Bangsa-bangsa Tetangga Yahudi di Palestina

27/01/2010

Oleh: Ernest L. Martin

Sebelum memahami kisah lengkap tentang apa yang terjadi pada orang-orang Samaritan yang pergi ke Eropa dan menjadi orang-orang Kristen (dan mengetahui apa yang terjadi pada beberapa bangsa lain yang serupa dengan mereka), kita harus menyimak perkembangan dari apa yang disebut Yudaisme Rabbinik sesudah kejatuhan Yerusalem pada tahun 70 EB. Catatan-catatan menunjukkan bahwa Yudaisme (mainstream) menjadi sangat terisolir dari bangsa-bangsa lain yang dulu menjadi tetangga-tetangga mereka di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa sejak tahun 70 EB. “Isolasi” inilah yang menyebabkan Yudaisme Rabbinik praktis berkembang menjadi sebuah sistem kepercayaan yang terpadu di abad ke-2, 3, sampai ke-6 yang sangat menentukan itu. Sejak tahun 70, dan khususnya sejak perang Bar Kochba pada tahun 135 EB, Yudaisme praktis terpencil di antara bangsa-bangsa dan agama-agama dunia. Tetapi bukan itu yang terjadi sebelum tahun 70 EB.

Dalam 200 tahun sebelum kehancuran Yerusalem pada 70 EB, Yudaisme dengan mantap berkembang menjadi kepercayaan religius yang sangat populer di antara banyak bangsa non-Yahudi yang tinggal dekat orang-orang Yahudi di Palestina. Cukup banyak orang dari bangsa-bangsa di sekitarnya yang cenderung menerima Yudaisme dan orang-orang Yahudi dengan senang hati. Kenyataannya, dua dari bangsa-bangsa terdekat telah dipaksa memeluk Yudaisme dan para pria mereka dipaksa sunat dan menjalankan upacara-upacara Yahudi. Salah satunya adalah sisa-sisa bangsa Edom (disebut orang Idumea) yang ditundukkan oleh raja Yahudi John Hyreanus pada sekitar 125 SEB, dan dipaksa sunat serta mengikuti upacara-upacara yahudi (Josephus, Antiquities, XV.7.9). Yang lain adalah sebuah suku Arab yang disebut orang-orang Ituria yang berdiam di antara Laut Galilei dengan Damascus. Mereka dipaksa oleh raja Yahudi Aristobulus (pada tahun 100 SEB) untuk sunat dan menjadi “orang Yahudi”; kalau tidak, mereka diusir dari tanah mereka (Josephus, Antiquities xiii.11.2). Banyak dari mereka tunduk dan dianggap sebagai orang Yahudi. Boleh dikatakan bahwa banyak orang Idumea maupun Ituria menerima agama Yudaisme mereka dengan setengah hati (Josephus menyebut mereka “setengah Yahudi”) meskipun rupanya ada beberapa orang Idumea yang memang serius menjalani konversi mereka.

Kedua kelompok itu mencapai ratusan ribu orang, dan biasanya orang-orang Romawi menganggap mereka sebagai bagian dari bangsa Yahudi. Meskipun begitu, orang-orang Idumea maupun Ituria lenyap dari catatan sejarah sebagai suku-suku bangsa bersamaan dengan jatuhnya Yerusalem pada 70 EB. Kita perlu bertanya apa yang terjadi pada orang-orang itu, yang mungkin dipandang oleh rasul Yohanes sebagai termasuk orang-orang yang “mengatakan mereka Yahudi, tetapi sebenarnya bukan” (Wahyu 2:9; 3:9)?

Kita juga harus menyadari satu kelompok suku bangsa lain yang bergabung dengan orang-orang Yahudi itu (seringkali secara besar-besaran) dalam kurun waktu sekitar seratus tahun sebelum kehancuran Yerusalem (pada 70 EB). Mereka oleh orang-orang Yahudi dikenal sebagai “proselytes” dan “God-fearers.” Proselyte adalah orang non-Yahudi yang kemudian bersunat dan menjalankan peran penuh sebagai seorang “Yahudi baru.” “God-fearers” atau orang-orang yang “takut pada Tuhan” seringkali tidak mau sunat tetapi mempraktekkan upacara-upacara Yudaisme yang lain. Tentu saja para wanita tidak bersunat dan banyak wanita non-Yahudi di daerah-daerah sekitar Yudea menerima Yudaisme dan membesarkan anak-anak mereka dalam masyarakat religius Yahudi. Josephus menyebutkan, sebagai sebuah contoh menarik, bahwa hampir semua wanita Damascus mempraktekkan agama Yahudi (Josephus, Wars, II.20,2), dan banyak orang non-Yahudi di Antioch (ibukota Syria) adalah Yahudi proselytes (Josephus, Wars VII.4,3). Kenyataannya, orang-orang Yahudi berhasil menarik banyak orang menjadi proselytes dari semua daerah ke mana mereka bermigrasi sebelum 70 EB, dan banyak juga orang non-Yahudi yang menjadi “God-fearers” dan hidup seperti orang-orang Yahudi.

Alasan esensiil mengapa banyak suku-suku bangsa non-Yahudi yang hidup di antara orang-orang Yahudi, khususnya di Palestina, Syria dan Asia Minor, berbondong-bondong untuk mempraktekkan agama Yahudi adalah karena harapan bangsa Yahudi yang sudah sangat terkenal bahwa pada suatu ketika kelak—di saat yang kelak kita sebut abad pertama—seorang sosok Messianik akan datang dan mendirikan sebuah kerajaan seantero dunia di mana bangsa Israel (dan bangsa-bangsa yang menjadi sekutu mereka) akan memimpin dan memegang kendali. Sederhananya saja, orang-orang ingin ikut menikmati kerajaan yang diramalkan itu. Sejarawan Romawi Tacitus (Hist. V.13) maupun Suetonius (Vesp. 4) menyebutkan kepercayaan umum orang-orang di seluruh penjuru Kekaisaran Romawi pada awal abad ke-1 bahwa sebuah kekaisaran dunia akan muncul dari Timur, kemungkinan besar dari Yudea. Kenyataannya, Nero bahkan dinasehatkan oleh para astrolognya agar memindahkan ibukotanya ke Yerusalem karena mereka memberitahu kaisar itu bahwa kedaulatan dunia sudah ditakdirkan tak lama lagi akan muncul dari sana (Suetonius, Nero 40). Akibat kepercayaan-kepercayaan populer ini, bahwa orang-orang Yahudi sebentar lagi akan naik daun ke kepemimpinan dunia, banyak suku non-Yahudi ingin mengidentifikasikan diri dengan orang-orang Yahudi agar bisa ikut menikmati pemerintahan itu, dan ribuan orang mereka benar-benar melakukannya.

Di samping harapan profetik yang membuat orang-orang non-Yahudi tertarik ke arah Yudaisme, pada waktu itu memeluk agama Yahudi memang bisa menguntungkan secara moneter. Yerusalem dan daerah Yudea di abad sebelum kehancuran mereka adalah kawasan yang sangat makmur, dan siapa pun yang menjadi teman atau klien orang-orang Yahudi mendapatkan banyak keuntungan finansial yang tidak dinikmati oleh  orang-orang lain. Orang-orang Yahudi di Yudea relatif kaya di masa itu, dan ini khususnya terjadi di Yerusalem di mana Bait Allah itu berada. Bait Allah itu berperan besar dalam mengalirkan kekayaan maha besar ke Yerusalem, juga sumbangan-sumbangan lain dari orang-orang Yahudi dan non-Yahudi dari dunia Romawi dan Parthia. Perhatikan kata-kata Titus jenderal (dan belakangan kaisar) Romawi itu dalam sebuah pidato kepada orang-orang Yahudi sesaat sebelum kejatuhan Yerusalem:

“Kami [orang-orang Romawi] telah memberi kalian ijin untuk mengumpulkan pajak yang dibayarkan pada Tuhan [pajak Bait Allah], bersama dengan persembahan-persembahan lain yang diunjukkan kepadanya: kami juga tidak menanya-nanyai orang-orang yang membawa sumbangan-sumbangan itu, atau menghalang-halangi mereka; sampai akhirnya kalian menjadi lebih kaya daripada kami sendiri, bahkan ketika kalian menjadi musuh kami.”

Josephus, Wars, VI.6,2

Pajak itu adalah pajak tahunan setengah-shekel untuk pemeliharaan Bait Allah yang wajib dibayar oleh setiap lelaki Yahudi usia 20 tahun ke atas. Uang itu dikumpulkan dari berbagai tempat di seluruh penjuru Kekaisaran Romawi, dan seringkali harus diusung dengan pengawalan khusus pasukan Romawi sendiri ke gedung bendahara Bait Allah di Yerusalem. Pajak itu saja —selain itu masih ada persembahan-persembahan lain dalam bentuk uang, hewan, dan sebagainya— menjadi pendapatan yang luar biasa besar setiap tahun bagi Bait Allah. Mari kita coba pahami berapa angkanya dalam US dollar pada tahun 1993. Uang koin dalam mulut ikan yang ditangkap oleh Petrus itu mempunyai nilai satu shekel (yang dalam bahasa Yunani disebut stater).  Koin itu bisa membayar pajak tahunan Bait Allah untuk Yesus dan Petrus (Mateus 17:27). Satu stater sama nilainya dengan empat dram (drachmae, atau dirham); satu dram nilainya sedikit lebih besar daripada satu denarius (uang Romawi). Satu denarius, menurut Yesus, adalah upah seorang buruh biasa untuk pekerjaan satu hari penuh (Mateus 20:2). Jadi setengah-shekel setara dengan upah pekerjaan dua hari penuh. Karena upah minimum kita pada akhir 1993 sedikit di bawah $5 per jam, maka pekerjaan 12 jam akan menghasilkan sekitar $60. Jadi pekerjaan dua hari akan menghasilkan $120. Jadi, didasarkan pada upah harian kita sekarang ini, yang harus dibayarkan oleh setiap lelaki Yahudi usia 20 tahun ke atas kepada Bait Allah per tahun adalah $120. Karena diperkirakan ada antara 3 sampai 4 juta lelaki Yahudi yang harus membayar pajak tahunan itu, maka jumlah totalnya akan mencapai $360 sampai $500 juta —US dollar— dan hanya untuk pajak tahunan setengah-shekel itu. Ini jumlah uang yang luar biasa besar.

Sanhedrin di Bait Allah menetapkan nilai tukar setengah-shekel itu setiap tahun. Nilai itu ditentukan oleh nilai persembahan hewan korban untuk pembersihan dosa per tahun (Shekelim, II.4). Jika nilai hewan korban pembersihan dosa naik akibat kelangkaan hewan, maka Sanhedrin akan menaikkan nilai tukar shekel di Bait Allah. Standar nilai ditetapkan oleh para pejabat Bait Allah sedemikian rupa sehingga Allah akan memperoleh jumlah yang sama yang diterima oleh gedung bendahara setiap tahun terlepas dari berapa pun kurs koinnya (entah mengalami inflasi atau deflasi). Apapun yang terjadi, selalu ada uang dalam jumlah sangat besar yang mengalir masuk ke Yerusalem setiap tahun, dan hal ini membantu membuat ekonomi Yudea dan Yerusalem sangat makmur—bahkan ekonomi negeri-negeri tetangga yang memasok berbagai keperluan orang Yahudi di Yudea juga ikut makmur. Kekayaan bangsa Yahudi itu membuat orang-orang non-Yahudi pada waktu itu ingin ikut merasakan peruntungan orang-orang Yahudi.

Tetapi kekayaan itu lenyap seketika bersamaan dengan hancurnya Yerusalem pada 70 EB. Dengan dihancurkannya seluruh metropolitan Yerusalem maupun Bait Allah, begitu juga dengan sebagian besar Yudea, dan orang-orang  Yahudi mulai tidak dipercaya dan direndahkan oleh banyak bangsa non-Yahudi, maka tidak ada alasan bagi bangsa-bangsa non-Yahudi untuk ingin dihubung-hubungkan dengan orang Yahudi sesudah tahun 70 EB. Setelah tahun itu praktis hanya orang-orang Yahudi yang benar-benar mempraktekkan Yudaisme menyebut diri mereka “Yahudi.”

Ada alasan lain lagi yang membuat orang-orang tidak ingin dihubung-hubungkan dengan orang Yahudi. Untuk membayar biaya peperangan dari tahun 66-70 (sisa-sisa permusuhan masih berjalan terus sampai 73 EB), dan untuk mempermalukan semua orang Yahudi di kekaisaran Romawi, Vespasian, Kaisar Roma, mengumumkan bahwa pajak tahunan Bait Allah sebesar setengah shekel per orang itu—Bait Allah itu sendiri sudah sama rata dengan tanah—sekarang harus disetorkan ke gedung bendahara Romawi. Itu adalah pajak yang khusus dimaksudkan untuk membuat getir dan mempermalukan orang-orang Yahudi. Selain itu, orang-orang Yahudi juga dilarang memiliki tanah di Yudea. Dan ketika Domitian menjadi kaisar, ia membuat pajak itu menjadi lebih keras dan menambahkan pajak-pajak tambahan kepada siapa pun yang mengaku sebagai orang Yahudi.

“Pajak sama-rata atas orang-orang Yahudi itu ditarik dengan luar biasa keras, baik dari orang-orang yang bergaya hidup Yahudi di kota tanpa secara terbuka mengaku Yahudi, maupun pada orang-orang yang menyembunyikan asal-usul mereka dan berusaha menghindari pajak yang dibebankan pada orang-orang itu.”

Suetonius, Domitian, XII

Kebijaksanaan-kebijaksanaan keras yang diberlakukan pada orang-orang Yahudi itu oleh para kaisar Roma merupakan sebuah blessing in disguise (meskipun blessing itu diperoleh lewat penderitaan besar), sebab hal itu membantu mengembangkan apa yang sekarang disebut Yudaisme Rabbinik. Hal itu tidak hanya mempersatukan orang-orang Yahudi menjadi satu masyarakat tunggal, tetapi juga mengeluarkan orang-orang Yahudi setengah-hati atau nominal yang meninggalkan keYahudian mereka akibat kesulitan-kesulitan hidup yang dipaksakan pada mereka. Itu mudah dilakukan jika “Yahudi” nominal itu bisa menunjukkan pada orang-orang Roma bahwa mereka sebenarnya bukan orang Yahudi (ini bisa dilakukan, antara lain, dengan mempersembahkan korban di hadapan dewa-dewa Roma). Jadi setelah kehancuran Yerusalem dan Bait Allah (dan dengan kebencian yang sekarang secara terbuka ditunjuk-tunjukkan pada orang-orang Yahudi), hal itu membantu mengelimisasi dari Yudaisme semua orang yang tidak serius menjaga identifikasi Yahudi mereka. Sungguh, ada dua kejadian historis lain lagi yang terjadi dalam kurun waktu 65 tahun sesudah kehancuran Yerusalem dan Bait Allah yang memperkuat keinginan orang-orang non-Yahudi untuk tidak nampak Jewish.

Di masa pemerintahan kaisar Trajan (117 EB), pecah peperangan lain antara orang-orang Yahudi dengan Romawi. Konfliki itu terutama terjadi di Cyprus, Mesir, dan Cyrenaica (Afrika Utara). Di pulau Cyprus saja selama konflik itu orang-orang Yahudi membunuh 240.000 orang dan menghancurkan kota Salamis, tetapi mereka tidak berhasil memenangkan peperangan setelah kemenangan mereka dalam pertempuran pertama. Tidak ada keterangan yang jelas tentang jumlah orang Yahudi yang tewas di Cyprus, tetapi mustinya angka itu besar. Begitu kejam pembalasan orang-orang Romawi terhadap orang-orang Yahudi sampai semua orang Yahudi yang masih tersisa diusir keluar dari Cyprus dan dilarang pulang ke sana. Dan meskipun beberapa ahli Yahudi merasa yakin bahwa orang-orang Yahudi kembali ke pulau itu tak lama sesudahnya— karena penggalian arkeologis menemukan simbol-simbol Yahudi pada artefak-artefak tertentu di reruntuhan yang berasal dari tahun 117 EB— penelitian kami dalam buku ini menunjukkan bahwa simbol-simbol “Yahudi” itu tidak menjamin bahwa orang-orang yang datang belakangan ke sana benar-benar Yahudi. Eusebius mengatakan bahwa di Mesir pada tahun yang sama puluhan ribu orang Yahudi tewas

Tetapi kemudian bencana lebih lanjut menimpa orang-orang Yahudi khususnya mereka yang tetap tinggal di kawasan Palestina. Pada tahun 132 EB orang-orang Yahudi di Palestina kembali berperang melawan orang-orang Romawi dan sekali lagi mereka dikalahkan, kali ini oleh Kaisar Hadrian, pada 135 EB. Kita diberitahu bahwa 580.000 orang Yahudi tewas dalam perang itu. Perang terakhir melawan Roma itu terbukti menguras kesabaran dan toleransi orang-orang Romawi terhadap orang-orang Yahudi. Akibat dari kemenangan Romawi itu, Hadrian melarang setiap orang yang bersunat untuk mendekati bekas kota Yerusalem dari jarak sepemandangan mata. Ia bahkan mengubah kota itu menjadi sebuah kota kafir dengan nama Aelia.

Ketiga perang besar antara orang-orang Yahudi melawan Roma (66-73;  117; dan 132-135 EB) itu mengakibatkan perubahan-perubahan demografis besar-besaran di antara orang-orang Yahudi atau yang ingin menjadi Yahudi. Keseluruhan ekonomi Yudea (yang berlokasi di tengah Palestina) benar-benar terjun bebas selama 65 tahun itu (70-135 EB). Dengan lenyapnya Yerusalem dan Bait Allah, tidak ada lagi uang yang dikirim ek daerah itu oleh orang-orang Yahudi dari negeri-negeri lain. Karena orang-orang Yahudi tidak diijinkan memiliki tanah di Yudea, keuntungan ekonomis itu semakin dikurangi secara drastis. Bahkan negeri-negeri non-Yahudi di sekitarnya, yang sebelum 70 EB mempunyai penduduk berjubelan (yaitu di Idumea selatan Yudea, Moab dan Ammon di timur Yordan)mereka semua menghilang dari sejarah. Meskipun Justin Martyr mengatakan bahwa ada banyak orang Ammonit di jaman dia hidup (pertengahan abad ke-2 EB), tetapi bahkan di abad ke-1 Josephus menyebut orang-orang di daerah Moab dan Ammon itu sebagai “orang Arab” ( (Antiquities, XIII.14.2).  Dan di masa Origen di awal abad ke-3, ia mengatakan bahwa daerah-daerah Moab, Ammon, dan Idumea pada waktu itu sudah menjadi Arabik (On Job, Book I).  Bahkan bangsa Arab Nabatea yang sudah berperadaban tinggi, yang beribukota di Petra dan kota Edom Bosra (Mostra), juga ikut punah pada 106 EB ketika orang-orang Romawi menjadikan kawasan itu salah satu bagian dari provinsi Syria. Pada waktu itulah suku-suku Arab dari apdang pasir di selatan dan timur mulai menyusup memasuki negeri-negeri itu.  Sama sekali sudah tidak ada basis ekonomi di daerah-daerah Yudea, Idumea, Nabatea, Moab dan Ammon untuk menopang populasi berjubelan yang dulu tinggal di daerah-daerah itu sebelum 70 EB.

Perang Yahudi-Roma tahun 66-73 EB tidak hanya meluluh-lantakkan orang-orang Yahudi di Palestina, tetapi juga mengakibatkan banyak orang meninggalkan daerah-daerah itu untuk pergi ke daerah-daerah lain di Kekaisaran Romawi. Hal ini akan kita bahas secara lebih lengkap dalam bab-bab mendatang. Dan dengan kehancuran final Yerusalem pada 135 EB, semua suku daerah di sekitar Yudea meninggalkan negeri-negeri mereka yang tak lama kemudian dihuni suku-suku padang pasir dari timur dan selatan —suku-suku yang tidak tergantung pada sistem ekonomi yang mengendalikan daerah itu sebelum 135 EB (dan jelas sebelum 70 EB). Sebagaimana dinyatakan oleh Rabbi Simeon bar Yakim dari periode Amora: “Hadrian yang jahat datang dan menghancurkan seluruh negeri.” Pengamatan Schurer mengenai proses pemadang-pasiran ini sangat pas:

“Seluruh Yudea praktis menjadi padang pasir. Limapuluh benteng dan 985 desa dihancurkan, 580.000 orang Yahudi gugur dalam pertempuran, dan mereka yang tewas karena sakit atau kelaparan tidak dihitung.”

  • The History of the Jewish People in the Age of Jesus Christ, 1.553–55

Yerusalem sendiri oleh Hadrian diubah menjadi sebuah kota garnizun militer non-Yahudi yang ia namakan Aelia—nama dia sendiri. Kenyataannya, Aelia menjadi kota militer perbatasan untuk Legiun Ke-10 (kota perbatasan di “padang pasir”), sampai legiun itu pindah ke Aqaba pada sekitar 285 EB (Benjamin Mazar, The Mountain of the Lord, pp.233, 237).

Seluruh kawasan Yudea, Idumea, Nabatea (sekitar Petra), dan Moab serta Ammon di sebelah timur Sungai Yordan menjadi daerah ekonomi yang sangat terbelakang sejak kehancuran Yerusalem dan Bait Allah pada 70 EB (dan khususnya setelah 135 EB), dan mereka tidak pernah mampu memulihkan diri sampai ke tingkat kemakmuran semula sampai jaman Constantine, ketika para pejiarah mulai sekali lagi datang ke Palestina.

Kami akan menunjukkan bahwa ribuan orang dari daerah-daerah itu (dan daerah-daerah dekat Syria dan Asia Minor) memasuki semua kawasan bagian barat Kekaisaran Romawi dalam dua abad sebelum Kristus. Sisa dari orang-orang ini (yang pernah tinggal di daerah-daerah makmur itu sebelum tahun 70 EB) mengikuti saudara-saudara mereka dan pindah ke daerah-daerah lain di barat dan utara Kekaisaran. Daerah-daerah di tenggara Kekaisaran tidak mampu memulihkan populasi maupun kekuatan ekonominya sampai jaman Constantine.

Setelah 70 EB (dan khususnya setelah 135 EB), basis ekonomi nyata di Timur Tengah kembali ke Mesir, bergeser ke Antioch, dan juga ke bagian lain Asia Minor (khususnya di bagian baratnya). Bagian-bagian barat Kekaisaran mulai marak. Roma dan bahkan Lembah Rhone di Gaul (sekarang Perancis) menjadi lumayan makmur. Karena itu (dan karena banyak dari saudara-saudara mereka sudah berada di barat) ribuan orang boyongan keluar dari Palestina dan daerah-daerah sebelahnya ke utara dan barat. Boyongan massal itu melibatkan orang-orang Yahudi, Samaritan, dan suku-suku dari sisi timur Yordan dan Syria. Seluruh Cyprus direpopulasi dengan orang-orang dari timur, dan sebagian besar dari Cyrenaica (sekarang Lybia) direpopulasi dengan orang-orang timur akibat terpuruknya orang-orang Yahudi di Cyprus dan Cyrenaica. Mengenai perpindahan orang-orang ini, masih banyak yang akan kami bicarakan dalam bab-bab mendatang buku kami.

Dari buku: The People that History Forgot

Sumber: www.askelm.com

Terjemahan: Bern Hidayat, 25 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: