Daya Tarik Kristianitas

27/01/2010

Apa yang ditawarkan oleh Kristianitas pada para pemeluknya yang menjadikannya layak diperoleh sekalipun dengan korban diasingkan masyarakat, dimusuhi para tetangga, dan kemungkinan dianiaya?

Helmut Koester:

John H. Morison Professor of New Testament Studies and Winn Professor of Ecclesiastical History Harvard Divinity School

SEBUAH KOMUNITAS BARU

Mengapa orang-orang ingin bergabung dengan komunitas Kristen? Saya kira hal itu hanya karena setidak-tidaknya bagian-bagian tertentu  dari misi Kristen purba bertekad kuat untuk menciptakan sebuah komunitas baru—hanya karena alasan itu maka gerakan itu sukses. Nah, apa yang dimaksudkan dengan “komunitas”? Ijinkan saya berbicara mengenai hal itu pada dua tataran yang berbeda. Yang pertama, bahwa pesan yang disampaikan di sini menjanjikan karunia-karunia, karunia-karunia spiritual, pada orang-orang, yang menjangkau lebih dari sekedar pengalaman hidup sehari-hari, dan menjanjikan juga kekekalan, sebuah kehidupan masa mendatang yang berupa kebebasan dari sakit dan dari penyakit dan dari kemiskinan, dan isolasi individual. Ada masa depan bagi individu yang bersangkutan. Dan pesan tentang kemungkinan seseorang dihubungkan dengan sesuatu yang berada di luar kekuasaan dunia ini jelas merupakan daya tarik yang besar. Tetapi itu saja tidak akan cukup. Saya kira itu adalah faktor spiritual-religius yang sangat penting. Tetapi itu saja tidak akan cukup, karena, terlepas dari semua kemuliaan Kekaisaran Romawi, orang-orang hidup di dunia di mana tidak ada kesetaraan—di satu pihak ada banyak orang miskin dan di pihak lain ada kekayaan yang sangat besar di tangan hanya segelintir orang. Ada aneka macam penyakit dan tidak ada layanan-layanan kesehatan publik, dan dokter-dokter mahal.

Ada juga masalah kesetaraan yang diperparah oleh Romawi melalui sistem Augustan. Romawi adalah sebuah sistem hirarkis yang sangat keras, di mana kaisar berada di puncak, jauh di atas, dan kemudian semua karunia di dunia yang jatuh ke orang-orang semuanya datang dari atas. Kaisar adalah pintu menuju dunia ilahi. Dan anda berada di dasar terbawah dari piramida sosial itu, dan sampai di situ tak banyak barang-barang yang turun. Perbudakan pelahan-lahan berkurang, tetapi itu tetap ada.

Nah, komunitas Kristen itu, sebagaimana kita lihat dari surat-surat Paulus, dimulai dengan sebuah formula, sebuah formula baptisan, yang menyatakan bahwa dalam Kristus tidak ada Yahudi atau kafir, tidak ada pria atau wanita, tidak ada budak atau merdeka. Ini adalah sebuah formula sosiologis yang mendefinisikan sebuah komunitas baru. Inilah komunitas yang mengundang anda, yang menjadikan anda seorang yang setara bersama dengan semua anggota komunitas itu. Yang tidak memberi anda keuntungan apa-apa sama sekali. Sebaliknya, hal itu memberi budak yang paling rendah suatu harga diri dan status. Selain itu, perintah mengasihi itu sangat menentukan. Maksudnya, saling mempedulikan satu sama lain menjadi sangat penting. Orang-orang dikeluarkan dari isolasi. Jika mereka lapar, mereka tahu harus ke mana. Jika mereka sakit, ada seorang tetua yang akan meletakkan tangannya pada mereka untuk menyembuhkan mereka.

INSTITUSI-INSTITUSI KESEJAHTERAAN

Nah, dalam gereja-gereja Kristen, sampai ke jaman Constantine, kita mendapatkan makin banyak pendirian rumah-rumah sakit, atau sesuatu layanan kesehatan, layanan-layanan sosial—dari dapur umum sampai bantuan uang untuk kaum miskin jika mereka membutuhkannya. Kita lihat pendirian institusi-institusi janda, yang sangat penting, sebab seorang janda dalam masyarakat Romawi, yang telah kehilangan suami dan tidak punya uang sendiri, berada di tataran paling rendah. Salah satu dari lembaga-lembaga kesejahteraan pertama yang kita temukan dalam gereja adalah lembaga janda-janda, yang diakui sebagai perawan-perawan gereja, yang dianggap sebagai milik gereja yang sangat berharga dan karena itu diselamatkan dari kemiskinan.

Kristianitas benar-benar melembagakan sebuah wahana dukungan sosial yang bersifat mutual bagi anggota-anggota yang bergabung dengan gereja. Dan saya kira itulah barangkali yang dalam jangka panjang menjadi faktor sangat penting bagi keberhasilan misi Kristen. Dan karena alasan itu pula Constantine melihat bahwa satu-satunya hal yang akan menyelamatkan kekaisaran adalah mengambil-alih institusi-institusi yang telah dibangun oleh orang-orang Kristen, [termasuk], pada waktu itu, institusi-institusi pendidikan membaca dan menulis, sebab orang-orang Kristen menginginkan anggota-anggota mereka tahu dan mampu membaca Injil. . . . Kita mendapatkan bahwa dalam pemerintahan dari kaisar-kaisar kafir terakhir, sebelum Constantine, di penghujung abad ke-3, sejumlah besar orang dalam administrasi kekaisaran adalah orang-orang Kristen, sebab mereka bisa membaca dan menulis. Yang menjadi masalah besar jika ada penganiayaan terhadap orang-orang Kristen, sebab mereka didepak keluar dari kantor dulu sebelum penganiayaan dimulai, dan tiba-tiba saja roda pemerintahan mogok.

Kita tidak boleh melihat keberhasilan Kristianitas hanya karena pesan keagamaan yang besar; orang juga harus melihatnya dari pendirian lembaga-lembaga yang memenuhi kebutuhan komunitas, yang dipikirkan secara konsisten dan sangat matang.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

Dengan adanya perbenturan antara agama dengan politik yang kita temukan begitu karakteristik di dunia Romawi Hellenistik, dan khususnya di kota-kota besar, terasa sangat musykil bahwa Kristianitas ternyata bisa bertahan hidup, apalagi berkembang sampai menjadi kekuatan terkemuka di awal abad ke-4 ketika Kaisar Constantine menjadikannya salah satu dari agama-agama yang ia akui secara resmi di kekaisaran. Tetapi saya kira kita bisa melihat beberapa faktor yang menyumbang pada pertumbuhan dan perkembangan itu.

Pertama, dunia Romawi tidak seragam dalam kepercayaan-kepercayaan religiusnya. Ada banyak agama baru yang masuk antara jaman penaklukan Alexander Agung sampai jaman Kaisar Trajan dan Hadrian, ketika orang-orang Kristen menjadi isu terkemuka. Dalam rentang waktu itu, kita temukan agama-agama baru datang dari seluruh penjuru dunia Timur Tengah. Ada kultus dewa-dewa Mesir, Isis dan Serapis. Ada dewi ibu agung. . . . dari Turki Timur. . . .

Semua bentuk tradisional agama nasional kawasan Timur Tengah juga masuk ke dunia Romawi dan mempunyai penganut-penganut kultus. Jadi dari perspektif Romawi, kultus-kultus baru tidak otomatis memunculkan masalah. Tetapi orang-orang Romawi mulai memprihatinkan kelompok-kelompok keagamaan itu ketika kelompok-kelompok itu dirasakan subversif atau ketika mereka tidak mau berpartisipasi dalam kehidupan religius publik kekaisaran. Apapun yang menunjukkan kesan ketidak-setiaan pada negara akan memunculkan keprihatinan para gubernur dan hakim seperti Pliny Yunior.

Apa yang membuat Kristianitas menjadi terkemuka pada waktu itu? Apakah hal itu berkaitan dengan sesuatu sense of belonging?

Dari perspektif sejarah, pertumbuhan Kristianitas dalam abad ke-2 dan ke-3 benar-benar merupakan fenomena yang harus disimak, baik secara sosial maupun religius. Apa yang membuatnya berkembang? Apa yang membuatnya sukses sementara kelompok-kelompok keagamaan yang lain di masa itu tidak? Nah, setidak-tidaknya secara tradisional, jawaban atas pertanyaan tadi diberikan dengan cara sangat sederhana. Itu kehendak Tuhan. Tentu saja. Tapi saya kira kita juga bisa mencari jawabaan-jawaban lain.

Kadang-kadang diisyaratkan bahwa Kristianitas mengarah pada sesuatu tatanan moral yang lebih luhur. Sesuatu bentuk religiositas yang lebih baik daripada tetangga-tetangga Romawi mereka, dan itulah yang membuat orang-orang pindah ke Kristianitas. Saya tidak yakin betul dengan hal itu. apa yang sebenarnya kita lihat di abad ke-2 dan ke-3 adalah bahwa Kristianitas tengah mendefinisikan identitasnya menurut nilai-nilai masyarakat Romawi yang luas. Mereka mengatakan, “Kami sama etisnya dengan kalian, atau lebih baik, tapi dari sudut pandang apa yang kalian orang-orang Romawi anggap sebagai keutamaan-keutamaan ideal masyarakat. Kami orang-orang Kristen juga mempraktekkan nilai-nilai keluarga Romawi persis seperti kalian.” Jadi bukan menjauhkan diri dari masyarakat Romawi seperti yang mungkin kita perkirakan.

PERUBAHAN DEMOGRAFIS BESAR-BESARAN

Jadi mengapa mereka sukses? Mengapa orang-orang menjadi Kristen? Saya kira ada beberapa pengamatan historis yang penting dilakukan di sini. Pertama, kita harus sadar bahwa Kekaisaran Romawi sendiri tengah mengalami perubahan demografis besar-besaran pada masa itu. Nah, mari kita pikirkan hal itu dari sudut pandang ini . . . . kota-kota pada berkembang, tetapi populasinya sendiri, setidak-tidaknya dalam kota, barangkali tidak berkembang dengan mudah. Lebih banyak orang mati ketimbang lahir di kebanyakan kota besar. Dengan kata lain, aristokrasi kafir yang lama itu mulai menciut, bukannya mengembang. Dari mana mereka datang—orang-orang baru di kota-kota itu? Barangkali mereka berimigrasi dari negeri seberang atau pindah dari negeri-negeri lain, dan justru itulah yang kita dengar tentang orang-orang Kristen. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa bergerak terus. Mereka pergi ke kota-kota. Mereka lah populasi baru itu, bersama-sama dengan banyak orang-orang lain. Jadi saya kira dari perspektif sosial kita harus melihat pertumbuhan Kristianitas sebagai salah satu produk dari perubahan wajah kehidupan kota di dunia Romawi . . . .

Selain itu, ada wabah sampar dan kelaparan, dan sudah diisyaratkan oleh para demografer masa kini bahwa jika anda mempunyai survival rate 10 persen lebih tinggi saja di antara salah satu segmen populasi dibandingkan dengan segmen yang lain, yang anggotanya banyak yang mati. . . . maka hasilnya di penghujung proses itu akan ada anggota yang jauh lebih besar pada sesuatu kelompok dibandingkan dengan populasi total. Dengan kata lain, dalam jangka waktu yang sangat pendek, anda bisa mendapatkan sebuah kelompok yang dahulunya adalah kelompok minoritas yang sangat kecil, lalu sekarang menjadui mayoritas, dan saya kira antara lain seperti itulah yang terjadi pada orang-orang Kristen. Bahwa melalui periode saat-saat yang penuh gejolak itu di abad ke-2 dan ke-3, orang-orang Kristen kemudian menjadi porporsi yang signifikan dari warga negara terkemuka di beberapa kota besar di dunia Romawi.

A SENSE OF BELONGING

Nah, apa yang mereka tawarkan? Itu sangat sederhana. Pada kelompok-kelompok imigran baru itu, mereka semua berusaha menemukan jalan untuk masuk kedalam masyarakat Romawi—untuk sukses di dunia Romawi, untuk menjadi bagian dari mainstream, untuk sukses dan tampil ke depan—maka belonging adalah salah satu isu kunci, dan saya kira apa yang  orang-orang Kristen tawarkan dengan sama baiknya atau bahkan dengan lebih baik daripada orang lain manapun di dunia Romawi adalah a sense of belonging. Menjadi bagian dari komunitas Kristen. . . . . menjadi bagian dari gereja berarti menjadi bagian dari sekumpulan teman-teman dan saudara-saudara dan Kristus yang guyup-rukun, dan barangkali hanya sesederhana itulah  yang mendongkrak kesuksesan Kristianitas di dunia Romawi. . . . .

Kristianitas mulai tumbuh secara substansial pada akhir abad ke-2 dan awal abad ke-3 justru karena ia merespon pada beberapa kebutuhan manusia yang mendasar dan dirasakan sangat mendalam. Barangkali ia mulai benar-benar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang orang-orang ajukan, dan kita bisa melihat pertumbuhan itu dalam aneka hal. Misalnya, rasanya tidak ada penganiayaan sampai skala seluruh kekaisaran sepanjang abad ke-2 dan memasuki paruh pertama abad ke-3. Kalau ada penganiayaan, itu selalu sporadis; itu selalu masalah lokal. Pertama kali satu kekasiaran secara serentak mengatakan “Hayo kita basmi orang-orang Kristen” baru terjadi pada tahun 249, 50, penganiayaan oleh Decius. . . . . tetapi pada waktu itu orang-orang Kristen sudah begitu banyak  sehingga mereka tidak bisa dibasmi; mereka sudah terlanjur berkembang sampai begitu besar.

Jadi, dari sudut pandang tertentu, penganiayaan sebenarnya tidak bisa tuntas karena memang sudah terlambat. Kita mempunyai beberapa indikasi mengenai pertumbuhan dasar Kristianitas pada waktu itu, khususnya di kota-kota, dilihat dari catatan-catatan kota Roma. Pada tahun 251, persis pada waktu penganiayaan Decius, kita mempunyai catatan gereja di Roma, yang mengatakan bahwa mereka punya 46 presbyter dan 56 exorcist dan para penjaga pintu dan sejumlah orang lain yang mereka katalogkan; tujuh orang entah apa, dan tujuh lagi entah apa; cukup banyak orang di katalog itu. Bagian akhir catatan menyatakan ada lebih dari 1500 janda [dan orang-orang miskin]—para wanita yang diurusi oleh gereja. Dalam banyak hal, gereja menjadi semacam agen kesejahteraan sosial baru di Kekaisaran Romawi. Para pemimpin gereja adalah patron masyarakat. Menjelang akhir abad ke-3, uskup-uskup Kristen di banyak tempat telah mengambil-alih peranan patron-patron model tempo doeloe yang kemudian memunculkan prosesi-prosesi di Efesus dan Korintus dan Roma. Mereka sudah masuk kedalam masyarakat.

Wayne A. Meeks:

Woolsey Professor of Biblical Studies Yale University

DAYA TARIK KEMANUSIAAN KRISTIANITAS

Dalam analisa terakhir, setelah kita menjawab semua pertanyaan yang bisa dijawab oleh para sejarawan dengan alat-alatnya itu, masih ada beberapa misteri yang sangat fundamental mengenai perubahan agama. Mengapa di antara semua gerakan yang mengikuti nabi-nabi di Roma dan Palestina itu, mengapa yang satu ini bertahan hidup? Mengapa di antara sekian banyak varietas Yudaisme di abad pertama, hanya dua yang bertahan hidup sebagai agama dunia? Pertama, agama para Rabbi—yang lain, agama Kristianitas. Dan, yang tersembunyi dalam hal ini, adalah sesuatu yang tidak bisa kami analisa dengan alat-alat kami, saya kira, dan sesuatu itu adalah bahwa pesan baru itu , pesan yang kedengaran musykil itu, bahwa Anak Allah telah datang ke bumi dan disalibkan, dalam bentuk manusia, dan dibangkitkan dari antara orang mati. . . . . ternyata begitu menarik bagi banyak orang kelas bawah, atau begitulah kesan kami, dengan cara sedemikian rupa sehingga mereka bersedia mengubah hidup mereka dan bersedia bergabung dengan sebuah kelompok yang hanya membuat mereka dimusuhi, diasingkan dari keluarga dan tetangga mereka, dan mungkin dianiaya atau bahkan sampai dibunuh.

Ada apa dalam gerakan itu, yang mampu memunculkan daya tarik begitu kuat pada orang-orang? . . . . Dalam analisa terakhir, saya kira, kami benar-benar tidak tahu. Kami bisa saja berspekulasi; kami bisa mengatakan gerakan itu menawarkan sesuatu komunitas, yang memang langka dalam sembarang masyarakat dan yang jelas langka di jaman dulu. Dia menawarkan keakraban; dia menawarkan sebuah ideologi kuat yang menjelaskan kejahatan di dunia, atau setidak-tidaknya menyodorkan simbol-simbol kuat untuk memahami kejahatan itu; dia menyodorkan pada anda perasaan tentang adanya sesuatu struktur moral di alam semesta. . . . Dia mempunyai ideologi keadilan, yang akan dijamin oleh Tuhan, akhirnya. Dia menawarkan sebuah komunitas yang membangun intuisi-intuisi moral dasar para anggotanya, yang mendatangkan peringatan-peringatan moral . . . . yang sebaliknya di dunia Romawi hanya kita temukan di sekolah-sekolah para filsuf, yang bagaimanapun adalah sebuah fenomena elit, yang terbatas hanya pada segelintir orang-orang yang berpendidikan tinggi. Kristianitas membuat moralitas ini tersedia bahkan bagi orang-orang terbawah. Jadi kami bisa bicara banyak tentang faktor-faktor itu, yang kami katakan pasti telah mempengaruhi perkembangan itu, dan sekalipun begitu, akhirnya hal itu toh tersembunyi di balik kesulitan-kesulitan sumber, tapi terlebih lagi, saya kira, tersembunyi di balik ketidak-mampuan kami untuk masuk lebih jauh kedalam struktur-struktur terdalam pribadi manusia. . . . . lihat saja fakta bahwa individu-individu yang tak terhitung jumlahnya membuat keputusan  yang akhirnya ikut menyumbang pada perubahan kultural yang sangat mendalam di seluruh Kekaisaran. . . . .

ORANG-ORANG KRISTEN TENTANG CINTA KASIH

Apakah cinta kasih merupakan bagian dari pesan atau daya tarik tadi?

Salah satu dari kata-kata kunci yang kita temukan dalam aneka macam literatur tertua orang-orang Kristen adalah kata “cinta” dan, okay, orang-orang memang sudah sedari dulu bicara tentang cinta jadi itu bukan barang baru lagi—tapi mereka bicara tentang cinta dengan cara yang sangat ganjil. Mereka bicara tentang sesuatu Tuhan yang mencintai, sesuatu Tuhan yang mencintai dengan cukup besar sehingga ia bersedia mengirimkan anak tunggalnya turun ke dunia—tentu saja gagasan Tuhan mempunyai anak sangat ganjil bagi orang-orang Yahudi, yang mengawali gerakan itu, tapi memang itulah yang terjadi— dan yang menyerukan pada orang-orang agar mencintai dengan cara yang sama, sebuah cinta yang dimanifestasikan dalam kematian ini, kematian si Putera Allah.

Bagaimana orang-orang Kristen menulis tentang, bicara tentang, berpikir tentang [cinta]? Apakah itu aneh?

Salah satu dari hal-hal paling ganjil mengenai Kristianitas, tentu saja, adalah bahwa ia dimulai dengan harus menjelaskan sebuah paradoks. Orang yang mereka anggap Juru Selamat tadi, orang yang belakangan dengan cepat mereka sebut Anak Allah tadi . . . . adalah juga orang yang disalib di bawah Pontius Pilatus. Bagaimana anda bisa mengklopkan kedua [premis] itu? Salah satu hal yang mereka katakan adalah begini, “Betapa luar biasanya hal ini, bahwa Putera Allah datang bukan untuk mengalahkan orang-orang Romawi, bukan untuk membangun negara politis di Israel, tetapi ia datang untuk menunjukkan cinta kasih yang sang Pencipta alam semesta berikan pada semua orang.” Alhasil, tindakan yang Pontius Pilatus maksudkan untuk mempermalukan, menistakan, kelompok kecil tadi dijungkir-balikkan dalam mentalitas Kristen itu . . . . . . menjadi sebuah manifestasi yang menunjukkan mendekatnya Tuhan pada kita, dan dengan demikian membangun sesuatu model, dengan mana orang-orang berusaha berhubungan dengan satu sama lain.

Salah satu hal yang selalu muncul dalam surat-surat Paulus adalah keyakinannya bahwa apa yang ia sebut Sabda di Kayu Salib, atau penalaran Kayu Salib, seyogyanya mewarnai hidup semua anggota jemaat-jemaat yang telah ia dirikan. Sedeimikian sehingga . . . . bagaimana seseorang menjalankan kepemimpinan atau otoritas dalam jemaat. . . . entah dengan sesuatu cara harus selaras dengan gagasan bahwa kekuasaan Tuhan dimanifestasikan dalam pembalikan ini itu, di mana yang kuat akan disalibkan dengan cara yang paling hina, bahwa yang setara dengan Tuhan melepaskan kesetaraan itu dengan menerima bentuk seorang budak. Itu menjadi model mengenai apa cinta itu. atau dalam literatur Yohanes dan surat-surat Yohanes, anda mendapatkan bahasa yang serupa, “Kita mencintai karena ia terlebih dulu mencintai kita.” Sedemikian sehingga cinta dalam arti tertentu di-redefinisikan menjadi tindak pengorbanan yang menghormati si lain, memilih menempatkan diri sendiri di ujung tombak musuh demi orang lain, dan ini didasarkan pada klaim mengenai bagaimana kekuasaan dan struktur alam semesta mengejawantah dalam masyarakat manusia. Saya kira ini pasti memiliki daya tarik emosional yang sangat kuat pada orang-orang.

Elizabeth Clark:

John Carlisle Kilgo Professor of Religion and Director of the Graduate Program in Religion Duke University

TINGKAT-TINGKAT DEVOSI YANG BERLAINAN

Bagaimana daya tarik Kristianitas jika dibandingkan dengan daya tarik paganisme?

Kristianitas barangkali menarik bagi orang-orang karena beberapa hal.  Pertama, dia mempunyai standar moral sangat tinggi yang diajarkan dengan serius . . . . Tentu saja beberapa sekte dan kelompok filosofis juga mengajarkan gaya hidup serupa bagi para pemeluknya. Kristianitas mempunyai sebuah institusi yang memberikan keuntungan-keuntungan materiil tetapi juga mempunyai sebuah sistem sakramen yang menawarkan pada para pemeluknya, misalnya, pertobatan dari dosa-dosa dan mengalahkan dosa dan mengalahkan kematian. . . . . Bersamaan dengan perkembangan gereja, ia memungkinkan devosi Kristen dengan tingkat yang berbeda-beda. Sedemikian rupa sehingga jika anda ingin mengorbankan diri anda sepenuhnya dan memilih hidup yang sangat asketik dan praktis menyingkuri segala sesuatu, anda akan sangat dimuliakan jika melakukan hal itu, tetapi anda juga bisa menikah dan punya posisi di kehidupan duniawi dan membina keluarga, karir, dan sebagainya, itu juga okay. Jadi Kristianitas bisa menyesuaikan diri dengan tipe-tipe orang yang berlainan, persis sebagaimana dia bisa menyesuaikan diri dengan kelas intelektual tertinggi tetapi juga bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang kecil, dan para penulis gereja selalu mengingatkan para teolog bahwa Kristus mati demi orang yang paling hina, juga bagi orang yang paling terdidik.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

PENYEBARAN KRISTIANITAS

Andaikata bukan karena penerjemahan Kitab Yahudi kedalam bahasa Yunani, andaikata bukan karena komunitas-komunitas Yahudi Diaspora yang hidup di sinagoga-sinagoga, yang memenuhi kawasan pinggiran Laut Tengah, Kristianitas tidak akan bisa menyebar. Tetapi Kristianitas adalah sebuah interpretasi tentang gagasan tentang Israel. Dan bagaimana Kristianitas bisa menyebar seperti itu adalah melalui garis hidup sinagoga-sinagoga Diaspora. Bahasa gerakan itu, sejauh kita mempunyai bukti aktual mengenai hal itu, adalah bahasa Yunani. Kitab yang ia acu adalah Kitab Yunani. Komunitas-komunitas yang bertindak sebagai matriks bagi ajarannya adalah komunitas-komunitas sinagoga, dan kita mendapatkan cerita-cerita dalam Mateus atau cerita-cerita dalam Yohanes mengenai bagaimana komunitas tertentu ditendang keluar dari sinagoga-sinagoga lain.  Lantas apa yang mereka lakukan? Mereka membentuk kelompok mereka sendiri. Business as usual—selalu seperti  itu.

Tetapi saya kira sebenarnya penyebaran itu adalah karena ada sebuah populasi internasional yang terketuk oleh ide-ide religius besar tentang Tuhan sebagai Pencipta, tentang kebenaran yang mengguyur turun seperti air hujan, tentang sesuatu Kerajaan Allah dan apapun itu artinya dari sudut pandang bagaimana sesuatu komunitas secara sosial membangun dirinya sendiri . . . . . karena itulah, karena Yudaisme Diaspora, yang sudah amat sangat mapan, sehingga Kristianitas itu sendiri, sebagai salah satu bentuk Yudaisme yang baru dan secara konstan berimprovisasi, mampu menyebar ke seantero dunia Romawi.

Tetapi apakah kepercayaan tidak terkait dengan penyebaran itu? Mengapa orang-orang tertarik? Saya kira saya ingin tahu apa yang Kristianitas tawarkan . . . . Mengapa orang-orang menjadi Kristen?

Mengapa orang-orang bergabung dengan gerakan itu? Orang-orang Yahudi bergabung dengan gerakan itu karena itu adalah sebuah artikulasi tertentu tentang harapan religius Yahudi yang terlihat lewat figur penyelamat itu. Tetapi itu jelas konsisten dalam apa yang kita ketahui sebagai opsi-opsi yang berlainan dari Yudaisme. Yang benar-benar menggelitik adalah mengapa orang-orang kafir bergabung? Dan di sini, sekali lagi, kita mempunyai bukti surat-surat Paulus tulisan tahun 50. Dia pikir itu mukjijat. Itu adalah orang-orang kafir, yang keluar masuk sinagoga secara sukarela, yang, atas dasar pesan yang mereka terima tentang Putera Allah akan segera datang, lalu tiba-tiba dibuat menjadi bisa—kata Paulus lewat Roh Kudus—meninggalkan kepercayaan kafir mereka. Mereka mencanangkan komitmen pada komunitas yang satu itu.

Jika anda mencermati bagaimana gerakan itu menyebar secara sosiologis—dan itu beda dari secara teologis—jika anda mencermati apa yang membedakan Kristianitas dari semua opsi religius di kawasan Timur Tengah, hal itu tidak membedakan Kristianitas dari Yudaisme. Kedua kelompok itu bertemu setidak-tidaknya sekali seminggu. Kedua kelompok mempunyai norma-norma etis yang sama-sama sangat tandas. Kedua kelompok mempunyai etika cinta kasih komunitas yang kuat. Kedua kelompok mempunyai pola-pola perilaku etis yang diwahyukan.. . . . . Jangan berjinah. Jangan bunuh anak-anak. Jangan nyembah berhala. Jangan keluyuran ke rumah pelacuran.  Segala sesuatu yang bertindak  membangun komunitas dan menciptakan sesuatu sistem penunjang kesejahteraan. Selain itu, ada juga faktor prestise religius yang besar, berkat usia tua Kitab Yahudi—di mana, dengan jalan masuk ke gereja, maka orang-orang Kristen juga masuk kedalam sejarah. Itu benar-benar prestisius dan penting. Yudaisme itu sendiri, terlepas dari segala keganjilan-keganjilannya, dianggap sangat bergengsi karena usianya yang sudah sangat tua. Dan karena itu kita mempunyai banyak alasan, secara sosiologis, dan secara praksis, mengapa Kristianitas itu menarik.

Elaine H. Pagels:

The Harrington Spear Paine Foundation Professor of Religion Princeton University

Kebanyakan orang yang mempelajari asal-usul Kristianitas penasaran ingin tahu bagaimana gerakan yang begitu sepele itu bisa bertahan hidup dengan cara begitu perkasa dan dramatis. Dan itu bukan pertanyaan yang mudah dijawab—mengapa gerakan itu sukses sementara yang lain tidak. Salah satu hal yang selalu saya pikirkan adalah bahwa dewa-dewa dunia purba, jika anda mencermati mereka, imaji-imaji mereka, jika anda membaca tentang mereka dalam Iliad, dan syair-syair Sophocles. . . . . dewa-dewa itu tidak lebih daripada para bangsawan sendiri, kaisar dan orang-orang kalangan istana. Mereka tampak seperti orang-orang istana. Tetapi yang satu ini adalah agama yang menyatakan bahwa Tuhan mengejawantah dalam diri orang desa, mungkin orang yang nggak bisa nulis, orang yang berasal dari kaum jelata, orang yang sama sekali tidak menonjol dari kacamata duniawi dan yang sangat mirip dengan mayoritas orang kecil lainnya. Dan di tempat yang sama sekali tidak terduga itu dan mencengangkan itu, gerakan itu mengatakan, Tuhan diwahyukan akan bersama-sama dengan kita. Saya kira itu sendiri adalah sebuah pernyataan yang sangat kuat . . . . .

Injil Markus yang ada di pikiran kebanyakan orang itu adalah yang pertama di antara injil-injil Perjanjian Baru. Dan kitab itu benar-benar luar biasa dan aneh. . . . Jika anda membacanya secara terpisah dari injil-injil lainnya, itu adalah sebuah cerita tentang guru udik yang datang entah dari mana orang nggak tahu, dengan kuasa luar biasa yang turun padanya, menyembuhkan orang-orang, membebaskan orang-orang dari setan-setan, bicara dengan berani tentang hal-hal yang aneh dan mencengangkan, dan mengejutkan tiap orang. Dan kemudian akhir cerita, dari Bab 9 seterusnya, bergerak menuju kematian orang itu dengan cara yang hina dan sangat menyakitkan. Dan ada isyarat mengenai akhir dari cerita aslinya, bahwa ia akan bangkit dari antara orang mati, tetapi sebagaimana Markus aslinya ditulis, kisah tentang kebangkitan kembali itu tidak disebutkan. Jadi itu adalah cerita yang meluluh-lantakkan tentang penderitaan manusia. Dan saya kira itu pasti sangat menggetarkan banyak orang pada waktu itu, begitu juga sekarang, misalnya.

Ketika saya sedang menggarap buku “Adam, Eve and the Serpent,” saya sering merenungkan mengapa gerakan itu sukses, dan saya pikir barangkali hal itu berkaitan—juga—dengan kisah yang mereka ceritakan tentang penciptaan alam semesta ini.  Sebab mereka menceritakan kisah tentang bagaimana manusia diciptakan dalam citra Tuhan. . . . Nah, jika anda memikirkan dewa-dewa dunia purba dan anda memikirkan mereka tampak seperti apa, mereka tampak seperti kaisar dan orang-orang istana di sekitarnya. Jadi dewa-dewa itu tampak sangat beda. Tetapi agama yang satu itu mengatakan bahwa tiap orang, lelaki, wanita, anak-anak, budak, barbar, apapun atau siapapun dia, diciptakan dalam citra Tuhan dan karenanya memiliki nilai maha besar di mata Tuhan. . . . . Itu adalah pesan yang luar biasa. Dan itu pasti menjadi pesan yang maha kuat bagi banyak orang yang belum pernah merasakan bahwa hidup mereka punya nilai. Saya kira itu adalah daya tarik maha kuat dari agama yang satu itu. . . . . . Gerakan Kristen terasa menyampaikan suatu perasaan tentang nilai manusia dengan dua cara. Pertama lewat cerita tentang Yesus dan kesederhanaannya dan kerendahannya dalam hal status sosial, dalam hal pencapaian-pencapaian, dalam hal pengakuan di masa hidupnya. Kedua lewat cerita tentang penciptaan alam semesta; cerita itu menyampaikan status ningrat pada setiap orang. . . . .

Setiap kali kita memikirkan daya tarik gerakan itu bagi banyak orang, jelas lah bahwa beberapa orang tertarik pada bagaimana komunitas itu merawat orang-orang. Misalnya, seperti elemen-elemen lain dari komunitas Yahudi, para pengikut Yesus cenderung memberi makan orang-orang miskin, merawat orang-orang yang menjadi janda agar mereka tidak menjadi pelacur, dan anak yatim piatu, dan sebagainya. Itu adalah kewajiban pertama kesalehan Yahudi. Dan para pengikut Yesus jelas memahami hal itu. Kita tahu bahwa jika orang-orang bergabung dengan komunitas-komunitas Kristen di Roma, misalnya, mereka pasti dikubur. Di jaman kuno itu, hal itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sudah selayaknya bagi tiap orang. Dan masyarakat yang satu itu adalah masyarakat di mana orang-orang saling memelihara satu sama lain. Jadi itu adalah daya tarik yang sangat kuat dari gerakan itu.

Judul asli: “The Great Appeal.”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/first/kingdoms.html.

Terjemahan: Bern Hidayat, 12 November 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: