Diaspora Yahudi

27/01/2010

Komunitas-komunitas Yahudi, yang tersebar di seluruh penjuru Kekaisaran Romawi, menjadi wahana untuk mewartakan “kabar gembira” Yesus Kristus.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

Diaspora

Ketika kita melihat orang-orang Kristen mulai menyebar keluar dari lingkungan negeri asli mereka sendiri, mereka mengikuti  jalur yang telah banyak dilalui orang Yahudi yang lain sebelum mereka. Memasuki pertengahan abad pertama, barangkali ada lebih banyak orang Yahudi di luar negeri asal ketimbang yang tinggal di Yudah itu sendiri. Itu adalah apa yang kita sebut Diaspora—tersebarnya populasi Yahudi di seluruh penjuru Kekaisaran Romawi—dan kita tahu bahwa ada komunitas-komunitas Yahudi besar di sebagian besar kota-kota besar di Kekaisaran, dari Teluk Persia di timur sampai Spanyol di barat. Itu adalah penyebaran populasi Yahudi paling luas sepanjang masa Romawi.

Jadi, ada hubungan yang seperti apa antara orang-orang Yahudi dengan komunitas-komunitas dalam mana mereka berada?

Dan komunitas-komunitas Yahudi di lingkungan Diaspora itu menghadapi sejumlah tantangan. Bagaimana anda memelihara identitas dan kesalehan tradisional Yahudi anda, dan pada saat yang sama menempatkan diri dalam tradisi-tradisi sosial dan kultural kota-kota Yunani dan Romawi? Di beberapa lokal, kita mendapatkan orang-orang Yahudi yang berpartisipasi di theater atau dalam aspek-aspek kehidupan sehari-hari yang normal. Di kota-kota lain, kita mendapatkan orang-orang Yahudi yang mengalami penindasan, dan terkesan membuat jarak dengan lingkungan lokal. Jadi, bervariasi dari kota yang satu ke kota lainnya—situasi hidup orang-orang Yahudi itu. tetapi secara keseluruhan, Yudaisme di Diaspora bisa mengakomodasi sejumlah besar kebudayaan Hellenistik. Bahasa normal bagi orang-orang Yahudi di Diaspora adalah Yunani. Di Diaspora lah Alkitab diterjemahkan dari bahasa Hibrani ke bahasa Yunani vernakuler. Jadi, belakangan, ketika kita mendapatkan Paulus mengutip alkitab, ia tidak mengutip Alkitab Hibrani. Dia mungkin malah tidak mengenal Alkitab Hibrani itu secara langsung. Ia mengutip kitab yang dalam bahasa Yunani.

POPULASI YAHUDI DI ROMA DAN OSTIA

Ada komunitas-komunitas Yahudi sangat besar di beberapa kota besar Romawi. Roma sendiri mempunyai sekitar 10 jemaat sinagoga yang berlainan, dan populasi Yahudi di Roma pada waktu puncaknya diperkirakan mencapai 100.000. Sayangnya kita tidak mempunyai  bukti arkeologis mengenai bangunan-bangunan sinagoga aktualnya di kota Roma, tetapi untung sebuah penemuan arkeologis belum lama ini dari kota bandar Ostia menunjukkan pada kita kongregasi yang seperti itu, dalam settingnya yang sangat nyata.

Jika anda berjalan-jalan menyusuri kota Ostia, anda menyaksikan sebuah mikrokosmos kota Roma sendiri, di abad pertama. Itu adalah sebuah Roma kecil, dan ketika anda anda menyusuri jalan-jalan utama di tengah kota Ostia, dan anda keluar dari gerbang dekat pelabuhan, terus menyusuri jalan, anda menemukan sebuah bangunan kecil tak jauh dari pinggir jalan, dan ketika anda masuk, anda menemukan sebuah bangsal pertemuan. Dari luar bangunan itu tampak sama saja dengan bangunan lain sepanjang jalan itu. Anda tidak akan bisa mengenalinya. . . . sebuah tempat pemujaan bagi komunitas Yahudi. . . . sebelum anda memasuki bagian dalamnya sendiri dan melihat ukiran-ukiran di atas lengkung-lengkung yang menunjukkan sebuah menorah pada kita. Itu sinagoga Yahudi. Mungkin berasal dari akhir abad pertama dan merupakan salah satu dari yang tertua di Diaspora, sejauh yang kita ketahui.

Jadi, di sini ada jemaat Yahudi yang selama beberapa generasi berusaha memelihara kehidupannya, identitasnya, di sebuah kota besar Romawi. Adalah menarik bahwa. . . . persis bersebelahan dengan bangsal pertemuan, ada sebuah dapur dan sebuah ruang makan. Rupanya mereka juga menyelenggarakan jamuan persaudaraan. Rupanya mereka juga terlibat dalam sesuatu kehidupan sosial yang aktif.

KATAKOMBA YAHUDI DI ROMA

Salah satu dari sumber-sumber informasi terbaik kita mengenai komunitas Yahudi di Roma itu datang dari tempat-tempat penguburan. Ada beberapa katakomba Yahudi yang penting, dan mereka memberikan ratusan prasasti yang bercerita banyak tentang nama-nama dan identitas dan jumlah jemaat Yahudi di Roma. Mereka campur aduk. Beberapa dari mereka didominasi oleh orang-orang yang berbahasa Aramaik, dan tidak banyak menggunakan bahasa Yunani, tetapi mayoritasnya menggunakan bahasa Yunani dan segelintir orang bahkan tahu bahasa Latin. Yang ditunjukkan pada kita adalah betapa terintegrasinya komunitas-komunitas Yahudi itu dalam kehidupan sosial Roma.

Mereka berpartisipasi dalam semua aspek perdagangan. Mereka sibuk mengorganisir kehidupan komunitas mereka. Kita mendengar tentang orang-orang yang menjadi ibu atau bapa sinagoga, yang berarti mereka adalah orang yang dahulu membangun bangunannya dan menopang jemaatnya. Kita mendengar tentang kepemimpinan kelompok-kelompok Yahudi. Jadi, kita menemukan komunitas-komunitas Yahudi ini benar-benar berusaha memelihara identitas mereka, persis sebagaimana sembarang kelompok imigran berharap akan lakukan di lokal mereka yang baru.

Shaye I.D. Cohen:

Samuel Ungerleider Professor of Judaic Studies and Professor of Religious Studies Brown University

Kata Yunani “diaspora” berarti sebaran.  Dan memang, ada penyebaran orang-orang Yahudi ke seluruh penjuru dunia Yunani dan Romawi dari abad ketiga SEB dan seterusnya. Ada sebuah pernyataan terkenal oleh Strabo, seorng geografer Yunani akhir abad pertama SEB, yang mengatakan bahwa anda tidak bisa pergi ke mana saja di dunia ebradab ini tanpa berttemu dengan orang Yahudi. Dan di jamannya hal itu jelas betul. Ada komunitas-komunitas Yahudi besar di Mesir, khususnya di Alexandria, tetapi bahkan di pedalaman, di hulu Lembah Nil. Ada komunitas-komunitas Yahudi besar di Syria, komunitas yang sangat besar di kota Antioch, tetapi di seluruh penjuru Syria,  dan ada banyak komunitas Yahudi di seluruh penjuru Asia Minor, yang sekarang bernama Turki. Juga ada komunitas-komunitas Yahudi di Yunani dan di seantero semenanjung Italia, khususnya, tentu saja, di kota Roma. Bahkan lebih jauh ke barat, kita tahu tentang orang-orang Yahudi di Perancis selatan, dan orang-orang Yahudi di Marseilles dan mungkin orang-orang Yahudi di Spanyol. . . . . .

Menarik untuk dicatat bahwa Kristianitas purba pertama menyebar di daerah-daerah di mana ada orang Yahudi. Dia menyebar di Mesir, dia menyebar di Syuria, dia menyebar di Asia Minor, ia menyebar di Yunani dan Italia. Itu adalah daerah-daerah di mana kita tahu ada komunitas-komunitas Yahudi, ada sinagoga-sinagoga Yahudi, dan ada banyak orang Yahudi yang tersebar di seluruh penjuru daerah-daerah itu. barangkali para pengelana dan misionaris Kristen paling awal seperti Paulus memulai perjalanan mereka dengan terlebih dulu mendekati sesama mereka, orang yang sama-sama Yahudi, dan mempertobatkan beberapa dari mereka ke jalan baru atau agama baru itu, jika saya boleh menggunakan istilah itu, atau cara berpikir baru itu, mungkin dengan menggunakan komunitas-komunitas itu sebagai batu loncatan dari mana mereka mendapatkan akses ke orang-orang non-Yahudi di daerah itu pula. Dengan demikian jelaslah bahwa komunitas-komunitas Diaspora membentuk jaringan Yahudi yang oleh orang-orang Kristen purba sebagai orang-orang Yahudi bisa manfaatkan untuk tujuan-tujuan mereka sendiri.

SINAGOGA DI DIASPORA YAHUDI

“Sinagogue” dalam bahasa Yunani berarti perkumpulan, persekutuan, atau mungkin jemaat. Dengan demikian sinagoga adalah titik organisasi komunal orang-orang Yahudi di Diaspora. Di manapun anda mempunyai orang-orang Yahudi dalam jumlah yang memadai, anda akan mempunyai komunitas Yahudi. Tiap kali anda mempunyai komunitas Yahudi, anda lalu ingin mempunyai sinagoga Yahudi. Dengan demikian sinagoga, antara lain, adalah bangunan komunitas, atau tempat komunitas, tempat di mana orang-orang Yahudi berkumpul untuk mendiskusikan masalah-masalah bersama. Mirip New England town square, di mana warga berkumpul secara teratur untuk mendiskusikan masalah-masalah penting. Di antara masalah-masalah yang mereka diskusikan, tentu saja, orang-orang Yahudi mendiskusikan Yudaisme. Maksudnya, mereka mendiskusikan kitab-kitab suci mereka. Banyak dari sumber-sumber kami bercerita bahwa orang-orang Yahudi berkumpul di sinagoga secara teratur, mungkin setiap Sabtu, atau Sabbath, atau mungkin lebih sering dari itu, untuk membaca hukum Torah, kitab suci Musa, dan menerangkannya. Dan setiap pembaca Perjanjian Baru tahu bahwa ini adalah apa yang Yesus lakukan di daerah kelahirannya, di Galilei, masuk ke sinagoga-sinagoga pada hari Sabbath dan menerangkan alkitab. Dan tentu saja, kita juga mengetahui hal ini dari Paulus, bahwa dalam lawatan-lawatannya di Asia Minor, Paulus secara rutin pergi mencari sinagoga lokal dan di sana mengajarkan alkitab dari perspektifnya sendiri yang aneh, tetapi mengajarkan alkitab pada komunitas Yahudi. Jadi sesuatu yang lain terjadi di sana, di sinagoga, dalam perkumpulan-perkumpulan umum itu, yang akan menjadi pengkajian komunal terhadap teks-teks alkitab, khususnya Torah. Kita bayangkan juga bahwa barangkali mereka berdoa, bersama-sama. . . . . .

Menurut Perjanjian Baru, ciri menonjol lain dari sinagoga-sinagoga di Diaspora adalah bahwa mereka memikat banyak kerumunan pendengar, dan banyak dari orang-orang ini non-Yahudi. Rupanya bagi orang-orang non-Yahudi sinagoga-sinagoga itu tempat yang menarik atau berharga untuk dikunjungi, mungkin karena mereka senang mendengarkan diskusi-diskusi filosofis tentang Tuhan, atau mungkin menyukai nyanyian-nyiannya. Kita tidak tahu persis mengapa mereka tertarik; para peneliti modern terlalu cepat berasumsi bahwa mereka penganut Yudaisme, atau setengah Yudais. . . . . . seolah-olah tidak ada penjelasan rasional lain mengapa orang-orang non-Yahudi ingin pergi ke sinagoga jika mereka bukan sudah menganut Yudaisme. Tetapi faktanya: ada banyak alasan mengapa orang-orang non-Yahudi itu datang . . . . . mungkin orang-orang non-Yahudi mendapatkan bahwa sinagoga-sinagoga Yahudi, orang-orang Yahudi sendiri, ternyata cukup terbuka, menarik, atraktif, ramah, dan—mengapa tidak pergi ke sinagoga Yahudi, khususnya karena tidak akan ada analog-analog non-Yahudi. Pengalaman komunal itu tidak ada padanannya dalam agama-agama kafir atau Yunani atau Romawi. Dan kita tidak usah heran jika hal itu memikat orang-orang lewat yang pengin tahu, yang berniat baik, yang mungkin masuk untuk menyaksikan, atau mungkin bahkan berpartisiasi dalam apa yang sedang dilakukan.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

IDENTITAS YAHUDI DAN DIASPORA

Orang Yahudi membangun realita lewat Kitab. Dan pusat gravitasi Kitab Yahudi, yang menggerakkan kisahnya, adalah pergi ke tanah Israel. Jadi tanah Israel, tanah yang dijanjikan pada Abraham, arti penting tanah, kekudusan yang melekat pada tanah, itu semua terkandung dalam imajinasi historis Yahudi lewat Kitab Suci sebagai mediumnya. Ini berarti bahwa secara religius dan sosial, setiap tempat di luar tanah tadi, bukanlah rumah bagi seorang Yahudi, sekalipun orang-orang  Yahudi bisa hidup dari generasi ke generasi di kota-kota lain. Tanah yang dijanjikan pada bangsa Yahudi. . . . . itulah fokus pikiran orang-orang yang berada di luar Israel, di Diaspora. Dan memasuki abad pertama, ada lebih banyak orang Yahudi yang tinggal di luar negeri Israel ketimbang yang tinggal di dalam negeri Israel itu sendiri—sama seperti sekarang. Ada populasi Yahudi yang sangat enerjetik di Babylon sejak kehancuran Bait Allah pertama. Ada populasi Yahudi yang sangat bersemangat dan kaya di kota-kota besar di seputar laut Tengah. Dan populasi itu, yang berbahasa Yunani, menjadi latar belakang bagi penerjemahan Kitab Yahudi kedalam bahasa Yunani, yang akhirnya menjadi ladang pesemaian Kristianitas . . . . . untuk membuat gagasan tentang Israel tersedia bagi para pembaca Yunani . . . . .untuk membebaskannya dari bahasa aslinya—dari sudut pandang tertentu.

Meskipun begitu, terlepas dari cerai-berainya populasi Yahudi di seantero Kekaisaran Romawi dan di timur, orang-orang Yahudi dipersatukan secara imajinatif dan secara sosial oleh kalender. Orang-orang Yahudi mempunyai komunitas imajinatif yang trans-lokal ini. Mereka meliburkan diri setiap hari ketujuh . . . . . . mereka satu-satunya yang mempunyai budaya akhir pekan di jaman kuno. Mereka mempunyai Sabbath, yang tipikalnya adalah waktu bagi komunitas untuk berkumpul, entah mereka di desa di Galilei, atau di pinggiran kota Roma, dan mendengar hukum Torah dibacakan. . . . . . mereka mempunyai hari-hari raya pejiarahan. Mereka mempunyai kalender tahun liturgis Yahudi. Dan karena itu, populasi-populasi Yahudi di Diaspora juga akan melakukan perjalanan pulang ke rumah bahkan sekalipun rumah aktual mereka adalah Alexandria atau Roma atau tempat manapun di Asia Minor. Rumah spiritual dan rumah historis mereka adalah Israel, dan khususnya, Yerusalem.

Judul asli: “The Jewish Diaspora”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahaan: Bern Hidayat, 10 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: