Kebudayaan Bait Allah

27/01/2010

Mengapa Bait Allah melambangkan bangsa Israel dan kolaborasi dengan Romawi.

Shaye I.D. Cohen:

Samuel Ungerleider Professor of Judaic Studies and Professor of Religious Studies,  Brown University

BAIT ALLAH DI YERUSALEM DAN KEBUDAYAANNYA

Hal terpenting yang harus diingat adalah bahwa sekarang ini ada banyak bait suci dan sinagoga di setiap sudut kota itu. Di dunia ini tidak ada komunitas Yahudi yang tidak mempunyai sinagoga, dan banyak di antara mereka disebut bait suci. Tetapi di masa lalu, kita harus selalu mengingat, bait suci itu hanya ada satu, dan itulah Bait Suci Yerusalem. Bangunannya sendiri sangat kecil. Bait Allah itu sendiri hanya seluas bagian dalam lapangan permainan stadion baseball. Tetapi bangunan-bangunan besar di sekitarnya, plazanya  yang luas, portico-porticonya, kolom-kolomnya, anak-anak tangganya, semua itu dibangun oleh Herodes Agung dengan skala monumental, seluas sekitrar sepuluh kali stadion football Amerika . . . . Jadi pada waktu itu kita mendapatkan struktur bangunan yang sangat, sangat besar, megah, sangat mengesankan, persis di pusat kota Yerusalem, yang memikat para pejiarah dari jauh maupun dekat, baik Yahudi maupun non-Yahudi. . . . .

Di Bait itu sendiri kita dapatkan imam-imam, yang semuanya keturunan Arun, sang Imam Agung jaman kuno, saudara Musa—suku imam-imam yang mengelola altar. Mereka menyembelih binatang-binatang, membawa badan binatang ke altar, memercikkan darah ke sudut-sudut altar, membagi-bagikan dagingnya, tulang-tulang, darah dan sebagainya, dan melakukan tugas-tugas lain di dalam Bait. Hanya imam yang boleh masuk ke bagian paling dalam Bait. Bahkan orang-orang Yahudi yang paling saleh sekalipun hanya boleh sampai ke bagian luar pinggiran Bait. Orang-orang non-Yahudi hanya boleh masuk alun-alun luar. . . . .

Meskipun ritual-ritual keagamaan yang aktual dari bait Allah itu ada di tangan para imam—misalnya, anda membawa korban anda ke Bait karena, misalnya, isteri anda melahirkan, atau seorang anak sembuh dari sakitnya, atau anda tengah mengikuti perayaan jiarah dan anda melakukan persembahan korban. Jadi anda membawa hewan korban itu ke Bait, imam menerimanya dari anda dan sebentar kemudian mengembalikannya pada anda dalam bentuk roast beef atau roast lamb ke tempat di mana anda dan keluarga duduk dan makan. Jadi, meskipun secara aktual pengorbanan itu ada di tangan para imam, Bait Allah memainkan peranan besar dalam mentalitas keagamaan kolektif dan agama kolektif orang-orang, secara keseluruhan. Tiap orang sadar bahwa ini adalah tempat paling suci di muka bumi di mana, entah dengan cara bagaimana, surga dan bumi bertemu, di mana, katakanlah, di situ ada sambungan hotline antara surga dengan bumi, di mana bumi bangkit dan surga turun sampai keduanya bertemu . . . . . Jadi, meskipun ini adalah institusi yang kecil, yang semuanya dikelola oleh satu kelompok kecil orang, dan meskipun kebanyakan orang tidak pernah masuk, masuk ke bagian-bagian yang paling dalam, Bait Allah secara keseluruhan, institusinya, nilai-nilai dan struktur bangunannya, semuanya memainkan peranan penting dalam masyarakat luas.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

KEBUDAYAAN BAIT ALLAH

Apa yang terjadi di Bait Allah Yerusalem?

Bagaimana Bait Allah dikelola pada dasarnya diuraikan oleh Allah pada Musa dalam kelima buku pertama Kitab Yahudi, Torah. Dari separuh kitab sampai Eksodus, kemudian sampai akhir Deuteronomy, Allah memperinci pada Musa tipe-tipe peraturan tertentu, yang sebagian besar berurusan dengan persembahan pada Allah dalam kondisi-kondisi yang berbeda-beda. . . . Bait Allah itu merupakan tempat persembahan korban hewan, yang menjadikannya tipikal dengan kuil mana saja di kawasan Laut Tengah di masa lalu. Itulah yang terjadi di kuil-kuil. Hewan-hewan disajikan, makanan biji-bijian disajikan, dan ada saji-sajian cair. Ada burung-burung dara disajikan. Itu juga tempat berdoa. Itu juga tempat di mana Mazmur dilantunkan oleh orang-orang Levi. Dan di mana Imam-imam menjalankan tugas mereka.

Tetapi Bait Allah juga merupakan sesuatu yang terbuka bagi semua orang Yahudi dalam dua hal. Pertama, orang-orang Yahudi bisa pergi ke sana dan beribadah di Bait Allah. Tetapi juga, berkat teks Kitab, orang-orang Yahudi bisa mendengar tentang apa-apa yang dilakukan dalam Bait Allah itu dengan jalan mendengarkan Torah dibacakan, biasanya seminggu sekali pada hari Sabbath. Dan dalam arti itu, Bait Allah merupakan sebuah realita interior dan religius bagi sembarang orang Yahudi di seantero Kekaisaran Romawi. Mereka tahu apa yang terjadi di Bait Allah karena mereka memiliki uraiannya, yang ditulis dalam Torah.

Bisakah orang-orang non-Yahudi pergi ke Bait Allah?

Kebanyakan kuil di jaman kuno mendorong agar sebanyak mungkin orang mengunjungi kuil dan memberikan penghormatan. Itu bagus untuk bisnis.  Dalam hal ini, Bait Allah di Yerusalem tidak berbeda. Orang-orang non-Yahudi mempunyai bagian khusus yang boleh mereka masuki. Mereka jelas diijinkan melakukan persembahan . . . . Bait Allah itu diatur menurut tingkat-tingkat kesucian, dan tempat yang paling suci hanya boleh dimasuki Imam. Tetapi orang-orang non-Yahudi, yang boleh membawa korban, akan menyerahkan korban itu, sehingga korban itu bisa dipersembahkan oleh Imam atas nama si non-Yahudi yang melakukan persembahan korban.

PASKAH

Dalam Yudaisme, yang diuraikan dalam Kitab, ada tiga perayaan jiarah. Satu di musim gugur, dua di musim semi. Hari raya terbesar yang bisa mendatangkan pejiarah dari seantero dunia adalah hari raya Paskah. Ini berkaitan secara historis dengan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Jadi perayaan itu mempunyai nuansa pembebasan nasional. Ada aspek politis tertentu pada perayaan ini. Tetapi juga, orang-orang Yahudi, jika mereka memilih melakukannya, jika mereka soleh, mereka bisa menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka. Cara kerjanya seperti Christmas Club di jaman sekarang. Anda menyisihkan uang persepuluhan. . . . . dan uang itu, atau entah bagian dari properti anda yang anda sisihkan, secara eksplisit akan dibelanjakan untuk menyelenggarakan sebuah pesta di Yerusalem. Dan anda akan membelanjakan uang tabungan itu ketika anda merayakan jiarah ke sana.

Orang-orang dari seluruh penjuru Kekaisaran pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Itu adalah salah satu saat paling ramai di kota. Dan ada hal-hal tertentu yang wajib dilakukan jika anda ingin pergi ke Bait. Anda harus memakan domba Paskah anda dalam keadaan suci, yang menuntut dilakukannya hal-hal tertentu, misalnya, jika anda seorang wanita yang datang bersama keluarga dan anda kebetulan menstruasi . . . anda tidak boleh memasuki kawasan Bait Allah. Tetapi yang sebenarnya diwajibkan masuk ke daerah Bait Allah memang suami anda, sebab dia yang harus mengorbankan domba Paskah itu, yang akan menjadi pusat jamuan makan anda bersama keluarga. Anda akan pergi ke sana, mungkin seminggu sebelum Paskah, untuk memastikan agar semua orang berada dalam keadaan suci. Kesucian bukan cuma metafor etis dalam Yudaisme abad pertama. Kesucian adalah sebuah keadaan. Itu nyaris seperti kesucian fisik yang mempunyai konsekuensi-konsekuensi metafisik. Jika anda sedang menstruasi, misalnya, atau bagi pria, salah satu cara umum mengalami najis adalah lewat ejakulasi . . . . air mani menularkan najis. Bukannya ada hal yang secara moral tidak beres pada diri anda. Itu hanya berarti ketika anda berada dalam keadaan seperti itu, anda tidak boleh memasuki daerah suci. Jadi para pejiarah seringkali datang seminggu sebelum perayaan Paskah benar-benar dimulai agar mereka bisa melaksanakan ritual-ritual penyucian, dan ikut ambil bagian dalam penyembelihan domba-domba Paskah yang dilakukan pada malam menjelang Paskah. Dan kemudian kembali ke keluarga anda yang tinggal di tenda-tenda atau di desa-desa luar.

Ada pernyataan-pernyataan mengenai hal ini dalam tulisan-tulisan injil. Yesus masuk ke Yerusalem bersama rombongan pejiarah seminggu sebelum Paskah. Begitulah perjalanan masuk yang gilang gemilang itu diceritakan dalam injjil. Dan ia mengajar di Bait Allah dalam minggu sebelum Paskah. Alasan tiap orang ada di sana adalah, saya kira, Yesus juga menjalani ritual-ritual penyucian yang wajib itu agar orang-orang bisa berada dalam keadaan yang seharusnya. Bukan hanya secara moral atau religius, tetapi benar-benar secara aktual. Sehingga mereka bisa memakan domba Paskah itu sebagaimana diperintahkan Allah ketika ia berbicara pada Musa di Gunung Sinai.

Najis ditegaskan oleh Hukum Yahudi. Itu adalah fenomena alami. Orang-orang masuk dan keluar dari keadaan suci dan najis karena banyak kenajisan terkait dengan ritme-ritme biologis. Anda mendatangkan najis dengan mengerjakan hal-hal yang dilarang Allah pada orang-orang Yahudi, seperti melahirkan bayi, atau bersetubuh dengan suami atau isteri. Mengusung mayat, yang merupakan salah satu perintah keagamaan terpenting dalam agama itu, adalah sesuatu yang, karena bersentuhan dengan mayat, atau berada sekamar dengan mayat, dulu bahkan sampai sekarang, orang akan berada dalam keadaan najis. Obat najis adalah ritual-ritual penyucian. Dan dalam Yudaisme, sebagaimana . . . . di kebanyakan agama yang berusaha membuat dunia ini menjadi nalar, air adalah salah satu media utama untuk penyucian. Di seantero Isarel, di situs-situs arkeologis yang berbeda-beda, itu bisa anda lihat sampai sekarang ini. Anda melihatnya di puncak Masada, anda melihatnya di penggalian-penggalian di Yerusalem, anda melihatnya di penggalian-penggalian di Galilei, ada banyak sekali kolam-kolam kungkum. Herodes, meskipun ia mempunyai kehidupan keluarga yang ruwet dan kebiasaan politis yang sangat tidak menguntungkan dalam cara dia menangani anak-anak lelakinya atau orang-orang lain yang ia pandang sebagai saingan, meskipun begitu di istana-istana yang ia bangun untuk dirinya sendiri, ia membangun kolam-kolam untuk menyucikan diri . . . . Sibuk memikirkan kesucian adalah salah satu dari hal-hal normal yang dilakukan oleh orang Yahudi jika ia memilih menjadi orang religius. Dan ritual penyucian air adalah bagian dari upaya mengatasi najis.

IMAM-IMAM

Paskah adalah salah satu dari saat-saat paling sibuk di Yerusalem. Orang-orang Yahudi yang berdatangan sampai berjubelan, tidak hanya dari wilayah Israel, tetapi juga dari Diaspora, juga orang-orang non-Yahudi yang tertarik. Hari raya besar selalu mendatangkan banyak orang. Pasukan Romawi yang biasanya ditempatkan di pantai di Caesarea juga akan naik ke Yerusalem untuk bertindak sebagai pengendali ketertiban ketika pejiarah-pejiarah itu berada di kota. Sementara itu, Bait Allah itu sendiri menjadi pusat aktivitas yang garang. Salah satu wajib Paskah adalah korban Paskah. Ada sensus yang dilaporkan oleh Josephus di mana puluhan  ribu domba disembelih. Dan itu semua harus dilaksanakan pada waktu tertentu pada awal hari raya. Domba-domba itu tidak boleh disembelih, misalnya, pada suatu hari di minggu itu, lalu dibekukan dan kemudian dibagi-bagikan pada berbagai pelanggan . . . . Josephus memperkirakan bahwa satu ekor domba cukup untuk . . . sepuluh orang. Jadi ratusan ribu orang ada di Yerusalem pada waktu Paskah.

Tanggungjawab memastikan agar berbagai hal dilakukan secara benar . . . agar domba-domba itu sendiri sempurna . . . agar Bait Allah itu sendiri siap dan sudah benar, untuk menjadi medium bagi laku kesolehan dan entusiasme keagamaan itu, dan untuk memastikan agar penyembelihan hewan-hewan itu dilakukan dengan benar . . . semua itu jatuh pada para Imam. . . . Akan ada tim-tim imam ekstra, rotasi-rotasi imam yang akan datang ke Yerusalem. Mereka akan bekerja di Bait Allah dan di bahu merekalah diletakkan tanggungjawab mengurusi aneka macam urusan yang hingar bingar itu.. . . . Secara fisik itu adalah pekerjaan yang melelahkan. Melelahkan paling tidak karena kebanyakan orang Yahudi dengan keras-keras menyuarakan apakah imam-imam menjalankan tugas mereka dengan benar atau tidak . . . . . Kadang-kadang membaca sumber-sumber kuno itu mirip nguping pertengkaran-pertengkaran keluarga di kamar sebelah. . . . maksud saya, orang-orang yang sama sekali bukan imam biasa melontarkan pendapat tegas tentang bagaimana seharusnya imam-imam menjalankan tugas mereka. Imam yang menjadi anggota kelompok tertentu, misalnya imam yang mempunyai orientasi Farisi, mungkin beranggapan seharusnya ini itu dilakukan begini, dan imam yang tidak mempunyai orientasi Farisi beranggapan hal itu mustinya dilakukan dengan cara lain lagi. Tiap orang membuka Kitab dan kemudian membawa-bawa tradisi dan improvisasi, tentang apa yang menurut dia adalah cara paling benar untuk melakukan ini itu . . . .

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program,  University of Texas at Austin

BAIT HERODES DI YERUSALEM

Program-program pembangunan Herodes, baik di Caesarea maupun di seantero negeri, adalah sangat ekstensif. Dan ini terlihat jelas, khususnya di kota Yerusalem sendiri. Rupanya Herodes menganggap Yerusalem sebagai mercusuarnya. Ia benar-benar menginginkan kota itu menjadi tempat yang harus dikunjungi orang-orang, persis sebagaimana orang-orang mengunjungi Athena atau Roma, atau kota-kota besar lain di kawasan Laut Tengah. Dan karena itu, ketika Herodes membangun Yerusalem, atau membantu membangun kembali kota itu, itu ia lakukan dengan skala monumental. Dan ini bisa dilihat dalam pembangunan kembali Bait Allah. Jika kita berkeliling kompleks Bait Allah, yang sampai sekarang masih bisa dilihat, setidak-tidaknya sampai ke tingkat pondasinya, anda akan melihat ukurannya yang monumental. Di sisi-sisi tertentu ada tembok setinggi empatpuluh kaki. Padahal tembok itu sendiri baru pondasinya. Baitnya sendiri berdiri di atasnya dengan pilar-pilar pualam yang berkilat-kilat. Jadi itu benar-benar mengesankan. Dan itu dimaksudkan untuk menjadi tempat yang pantas dibanggakan.

Dan, apa tujuan membangun dengan skala seperti itu?

Bagi Herodes, itu menjadi proyek kesayangannya, sesuatu yang akan dipersembahkan bagi negerinya. Untuk mengubah Bait Allah, pusat kehidupan dan identitas Yahudi, menjadi sebuah kuil yang akan menyaingi semua kuil di dunia kuno. Dan rupanya ia mengguyurkan banyak sekali uang kedalam proyek itu. Nah, proyek Bait Allah itu sendiri dimulai pada sekitar tahun 20 SM. Pembangunannya sendiri menelan waktu 80 tahun sampai selesai penuh. Sayangnya, bangunan itu hanya berdiri selama beberapa tahun sebelum dihancurkan lagi. Tetapi selama masa pembangunan yang sepanjang delapan dekade itu, proyek itu menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Proyek itu membuat gilda-gilda konstruksi tetap memperoleh pekerjaan. Dan itu benar-benar dimaksudkan sebagai sebuah tempat di mana setiap orang akan membanggakannya sebagai pusat kehidupan Yahudi.

Tolong ceritakan tentang orang-orang dan faksi-faksi dan hirarki di seputar Bait itu.

Pada dasarnya Bait Allah itu berada di bawah kontrol kelompok imam bangsawan yang sudah sangat tua itu. Ada Imam-imam Agung, itu yang memegang tampuk pimpinan. Dan mereka berasal dari keluarga-keluarga tertentu. Di sekitar mereka, dan yang bertindak sebagai pembantu dan agen-agen mereka, adalah sejumlah imam biasa dari berbagai tingkatan. Kita mendengar tentang mereka bahkan dalam Perjanjian Baru. Imam-imam dan orang-orang Levi, itu sebutan mereka. Imam-imam yang lain itu mempunyai berbagai tugas mengurusi Bait Allah itu sendiri. Segala sesuatu —dari membersihkan bangunan, sampai melaksanakan korban hewan dan mengawasi aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada perayaan-perayaan Hari Besar. Jadi imam-imam itulah yang berkuasa atas Bait itu sendiri.

FARISI DAN SADUKI

Siapakah orang-orang Farisi dan Saduki itu?

Di antara kelompok-kelompok lain yang beredar di seputar imam dan sekitar Bait Allah di Yerusalem, ada sebuah kelompok tua yang disebut Saduki. Saduki itu sebenarnya juga merupakan bagian dari imam bangsawan tua tadi. Mereka adalah kelompok penguasa tanah . . . . keturunan orang-orang yang pulang dari pengasingan Babilonia. Mereka adalah kelas paling atas Yerusalem masa lampau. Dan mereka memegang kendali atas sebagian besar kehidupan politik Yerusalem itu sendiri. Mereka mendominasi dewan kota Yerusalem, atau apa yang disebut Sanhedrin. Tetapi kelompok-kelompok lain juga ada. Farisi adalah kelompok yang datang belakangan kedalam jajaran politik kehidupan Yerusalem, mungkin sekitar Periode Hasmonean. Tepatnya, persis menjelang masuknya orang-orang Romawi. Orang-orang Farisi mempunyai kepentingan politik, tetapi mereka, entah karena apa, menjadi —katakanlah— sebuah faksi luar yang harus berhadapan dengan para bangsawan penguasa tanah tadi—Saduki. Akibatnya, kita lihat adanya ketegangan-ketegangan politis dan juga kepentingan-kepentingan religius antara kelompok-kelompok yang bermunculan dengan berbagai cara itu.

Salah satu cara klasik dengan mana kita membedakan Saduki dari Farisi adalah berdasarkan kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan. Saduki itu konservatif. Mereka hanya membaca Torah, kelima kitab Musa itu. Mereka tidak menganggap kitab-kitab lain di antara kumpulan kitab-kitab yang ada itu otoritatif. Dan karena itu mereka tidak percaya pada ide-ide tertentu. Misalnya, adalah kesimpulan umum bahwa mereka tidak percaya pada kebangkitan kembali orang mati. Mengapa? Sebab itu tidak ada dalam Torah. Sebaliknya, orang-orang Farisi boleh disebut . . . . religius liberal . . . . orang-orang yang progresif di masa itu. Mereka ingin menginterpretasikan kembali kitab-kitab. Mereka ingin membaca kitab-kitab lebih banyak lagi, dan semua itu merupakan ekspresi dari Yudaisme yang waktu itu begitu semarak. Dan akibatnya, mereka bersedia mencermati ide-ide baru, kepercayaan-kepercayaan baru, misalnya kebangkitan kembali orang mati.

Judul asli: “The Temple Culture”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Alih bahasa: Bern Hidayat, 19 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: