Benturan dengan Paganisme

27/01/2010

Karena menarik perhatian akibat ketidak-hadiran mereka dalam pesta-pesta perayaan  besar kerakyatan atau kenegaraan Romawi, orang-orang Kristen purba sering dipandang dengan kecurigaan dan kesalah-pahaman

Wayne A. Meeks:

Woolsey Professor of Biblical Studies Yale University

DI LUAR PALESTINA

Bagaimana klaim yang agak tidak lumrah mengenai Messiah yang dibangkitkan kembali itu diterima oleh telinga orang kafir?

Itu adalah pertanyaan yang paling sulit dijawab. Ini jelas merupakan sebuah interpretasi yang diawali dalam sebuah kerangka Yahudi, yang didasarkan pada kitab-kitab Yahudi. . . . . yang dipahami dalam institusi-institusi Yahudi serta tradisi-tradisi Yahudi. Nah, kesulitan yang sebenarnya  adalah: menjelaskan lompatan besar yang terjadi ketika Kristianitas bergerak keluar dari desa-desa Palestina memasuki pusat-pusat urban di provinsi-provinsi Romawi Timur, dan dengan cepat menyeberang batas antara komunitas Yahudi lokal, yang tidak menanggapi pesan tadi dengan baik, ke dunia luar, para anggota masyarakat biasa dari kota-kota Greko-Romawi yang mutlikultural itu, yang tidak mempunyai konsep apa pun tentang Messiah, yang mungkin lebih tertarik pada seorang Raja Orang Yahudi, yang mendapatkan gagasan tentang kebangkitan kembali dari antara orang mati itu sebuah konsep yang sangat ganjil, paling banter begitu . . . . Bagaimana mereka melakukan transisi itu; bagaimana mereka mentransformasikan pesan mereka untuk menjadikannya nalar di telinga orang-orang itu?

IMIGRAN DI KOTA-KOTA GREKO-ROMAWI

Salah satu karakteristik Kekaisaran Romawi dalam periode itu, dari akhir masa Republik sampai ke merosotnya Kekaisaran Romawi, adlah bahwa mendadak saja ada kebebasan bergerak yang sangat besar, jauh melebihi periode mana pun sebelum itu dan, dalam beberapa hal, lebih merdeka ketimbang periode manapun yang akan datang, sampai ditemukannya kapal uap. Itu berarti bahwa di setiap kota di provinsi-provinsi Romawi Timur itu ada aneka macam orang yang berimigrasi ke sana dari tempat-tempat lain, sehingga anda akan menemukan banyak kelompok etnik yang harus ebradaptasi dengan kebudayaan yang lebih besar, dan itu mereka lakukan dengan dua cara. Pertama, dengan jalan berasimilasi pada sesuatu pola, yang telah disodorkan pada hal ini oleh hal-hal Yunani dan hal-hal Romawi—kekuatan-kekuatan budaya dan kekuatan-kekuatan politik. Cara kedua adalah dengan berusaha mempertahankan identitas mereka, dengan mengimpor ini-itu dari negeri asal, dan hal-hal yang mereka impor itu, yang menetapkan identitas, kebanyakan adalah agama. . . . .

DELOS

Misalnya, jika anda . . . . pergi ke pulau kuno Delos dan mengamati sisa-sisa peninggalan arkeologis dari berbagai kelompok imigran, anda akan melihat sebuah tempat di mana orang-orang Italia dahulu membangun sebuah asosiasi, di tempat yang sana anda akan menemukan sebuah clubhouse besar, yang dibangun oleh para imigran dari Beirut, yang telah membangun sebuah pusat pemujaan untuk dewa mereka, yang waktu itu mereka namakan Neptune dan Poseidon, sebab itu dipahami dalam budaya yang lebih luas itu. Di atas bukit-bukit sana, anda akan menemukan kuil-kuil para dewa Mesir, dan sebagainya dan sebagainya. Di bagian belakang pulau, anda akan menemukan, dengan jarak terpisah hanya sejauh 100 yard, lokasi kelompok Samaritan dan lokasi sinagoga Yahudi.

Jadi, bagaimana orang-orang itu memapankan diri dan membangun identitas diri—dalam budaya itu? Dan, jawabannya, saya kira, akhirnya akan ditemukan dalam renik-pernik keluarga Greko-Romawi—rumahtangga. Berulang-ulang, anda akan menemukan sebuah kelompok yang masuk, mereka telah mapan di sebuah wilayah, dengan orang-orang dari negeri-negeri yang sama dan kepercayaan-kepercayaan yang serupa dan identitas yang serupa. Mereka membangun sebuah asosiasi di seputar dewa-dewa asli mereka, dan mereka menemukan seseorang patron, yang mungkin salah satu anggota dari kelompok itu, mungkin berasal dari luar kelompok, tetapi yang jelas orang yang mempunyai sarana lebih dari cukup, untuk memberikan sebuah tempat bagi mereka untuk berkumpul—mengundang mereka ke rumahnya—dan seringkali patron itu perempuan. . . . dan di sana memberi mereka tempat, keamanan, dan, katakanlah, sebuah jembatan. . . . menuju masyarakat yang lebih luas. Orang-orang Yahudi mengikuti prosedur yang serupa.

DURA-EUROPAS

Tempat lain yang akan banyak membantu untuk melihat hal itu adalah sebuah kota kecil di pinggir Sungai Efrat, yang disebut Dura-Europas, yang beruntung dihancurkan pada tahun 256—beruntung dari sudut pandang arkeologis, karena sisa-sisanya ada di sana, tidak tersentuh sampai 1935, ketika penggalian-penggalian mulai dilakukan. Dan di situ, kita temukan sepanjang sebuah tembok jalanan, yang terkubur di bawah pasir, kita temukan sebuah tempat, yang dahulu merupakan sebuah rumah, sebuah tempat tinggal pribadi, yang telah diubah menjadi kuil dewa Mithras. Kita menemukan sebuah rumah lain yang telah diubah menjadi sebuah sinagoga, dengan lukisan-lukisan agung di dinding, dan kita menemukan sebuah rumah kecil lain, yang telah diubah menjadi tempat perkumpulan orang Kristen, dengan sebuah baptistery, juga dengan lukisan-lukisan di dinding.  Hal itu secara agak grafis mengilustrasikan prosedur dengan mana rumahtangga pribadi bisa menjadi semacam pangkal jembatan bagi sebuah kelompok baru, yang membangun identitasnya, yang pada saat yang sama memungkinkannya menyesuaikan diri dengan masyarakat yang lebih luas di kota itu, tetapi juga mempertahankan adat-istiadatnya sendiri dan identitasnya sendiri yang spesial.

ORANG-ORANG KRISTEN—SEBUAH KELUARGA BARU

Bagaimana kelompok-kelompok Kristen terhubung dengan fenomena itu?

Nah, di antara kelompok-kelompok imigran tersebut. . . . muncul sebuah kelompok yang kemudian dikenal sebagai orang-orang Kristen. . . .tetapi ada yang aneh mengenai hal ini. Mereka bukan kelompok imigran. Mereka tidak datang dari tempat lain. Tidak diragukan lagi, mereka bermula sebagai sebuah sempalan dari sesuatu komunitas Yahudi lokal, tetapi mereka datang dari segala penjuru. Komposisi etnik mereka bervariasi, tetapi mereka berperilaku seakan-akan mereka adalah imigran entah dari mana. Mereka semua mempunyai ciri-ciri sebuah kelompok imigran, dan ini menjadi keanehan tersendiri. Bagaimana mereka bisa menjadi begitu beda sehingga mereka melestarikan identitas tertentu, lewat praktek-praktek mereka dan lewat kepercayaan-kepercayaan mereka, yang berbeda dari budaya sekitarnya? Dan saya kira jawabannya adalah bahwa mereka adalah apa yang oleh para sosiolog modern disebut kelompok “conversionist.” Ini berarti bahwa, jika anda menjadi bagian dari kelompok itu, anda tidak menjadi bagian dari kelompok lain manapun. Proses inisiasi itu, yang menjadikan seseorang anggota dari kelompok itu, pada saat yang sama memotong orang yang bersangkutan dari kelompoknya yang dahulu, atau bahkan dari keluarganya sendiri, dan aspek itulah yang membuat orang itu tampak seperti seorang imigran. Bahasa yang mereka gunakan, yang menyebut satu sama lain saudara atau saudari, anak-anak Tuhan, dan sebagainya, mengisyaratkan adanya resosialisasi seperti itu, di mana mereka telah menjadi keluarga yang berbeda, komunitas yang berbeda.

RITUAL-RITUAL KRISTEN PURBA

Di antara hal-hal yang menjadikan orang-orang Kristen berbeda adalah sepasang ritual yang mereka kembangkan sudah sejak awal, bahkan sebelum sumber-sumber tertua yang kita dapatkan mengenai mereka. Salah satunya adalah sebuah upacara inisiasi, yang mereka sebut baptisme, yaitu sebuah kata Yunani yang berarti mencelupkan kepala dalam air. Yang menarik adalah bahwa jika anda pergi ke kota kecil Dura-Europas dan pergi ke bangunan Kristen abad ke-3 itu. . . . . persis di tempat di mana normalnya orang menemukan patung dewa, di situ yang ditemukan malah apa yang kaan anda perkirakan sebagai sebuah bak mandi, dengan beberapa lukisan menarik di dinding di belakangnya. Itu adalah Baptistery. Itu adlaah tenmpat di mana orang-orang diinisiasi memasuki kultus baru itu. mengapa itu pusatnya? Mengapa itu titik fokalnya? Jelas sesuatu yang penting terjadi di sini, sesuatu yang ebgitu fundamental bagi upaya menetapkan identitas sebuah kelompok, sesuatu yang pada saat yang sama mengikat mereka bersama-sama sehingga mereka bicara tentang diri sendiri sebagai sebuah keluarga tetapi juga yang memisahkan mereka, dari sudut pandang tertentu, dari masyarakat di sekitar mereka.

Ritual penting kedua yang mereka kembangkan adalah sebuah perjamuan makan bersama, yang mereka nikmati bersama-sama, yang didisain sebagai sebuah kenangan tentang Perjamuan Terakhir Yesus dengan murid-muridnya. Ini sudah tercatat dalam salah satu surat Paulus, dan Paulus menceritakannya sebagai sebuah tradisi yang ia terima dan kemudian ia teruskan pada orang-orang di Korintus. Jadi itu adalah hal yang sudah amat sangat tua dan mempunyai aneka macam interpretasi, tetapi sebagai sebuah ritual, jelas itu adalah sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, di mana komunitas itu berkumpul dan menegaskan kembali kesatuan mereka dengan satu sama lain dan perbedaan mereka dari orang-orang lain.

Pada akhirnya, kelompok Kristen di Roma lah yang tampil di puncak di antara kelompok-kelompok itu. Menurut anda mengapa hal itu terjadi?

Setidak-tidaknya sejauh menyangkut Kristianitas Barat, Roma akhirnya muncul sebagai pusat segala hal dan sebagai broker kekuasaan. Dari sudut pandang tertentu, itu sepenuhnya natural. Bagaimanapun juga, kita sedang bicara tentang sebuah gerakan yang Kekaisaran Romawi. Dan Roma adalah ibukota. . . . . Jelaslah, pusat politis dan pusat kultural itu mengimbas kedalam politik gereja dan kultur gereja juga, ketika Kristianitas muncul sebagai kelompok yang makin lama makin kerasan dalam kebudayaan Kekaisaran Romawi.

Kedengarannya seakan-akan Kristianitas mampu, katakanlah, menyebar dan bertahan hidup dan sukses, antara lain karena ia makin lama makin—katakanlah—meniru, mungkin, beberapa dari praktek-praktek Eropa.

Hubungan antara kelompok-kelompok Kristen dengan masyarakat paling luas di sekitar mereka, kebudayaan di sekitar mereka, bersifat ambigu dan ambivalen—sudah sejak sangat awal. Di satu pihak, salah satu dari sumber kekuatan mereka adalah bahwa mereka beda. Mereka berperilaku seperti sekelompok imigran, bahkan sekalipun mereka bukan imigran. Mereka membuat jarak dengan kebudayaan di sekitar mereka. Mereka beda, mereka dipandang sebagai beda, oleh orang-orang luar dan oleh mereka sendiri. Di pihak lain, mereka tergantung pada hal-hal yang bersifat sangat umum dalam kebudayaan itu.  Mereka menginterpretasikan diri sendiri dengan simbol-simbol dan bahasa dan harapan-harapan yang bersifat umum  bagi banyak kelompok, baik religius maupun non-religius, dalam kebudayaan itu. Di satu pihak, mereka ingin berdiri terpisah. Di pihak lain, mereka ingin memikat setiap orang, dan ambivalensi ini, paradoks antara in-group dengan kebudayaan luar itu, berjalan terus tanpa henti, saya kira, sepanjang sejarah Kristianitas. . . . . . .

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

PANDANGAN ORANG KAFIR TERHADAP ORANG KRISTEN

Bagaimana pikiran para tetangga mengenai anggota kultus baru itu—orang-orang yang disebut Kristen itu?

Mulai awal abad ke-2 tampak bahwa orang-orang Kristen, karena mereka tidak lagi dipandang sebagai sebuah sekte Yudaisme, sebenarnya mulai dianggap oleh tetangga-tetangga kafir mereka sebagai salah satu dari sekian banyak kultus asing yang banyak merambah masuk ke dunia Romawi, dan yang jelas dalam beberapa kasus hal itu memunculkan keprihatinan  dan kekecewaan besar di kalangan tetangga mereka. Mereka tidak tahu bagaimana harus menyikapi orang-orang Kristen. Mereka tidak tahu apa yang mereka ajarkan atau apa yang mereka katakan atau apa yang mereka lakukan, jadi beberapa pertanyaan mulai bermunculan.

Kita cenderung memikirkan Kristianitas sebagai bertentangan dengan paganisme di kekaisaran Romawi, tetapi  kita harus hati-hati mengenai apa yang kita maksudkan dengan paganisme. Pertama, paganisme itu sendiri sebenarnya bukan agama. Yang disebut doktrin paganisme itu tidak ada. Kenyataannya, kita harus ingat bahwa orang-orang Kristen lah yang menggunakan istilah itu untuk mendefinisikan orang-orang yang bukan Kristen. Itu adalah istilah Kristen untuk kelompok atau orang-orang lain, jadi itu sebenarnya adalah cara berpikir orang Kristen. . . . . .

Bagaimana para tetangga tahu bahwa saya orang Kristen? Kedengarannya kok sangat personal.

Dalam banyak hal, kita barangkali harus beranggapan bahwa orang-orang Kristen secara keseluruhan pasti tidak akan tampak beda dari tetangga-tetangga mereka. Di banyak tempat dan di banyak kesempatan mereka pasti selaras benar dengan lingkungan sosial mereka yang lebih besar. Mereka pasti telah membaur. Dengan beberapa kekecualian, dan di sinilah orang-orang Kristen menjadi lebih diperhatikan oleh tetangga-tetangga mereka. Mereka tidak pergi ke kuil-kuil. Pada hari-hari raya penting di mana sudah menjadi adat kebiasaan bagi orang-orang untuk menyelenggarakan korban bagi kesehatan kaisar dan bagi kesejahteraan negara. Orang-orang Kristen barangkali memandang ritual-ritual itu sebagai tidak cocok dengan kepercayaan mereka pada satu Tuhan. Jadi ketidak-hadiran mereka membuat mereka menjadi tanda tanya.

Ketika orang-orang Kristen benar-benar menjadi lebih terkemuka di arena sosial kota-kota Yunani dan Romawi, orang-orang kafir mulai memperhatikan ketidak-hadiran mereka dalam hari-hari perayaan penting dan ketidak-sediaan mereka untuk berpartisipasi dalam aspek-aspek kehidupan sosial tertentu. . . . . Baru ketika proporsi orang-orang Kristen menjadi cukup besar di kekaisaran secara keseluruhan, dan di kota-kota pada khususnya, maka tetangga-tetangga mereka mulai memperhatikan betul-betul dan penganiayaan pun dimulai.

ALEXAMENOS MENYEMBAH TUHANNYA

Dapatklah anda menggambarkan graffiti Alexamenos dan signifikansinya? Apa yang graffiti  itu isyaratkan mengenai bagaimana orang-orang Kristen dipandang?

Salah satu dari implikasi-implikasi besar yang kita peroleh dari materi abad ke-2, misalnya surat-surat Pliny yang menggambarkan orang-orang Kristen, adalah bahwa orang-orang Kristen pada tahap ini masih merupakan sesuatu yang baru dari perspektif orang-orang Romawi. Orang-orang Romawi belum mengerti betul manusia macam apa mereka itu. Mereka aneh. Mereka tampak seperti orang-orang Yahudi. Orang-orang Kristen tidak melakukan hal-hal tertentu, dan orang-orang Romawi benar-benar tidak memahami apa yang mereka percayai, apa yang mereka perjuangkan, dan mengapa mereka beda. Pokoknya mereka beda. Mereka asing. Kita mempunyai contoh yang bagus mengenai perspektif kafir ini terhadap orang-orang Kristen dari sebuah graffiti yang ditemukan di Roma, dari Bukit Palatine. Graffiti itu menggambarkan seorang lelaki yang tergantung di kayu salib dan di bawahnya tertoreh tulisan yang digoreskan dengan kasar di tembok.. . . . . Secara literal itu memang betul-betul graffiti dalam pengertian modern, dan graffiti itu berbunyi “Alexamenos menyembah tuhannya.” Dalam gambar itu kita lihat Alexamenos membungkuk di hadapan lelaki di kayu salib, tetapi hal yang tidak biasa adalah bahwa lelaki di kayu salib itu mempunyai kepala seekor keledai. Dari perspektif orang-orang kafir itu, ada kepercayaan yang tidak biasa, yang melekat padaKristrianitas. Mereka memuja seorang lelaki yang disalib, dan hal itu sendiri barangkali merupakan sesuatu sang bagi mereka sangat ganjil, dan kedua, identitas orang di kayu salib itu entah bagaimana dikacau-balaukan dengan sesuatu dewa binatang. . . . semacam setengah manusia dan setengah binatang yang aneh. Orang-orang kafir itu benar-benar tidak bisa memahami apa semua itu.

Sebagaimana orang-orang kafir memandangnya, apakah Kristianitas dianggap sebagai agama yang tolol?

Bahkan seandainya kita mendengar lumayan banyak tentang serangan orang-orang kafir terhadap Kristianitas sebagai tolol atau kriminal dan kita tahu beberapa penganiayaan memang terjadi, kita tidak boleh otomatis berasumsi bahwa semua orang Kristen menentang pemeritnah Romawi, adalah bagian amrjinal dari masayarakat. Dalam banyak kasus, orang-orang Kristen betul-betul berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas sosial dan menjadi warga negara yang baik. Sungguh, orang-orang Kristen sering mengklaim, “Kami adalah bagian yang paling etis dari kekaisaranmu. Kami berperilaku lebih baik dari kalian. Kenapa kamu masih ingin menganiaya kami?”

ORANG-ORANG KRISTEN BERPARTISIPASI  DALAM BUDAYA KAFIR

Ketika kita mendengar tentang orang-orang kafir mengkalim bahwa orang-orang Kristen itu antisosial—“pembenci umat manusia” adalah istilah yang kemungkinan besar digunakan oleh orang-orang kafir itu sendiri—apa yang sebenarnya mereka maksudkan adalah ketidak-sediaan orang-orang Kristen pada waktu-waktu tertentu untuk berpartisipasi dalam aspek-aspek yang paling umum dari kehidupan keagamaan kota-kota. Kita harus ingat bahwa agama di dunia kuno adalah bagian penting dari kehidupan publik. Mereka tidak mempunyai konsep tentang pemisahan antara negara dengan agama. Yang ada justru sebaliknya. Agama adalah salah satu feature paling penting dari pemeliharaan negara. Orang menyelenggarakan upacara korban pada hari-hari tertentu untuk merayakan berdirinya negara. Oraqng menyelenggarakan upacara korban pada hari ulangtahun kaisar. Kota-kota sering sekali menyelenggarakan festival-festival untuk merayakan para kaisar dan seluruh rakyat diharapkan untuk bergabung dan kebanyakan orang memang ingin bergabung. Bagaimanapun juga, itu adalah pesta rakyat.  Pesta besar. . . . . Lebih enak lagi, para bangsawan yang membiayai semua itu. para magistrat kota adalah orang-orang yang membiayai makanan dan perayaan-perayaan itu dan jika anda warga umum kota biasa, anda boleh datang begitu saja dan menikmati pesta. Bagi banyak orang kecil barangkali hanya saat itulah mereka bisa makan enak, makan makanan-makanana tertentu. Korban-korban yang dipersembahkan di kuil-kuil seringkali kemudian dibagi-bagikan kepada orang-orang. Begitulah perayaan-perayaan itu berjalan, bisa sampai berhari-hari, dan berpartisipasi adalah hal yang penting dilakukan.

Kemungkinan besar dalam konteks inilah antipati terhadap Kristianitas mulai berkembang, justru karena orang-orang Kristen tidak mau pergi dan berpartisipasi. Mereka tidak ingin pergi ke kuil-kuil dan merayakanm hari ulangtahun kaisar. Mereka tidak ingin membawa makanan yang telah dikorbankan bagi dewa-dewa kafir dan memakannya di rumah karena melakukan hal itu akan menenmpatkan mereka pada posisi berpartisipasi dalam penyembahan berhala yang tidak dapat dibenarkan oleh agama mereka.

PENGGUNAAN SIMBOL-SIMBOL KAFIR OLEH ORANG-ORANG KRISTEN

Integrasi kehidupan religius dan intelektual Kristen kedalam dunia Romawi bisa dilihat dalam sejumlah hal: partisipasi mereka dalam kehidupan sosial, partisipasi mereka yang semakin besar dalam aktivitas-aktivitas publik, tetapi itu juga bisa dilihat dalam beberapa dari simbol-simbol yang lebih kecil dan lebih intim dari identitas Kristen yang orang mulai temukan di dunia Romawi. Dua dari simbol artistik terpenting yang kita temukan adalah gembala yang baik dan orans atau sosok yang berdiri dalam posisi bersembahyang, yang kita lihat begitu menonjol dalam katakomba-katakomba. . . . .Yang sangat penting dikenali adalah bahwa kedua simbol itu sebenarnya adalah simbol-simbol kafir yang sudah sangat tua, yang sudah lama beredar di dunia Romawi, dan kenyataannya bahkan dalam katakomba-katakomba itu sulit sekali untuk mengenali apakah sesuatu lukisan itu Kristen atau kafir, sehingga sekalipun kita mempunyai lukisan gembala yang memanggul anak domba atau yang berdiri menunggui domba-dombanya yang menggerombol di dekat kakinya, kita sekarang cenderung mengira bahwa hal itu mencerminkan kisah-kisah injil tentang Yesus dan domba yang hilang atau Yesus sebagai gembala yang baik dari Injil Yohanes. Kenyataannya, dari perspektif Romawi, ini adalah simbol keutamaan philantrophy, keutamaan cinta kasih kemanusiaan, dan itu adalah salah satu dari keutamaan terbesar dari kehidupan civic dan publik Romawi. Rupanya orang-orang Kristen dengan sigap mengambil simbol itu dan menerapkannya pada keutamaan-keutamaan injil juga. Mengenai simbol orans itu. . . . itu adalah simbol orang kafir untuk kesalehan, kesetiaan pada negara, dan karenanya orang yang berdiri dengan mata tertuju ke langit dan kedua tangan memohon pada dewa-dewa biasa dipandang oleh seorang kafir sebagai sebuah tanda kesetiaan pada negara, kesetiaan pada dewa-dewa tua. Bagi orang Kristen itu lalu menjadi kesetiaan pada Tuhan Yesus Kristus.

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament Yale Divinity School

RESPON ORANG-ORANG KAFIR TERHADAP PAULUS

Siapakah Paulus itu?

Paulus, yang sebelumnya bernama Saulus, adalah seorang Yahudi dari Diaspora, dari Tarsus, yang menurut pengakuannya sendiri dalam Surat kepada orang-orang Filipi adalah seorang Farisi karena pendidikan. Dan orang yang berusaha mematuhi Torah, jalan hidup kitab-kitab. Paulus bertemu dengan Kristus yang telah bangkit, yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul sebagai Pengalaman Jalan Damaskus. Itu jelas sebuah dramatisasi, tetapi Paulus sendiri dalam suratnya pada orang-orang Galatia berbicara tentang sebuah pewahyuan tentang Kristus yang pernah ia alami. Dan melalui pewahyuan itu ia menjadi yakin bahwa orang yang mati di kayu salib sebagai seorang penjahat politik itu sebenarnya adalah Messiah yang diurapi oleh Tuhan. Dan esensi dari injil Paulus, apa yang ia ajarkan di seluruh penjuru kawasan Laut Tengah, berkisar di seputar arti penting kedua kejadian itu, yaitu kematian dan kebangkitan kembali Kristus. . . . .

Paulus terkenal karena membawa pesannya ke luar, ke dunia orang-orang non-Yahudi di Diaspora dan kemudian ke seberang Diaspora, jadi bagaimana penangkapan pesan Paulus itu di telinga orang-orang Yunani dan Yahudi yang telah mengalami Hellenisasi?

Ada sebuah frasa sederhana dalam surat Paulus kepada orang-orang Korintus yang merangkum penerimaan itu, bahwa apa yang tengah ia ajarkan pada orang-orang itu tidak nalar bagi orang-orang Yunani. Dan ada sebuah episode dalam Kisah Para Rasul yang menjelaskan ketidak-nalaran tadi, ketika di bukit Areopagus di Athena, Paulus berkhotbah pada para filsuf yang berkumpul di sana dan bercerita pada mereka tentang kematian dan kebangkitan kembali Kristus. Mereka semua mendengarkan dengan penuh perhatian, sampai Paulus berbicara tentang kebangkitan kembali, dan baru pada saat itulah mereka meninggalkan dia karena membuat pernyataan yang mereka anggap kebablasen. Mereka bisa memahami klaim-klaim tentang kekekalan roh, tetapi gagasan tentang tubuh yang sudah mati bisa dibangkitkan kembali dipandang sebagai konyol.

Baca juga:  Octavius Minucius Felix (Ritual Kanibalisme Kristen) dan Hyppolytus

Judul asli:: “Collision with Paganism”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: