Pengantar Injil

22/01/2010

Ditulis dalam kurun hampir satu abad setelah kematian Yesus, keempat injil Perjanjian Baru menceritakan kisah yang sama, tetapi mencerminkan ide-ide dan keprihatinan-keprihatinan yang sangat berbeda

oleh Marilyn Mellowes

Masa 40 tahun memisahkan kematian Yesus dengan penulisan injil pertama. Sejarah tidak banyak memberi kita bukti langsung mengenai kejadian-kejadian di masa itu, tetapi mengisyaratkan bahwa orang-orang Kristen purba tengah berkiprah dalam salah satu aktivitas manusia yang paling mendasar,yaitu mendongeng. Dalam kata-kata Mike White, “Yang tampak antara kematian Yesus dengan penulisan injil pertama, Markus, yaitu bahwa mereka tengah bercerita. Mereka tengah mewariskan tradisi tentang apa yang terjadi pada Yesus, apa yang ia ajarkan dan apa yang ia lakukan, secara lisan, dengan jalan menceritakannya kembali dan kembali dan kembali. Dan dalam proses itu mereka mendefinisikan Yesus untuk diri mereka sendiri.”

Ingatan-ingatan kolektif itu, yang diwariskan dari mulut ke mulut, dikenal sebagai “tradisi lisan.” Ingatan-ingatan itu mencakup mukjijat-mukjijat dan penyembuhan-penyembuhan Yesus, perumpamaan-perumpamaan dan ajaran-ajarannya, dan kematiannya. Akhirnya beberapa cerita ditulis. Dokumen-dokumen tertulis pertama barangkali mencakup kematian Yesus dan kumpulan ucapan-ucapan yang diyakini sebagai ucapannya.

Kemudian, sekitar tahun 70, penginjil yang dikenal sebagai Markus menulis “injil” yang pertama—yang artinya “kabar gembira” mengenai Yesus. Kita tidak akan pernah tahu identitas sebenarnya penulis itu, atau bahkan apakah namanya memang Markus, sebab di jaman kuno adalah kebiasaan umum untuk menyatakan karya-karya tertulis sebagai buah karya orang-orang terkenal. Tetapi kita tahu persis bahwa adalah kejeniusan Markus untuk menuliskan kisah Yesus, dan dengan demikian melahirkan tradisi injil.

“Injil adalah karya sastra dari tipe yang sangat khusus. Injil bukanlah biografi,” kata Prof. Paula Fredriksen, “Injil adalah semacam iklan keagamaan. Yang injil lakukan adalah memproklamasikan interpretasi masing-masing penulisnya mengenai pesan Kristiani melalui piranti yang menggunakan Yesus dari Nazareth sebagai juru bicara bagi wawasan si penginjil tadi.”

Sekitar 15 tahun sesudah Markus, sekitar tahun 85, penulis yang dikenal dengan nama Mateus menyusun karyanya, dengan mengambil dari berbagai sumber, termasuk tulisan Markus dan kumpulan ucapan Yesus yang oleh para ahli belakangan disebut “Q” —(dariQuelle,” bahasa Jerman, yang berarti sumber). Injil Lukas ditulis sekitar limabelas tahun kemudian, antara tahun 85 sampai 95. Para ahli menyebut ketiga injil itu “injil sinoptik,” karena ketiga injil itu “memandang” berbagai hal dengan cara yang sama. Injil Yohanes, yang kadang-kadang disebut “injil spiritual,” barangkali ditulis antara tahun 90 sampai 100. Dalam gaya dan presentasi, jelas injil itu berbeda jauh dari ketiga injil yang lain.

Masing-masing dari keempat injil tadi menggambarkan Yesus dengan cara yang berbeda-beda. Karakterisasi-karakterisasi itu mencerminkan pengalaman-pengalaman masa lalu dan situasi serta kondisi khusus dari komunitas penulisnya. Bukti historis mengisyaratkan bahwa Markus menulis untuk sebuah komunitas yang baru saja menerima pukulan berat dari kegagalan Pemberontakan Pertama Yahudi menentang Roma (tahun 67-70). Mateus menulis untuk komunitas Yahudi yang tengah mengalami konflik dengan Yudaisme Farisi yang mendominasi kehidupan Yahudi di masa pasca-perang. Lukas menulis untuk audiens yang terutama non-Yahudi dan yang ingin sekali menunjukkan bahwa kepercayaan-kepercayaan Kristiani sama sekali tidak bertentangan dengan kemampuan mereka untuk bertindak sebagai warga negara Kekaisaran yang baik.

Terlepas dari perbedaan-perbedaan itu, keempat injil itu berisi “kisah sengsara,” kisah sentral tentang sengsara dan kematian Yesus. Kisah itu secara langsung dihubungkan dengan ritual Kristen Ekaristi. Sebagaimana Helmut Koester amati, ritual itu tidak dapat “hidup” tanpa kisah itu.

Sementara injil-injil itu bercerita tentang Yesus, mereka juga mencerminkan ketegangan-ketegangan yang semakin meruncing antara orang-orang Kristen dengan orang-orang Yahudi. Pada waktu Lukas menulis karyanya, ketegangan itu sudah meruncing menjadi sikap permusuhan terbuka. Pada waktu Yohanes menulis, konflik itu telah menjadi perpecahan terbuka, yang tercermin dari bahasa caci-maki penginjilnya. Dalam kata-kata Prof. Eric Meyers, “Sebagian besar dari injil-injil itu mencerminkan sesuatu masa perselisihan, perselisihan theologis. Dan Perjanjian Baru bercerita tentang sebuah hubungan yang retak, dan itulah sebagian dari kisah sedih yang berkembang antara orang-orang Yahudi dan Kristen, karena itu adalah cerita yang akan memunculkan akibat-akibat mengerikan di masa-masa kemudian.”

Injil Markus

Usaha pertama untuk menceritakan kisah kehidupan dan kematian Yesus, naratif ini mengawali tradisi injil.

Oleh Marilyn Mellowes

Injil Markus adalah yang ditampilkan sebagai nomor dua dalam Perjanjian Baru, tetapi sebagian besar ahli sependapat bahwa ini adalah injil yang ditulis paling awal. Meskipun karya itu dinyatakan sebagai karya “Markus,” barangkali kita tidak akan pernah mengetahui identitasnya yang sebenarnya, sebab di jaman kuno adalah kebiasaan umum untuk mendongkrak kebesaran karya-karya tulis dengan jalan menyatakan mereka sebagai tulisan orang-orang terkenal. Siapapun penulisnya, injil Markus adalah yang pertama yang berusaha menceritakan kisah tentang kehidupan dan kematian Yesus. Barangkali ia meminjam kumpulan-kumpulan tulisan tentang cerita-cerita mukjijat, perumpamaan-perumpamaan, dan mungkin kisah tertulis tentang kematian Yesus. Markus memadukan elemen-elemen yang berlainan itu dengan tradisi-tradisi lain yang diwariskan dari mulut ke mulut untuk menciptakan sebuah naratif baru yang mengawali tradisi injil.

Apakah Markus orang Yahudi atau non-Yahudi tetap menjadi subyek perdebatan di antara para ahli. Begitu pula tempat dia menulis; beberapa ahli memperkirakan karyanya ditulis di Roma, yang lain memperkirakan di Alexandria, yang lain lagi menduga di Siria. Cara Markus menceritakan kisahnya mengisyaratkan bahwa audiensnya tinggal di luar negeri orang Yahudi, barangkali berbahasa Yunani dan bukan Aramaik, dan tidak akrab dengan adat istiadat Yahudi. Meskipun ada ketidak-sepakatan mengenai di mana Markus menulis, ada konsensus mengenai kapan ia menulis: diperkirakan ia menulis karyanya pada atau sekitar tahun 70, setelah kegagalan Pemberontakan Yahudi Pertama dan dihancurkannya Bait Allah Yerusalem oleh orang-orang Romawi. Kehancuran yang mempengaruhi cara Markus menceritakan kisahnya.

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa Pemberontakan itu akan mengawali peristiwa eskatologis yang akan membangun Kerajaan baru di atas bumi dan mencanangkan kembalinya sang Messias. Yesus sendiri diingat-ingat karena menyatakan bahwa Kerajaan itu akan datang, mungkin dalam masa hidup mereka: “Beberapa dari kamu yang berdiri di sini tidak akan merasakan kematian sampai Kerajaan Surga datang dengan kekuasaan” (MK 9:1.20). Tetapi harapan-harapan itu tidak terpenuhi. Dan penulis Markus rupanya ingin merupa-ulang imaji-imaji tradisional tentang Yesus untuk menalarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi, atau tidak terjadi, setelah ia mati.

Imaji-imaji itu termasuk Yesus sebagai pekerja mukjijat. Selaras dengan tradisi yang ia warisi, Markus menggambarkan Yesus sebagai melakukan sejumlah mukjijat penyembuhan: lelaki dengan roh kotor, si penderita lepra, orang lumpuh, orang dengan tangan lumpuh, wanita yang darahnya bermasalah, anak perempuan Jairus. Ia terasa bergerak cepat dari satu mukjijat ke mukjijat lain; dalam injil Markus, kata “segera” muncul sampai 39 kali.

Meskipun penulis Markus seakan menyatakan bahwa Yesus adalah lebih dari sekedar pekerja mukjijat, identitasnya yang sebenarnya tetap misterius. Hanya demit-demit, wanita-wanita, dan tokoh-tokoh marjinal lain yang rupanya memahami siapa dia sebenarnya, dan Yesus menyuruh mereka tutup mulut.

Yesus sendiri mengungkapkan sekaligus menutup-nutupi identitasnya. Markus menggambarkan Yesus sebagai berbicara dalam perumpamaan-perumpamaan, tetapi wawasan-wawasannya diberikan hanya pada segelintir orang terpilih. Ketika berbicara pada rasul-rasulnya, Yesus mengatakan: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Surga, tetapi bagi mereka yang ada di luar, segala sesuatu datang dalam perumpamaan, agar mereka menyimak tetapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak memahami . . .” (MK 4:11-12).

Para rasul tampil sebagai lingkaran terdalam Yesus, tetapi bahkan mereka tidak sepenuhnya memahami siapa dia. Di jalan menuju Caesarea Philippi, Jesus menanyai murid-muridnya “Siapakah aku ini menurut kata orang-orang?” Dan  mereka menjawab, “Yohanes Pembaptis” atau “Eliyah.” Sambil menoleh ke arah Petrus, ia mengulang pertanyaan yang sama. Petrus menjawab, “Kaulah sang Messiah.” Tetapi ketika Yesus meramalkan sengsaranya sendiri, Petrus menegurnya, yang membuat Yesus membentaknya: “Setan.” Ketika Yesus ditahan, Petrus mengaku tidak kenal dengannya, dan semua murid meninggalkan dia.

Petunjuk menuju identitas Yesus adalah apa yang oleh para ahli disebut “rahasia Messianik.” Yesus adalah Messiah, dan ia sendirilah yang sepenuhnya memahami apa yang harus ia kerjakan: ia harus menderita dan ia harus mati. Sesungguhnyalah, injil Markus sebenarnya adalah kisah tentang kematian Yesus dan harapan akan kembalinya ketika Tuhan mengakhiri masa kini yang jahat.

Dalam perjalanan menuju akhir hayatnya, Yesus ditanyai oleh Imam Agung, “Apakah kau Kristus, putera Terkasih?” Yesus menjawab: “Akulah dia dan kau akan melihat Anak Manusia duduk bertahta di sebelah kanan dan datang bersama awan-awan surga.” Dalam cerita Markus, Imam Agung menyerahkan Yesus kepada Pilatus, yang menjatuhkan hukuman mati padanya. Dan hanya kematiannyalah yang mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya. Dengan ironi yang sengaja dibangun, orang yang mengenali identitas itu justru seorang anggota tentara Romawi, yang berseru: “Sesungguhnyalah orang ini Putera Allah” (MK 15:39).

Dalam kisah Markus, Yesus dikubur di sebuah makam. Ending asli injil Markus tidak mengandung kisah kebangkitan kembali; ending yang sekarang ada dalam injil Perjanjian Baru adalah tambahan seorang penyalin kitab dari masa kemudian. Markus mengakhiri karyanya dengan sebuah nada yang telanjang. Dua orang wanita memasuki makam, dan mereka melihat seorang pemuda yang berpakaian putih. Pemuda itu menjelaskan bahwa Yesus telah bangkit, dan ia menyuruh wanita-wanita itu memberitahu Petrus dan rasul-rasul yang lain. Wanita-wanita itu lari ketakutan.

Pesan apa yang Markus ingin sampaikan pada audiensnya? Para ahli tidak satu pendapat. Beberapa berargumen bahwa Markus sengaja membangun gambaran yang muram dan menakutkan sebab memang itulah pengalaman orang-orang untuk siapa Markus menulis karyanya. Elaine Pagels menyodorkan interpretasi yang berbeda: “Dan kata-kata terakhir dari injil aslinya adalah ‘dan mereka ketakutan.’ Akan menjadi kabar yang sama sekali tidak menggembirakan andaikata di bawah kisah yang agak gelap itu tidak ada harapan yang besar. . . . bahwa ini adalah kisah yang sangat menjanjikan dan bahwa endingnya yang mengerikan itu bukanlah hal yang terpenting —bahwa ada sebuah misteri di situ, sebuah misteri ilahi tentang wahyu Tuhan yang masih akan terjadi. Dan saya kira itu adalah rasa pengharapan yang mendalam dan menarik.”

Injil Mateus

Menulis untuk audiens Kristen Yahudi, kepedulian utama Mateus adalah untuk menghadirkan Yesus sebagai guru yang lebih besar daripada Musa.

Oleh Marilyn Mellowes

Penginjil yang mengarang injil Mateus barangkali seorang Kristen Yahudi, mungkin seorang scribe (penyalin kitab). Bukti historis mengisyaratkan bahwa ia menulis antara tahun 80 sampai 90, dan memperuntukkan karyanya bagi sebuah komunitas yang tengah mengalami konflik: orang-orang Kristen Yahudi yang sedang digusur keluar dari komunitas-komunitas yang lebih besar, yang berlokasi di Galilei utara atau Siria. Komunitas-komunitas itu dipimpin oleh orang-orang Farisi, para rabbi yang mengambil alih kepemimpinan bangsa Yahudi setelah kehancuran Yerusalem.

Mateus berusaha keras menempatkan komunitasnya dalam warisan Yahudinya, dan menggambarkan seorang Yesus yang identitas Yahudinya tidak diragukan. Ia mengawalinya dengan melacak genealogi Yesus. Untuk melakukan itu, Mateus tinggal menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang keturunan Raja Daud. Tetapi Mateus tidak mau ambil resiko. Ia melacak garis keturunan Yesus bahkan sampai ke Abraham. Dalam kata-kata Helmut Koester, “Adalah sangat penting bagi Mateus bahwa Yesus adalah keturunan Abraham.” Pendek kata, Yesus adalah seorang Yahudi.

Mateus mendasarkan karyanya dalam tradisi-tradisi Yudaisme. Naratif Mateus meliputi sebagian besar injil Markus, tetapi ditambah dengan bahan-bahan ucapan-ucapan kudus, sumber tertulis lain yang dinamakan “M,” dan barangkali materi lain juga. Tetapi bahkan sekalipun penginjil itu mencantumkan kisah-kisah mukjijat, kepedulian utamanya adalah untuk menghadirkan Yesus sebagai seorang guru yang bahkan lebih besar daripada Musa. Karena itu, Mateus menggunakan sumber-sumbernya untuk menciptakan sebuah naratif yang agak berbeda di mana Yesus mengulang-ulang ajaran pada orang-orang.

Dalam injil Mateus, Yesus menyampaikan lima pidato utama, yang paralel dengan lima kitab besar Musa yang dikenal dengan nama Pentateuch. Pidato-pidato pertama dan terpenting Yesus adalah Khotbah di atas Bukit. Salah satu karakteristik yang menarik dari pidato ini adalah repetisi Yesus dengan kata-kata “kamu telah mendengar perkataan orang. . . . tetapi aku katakan kepadamu . . .” Mateus sedang memberikan sebuah interpretasi baru pada Kitab Musa; ia sedang membangun gereja sebagai Israel baru. Kepedulian Mateus mengenai keadaan gereja tercermin dalam bagaimana ia menceritakan Yesus meredakan badai. Dalam bahasa Yunani, kata “badai” itu sendiri sebenarnya berarti gempa bumi. Menurut sebuah interpretasi, cerita itu sebenarnya adalah sebuah metafora: murid-murid mewakili komunitas Kristen, perahunya mewakili gereja. Dalam menghadapi pergolakan dan ketidak-pastian yang menantang iman dan mengancam akan menghancurkan gereja, Yesus memberikan jaminan pada kaum beriman: “Lihatlah, aku bersamamu sampai akhir jaman.”

Komunitas Mateus mengikuti Hukum Allah, tetapi mereka memandang Yesus—bukan orang-orang Farisi—sebagai interpreter yang benar tentang Hukum Allah. Keyakinan itu cenderung merongrong legitimasi dan otoritas kaum Farisi yang mengritik para pengikut Yesus. Sekarang Mateus membuat orang-orang Farisi menjadi “munafik”: “Celakalah kau hai para ahli kitab dan Farisi, orang-orang munafik. Sebab kamu seperti kuburan yang dicuci sampai putih, yang tampak indah di luar, tetapi di dalam kamu penuh tulang belulang dan segala macam najis.” (MATT 23:27).

Sikap Mateus terhadap orang-orang Farisi tercermin dalam cara dia menceritakan kisah tentang kematian Yesus. Pontius Pilatus digambarkan sebagai sosok yang simpatik, dan seluruh kesalahan ditimpakan pada para pemimpin Yahudi. Tetapi fakta bahwa Yesus dinyatakan telah mati masih merisaukan orang-orang Farisi. Yesus pernah meramalkan bahwa “Setelah tiga hari aku akan bangkit kembali” (MATT 27:63). Orang-orang Farisi membayangkan sesuatu skenario di mana para pengikut Yesus akan mencuri jasadnya dari makam untuk membuktikan klaim-klaim tadi. Pilatus menyarankan agar mereka menutup makam itu dengan sebuah batu besar.

Kemudian Mateus mengemas-ulang adegan final dari kisah Markus tentang para wanita datang ke makam dan menemukan bahwa Yesus telah lenyap. Tetapi kali ini malaikat itu menginstruksikan mereka agar memberitahu murid-murid yang lain bahwa Yesus telah bangkit. Kemudian Yesus sendiri muncul di hadapan para wanita itu dan menyuruh mereka memberitahu murid-murid agar menemuinya di Galilei. Murid-murid pergi ke gunung—persis sebagaimana dahulu Yesus sendiri naik ke gunung untuk menyampaikah Khotbah di atas Bukit—dan mereka bertemu dengan Yesus. Tetapi beberapa dari mereka masih ragu-ragu. Betulkah itu dia? Yesus meyakinkan mereka: “Semua kuasa diberikan kepadaku di surga dan di bumi.” Dan ia juga memerintahkan mereka: “Pergilah dan ajarlah semua Bangsa, baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.”

Perhatikan bahwa Yesus tidak menyuruh murid-murid untuk pergi hanya ke “Isarel” atau ke “domba-domba yang hilang dari rumah Israel.” Ia menyuruh mereka pergi  ke “Bangsa-bangsa”—ke semua bangsa. Sebab Kerajaan yang Yesus janjikan akan merengkuh baik Yahudi maupun non-Yahudi.

Injil  Lukas

Injil ini berusaha menjawab pertanyaan, “Apakah orang-orang Kristen yang percaya pada Kerajaan Allah juga bisa menjadi warga yang setia dari Kekaisaran Romawi?”

oleh Marilyn Mellowes

Penulis injil Mateus menulis tentang sebuah Kerajaan yang akan merengkuh baik orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi. Penulis injil Lukas menulis untuk sebuah komunitas yang juga menantikan datangnya Kerajaan Allah, tetapi dipenuhi dengan pikiran tentang kehidupannya di Kerajaan lain, yaitu Kerajaan Kaisar. Pertanyaan yang mereka hadapi adalah sebagai berikut: apakah orang-orang Kristen yang percaya pada Kerajaan Allah juga bisa menjadi warga yang setia dari Kekaisaran Romawi? Jawaban Lukas tegas: “Ya.”

Menurut tradisi, penulis injil Lukas adalah seorang dokter dan teman seperjalanan rasul Paulus. Sejarah tidak menemukan bukti yang menguatkan klaim-klaim ini, tetapi karya itu sendiri mengisyaratkan bahwa karya itu ditulis oleh orang yang hidup di salah satu kota besar di mana Paulus membentuk gereja-gereja purbanya. Komposisi dan bahasa karya itu mengisyaratkan bahwa penulisnya adalah orang yang berpendidikan sangat baik, fasih berbahasa Yunani, dan memiliki gaya sastra yang tajam dan bagus.

Siapapun yang menulis injil Lukas sebenarnya tidak hanya menulis injil itu; ia juga menulis Kisah Para Rasul, kisah tentang pertumbuhan dan perluasan Kristianitas setelah kematian Yesus sampai akhir pelayanan rasul Paulus. Sungguh, banyak ahli menandaskan bahwa injil Lukas barulah paruh pertama dari sebuah kisah besar yang diawali dengan Yesus di Nazareth dan diakhiri dengan Paulus di Roma. Dalam kata-kata Mike White, “He is telling a bigger story, a grander story.” Dan kisah itu jelas telah membentuk cara pandang orang-orang Kristen mengenai sejarah awal perkembangan gereja mereka.

Karya itu juga memberikan pengaruh sangat mendalam pada bagaimana belakangan gereja mencitrakan kelahiran Yesus. Sebab Lukas lah yang menghadirkan dongeng kelahiran yang sekarang sudah begitu akrab itu: “Dan di masa itu keluar sebuah perintah dari Kaisar Agustus bahwa seluruh dunia harus dipajaki.” (LK 2:1). Lukas melukiskan bagaimana Yosef dan Maria melakukan perjalanan dari Nazareth, di kawasan Galilei, ke Yudea, ke Bethlekem. Mengapa Lukas menceritakan kisah itu dengan cara seperti ini? Para ahli berspekulasi bahwa Lukas tengah menarik sebuah garis paralel antara raja pertama Israel dengan Raja yang baru, Yesus Kristus.

Menurut beberapa orang interpreter, Yesus versi Lukas bukan hanya seorang raja; ia mirip seorang filsuf Yunani. Interpreter-interpreter yang lain mengisyaratkan bahwa Yesus versi Lukas lebih mirip seorang hero semi-ilahi, seperti hero-hero yang digambarkan dalam cerita-cerita populer dan dipuja-puja dalam syair-syair Yunani.

Yesus versi Lukas adalah sosok yang perkasa. Dalam kata-kata Holland Hendrix: “Ia muncul di panggung sebagai seorang nabi yang langsung muncul dari Kitab Suci Hibrani. Pada penampilan pertamanya di kota kelahirannya, ia mengutip nabi Yesaya. Ia tampil sebagai seorang pembebas, seorang pekerja mukjijat besar. Tetapi yang terpenting sebagai sosok berjiwa pemurah.” Berbeda dari Yesus versi Mateus, yang memberkati mereka yang berjiwa miskin, Yesus versi Lukas memberkati mereka yang memang miskin.

Setelah memberikan serangkaian berkat sambil memenuhi kebutuhan fisik orang-orang, Yesus memberikan nasehat mengenai bagaimana hidup dengan baik: “Tetapi aku katakan kepadamu yang mendengarkan, Kasihilah musuh-musuhmu, berbuat baiklah pada mereka yang membencimu, berkatilah orang-orang yang mengutukmu, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Jika anda orang yang menamparmu di salah satu pipi, berikan pipi yang lain juga; dan jika ada orang yang mengambil jubahmu, janganlah kau pertahankan bajumu. Berilah setiap orang yang mengemis padamu; dan jika ada orang yang mengambil barang-barangmu, janganlah itu kau minta kembali. Berbuatlah pada orang-orang lain sebagaimana kau ingin mereka perbuat padamu.” (LK 6:27-31).

Salah satu dari perbedaan-perbedaan yang paling menonjol antara injil Lukas dengan injil Mateus atau Markus, dalam kata-kata Francois Bovon, adalah “nada kegembiraannya.” Injil itu diawali dengan kisah gembira tentang kelahiran Yesus dan diakhiri dengan nada kemenangan dari kebangkitan kembali Yesus dan kenaikannya ke surga. Perasaan ditinggalkan yang mewarnai ending injil Markus diredusir menjadi sebuah interlude singkat dalam kisah Lukas. Ketika injil Lukas berakhir, Yesus secara fisik telah pergi. Tetapi di awal Kisah Para Rasul, RohNya kembali lagi, memandu murid-murid menyelesaikan karya mereka hingga sukses.

Dibandingkan dengan injil-injil yang lain, Yesus versi Lukas tidak begitu menonjol sebagai provokator, begitu pula rasul Paulus. Hal ini mengisyaratkan adanya sesuatu hal penting pada audiens Lukas: audiens itu tengah belajar hidup dan berkembang di wilayah Romawi, menyatu kedalam masyarakat dan kebudayaannya. Lukas ingin meyakinkan komunitas Kristennya—dan para tetangga mereka—bahwa tidak ada konflik antara kepercayaan pada Yesus dengan kesetiaan pada Kaisar. Kerajaan Allah dan Kerajaan Kaisar bisa hidup berdampingan secara damai; orang-orang Kristen bisa menjadi warga negara yang baik dari kerajaan surgawi maupun kerajaan duniawi.

Harapan-harapan Lukas akan penerimaan itu tercermin dalam bagaimana ia melukiskan kematian Yesus. Kata-kata terakhir Yesus adalah: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka kerjakan” (LK 23:34). Yesus versi Lukas mati dengan tenang dan tegas: ia tahu bahwa kematiannya akan diikuti dengan kelahiran gereja.

Injil Yohanes

Injil yang disebut “injil spiritual” ini, yang menghadirkan Yesus sebagai “Orang Asing dari Surga,” berdiri terpisah dari ketiga injil yang lain.

Oleh Marilyn Mellowes

“Pada awal mula adalah Sabda, dan Sabda bersama Tuhan, dan Sabda adalah Tuhan. Ia bersama Tuhan di awal mula, dan melalui dia segala sesuatu diciptakan.” Kata-kata dari prolog pembukaan injil keempat itu memberikan isyarat penting mengenai sifat karya itu: bahwa karya itu berdiri terpisah dari ketiga injil sinoptik yang lain. Injil itu telah lama dijuluki “injil spiritual” karena caranya melukiskan Yesus.

Jika Yesus versi Mateus mirip Musa dan Yesus versi Lukas mirip filsuf Yunani atau hero setengah-dewa, Yesus versi Yohanes mirip ideal Yahudi tentang Kebijaksanaan surgawi. Beberapa karya Yahudi yang ditulis sebelum injil Yohanes menggambarkan Kebijaksanaan sebagai sahabat Allah di surga. Kebijaksanaan ini, yang dilukiskan sebagai seorang wanita cantik, yang hidup bersama Allah dan berpartisipasi dalam karya penciptaan dunia. Bagian lain dari mitos yang berkenaan dengan Kebijaksanaan itu menyatakan bahwa ia turun ke bumi untuk melimpahkan pengetahuan ilahi kepada umat manusia. Tetapi ia ditolak dan karena itu kembali kepada Allah.

Salah satu bagian menarik lain dari injil Yohanes adalah bahwa Yesus berbicara dalam monolog-monolog panjang, bukan dalam pernyataan-pernyataan pendek dan tajam serta perumpamaan-perumpamaan. Ia secara terbuka menyatakan keilahiannya dan menandaskan bahwa satu-satunya jalan menuju Bapa adalah melalui dia. Motif-motif terang dan kegelapan dijalin di seantero injil itu. Ini bukan sekedar motif-motif sastra, melainkan piranti-piranti yang memberikan isyarat mengenai komunitas untuk siapa Yohanes menulis karyanya.

Itu adalah komunitas yang sedang tertekan hebat. Injil itu sendiri mengisyaratkan bahwa anggota-anggota komunitas itu tengah berada dalam konflik dengan para pengikut Yohanes Pembaptis dan tengah menjalani pemisahan diri yang menyakitkan dari Yudaisme. Kelompok itu sendiri barangkali tengah mengalami konflik internal dan banyak ditinggalkan oleh anggotanya sendiri.

Tradisi menyatakan Yohanes, anak Zebedeus dan salah satu rasul Yesus, sebagai penulis injil keempat ini. Sebagian besar ahli memperdebatkan pernyataan ini; beberapa berspekulasi bahwa karya itu sebenarnya ditulis oleh sekelompok orang Kristen purba yang agak terisolir dari komunitas-komunitas Kristen purba yang lain. Tradisi juga menyatakan penulisan injil itu dilakukan di atau dekat Efesus, tetapi para ahli memperkirakan Syria bagian selatan atau Lebanon adalah lokasi yang lebih mungkin. Waktu yang paling mungkin untuk penyelesaian injil itu adalah antara tahun 90 sampai 110 Masehi.

Tema sentral karya itu adalah kenaikan/kedatangan. Yesus dihadirkan sebagai orang yang dengan leluasa bergerak di antara dua wilayah: surga dan bumi. Sebagaimana ditulis oleh Wayne Meeks, ia adalah “Stranger from Heaven.” Dia—dan hanya dia—mengenal Bapa; kepercayaan pada dia adalah satu-satunya jalan untuk mencapai Bapa, satu-satunya jalan menuju keselamatan. Orang-orang yang percaya dalam komunitas Yohanes bisa melihat dan menerima kosmos spiritual yang membebaskan ini. Lawan-lawan mereka tidak.

Lawan-lawan Yesus adalah “orang-orang Yahudi,” yang tidak dapat dan tidak akan mau mengakui siapa dia. Penulis injil Yohanes secara sengaja menciptakan sebuah kisah yang bisa diinterpretasikan pada dua tataran. Maksudnya, kisah yang Yohanes paparkan tentang perjumpaan Yesus dengan orang-orang Yahudi secara sadar paralel dengan ketegangan-ketegangan antara komunitas Yohanes dengan orang-orang Yahudi sejaman yang menjadi penentangnya. Komunitas Yohanes tengah diusir dari sinagoga-sinagoga, karena mereka percaya pada Yesus sebagai Messiah. Orang-orang Yahudi dalam injil Yohanes sama sekali tidak bisa menggapai identitas Yesus yang sebenarnya. Mereka senantiasa bertanya: “Dari mana kamu?” dan “Mau ke mana kamu?” Yesus menjawab: dari mana aku datang, kamu tidak tahu; ke mana aku pergi, kamu tidak akan bisa menyusul. Mereka mengira bahwa Yesus akan melakukan perjalanan ke luar negeri. “Apakah ia berniat pergi ke Diaspora di kalangan orang-orang Yunani dan mengajar orang-orang Yunani?” Dalam injil itu, orang-orang Yahudi tidak bisa tahu karena mereka datang dari kegelapan; Yesus dan para pengikutnya datang dari terang.  “Kamu dari bawah, aku dari atas; kamu berasal dari dunia ini, aku bukan dari dunia ini” (8:23).

Tema-tema gelap dan terang, tahu dan tidak tahu, semua itu bertemu dalam penyaliban Yesus. Yohanes menampilkan sebuah plesetan dengan kata Yunani “disalib” yang juga berarti “diangkat ke atas.”

Sebagaimana dalam injil-injil yang lain, akhir cerita menghadirkan makna yang bukan hanya harafiah. Yohanes melukiskan adegan makam kosong dan penampakan Yesus di antara para murid. Thomas masih meragukan apakah sosok yang ada di hadapannya itu betul-betul Yesus. Yesus menyuruhnya menyentuh bekas luka di lambungnya, dan setelah itu barulah Thomas percaya. Yesus, sambil mengacu pada orang-orang yang menerimanya, mengatakan: “Terberkatilah mereka yang tidak melihat namun percaya.”

Persis sebagaimana Yesus menyapa murid-muridnya, penulis injil Yohanes menyapa komunitasnya. Dan ia membesarkan hati mereka: “Kemudian Yesus melakukan banyak tanda-tanda lain di hadapan murid-muridnya, yang tidak ditulis dalam kitab ini. Tetapi ini ditulis agar kamu percaya bahwa Yesus adalah Messias, Putera Allah, dan bahwa melalui percaya kamu bisa memperoleh hidup dalam namanya.” (JN 20:30-31). Sebagaimana ditulis oleh Paula Fredriksen, “Dengan demikian mereka bisa melihat diri mereka sendiri sebagaimana mereka memandang Penyelamat mereka— sendirian dalam kegelapan, namun menjadi terang dunia.”

Munculnya Injil Kanon

Bagaimana keempat injil yang kita kenal sebagai Perjanjian Baru itu dipilih dari lusinan versi kisah tentang Yesus.

Oleh Marilyn Mellowes

Perjanjian Baru, yang diterbitkan dalam Injil-Injil Kristen yang digunakan di seluruh dunia itu, berisi 27 teks atau naskah. Yang paling terkemuka dari teks-teks itu adalah keempat injil yang dikenal sebagai injil Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes. Teks-teks itu sudah begitu akrab sehingga orang mudah beranggapan bahwa injil yang pernah ada memang hanya keempat injil itu.

Yang benar tidak demikian, dan kisah bagaimana keempat injil itu akhirnya dipilih sebagai bagian dari kanon, atau literatur yang diterima oleh gereja, menyodorkan sebuah gambaran yang menarik mengenai dunia orang-orang Kristen purba.

Komunitas-komunitas Kristen purba memproduksi banyak injil. Salah satunya adalah Injil Maria Magdalena, di mana Maria dihadirkan sebagai seorang rasul, seorang pemimpin dari sebuah kelompok Kristen. Teks Kristen purba lain yang dikenal sebagai Injil Kebenaran merenungkan ajaran-ajaran Yesus, tetapi tidak berbicara tentang kematian dan kebangkitannya; dan Injil Thomas hanya menyajikan perkataan-perkataan yang diyakini berasal dari Yesus.

Bersamaan dengan perkembangan jumlah komunitas-komunitas Kristen, berkembang pula jumlah dan jenis-jenis injil. Sepanjang abad kedua, menulis injil praktis menjadi “industri rumahtangga,” sebab audiens dan selera untuk literatur seperti itu seakan tak mengenal batas.

Tetapi ada juga orang-orang yang merasakan perlunya memberikan batasan-batasan pada maraknya penulisan injil-injil itu. Salah satu di antara mereka adalah Irenaeus, yang menjadi uskup Lyon, setelah komunitas Kristen di sana menderita penganiayaan yang meluluh-lantakkan. Bagi Irenaeus, kelangsungan hidup gereja terkait dengan perlunya penertiban.

Penertiban itu juga mencakup teks-teks yang digunakan oleh orang-orang Kristen dalam ibadah mereka. Sekitar tahun 180 Masehi, Irenaeus menyarankan bahwa jumlah injil yang pas adalah empat. Ia menyodorkan logika yang aneh: Mengapa empat? Karena mata angin di bumi ini empat, angin di bumi ini empat, dan hewan jaman kiamat juga empat.

Irenaeus sendiri tidak memiliki otoritas untuk memaksakan pembatasan seperti itu sampai hanya pada empat injil. Tetapi rupanya banyak pemimpin gereja bersimpati pada kebutuhan yang ia rasakan untuk mengendalikan kebhinekaan. Sebagaimana dinyatakan oleh Allen Callahan, adalah mudah untuk menstereotipekan sifat semena-mena dari proses pengambilan keputusan tadi: “sejumlah bos Kristen dengan cerutu tertancap di mulut berkumpul, dan mereka memutuskan injil siapa masuk dan injil siapa keluar. Semua disimak, dipilah, lalu diikat jadi satu—yang lain ditinggalkan di lantai ruang potong dan kemudian tukang-tukang kebun mengusung pergi apa saja yang tidak boleh masuk Kanon.”

Tetapi Callahan mengisyaratkan bahwa pemilihan keempat injil tadi mencerminkan preferensi-preferensi dan praktek-praktek mayoritas komunitas-komunitas Kristen yang tengah berkembang pada saat itu. Ada sesuatu konsensus mengenai “literatur yang mereka ingin baca, yang mereka ingin dengar lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Dan jenis-jenis literatur lain yang mereka tidak ingin dengar.”

Kanon itu memaksakan batas-batas, tetapi juga melestarikan kebhinekaan sampai ke tingkat tertentu. Sebagaimana diamati oleh Helmut Koester: “Tidak ada klaim bahwa kanon itu merepresentasikan empat injil yang semuanya satu kata. Lebih tepat lagi, itu adalah usaha untuk mempersatukan sebanyak mungkin komunitas Kristen ke dalam satu gereja besar.”

Keempat injil itu merepresentasikan kebhinekaan, namun mereka semua sama-sama memiliki satu elemen kunci: masing-masing injil menceritakan kisah sengsara dan kematian Yesus. Kisah itu secara intim terkait dengan ritual yang menjadi pusat ibadah Kristen, yaitu perayaan Ekaristi, Perjamuan Terakhir. Kisah dan ritual itu terkait secara mendalam. Sebagaimana Koester amati, ritual itu tidak dapat hidup tanpa kisah tadi. Dan, dalam ibadah gereja yang tengah mencari bentuk itu, kisah itu sebaliknya dilestarikan dan diperdalam oleh ritual itu.

Judul asli: “An Introduction to the Gospels”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern  Hidayat, 22 September 2009. Semua ayat kutipan injil diterjemahkan secara bebas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: