Kebudayaan Hellenistik

27/01/2010

Pengaruh bahasa, filsafat, dan kebudayaan Hellenistik pada orang-orang Yahudi dan Kristen purba.

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament,  Yale Divinity School

DIALOG YAHUDI DENGAN KEBUDAYAAN HELLENISTIK

Dapatkah anda memberikan definisi umum mengenai apa yang dimaksudkan dengan istilah dunia Hellenistik itu?

Dunia Hellenistik adalah dunia yang diciptakan setelah penaklukan Alexander Agung pada akhir abad ke-4 SM. Dan wilayah taklukannya, yang membentang dari India sampai ke Mesir, dibagi-bagi menjadi tiga wilayah utama dalam waktu 20 tahun setelah kematiannya. Dan kedua wilayah utama yang bertahan hidup sampai abad pertama SM adalah kerajaan Siria, kerajaan Seleucid, dan kerajaan Ptolemaic yang bertahan hidup di Mesir, yang akhirnya diambil alih oleh Romawi pada tahun 31 SM.

Dan bagaimana bahasa serta kebudayaan dunia Hellenistik itu?

Bahasa dan kebudayaan Hellenistik adalah Yunani. Itu menjadi lingua franca dari semua bangsa bawahannya. Dalam banyak hal, bahasa Yunani sama saja dengan bahasa Inggris bagi dunia modern sekarang ini, persis seperti bahasa Perancis bagi dunia abad ke-19.

Seberapa jauh kebudayaan religius Yahudi mengalami Hellenisasi di masa itu?

Kebudayaan dan peradaban Yahudi selama periode Hellenistik berada dalam dialog yang intens dengan kebudayaan dan peradaban Hellenistik, yang dimulai dengan penerjemahan kitab-kitab Hibrani kedalam bahasa Yunani, sebuah terjemahan yang bertahan hidup sampai kini dan yang kita kenal sebagai Septuagint. Itu jelas merupakan salah satu cara dengan mana bentuk-bentuk sastra Yunani dan bahasa Yunani berdampak pada tradisi-tradisi sastra dan peradaban Yahudi. Dampaknya tidak hanya berhenti di kitab suci, dan kita lihat selama periode Hellenistik orang-orang Yahudi mengadopsi bentuk-bentuk sastra dari tradisi Yunani, dan menulis drama-drama, syair-syair epik, syair-syair lirik, semuanya dalam bahasa Yunani. Sebagian besar dari aktivitas itu terpusat di Alexandria, ibukota Mesir, tetapi ada aktivitas serupa yang berlangsung di Palestina, dan beberapa dari produk-produk sastra yang bertahan sampai sekarang, yang  dalam beberapa hal hanya berupa fragmen-fragmen, barangkali ditulis di Palestina, oleh orang-orang Yahudi yang mengadopsi mode-mode sastra Yunani.

PHILO

Siapakah Philo itu dan apa yang ia lakukan?

Philo adalah sebuah contoh tentang Hellenisasi yang intens terhadap Yudaisme. Ia seorang filsuf dan interpreter kitab yang hidup di Alexandria dari sekitar 30 SM sampai 40 M. Ia berusaha menciptakan sebuah sintesis antara kitab suci dengan filsafat Platonik. Misalnya, dalam mengatakan bahwa sabda Tuhan yang kita temukan dalam kitab adalah logos atau pikiran ilahi, dengan mana yang ia maksudkan adalah kombinasi dari ide-ide, ide-ide Plato, yang pada waktu itu oleh para filsuf dipandang sebagai berada dalam pikiran Tuhan. Dan juga pada saat yang sama rasionalitas immanen daripada dunia ini, dengan mengambil alih sebuah gagasan Stoik bahwa nalar merupakan cara kerja batin dunia.

Bagaimana semua itu mungkin mempengaruhi Yesus?

Hal-hal seperti filsafat Plato dan filsafat Stoik pada tingkatan yang dilakukan oleh orang seperti Philo barangkali tidak akan memberikan impak langsung pada Yesus. Tetapi kedua aliran tradisi Hellenistik itu sebagaimana digarap oleh para filsuf seperti Philo memberikan sesuatu impak pada orang-orang Kristen generasi kemudian yang berusaha menalarkan Yesus dan ajarannya dalam kerangka kebudayaan Greko-Romawi yang lebih luas.

Dan bagaimana dunia Hellenistik itu mungkin telah mempengaruhi Yesus?

Rupanya Yesus dibesarkan di Galilei, yang pada waktu itu di bawah Herodes Antipas tengah mengalami sesuatu bentuk Hellenisasi. Ada kelanjutan program Herodes Agung, bapak Herodes Antipas. Dan Hellenisasi itu paling menonjol di tempat seperti Sepphoris, yang tengah direkonstruksi selama masa muda Yesus. Itu tampak di beberapa kota di seputar Galilei. Tempat seperti Beth-Shean, misalnya, yang sampai sekarang masih memiliki sebuah teater megah yang berasal dari masa Hellenistik. Kita mempunyai bukti yang jelas dalam semua peninggalan arsitektural itu bahwa Hellenisme memberikan impak yang kuat bahkan pada Galilei selama masa itu.

KRISTIANITAS DAN FILSAFAT YUNANI

Apa inti perdebatan antara Krstianitas dengan filsafat Yunani?

Kristianitas purba menggandeng kebudayaan Hellenistik secara umum, dan secara lebih spesifik filsafat Yunani, dari akhir abad pertama. Kita lihat potongan-potongan dari hal ini dalam bagian-bagian seperti pembukaan Injil Ke-4 di mana konsep logos ditampilkan. Pada abad kedua dan seterusnya penggandengan itu berlanjut atas beberapa masalah. Beberapa dari mereka berkaitan dengan masalah-masalah filosofis seperti hakekat realita dan hakekat Tuhan. Beberapa dari mereka berkaitan dengan masalah-masalah etika dan moralitas. Ini adalah dua kutub di seputar mana dialog itu berkembang selama abad-abad berikutnya.

JUSTIN MARTYR

Menjelang pertengahan abad kita lihat orang seperti Justin Martyr, misalnya, salah satu dari para apologis Kristen pertama, maksudnya, salah satu dari orang-orang yang berusaha menjelaskan Kristianitas pada dunia Greko-Romawi dan melakukan hal itu dalam konteks dan dengan menggunakan kategori-kategori pemikiran Greko-Romawi. Kita lihat bahwa Justin Martyr ini aktif di Roma sekitar pertengahan abad pertama, berusaha menjelaskan hakekat Kristus dan hakekat hubungannya dengan Tuhan dari sudut pandang teori-teori filsafat tertentu, teori filsafat yang pada dasarnya berasal dari stoikisme yang menyatakan adanya suatu dikotomi antara ujaran yang sifatnya eksternal dengan pikiran yang sifatnya internal . . . .

Justin mempunyai teologi tentang sabda Tuhan yang bergulat dengan masalah status macam apa yang Yesus miliki sebagai perantara antara Tuhan dengan umat manusia. Dan dalam lingkungan filosofis abad kedua dan ketiga semakin menyebar luaslah gagasan bahwa Tuhan adalah suatu makluk yang sangat transenden, maksudnya, suatu makluk atau zat yang sangat jauh dari manusia. Dan karena itu mengatakan bahwa Yesus dengan sesuatu cara merupakan pengejawantahan Tuhan akan menghadirkan sebuah teka-teki filosofis, sebab adalah tidak mungkin untuk membayangkan yang transenden sebagai immanen, sebagai mengejawantah dalam tubuh manusia, sebagaimana dinyatakan oleh orang-orang Kristen.

Apakah monotheisme merupakan masalah besar dalam perdebatan Justin maupun dengan audiensnya yang non-Kristen?

Justin dan para apologis Kristen jelas berargumen bahwa tradisi kepercayaan dan praktek politeistik yang marak di dunia Greko-Romawi itu keliru, immoral, dan secara filosofis lemah. Sejauh mereka menyodorkan poin terakhir tadi—bahwa politeisme itu secara filosofis lemah—mereka praktis mengatakan hal-hal yang mirip dengan yang dikatakan oleh para filsuf Yunani sendiri. Sebab di antara para filsuf Yunani ada apresiasi yang semakin berkembang pada kesatuan dari sang ilahi dan pada gagasan bahwa mungkin sekali ada sesuatu prinsip ilahi sederhana dan tunggal yang mendasari segala sesuatu. Tetapi tidak seorang pun filsuf Yunani abad kedua atau ketiga akan berpikiran bahwa prinsip ilahi itu itu entah dengan sesuatu cara akan mewujud menjadi tubuh manusia.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program,  University of Texas at Austin

PENGARUH HELLENISTIK

Apa yang anda maksudkan ketika anda mengatakan Hellenistik?

Hellenisasi, atau Hellenisme, mengacu pada penyebaran kebudayaan Yunani yang dimulai setelah penaklukan Alexander Agung di abad keempat SM. Orang harus mengingat pembangunan kawasan Laut Tengah bagian timur dalam dua fase utama. Yang pertama, penaklukan oleh Alexander, yang membawa kebudayaan Yunani ke wilayah-wilayah Timur Tengah. Dan kemudian, setelah itu, ekspansi kekaisaran Romawi, yang akan mengambil alih secara politis. Tetapi Roma tidak langsung mengubah segala sesuatu menjadi suatu kebudayaan Latin-Roman. Yang lebih tepat lagi, orang-orang Romawi bekerja dengan idiom Yunani. Dan karena itu, sebagian besar dari apa yang kita lihat dalam kebudayaan kota-kota itu, misalnya Caesarea Maritima, adalah sebuah struktur kota Yunani dengan organisasi politis Romawi, di mana elemen-elemen kehidupan kota Romawi dan Yunani yang berbeda-beda itu pada saling mengisi.

Bagaimana hal itu mempengaruhi kehidupan Yahudi?

Bagi banyak orang Yahudi, rupanya itu bukan masalah sama sekali. Ada kenyamanan lumayan besar atau akulturasi tingkat tinggi dengan banyak aspek pemikiran dan kehidupan Yunani. Persis sebagaimana kita lihat dalam komunitas-komunitas utama Yahudi di Mesir pada masa yang sama, dan yang sudah ada di sana selama 200 tahun sebelumnya. Jadi bagi sementara orang itu artinya tidak lebih dari seperti apa hidup di sebuah kota modern dengan kebudayaan yang sangat campur aduk. Tetapi bagi sebagian orang lain, untuk orang-orang lain dalam tradisi Yahudi, akan menjadi masalah besar jika Herodes, yang mustinya menjadi seorang raja Yahudi, kok malah dengan sigap beralih sikap dan mengakomodasi kepentingan-kepentingan keagamaan Romawi serta ideologi Romawi.

Judul asli: “Hellenistic Culture”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Alih bahasa: Bern Hidayat,  20 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: