Munculnya Kanon Empat Injil

22/01/2010

Lusinan injil beredar di antara komunitas-komunitas Kristen purba. Bagaimana keempat injil yang sekarang terkandung dalam Perjanjian Baru itu dipilih?

Elaine H. Pagels

The Harrington Spear Paine Foundation Professor of Religion Princeton University

MUNCULNYA KANON

Dalam gerakan Kristen paling awal, sebenarnya banyak sekali tulisan-tulisan yang beredar, begitu pula ada banyak tradisi mengenai perkataan-perkataan Yesus. Ibaratnya beberapa dari para pemimpinnya terpaksa berpikir keras, “Well, mana dari sekian banyak tulisan ini yang boleh dibaca di gereja? Mana yang terbaik?” Dan Irenaeus, pemimpin sebuah gereja di Perancis sekitar tahun 170, menyatakan bahwa “Orang-orang bidaah menyombongkan diri memiliki lebih banyak injil daripada yang ada di seluruh muka bumi. Tetapi sebenarnya mereka tidak mempunyai injil yang tidak penuh dengan hojatan. Sebenarnya hanya ada empat injil yang otentik. Dan ini jelas benar karena hanya ada empat mata-angin di dunia ini, dan hanya ada empat angin di muka bumi, dan karenanya hanya ada empat injil yang benar-benar otentik. Selain itu, injil-injil itu ditulis oleh para pengikut Yesus sejati.”

Nah, sekarang ini, para ahli Perjanjian Baru tidak akan sependapat dengan Irenaeus, karena kita tidak tahu siapa yang menulis injil-injil yang kita sebut injil Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes itu, begitu pula siapa yang menulis Injil Thomas. Mereka dinyatakan sebagai tulisan murid-murid Yesus, tetapi kita sama sekali tidak tahu siapa yang menulis injil-injil itu. Dan kita tidak tahu apakah injil-injil itu merupakan sumber-sumber paling awal atau bukan. Mungkin sekali tidak. Tetapi injil-injil itu memang menghadirkan wawasan-wawasan tentang Yesus, yang membuatnya menjadi sangat penting dan membuat gereja institusional menjadi sentral. . . . Injil-injil Perjanjian Baru, tentu saja, mempunyai banyak perbedaan antara satu sama lain. Tetapi mereka mempunyai satu kesamaan, yaitu semuanya memandang Yesus sebagai tokoh terpenting, pada mana segala sesuatu yang lain tergantung, Messiah, sang Penyelamat, Tuhan. Injil-injil yang lain, banyak di antara mereka, memandang Yesus sebagai seorang guru, seorang tokoh pencerahan, katakanlah suatu sosok bodhisatva, tetapi orang yang anda dan saya bisa tiru, yang mungkin bisa kita ikuti untuk bisa menjadi seperti dia. Dan itu adalah penekanan yang sangat berbeda. Saya kira injil-injil Perjanjian Baru dipilih karena mereka sama-sama memiliki keyakinan mengenai arti penting dan keunikan Yesus, yang juga menjadi arti penting serta keunikan gereja sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Maksudnya, gereja yang menyebut dirinya “katolik,” yang berarti universal, menyatakan diri sebagai satu-satunya akses menuju keselamatan. Jika anda bukan anggota gereja itu, para pemimpin gereja itu telah menyatakan sejak abad pertama sampai sekarang, bahwa anda berada di luar, anda mungkin ditakdirkan masuk neraka.

L. Michael White

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

MENJAMURNYA INJIL-INJIL

Jadi, jika dulu ada begitu banyak injil, bagaimana hanya empat injil yang dimasukkan kedalam Perjanjian Baru? Bagaimana itu terjadi?

Proses kemunculan kanon; maksudnya, injil itu sendiri sebagai dokumen normatif sebagaimana itu sekarang kita miliki, sebenarnya adalah produk dari penggunaan tradisi injil di abad kedua dan ketiga. Nah, sejak awal mula, tentu saja, kita mempunyai empat injil yang sekarang kita lihat dalam Perjanjian Baru—Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes—, tetapi ada banyak injil lain yang kita ketahui ada. Ada Injil Petrus dan Injil Thomas, yang masing-masing berasal dari sebuah tradisi yang sangat awal. Ada dokumen Q, sumber perkataan-perkataan yang menggaris-bawahi injil Mateus dan Lukas. Dokumen itu sekarang sudah hilang, tetapi jelas sekali bahwa dokumen itu dulu ada, dan usianya sudah sangat tua, mungkin berasal dari tahun 50an Masehi.

Kita tahu bahwa di abad kedua dan ketiga ada banyak injil lain yang dikembangkan. Kita mempunyai banyak sekali kisah-kisah populer tentang kehidupan Yesus. Ada dongeng-dongeng bayi Yesus; Injil Thomas adalah salah satu dari cerita-cerita ini, di mana anda mempunyai kisah-kisah tentang kanak-kanak Yesus melakukan aneka macam mukjijat. Dan jelas bahwa semua itu berkembang dari apa yang boleh kita katakan “popular interest.” Anda bisa membayangkan dongeng-dongeng Yesus berkembang dengan aneka macam cara persis sebagaimana sembarang tokoh terkenal. Maksud saya, kita ambil saja tokoh Superman. Sekali anda tahu Superman itu tokoh hebat, seperti apa dia waktu masih kecil, begitu pula yang terjadi dengan Yesus. Dongeng-dongeng bayi Yesus adalah salah di antara hal-hal seperti ini, dan kita mendapatkan beberapa legenda mentakjubkan yang berkembang dengan cara seperti itu.

Kita juga mendengar tentang jenis-jenis injil lain yang berkembang. Kisah-kisah tentang kelahiran Yesus yang bercerita dengan sangat mendetil; seberapa benar hal itu atau seberapa mentakjubkan hal itu; kisah-kisah tentang para rasul yang melakukan perjalanan ke segala macam negeri asing; Thomas, yang pergi ke India; Andreas, yang pergi ke beberapa negeri sangat asing, dan sebagainya dan sebagainya. Kisah-kisah seperti itu marak di abad kedua dan ketiga. Ada literatur Kristen yang berkembang dengan sangat pesat, dan dalam beberapa hal, saya kira kita harus memandangnya dari kacamata kesastraan, yaitu sebagai literatur yang memang tengah menguasai pasar imajinasi populer abad kedua dan ketiga.

Pada saat yang sama, literatur yang tengah berkembang pesat ini, . . . . bahkan ketika literatur itu digunakan untuk tradisi-tradisi lokal, misalnya, atau sebagai injil resmi sebuah gereja tertentu, juga menghadirkan sebuah masalah besar, sebab Yesus itu hanya satu, lalu bagaimana bisa muncul begitu banyak injil yang berlainan? Dan ketika kita menyimak mereka semua, bahkan keempat injil Perjanjian Baru itu, belum termasuk segala macam teks lain yang kita baca; jika anda mengamati semua itu, anda akan benar-benar melihat bahwa ada penggambaran-penggambaran Yesus yang agak berbeda yang muncul dari semua karya itu. Ada imaji yang berbeda dari masing-masing tradisi yang juga berbeda. Jadi, maraknya injil-injil itu di satu pihak mencerminkan pertumbuhan dan naik daunnya Kristianitas. Di pihak lain, hal itu memunculkan sebuah dilema: bagaimana bisa ada begitu banyak injil padahal Yesus itu hanya ada satu? Dan itu bahkan menjadi masalah besar yang dihadapi oleh pengembangan kanon Perjanjian Baru itu sendiri. Jika hanya ada satu Yesus, mengapa harus empat injil, mengapa tidak satu saja?

Jadi, pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga, kita mulai menghadapi masalah ini. Kita mendengar tentang orang-orang yang ingin mengharmoniskan semua injil itu kedalam satu kisah saja. Kita mempunyai dokumen yang terkenal dengan nama diatessaron, yang dibuat oleh seorang theolog Kristen Syria yang bernama Tatian, dan diatessaron berarti “lewat si empat.”  Tatian menjalin keempat injil itu menjadi satu naratif tunggal, dan ketika itu ia lakukan, hal itu memunculkan beberapa efek yang menarik. Kenyataannya, ketika ia menjalin keempat injil itu menjadi satu, muncul masalah yang sangat besar, dan orang-orang mulai khawatir.

Jadi, di satu pihak, satu injil adalah terlalu sedikit; tetapi kemungkinan lain adalah anda buang saja ketiga injil yang lain. . . . Tetapi jika satu saja terlalu sedikit, dan anda tidak dapat menjalin semua injil menjadi satu, maka yang paling banyak lalu berapa? Dan akhirnya datanglah jawaban bahwa empat adalah angka yang pas, dan kita mendapatkan penulis yang bernama Irenaeus ini, Uskup Lyon, di Gaul, yang sekarang bernama Perancis itu, yang sekitar tahun 180 mengatakan bahwa jumlah injil yang pas adalah empat; yang ini—ini—ini— adalah yang paling tua; yang itu—itu—adalah yang paling bagus; tetapi angka yang pas adalah empat.

Elizabeth Clark

John Carlisle Kilgo Professor of Religion and Director of the Graduate Program in Religion Duke University

IRENAEUS DAN ORANG-ORANG BIDAAH

Siapa Irenaeus itu dan apa yang merisaukan dia?

Irenaeus adalah seorang Uskup Lyon akhir abad kedua, di tempat yang sekarang bernama Perancis. . . . dia sangat terkenal karena tulisan-tulisannya, di mana ia berusaah keras untuk melawan berbagai macam bidaah abad kedua. Sebagian besar dari orang-orang bidaah itu adalah orang-orang yang menganggap diri mereka Kristen. Kenyataannya, beberapa dari bidaah-bidaah itu, misalnya Marcion dan Valentinus, jelas beranggapan bahwa mereka adalah orang-orang Kristen yang lebih baik dan lebih tinggi ketimbang kebanyakan orang Kristen biasa di gereja-gereja katolik itu. Irenaeus menganggap dirinya sendiri bertangggung-jawab mengekspose berbagai macam bidaah, orang-orang yang memilih cara berpikir yang keliru mengenai Kristianitas, yaitu keliru dari sudut pandang Irenaeus sendiri. Dalam sebuah buku besar yang disebut “Menentang Bidaah” di mana ia menggariskan semua kesulitan, khususnya, katanya, banyak dari bidaah-bidaah itu mengecam tatanan yang sudah mapan. Mereka memandang dunia materi itu jahat. Mereka tidak menghormati Allah Perjanjian Lama yang direpresentasikan sebagai pencipta. Mereka tidak menghormati hukum yang Tuhan berikan dalam Kitab Hibrani, dan rupanya hal itulah yang menjadi ciri utama para bidaah itu. Tetapi [orang-orang yang dituduh bidaah itu] sendiri jelas menganggap diri sendiri sebagai orang Kristen yang lebih sejati dan tinggi, yang meninggalkan banyak dari apa yang dikatakan dalam Kitab Hibrani dan sekarang berada di tataran yang berbeda. . . . Jadi apa yang sebenarnya anda hadapi di sini sebenarnya adalah suatu perselisihan internal di antara orang-orang Kristen sendiri mengenai siapa yang mempunyai Kristianitas yang lebih murni dan lebih benar.

Mengapa adanya interpretasi-interpretasi yang berlainan itu merisaukan dia?

Irenaeus bertekad mengatakan hanya ada satu Kristianitas yang diwariskan dari jaman Perjanjian Baru dan dilestarikan melalui uskup-uskup . . . . Anda bisa mengatakan bahwa Irenaeus bukan seorang posmodernis. Ia tidak berpandangan bahwa ada banyak pendekatan menuju kebenaran atau ada banyak jenis kebenaran dalam arti plural. Ia beranggapan hanya ada satu kebenaran yang telah diberikan dalam . . . . kredo gereja sebagaimana telah berkembang di masa itu dan yang dilestarikan oleh uskup-uskup dalam otoritas pengajaran mereka, jadi dia tidak bersedia mengakui bahwa ada berbagai macam Kristianitas yang semuanya benar.

PENETAPAN KANON

Di abad kedua dan ketiga kita tahu ada banyak injil dengan nama-nama para rasul dilekatkan pada mereka. Ada juga kisah-kisah yang dilekati dengan nama-nama rasul, jadi anda mendapatkan Kisah Paulus, Kisah Thomas, dan sebagainya. . . . . semua itu beredar secara cukup leluasa di gereja dan orang-orang Kristen sampai waktu tertentu barangkali menggunakan kisah-kisah itu . . . secara tanpa pilih-pilih. Baru belakangan anda mulai mendapatkan orang-orang yang berkeberatan, “jangan pakai yang ini, jangan pakai yang itu” . . . . Mungkin orang-orang akan heran bahwa baru pada tahun 367 kita mempunyai sebuah daftar kitab-kitab Perjanjian Baru yang sama persis dengan keduapuluh-tujuh kitab yang sekarang ini kita sebut Perjanjian Baru. Jadi sepanjang abad kedua dan ketiga ada banyak perselisihan mengenai kitab mana yang masuk dan mana yang keluar. Saya kira sudah sejak awal ada suatu kesepakatan umum bahwa Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes, Surat-surat Paulus, secara aman masuk, tetapi yang jelas Kitab Wahyu diperdebatkan dengan sengit. Nada apokaliptik karya itu sangat tidak mengenakkan di mata beberapa orang Kristen masa itu maupun masa kemudian . . . .

Irenaeus tidak suka ada banyak injil yang beredar dengan kisah-kisah yang berlainan mengenai Yesus, khususnya sebagian dari kisah-kisah itu yang agak meremehkan materialitas dan fisikalitas tubuh Yesus. Mereka menekankan mukjijat-mukjijat yang dilakukan oleh Yesus, sebagai kanak-kanak, dan Irenaeus beranggapan bahwa jika kita hanya menggunakan injil-injil itu . . . Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes. . . kita akan, katakanlah, mendapatkan kisah tentang Yesus yang lebih historis. Tetapi saya kira yang juga menjadi masalah besar di sini adalah bahwa Gereja Katolik, yang Irenaeus wakili, tengah berkompetisi dengan kelompok-kelompok lain, misalnya pengikut-pengikut Valentinus dan pengikut-pengikut Marcion, yang merupakan ancaman yang tidak kecil di abad kedua. Jadi ada sebuah kampanye mengenai siapa yang memiliki bentuk Kristianitas yang paling baik dan paling benar . . . .

Siapa yang memutuskan mana yang masuk dan mana yang keluar? Apa saja yang dibuang? Apa yang ditekan?

Sulit menjelaskan hal itu . . . . Kita mempunyai sebuah dokumen yang disebut Kanon Muratorian . . . yang memberitahu kita bahwa salah satu kriterion untuk menetapkan sebuah karya itu betul-betul kitab suci atau bukan adalah apakah karya itu boleh dibaca di gereja. Nah, ini adalah argumen yang berbau lingkaran setan, sebab barangkali anda tidak membacanya di gereja kalau anda tidak menganggapnya sebagai kitab suci, tetapi rupanya ada sesuatu masalah yang berkaitan dengan kesesuaian untuk bacaan umum selama ibadah—itu satu kriterion. Para pejabat gereja yang berargumen mengenai siapa yang masuk dan siapa yang keluar . . . juga ingin mengatakan bahwa jika kita tahu bahwa sesuatu kitab diperkirakan ditulis oleh seorang Rasul atau salah seorang pengikut dari seorang Rasul, hal itu memberinya otentisitas lumayan besar. Ini adalah sebuah usaha untuk mengatakan, “Kita cari yang sedekat mungkin dengan pelaporan saksi mata.”

DARI BANYAK INJIL KE EMPAT

Kebhinekaan Kristianitas jelas terkait erat dengan maraknya penulisan injil. Bahkan injil-injil yang kita miliki dalam kanon Perjanjian Baru bukan berasal dari satu pikiran, melainkan benar-benar merepresentasikan sikap-sikap keagamaan yang sangat berlainan serta citra-citra Yesus yang juga sangat berlainan. Di luar itu, kita mendapatkan Injil Thomas, yang lagi-lagi menghadirkan citra yang sangat berbeda mengenai Yesus sebagai pengungkap kebenaran ilahi mengenai diri manusia, yang berbeda dari yang kita temukan dalam Markus, atau dalam Mateus. Kita mempunyai banyak fragmen dari banyak injil lain, yang kadang-kadang kita tahu persis bahwa mereka dulu ada, tetapi kita tidak dapat mengatakan apa yang persisnya mereka katakan.

Jadi masalah penetapan otoritas dalam kaitan dengan injil-injil itu, injil mana saja yang harus dibaca dan mana yang tidak boleh dibaca, didiskusikan di abad kedua, khususnya setelah Marcion. Marcion hidup di paruh pertama abad kedua. Ia seorang pemilik kapal dan pedagang kapal yang kaya raya. Ia datang dari Turki utara. . . . ke Roma dan ia memberi Gereja Roma banyak uang, dan mereka menyambutnya dengan tangan terbuka. Tetapi Marcion merasa bahwa injil Kristen yang asli sudah tidak dilestarikan lagi dan ia beranggapan bahwa hanya rasul Paulus lah yang memiliki injil sejati. Dan ia bertekad menemukan injil sejati ini, dan ia mengambil Injil Lukas dan membersihkannya dari segala sesuatu yang berbau Yahudi dan mengatakan, “Ini harus menjadi kitab suci bagi gereja, dan ini harus menjadi satu-satunya kitab suci untuk gereja.” Dan gereja Roma menjadi sangat curiga jangan-jangan Marcion memanipulasi Injil Markus. Ada laporan bahwa bahwa mereka mengembalikan uang itu pada Marcion dan mengatakan, “Terima kasih banyak, tapi kami tidak menginginkan anda maupun injil anda. . .”

Tetapi pada saat itu juga gereja benar-benar harus berpikir keras, apa yang harus mereka lakukan dengan sebegitu banyak injil yang ada di tangan. Dan dengan injil-injil edisi baru yang keluar sepanjang masa. Kita mendapatkan bukti dari Roma bahwa tak lama sesudah Marcion itu, beberapa orang sibuk menyelaraskan injil-injil Mateus dan Markus dan Lukas, merangkainya menjadi satu injil. Nah, dalam situasi itu, jelas kita tidak mempunyai jalan lain selain kembali pada fungsi asli naratif injil, yaitu naratif tentang sengsara dan kematian Yesus yang menyertai perayaan ritual sentral Kristen, yaitu Ekaristi. Dan itu berarti bahwa yang bisa dicantumkan hanyalah injil-injil yang mempunyai naratif sengsara. Injil Thomas tidak mempunyai naratif sengsara. Dan injil itu tidak pernah dipertimbangkan untuk dicantumkan. Adalah ciri khas bahwa semua injil kanon mempunyai naratif sengsara karena ritual sentral Kristen, yaitu Ekaristi, tidak dapat hidup tanpa kisah itu. Dan dari gerakan itulah muncul kanon keempat injil itu. Dan, yang cukup menarik, kanon itu tercipta sebagai sebuah kanon yang melestarikan kebhinekaan, dalam batas-batas tertentu. . . . Tidak ada klaim bahwa kanon itu merepresentasikan empat injil yang semuanya mengatakan hal yang sama. Lebih tepat lagi, itu adalah sebuah usaha untuk mempersatukan sebanyak mungkin komunitas-komunitas Kristen yang terikat pada sesuatu injil tertentu kedalam satu gereja besar. Dan ini pada dasarnya tercapai melalui kanon keempat injil itu.

Harold W. Attridge

The Lillian Claus Professor of New Testament Yale Divinity School

SIMBOL-SIMBOL INJIL

Beberapa dari simbol-simbol yang Irenaeus gunakan untuk injil-injil itu ternyata menjadi cukup tradisional dan cukup berpengaruh dalam simbolisme yang terkait dengan injil-injil itu. Jadi sapi jantan, singa, lelaki bersayap, dan garuda yang digunakan untuk para rasul itu dalam banyak konteks, baik artistik maupun kesastraan, berasal dari Irenaeus.

Garuda adalah simbol yang biasa digunakan untuk Injil Yohanes, karena alam pikirannya agung dan melayang begitu tinggi. Dan sapi jantan adalah simbol injil ketiga, injil menurut Lukas, barangkali karena Yesus diceritakan sebagai orang yang lahir di kandang hewan. Sebabnya apa persisnya memang tidak jelas, tapi itu tadi memang kemungkinan yang cukup nalar. Lelaki bersayap itu diasosiasikan dengan Injil Mateus. Dan ini berasal dari tradisi tentang Mateus yang mengatakan bahwa sewaktu menulis injil itu ia dibantu oleh seorang malaikat. . . . Markus dilambangkan dengan singa, sebabnya apa tidak jelas, tetapi barangkali karena singa adalah salah satu simbol Yesus dalam kitab Wahyu. Dan Markus memang terkait dengan pandangan apokaliptik tentang Yesus.

POLITIK DI BELAKANG KANON

Saya rasa penetapan kanon empat injil itu mencerminkan perkembangan-perkembangan yang rumit selama abad ke-2. Salah satuf aktor yang jelas memainkan peran di sini adalah fakta bahwa injil-injil tertentu sangat dihormati di pusat-pusat eklesiastik tertentu, jadi mungkin sekali Antioch mempunyai kecintaan khusus bagi Injil Lukas. Apakah betul seperti itu kita tidak tahu pasti, tetapi hal itu jelas merupakan salah satu elemen dalam pengembangan kanon injil. Jadi ketika pusat-pusat itu bersatu dan ingin membina persaudaraan dan berbagi bahan-bahan bacaan, akan sangat penting bagi mereka untuk mengakui teks-teks yang diutamakan oleh satu sama lain. Mungkin juga ada beberapa masalah teologis yang diperdebatkan, dan penggunaan teks-teks tertentu dalam hubungan dengan debat-debat itu barangkali memainkan epran dalam pengakuan teks-teks tersebut sebagai otoritatif. Kita tahu persis bahwa memang itulah yang terjadi dengan Injil Yohanes. Menjelang akhir abad ke-2 adalah salah satu faksi di antara kepemimpinan gereja Roma yang menolak injil keempat itu dan mengatakan, “Seharusnya kita tidak pakai itu.” Barangkali mereka beranggapan bahwa ada sesuatu lukisan tentang Yesus yang mengkompromikan kemanusiaannya. Dan karena itu penandasan pada kemanusiaan penuh Yesus merupakan salah satu isu dalam penerimaan Yohanes sebagai otoritatif. Jadi ada alasan-alasan politis, dan ada alasan-alasan teologis, yang tak pelak lagi memainkan peranan. Dan kemudian ada berbagai injil lain yang tidak dimasukkan kedalam kanon empat-injil tadi, yang barangkali  karena teks-teks itu tidak mendapatkan sponsor dari salah satu gereja besar, atau mempunyai sesuatu feature di dalamnya yang sangat problematik dari sudut pandang teologis.

Allen D. Callahan

Associate Professor of New Testament, Harvard Divinity School

KANON MUNCUL DARI KONSENSUS

Kadang-kadang ketika para ahli Perjanjian Baru mendiskusikan masalah pembentukan kanon, cerita yang diisyaratkan adalah bahwa di abad ke-2 itu asap memenuhi beberapa ruangan dan beberapa bos Kristen dengan cerutu tertancap di mulut berkumpul di situ dan mereka menimbang-nimbang siapa yang masuk dan siapa keluar, dan kemudian . . . . itu diikat jadi satu, mereka mengetuk palu, dan kemudian segala sesuatu yang lain dibiarkan di lantai . . . . Jika kita kembali ke argumen Irenaeus tentang kanon tadi, saya  kira yang sebaliknyalah yang lebih mendekati rekonstruksi historis yang lebih bertanggung-jawab, dan itu adalah bahwa ada sesuatu konsensus di antara orang-orang dalam gerakan Yesus itu mengenai apa yang dianggap sebagai tradisi yang bisa diandalkan, literatur yang bisa diandalkan—literatur yang mereka ingin baca atau mereka ingin dengar lagi dan lagi dan lagi dan lagi, dan jenis-jenis literatur lain yang mereka tidak ingin dengar. Dan, tentu saja, ada kelompok-kelompok yang mempunyai perbedaan-perbedaan pendapat mengenai hal itu. Ada sesuatu diskusi mengenai kitab-kitab tertentu yang boleh dibaca atau tidak boleh dibaca di gereja, misalnya. Anda bisa membacanya sendiri, tetapi ada semacam parental advisory yang dilekatkan pada kitab-kitab itu, dan anda tidak membaca mereka di gereja, dan anda sangat berhati-hati ketika anda membacanya sendiri—hal-hal macam itulah. Atau ada beberapa macam literatur yang dibaca oleh banyak orang tapi bos-bos besar di gereja tidak ingin kitab-kitab itu dibaca. Tetapi hal-hal itu merupakan kasus-kasus spesial yang mengisyaratkan adanya sesuatu konsensus yang dibangun sejak sangat awal mengenai macam literatur yang digunakan oleh orang-orang Kristen dan yang memberikan ekspresi pada identifikasi-diri mereka, dan dengan mana mereka sebaliknya mengidentifikasikan diri. . . . . Ini memang sangat peka; sulit sekali mendapatkan kepastian historis mengenai hal ini, tetapi pasti itulah yang terjadi waktu itu. Itu adalah sebuah perkembangan . . . . secara bottom-up, dan bukan top-down. Dalam suara Irenaeus, saya kira yang kita dengarkan adalah argumen-argumen top-down yang sifatnya ex-post facto.

Lebih banyak mengenai perkembangan kanon itu baca esei karya Marilyn Mellowes.

Judul asli: “Emergence of the Four-Gospel Canon”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 9 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: