Di Katakomba

27/01/2010

Jauh di bawah jalanan Roma ada katakomba-katakomba kuno di mana orang-orang Kristen purba menguburkan anggota keluarga mereka yang mati dan memelihara harapan akan kehidupan kekal.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

KATAKOMBA-KATAKOMBA KRISTEN DI ROMA

Masa sekitar penganiayaan Decius, pertengahan abad ke-3, adalah juga masa ketika katakomba-katakomba Roma mulai berkembang. Nah, menurut tradisi, anda tahu, katakomba-katakomba dikira adalah tempat di mana para martir dimakamkan. Tetapi kuburan katakomba itu begitu banyak, lebih dari enam setengah juta—itu perkiraan biasanya—yang berasal dari pertengahan abad ketiga sampai abad keenam atau ketujuh. Jadi jelas tidak semua kuburan di sana kuburan martir. Kalau begitu, apa? Kita mendapatkan katakomba-katakomba kafir, katakomba-katakomba Yahudi, dan katakomba-katakomba Kristen.

Tetapi salah satu hal yang kita lihat di pertengahan abad ketiga adalah kelompok-kelompok pemakaman Kristen yang jumlahnya semakin meningkat dan yang dikelola oleh gereja. Kita bahkan mendengar tentang kelompok-kelompok para penggali kubur, orang-orang yang menggali tempat-tempat  pemakaman katakomba, dan katakomba-katakomba Kristen termasuk di antara institusi pemakaman terpenting di Roma. Mereka memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia dengan berbagai cara, dan jika anda turun dan masuk ke katakomba-katakomba itu dan melihat itu seperti apa—maksud saya, anda harus membayangkan itu dahulu seperti apa. Pertama, katakomba adalah fenomena yang aneh di daerah sekitar Roma. Katakomba selalu berada di luar kota, sebagaimana semua tempat pemakaman sebaiknya berada di luar kota. Tetapi formasi geologis di daerah itu aneh dan unik. Ini adalah batuan vulkanik yang sangat lunak, dan selama lapisan vulkanik itu tertutup tanah, dia tetap lunak. Tetapi setelah anda menggalinya dan lapisan batuan itu terkena udara, ia jadi mengeras dan dengan demikian menjadi jauh lebih stabil sehingga orang mudah menggali ke dalam.

Jadi katakomba itu seperti koloni-koloni semut, yang masuk semakin jauh ke dalam ke batuan yang lunak itu, dan ketika anda masuk, anda bisa melihat dinding-dindingnya, melihat bagaimana mereka menggali loculi pemakaman, atau kamar, di mana mereka menyorongkan jasad almarhum. Yang itu adalah pemakaman murahan. Dan dalam beberapa kasus, kita tidak bisa tahu itu kafir atau Yahudi atau Kristen. Semakin njlimet kuburannya, ruangannya juga semakin besar, mirip kamar-kamar yang dikeruk dalam batuan, mirip kamar-kamar atau rumah-rumah kecil, dan kita lihat beberapa lukisan yang renik-pernik, dan ruangan-ruangannya bisa sepenuhnya dihias dengan frescoes , dengan kamar-kamar makam di dalamnya.

Selain itu, dalam banyak kasus di sinilah kita lihat beberapa dari seni-seni pemakaman yang paling Kristen mulai berkembang; adegan-adegan keluarga Yesus secara lengkap atau imaji-imaji dari kisah-kisah injil atau kisah-kisah dari Kitab Hibrani atau simbol orans dan gembala yang baik. Semua itu mencerminkan tradisi ikonografis Kristen yang tengah berkembang pesat persis pada saat mereka menembus masuk ke mainstream masyarakat Romawi. Sungguh, seni Kristen yang tengah marak itu, ketika bisa dilihat sebagai khas Kristen betul, adalah pertanda bahwa mereka sudah bisa masuk kedalam masyarakat luas. . . . . .

Katakomba-katakomba itu mendapatkan tempat yang sangat menarik dalam tradisi romantik mengenai bagaimana Kristianitas purba berkembang. Sering ada anggapan bahwa itu adalah tempat persembunyian yang aduhai, dan orang-orang Kristen akan turun ke katakomba-katakomba untuk beribadah selama masa-masa penganiayaan. Tetapi sebenarnya penganiayaan yang bersifat reguler itu tidak terjadi, dan bahkan ketika kita menemukan ruangan-ruangan atau kamar-kamar yang lebih besar dalam katakomba-katakomba itu, mereka tidak digunakan untuk beribadah.  Jemaat tidak turun ke sana untuk merayakan Ekaristi dan berkumpul secara teratur. Lalu, ruangan-ruangan itu untuk apa? Mengapa mereka mempunyai bangku-bangku yang mengelilingi dinding-dinding? Apa itu tampak seperti tempat di mana anda bisa berkumpul dan merayakan Ekaristi? Jawabannya, mereka menyelenggarakan perjamuan makan untuk si almarhum. Kenyataannya, kita tahu dari sejumlah sumber, baik Kristen maupun non-Kristen, bahwa perjamuan makan pemakaman, semacam makan-makan bersama si almarhum, adalah sesuatu yang dilakukan oleh kebanyakan keluarga di Roma. Jadi kita harus membayangkannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, sebagai bagian dari aktivitas reguler mereka, orang-orang Kristen, persis sebagaimana tetangga-tetangga mereka yang kafir, turun ke katakomba untuk menyelenggarakan perjamuan kenangan dengan anggota-anggota keluarga yang telah meninggal.

John Dominic Crossan:

Professor Emeritus of Religious Studies DePaul University

KATAKOMBA-KATAKOMBA  KRISTEN  DI  ROMA

Kota Roma dikelilingi situs-situs pemakaman. Karena anda tidak boleh dikuburkan di dalam batas kota Roma, kecuali jika anda orang macam kaisar, jadi anda harus dikuburkan di pinggiran kota Roma, di sekelilingnya. Jadi  jika anda keluarga bangsawan, anda akan mempunyai makam di atas permukaan tanah, makam-makam seperti mausoleum. Jika anda dari kelas sedikit lebih rendah, anda akan dikuburkan di bawah permukaan tanah, karena materi di bawah permukaan tanah di luar Roma disebut tufa—itu sangat kuat, sangat kuat, itu mudah diukir dan itu sangat kuat. Anda bisa membuat dua, tiga, empat, dan bahkan lima lapisan di bawah tanah situs kuburan.

Itulah sebenarnya katakomba. Itu bukan tempat persembunyian; itu bukan tempat orang-orang Kristen menyembunyikan diri. Kuburan itu bersifat publik, di mana setiap orang dikubur sesuai dengan kelasnya. Jika mereka secara ekonomis mampu untuk tidak sekedar mengubur almarhum, mereka bisa memasang sebuah imaji di sana, misalnya sebuah lukisan—dan anda mulai mendapatkan adegan-adegan. Pertama, anda mendapatkan simbol-simbol seperti jangkar atau burung merpati—itu yang paling sederhana. Kemudian anda bisa mendapatkan adegan-adegan, misalnya filsuf  atau wanita dengan tangan terangkat dalam posisi sedang berdoa, simbol kesalehan; aneka macam adegan, atau anda bisa mendapatkan kisah-kisah injil.

Dan yang menarik adalah bahwa mereka memilih, karena apa yang mereka pilih tentang Yesus adalah Yesus sebagai penyembuh. Dia tampil tanpa jenggot, jadi dia dewa baru, dewa muda, ibaratnya . . . . . Dan itu luar biasa, karena dia menumpangkan tangan atau bahkan sebatang tongkat ajaib pada orang yang sedang dia sembuhkan. Nah, di seluruh penjuru dunia Yunani atau Romawi tidak ada Asclepius yang menunjukkan tangannya di atas orang yang sedang disembuhkan. . . . . . (Oh ya, Asclepius adalah dewa penyembuh  di dunia kuno, salah satu pesaing berat Yesus, ketika Kristianitas purba dimulai, karena Asclepius adalah dewa favorit.)

Yesus tampak seperti orang biasa, karena itu seorang dewa baru—itulah artinya tanpa jenggot—yang benar-benar mengulurkan tangan dan menyentuh orang-orang biasa. Dan banyak dari orang-orang yang Yesus sembuhkan itu adalah kelas bawah—itu  anda ketahui dari pakaiannya. Jadi ini dewa penyembuh baru, dan itulah yang ada dalam benak orang-orang itu.

Saya kira itu adalah salah satu hal penting yang membantu penyebaran Kristianitas. Yesus tidak ditunjukkan sebagai suatu makluk transendental; ia ditunjukkan sebagai sangat membumi dalam sejarah manusia, dengan tangannya di atas kepala dan bahu orang-orang. Dan mereka sama sekali tidak sungkan-sungkan mengetengahkan dia dengan sebatang tongkat ajaib di tangan di depan kuburan Lazarus, misalnya.

Judul asli: “In the Catacombs”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 10 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: