripada hal ini.”

Kemudian Papylus juga digantung dan tubuhnya dikuliti hidup-hidup dengan tiga pasang alat penyiksaan dari besi. Ia tidak mengeluarkan suara apapun, melainkan sebagai seorang pejuang yang gagah berani menanggung murka si iblis.

Ketika proconsul melihat ketegaran mereka yang sangat besar itu, ia memerintahkan mereka dibakar hidup-hidup. Mereka melangkah turun ke ampiteater dengan langkah-langkah tegap, agar mereka bisa secepat mungkin terbebas dari dunia ini. Papylus adalah orang pertama yang dipaku ke tiang. Ketika nyala api menjilat-jilat, ia berdoa dengan tenang dan melepaskan nyawanya. Carpus dipaku sesudah Papylus. Ia penuh dengan sukacita. . . . . Ketika ia selesai bicara dan api menyala-nyala, ia berdoa, “Puji bagimu O Raja, Yesus Kristus, putera Allah, karena kau telah menganggapku, seorang pendosa, juga berharga untuk menjadi bagian dari dirimu!” Setelah kata-kata itu ia pun melepaskan nyawanya.

Agathonica hadir ketika semua itu terjadi. Wanita itu melihat kemuliaan Tuhan yang Carpus telah lihat dan gambarkan. Di dalamnya wanita itu mengenali sebuah panggilan dari surga, dan ia segera berseru keras-keras, “Perjamuan ini telah disiapkan untukku. Aku harus ikut di dalamnya. Aku harus menerima perjamuan kemuliaan.”

Orang-orang pada ebrteriak-teriak, “Kasihanilah anak lelakimu.”

Agathonica dengan sukacita menjawab, “Dia mempunyai Tuhan yang bisa memeliharanya, sebab ia akan memelihara semua orang. Tetapi aku, buat apa aku berdiri di sini?” Wanita itu melemparkan pakaiannya dan dengan girang membiarkan dirinya dipaku di tiang.

Orang-orang yang berdiri di sampingnya pada mencucurkan air mata dan berseru, “Hukuman yang kejam! Perintah yang tidak adil!”

Tetapi wanita itu, dengan berdiri tegak dan dijilati nyala api, berseru sampai tiga kali, “Tuhan, Tuhan, Tuhan, bantulah aku, sebab aku menghadap kau.” Kemudian ia melepaskan nyawanya dan disempurnakan bersama para kudus.

Ca. A.D. 165. Acts in Eusebius IV. 15– 48.

Sumber: The Early Christians in Their Own Words. Eberhard Arnold. 1926.

Terjemahan: Bern Hidayat, 23 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: