Injil Yohanes

27/01/2010

Injil Yohanes

Permusuhan terhadap Yudaisme dalam selubung arsitektural “injil spiritual.”

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

INJIL SPIRITUAL

Injil Yohanes berbeda dari ketiga injil yang lain dalam Perjanjian Baru. Fakta itu telah dikenali sejak awal gereja sendiri. Mulai sekitar tahun 200, injil Yohanes sudah dijuluki injil spiritual karena injil itu menceritakan kisah tentang Yesus dengan cara-cara simbolik yang berbeda secara tajam dari ketiga injil yang lain. Misalnya, Yesus mati pada hari yang berbeda dari yang ada pada injil Mateus, Markus, dan Lukas. . . . . Sementara di ketiga injil sinoptik itu Yesus menyantap jamuan Paskah sebelum ia mati, dalam injil Yohanes tidak demikian yang terjadi. Perjamuan terakhir dimakan sebelum awal Paskah. Dengan demikian urut-urutan kejadian yang mengarah pada penyaliban itu menjadi sangat berbeda pada injil Yohanes. Dan orang harus mencermati hal itu dan bertanya, mengapa ceritanya begitu beda? Bagaimana kita menerangkan perbedaan-perbedaan itu dari kacamata bagaimana penceritaannya dikembangkan? Dan jawabannya menjadi lumayan jelas ketika kita sadar bahwa Yesus telah menyantap jamuan terakhir itu sehari sebelumnya sehingga ia akan tergantung di kayu salib selama hari persiapan sebelum awal Paskah.

Jadi beginilah adegan dalam injil Yohanes: pada hari menjelang Paskah, dan Paskah akan dimulai pada jam 6 bersamaan dengan jamuan sore, hari menjelang jamuan Paskah itu adalah hari ketika semua domba disembelih dan setiap orang pergi ke Bait Allah untuk membawa domba mereka untuk jamuan Paskah. Di Yerusalem itu berarti puluhan ribu domba disembelih pada waktu yang sama. Dan dalam injil Yohanes hari itu adalah hari Yesus disalib. Dengan demikian, secara cukup literal, adegan dramatik dalam injil Yohanes membuat Yesus digantung di kayu salib sementara domba-domba pada disembelih untuk jamuan Paskah. Injil Yohanes memaksa kita, setidak-tidaknya secara dramatik, melalui mode penceritaannya, untuk memperlakukan Yesus sebagai seekor domba Paskah.  Yesus tidak memakan jamuan Paskah. Yesus adalah jamuan Paskah itu sendiri, setidak-tidaknya dalam pikiran orang-orang Kristen dari cara Yohanes menceritakan kisahnya.

Nah, tema Domba Allah, simbolisme Paskah itu, sebenarnya diluncurkan sepanjang injil Yohanes. Sudah sejak dari adegan pertama dalam injil Yohanes, ketika Yesus memasuki kisah itu untuk pertama kalinya, itu ia lakukan dengan jalan mendatangi Yohanes Pembaptis untuk dibaptis. Dan ketika Yesus masuk, Yohanes melihatnya mendatanginya, memasang mata, dan mengatakan, “Lihatlah anak domba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia.” Jadi keseluruhan kisah itu sekarang dikemas dalam selubung satu motif tunggal ini, Domba Allah. Dan tentu  saja itu adalah simbolisme yang akhirnya akan menjadi salah satu dari simbol-simbol yang paling dominan dan mendalam dalam semua tradisi theologis Kristen. Belakangan kita akan mendapatkan imaji seekor domba dalam segala macam seni Kristen dari katakomba sampai mozaik-mozaik agung di Ravenna, sebab hanya dalam kapsul kecil mungil itu terkemas sebuah tradisi theologis secara utuh. Itu adalah sebuah pernyataan theologis tentang signifikansi kematian Yesus.

Simbolisme injil Yohanes itu, selain barangkali yang paling kuat dibandingkan dengan simbol lain manapun dalam Perjanjian Baru, juga bersifat provokatif. Bahasa injil Yohanes kadang-kadang sengaja antagonistis terhadap tradisi Yahudi dan terhadap kepekaan-kepekaan Yahudi. Ide tentang Paskah itu tentu saja sangat Jewish, tetapi Yohanes cenderung mengubah beberapa ide sehingga dengan sangat tajam bertentangan dengan tradisi Yahudi. Pada salah satu titik dalam Yohanes 6 Yesus mengatakan, “Kecuali kamu makan tubuh Anak Manusia dan minum darahnya, kau tidak akan memperoleh hidup dalam dirimu.” Tetapi gagasan minum darah itu jelas sangat menjijikkan dari kacamata aturan-aturan makanan Yahudi. Jadi bahasa dan simbolisme yang begitu kaya dalam injil Yohanes itu juga memiliki nada politis sangat tegas dalam kaitan dengan hubungan yang tengah berkembang antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen. Injil Yohanes adalah kesaksian bagi suatu Kristianitas yang tengah bergerak semakin jauh dan jauh dari tradisi Yahudi. Dan kenyataannya injil itu seringkali memandang tradisi Yahudi sebagai secara tegas memusuhi gerakan Kristen.

Allen D. Callahan:

Associate Professor of New Testament, Harvard Divinity School

INJIL YOHANES DAN SIKAP-SIKAP TERHADAP YERUSALEM

Masing-masing penulis injil itu memiliki masalah-masalah tertentu yang ia harus tanggapi, pertanyaan-pertanyaan tertentu yang ia harus jawab, dan krisis-krisis tertentu yang ia harus rundingkan. [Dalam] injil keempat, injil menurut Yohanes itu, hubungan Yesus dengan Yerusalem dan pejabat-pejabat Yerusalem merupakan sebuah masalah besar. Ada lebih banyak orang dalam dramatis personae injil Yohanes yang datang dari Yudea. Kita menjumpai beberapa tokoh di sana yang tidak kita temukan dalam tradisi-tradisi injil yang lain.  Nikodemus, Yusuf dari Arimatea. Ini adalah elit-elit non-imam Yerusalem. Salah satu hal yang diisyaratkan ioleh hal ini adalah bahwa sumber-sumber injil keempat adalah lebih dekat dengan stratum sosial orang-orang ini dan kepentingan-kepentingan mereka. Bukan demikian halnya bagi Mateus, Markus, dan Lukas. Tradisi-tradisi Galilei adalah tradisi-tradisi yang dikomunikasikan di sana, dan karena itu aktivitas Yesus di sana dan di antara orang-orang di Yudea Utara memperoleh tempat kebanggaan . . . . .

Ketika kita mencermati kepedulian-kepedulian dari perbedaan-perbedaan itu, kepedulian-kepedulian yang diisyaratkan atau dicerminkan oleh perbedaan-perbedaan itu, salah satu cara untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan itu adalah melihat bahwa mereka berasal dari titik-titik yang berbeda dan strata yang berbeda dari masyarakat Palestina.

Bagaimana hal itu mempengaruhi gambaran yang muncul (tentang Yesus)?

Yesus tampil berbeda-beda dalam injil-injil itu. Jelaslah mereka yang mengidentifikasikan diri dengan lebih kuat dengan tradisi-tradisi dan kepentingan-kepentingan Palestina Utara dan mengidentifikasikan diri dengan masalah-masalah khas Galilei . . . . akan menggambarkan seorang Yesus yang bicara lebih banyak mengenai hal-hal itu. Nah, kita katakan saja orang-orang yang berasal dari Palestina Utara, dalam sebegitu banyak kata-kata, telah mencoret lembaga keimamam di Yerusalem.  Mereka tidak akan mempedulikan apa yang terjadi pada berbagai strata masyarakat Yudea, bagaimana orang-orang Yudea tertentu merespon pada Yesus, bagaimana orang-orang tertentu merespon pada gerakan Yesus. Meskipun begitu, dalam injil Yohanes, ada beberapa indikasi bahwa ada perpecahan di antara para elit Yerusalem. Ada beberapa elit non-imam yang bersimpati dengan Yesus . . . . Lembaga keimamam, secara keseluruhan, jelas tampak sebagai penjahatnya. Yohanes sangat jelas dalam hal ini. Itu adalah garis pembedaan yang ditarik dengan sangat jelas oleh Yohanes, yang tidak ditampilkan dengan jelas oleh tradisi sinoptik. Bahwa keputusan untuk menghukum mati Yesus itu dan aneka macam rekayasa yang dilibatkan untuk mengirim Yesus ke kayu salib dipersalahkan pada salah satu sub-set tertentu dari jajaran kepemimpinan Yahudi. Yohanes dengan sangat jelas menunjukkan pada kita siapa yang bertanggung-jawab, dalam kalangan elit penguasa Yerusalem itu, atas eksekusi Yesus . . . . .

Yang sering dikatakan tentang injil Yohanes adalah bahwa anda bisa mengenai awal mula perumusuhan terbuka antara anggota-anggota gerakan Yesus awal dengan mainstream Yudaisme. . . .

Well, saya kira perbedaan yang baru saja saya gambarkan membuat generalisasi menjadi rumit, sebab itu adalah pembedaan yang berbahaya. Secara historis, itu sudah terbukti sangat berbahaya. Itu bukan hanya merupakan suatu miskonstrual dari bukti yang kita miliki. Itu adalah miskonstrual yang sangat tendensius. . . . Drama Yohanes berusaha keras untuk menunjukkan bahwa suatu subset tertentu dari kepemimpinan Yahudi memang mengincar Yesus. Itu sangat penting bagi Yohanes. Barangkali, jika kita bergerak menjauhi Yudea, gambaran itu, atau paling tidak ketegasan dari gambaran itu, dikompromikan oleh kepedulian-kepedulian lain. Dan karena itu saya akan mengkarakterisasi tradisi sinoptik itu, mungkin menjauh dari pusat kejadian-kejadian, dari sudut pandang mekanisme-mekanisme yuridis yang memuncak pada eksekusi terhadap Yesus. Dan fokus itu kemudian dikompromikan oleh kepedulian-kepedulian lain yang dimediasikan lewat pelaporan tradisi-tradisi Galilei.

Sekalipun demikian, mulai saat itu, para pengikut Yesus, orang-orang Kristen purba itu, dan agama mainstream orang-orang Yahudi, mulai bergerak di rel yang terpisah. Dapatkah anda menerima hal itu? Apa yang sebenarnya terjadi?

Well, yang jelas sebelum perang hal ini belum begitu kentara. Saya lihat bahwa di saat itu gerakan Yesus masih merupakan salah satu option dalam apa yang kita identifikasikan sebagai Yudaisme, bangunan kompleks dari orang-orang dan institusi-institusi dan tradisi-tradisi  Israel kuno itu. Jadi Yesus adalah sebuah opsi baru di akhir abad pertama. Sebelum perang tidak jelas apakah opsi itu saling menolak terhadap opsi-opsi yang lain. Masih ada sesuatu dialog dengan bagian-bagian lain dari Yudaisme dan dialog-dialog itu jelas substantif, bahkan sekalipun mereka bukannya unproblematic. . . . .

Helmut Koester:

John H. Morison Professor of New Testament Studies and Winn Professor of Ecclesiastical History Harvard Divinity School

INJIL YOHANES BERDIRI TERSENDIRI

Injil Yohanes, tentu saja, berdiri terpisah dari ketiga injil yang lain. Salah satu alasannya adalah karena Mateus dan Lukas menggunakan sumber-sumber yang sama. Keduanya menggunakan injil Markus. Keduanya menggunakan apa yang disebut injil ucapan-ucapan sinoptik, dan karena itu kesamaan-kesamaan mereka begitu jelas, khususnya outline dari karya pelayanan Yesus. Nah, injil Yohanes mempunyai beberapa hubungan dengan sumber-sumber yang digunakan oleh injil-injil yang lain . . . . Narratif sengsara dalam Yohanes pada dasarnya sama dengan naratif sengsara dalam Markus, Mateus, Lukas, dan dalam injil Petrus. Hal lain yang sama dengan ketiga injil yang lain itu adalah rangkaian kisah-kisah mukjijat. . . . .

Apa yang membuat Injil Yohanes berbeda adalah elemen lain. Dan itu adalah elemen wacana-wacana dan dialog-dialog Yesus dengan murid-murid. Nah, apa ini? Mereka tidak bisa dibandingkan dengan kumpulan ucapan-ucapan Yesus seperti yang kita lihat dalam Khotbah di atas Bukit, misalnya. Mereka sangat berbeda, karena kumpulan-kumpulan ucapan itu dirangkai bersama-sama tanpa diselai oleh satupun pertanyaan dari murid-murid. Itu cuma kumpulan. Nah, apa yang kita lihat dalam Injil Yohanes bukanlah kumpulan materi-materi tradisional, melainkan sebuah permenungan mengenai materi-materi tradisional itu. Maksudnya, Injil Yohanes membangun pidato-pidato Yesus itu dalam usaha menginterpretasikan ucapan-ucapan tradisional Yesus.

Saya akan beri anda contoh yang sudah sangat gamblang, kisah tentang Yesus dan Nikodemus. Nikodemus mendatangi Yesus dan mengenali dia sebagai seorang guru besar, dia dari Allah, dan Yesus kemudian mengatakan sesuatu padanya—kenyataannya sebuah kutipan dari doa pembaptisan tradisional. “Kecuali kau dilahirkan kembali, kau tidak akan memasuki Kerajaan Allah.” Ucapan itu ditemukan dalam konteks-konteks lain; seorang apologis abad kedua, Justin Martyr, mengutip ucapan yang sama dalam laporannya mengenai liturgi pembaptisan Kristen. . . . . . . Nah, Yohanes mengambil ucapan itu sebagai dasar pengembangan dialog. Ia ubah sedikit ucapan itu, agar Nikodemus memahami kelahiran kembali itu bukan sebagai kelahiran oleh roh dari surga, melainkan sebagai sebuah kelahiran fisik, dan karenanya bertanya, “Bagaimana orang yang sudah sangat tua bisa kembali ke kandungan ibunya dan dilahirkan kembali?” Dan itu sekarang memberikan kesempatan untuk menjelaskan apa makna ucapan Yesus itu. Dan penjelasan itu memenuhi seluruh sisa bab itu . . . .

Pada dasarnya semua pidato utama Yohanes dikembangkan dari materi-materi ucapan tradisional. Dan apa yang menarik di sini adalah bahwa beberapa dari ucapan-ucapan itu mempunyai paralel dalam ucapan-ucapan yang kita temukan dalam injil-injil sinoptik. Tetapi beberapa dari ucapan-ucapan itu juga mempunyai paralel yang sekarang kita temukan dalam Injil Thomas. Jadi Yohanes menggunakan perangkat ucapan tradisional Yesus yang berbeda dari ketiga injil yang lain dalam  Perjanjian Baru.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

YESUS DALAM INJIL YOHANES

Yesus dalam Injil Yohanes sulit direkonstruksi sebagai seorang tokoh historis, sebab karakternya dalam injil itu, dengan suara penuh, memberikan solilokui-solilokui teologis yang sudah sangat dikembangkan mengenai dirinya sendiri. Itu bukan sesuatu yang anda usahakan untuk dimasukkan kedalam sesuatu konteks sosial yang akan memikat sejumlah besar pengikut. Sebab itu lebih merupakan proklamasi Kristen dan imajeri Kristen, dan sangat dikembangkan. Itu adalah Kristologi yang sudah sangat dikembangkan. Yesus pasti telah memperoleh pengikut lumayan besar, kalau tidak dia tidak akan dibunuh oleh Roma. Jika Yesus historis mengatakan hal-hal yang diucapkan oleh Yesus-nya Yohanes, barangkali dia akan lumayan aman. Akan sangat sulit bagi orang-orang Yahudi abad pertama untuk melacak apa yang Yesus ucapkan.

Apakah Yesus yang itu mempunyai musuh dalam injil ini?

Yesus dilukiskan sebagai mempunyai musuh-musuh di semua injil. Dalam Yohanes, sekali lagi, orang-orang Farisi ditampilkan dalam peranan mereka yang secara tipikal negatif. Imam-imam agung, dan imam-imam agung bergerak menentang Yesus dan mengatur serangan mendadak di Gethsemane. Tetapi dalam Yohanes tidak ada pengadilan di hadapan Sanhedrin. Tidak ada tatap-muka antara imam agung dengan Yesus dalam Yohanes seperti yang yang secara dramatis dilukiskan dalam Markus, di mana yang ada bukan hanya satu, melainkan dua pertemuan lengkap dari seluruh jajaran imam, malam sesudah hari Paskah yang sarat dengan peristiwa itu. Jadi, musuh-musuh Yesus sebenarnya diberikan untuk memberikan sesuatu dimensi pada persekongkolan politis itu.  Tetapi kisah Yesus-nya Yohanes sebenarnya adalah kisah tentang sosok ilahi yang datang dari surga dan menampakkan diri di bumi ini. Dan kemudian, sementara dia tergantung di kayu salib, dalam sebuah adegan yang anehnya sarat dengan pathos dan ketakutan itu, ia mengatakan, “Selesai.” Dan di titik itulah injil itu lengkap.

Mengapa penulis injil Yohanes ingin menggunakan sejarah dan memelintirnya sedemikian rupa untuk menghadirkan Yesus yang bertentangan dengan orang-orang Farisi?

Sebagaimana setiap orangtua yang mempunyai anak umur dua tahun ketahui, dua kata pertama yang dikuasai oleh seorang anak kecil ketika membentuk identitasnya sendiri adalah  “Punyaku” dan “Jangan.” Dan saya kira jika kita menengok Injil Yohanes, apa yang kita lihat adalah suatu permusuhan yang sangat arsitektural, yang dibangun dalam kisah tentang Yesus. Sebab komunitas itu tengah mengembangkan identitasnya sendiri terlepas dari sinagoga di seberang jalan. Maksud saya, dalam pengertian tertentu, jika kita membuang Injil Yohanes dari kano Kristen, andaikata kita tidak menempatkannya di samping Mateus, Markus, dan Lukas, dan sebagai gantinya, jika kita menempatkan Injil Yohanes di samping kumpulan kitab-kitab Laut Mati, kita akan melihat isu-isu yang diperdebatkan oleh orang-orang Yahudi sepanjang segala abad. Anda tahu lah . . . . si A adalah Pangeran Kegelapan, si B brengsek, ini adalah satu-satunya jalan kebenaran . . . . dinamika macam itulah yang kita peroleh, yang membentuk cara Yohanes menyajikan kehidupan Yesus dalam injil yang satu itu.

Lebih lanjut mengenai Injil Yohanes, baca esei karya Marilyn Mellowes.

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/first/kingdoms.html.

Terjemahan: Bern Hidayat, 31 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: