“Gerakan Yesus”

27/01/2010

Respon para pengikut Yesus di hari-hari traumatik setelah kematiannya

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

KEBANGKITAN KEMBALI

Gerakan yang berawal di seputar Yesus itu pasti telah mengalami kemunduran yang traumatik dengan kematiannya. Bukan saja ternyata Messias bisa mati, tetapi juga bahwa ternyata tidak terjadi apa-apa. Kerajaan itu tidak datang saat itu juga sebagaimana dahulu mereka harapkan. Untuk sesaat kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada para pengikut Yesus. Rupanya mereka menjadi cerai-berai, tetapi tak lama kemudian rupanya mereka menyadari bahwa sesuatu memang telah terjadi. Sesuatu yang mengubah perspektif mereka mengenai siapa Yesus itu dan apa arti dia bagi masa depan gerakan itu, dan inilah yang kami ketahui tentang kebangkitan kembali. Nah, tidak jelas apa yang terjadi dalam kebangkitan kembali itu. Kita tidak tahu persisnya bagaimana hal itu terjadi, tetapi satu hal yang kita tahu persis adalah bahwa para pengikut Yesus percaya betul bahwa ia telah dibangkitkan dari antara orang-orang mati dan telah dibawa ke surga sebagai pembenaran atas identitas messianiknya. Dia adalah Tuhan yang disalibkan dan dibangkitkan kembali . . . . . Kisah kebangkitan kembali itu membawa perspektif yang berbeda pada pemahaman tentang Yesus. Jika ia menganggap dirinya sebagai seorang nabi, seorang pembawa pesan Allah, itu berubah ketika ia sendiri dibangkitkan oleh Allah dari kematian. Sekarang ia orang yang dibenarkan, dan sebenarnya kepercayaan pada pengalaman kebangkitan kembali itulah yang membuat murid-murid kemudian menganggap Yesus sebagai lebih dari sekedar seorang nabi. Sebagai Messias sendiri. Dia adalah orang yang dibenarkan oleh Allah dengan diangkat ke surga sebagai anak Allah.

Barangkali di hari-hari awal setelah kematian Yesus itulah gerakan itu benar-benar mulai berreorganisasi di seputar ingatan tentang dirinya. . . . . barangkali sangat tergantung pada pemahaman yang semakin menguat bahwa ia telah dibangkitkan dari kematian. Rupanya hal itu beredar dengan sangat cepat di antara para pengikutnya, tetapi bentuk paling awal dari gerakan itu masih sepenuhnya berupa sebuah sekte dalam Yudaisme. Ia adalah seorang Messias Yahudi. Mereka adalah pengikut-pengikut dari sebuah tradisi apokaliptik Yahudi. Mereka mengharapkan kedatangan Kerajaan Allah di atas bumi. Itu adalah sebuah gerakan Yahudi.

. . . . . Bentuk-bentuk paling awal dari gerakan Yesus itu barangkali berupa kelompok-kelompok sektarian yang kecil. Sedikit-dikitnya satu dari kelompok-kelompok itu rupanya berbasis di Yerusalem, tetapi mungkin juga ada kelompok-kelompok lain yang tersebar di seantero negeri. Kemungkinan besar sedikit-dikitnya ada satu atau dua kelompok di Galilei. Jadi kita harus memikirkan hari-hari paling awal dari gerakan Yesus itu sebagai kantong-kantong aktivitas sektarian yang sangat kecil yang semuanya terfokus pada identitas Yesus sebagai Messias.

. . . . . Nah, siapa anggota dari kelompok-kelompok paling awal itu? Ini sangat sulit dipastikan.  Kita mengetahui beberapa nama terutama dari Perjanjian Baru itu sendiri. Di Yerusalem ada Yakobus, saudara Yesus, yang menjadi pemimpin kelompok selama satu generasi penuh. Kita mendengar tentang orang-orang lain. Ada seorang wanita yang bernama Maria. . . . . Ada orang-orang lain lagi dalam kongregasi Yerusalem itu termasuk Petrus dan beberapa dari murid-murid asli Yesus, tetapi di luar itu kita hanya mengetahui segelintir nama, dan mereka pasti merupakan kelompok-kelompok sangat kecil yang berpegangan erat pada kepercayaan-kepercayaan dan pengharapan-pengharapan mereka sementara pada saat yang sama masih mengikuti tradisi Yahudi mereka.

KARISMATIK PENGEMBARA

Salah satu indikasi paling awal yang kita miliki tentang gerakan Yesus itu adalah apa yang cenderung kita sebut “karismatik pengembara”—para nabi dan pengkhotbah pengembara, yang senantiasa mengatakan kerajaan surga sudah dekat, dengan meneruskan warisan khotbah Yesus—mungkin. Mereka bepergian ke mana-mana, tanpa bekal uang, tanpa pakaian ekstra. Jadi mereka mungkin harus melakukan mukjijat-mukjijat dan menyembuhkan orang-orang sakit tanpa bayaran, tetapi kemungkinan besar mereka mengemis untuk mendapatkan makanan. Itu adalah gambaran yang berbeda tentang bentuk paling awal gerakan Yesus, berbeda dari yang kita harapkan ketika membaca halaman-halaman Perjanjian Baru, tetapi itu toh masih tetap dalam tradisi yang ada. Kita bahkan mendengar di jaman Paulus bahwa ia bertemu dengan orang-orang yang datang dari Yudea, dengan pesan injil yang berbeda, dan rupanya itu adalah karismatik pengembara yang sama seperti yang kita sering dengar di tahap-tahap awal gerakan Yesus.

Gerakan Yesus adalah sebuah sekte. Bagaimana perilaku sebuah sekte? Salah satu dari yang harus mereka lakukan adalah, mereka harus membuat jarak antara mereka dengan lingkungan kultural mereka yang dominan. Sebuah sekte selalu muncul dalam sebuah komunitas dengan siapa sekte itu berbagi seperangkat kepercayaan, dan kemudian ia perlu menemukan sesuatu mekanisme untuk membedakan dirinya sendiri. Jadi, kelompok-kelompok sektarian selalu berada dalam ketegangan dengan lingkungan mereka. Ketegangan itu dimanifestasikan dengan berbagai cara—kontroversi-kontroversi mengenai kepercayaan dan praktek; ide-ide yang berbeda mengenai kesucian dan kesalehan. Tetapi, manifestasi lain dari ketegangan tadi, adalah kecenderungan untuk ingin menyebar-luaskan pesan, untuk turun ke jalan dan meyakinkan orang-orang lain bahwa kebenaran itu riil.

Wayne A. Meeks:

Woolsey Professor of Biblical Studies Yale University

AWAL GERAKAN YESUS

Dalam hal apa para pengikut terawal Yesus, kultus-kultusnya, kalau boleh dikatakan begitu, serupa dengan kultus-kultus di dunia kafir dan dalam hal apa mereka beda?

Kristianitas diawali sebenarnya sebagai sebuah sekte dalam Yudaisme. Satu dari sekian banyak sekte yang kita ketahui dari masa yang sama. Josephus memberitahu kita tentang sejumlah nabi yang muncul dan menghimpun pengikut dan dilenyapkan oleh para Gubernur Romawi dan pengikut-pengikut mereka cerai-berai, dan jika anda membaca tentang rentetan pemberontakan yang dibicarakan oleh Josephus, dan tentang nabi-nabi yang datang dan menjanjikan akan membelah air sungai Yordan, dan sebagainya dan sebagainya, membuat tembok kota Yerusalem roboh, dan mereka berhasil menghimpun pengikut dan kemudian pemimpin mereka ditangkap dan dia mati dan—itulah akhir ceritanya, . . . . . dan cerita yang kita miliki tentang Yesus dan injil pas betul dengan rentetean kisah-kisah itu.

Tetapi justru itulah misteri yang bertahan sampai sekarang dan yang membuat para sejarawan tergelitik. Tidak satu pun dari kelompok-kelompok pengikut tadi menyisakan kisah hidup. Mereka tidak menciptakan sejarah, jadi kenapa yang satu ini beda? Para pengikut Yesus, entah bagaimana caranya, ternyata beda, dan pertanyaan inilah, yang akhirnya barangkali tak akan bisa dijawab— inilah hal yang pada hemat saya mendorong orang-orang seperti saya untuk berusaha keras menyimak sumber-sumber yang kita sebut Perjanjian Baru itu dan literatur Kristen purba lain dan menyelidiki konteks ini dan itu dan melakukan penggalian arkeologi dan segala macam tetek bengek itu. . . . pada akhirnya  berusaha untuk menyusun perkiraan, mengapa kelompok yang satu ini beda dari kelompok-kelompok yang lain.

MENJELASKAN “RAJA ORANG YAHUDI”

Apakah para pengikut Yesus mengajukan klaim yang agak luar biasa mengenai dia? Apa yang mereka katakan?

Kisah tentang para pengikut Yesus, dari sudut pandang tertentu, dimulai dengan sesuatu yang, ironisnya, dikatakan oleh Pilatus mengenai Yesus. Salah satu fakta yang tampak mengemuka dari kisah-kisah tentang Yesus, kisah-kisah paling awal yang kita padukan kedalam injil-injil itu, adalah bahwa ia disalib dengan sebuah plaket yang berbunyi, “Raja Orang Yahudi.” Kira-kira apa artinya? Dari sudut pandang Pilatus. . . ., ini dia, orang yang berpotensi menjadi pemimpin pemberontakan melawan Romawi. Dan ia ingin mengibarkan sebuah pesan sarkastik. Ia memilih bentuk kematian yang paling merendahkan yang tersedia saat itu. . . . . yang dikhususkan untuk para budak. Itu adalah sebuah penistaan, dan berarti ingin memelintir apa yang sedang terjadi. . . . di mata publik yang menyaksikannya. Jadi, Pilatus praktis mengatakan, “Lihat nih, beginilah nasib Raja Orang Yahudi.”

Para pengikut Yesus, yang tidak bubar sebagaimana diharapkan. . . . . harus menghadapi pertanyaan yang sangat mendasar itu—apa artinya, orang yang selama ini kita harap-harapkan ternyata disalib? Bagaimana kita harus menghadapi hal ini, bukan sekedar menghadapi akhir kehidupan ini, melainkan akhir kehidupan yang sangat memalukan ini? Dan, yang mencengangkan, mereka bilang, “Hey, Pilatus benar dong! Dia Raja Orang Yahudi, dan lebih-lebih lagi, Tuhan telah membenarkan klaim itu, bahwa ia adalah Raja Orang Yahudi, dengan jalan mengangkatnya ke surga.”  Nah, di sinilah gerakan Yesus itu, jika dipahami dengan benar, diawali—yaitu dari usaha memahami fakta keras. . . . . .

Interpretasi yang pertama itu okay, “Pilatus membunuh dia,  tetapi Tuhan membangkitkan dia dari kematian.” Itu adalah awal dari segala-galanya. Itu adalah sebuah tindak interpretasi, itu berarti mengatakan, “Ini belum final.” Potongan interpretasi yang kedua adalah mengatakan, yes, “Raja Orang Yahudi,” apa kira-kira artinya? Jelas itu tidak berarti “Raja Orang Yahudi” sebagaimana satu generasi kemudian, Bar Kochba, berusaha menjadi Raja Israel dan memulihkan kerajaan politis Israel, terbebas dari penjajahan orang-orang Romawi. Tak mungkin itu artinya— jadi, lalu apa? Dan karena itu orang-orang Kristen purba, sebagaimana khas orang-orang Yahudi, mereka mulai membolak-balik kitab-kitab, mencari-cari petunjuk yang tersembunyi di sana-sini, yang belum pernah diperhatikan orang. . . . . Mereka mulai mencari janji-janji dalam alkitab tentang seorang raja terurapi yang akan datang di akhir jaman, sebuah gagasan yang juga ada di benak banyak orang Yahudi lain, pada saat yang sama. Jadi, di sinilah awal dari segala hal, dimulai dari proses interpretif ini, yang tentu saja lalu mengarah ke segala penjuru.

Helmut Koester:

John H. Morison Professor of New Testament Studies and Winn Professor of Ecclesiastical History Harvard Divinity School

ORANG-ORANG KRISTEN PURBA MENGGUNAKAN KITAB HIBRANI

Apa Injil Petrus itu, dan apa yang signifikan mengenai hal itu?

Dalam keempat injil Perjanjian Baru itu kita mendapatkan kisah-kisah sengsara, kisah-kisah tentang penderitaan dan kematian Yesus. Di luar kanon Perjanjian Baru itu, kita hanya mempunyai satu lagi kisah yang lebih ekstensif mengenai penderitaan dan kematian Yesus, dan yang muncul dalam Injil Petrus. Eusebius dari Kaisaria, sejarawan gereja paling tua dari awal abad ke-4, bercerita tentang fakta bahwa dahulu ada Injil Petrus yang digunakan oleh beberapa komunitas di Siria. Tetapi tidak satu orang pun tahu apa yang ada dalam injil itu, sampai pada abad yang lalu, ketika diketemukan papirus yang berupa sebuah amulet kecil yang dikenakan di leher seorang serdadu dan yang dikubur bersamaan dengan serdadu itu, dan ketika dibuka, ternyata di dalamnya ada teks yang menceritakan kisah tentang penderitaan dan kematian dan kebangkitan kembali Yesus. Tetapi kisah itu diceritakan dengan cara sedemikian rupa sehingga orang berasumsi bahwa kisah itu tidak tergantung pada injil-injil kanon yang kita miliki. Tetapi bahwa setidak-tidaknya sebagian dari injil yang ini mengacu pada kisah yang sama, tetapi bersumber dari tradisi lisan penceritaan kisah itu, atau dari sesuatu injil yang lebih tua sebagaimana diyakini oleh beberapa orang ahli, yang dilestarikan dalam teks ini. Apa yang menarik pada Injil Petrus ini adalah bahwa injil itu, dalam beberapa hal,  dengan lebih jelas menunjukkan ketergantungan langsung naratif sengsara itu pada ramalan dan mazmur-mazmur dan kisah-kisah tentang pelayan yang menderita dari Kitab Hibrani, dan dengan demikian memberi kita sebuah wawasan mengenai pengembangan narasi sengsara. . . . .

Saya tidak beranggapan bahwa [di masa sesudah kematian Yesus] murid-murid kemudian berusaha mencari kisah-kisah yang benar dalam Kitab-kitab Hibrani [untuk menjelaskan sengsara dan kematian Yesus]. Lebih tepat lagi, teks-teks dari Kitab Hibrani itu memang sudah menjadi bagian dari teks-teks bacaan reguler mereka, sudah menjadi bagian dari ibadah mereka. Kita tahu bahwa dalam sinagoga Yahudi teks-teks alkitab akan dibaca dan akan ditafsirkan. Jadi murid-murid Yesus pasti sudah menghayati teks-teks itu dan pasti telah membawa sesuatu penjelasan mengenai penderitaan di atas bumi bersama mereka, yang sudah menjadi bagian dari kehidupan ibadah mereka, bagian dari diskusi-diskusi mereka mengenai meditasi-meditasi mereka di masa itu. Jadi bukannya ada orang yang melangkah surut, lalu mengatakan, “okay, mari kita cari teks atau kitab yang benar yang akan pas betul.” Lebih tepat lagi, berangkat dari keterlibatan yang mendalam dalam sesuatu tradisi keagamaan yang menjadi pusat kehidupan ibadah komunitas-komunitas Yahudi itulah maka kisah-kisah tentang Yesus itu bermunculan, yang dalam perjalanan waktu lalu menggunakan kata-kata yang sama, bahasa yang sama, imaji-imaji yang sama, untuk menggambarkan sengsara Yesus.

[Misalnya], pertanyaan mengenai pelayan yang menderita itu terkait erat dengan Yesaya 53. Dan Yesaya 53, di kebanyakan gereja Kristen, biasanya menjadi teks dari Perjanjian Lama yang dibaca pada hari Jumat Agung sebagai prefigurasi kematian Yesus. Siapa pelayan yang menderita itu dari dulu sampai sekarang menjadi bahan perdebatan di antara para ahli Perjanjian Lama. Apakah dia Yesaya sendiri yang menggambarkan dirinya sendiri sebagai pelayan yang menderita? Atau mungkinkah pelayan yang menderita itu ternyata Musa? Dan teks itu menceritakan aspek yang berbeda mengenai kisah tentang Musa—bukan Musa sebagai pemimpin yang membawa bangsanya keluar dari Mesir, melainkan Musa sebagai manusia yang akhirnya mati dan yang tidak bisa melihat Tanah Suci, dan Musa yang, sebagaimana disebutkan dalam Deuteronomy, bahkan kuburannya saja tidak bisa ditemukan. . . . .

Kisah itu telah secara mendalam mempengaruhi tradisi Yahudi jauh sebelum masa Kristen purba, terkait dengan pemahaman mengenai orang yang lurus. Bagaimana bisa dipahami bahwa orang yang lurus di dunia ini harus menderita? Dan jawaban atas pertanyaan itu ditemukan dalam kisah tentang pelayan yang menderita dalam Yesaya 53. Dan itulah kisah yang rupanya menjadi tujuan orang-orang Kristen di masa yang masih sangat awal itu—untuk menemukan pemahaman mengenai apa makna sengsara dan kematian Yesus.

Judul asli: “The Jesus Movement”

Sumber: www.pbs.org/wgbh/frontline.

Terjemahan Bern Hidayat, 4 November 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: