Apokaliptikisme

27/01/2010

Harapan bahwa intervensi ilahi akan mengalahkan musuh-musuh Israel dan membangun sebuah jaman baru mengompori ketegangan-ketegangan politis dengan Roma.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

Orang-orang Yahudi mempunyai cara istimewa dalam membangun realita. Dan cara membangun realita itu adalah Alkitab. Alkitab menggariskan waktu. Sejarah mempunyai awal mula. Tuhan menciptakan dunia ini. . . . . dan Tuhan mempunyai sesuatu hubungan moral dengan dunia. Tuhan menciptakan ini-itu dan memandang bahwa itu bagus. Tuhan didefinisikan secara moral dalam Yudaisme, dan karena itu, Tuhan mempunyai kepentingan dalam keadilan sosial. Banyak dari hukum Torah adalah tentang keadilan sosial. Dalam periode antara. . . . sekali lagi ini perkiraan, karena periode adalah ciptaan para sejarawan, bukan ciptaan orang-orang yang hidup di dunia kuno. Tetapi dalam periode. . . . kurang lebihnya. . . . tahun minus 200 sampai plus 200, ada suatu eprasaan yang semakin menguat, yang kita sebagai sejarawan bisa lacak dalam tipe-tipe penulisan yang berlainan, yang mengetengahkan harapan bahwa Tuhan akan campur tangan dalam sejarah atau memastikan agar kebaikan akan menang atas kejahatan.

Anda mendapatkan tipe-tipe deskripsi yang berlainan mengenai apa bentuk kemenangan itu nanti. Anda mendapatkan deskripsi, misalnya, mengenai sebuah pertempuran antara baik dan jahat. Kadang-kadang itu dipimpin oleh malaikat-malaikat, kada-kadang ada tokoh yang disebut Messiah yang memimpin kekuatan kebaikan. Seringkali, Tuhan sendiri, atau barangkali seorang malaikat agung, melaksanakan pertempuran itu sendiri. Dalam beberapa dari tulisan-tulisan itu anda mendapatkan sebuah deskripsi mengenai kebangkitan orang mati. Beberapa dari mereka bicara tentang Yerusalem dibangun kembali dan diperindah kembali, atau Bait Allah dibuat menjadi megah dan indah. Beberapa dari nabi-nabi yang ada dalam kanon Yahudi atau, untuk orang-orang Kristen, Perjanjian Lama, diinterpretasikan secara apokaliptik dalam periode ini sehingga bagain-bagian dalam Isaiah dipandang menggambarkan khiamat. Saya kira ini artinya apa adalah begini: orang-orang yang mempunyai keyakinan itu percaya bahwa Yuhan, sebagai yang maha baik dan maha kuasa, akan melakukan intervensi secara definitif dalam sejarah. Dan kadang-kadang idiom yang digunakan adalah bahwa Tuhan akan membangun kerajaannya. Dan itu akan menjadi akhir dari kejahatan. Kadang-kadang anda mendapatkan kebangkitan kembali dari kematian, . . . . berkumpulnya kembali bangsa Israel, yang telah tercerai berai dalam pengasingan. Dan juga dalam beberapa tradisi, anda mendapatkan diskusi-diskusi mengenai orang-orang kafir; sekali Tuhan Israel menampakkan diri dalam kemuliaan, orang-orang kafir mengubur berhala-berhala mereka dan mereka berbalik dan mereka semua pergi menyatu dengan Israel dan ada pesta besar di Bait Allah. Tetapi imam-imamnya dibebaskan dari beban, karena menurut, saya kira Isaiah 25, Tuhan sendiri yang masak, dan Tuhan melayani jamuan bagi orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir untuk makan bersama-sama di gerbang Bait Allah, sekali kerajaannya terbangun.

Bagaimana saya bisa tahu, sebagai seorang Yahudi yang hidup di abad pertama, kapan semua hal itu akan terjadi? Apakah itu akan terjadi tak lama lagi?

Hal yang menarik dari apocalyptic sensibility itu adalah bahwa kita menemukannya secara cerai-berai di seluruh tulisan-tulisan Diaspora. Kita mendapatkannya dalam tulisan-tulisan yang berbahasa Yunani, kita mendapatkannya dalam tulisan-tulisan yang berbahasa Semitik. Itu adalah sesuatu yang tidak terbatas pada lokal tertentu. Meskipun, dengan perpustakaan Qumran, dan dengan tulisan-tulisan tertentu yang muncul dalam Perjanjian Baru, jelas bahwa ada tekanan-tekanan yang diketengahkan. Jika orang hidup di negeri Israel, hal itu akan membuat sebuah interpretasi religius tentang politik masa kini menjadi condong ke arah sesuatu resolusi yang apokaliptik.

PATUNG CALIGULA, PEMOGOKAN

Misalnya, Caligula, Kaisar Romawi di tahun 40—ingin memasang patungnya sendiri di Bait Allah. Ia ingin disembah sebagai seorang dewa pada waktu ia sendiri masih hidup. Ini membuat setiap orang Romawi yang berpikiran waras menjadi pucat pasi, dan akhirnya Caligula dibunuh oleh orang-orang Romawi sendiri. Tetapi itu adalah ide yang yang tak terbayangkan bagi Israel. Dan . . . . dalam usaha membuat patungnya itu diusung dari Syria, orang-orang Yahudi, praktis penduduk seantero negri, melakukan pemogokan. Orang-orang Yahudi pada pergi dan duduk di jalan yang akan dilalui patung itu dan mereka tidak mau minggir. . . . . berusaha agar orang mengerti bahwa hal itu mutlak tidak bisa diterima. Mereka tidak boleh memasang patung di Bait Allah, yang akan membuat mereka tampak tolol dalam kebudayaan-kebudayaan Mediterranean. Tetapi jika anda mempunyai temperamen seperti itu, episode seperti itu bisa memicu harapan-harapan apokaliptik. Itu adalah sesuatu yang begitu tak terbayangkan sehingga anda akan mengharapkan hal-hal yang lebih buruk tidak akan terjadi.

Dan karena itu, sebuah episode politis yang diinterpretasikan secara religius akan memberi anda sebuah isyarat sehingga anda mungkin akan tahu kapan waktu yang sudah Tuhan rencanakan itu. Jika keadaan semakin memburuk, waktunya juga menjadi semakin dekat. Dan respon seperti itu pada episode-episode politis yang berlainan adalah hal yang mewarnai aliran tertentu dalam sensibilitas keagamaan Yahudi dari minus 200 sampai plus 200. Itu sebabnya kita mulai mendapatkan perkembangan tradisi-tradisi mengenai seorang Messiah yang akan segera datang, atau doa-doa dan sinagoga-sinagoga yang bicara tentang kebangkitan kembali orang mati. Berkat kepercayaan bahwa karena Tuhan itu baik, maka ia tidak akan membiarkan kejahatan menang selama waktu yang tak terhitung.

Judul asli: “Apocalypticism”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 5 Desember 2009

Baca visi apokaliptik Gulungan Kitab Peperangan kaum Essenes, sebuah deskripsi tentang pertempuran final antara baik dan buruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: