Galilei

27/01/2010

Seringkali digambarkan sebagai daerah air tenang yang cocok untuk beternak, Galilei terkenal karena pergolakan politik, kejahatan, dan pemberontakan-pemberontakan pajak.

Allen D. Callahan:

Associate Professor of New Testament, Harvard Divinity School

IKLIM POLITIK GALILEI

Tempat seperti apa Galilei di jaman Yesus? Apakah itu tempat pedesaan kecil yang tenang, tenteram, dan damai?

Secara fisik memang tampaknya seperti itu. Tetapi daerah itu terkenal sebagai sarang aktivitas politik dan beberapa di antaranya dengan kekerasan. Nah, saya ingin memberinya sedikit nuansa. Khususnya dalam beberapa generasi terakhir teks-teks Perjanjian Baru, Galilei mendapatkan reputasi sebagai sarang radikalisme—katakanlah, Berkeley-nya Palestina, Berkeley masa ‘60an lho. Tetapi dalam konteks historis, daerah itu senantiasa merupakan daerah yang dipersengketakan . . . . sudah sejak jaman kuno. . . . selalu ada bauran aneka macam orang di daerah utara Palestina, khususnya ketika orang-orang pada pindah ke pantai . . . .

Galilei mempunyai tradisi otonomi politis. Tradisi-tradisi utara yang masuk kedalam Injil Yahudi itu dipengaruhi oleh sensibilitas politis tentang otonomu ini. Itu adalah suatu ideal yang anarkistis-semu, bahwa konfederasi kesukuan yang longgar itu secara langsung diperintah oleh Allah. Dan ide-ide serta ideal tadi tetap bertahan hidup di Palestina utara. Sekarang beberapa sarjana memperdebatkan hal ini, tetapi pada hemat saya kita bisa melacak adanya sebuah garis dari momen historis yang digambarkan dalam Kitab Hakim-Hakim, bukan ketika Kitab Hakim-Hakim ditulis, melainkan momen historis yang ingin digambarkannya, melalui siklus Eliyah dan tradisi-tradisi Eliyah, 1 Raja-Raja, yang berbicara tentang pengangkatan dan pendepakan raja-raja, dari jaman lampau sampai ke jaman Yesus.  Memang bukan garis yang tidak terputus, melainkan sebuah tradisi otonomi politis yang sudah berumur ratusan tahun  di bawah Allah Israel. Dan karena itu hal ini membuat imperialisme asing menjadi gagasan yang sangat problematik di Palestina utara. Karena orang-orang, saya kira, mempunyai kesadaran yang nyaris kolektif mengenai ideal Israel kuno ini.  Yang tidak dimiliki oleh semua orang Israel, tidak di seantero Israel. Tetapi saya kira akan menarik untuk merekonstruksi kesadaran ini di utara. Dan saya kira itu adalah elemen utama dengan mana kita bisa menjelaskan iklim kegelisahan politis di Palestina utara, di daerah Galilei.

Dan apa manifestasi kegelisahan  itu?

Istilah bandit ini sangat problematik. Istilah ini memiliki segala macam konotasi pejoratif. Dan bandit untuk satu orang bisa menjadi teroris un tuk orang lain. Dan sulit untuk membedakan di bawah kondisi-kondisi ekonomis dan politis tertentu kapan istilah yang pas adalah bandit sebagaimana kita mendefinisikannya dan kapan istilah yang pas adalah terorisme. Jika anda cuma merampok orang dan menggelundungkannya ke tengah jalan raya, maksud saya, itulah bandit, sebagaimana kebanyakan orang mendefinisikannya. Tetapi jika anda merampok orang kaya untuk memberi orang-orang miskin, itu tidak tepat dikatakan bandit. Atau setidak-tidaknya itu bandit dengan sedikit nuasna politis, dan itu berarti itu tidak bisa hanya dianggap sebagai pelanggaran hukum dan ketertiban saja. Dan saya kira kesulitan macam inilah yang kita temui ketika kita berusaha untuk secara historis merekonstruksi apa yang sedang terjadi di sana. Maksud saya, beberapa tengah terlibat dalam suatu perlawanan yang diwarnai dengan kekerasan menentang status quo, dan itu berarti di bawah rejim itu, sebagaimana di bawah kebanyakan rejim lain, adalah pelanggaran hukum.

Jadi apa yang oleh orang-orang Romawi atau pejabat pemerintah dianggap pelanggaran hukum ternyata mungkin memiliki kandungan sosial atau politis?

Saya kira orang-orang Romawi sendiri jauh lebih peka ketimbang banyak sarjana atau sejarawan yang menulis secara “after the fact” . . . . Josephus, si sejarawan Yahudi itu, menceriotakan pada kita sejumlah cerita tentang tokoh-tokoh yang karisnya secara kasar bisa disampaikan sebagai berikut: ada orang yang bangun di pagi hari dan ia mengira dirinya Messiah atau entah apa. Atau ia seeorang nabi dan ia mengumpulkan sekelompok orang untuk mengikutinya. Ia bilang kita akan masuk ke gurun pasir dan kita akan pergi ke tempat kosong. Kita akan pergi keluar sana dan kita akan menunggu Tuhan. Jadi segerombolan orang pergi bersamanya, mungkin sampai ribuan, pergi bersamanya ke padang pasir, ke tempat yang tidak aman itu, dan mereka menunggu apa yang oleh Josephus disebut “tanda-tanda pembebasan mereka.” Dan orang-orang Romawi mengirimkan polisi mereka yang ganas dan secara keji membunuh semua orang.

Nah, saya kira penting bagi kita untuk memahami logika politik yang bekerja di sini. Ketika aksi polisi macam itu dilakukan terhadap apa yang mungkin kita sebut orang-orang fanatik yang sebenarnya tidak berniat merusak apapun, orang-orang Romawi memberi kita sebuah pelajaran historis penting tentang bagaimana dominasi bekerja. Dengan menggunakan istilah jaman sekarang, misalnya, mereka tidak menghormati kebebasan berkumpul di propinsi-propinsi. Apapun kelompoknya, asal sebesar itu, bahkan andaikata mereka hanya piknik, pasti akan dianggap ancaman bagi keamanan Romawi, dan orang-orang Romawi menanganggapinya sebagai ancaman itu pula . . . .

Dan saya rasa Josephus mempunyai sejumlah motivasi untuk bercerita pada kita seperti itu, tetapi salah satu dari motivasi Josephus dan salah satu dari apologianya untuk kisah-kisah itu, adalah bahwa ia ingin menunjukkan bahwa segerombolan orang fanatik di Palestina tengah berkeliaran ke mana-mana dan menimbulkan onar, memprovokasi orang-orang lokal. Dan bahwa orang-orang itu tidak ebrtanggung-jawab dan mereka tidak representatif. Dan bahwa orang-orang Romawi bisa menindak mereka dengan cepat. Inti Josephus adalah bahwa mereka fanatik, mereka bukan orang-orang yang bertanggung-jawab. Mereka bukan orang-orang yang seperti Josephus, misalnya.

Eric Meyers:

Professor of Religion and Archaeology,  Duke University

GALILEI

Galilei, yang menjadi lokasi sebenarnya dari sebagian besar pelayanan Yesus dan yang menjadi pusat pembelajaran Yahudi sejak abad pertama dan kedua. . . ., adalah salah satu dari lanskap paling indah di seantero kawasan Timur Tengah. Dan kita bisa membeda-bedakannya dengan mudah karena hanya ada tiga rute trans-Galilei utama yang menghubungkannya dari timur ke barat, dan hanya beberapa jalan yang membentang dari utara ke selatan. Tentu saja pegunungan Jordan itu menjadi garis pembatas utara selatan utama, dan itu membentang sampai ke Gunung Hermon di sudut timur laut negeri Israel, dan itu adalah batas paling utara Galilei. Rute timur-barat utama yang memisahkan Galilei atas dari Galilei bawah membentang dari Haifa/Acco, yang di masa itu bernama Ptolemais kuno, sampai ke Capernaum, melintasi pantai barat Laut Galilei. Dan ada sebuah jalan Romawi yang memisahkan utara dari selatan, Galilei atas dari Galilei bawah di Lembah Beth Ha-Kerem, dan cerita Josephus pada kita sangat eksplisit mengenai kedua wilayah Galilei ini.

Galilei atas tidak memiliki kota sama sekali. Ini daerah pedesaan—terpencil. Lokasinya di bukit-bukit tertinggi negeri Israel . . . . . daerah sangat terpencil sepanjang perbatasan apa yang sekarang kita sebut Lebanon, dan gunung-gunung yang tinggi, dan lereng-lereng yang sangat berbahaya, yang terisolasi karena topografinya dan sifat alamnya sendiri.

Dengan menyusuri rute trans-Galilei pertama ini, Capernaum, Acco, yang kurang lebih melintasi peta itu, turun ke selatan, anda mendapatkan bukit-bukit rendah dari Galilei bawah. Dan ini adalah daerah yang mempunyai dua kota: Sepphoris dan Tiberius, yang keduanya didirikan oleh Herodes Antipas. Tiberius adalah kota baru yang baru saja ia bangun—satu-satunya kota yang didirikan sepenuhnya baru di abad pertama. Dan kedua kota itu menjadi jangkar populasi Yahudi Galilei, dan banyak sekali aktivitas yang kita asosiasikan dengan semua event penting abad pertama berlokasi di kedua kota itu. Salah satu perbedaan paling penting antara Galilei atas, yang semakin ke utara juga semakin terpencil, dengan Galilei bawah, yang berbatasan dengan Laut Galilei di timur, adalah bahwa di utara orang-orang pada berbahasa Aramaik dan Hibrani, sementara orang-orang di selatan selain berbahasa Aramaik dan Hibrani banyak sekali yang berbahasa Yunani. Selain itu, di selatan ada sikap yang lebih longgar terhadap perintah Allah yang kedua, terhadap membuat patung-patung dan dekorasi. Di utara kita menemukan candelabra, minarot, dan kita menemukan simbol-simbol lain, tetapi tidak ada simbol-simbol piktorial sebagaimana banyak ditemukan di selatan.

Jelas bahwa kedua Galilei itu memberi kita sebuah gambaran minatur mengenai pluralitas yang klita temukan dalam Yudaisme di masa penjajahan Romawi. Yang jelas bagian utara Israel lebih konservatif , dan bagian Galilei bawah kurang konservatif dan lebih terbuka terhadap perubahan, dan itu tercermin dalam sistem jalan dan semua lalu lintas yang berlangsung di sana.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

POLITIK GALILEI

Galilei, sepanjang jaman Yesus, diperintah oleh salah seorang dari anak-anak lelaki Herodes. Jadi daerah itu diperintah persis sebagaimana kerajaan ayahnya dulu diperintah, yaitu sebagai sebuah kerajaan klien kecil. Itu berarti bahwa politik lokal di daerah kelahiran Yesus itu sedikit berbeda daripada di daerah-daerah Yudea di bawah para Gubernur Romawi.

. . . . di kerajaan klien, Raja sendiri adalah penguasa tertinggi yang absolut. Ia diberi banyak kebebasan oleh orang-orang Romawi, karena yang harus ia lakukan pada dasarnya hanya memungut pajak untuk dirinya sendiri. Dan ia berkuasa atas hal-hal lain. Jadi kontrol atas wilayah utara dalam beberapa hal lebih independen, dan lalu lintas perdagangan yang kita lihat di daerah utara itu menunjukkan pada kita sejauh mana pertemuan dari kebudayaan-kebudayaan yang berlainan di utara itu mulai menjadi sangat penting dalam kehidupan yang tengah berkembang di daerah itu.

Orang-orang menggunakan istilah “Galilei” secara khusus. Apa konotasi menjadi “orang Galilei”?

Istilah Galilei rupanya sudah digunakan dengan berbagai cara di masa itu. Bagi sementara orang, itu hanya berarti “orang luar,” atau orang yang bukan Yahudi tradisional. Persisnya karena orang-orang Galilei bukanlah Yahudi tradisional pada masa Pemberontakan Makabe seratus atau 150 tahun sebelum Yesus. Tetapi dari perspektif lain, “Galilei” juga mengandung nuansa menjadi pemberontak, atau pembangkang. Persisnya karena kita mengetahui beberapa orang di kawasan itu yang memberontak terhadap, pertama, pemerintahan Herodes, dan kemudian anak-anak lelakinya, lalu orang-orang Romawi sendiri. Jadi bagi sementara orang, istilah Galilean juga berarti sesuatu yang bersifat politis.

PERGOLAKAN POLITIS DAN RESPON ROMAWI

Pembangkangan sosial?

. . . . Karena posisinya yang jauh dari Yerusalem, Galilei mungkin menjadi, bukan pusat pembangkangan sosial, melainkan protes ekonomis. Rupanya apa yang bisa kita sebut “social banditry” tengah marak. Salah satu dari tokoh-tokoh paling terkenal dari jenis ini adalah orang yang bernama Yudas si Orang Galilei.

Apa yang terjadi padanya?

Judas si Orang Galilei itu sendiri akhirnya tertangkap dan dieksekusi oleh anak-anak Herodes, tetapi keluarganya sendiri melanjutkan tradisi pemberontakan itu. Kita mendengar tentang dua lagi anak lelakinya dalam pertengahan tahun 40an M, yang tertangkap dan disalib oleh Gubernur Romawi, Tiberius Julius Alexander. Ini cerita yang agak ironis. Di sini ada tradisi protes yang berjalan terus menentang pemerintahan Romawi, tetapi Gubernur sendiri, Tiberius Julius Alexander, sebenarnya adalah orang Yahudi. Dia keponakan dari Philo, filsuf Alexandria yang Yahudi itu. Tetapi justru dia yang memerintahkan agar mereka dieksekusi akibat pemberontakan politis mereka.

Siapa yang disebut “si Orang Mesir” itu?

Kita mendengar tentang sejumlah tokoh lain di masa itu yang mencerminkan sedang maraknya social banditry dan protes politis. Salah satu dari yang paling menarik dan terkenal adalah seorang tokoh yang terkenal dengan sebutan “si Orang Mesir.” Kita tidak mengetahui namanya yang sebenarnya. Rupanya dia berasal dari Mesir. Tetapi menurut Josephus, ia adalah orang yang memiliki kekuatan gaib dan berhasil mengumpulkan banyak pengikut dari kalangan orang-orang biasa. Rupanya pada suatu saat ia memimpin rombongan pasukannya naik ke Gunung Zaitun, memandang ke bawah ke arah Bait Allah di seberang. Dan Josephus mengatakan bahwa sebagai seorang nabi palsu . . . . dan itu cara favorit Josephus dalam menceritakannya . . . . sebagai seorang nabi palsu, orang Mesir itu menjanjikan pada mereka bahwa ia akan memimpin orang-orang biasa itu masuk ke Yerusalem dan merebut Bait Allah. Mereka akan menjadikan dia Raja mereka, dan mereka akan menjadi pengawal-pengawal kebesaran kerajaan.

Dan apa yang terjadi padanya?

Well, orang-orang Romawi mempunyai respon standar untuk orang seperti itu. Mereka langsung mengirim pasukan berkuda, ditambah unit-unit pendukung apapun yang tersedia. Respon mereka cepat dan tegas. Tangkap pemimpinnya, bubarkan yang lain. Biasanya si pemimpin ditangkap, atau dieksekusi langsung di tempat. Gerombolan yang lain, begitu sebutan orang-orang Romawi untuk mereka, dibubarkan, dalam beberapa kasus secara brutal.

Apakah itu yang terjadi pada Orang Mesir itu?

Kali ini si Orang Mesir itu rupanya berhasil kabur. Kebanyakan yang lain tidak. Dan karena itu si Mesir itu menjadi hidup terus dalam ingatan orang-orang sampai bertahun-tahun, karena ia tidak berhasil dieksekusi.

Judul asli: “Galilee”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Alih bahasa: Bern Hidayat, 20 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: