Kelas Sosial Yesus

27/01/2010

Temuan-temuan arkeologis mutakhir menggugat image Yesus sebagai seorang pedesaan yang berkhotbah di daerah pedalaman terpencil.

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament Yale Divinity School

Pada hemat anda, apa yang bisa kita ketahui tentang kelas sosial Yesus didasarkan pada bukti mutakhir dan diskusi-diskusi mengenai hal itu?

Diskusi-diskusi mutakhir mengenai kelas sosial Yesus berusaha menemukan dia dalam struktur sosial masyarakat Laut Tengah pada umumnya, atau masyarakat Galilei khususnya. Dan rupanya ada perdebatan yang lumayan gayeng di antara banyak ahli kontemporer mengenai Yesus, mengenai apakah ia sebenarnya seorang buruh tani atau . . . . sedikit lebih tinggi dalam strata sosio-ekonomis. Kita tahu secara umum bahwa dia dari kelas bawah, menurut standar aristokrasi imperial Roma atau bahkan kelas penguasa Palestina, raja-raja klien keturunan Herodes. Tetapi mungkin sekali ia seorang artisan (pengrajin, tukang ahli).  Ia tidak memberikan kesan sebagai seorang buruh tani dalam arti persis seperti itu, orang yang menggarap lahan untuk mendapatkan penghidupan. Tetapi dia dekat dengan masyarakat tani; semua imaji dalam perumpamaan dan aforisme-aforismenya berakar kuat pada masyarakat tani dan mengingatkan orang pada hal-hal sehari-hari seperti seorang penabur, atau menabur benih. Tetapi perumpamaan dan aforisme itu juga menggugah imaji-imaji tentang para pemilik tanah dan hubungan-hubungan antara budak-budak dan pemilik-pemilik mereka, majikan dan pelayan. Jadi Yesus rupanya sadar betul akan tingkat bauran sosio-ekonomis. Dan mungkin ia bisa ditemukan dalam salah satu di antara hubungan-hubungan seperti itu. Jadi mungkin gambaran terbaik mengenai dia saya rasa adalah sebagai seorang artisan.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

GALILEI  DAN  SEPPHORIS

Di mana Yesus dibesarkan dan bagaimana tempat itu mungkin telah mempengaruhi pandangan hidupnya?

Yesus dibesarkan di Nazareth, sebuah desa di Galilei. Nah, berdasarkan paparan-paparan yang paling tradisional, Galilei selalu digambarkan sebagai daerah terpencil yang didominasi ternak kambing. . . . dengan para petani berwajah malaikat di punggung-punggung bukit. Tetapi temuan-temuan arkeologis mutakhir kami menunjukkan realitanya mungkin tidak seperti itu. Nazareth sendiri adalah sebuah desa. . . . bahkan desa kecil. Tetapi dia hanya berjarak empat mil dari sebuah pusat perkotaan besar, Sepphoris. Nah, kami melihat Yesus dibesarkan bukan di daerah ternak kambing terpencil, melainkan di pinggiran sebuah kehidupan perkotaan yang semarak.

Dan kota macam apa Sepphoris itu?

Sepphoris didirikan sebagai ibukota Galilei. Dan karena itu ada investasi besar-besaran di sana, persis seperti Caesaria Maritima, dengan semua renik-pernik kehidupan kota Yunani atau Romawi sebagai sebuah pusat aktivitas politis utama untuk kawasan itu. Akibatnya, penggalian-penggalian di Sepphoris berhasil menemukan  program-program pembangunan besar-besaran, dengan teater-teater, ampiteater-ampiteater, dan aneka macam hal lain, persis seperti Caesaria. Apa yang hal ini ceritakan tentang Yesus adalah bahwa Yesus sendiri pasti tidak akan terlalu jauh dari titik pertemuan antara kebudayaan Yunani ini di satu pihak, dan kebudayaan Yahudi tradisional di pihak lainnya.

Seberapa kosmopolitan kah Sepphoris itu? Apakah kota itu multi-lingual?

Sepphoris rupanya adalah kota yang sangat kosmopolitan. Kita tahu bahwa setidak-tidaknya kota itu trilingual, bahkan mungkin tetralingual. Maksudnya, kita tahu, bahwa mereka berbahasa Aramaik, bahasa vernakuler dari kebanyakan orang di negeri orang-orang Yahudi, tetapi bahasa Yunani juga menonjol. Beberapa orang barangkali berbahasa Latin, meskipun tidak begitu banyak. Dan mungkin ada bahasa-bahasa lain juga dipakai di sekitar kota itu, karena beraneka-ragamnya orang-orang yang pergi melewati Sepphoris, yang berlokasi persis di titik pertemuan rute darat antara Caesaria di pantai dan Laut Galilei.

Nah, mungkin anda pernah menyebut-nyebut hal ini, tetapi benarkah mereka menemukan aneka macam timbangan dengan keterangan dalam bahasa-bahasa yang berlainan di Sepphoris?

Impak dari pusat perdagangan kosmopolitan itu, Sepphoris, bisa dilihat dari fakta bahwa timbangan-timbangan diketemukan, kemungkinan besar dari pasar. Salah satu sisi timbangan tertera keterangan terdaftar resmi, dalam bahasa Aramaik; sisi lainnya dalam bahasa Yunani. Menunjukkan bahwa orang-orang bisa membacanya dari tradisi manapun mereka berasal.

(Baca artikel-artikel lain mengenai temuan-temuan di Sepphoris.)

Holland Lee Hendrix:

President of the Faculty Union Theological Seminary

BUKAN TUKANG KAYU KELAS BAWAH

Temuan-temuan mutakhir di Sepphoris benar-benar kontroversial. . . . . tetapi temuan-temuan itu benar-benar memaksa kita untuk meninjau kembali setting sosio-ekonomis Yesus, karena selama ini kita beranggapan bahwa Yesus berasal dari daerah pedalaman terpencil, jauh dari kehidupan kota. . . . . Temuan-temuan di Sepphoris itu mengisyaratkan bahwa Yesus sangat dekat dengan sebuah lingkungan perkotaan yang sophisticated dan maju pesat, yang pasti mendatangkan segala  Kekaisaran Romawi, dan yang pasti menuntut sofistikasi sampai ke tingkat tertentu  hanya untuk bertahan hidup saja—suatu sofistikasi yang belum pernah terpikirkan oleh kita, yang senantiasa melihat Yesus sebagai seorang tukang kayu kelas bawah. . . . .

Saya ingin menempatkan kelas sosial Yesus lebih di kelas menengah ketimbang kelas bawah—kelas bawah jaman itu. Yang jelas dia pasti multi-lingual, dan hal itu membuat kita meninjau kembali keseluruhan warisan kesastraan dan warisan retoris yang Yesus bawa masuk kedalam pelayanannya. Jadi temuan-temuan di Sepphoris itu dan penggalian-penggalian arkeologis yang masih terus berjalan itu benar-benar memaksa kita untuk meninjau kembali struktur sosial—katakanlah begitu—dari mana Yesus dibesarkan. Itu adalah struktur yang jauh lebih kompleks dan jauh lebih sophisticated daripada yang selama ini diperkirakan.

John Dominic Crossan:

Professor Emeritus of Religious Studies DePaul University

SEORANG ANAK DESA DI DESA TANI

Kita tahu barangkali dia dibesarkan di Nazareth. Apa implikasi dari hal itu mengenai latar belakang dan kelas sosial Yesus?

Yesus lahir di Nazareth dan dibesarkan di Nazareth, dan hal itu menyatakan pada kita bahwa ia adalah seorang anak desa di sebuah desa tani. Mungkin kita bisa memperkirakan 100 sampai 200 orang maksimum di desa kecil yang bertengger di atas sebuah bukit, dari mana orang bisa memandang sebuah kota lumayan besar di bawahnya, Sepphoris, dalam jarak yang tidak begitu jauh, tetapi hanya salah satu dari sekian banyak desa di sekitar . . . . .

Tradisi memperkirakan bahwa Yesus adalah seorang tukang kayu. Istilah yang dipakai dalam bahasa Yunani adalah “tectone”—dalam Injil Markus. . . . . terjemahan yang paling mendekati adalah “artisan.” Tetapi dalam jajaran masyarakat pedesaan, seorang artisan pedesaan adalah lebih rendah daripada petani pedesaan. Salah satu artinya yang mungkin adalah seorang petani pedesaan yang tergusur dari tanahnya dan terpaksa mengambil pekerjaan kasar, kalau bisa.

Masalahnya bagi kita adalah bahwa setiap kali kita mendengar istilah seperti “tukang kayu,” kita langsung membayangkan seorang pekerja sangat terampil, dan setidak-tidaknya di Amerika Utara, di kelas menengah, dengan pendapatan sangat tinggi. Jika kita membawa bayangan itu kedalam dunia masa dulu, kita betul-betul tersesat. Sebab, pertama-tama, di dunia kuno itu tidak ada kelas menengah. Yang ada adalah orang-orang kaya dan orang-orang miskin—hanya itu. dan dalam antropologi masyarakat-masyarakat pedesaan, mengatakan bahwa seseorang adalah seorang artisan atau seorang tukang kayu tidaklah berarti memuji mereka. Itu berarti mengatakan tataran mereka lebih rendah daripada buruh tani. Jadi dari para antropolog lah saya mendapatkan gagasan bahwa artisan desa bukanlah sebuah pujian.

Tetapi ada teori bahwa tempat kelahiran Yesus memberi kita petunjuk tentang karakter yang agak lebih sophisticated. Seseorang yang berada di ambang pintu sebuah kota kecil yang tengah mengalami Hellenisasi dan yang multi-lingual. Barangkali dia berbahasa Yunani atau memahami orang-orang yang berbahasa Yunani. Barangkali dia dipengaruhi oleh pemikiran Yunani atau pemikiran Hellenistik. Dengan kata lain, orang yang jauh lebih sophisticated. Anda bisa menerima imaji-imaji ini ataukah anda sepenuhnya tidak bisa menerimanya?

Well, hal yang menarik adalah fakta bahwa Yesus tidak pernah menyebut-nyebut Sepphoris. Dan ia tidak menggunakan metafora-metafora yang menunjukkan pada kita bahwa ia mengenal betul masyarakat-masyarakat perkotaan. Ia mungkin bicara tentang para tuan tanah atau bailiff (juru sita) atau hal-hal seperti itu.  Tidak ada bukti bahwa Yesus dengan sesuatu cara terlibat dalam kehidupan perkotaan Sepphoris, yang jaraknya tidak jauh dan bisa dilihat dari Nazareth. Tetapi hidup dekat dengan sebuah kota di dunia kuno tidak otomatis merupakan hal yang bagus.

Adakah argumen yang membantah bahwa Yesus adalah orang yang lebih urban dan Hellenistik? Mengapa anda begitu yakin bahwa dia adalah seorang buruh tani kelas bawah?

Well, buruh tani kelas bawah adalah orang yang berinteraksi dengan sebuah kota lokal—tidak selalu interaksi yang menyenangkan. Jika kotanya anda hilangkan, anda akan mendapatkan petani, petani yang bahagia, mungkin.  Jadi, pertama-tama, Yesus tidak pernah menyebut-nyebut Sepphoris, meskipun ia dibesarkan dalam jarak tidak jauh dari kota itu. Rupanya ia juga tidak berbicara dengan menggunakan imaji-imaji perkotaan.

Dan jika dia mengetahui sesuatu tentang Sepphoris, apa yang akan ia ketahui? Ia akan tahu bahwa selokan-selokan membawa air dari desa ke kota. Dan selokan-selokan hanya mengalir ke satu arah, dan orang-orang kota mandi bersih, mereka adalah orang-orang yang mempunyai pemandian-pemandian umum. Jadi, dari desa ke kota, dan saya tidak melihat selokan yang mengalir balik ke desa. Yesus cukup sophisticated untuk memahami kota itu apa, yaitu pusat penindasan petani.

Apakah perjalanan-perjalanannya, perumpamaan-perumpamaan yang ia ajarkan, juga memberi kita isyarat mengenai kelas sosialnya, mengenai mengenai sikapnya yang terkesan menghindari kota-kota?

Jika anda memperhatikan tiga perumpamaan yang digunakan dalam materi umum dalam injil Q dan dalam Injil Thomas, misalnya, perumpamaan tentang domba yang hilang, perumpamaan tentang biji sawi, atau perumpamaan tentang ragi. Semua itu adalah pengalaman sehari-hari pedesaan lumrah. Mereka tidak menuntut pengetahuan yang mendalam. Siapa pun akan memahami mereka. Mereka bicara pada audiens Yesus yang berasal dari kalangan desa. Terlepas dari Yesus itu siapa atau latar belakangnya apa, ia jelas tengah mendongeng untuk audiens pedesaan. Pada hemat saya, karena lahir di Nazareth, bicara pada audiens yang khas pedesaan, rasanya Yesus adalah seorang tani yang bicara pada para petani.

Shaye I.D. Cohen:

Samuel Ungerleider Professor of Judaic Studies and Professor of Religious Studies Brown University

YESUS MENGHINDARI KOTA-KOTA

Menurut cerita-cerita injil, Yesus sendiri berasal dari sebuah kota kecil, kota yang praktis tidak akan dikenal andaikata bukan karena injil itu sendiri—Nazareth di Galilei—dan rupanya sepanjang masa pelayanannya ia bicara pada orang-orang Yahudi yang tinggal di kota-kota atau desa-desa kecil di Galilei. Ada dua pemukiman yang substansial di Galilei, Sepphoris dan Tiberius, kita bisa menyebutnya kota,  meskipun penggunaan istilah itu mungkin terlalu longgar . . . . . . Tetapi Yesus menghindari kota-kota. Kota-kota bukanlah tujuan lawatan-lawatannya. Kota-kota bukanlah tempat dia dan para pengikutnya merasa diterima dengan baik. Ia jauh lebih nyaman berhubungan dengan desa-desa kecil dan kota-kota kecil, dengan apa yang boleh kita sebut masyarakat petani.

Dan pertama kalinya ia pergi ke kota besar, tentu saja, adalah ketika ia pergi ke Yerusalem, di akhir masa pelayanannya atau di akhir karirnya, dengan, tentu saja, konsekuensi-konsekuensi yang sangat tidak menyenangkan. Jadi Yesus terutama adalah sebuah fenomena pedesaan, atau representatif gaya hidup tani atau kesalehan masyarakat tani, dan bukan gaya hidup kota.

Tapi mengapa? Mengapa anda beranggapan ia tidak pergi ke kota-kota?

Di jaman kuno seringkali ada ketegangan sosial antara kota dengan pedesaan. Tidak persis sama dengan ketegangan yang terjadi di masa sekarang ini, di mana perbedaan antara kota  dengan desa sekarang sangat tajam . . . . Di jaman kuno, perbedaan itu sama sekali tidak jelas, sebab orang-orang kota juga agraris. Anda berjalan keluar dari tembok-tembok kota, berjalan 15 kaki saja, dan anda sudah masuk wilayah pedesaan. Jadi dalam beberapa hal kontras sosial jauh lebih samar daripada di masa sekarang. Tetapi dalam hal-hal lain kontras itu jauh lebih tajam. Ada perasaan bahwa kota-kota besar adalah tempat tinggal para tuan tanah besar, tempat tinggal para pemungut pajak, tempat tinggal para pejabat pemerintah, tempat tinggal hakim-hakim, tempat di mana sembarang pos terdepan kebudayaan asing bisa diketemukan. Ada jurang kesenjangan kultural dan sosial yang nyata antara kehidupan petani dengan kehidupan orang-orang kota. Ini bisa dilihat tidak hanya di Yudea, tetapi bahkan di seluruh penjuru Kekaisaran Romawi. Dan kemungkinan besar pada waktu itu Yesus dan para pengikutnya bukanlah tipe orang kota. Itu bukan kebudayaan mereka, bukan masyarakat mereka, bukan  gaya hidup mereka. Mereka jauh lebih nyaman hidup dengan sesama mereka di pedesaan. . . . . .

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

TIDAK ADA PERBEDAAN BESAR KARENA SEPPHORIS

Dari temuan-temuan arkeologis mutakhir di Sepphoris itu, apa yang bisa diceritakan pada kita tentang pekerjaan Yesus, kelas sosialnya, bagaimana ia mendapatkan penghidupan?

Sepphoris terkenal sebagai mahligai Galilei. Itu adalah salah satu kota besar Galilei dan merupakan ibukota pertama anak lelaki Herodes, yang menjadi raja independen Yahudi yang menjadi klien Roma di masa Yesus hidup. . . . . Sepphoris adalah kota yang kayaraya dan cantik. Itu kota Yahudi. Tetapi seperti kebanyakan kota Yahudi yang kaya di masa Greko-Romawi, ekspresi-ekspresi arsitekturalnya dinyatakan dengan idiom Greko-Romawi. Itu tidak berarti bahwa Sepphoris memiliki kebudayaan Greko-Romawi. Persis sebagaimana orang tidak akan menganggap Thomas Jefferson Greko-Roman hanya karena rumahnya, Monticello, mempunyai elemen-elemen arsitektur Greko-Roman. . . . . .

Sepphoris . . . . . banyak duit. Itu adalah pusat perdagangan untuk kawasan itu. Dan jika Yesus besar di Nazareth, yang jaraknya tinggal jalan kaki sebentar untuk orang yang sehat. . . . . saya kira sekitar tiga mil. . . Jika dia tukang kayu, atau pengrajin entah apa, ia mungkin pernah mengerjakan sesuatu di Sepphoris. . . . . . Apa implikasi dari hal ini? Itu sulit diketahui. Saya kira karena ia digambarkan sebagai seorang aYahudi yang saleh, dan karena orang-orang Yahudi saleh mempunyai enam hari kerja, dan karena pada hari ketujuh mereka mempunyai kewajiban-kewajiban khusus yang tidak memungkinkan mereka melakukan perjalanan-perjalanan jarak jauh (pada hari Sabbath anda harus benar-benar istirahat), maka anda tidak diharapkan jalan-jalan ke Sepphoris dan mungkin nonton drama di siang hari, atau entah apa. Saya kira secara kultural Sepphoris tidak menimbulkan banyak perbedaan. Saya kira sebagaimana kebanyakan orang di jamaan itu yang bukan tuan tanah, maka Yesus pasti bekerja enam hari seminggu dan istirahat pada hari Sabbath. . . . .

Eric Meyers:

Professor of Religion and Archaeology Duke University

YESUS BARANGKALI TRILINGUAL

Jika Sepphoris adalah sebuah kota kosmopolitan, apakah hal itu menceritakan sesuatu pada kita tentang kelas sosial Yesus? Apakah ia seorang buruh tani?

Well, injil-injil menyebutkan bahwa Yesus dan ayahnya adalah orang-orang pertukangan, tukang. Kemungkinan besar Yesus benar-benar bekerja di Sepphoris di jaman Antipas aktif di sana. Barangkali itu tidak diragukan lagi. Toh jaraknya hanya empat kilometer. Itu barangkali tempat bekerja semua remaja belasan tahun, dan semua orang dari Nazareth berduyun-duyun masuk ke kota itu setelah kota itu didirikan di atas bukit Sepphoris. Jadi banyak tukang pasti bekerja membangun Sepphoris. Jika puncak kegemilangannya adalah 100 atau 200 tahun kemudian, maka seperti semua kota oriental Timur Tengah yang lain, di masa awalnya pasti ada komponen agraris di Sepphoris. Anda akan mendapatkan aktivitas besar-besaran di ladang-ladang di dekatnya. Anda mempunyai desa-desa satelit dan industri-industri satelit yang melekat pada kawasan itu di seputar daerah perkotaan dan teritori Sepphoris. Sepphoris bukan cuma pusatnya, bukan sekedar sebuah kota dengan rumah-rumah dan selokan-selokan dan bangunan-bangunan air dan sebagainya, tetapi dia pasti mempunyai pemukiman-pemukiman satelit di seputarnya. Nazareth pada dasarnya adalah sebuah desa satelit yang lekat pada kawasan atau perkotaan Sepphoris. Jadi dari sudut pandang ini, transformasi Sepphoris dari sebuah tempat tak dikenal menjadi sebuah kota besar, saya kira, pasti mempengaruhi seluruh kawasan di sekitarnya bahkan sampai ke Tiberius, yang didirikan pada tahun 17, atau mulai dibangun pada tahun 17. Itu membuat Yesus berada di antara dua dunia, masuk ke dunia kota yang sedang dibangun dan juga berpartisipasi dalam segala macam aktivitas agraris yang pasti digeluti oleh semua orang di Palestina di abad pertama.

Apakah Yesus seorang buruh tani?

Saya kira Yesus adalah seorang guru, seorang bijak. Ia bukan seorang buruh tani, jika yang anda maksudkan dengan istilah itu adalah orang yang buta huruf dan tidak berpendidikan. Sebagai orang bijak, jelas Yesus berpartisipasi dalam pendidikan normal sebuah rumah Yahudi yang baik dan upaya membesarkan anak-anak secara Yahudi di Nazareth atau kawasan sekitarnya. Dan ia fasih berbahasa Yunani sebagaimana tiap orang yang hidup di wilayah terbuka Sepphoris raya atau Tiberius atau Galilei bawah. Anda tidak bisa tawar menawar dan bepergian ke mana-mana, entah ke tempat kerja atau ke pasar, tanpa bisa berbahasa Yunani. Dan saya nyaris tidak bisa membayangkan orang yang berpengetahuan luas tidak bisa berbahasa Yunani. Tetapi Yesus trilingual. Yesus berpartisipasi dalam kebudayaan Aramaik dan Hibrani dan sastra-sastranya maupun bahasa Yunani Hellenistik yang ia butuhkan dalam perjalanan dan karya pelayanannya.

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/first/kingdoms.html

Terjemahan: Bern Hidayat, 4 Januari 2009

tapi hFt USnah menghentikan orang-orang Kristen, di seantero dunia ini, dalam jumlah berjuta-juta itu, tidak pernah mampu  mencegah orang-orang Kristen untuk memiliki hubungan yang intim dengan Yesus. Entah mereka Ortodoks Russia, entah mereka Katolik Roma, entah mereka Baptist atau entah mereka Quaker. Jadi yang jelas ada sebuah akses, sebuah akses religius, dalam sumber-sumber itu—sebuah akses menuju sesuatu kehadiran spiritual Kristus, yang cukup berbeda dari apa yang anda akan katakan sebagai seorang sejarawan. Sebab ada banyak orang sekarang ini yang mendasarkan kehidupan mereka pada sebuah hubungan dengan Yesus sebagaimana mereka memandang dia.

Fakta bahwa kita tidak mempunyai sumber-sumber historis untuk mundur ke belakang sampai ke apa yang disebut Yesus yang sebenarnya itu tidak pernah menghentikan gerakan itu untuk hidup terus. Itu sangat kuat, dan bagi saya itu sangat mentakjubkan. Perasaan bahwa jutaan orang di seantero dunia telah menemukan dalam figur Yesus sebuah fokus spiritual bagi kehidupan mereka adalah benar-benar luar biasa, benar-benar mentakjubkan. Bagaimana itu terjadi, khususnya ketika kita tidak mempunyai cara yang betul-betul terjamin untuk membawa anda kembali ke sana secara faktual?

Judul asli: “The Tensions between Faith and History”

Sumber:  http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, 19 November 2009

sp’ s;U0Vsp;  reply

Mon, 10/20/2008 – 18:46 — sle

Re: post on Judas…

Terima kasih atas umpan-baliknya yang serius mengenai artikel saya.

Mengenai argumen-argumen yang “iron-clad,” saya dengan senang hati mengakui bahwa kita tidak bisa secara absolut membuktikan sesuatu kontradiksi yang ditulis dalam sesuatu bahasa natural, katakan saja bahasa Inggris. Misalkan saja teks “The sky is blue. The sky is red.” Mungkin saja saat itu matahari sudah tenggelam. Mungkin langitnya berwarna ungu, sehingga cukup nalar untuk menyebutkan dua warna, biru dan merah. Dengan kreatif, kita bisa merekonsiliasikan dua pernyataan. Jadi saya berharap saya tidak memberikan kesan bahwa saya telah membuktikan sesuatu secara “iron-clad.”

Yang lebih menarik bagi saya adalah ketika teks-teks yang berbeda tidak hanya mempunyai kontradiksi-kontradiksi, tetapi juga tema-tema yang berbeda yang menyatukan mereka bersama-sama (dalam kasus kita sekarang: seberapa disloyal Yudas itu vs. seberapa penting dia sebagai agen untuk memenuhi sesuatu ramalan). Lebih kecil kemungkinannya bahwa kontradiksi-kontradiksi yang nampak ternyata konsisten dengan sesuatu tema.

Saya pernah mendengar tentang teori bahwa Yudas pertama menggantung dirinya sendiri dan kemudian entah dengan cara bagaimana jatuh dengan kepala di bawah di ladang itu. Dengan untuk sementara mengesampingkan bahwa harus ada sesuatu mekanisme dengan mana tubuhnya berputar ketika jatuh (misalnya karena sebuah dahan, sebagaimana diperkirakan oleh beberapa orang), alasan mengapa hal itu terasa kurang nalar bagi saya adalah terkait dengan bagaimana orang berkomunikasi.

Orang-orang berkomunikasi secara efisien dengan mempertimbangkan apa yang sudah diketahui oleh pendengarnya. Orang-orang berkomunikasi dengan jalan memberikan detil-detil yang paling relevan yang pendengarnya belum ketahui. Karena itu terasa ganjil bagi saya bahwa dalam satu kasus penulis menganggap bagian Yudas menggantung diri itu merupakan bagian yang relevan sementara kejatuhannya dengan kepala di bawah itu tidak relevan. Tetapi kemudian penulis yang lain, karena sesuatu alasan yang tidak diketahui, mempunyai opini sebaliknya mengenai mana yang relevan. Tidak hanya masing-masing penulis harus mempunyai opini yang berbeda mengenai bagian mana dari kematian Yudas (menggantung atau jatuh) yang lebih penting, tetapi mereka masing-masing juga harus tahu bahwa penjelasan mereka akan memberi pembaca sebuah gambaran yang tidak lengkap mengenai apa yang terjadi.

Sumber: http://selliott.org/essays.

Terjemahan: Bern Hidayat, 24 Januari 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: