Arkeologi dan Perjanjian Baru

27/01/2010


oleh Pat Zukeran


Ada perdebatan yang sampai sekarang masih terus berlangsung di antara para ahli mengenai akurasi historis Injil. Beberapa orang ahli merasa bahwa injil adalah karya fiktif dan harus dibaca sebagai fiksi sastra. Yang lain merasa injil adalah karya historis akurat yang diilhami oleh Tuhan. Arkeologi telah memainkan peranan besar dalam menentukan apakah Injil bisa dipercaya atau tidak. Di sini kita akan melihat temuan-temuan arkeologis yang menegaskan akurasi historis Perjanjian Baru. Ada banyak bukti dari luar Injil yang menegaskan kisah tentang Yesus sebagaimana ditulis dalam injil-injil.

Meskipun begitu, penting untuk disadari bahwa adalah tidak realistis untuk mengharapkan arkeologi mendukung setiap kejadian dan tempat dalam Perjanjian Baru. Perspekstif kita adalah mencari bukti apa saja yang ada dan melihat apakah bukti itu cocok dengan Perjanjian Baru atau tidak.

Penegasan Historis tentang Yesus

Bukti pertama datang dari keempat injil, dan ini sudah terbukti akurat..{1} Di luar teks injil ada beberapa saksi. Sejarawan Yahudi Josephus (37 A.D.–100 A.D.) mencatat sejarah bangsa Yahudi di Palestina dari tahun 70 EB sampai 100 EB. Dalam bukunya, Antiquities, dia menyatakan:

Sekitar waktu itu ada orang yang bernama Yesus, seorang bijaksana, jika patut menyebutnya orang, sebab ia melakukan banyak perbuatan yang mentakjubkan, guru dari orang-orang yang menerima kebenaran dengan sukacita. Ia berhasil menarik banyak orang Yahudi maupun orang non-Yahudi. Ia adalah Kristus dan ketika Pilatus, atas saran orang-orang terkemuka di antara kita, menjatuhkan hukuman mati padanya di kayu salib, orang-orang yang mencintai dia tidak meninggalkannya. Sebab ia muncul kembali dalam keadaan hidup pada hari ketiga, sebagaimana telah diramalkan oleh nabi-nabi suci beserta sepuluh ribu hal-hal mentakjubkan mengenai dia; dan orang-orang Kristen, yang dinamakan demikian karena mereka mengikuti dia, tidak punah bahkan sampai hari ini.{2}

Meskipun Josephus menyebut-nyebut Yesus dengan cara yang sarkastis, ia menegaskan fakta-fakta bahwa Yesus melakukan banyak mukjijat, berhasil menghimpun pengikut, disalib, dan dinyatakan bangkita kembali dari mati pada hari ketiga.

Pliny Muda, gubernur Bythynia di Turki barat-laut, menulis sebagai berikut kepada Kaisar Trajan pada tahun 112 EB:

Mereka mempunyai kebiasaan berkumpul pada hari tertentu  menjelang fajar, ketika mereka menyanyikan lagu pujian untuk Kristus sebagai Tuhan, dan mengikat diri mereka sendiri dengan sebuah sumpah sepenuh hati untuk tidak melakukan perbuatan jahat, untuk berusaha untuk tidak menipu, tidak mencuri, dan tidak berjinah, untuk tidak pernah melanggar janji mereka, atau mengingkari sebuah kepercayaan ketika dipanggil untuk menghormati kepercayaan itu, setelah itu seperti biasanya mereka berpisah, dan kemudian berkumpul lagi untuk perjamuan makan, tetapi yang biasa-biasa saja dan tidak berbahaya.

Salah seorang sejarawan Romawi terpenting adalah Tacitus. Pada tahun 115 EB ia mencatat penganiayaan Nero terhadap orang-orang Kristen, yang ia nyatakan sebagai berikut:

Kristus, dari siapa nama (Kristen) itu berasal, dijatuhi hukuman mati secara ekstrim selama pemerintahan Tiberius di tangan salah seorang procurator kita, Pontius Pilatus, dan dengan demikian sebuah kepercayaan klenik yang paling menyebalkan untuk sesaat berhasil dikendalikan, tetapi kemudian meledak lagi tidak hanya di Yudea. . . . tetapi bahkan di Roma. {3}

Ada lebih dari 39 sumber-sumber non-injil yang mengetengahkan lebih dari seratus fakta mengenai kehidupan dan ajaran-ajaran Yesus.

Akurasi Injil-injil

Akurasi Injil-injil didukung oleh arkeologi. Nama kota-kota Israel, kejadian-kejadian, dan orang-orang yang digambarkan dalam Injil sekarang telah berhasil dikenali. Beberapa contoh disampaikan berikut ini:

Injil-injil menyebutkan empat kota pantai yang saling berdekatan dan berpenduduk padat sepanjang Laut Galilei: Capernaum, Bethsaida, Chorazin, dan Tiberias. Yesus melakukan banyak mukjijat di tiga kota pertama. Terlepas dari kesaksian itu, kota-kota itu menolak Yesus dan karena itu ia mengutuk mereka (Mateus 11:20-24; Lukas 10:12-16). Kota-kota itu akhirnya lenyap dari sejarah dan selama berabad-abad lokasi mereka tidak diketahui. Kehancuran mereka memenuhi ramalan dan kutukan Yesus.

Belum lama ini arkeologi menemukan kembali lokasi mereka yang mungkin. Tel Hum diyakini sebagai Capernaum. (“Tel” adalah sebuah bukit atau tanah yang bertambah tinggi karena pembangunan yang berulang-ulang dan jangka-panjang di tempat yang sama. Lapisan-lapisan peradaban  bisa ditemukan di strata yang berlainan.) Lokasi Bethsaida dan Chorazin masih belum dikonfirmasikan, tetapi sebuah situs di sebuah tel 1,5 mil di utara garis pantai Galilei diyakini sebagai lokasi Bethsaida, sementara Tel Khirbeth Kerezah, 2,5 mil di barat-laut Capernaum, diperkirakan adalah lokasi Chorazin.

Mateus 2 menyatakan bahwa Yesus lahir di masa pemerintahan Herodes. Sewaktu mendengar bahwa seorang raja telah lahir, Herodes yang ketakutan memerintahkan semua anak-anak di bawah usia dua tahun harus dibunuh. Pembantaian Herodes terhadap anak-anak tak berdosa itu konsisten dengan fakta-fakta historis yang menggambarkan watak Herodes. Herodes curiga pada siapa pun yang ia anggap akan merebut tahtanya. Daftar korban yang ia bunuh mencakup salah seorang dari kesepuluh isterinya—padahal ini adalah isteri kesayangannya—, tiga dari anak-anak lelakinya sendiri, seorang imam agung, seorang mantan raja, dan dua orang suami dari adik perempuan Herodes. Dengan demikian brutalitas yang digambarkan dalam Mateus konsisten dengan deskripsi Herodes dalam sejarah jaman kuno.

Akurasi Yohanes juga telah dibuktikan oleh temuan-temuan mutakhir. Dalam Yohanes 5:1-15, Yesus menyembuhkan seorang pria di Kolam Bethesda. Yohanes menggambarkan kolam itu sebagai memiliki lima portico. Situs itu telah lama dipergunjingkan dan baru berhenti baru-baru ini. Para arkeolog menemukan sebuah kolam dengan lima portico pada kedalaman 40 kaki di bawah permukaan tanah, dan gambaran daerah sekitarnya sesuai dengan gambaran Yohanes. Dalam 9:7 Yohanes menyebutkan situs lain yang juga sudah lama dipergunjingkan, yaitu Kolam Siloam. Tetapi situs itu juga telah diketemukan pada 1897, yang menunjang akurasi Yohanes.

Bukti untuk Pontius Pilatus, gubernur yang memimpin persidangan terhadap Yesus, ditemukan di Caesaria Maritima. Pada 1961, seorang arkeolog Italia bernama Antonio Frova menemukan fragmen sebuah plakat yang digunakan sebagai salah satu bagian anak tangga yang mengarah ke Teater Caesarea. Prasasti itu, yang ditulis dalam bahasa Latin, mengandung frasa, “Pontius Pilatus, Prefect Yudea, telah mempersembahkan kepada rakyat Caesaria sebuah kuil untuk menghormati Tiberius.” Kuil itu dipersembahkan kepada Kaisar Tiberius yang memerintah dari 14-37 EB. Ini secara kronologis sesuai dengan Perjanjian Baru, yang mencatat bahwa Pilatus memerintah sebagai procurator dari 26-36 EB. Tacitus, seorang sejarawan Romawi abad pertama, juga mengkonfirmasikan penggambaran Perjanjian Baru tentang Pilatus. Ia menulis, “Kristus, dari siapa nama (Kristen) itu berasal, dijatuhi hukuman mati secara ekstrim selama pemerintahan Tiberius di tangan salah satu procurator kita, Pontius Pilatus . . . . .”

Konfirmasi tentang Penyaliban

Keempat Injil memberikan detil-detil tentang penyaliban Kristus. Penggambaran mereka yang akurat mengenai praktek Romawi itu telah dikonfirmasikan oleh arkeologi. Pada 1968, ditemukan sebuah situs kuburan di kota Yerusalem yang berisi 35 mayat. Semua orang itu dahulu mengalami kematian brutal, yang oleh para sejarawan diyakini sebagai akibat dari keterlibatan mereka dalam pemberontakan Yahudi melawan Roma pada tahun 70 EB.

Prasasti mengidentifikasikan seorang individu sebagai Yohan Ben Ha’galgol. Penelitian terhadap tulang belulangnya yang dilakukan oleh para osteolog dan dokter dari Hadassah Medical School menyimpulkan bahwa lelaki itu berusia 28 tahun, dengan tinggi lima kaki 6 inci, dan mempunyai cacat wajah akibat langit-langit kanan yang mengeriput.

Yang membuat [para arkeolog tergugah adalah bukti-bukti bahwa orang itu telah disalib dengan cara mirip penyalibanKristus. Sebuah paku sepanjang tujuh inci menembus kedua mata kakinya, yang dipuntir sedemikian rupa sehingga pakunya bisa ditembuskan ke bagian tendon Achilles.

Para arkeolog juga menemukan paku-paku yang ditembuskan ke kedua lengan tangan bagian bawah. Seorang korban penyaliban akan berusaha mengangkat dan menurunkan tubuhnya agar bisa bernafas. Untuk itu ia harus mendorong tubuhnya dengan pijakan kedua kaki yang telah ditembus paku dan menarik tubuh dengan kedua lengannya. Kedua lengan atas Yohan tergosok sampai halus, yang menunjukkan dilakukannya gerakan tersebut.

Yohanes mencatat bahwa untuk mempercepat kematian seorang pesakitan, para algojo meremuk kedua kaki korban sehingga ia tidak dapat mengangkat tubuhnya sendiri dengan jalan mendorong dengan kedua kakinya (19:31-33). Kedua kaki Yohan ditemukan remuk akibat sebuah pukulan, yang menghancurkan kedua kaki itu di bawah tempurung lutut. Gulungan-gulungan kitab Laut Mati menceritakan bahwa baik orang-orang Yahudi maupun Romawi membenci penyaliban karena kekejaman dan penistaannya. Gulungan-gulungan kitab itu juga menyatakan bahwa penyaliban adalah bentuk hukuman yang khusus dijatuhkan pada budak-budak dan siapa pun yang menantang kekuasaan penjajah Roma. Hal itu menjelaskan mengapa Pilatus memilih penyaliban sebagai hukuman untuk Yesus.

Terkait dengan penyaliban, pada 1878 ditemukan sebuah lempengan batu di Nazareth dengan sebuah pernyataan dari Kaisar Claudius yang memerintah dari 41-54 EB. Dinyatakan di situ bahwa kuburan-kuburan tidak boleh dikutak-katik dan mayat-mayat tidak boleh dipindahkan. Berbeda dari hukuman yang dinyatakan dalam dekrit-dekrit lain, dekrit yang satu ini memberikan ancaman hukuman mati untuk orang yang melanggarnya dan dekrit itu dilontarkan sangat dekat dengan waktu kebangkitan kembali Kristus. Barangkali hal itu adalah hasil dari penyelidikan Claudius terhadap huruhara yang marak pada tahun 49 EB. Claudius pasti telah mendengar tentang kebangkitan kembali itu dan tidak menginginkan insiden-insiden serupa terjadi. Dekrit itu barangkali dibuat sehubungan dengan ajaran para Rasul tentang kebangkitan kembali Yesus dan bantahan orang-orang Yahudi yang menyatakan bahwa tubuh Yesus telah dicuri.

Sejarawan Thallus menulis pada tahun 52 EB. Meskipun teks-teksnya tidak ada yang tersisa sampai sekarang, karyanya dikutip oleh karya Julius Africanus, Chronography. Dengan mengutip Thallus mengenai penyaliban Kristus, Africanus menyatakan, “Di seluruh penjuru dunia, turunlah kegelapan yang sangat menakutkan, dan batu-batu dirobek oleh gempa bumi, dan banyak tempat di Yudea dan distrik-distrik lain hancur rata dengan tanah.”{4} Thallus menyebut kegelapan itu “menampakkan diri padaku tanpa alasan, sebuah gerhana matahari.”{5}

Semua temuan yang dinyatakan itu konsisten dengan detil-detil dalam kisah penyaliban yang disampaikan oleh para penulis Injil. Fakta-fakta itu secara tidak langsung mendukung kisah Injil tentang penyaliban Yesus dan fakta bahwa makam itu kosong.

Akurasi Historis Lukas

Dahulu para ahli menganggap paparan-paparan historis Lukas dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul sebagai tidak akurat. Tidak ada bukti untuk beberapa kota, orang, dan lokasi yang ia sebut-sebut dalam tulisan-tulisannya. Tetapi temuan-temuan arkeologis telah membuktikan bahwa Lukas adalah seorang sejarawan yang sangat akurat dan kedua kitab yang ia tulis itu merupakan dokumen-dokumen sejarah yang sangat akurat.

Salah satu arkeolog terbesar adalah almarhum Sir William Ramsay. Ia belajar di sdekolah-sekolah sejarah Jerman liberal yang terkenal di pertengahan abad ke-19. Terkenal karena penelitiannya yang begitu banyak, sekolah-sekolah itu mengajarkan bahwa Perjanjian Baru bukanlah dokumen historis. Dengan premis itu, Ramsay menyelidiki klaim-klaim injili sementara ia melakukan penelitian di seluruh penjuru Asia Minor. Apa yang ia temukan membuatnya berbalik pendapat 360 derajat. Ia menulis:

Saya mengawali dengan pikiran yang tidak memihak [Kisah Para Rasul], karena pada waktu itu saya teori Tubingen terasa begitu jenius dan sempurna. Dengan demikian bukanlah kebiasaan saya untuk menyelidiki sesuatu secara sangat njlimet; tetapi belakangan saya sering melakukan kontak dengan Kisah Para Rasul sebagai sebuah otoritas untuk topografi, sejarah jaman kuno, dan masyarakat Asia Minor. Sedikit demi sedikit saya disadarkan bahwa dalam berbagai detil naratif itu menunjukkan kebenaran yang mentakjubkan{6}

Akurasi Lukas dibuktikan oleh fakta bahwa ia menyebutkan tokoh-tokoh historis kunci dalam urutan waktu yang benar serta gelar-gelar yang benar untuk para pejabat pemerintah di daerah-daerah yang berlainan: “politarch” untuk Thessalonica, “punggawa kuil” untuk Ephesus, “prokonsul” untuk Cyprus, dan “orang pertama di pulau” untuk Malta.

Ketika mengumumkan pelayanan publik Yesus, Lukas (3:1) menyebutkan, “Lysanius tetrarch Abilene.” Para ahli mempertanyakan kredibilitas Lukas mengingat satu-satunya Lysanus yang sudah selama berabad-abad dikenal adalah seorang penguasa Chalcis yang berkuasa dari 40-36 SEB. Tetapi sebuah prasasti yang berasal dari masa pemerintahan Tiberius, yang memerintah antara 14-37 EB) diketemukan, dan prasasti itu menyatakan sebuah kuil dipersembahkan oleh Lysanus “tetrarch Abila” dekat Damaskus.  Ini cocok sekali dengan cerita Lukas.

Dalam Kisah Para Rasul 18:12-17, Paulus dibawa ke hadapan Gallio, prokonsul Achaea. Sekali lagi arkeologi menegaskan cerita itu. Di Delphi diketemukan sebuah prasasti sebuah surat dari Kaisar Claudius. Di dalamnya Claudius menyatakan, “Lucius Junios Gallo, sahabatku, dan prokonsul Achaea. . . . “{7} Para sejarawan menyatakan prasasti itu berasal dari tahun 52 EB, yang cocok dengan masa rasul Paulus tinggal di sana, yaitu pada tahun 51.

Dalam Kisah 19:22 dan Roma 16:23, Erastus, seorang rekan kerja Paulus, disebutkan sebagai bendahara kota Corinth. Para arkeolog yang tengah melakukan penggalian di sebuah teater Corinth pada 1928 menemukan sebuah prasasti. Tulisan di prasasti itu berbunyi, “Erastus sebagai imbalan atas jabatan kepala dinas pekerjaan umum melakukan pengerasan jalan dan halaman ini dengan uangnya sendiri.” Pengerasan itu dilakukan pada tahun 50 EB. Istilah bendahara menggambarkan pekerjaan seorang kepala dinas pekerjaan umum (aedile) Corinth.

Dalam Lukas 28:7, Lukas memberi Plubius, petinggi pulau Malta, gelar “orang pertama di pulau.” Para ahli mempertanyakan gelar yang aneh itu dan menganggap hal itu ahistoris. Prasasti-prasasti yang baru-baru ini diketemukan di pulau itu memang memberi Plubius gelar “orang pertama.”

“Secara keseluruhan, Lukas menyebut nama 32 negeri, 54 kota, dan 9 pulau tanpa keliru, “{8} tulis A. N. Sherwin-White, “Bagi Kisah Para Rasul, penegasan historisitasnya benar-benar luar biasa . . . . . Sekarang setiap usaha untuk menolak dasar historisitas itu pasti terasa absurd. Para sejarawan Romawi sendiri tidak pernah mempertanyakan historisitas Kisah Para Rasul.”{9}

Kain Kafan Turin

Injil-injil mencatat bahwa sesudah penyaliban, Yesus dibungkus dengan sebuah kain lena panjang dan dibaringkan di sebuah makam (Mateus 27:59). Yohanes mencatat bahwa ketika Petrus menyelidiki makam yang kosong itu, ia menemukan kain kafan itu terlipat rapi di samping tempat tadinya Kristus dibaringkan  (20:6-7).

Sebuah kain kafan lena yang disebut Kain Kafan Turin, yang dipajang di Vatican, telah lama dinyatakan sebagai kain kafan Yesus. Kain itu berukuran panjang 14.25 kaki dan lebar 3.5 kaki. Di atasnya tertera bekas tembusan pergelangan tangan dan pergelangan kaki yang diyakini sebagai bekas-bekas luka Kristus.

Kain kafan itu pertama kali muncul sebagai pajangan pameran umum sesudah tahun 1357 di Lirey, Perancis. Dahulu seorang knight bernama Geoffrey de Charny membawa kain kafan itu ke Perancis. Pada 1453 cucu perempuan de Charny memberikan kain kafan itu kepada Duke of Savoy, yang kemudian pada 1578 membawanya ke Turin, Italia. Pada 1983 kain itu diwakafkan kepada Vatican.

Pada 1898 Secondo Pia memotret kain kfan itu dan meyakini imagenyua sebagai image negatif sebuah foto. Hal itu menambah misteri kain kafan itu, sebab fotografi belum diketemukan di abad menengah. Pada 1973 sekelompok ahli menegaskan fakta bahwa tidak ditemukan adanya pigmen cat bahkan di bawah pemeriksaan mikroskop. Bagi banyak orang, hal itu dianggap bukti otentisitas kain kafan tersebut.

Penyelidikan yang paling ekstensif dilakukan pada 1977. Sebuah tim internasional yang terdiri dari para ilmuwan dari Swiss, Amerika, dan Italia mempelajari kain kafan itu selama lima hari di Savoy Royal Palace di Turin. Mereka menggunakan peralatan seberat enam ton dan menghabiskan biaya sebesar 2,5 juta dollar untuk penelitian mereka. Itu merupakan salah satu artefak yang dipelajari secara paling intens sepanjang masa.

Penelitian itu tidak mampu menetapkan otentisitas kain tersebut. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan kemudian membuktikan bahwa image itu mengandung darah maupun aragonite, sebuah kalsium karbonat khusus yang biasa ditemukan di makam-makam abad pertama Yerusalem. Kriminolog Swiss Max Frei menemukan 48 sampel serbuk benang sari, tujuh di antaranya kemungkinan besar berasal dari tanaman yang tumbuh di Palestina. Tenunan kain itu mengikuti sistem herringbone twill, sebuah gaya yang ada hanya di jaman kuno.

Meskipun temuan-temuan itu mendukung otentisitas kain kafan itu, temuan-temuan lain membuktikan kebalikannya. Pada 1987, kain kafan itu diuji dengan karbon-14 untuk mengetahui usianya. Laboratorium-laboratorium di Oxford, Zurich, dan University of Arizona menguji kain itu. Hasilnya menunjukkan bahwa kain itu berasal dari abad ke-14. Kesimpulan itu sampai sekarang masih digugat dan tes-tes masih akan dilakukan di masa mendatang. Satu masalah lain: koin-koin yang dicetak oleh Pontius Pilatus diletakkan di atas mata sosok mayat tersebut. Itu bukan adat istiadat Yahudi, dan kecil kemungkinannya Yosef dari Arimatea atau Nikodemus akan menempatkan di mata Yesus koin dengan gambar pemimpin yang menghukum mati dia sendiri.

Terlepas dari asal-muasal abad ke-14 tadi, para ilmuwan masih belum mampu menjelaskan bagaimana image negatif itu tercipta. Kain kafan itu tetap merupakan sebuah misteri, sekaligus sebuah pelajaran bagi kita kaum beriman untuk tidak mendasarkan iman kita pada hal-hal misterius.

Notes

  1. Lihat “Authority of the Bible” at http://www.probe.docs/auth-bib.html.
  2. Josephus, Book 18, Chapter 3:3
  3. Tacitus, Annals, 15.44
  4. Julius Africanus, Chronography, 18:1.
  5. Ibid.
  6. William Ramsay, St. Paul the Traveler and the Roman Citizen (Grand Rapids, MI: Baker Books, 1982), 8.
  7. John McRay, Archaeology and the New Testament (Grand Rapids, MI.: Baker Books, 1991), 227.
  8. Norman Geisler, Baker Encyclopedia of Apologetics (Grand Rapids, MI.: Baker Books, 1999), 47.
  9. A. N. Sherwing-White, Roman Society and Roman Law in the New Testament(Oxford: Clarendon Press, 1963), 189.

© 2000 Probe Ministries International


Tentang Penulis

Patrick Zukeran adalah seorang  research associate, dan seorang penceramah nasional serta internasional untuk Probe Ministries. Beliau lulus dari Point Loma Nazarene University di San Diego, California, dan memegang gelar Th.M. dari Dallas Theological Seminary. Beliau mengabdi sebagai pastor selama 10 tahun sebelum bergabung dengan staf Probe Ministries. Beliau adalah penulis buku Unless I See… Reasons to Consider the Christian Faith. Beliau bisa dihubungi lewat e-mail di pzukeran@probe.org.


Sumber: http://www.probe.org

Terjemahan:  Bern Hidayat, 7 Januari 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: