KEBANGKITAN KRISTIANITAS

27/01/2010

KEBANGKITAN KRISTIANITAS

(Rodney Stark)

Sosiolog Rodney Stark mengkaji daya tarik  pesan Kristiani itu sendiri, misalnya, bagaimana Kristianitas menyodorkan sebuah konsep baru tentang kemanusiaan pada sebuah dunia yang sudah sarat dengan kekejaman.

Penutup

Sebuah Permenungan Singkat tentang Keutamaan

Berbeda dari masa lalu, para sejarawan masa kini lebih bersemangat untuk mendiskusikan bagaimana faktor-faktor sosial membentuk doktrin-doktrin religius. Sayangnya, pada saat yang sama mereka agak enggan untuk mendiskusikan bagaimana doktrin-doktrin membentuk faktor-faktor sosial. Ini sangat sering muncul dalam bentuk reaksi-reaksi alergis terhadap argumen-argumen yang menyatakan Kristianitas bangkit berkat theologi yang superior. Bagi beberapa sejarawan, alergi ini mengisyaratkan bahwa mereka terlalu banyak dipengaruhi oleh klaim-klaim Marxist yang ketinggalan jaman dan absurd itu, yang menyatakan bahwa ide hanyalah epifenomena. Tetapi bagi sejarawan-sejarawan yang lain, sikap mereka seakan mencerminkan suatu ketidak-nyamanan yang mendasar dengan keperayaan religius itu sendiri, dan khususnya dengan segala macam isyarat tentang “triumphalism.” Sekarang mengisyaratkan bahwa sesuatu doktrin religious “lebih baik” dari doktrin yang lain dianggap sebagai selera rendah.

Adalah betul bahwa komitmen Kristiani para sejarawan masa lalu menjadikan kebangkitan Kristianitas seakan merupakan kemenangan tak terelakkan dari keutamaan lewat panduan ilahi. Bahkan sebagaimana dicatat oleh [L. Michael] White. . . . “istilah ‘ekspansi’ kemudian praktis digunakan sebagai sinonim untuk ‘kemenangan pesan injil.’” Tetapi jika ekses-ekses itu mengganjal pengkajian yang lebih tuntas . . ., itu bukan pembenaran yang memadai untuk mengesampingkan theologi sebagai irrelevan. Bahkan di sejumlah bab terdahulu, telah dijabarkan bagaimana doktrin-doktrin seringkali ternyata sangat menentukan. Doktrin jelas sentral bagi upaya merawat orang-orang sakit di masa wabah sampar, bagi penolakan terhadap aborsi dan pembunuhan bayi, bagi fertilitas, dan bagi kebugaran organisasional. Karena itu, seraya menutup pengkajian ini, saya perlu menandaskan apa yang pada hemat saya merupakan faktor terpenting dalam kebangkitan Kristianitas.

Ijinkan saya memaparkan thesis saya: Doktrin-doktrin sentral Kristianitas mendorong dan melestarikan hubungan-hubungan sosial dan organisasi-organisasi sosial yang atraktif, bersifat membebaskan, dan efektif.

Saya percaya bahwa doktrin-doktrin tertentu agama itulah yang memungkinkan Kristianitas termasuk di antara gerakan-gerakan yang paling luas dan sukses dalam sejarah. Dan yang membuat Kristianitas benar-benar bangkit adalah bagaimana doktrin-doktrin itu diterjemahkan secara konkrit, bagaimana mereka mengarahkan aksi-aksi organisasional dan perilaku individual. . . .

SANG SABDA

Bagi siapapun yang dibesarkan dalam kebudayaan Yudeo-Kristen atau Islam, dewa-dewa pagan seakan nyaris tidak berarti apa-apa. Masing-masing dewa, entah besar atau kecil, hanyalah dewa yang cakupan, kekuasaan, dan kepeduliannya terbatas. Selain itu, dewa-dewa seakan mempunyai cacat moral. Mereka melakukan hal-hal yang mengerikan terhadap satu sama lain, dan kadang-kadang mereka mempermainkan manusia secara semena-mena. Tetapi yang paling menonjol, mereka terkesan tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi di “dunia bawah sana.”

Ungkapan sederhana “Sebab Tuhan sangat mencintai dunia ini. . .” akan membuat seorang pagan yang berpendidikan melongo. Dan gagasan bahwa dewa-dewa peduli pada bagaimana kita memperlakukan satu sama lain pasti akan dianggap sangat absurd.

Dari sudut pandang pagan, tidak ada hal baru dalam ajaran-ajaran Yahudi atau Kristen bahwa Tuhan menuntut perilaku-perilaku tertentu dari manusia—dewa-dewa selalu menuntut pengorbanan dan pemujaan. Juga bukanlah ide baru jika Tuhan menanggapi keinginan-keinginan manusia—dengan sesaji-sesaji dewa-dewa juga bisa dihimbau untuk memberikan jasa mereka. Tetapi sebagaimana saya tulis dalam  bab 4, gagasan bahwa Tuhan mencintai siapapun yang mencintaiNya adalah sepenuhnya baru.

Bahkan sebagaimana dinyatakan oleh E.A. Judge secara terperinci, para filsuf masa klasik menganggap sikap pengampun dan rasa kasihan  sebagai emosi-emosi penyakit—cacat-cacat karakter yang harus dihindari oleh semua orang yang rasional. Karena sikap pengampun melibatkan pemberian bantuan atau pembebasan tanpa imbalan apa-apa, maka itu bertentangan dengan keadilan. Karena itu “sikap pengampun adalah sangat tidak nalar,” dan manusia harus belajar “mengekang dorongan seperti itu;” “jeritan orang yang tidak pantas diampuni” harus dibiarkan saja, jangan digubris. Judge melanjutkan: “Rasa kasihan adalah cacat karakter yang tidak pantas ada pada orang yang bijaksana, dan hanya bisa diampuni pada orang-orang yang belum matang. Itu adalah respon impulsif yang didasarkan pada kurangnya pengetahuan. Plato menghapus masalah pengemis dari negara yang diidealkannya dengan jalan melempar  mereka keluar tembok kota.”

Begitulah iklim moral dalam mana Kristianitas mengajarkan bahwa sikap pengampun adalah satu satu keutamaan paling mulia—bahwa Tuhan yang pengampun menuntut umat manusia agar menjadi pengampun juga. Lebih-lebih lagi, implikasi bahwa karena Tuhan mencintai manusia, maka orang-orang Kristen bisa membuat Tuhan tidak senang jika mereka tidak mencintai satu sama lain, adalah ide yang sepenuhnya baru. Bahkan yang mungkin lebih revolusioner lagi adalah prinsip bahwa cinta dan karitas Kristiani harus menjangkau bahkan keluar dari batas-batas keluarga dan suku, bahka  kasih Kristiani harus menjangkau “semua orang di semua tempat yang menyebutkan nama Tuhan kita Yesus Kristus.” Bahkan cinta dan kasih itu harus menjangkau keluar dari batas komunitas Kristen sendiri.

Mari kita tengok kembali perintah Cyprian pada jemaat Carthage, yang dikutip di bab 4, bahwa:

Tidak ada hal yang istimewa  jika hanya mengasihi orang-orang kita sendiri, tetapi yang sempurna adalah jika kamu bisa berbuat lebih dari orang-orang biadab atau orang-orang lumrah, mengatasi kejahatan dengan kebaikan, dan memberikan pengampunan serta cinta kasih seperti Tuhan, bahkan juga mencintai musuh-musuhmu . . . Dengan demikian kebaikan dilakukan pada semua orang, bukan hanya pada saudara-saudara seiman. (Dikutip dalam Harnack 1908: 1:172-173).

Ini adalah ide yang benar-benar revolusioner. Bahkan itu adalah basis kultural bagi revitalisasi dunia Romawi yang sudah mengerang-erang dibawah aneka macam penderitaan.

SI DAGING

Salah satu penderitaan  utama adalah chaos kultural yang diakibatkan oleh jaringan kebhinekaan etnis dan bara kebencian yang diakibatkannya. Dalam mempersatukan kekaisarannya, Roma menciptakan kesatuan politis dan ekonomis dengan korban chaos kultural. Ramsay MacMullen telah menulis tentang “aneka macam bahasa, kultus, tradisi, dan tingkat pendidikan” yang dicakup dalam Kekaisaran Romawi. Tetapi harus disadari bahwa kota-kota Greko-Roman adalah mikrokosmos dari kebhinekaan kultural ini. Orang-orang dari begitu banyak kebudayaan, yang menggunakan begitu banyak bahasa, yang menyembah aneka macam dewa, telah dionggokkan tumplek blek menjadi satu.

Pada hemat saya, salah satu cara utama dengan mana Kristianitas bertindak sebagai gerakan revitalisasi dalam kekaisaran Romawi itu adalah dengan menyodorkan sebuah kebudayaan koheren yang sepenuhnya bebas dari etnisitas. Semua orang disambut dengan baik tanpa mempedulikan ikatan-ikatan etnis. Tetapi karena alasan itu juga, di antara orang-orang Kristen, etnisitas cenderung ditenggelamkan, dan muncullah norma-norma dan adat-istiadat yang baru, yang lebih universalistis, dan yang kosmopolitan. Dengan cara itu, Kristianitas mula-mula menghindari, dan kemudian menenggelamkan, kendala etnis yang dahulu membuat Yudaisme tidak bisa bertindak sebagai basis revitalisasi. Tidak beda dari dewa-dewa pagan, Allah Israel juga memaksakan aturan-aturan dan tanggung-jawab-tanggungjawab moral pada umat.  Tetapi untuk menyembah Allah Yahudi, orang juga harus mengenakan etnisitas Yahudi. . . . Sebagaimana saya ketengahkan dalam bab 3, banyak orang Yahudi yang telah mengalami Hellenisasi di diaspora menjadi tertarik pada Kristianitas justru karena Kristianitas membebaskan mereka dari identitas etnis yang ternyata telah membuat mereka menjadi tidak nyaman.

Kristianitas juga mendorong hubungan-hubungan sosial yang bersifat membebaskan dalam hubungan pria-wanita dan dalam keluarga . . . . Dan . . . Kristianitas juga melakukan pembaharuan besar-besaran dalam perbedaan-perbedaan kelas. Bukanlah sekedar retorik ketika budak dan bangsawan menyapa satu sama lain sebagai saudara dalam Kristus.

Tetapi yang barangkali melebihi semua yang lain, Kristianitas menyodorkan sebuah konsepsi baru tentang kemanusiaan ke sebuah dunia yang sudah sarat dengan kekejaman yang semena-mena dan kesenangan melihat orang lain mampus. Tengok saja kisah kematian martir Perpetua. Di situ kita bisa mengetahui detil-detil tentang penyiksaan yang bertubi-tubi dan kematian mengenaskan yang dialami oleh segelintir orang Kristen yang keras kepala ketika mereka diserang binatang-binatang buas di arena di depan penonton yang bersorak kegirangan. Tetapi kita juga sadar bahwa bahkan andaikata semua orang Kristen tunduk pada kewajiban melakukan ritual korban persembahan untuk kaisar, dan karena itu nyawanya diampuni, orang lain tetap harus dilemparkan ke arena pertarungan melawan binatang buas itu. Bagaimanapun juga, tontonan-tontonan pertandingan itu diselenggarakan untuk merayakan hari ulang-tahun anak kaisar yang masih bocah. Dan setiap kali ada pertandingan seperti itu, orang-orang harus mati. Lusinan yang mati; bahkan kadang-kadang ratusan.

Berbeda dari para gladiator, yang seringkali merupakan relawan yang dibayar, orang-orang yang dilemparkan ke depan binatang-binatang buas itu seringkali adalah penjahat yang dijatuhi hukuman mati, sehingga orang bisa berkilah mereka memang pantas mati. Tetapi masalahnya di sini bukanlah hukuman mati itu sendiri, bahkan juga bukan bentuk-bentuk eksekusinya yang kejam. Masalahnya adalah bahwa pemandangan itu—kerumunan orang di stadion-stadion, yang menonton orang-orang pada dicabik-cabik dan dibrakot binatang buas atau dibunuh dalam pertarungan bersenjata—adalah olahraga tontonan massal, yang dianggap pantas untuk hadiah ulang-tahun seorang anak kecil. Sulit untuk memahami kehidupan emosional orang-orang seperti itu.

Bagaimanapun juga, orang-orang Kristen mengutuk kekejaman-kekejaman itu maupun para penontonnya. “Janganlah kamu membunuh,” begitu peringatan Tertullian pada para pembacanya (De Spectaculis). Dan ketika mereka memegang kekuasaan, orang-orang Kristen melarang “pertandingan-pertandingan” seperti itu. Yang lebih penting lagi, orang-orang Kristen secara efektif menyebar-luaskan sebuah visi moral yang sepenuhnya menentang kekejaman adat istiadat pagan yang dianggap tidak ada tidak bermakna itu.

Pada akhirnya, apa yang diberikan oleh Kristianitas pada orang-orang yang kemudian memeluknya adalah kemanusiaan mereka sendiri. Dalam arti inilah keutamaan menjadi berkah bagi keutamaan itu sendiri.

Asli:  The Rise of Christianity: A Sociologist Reconsiders History

Alib bahasa: Bern Hidayat, 19 September 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: