Apa Salah Gereja?

27/01/2010

Tidak banyak keraguan dalam benak saya bahwa bahkan orang Protestan yang semangatnya paling berkobar-kobar pun akan merasa bahwa banyak dari ajaran-ajaran Yesus itu sebaik-baiknya mustahil dipraktekkan dan sejelek-jeleknya immoral. Sungguh, bagaimana orang bisa bertahan hidup di Amerika yang kapitalistis ini tanpa properti apapun? Apa yang akan terjadi pada Gereja andaikata dia memberikan apapun yang orang minta darinya? Bagaimana bisa ada keadilan dalam masyarakat andaikata polisi tidak boleh menggunakan kekerasan dan hakim-hakim serta jaksa-jaksa bersikap maha pengampun? Bagaimana Amerika bisa bertahan hidup di dunia politik dan konflik internasional tanpa jet-jet tempur dan bom-bom pintar? Seberapa lama orang bisa bertahan hidup di New York atau Dallas atau New Orleans jika dia selalu memberikan apa yang orang minta darinya dan menyerahkan pipi kanannya ketika pipi kirinya dijotos? Apa yang akan terjadi pada masyarakat andaikata keluarga-keluarga ditinggalkan dan tidak digubris seperti yang kayaknya Yesus kehendaki?

Oleh Jay Williams
Walcott D. Bartlett Professor of Religious Studies
Hamilton College
Oktober  2008
Jay G. Williams

Photo Courtesy Bibleplaces.com

“Garam itu baik; tetapi jika garam telah kehilangan rasanya, bagaimana asinnya dipulihkan? Ia tidak cocok untuk tanah atau tumpukan tahi sapi; orang-orang membuangnya ” (Luke 14:34-35).

Dalam esei ini, saya tidak berencana untuk mengatur-ulang susunan kursi-kursi di kapal Titanic. Biarlah orang-orang lain mengurusi pengembangan nyanyian himnodi yang lebih menyentuh atau bentuk-bentuk peribadahan kontemporer yang lebih “relevan.” Di sini saya tidak akan mempertimbangkan cara-cara baru dan mengesankan untuk melibatkan Gereja dalam mengulurkan tangan, melakukan aksi sosial, atau memikirkan bagaimana menggugah perhatian komunitas-komunitas etnik lain pada tradisi Protestan. Yang lebih tepat, saya berniat menanggapi sebuah kontradiksi yang ada di jantung Gereja, yang perlu dihadapi dengan kepala tegak dan mata terbuka. Itu menyangkut kepatuhan pada Yesus Kristus.

Adalah sulit untuk menghadiri ibadah Protestan atau bentuk ibadah Kristen lain manapun tanpa berulang-ulang mendengar tentang ketuhanan Yesus Kristus dan perlunya mematuhi dia dalam hidup kita. Meskipun begitu, yang lebih jarang adalah kesempatan untuk mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya Yesus tuntut. Sebagai gantinya, Paulus atau, yang sekarang ini menjadi lebih sering, sesuatu sikap etis modern, diam-diam menggantikan peranan Yesus sebagai guru “Jalan Kristus.” Penting diperhatikan, saya kira, bahwa Luther dan Calvin menulis banyak komentar mengenai surat-surat Paulus, tetapi tidak melakukan hal yang sama pada injil Mateus atau Lukas. Sebagaimana akan kita lihat, mungkin ada alasan kuat mengapa hal itu tidak mereka lakukan.

Bagaimanapun juga, jika Yesus itu Tuhan, orang akan berpikiran bahwa ia harus dipatuhi, bukan dengan cara angin-anginan dan sepotong-sepotong, melainkan secara utuh dan menyeluruh, dengan seluruh kemampuan kita. Dengan demikian, kita harus bertanya dengan jujur dan tanpa ragu-ragu, apakah yang diajarkan oleh Yesus sebagaimana dia muncul dalam injil-injil dan apa yang dituntut oleh dia dari orang-orang Kristen? Jawaban yang diberikan oleh Injil adalah, pada hemat saya, adalah jelas dan sangat menggelisahkan.

Meskipun begitu, saya harus pertama-tama mengingatkan bahwa keempat injil kanon (yang semuanya memiliki otoritas sama bagi Gereja) tidak selalu sependapat mengenai ajaran-ajaran Yesus. Baik Markus maupun Yohanes cenderung membisu mengenai beberapa dari tuntutan-tuntutan yang lebih keras yang ditemukan dalam Mateus dan Lukas. Kenyataannya, terasa bagi saya bahwa proses memperlunak, jika bukan menyembunyikan, apa yang sebenarnya diajarkan oleh Yesus itu sudah terjadi dalam surat-surat Paulus. Fakta bahwa Markus mencoret beberapa dari amanat-amanat Yesus yang paling keras, khususnya tentang non-violence, dan sedikit memperlunak amanat-amanat yang lain, menunjukkan adanya usaha di masa belakangan untuk menghadirkan seorang Yesus yang bisa diajak hidup bersama orang-orang lumrah.

Tetapi pengamatan seperti itu tidak sangat menentukan bagi diskusi kita sekarang ini, sebab setiap orang Kristen tidak bebas memilih di antara keempat injil itu. Mateus dan Lukas sepenuhnya kanonik dan menghadirkan seorang Yesus dengan siapa Gereja telah bergulat sejak abad pertama. Jelaslah, ajaran-ajaran Yesus sangat menggelisahkan bagi Gereja purba, khususnya ketika gereja menjadi mapan dan diterima di seluruh penjuru Kekaisaran Roma. Untuk membuat ajaran-ajajaran Yesus lebih kedengaran manis di telinga, banyak penulis purba mengacu pada amanat-amanat Yesus secara sepotong-sepotong, tanpa pernah mempertanyakan fokus utama dari pikirannya. Ajaran Yesus dicuplik sebagai teks-teks final yang terisolir, tetapi seringkali tanpa disimak secara keseluruhan. Kenyataannya, cara memahami Yesus seperti itu juga mendominasi Abad Menengah, meskipun ada orang-orang seperti Fransiskus dari Assisi yang berusaha mencermati injil-injil dengan mata terbuka.

Amanat-amanat Yesus sangat sulit diterima bagi para burgher abad ke-16 yang menjadi tulang punggung pergolakan Protestan dan yang menginginkan injil-injil yang bisa menandingi dan menggantikan spiritualitas jaman abad menengah yang sudah pada rontok itu. Para pedagang jaman itu tidak tertarik untuk menjadi rahib atau pertapa. Para pembaharu itu, entah dengan hasil lebih positif atau malah lebih negatif, terutama mengandalkan Paulus ketika mereka berusaha mengembangkan sebuah teologi untuk jaman pasca-feodal. Penekanannya adalah pada Yesus sebagai penyelamat, tetapi bukan sebagai guru.

Sekarang ini tidak banyak yang telah berubah dalam hal itu. Kita masih membaca kata-kata Khotbah diatas Bukit, kita berbicara tentang kedalaman dan keagungan mereka, tetapi rupanya kita tidak memberikan perhatian pada apa sebenarnya yang Yesus tuntut. Barangkali itu karena Yesus mengatakan hal-hal yang kita tidak ingin dengar. Kenyataannya, kita akan lebih suka mendengar suara-suara kreasi kita sendiri.

Apa sih yang sebenarnya diajarkan oleh guru besar kita, yang oleh Gereja dianggap sebagai penyelamat dan tuhan kita? Saya tidak dapat mengklaim obyektivitas yang lengkap—itu musykil bagi manusia—tetapi saya akan berusaha menggambarkan apa yang bagi saya sendiri terasa sudah jelas. Yang jelas, saya bukan orang pertama yang menarik kesimpulan-kesimpulan seperti itu. Ada orang-orang seperti Mohandas K. Gandhi dan Leo Tolstoy yang sampai pada kesimpulan yang sama.

Pertama, Yesus menuntut kemiskinan yang bersifat sukarela dan sempurna. Ia tidak hanya memberitahu kita bahwa menjadi miskin itu terberkati, tetapi ia juga memerintahkan para pendengarnya untuk melepaskan semua harta milik mereka. Kita diharapkan tidak menumpuk harta di atas bumi di mana ngengat dan karat menggerogoti dan pencuri-pencuri membobol rumah dan mencuri (Mat. 6:19). Bahkan setelah kita menyerahkan barang-barang kita, ia masih menyuruh kita merelakan pakaian kita jika ada orang yang memintanya (Mat. 5:40). Untuk memasuki Kerajaan Allah, orang harus bebas dari, harus melepaskan, semua harta duniawi. Itulah alasan mengapa akan lebih sulit bagi orang kaya untuk memasuki kerajaan surga ketimbang seekor unta memasuki sebuah lubang jarum (Mat. 19:23-24).

Meskipun Second Helvetic Confession (Ch. XXIX) memberitahu kita bahwa tidak ada salahnya orang menjadi kaya selama orang kaya itu “godly” alias saleh, Yesus sendiri secara radikal tidak sependapat. “Kamu tidak bisa mengabdi Tuhan maupun mammon” (Mat. 6:24) mengisyaratkan bagi Yesus untuk secara absolut meninggalkan mammon. Para pengikutnya disuruh hidup seperti burung-burung di langit dan bunga-bunga di ladang-ladang. Mereka diwajibkan untuk tidak membuat rencana ke depan atau mengkhawatirkan  dari mana makanan mereka nanti akan datang. Tuhan yang akan menyediakan, kata Yesus (Mat. 6:25-33).

Kedua, Yesus menuntut agar para pengikutnya melepaskan semua ikatan keluarga, bahkan membenci ayah dan ibu dan isteri dan saudara lelaki dan saudara perempuan. Sebenarnya ini adalah kesimpulan logis dari perelaan yang pertama, sebab jika orang tidak mempunyai uang, orang tidak dapat dengan mudah terlibat dalam kehidupan keluarga tanpa membiarkan orang-orang lain (misalnya ayah dan  ibu) membayar semua rekening tagihan—dan ini sama sekali bukan meninggalkan hal-hal duniawi. Yesus memahami bahwa beberapa orang sudah terlanjur menikah dan sebaiknya tidak memutuskan hubungan itu dengan perceraian, tetapi akan tampak bahwa Yesus membuat orang “membuat jarak” dengan suami atau isterinya sendiri. Orang diingatkan pada sumpah brahmacharya Gandhi, yaitu meninggalkan seks dalam perkawinan. Petrus jelas menikah, sebab kita mendengar tentang ibu mertuanya, tetapi di seluruh Injil kita tidak mendengar apa-apa tentang isterinya.

Yesus mengatakan bahwa beberapa orang dilahirkan sebagai orang kasim, beberapa dipaksa menjadi kasim, dan beberapa lagi menjadikan dirinya sendiri kasim demi kerajaan surga (Mat. 19:12). Maksudnya, Yesus bahkan tidak menentang pengebirian terhadap diri sendiri demi kerajaan surga. Semua itu mengisyaratkan bahwa Yesus tidak mengajarkan banyak hal yang positif mengenai nilai-nilai keluarga. Ia mengatakan ia datang membawa pedang untuk memecah belah, bukan untuk mempersatukan keluarga-keluarga (Mat. 10:34-36). Kenyataannya, Yesus bahkan tidak mau bicara dengan ibunya sendiri atau saudara-saudara kandungnya ketika mereka datang untuk menjenguknya, dan hanya menganggap orang-orang yang mengerjakan kehendak Allah sebagai “keluarganya” (Markus 3:31-35).

Ketiga, Yesus menuntut kehidupan non-violence yang absolut. Jika seseorang menampar salah satu pipi anda, berikan pipi yang lain. Jika seseorang memaksa anda membawakan bebannya, berikan itu dengan tambahan satu mil (Mat. 5:38-41). Anda harus mencintai semua musuh anda dan berbuat baik pada semua orang yang menista dan memanipulasi anda. Yesus tahu bahwa peperangan akan terus dilakukan, tetapi ia tetap dengan tegas menentang segala bentuk kekerasan. Pembalasan dendam adalah anathema; kesediaan mengampuni itu absolut. Meskipun Second Helvetic Confession (XXX) mendorong orang-orang Kristen untuk bertempur membela negara dan tidak menyodorkan dukungan bagi orang yang berkeberatan atas dasar suara hati nurani, adalah sulit untuk membayangkan bahwa Yesus akan setuju.

Keempat, Yesus menuntut kendali emosional sempurna. Kemarahan adalah sama negatifnya dengan pembunuhan, dengan bersyahwat dalam hati, dengan perjinahan. Orang jangan sampai menghakimi orang-orang lain dan harus mengampuni semua orang yang melakukan kesalahan 70 x 7 kali. “Jadilah kau sempurna, bahkan sebagaimana Bapa di surga sempurna” (Mat. 5:48). Kepercayaan sepenuhnya harus diberikan pada Yesus dan kepada Tuhan hanya melalui Yesus. Meskipun Luther dan Calvin, yang menegakkan tradisi Augustinian, menyatakan bahwa karena sifat manusia yang penuh dosa maka kontrol dan kesempurnaan itu mustahil dicapai, Yesus tidak menyodorkan “pintu pelarian darurat” seperti itu. Yesus senantiasa menegaskan bahwa apa yang ia tuntut bukan hanya bisa dicapai, melainkan juga sangat esensial untuk memasuki kerajaan Allah. Berbeda dari banyak teolog, Yesus tidak segan-segan berbicara tentang hukuman-hukuman dan karunia-karunia, dan menganjurkan bekerja keras untuk memasuki kerajaan surga. Seperti pedagang batu mulia itu, pengikutnya harus melepaskan segala sesuatu yang lain untuk mendapatkan mutiara yang sangat berharga itu (Mat. 13:45-46).

Kelima, meskipun Yesus kadang-kadang menghadiri upacara-upacara keagamaan publik, keterlibatan seperti itu selalu membuahkan konflik. Ketika ia berbicara di sinagoga Nazareth, ia diusir keluar dan nyaris dibunuh (Lukas 4:16-30). Kunjungan-kunjungannya ke Bait Allah mengarah ke tindakan menjungkir-balikkan meja-meja pedagang uang dan konflik dengan “para penguasa.” Kenyataannya, Yesus rasanya agak meremehkan “agama terorganisasi.” Ia menyuruh para pendengarnya untuk tidak berdoa di depan umum melainkan masuk ke kamar mereka dan menutup pintu ketika mereka ingin berkomunikasi dengan Tuhan (Mat. 6:6). Ketika ia berdoa, biasanya ia bukan pergi ke Bait Allah atau sinagoga, tetapi ke bukit-bukit terpencil. Berpuasa, katanya, juga harus dilakukan dengan diam-diam dan tanpa dipamer-pamerkan sehingga yang tahu apa yang anda lakukan ya cuma anda sendiri. Amal harus diberikan sedemikian rupa sehingga bahkan tangan kiri anda tidak tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanan anda. Hubungannya dengan Tuhan bersifat personal dan privat dan sikap itu nyaris tidak mendukung agama terorganisasi dalam arti seperti biasanya.

Sungguh, perselisihannya terutama adalah dengan para pemimpin agama, imam-imam, ahli-ahli kitab, dan orang-orang Farisi yang ia gambarkan sebagai segerombolan ular berbisa (Mat. 23:33) dan kuburan bercat putih (Mat. 23:27). Akibatnya ia memberikan citra jelek pada orang-orang Farisi, khususnya. Tetapi, kenyataannya, yang sebenarnya ia lakukan adalah menunjukkan citra jelek para fungsionaris agama. Ia menyuruh para pengikutnya untuk tidak menggunakan istilah-istilah seperti “Rabbi” dan “Bapa” dan “Romo” (Mat. 23:8-12) (atau saya kira termasuk “pendeta” atau “pastur” atau “the Reverend”) karena murid-murid harus rendah hati dan tidak mengklaim status yang sebenarnya tidak mereka miliki. (Mustikah setiap pendeta menganggap dirinya sendiri “reverend” alias “yang terhormat”?). Ia juga meramalkan hancurnya Bait Allah, pusat peribadahan semua orang Yahudi, tanpa perasaan sedih atau kecewa sama sekali. Air matanya adalah untuk dosa-dosa umat, bukan untuk hilangnya sebuah pusat peribadahan. Ringkas kata, akan tampak bahwa Yesus menyerukan umatnya agar meninggalkan ibadah publik, pelaksanaan tindak kesalehan secara publik, tatanan-tatanan hirarkis, Bait Allah—maksudnya, agama dalam artinya yang biasa, yaitu sebagai  sebuah institusi.

Kata-kata Yesus dalam Lukas 14:28-33, bagi saya, merangkum ajarannya yang paling mendasar: Sebab siapa di antara kamu, yang berniat membangun sebuah menara, tetapi tidak terlebih dulu duduk dan menghitung ongkosnya, apakah ia sudah mempunyai cukup biaya untuk menyelesaikannya? Kalau tidak, ketika ia sudah membangun pondasinya, dan tidak mampu merampungkannya, semua orang yang melihatnya mulai mengolok-olok dia, dengan mengatakan, “Orang ini mulai membangun, dan tidak mampu menyelesaikannya.” Atau raja mana yang akan pergi berperang, tetapi tidak terlebih dulu duduk dan membuat perhitungan apakah ia bisa dengan sepuluh ribu tentara menghadapi musuh yang datang dengan duapuluh ribu? Dan jika tidak, ketika musuhnya masih jauh, ia mengirimkan seorang utusan dan mengajukan syarat-syarat perdamaian. Jadi karena itu, barang siapa di antara kamu tidak meninggalkan semua yang ia miliki, ia tidak dapat menjadi muridku.

Dengan kata lain, pengorbanan kerasulan adalah maha besar dan masing-masing orang harus memutuskan apakah ia mempunyai sumber-sumber yang dibutuhkan untuk membangun menara dan untuk bertempur. Lebih baik tidak mencoba mengikuti Yesus sama sekali daripada mengira anda bisa mengikuti dia tanpa pengorbanan sempurna. Dalam Lukas 14:25, ia menjadikan hal ini sangat gamblang:

Kemudian banyak orang menemani dia; dan ia berpaling pada mereka dan berkata, “Barang siapa datang padaku dan tidak membenci ayah dan ibu dan isteri dan anak-anak dan saudara lelaki dan saudara perempuannya sendiri, ya, dan bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridku.”

Biasanya respon Protestan terhadap ajaran-ajaran yang radikal itu adalah mengatakan bahwa karena manusia telah terjatuh dalam dosa, maka pengorbanan seperti itu “tidak mungkin.” Ajaran-ajaran Yesus diberikan pada kita untuk membebaskan kita dari dosa kita dan untuk memaksa kita menerima pengampunan Tuhan  yang gratisan itu. Masalah pada pendekatan ini adalah, pertama, hal itu rasanya tidak didasarkan pada kata-kata Yesus sendiri. Jelas ia mengisyaratkan bahwa setidak-tidaknya beberapa orang bisa dan seyogyanya melakukan apa yang ia katakan. Yesus tahu bahwa ajaran-ajarannya tidak dimaksudkan untuk setiap orang. Ia dengan jelas mengatakan bahwa “banyak yang dipanggil, tetapi hanya sedikit yang dipilih” (Mat. 22:14). Ia bicara tentang sempitnya gerbang yang mengarah ke keselamatan. Jika anda tidak dapat mengikuti jalan pengorbanan, maka anda dinasehati agar tidak mulai membangun menara itu. Kerajaan surga jelas bukan untuk anda dan anda seyogyanya tidak berpura-pura yang sebaliknya. Sedangkan mengenai kesediaan mengampuni, ia rasanya membatasinya sampai sejauh mana kita bersedia mengampuni orang-orang lain.

Kedua, karena banyak orang tidak menganggap membenci isteri dan anak-anak itu ideal, maka sulit memahami mengapa ajaran-ajaran seperti itu akan membebaskan mereka dari dosa. Apakah saya berdosa karena saya tidak membenci anak-anak saya dan tidak meninggalkan keluarga saya? Apakah saya berdosa karena saya memiliki rumah dan pekarangan? menolak untuk memberi setiap pengemis yang menengadahkan tangan pada saya? membuat rencana ke depan untuk hidup saya?

Terakhir, kita juga harus bertanya apakah jalan pengingkaran ini musykil sebagaimana diyakini oleh tradisi Protestan. Sementara orang-orang Protestan berusaha mati-matian untuk menghindari apa yang sudah gamblang, seorang Hindu akan dengan tepat memahami apa yang Yesus maksudkan dengan pengingkaran, sebab yang ia gambarkan adalah kehidupan seorang sannyasin India, orang yang melepaskan semua harta duniawinya, menjalani sebuah upacara di mana ia secara literal mati terhadap dunia ini, dan kemudian melewatkan sisa hidupnya sebagai seorang pengembara yang mencari Tuhan. Meskipun tidak semua sannyasin sukses dalam memenuhi sumpah mereka, pola kehidupan itu—jalan pengingkaran—telah dijalani selama berabad-abad dan karena itu ternyata bukan musykil. Pengingkaran gaya Asia yang lain, tentu saja, adalah Buddhisme, yang menyodorkan sangha sebagai sebuah institusi di mana individu bisa mempraktekkan kehidupan kemiskinan sukarela dan non-kekerasan. Kesempurnaan jelas bukan sesuatu yang harus senantiasa diwartakan oleh seorang rahib, tetapi yang jelas kesempatan akan kehidupan yang mirip dengan yang diisyaratkan oleh Yesus sama sekali bukan tidak mungkin.

Orang juga bisa mempertimbangkan kehidupan Mohandas K. Gandhi, yang mendapatkan pengaruh kuat dari Perjanjian Baru dan yang percaya bahwa ajaran-ajaran Yesus menjadi kunci bagi pemahaman Gandhi sendiri tentang Satyagraha (daya kebenaran). Menurut pengakuannya sendiri, Gandhi jauh dari sempurna dan jelas tidak sepenuhnya memenuhi perintah-perintah Yesus, tetapi ia berusaha dan cukup sukses dalam mencapai kehidupan kemiskinan absolut dan non-kekerasan. Kehidupan religiusnya sangat personal dan spiritual dan karena itu ia mampu mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada antara agama-agama di dunia sekaligus menjaga kepercayaan yang menggelora pada Tuhan. Seperti Tolstoy di masa yang lebih awal, Gandhi percaya bahwa ajaran-ajaran Yesus itu jelas dan kuat dan bertanya-tanya mengapa orang-orang Kristen tidak memperlakukan ajaran-ajaran itu dengan serius dan berusaha menjalankannya.

Juga harus dicatat bahwa Kristianitas Katolik Roma dan Ortodoksi Timur, sekalipun jelas tidak sempurna atau konsisten, sudah sejak dulu mendorong kehidupan pengingkaran. Sedari dulu sudah ada pertapa-pertapa dan rahib-rahib dan imam sekuler yang melepaskan harta duniawi dan ikatan-ikatan keluarga mereka untuk mengabdi Tuhan. Saya ingin menunjukkan bahwa Kristianitas Celtic purba, yang melepaskan penekanan mereka pada hirarki dan memusatkan diri pada kehidupan monastik itu nyaris memenuhi ideal ini. Sayangnya bentuk Kristianitas ini kemudian diambil-alih dan diserap oleh sebuah hirarki Eropa yang menekankan Gereja imam awam dan sekuler.

Tentu saja, masalah dengan Gereja “sekuler” adalah bahwa sementara individu-individu, biara-biara, dan imam-imam telah secara tradisional mengingkari dunia, Gereja sebagai institusi boleh dikatakan malah belum melakukan hal itu. Gereja Katolik Roma tidak menghadiahkan propertinya jika diminta atau tidak menolak menghakimi orang-orang lain sebagaimana dituntut oleh Yesus. Ada kesenjangan maha besar antara institusi dengan hirarkinya serta harta miliknya dengan ajaran-ajaran Yesus. Lebih jauh lagi, kebanyakan orang Katolik tidak mengingkari dunia sebagaimana Yesus ajarkan, melainkan mengikuti kehidupan biasa di dunia ini, menggantikan pengingkaran sempurna dengan menghadiri missa secara teratur dan melakukan tindak-tindak keutamaan personal lainnya.

Juga harus dicatat bahwa pada masa Reformasi beberapa Protestan, yang biasanya disebut Anabaptis, entah dengan satu atau lain cara melihat konflik yang ada di jantung ajaran Protestan dan berusaha memecahkannya, tetapi upaya mereka disambut dengan penganiayaan baik oleh orang-orang Katolik Roma maupun Protestan. Saya ingat, orang-orang Hutterit dengan serius berusaha menghayati kehidupan pengingkaran komunal dan orang-orang Mennonit menekankan non-kekerasan, tetapi masih ada banyak kelompok lain.

Gereja-gereja Protestan dengan cara mereka sendiri telah sukses memikat banyak orang dengan bentuk keutamaan “duniawi” yang pada awal mulanya menggantikan tuntutan-tuntutan radikal Yesus dengan kepatuhan ketat pada pengakuan–pengakuan teologis dan kepatuhan pada Sepuluh Perintah Allah, termasuk kadang-kadang sabbatarianisme, dsb. Orang-orang liberal belum lama ini memasukkan  nilai-nilai rasional Abad Pencerahan dan masyarakat sekuler sementara orang-orang konservatif modern menuntut kesetiaan yang tegas pada fundamental-fundamental teologis yang tidak boleh dipertanyakan. Tetapi kontradiksi tetap bercokol di jantung Gereja: Sekarang kita berbicara tentang kepatuhan pada Kristus, tetapi sebenarnya kita tidak ingin memperlakukan ajaran-ajaran serta tuntutan-tuntutan Kristus dengan lebih serius ketimbang para pendahulu kita.

Sama sekali tidak mudah untuk memastikan apakah kesulitan itu merupakan alasan bagi menurunnya jumlah umat Protestan di Amerika. Meskipun minat pada Buddhisme, metode-metode kontemplatif, dan kehidupan spiritual secara umum mengalami peningkatan besar-besaran di Amerika, saya ragukan apakah sebagian besar dari orang-orang yang meninggalkan Gereja akan mengatakan bahwa kurangnya pengingkaran diri adalah alasan bagi kepergian mereka. Barangkali mayoritas dari mereka sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu. Saya juga tidak mengharapkan bahwa suatu usaha untuk mengikuti apa yang Yesus katakan akan mengundang lebih banyak baptisan baru. Justru sebaliknya, saya berasumsi bahwa andaikata Gereja berusaha mengikuti jalan pengingkaran itu, sebagian besar dari anggota-anggota yang sekarang ada ini akan meninggalkan persekutuan itu dengan  sangat cepat. Saya curiga bahwa banyak anggota umat Gereja akan pucat pasi andaikata mereka tahu apa yang Yesus tuntut dari mereka.

Dalam benak saya tidak banyak keraguan bahwa bahkan umat Protestan yang semangatnya paling menggelora pun akan menyatakan bahwa banyak dari ajaran Yesus sebaik-baiknya mustahil dijalankan dan sejelek-jeleknya malah immoral. Bagaimana orang bisa hidup tanpa properti apapun di Amerika yang kapitalistis ini? Apa yang akan terjadi andaikata Gereja memberikan apapun yang orang minta darinya? Bagaimana bisa ada keadilan dalam masyarakat andaikata polisi tidak boleh menggunakan kekerasan dan hakim-hakim serta juri-juri bersikap maha pengampun? Bagaimana Amerika bisa bertahan hidup di dunia nyata konflik dan politik internasional tanpa jet-jet tempur dan bom-bom pintar? Sampai berapa lama orang bisa bertahan hidup di New York atau Dallas atau New Orleans jika dia selalu memberikan apa yang diminta darinya dan menyodorkan pipi kanannya jika pipi kirinya dijotos? Apa yang akan terjadi pada masyarakat kita andaikata keluarga-keluarga kita menjadi terasing dan kacau-balau seperti yang seakan Yesus inginkan?

Tidak diragukan lagi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah alasan mengapa, selama berabad-abad ini, ajaran-ajaran Yesus disorongkan ke bawah dipan dan digantikan dengan Sepuluh Perintah Allah, sebuah versi modifikasi dari ajaran-ajaran Paulus, filsafat Aristotle atau Plato, etika media, dsb. Kenyataannya, sejarah Gereja bisa dilihat sebagai serangkaian usaha, baik yang sukses maupun  gagal, untuk menyorongkan ajaran-ajaran Yesus ke bawah karpet. Barangkali ajaran-ajaran Yesus tidak membentuk etika yang praktis bagi orang-orang Kristen.

Tetapi jika begitu kita harus bertanya bagaimana kita bisa secara keras kepala menyebut Yesus Tuhan dan berbicara tentang kepatuhan padanya? Apa arti kepatuhan seperti itu jika bukan untuk mengikuti jalan pengingkaran? Satu-satunya Yesus yang kita ketahui adalah Yesus Injil-injil. Memang, Yesus mengajarkan banyak hal lain selain pengingkaran. Ia bicara tentang malaikat-malaikat dan setan-setan, tentang jaman yang akan datang, dan kebangkitan dari mati, tentang penghakiman terakhir. Kita jelas diperintahkan untuk mengasihi sesama kita sebagaimana kita mengasihi diri sendiri dan untuk mewartakan kabar gembira kepada semua bangsa. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa tema pengingkaran selalu hadir dalam Mateus dan Lukas dan tidak boleh dikesampingkan untuk diganti dengan kasih pada sesama yang sifatnya lebih umum itu.

Tetapi kemudian ada yang menjawab: kamu melewatkan hal yang justru terpenting, sebab kamu sudah lupa bahwa Yesus terutama adalah penyelamat dunia. Ia datang bukan dengan hukum baru, melainkan untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Percayalah padanya, dan kau akan diselamatkan! Kamu tidak bisa mendapatkan keselamatan hanya dengan berbuat baik. Kita dibenarkan hanya oleh iman. Bertobatlah dan percayalah pada kabar gembira itu.

Okay, cukup adil, tetapi jika aku percaya pada Yesus, tidak haruskah aku mengikuti apa yang ia ajarkan? Dapatkah aku mengikuti, percaya pada, menyerahkan diri pada Yesus tanpa mempertimbangkan panggilan pengingkaran absolutnya dengan sangat serius? Jelaslah, bagi Yesus kehidupan pengingkaran itu sangat penting untuk memasuki kerajaan Allah. Jika kita tidak mendengarkan dia dan dengan serius berusaha mengikuti kata-katanya, maka bukankah kita sama saja dengan orang-orang India modern itu, yang memuja Gandhi seperti seorang dewa tetapi sama sekali tidak tertarik untuk menjalani kehidupan pengingkaran dan non-kekerasan? Yesus mengatakan, “Kau adalah sahabatku, jika kau mengerjakan apapun yang aku perintahkan kepadamu” (Yoh 15:14). Jika kita tidak menjalankan perintah-perintahnya dengan serius, apakah kita sahabat Yesus dan bolehkah kita mengharapkan keselamatan darinya?

Ketika Yesus menyuruh pejabat muda dan kaya itu menjual barang-barangnya, memberikan uangnya pada orang-orang miskin dan mengikutinya, anak muda itu memalingkan mukanya dengan sangat sedih, karena tidak mampu menerima jalan pengingkaran sebagai jalan hidupnya. Saya curiga banyak orang modern akan melakukan hal yang sama jika masalah itu diketengahkan pada mereka secara blak-blakan, bukan hanya karena jalan pengingkaran itu begitu menuntut tetapi juga karena melepaskan harta benda dan keluarga bagi banyak di antara kita terasa sangat tidak bertanggung-jawab, bahkan immoral. Pantas dicatat bahwa Yesus tidak berkompromi dengan anak muda yang kaya tadi. Ia tidak mengatakan, “Well, karena kamu tidak bisa melepaskan semuanya, aku akan cukup puas dengan dana persepuluhan dan datang ke missa secara teratur.” Dan Gereja selama ini melakukan kompromi. Mengapa? Karena kita serakah; kita menginginkan anggota-anggota lebih banyak, sebuah Gereja yang “lebih kuat,” sebuah masyarakat religius yang akan memikat bagi orang banyak. Dan yang jelas kita tidak ingin memberikan apa yang kita miliki.

Yesus mengatakan pada kita bahwa Gereja seperti itu sama sekali bukanlah Gerejanya. Murid-muridnya harus melepaskan segala sesuatu, termasuk, saya kira, kursi sembayang yang nyaman di gereja itu, demi kerajaan surga. Itulah sebenarnya arti pertobatan: berpaling dari jalan keserakahan yang sekarang tengah kita jalani dan masuk ke jalan Yesus. Kabar gembira tentang kerajaan surga itu menyodorkan tuntutan yang tidak dipenuhi oleh usaha-usaha untuk menghayati hidup yang oleh dunia dianggap sebagai baik dan etis. Bahkan menerima pengakuan atau kredo teologis yang paling njlimet pun tidak akan cukup. Yang penting adalah tidak lain dari menjual segala hartanya untuk mendapatkan mutiara yang sangat berharga itu.

Nah, saya tidak yakin apakah saya sendiri bisa atau harus memasuki kehidupan pengingkaran seperti itu. Saya lebih mirip pejabat muda dan kaya itu ketimbang Petrus atau Andreas. Saya memberikan uang pada sebuah gereja dan menghadiri ibadah tiap minggu, tetapi saya tidak berniat menyerahkan rekening bank saya atau meninggalkan keluarga saya. Tetapi itu tidak berarti bahwa saya harus mencoba membuktikan bahwa Yesus tidak menuntut itu dari saya. Barangkali saya termasuk orang-orang yang berusaha membangun menara sepanjang hidup saya, hanya untuk mendapatkan bahwa saya tidak mempunyai sumber-sumber untuk merampungkannya. Saya curiga itu juga berlaku untuk banyak orang lain.

Bagaimanapun juga, penemuan ini telah membuat saya berhenti mengkhawatirkan fakta bahwa Gereja Presbyterian sekarang hanya mempunyai 2,5 juta pemeluk, dan yang meninggalkan gereja setiap tahun tambah besar. Kenyataannya, jelas bagi saya bahwa Gereja pasti menyusut dan menyusut dan menyusut. Jika kita memperlakukan dengan serius apa yang Yesus ajarkan, barangkali kita harus bertanya apakah realitanya akan ada gereja yang tersisa. Adakah orang, entah di mana, yang berniat memperlakukan apa yang Yesus katakan dengan serius? Jujur saja, saya tidak melihat banyak orang seperti itu, baik di kalangan kanan religius atau kiri liberal.

Mungkin saya keliru, tetapi rasanya Gereja telah secara reguler menciptakan seorang Yesus yang cocok dengan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginannya sendiri. Dahulu Yesus adalah pengayom kekaisaran-kekaisaran kudus, chivalry, dan perang-perang salib, para bangsawan feudal, dan uskup-uskup maha-agung. Sekarang Yesus telah menjadi tembok perbentengan demokrasi, kapitalisme, nilai-nilai keluarga, anti-homoseksualitas (atau gay life), anti-feminisme (atau feminisme). Tetapi apakah ini berkaitan dengan Yesus-nya Injil-injil? Adakah yang mendengarkan dia?

Saya yakin telah tiba saatnya untuk membuat pilihan. Jika Yesus itu Tuhan, maka kita harus mengikuti dia dan menciptakan institusi-institusi (atau barangkali anti-institusi anti-institusi) untuk membuat kehidupan pengingkaran menjadi sebuah realita. Kita harus mengingkari semua demi kerajaan Tuhan. Jika kita tidak bisa atau tidak mau melakukan hal itu, maka kita jangan menipu diri kita sendiri dengan jalan menciptakan seorang Yesus yang cocok hanya dengan keinginan-keinginan kita sendiri. Tidak bolehkah mereka yang mendapatkan tuntutan-tuntutan Yesus terlalu berat—tidak bolehkah mereka memalingkan muka, seperti si anak muda kaya dan berkuasa itu, dengan wajah sedih? Adakah pilihan lain yang syah?

Nah, bisul yang bertahun-tahun merisaukan saya pecah sudah. Kontradiksi yang mendalam itu, dan rasa sakit yang mengikutinya, telah diungkap. Yang dibutuhkan sekarang adalah respon dan dialog. Bagaimana menurut anda?

Judul asli: “What Is Wrong with the Church?”

Sumber: http://www.bibleinterp.com.

Terjemahan: Bern Hidayat, 5 Desember 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: