Ketegangan-ketegangan antara Iman dan Sejarah

22/01/2010

Dapatkah iman Kristen didamaikan dengan pendekatan historis menuju Yesus dan Injil?

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament Yale Divinity School

Bagaimana sebagai seorang peneliti dan sejarawan anda mendamaikan pengkajian Injil secara rasionalis dengan iman Kristen anda?

Saya kira adalah bagian penting dari komitmen teologis saya bahwa saya percaya bahwa Yesus adalah ilahi dalam sesuatu hal, tetapi Yesus lah yang ilahi. Itu adalah seorang manusia yang ilahi. Dan bahwa tradisi Kristianitas dengan sangat tegas menandaskan kemanusiaan penuh Yesus. Dan dengan demikian, jika saya harus memahami kepercayaan saya sebagai orang Kristen, adalah penting bagi saya untuk memahami siapa Yesus itu sebagai seorang manusia. Jadi saya melihat adanya sesuatu historiografi rasionalis yang tengah saya geluti sebagai sebuah cara yang penting untuk menegaskan kembali sebuah elemen tradisional dari kepercayaan Kristen, bahwa Yesus adalah seorang manusia yang utuh.

Tetapi apakah pendekatan seperti itu tidak akan dikritik—bahwa apa yang tengah anda kerjakan dituduh bisa merongrong kepercayaan orang-orang lain, bahkan sekalipun itu bukan kepercayaan anda?

Saya akan memandang kiprah teologi kritis, teologi historis kritis, sebagai salah satu cara untuk memperdalam iman. Dan, tentu saja itu bisa menjadi tradisi intelektual yang menantang. Tetapi bagi saya itu menantang bagi iman yang kurang kuat. Dan orang yang terlibat dalam kiprah penelitian historis kritis seperti itu kenyataannya malah bisa memperdalam dan memperluas iman mereka. Yang muncul sebagai hasil dari penelitian historis kritis itu mungkin sebuah iman yang berbeda dari yang sebelum penyelidikan itu dilakukan, tetapi itu toh masih tetap iman Kristen.

Beberapa orang akan mengatakan bahwa dalam membaca Perjanjian Baru atau injil-injil dalam semangat ini, anda mendekati kitab-kitab itu dalam semangat yang keliru, dengan jalan memperlakukan mereka sebagai sejarah, padahal mereka sebenarnya ditulis sebagai kitab kepercayaan. Bahwa itu adalah pendekatan yang keliru menuju teks-teks tersebut.

Para teolog yang membaca teks-teks alkitab sangat tertarik pada pernyataan-pernyataan kepercayaan macam apa yang disodorkan oleh kitab-kitab itu. saya kira menganalisa mereka secara kritis dari sudut pandang historis tidak berarti melakukan analisa yang lengkap dan menyeluruh mengenai apa arti penting teks-teks itu. Salah seorang kritikus historis terbesar abad ini adalah orang yang bernama Rudolf Bultmann yang menulis sebuah teologi Perjanjian Baru sebesar dua volume, di mana, atas dasar analisanya sendiri mengenai historisitas teks-teks tersebut, ia kemudian menganalisa klaim-klaim kepercayaan yang teks-teks itu ajukan. Itu jelas merupakan bagian yang penting dari interpretasi teologis mengenai alkitab, yang bisa diperkaya dan didasarkan pada sebuah pondasi yang jauh lebih kokoh dari sebuah penelitian historis yang bagus.

Apa nilai pendekatan historis bagi Injil?

Saya kira, dalam beberapa hal, kita dipaksa untuk bergulat dengan pengkajian kritis historis mengenai alkitab justru oleh masalah-masalah dalam alkitab itu sendiri. Maksudnya, kesenjangan-kesenjangan yang kita lihat dalam alkitab lah yang menjadikannya sulit bagi kita untuk membangun sebuah naratif historis yang sederhana dan koheren dari data teks itu sendiri, yang bagaimanapun juga merupakan pernyataan-pernyataan iman dan panggilan-panggilan untuk percaya pada Kristus. Pada saat yang sama, saya kira kita didorong untuk bergulat dalam pengkajian kritis historis seperti ini karena hal itu justru memperkaya pemahaman kita mengenai dunia dalam mana Yesus berkarya, dalam mana tokoh-tokoh injil secara umum berkarya dan dengan mana mereka berinteraksi. Kita tidak bisa, misalnya, memahami apa yang dimaksudkan dengan mewartakan kerajaan Allah kecuali jika kita paham bahwa pewartaan itu dilakukan dalam konteks sebuah kekuasaan imperial yang mempunyai implikasi-implikasi tertentu bagi eksistensi manusia.

Selain itu, saya kira, dengan pemahaman yang kritis dan historis mengenai alkitab, kita bisa memperkaya pemahaman kita mengenai ajaran-ajaran alkitab, dan juga memecahkan beberapa elemen yang problematik dalam alkitab. Dan saya kira kecuali kita menerapkan sesuatu sikap kritis historis terhadap tradisi Injil kita sendiri, kita mungkin malah akan luput dalam memahami alkitab. Misalnya, jika kita dengan terlalu sigap menerapkan atau menerima tanpa perspektif kritis beberapa dari pernyataan-pernyataan kontroversial dalam tradisi Injil mengenai orang-orang Yahudi, saya kira kita justru bersikap tidak setia pada tradisi Injil kita sendiri. tetapi agar bisa memahami hal-hal itu, kita harus menempatkan mereka dalam sesuatu konteks historis. Jadi kita diundang untuk bergulat dalam pengkajian kritis historis oleh masalah-masalah alkitab itu sendiri, didorong untuk melakukan hal itu oleh keuntungan-keuntungan dari pengkajian seperti itu bagi upaya memahami dan memeprkaya pemahaman kita mengenai materi alkitab, dan, saya kira, secara absolut memang dipaksa untuk melakukan hal itu oleh elemen-elemen yang problematik dari materi alkitab itu sendiri—yang hanya bisa dipahami dalam konteks historis.

Apa efek pergulatan itu pada iman anda sendiri?

Saya kira pergulatan dengan kritik historis itu telah lama menjadi sekutu penting bagi kepercayaan saya sendiri. Pergulatan itu memungkinkan saya mengambil sikap yang kritis dan juga apresiatif terhadap tradisi Injil. . . . . . Pengkajian historis mengenai alkitab pada umumnya dan mengenai kehidupan Yesus pada khususnya telah memperkaya pemahaman saya mengenai siapa Yesus itu, dan apa programnya, dan telah membuat saya jauh lebih apresiatif terhadap simbol-simbol bagi pewartaan yang dilakukan oleh Yesus itu. Dan hal itu telah memperkokoh pengabdian saya pada kepercayaan itu.

Allen D. Callahan:

Associate Professor of New Testament, Harvard Divinity School

Bagaimana, sebagai seorang sejarawan atau seorang beriman, anda merekonsiliasikan sejarah atau kepercayaan? Dan apa yang anda lakukan sebagai seorang beriman ketika anda menemukan inkonsistensi-inkonsistensi historis dalam injil-injil?

Well, saya mengakui bahwa, baik dulu maupun sekarang, bagian dari komitmen saya pada Yesus berkaitan dengan upaya membantu orang membangun rekonstruksi miliknya sendiri mengenai Yesus, dan hal ini dilakukan dalam sejumlah bentuk yang menarik. Misalnya, jika anda mengamati seni Cina, lukisan adegan-adegan dari Injil di atas kanvas sutera, semua orang dalam lukisan itu tampak seperti orang Cina. Nah, tidak ada misteri yang nyata di situ. Maksud saya, yang terjadi di situ adalah semacam pemahaman dan adaptasi teologis. Tidak ada orang-orang yang tampak seperti itu di Timur Tengah pada abad ke-1, atau setidak-tidaknya tidak akan banyak orang yang tampak seperti itu. Tetapi, apa yang terjadi di Cina itu adalah bahwa orang-orang Cina itu, melalui sebuah medium estetik, mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan Yesus. . . . . Proyek teologis seperti itulah yang selalu dilakukan ketika orang. . . . . ketika orang . . . bertemu dengan seorang Yesus yang berbeda, dalam sesuatu hal.

Saya menghormati para penulis injil itu sebagai para teolog,  dalam hal ini. Yang saya maksudkan adalah definisi  teolog yang masih sangat kasar dan mentah. Saya juga memahami bahwa injil-injil tidak dibangun . . . . untuk menjawab semua pertanyaan mengenai setiap masalah. . . . Proyek yang dilakukan oleh para penulis injil,  komitmen-komitmen teologis yang menjiwai proyek itu, dan literatur yang menjadi hasil dari proyek itu, tidak sama dengan—ibaratnya— menggaruk di mana saja kita merasa gatal—jika kita mencari pernyataan-pernyataan dan artikulasi-artikulasi seperti yang kita temukan dalam teologi sistematik.

Itu adalah literatur yang berbeda, dengan jenis-jenis motivasi yang berbeda-beda. . . . .

John Dominic Crossan:

Professor Emeritus of Religious Studies DePaul University

IMAN VERSUS SEJARAH

Bagaimana anda akan menjawab tuduhan bahwa pendekatan yang secara sempit historis itu bersifat reduksionis, bahwa anda tengah membawa sebuah pendekatan rasional pada apa yang tidak pernah dimaksudkan sebagai rasional, dan bahwa apa yang tengah anda lakukan bisa berakibat menggerogoti iman dan kepercayaan?

Kristianitas dalam injil-injil, dalam kredo-kredo, dalam dogma-dogma kanonik, telah senantiasa membuat pernyataan-pernyataan yang bersifat baik historis maupun teologis. “Yesus itu manusia” adalah pernyataan historis; “Yesus itu ilahi” adalah pernyataan teologis. Kita telah lama membuat kedua macam pernyataan itu, dan akan absurd untuk menelusuri kredo dan mengatakan “anak Allah, itu teologis; disalibkan di bawah Pontius Pilatus, itu historis.” Tetapi ketika kita keluar, memasuki wacana publik, menjadi sangat krusial untuk mengetahui, kapan kita membuat pernyataan, entah itu pernyataan historis atau pernyataan teologis; sebab, kalau tidak, maka orang-orang yang menyangkal pernyataan-pernyataan teologis kita—dengan kata lain, orang-orang yang kepercayaannya berbeda dari kepercayaan kita—orang-orang itu akan kita katakan mengingkari fakta-fakta; dan orang-orang yang mengingkari fakta-fakta adalah keras di hati atau empuk di kepala. Jadi, kita harus bisa mengatakan, “Ini adalah pernyataan kepercayaan; sebagai pernyataan kepercayaan, dia valid. Ini adalah pernyataan fakta, dan karena itu saya harus bisa memperdebatkannya di arena publik.”

Bicara dari hati ke hati, pernahkah komitmen anda pada pendekatan historis atau setidak-tidaknya suatu usaha ke arah pemahaman historis mengenai Yesus—apakah itu yang membuat anda meninggalkan gereja?

Saya meninggalkan gereja karena dua alasan yang sekarang sudah tidak bisa saya pisahkan. Alasan pertama adalah, saya ingin menikah. Alasan itu sendiri cukup memadai, tetapi saya juga tahu bahwa pada pagi hari ketika saya pergi itu, andaikata ada orang yang memberitahu saya bahwa sekarang kita mempunyai aturan baru, anda bisa tetap tinggal dan juga menikah, saya toh tetap akan pergi sebab saya juga ingin keluar agar saya bisa mengerjakan pekerjaan yang saya ingin kerjakan tanpa membiarkannya terjebak dalam negativitas orang-orang lain, terjebak dalam berseberangan dengan orang-orang lain. Jadi kedua hal itu sama-sama penting, dan saya tidak tahu persis bagaimana keduanya saling mempengaruhi.

Tetapi apakah efek dari penelitian historis anda membuat anda bentrok dengan iman, dengan gereja?

Yes. Saya berkarya di Chicago di bawah Kardinal Cody, dan saya selalu menghadapi masalah karena perkataan yang saya ucapkan, dan semakin lama menjadi semakin intolerable untuk duduk dengan mengenakan jubah Katolik Roma dan mengatakan hal-hal yang . . . . orang-orang kontroversial tidak bisa pahami, “Bagaimana seorang imam bisa bicara seperti itu?” Saya ingin bisa bicara—sekarang saya bicara sebagai seorang akademisi, dan saya berani gelut dengan setiap akademisi lain. Saya tidak sedang bicara sebagai seorang imam yang, mungkin,  akan secara resmi  berbicara atas nama gereja. Jadi, masalahnya adalah memilah-milah kedua [peranan] itu.

Apakah anda melihat konflik yang tak terjembatani antara karya sebagai seorang sejarawan dengan menjadi orang beriman? Apakah anda masih menganggap diri orang beriman?

Saya sama sekali tidak menemukan konflik apa pun antara menjadi sejarawan dengan menjadi orang beriman, tetapi anda harus memahami dua hal. Selama 20 tahun saya tinggal dalam sebuah ordo religius Katolik Roma, yang merupakan sebuah ordo abad menengah, dan orang-orang abad menengah percaya bahwa nalar dan wahyu kedua-duanya adalah karunia Tuhan yang sama dan tidak bisa saling bertentangan, kecuali jika anda sendiri yang kacau. Saya tidak berpikiran Thomas Aquinas setiap pagi bangun tidur dan khawatir kalau dia membaca Aristotle jangan-jangan dia nanti menemukan sesuatu yang kafir di situ. Itu dia anggap sebagai sudah selayaknya, kalau Aristotle nalar, Aristotle akan benar; nalar berasal dari Tuhan. Saya mendekati hal itu dengan cara yang sama. Apa pun yang saya temukan secara historis, saya tidak bisa membayangkan bagaimana hal itu bisa menghancurkan iman, sebab iman adalah tentang makna sejarah, bukan tentang fakta-fakta sejarah. Jadi, saya sendiri belum pernah mengalami konflik seperti itu.

Helmut Koester

John H. Morison Professor of New Testament Studies and Winn Professor of Ecclesiastical History Harvard Divinity School

IMAN VERSUS SEJARAH

Apakah ada sesuatu konflik dalam status ganda saya sebagai seorang akademisi yang kritis mengenai Injil di satu pihak dan sebagai seorang pendeta Lutheran yang ditahbiskan dan aktif di pihak lain—itu adalah pertanyaan yang selalu diajukan. Saya belum pernah secara pribadi mengalami sesuatu konflik—sama sekali tidak.  Sebaliknya, saya senantiasa merasa sangat bermanfaat menjadi seorang sarjana Injil yang terpelajar, bermanfaat untuk apa pun yang saya lakukan dalam berkhotbah dan mengajar di gereja.   Ada satu aspek lain pada hal itu. Orang sering menemukan di antara para teolog konservatif  suatu kekhawatiran bahwa penyelidikan kritis akan mengacau. Tetapi kekhawatiran itu lebih banyak diekspresikan oleh pemimpin-pemimpin gereja ketimbang oleh orang-orang awam yang terlibat aktif di gereja. Saya secara reguler di gereja kami, dalam forum orang-orang dewasa kami setiap Minggu pagi, saya memberikan sesuatu pengajaran mengenai Injil Mateus dan berbicara secara kritis mengenai, “Bagaimana injil itu sampai ada di muka bumi? Oooo, bukan, Mateus yang menulis Injil Mateus itu bukan rasul Mateus.” Dan saya tidak menemukan seorang pun dalam gereja kami yang mengatakan, “No, wait a minute—anda mau menghancurkan iman kami?” Sebaliknya, orang-orang justru sangat tertarik. Orang-orang ingin menjadi manusia-manusia modern yang terpelajar dan terdidik baik di gereja-gereja kami. . . .. Mereka ingin tahu. Dan saya selalu menyelenggarakan retret umum bagi para pendeta dan saya menyelenggarakan kelas-kelas. . . . dan para mahasiswa yang mengikuti kelas-kelas itu pertama-tama harus membuat sebuah interpretasi kritis mengenai Injil sebelum mereka berkhotbah mengenai teks itu. Mereka kembali lagi dan mengatakan, “Hey, this is great. Akhirnya kami paham ini semua tentang apa.” Jadi saya pikir penelitian kritis memberikan pelayanan sangat piositif bagi gereja. Dan saya senantiasa memahami penelitian saya sendiri sebagai sebuah pelayanan positif bagi kemajuan orang-orang Kristen, membantu mereka mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai kepercayaan mereka sendiri di dunia di mana kita sekarang ini hidup. Dan yang menarik adalah analogi-analogi antara masalah-masalah yang menghantui orang-orang Kristen purba itu dengan masalah-masalah yang menghantui kita sendiri sekarang ini.

Wayne A. Meeks:

Woolsey Professor of Biblical Studies Yale University

Saya akan meminta anda menjawab secara personal. Anda ditahbiskan dan anda seorang sarjana peneliti. Adakah sesuatu kontradiksi antara pekerjaan yang anda lakukan ketika anda mengaplikasikan lensa sejarah pada masalah ini dan bagaimana anda menyampaikannya pada seseorang yang mempunyai iman?

Saya kira setiap orang yang memiliki sesuatu identifikasi dengan tradisi Kristen, setiap orang yang mempunyai keterlibatan personal dengan kisah itu dan komunitas itu, pasti pernah merasakan dalam hidupnya, meskipun dalam versi yang ditekan sampai sekecil mungkin, pernah merasakan ketegangan-ketegangan yang telah terwujud dari seluruh usaha para sarjana modern untuk memahami awal-mula Kristianitas, yang selama 250 tahun terakhir ini hanya membuahkan masalah bagi gereja. Kita telah berusaha, sebagai sejarawan, untuk menemukan fakta-fakta yang sebenarnya mengenai bagaimana semua itu bermula, dan seringkali hal itu kita lakukan karena kita memang ingin mereformasi gereja.  . . . . Itu dimulai di masa Reformasi, dengan sebuah usaha untuk membebaskan diri dari semua dogma-dogma Gereja Katolik Roma yang telah menumpuk itu sehingga kita bisa memulihkan Kristianitas yang benar, sebagaimana di masa Yesus dan di masa Paulus. Sesudah itu datang jaman Pencerahan, ketika kita berusaha untuk memproduksi sebuah sejarah yang benar-benar rasional sehingga kita bisa mencari tahu apa saja fakta-fakta yang benar, yang mungkin tidak hanya akan membenarkan Protestantisme sebagaimana berseberangan dengan Katolikisme, tetapi juga yang akan menghasilkan . . . . kepercayaan religius yang benar-benar manusiawi. Dan kemudian kita mendapatkan bahwa . . . . gagasan kita mengenai rasionalitas itu sendiri ternyata bersifat self-interested, [berjangkar pada kepentingan diri sendiri], sehingga masing-masing dari kita membawa hasil-hasil dari sejarah-sejarah kita sendiri dan tempat kita sendiri berdiri, sedemikian sehingga kita mendapatkan bahwa jika kita tidak henti-hentinya mengajukan pertanyaan-pertanyaan, maka bahkan tempat di mana kita berpijak, agar bisa mengkritisi tradisi itu, justru akan tergerus. Tergerus oleh fakta-fakta baru yang kita temukan, yang ternyata memalukan bagi kita, atau penemuan tentang irrasionalitas dari rasionalitas kita sendiri, misalnya ketika seorang sarjana feminis mengatakan, “Ini bukan rasionalitasku” atau seorang anggota kelompok minoritas atau seseorang dari sebuah negara sedang berkembang mengatakan, “Okaylah, tapi kamu kan mempradugakan masyarakat kulit putih Eropa, dalam rasionalitasmu.” Sedemikian rupa sehingga tempat di mana saya berpijak untuk menggapai tradisi itu justru tergerus.

Jadi, saya kira setiap orang yang menerjuni penelitian yang serius, yang membuahkan gambaran yang sangat rumit mengenai awal-mula Kristianitas, pasti, di tingkat yang personal, pasti merasakan ketegangan lumayan besar dan kegelisahan lumayan besar mengenai apa arti semua itu. Bagaimana saya sendiri menyikapi hal itu? Dua hal. Pertama, saya dibesarkan sebagai seorsng Calvinis dan saya mempunyai tradisi Calvinis tua ini—“Aku tidak akan jadi orang Kristen andaikata aku bisa memilih, tapi aku sudah diangkat oleh Tuhan, dipilih oleh Tuhan, untuk menjadi  orang Kristen, dan aku tidak bisa memilih. Andaikata aku tidak memeprcayai hal-hal itu, segala sesuatu mungkin akan jauh lebih mudah.” Dan mempercayai hal-hal itu berarti suatu self-involvement, suatu keterlibatan yang sadar-diri dan yang dilambari kesediaan-diri dalam sebuah tradisi tertentu, dalam sebuah komunitas tertentu yang secara konstan berubah-ubah. . . . .

Saya berpijak dalam tradisi ini. Setiap orang harus berpijak dalam sesuatu tradisi. Setiap orang berpijak di sesuatu tempat. Dan bagi saya untuk mengatakan bahwa saya masih menganggap diri saya orang Kristen berarti mengatakan bahwa secara sadar-diri saya memilih untuk mengidentifikasikan diri dengan tradisi itu. . . . . Dan sebagaimana saya memandangnya, tugas fundamental dari orang-orang religius di jaman kita adalah  untuk menemukan sesuatu cara bagaimana kita bisa tetap setia pada tradisi di mana kita dilahirkan, dan yang bermakna bagi kita dan yang kita percayai telah menyampaikan kebenaran pada kita, tanpa memenjarakan kita dari kebenaran-kebenaran lain, yang berasal dari tradisi-tradisi yang berbeda, yang dalam perjalanan sejarah telah bentrok dengan tradisi kita. Dan itu adalah tugas bagi masa mendatang.

Saya harus mengatakan bahwa jika anda mencermati sejarah tradisi-tradisi keagamaan kita, termasuk terutama tradisi Kristen, anda akan menemukan peperangan-peperangan, anda menemukan kekerasan, anda menemukan pertumpahan darah, anda menemukan intoleransi, ketidak-mampuan menerima versi-versi kebenaran lain. Jadi ini adalah tugas bagi masa mendatang.  Ini adalah sesuatu yang kita tidak tahu bagaimana harus melakukannya. Kita selalu merasa “atau aku harus mempertahankan tradisiku sebagaimana adanya, dan yang boleh ada hanya satu kebenaran dan itu pasti kebenaranku dan karena itu aku tidak mau mendengarkan orang-orang lain, atau kita harus mencari denominator umum yang paling rendah,” yang memungkinkan kita memeluk setiap orang dengan sebuah kebenaran yang begitu lembek sehingga tidak mempunyai kekuatan yang lumayan besar bagi siapa pun di antara kita. Jelaslah kita bisa bertindak lebih baik dari itu, meskipun saya tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi terasa bagi saya bahwa itu adalah tugas yang diletakkan di atas pundak semua orang religius khususnya untuk abad ke-21 ini. Ini adalah dunia yang sangat kecil, yang telah kita masuki itu, dan kelangsungan hidup kita sebagai manusia, mungkin, dan yang jelas kelangsungan hidup kita sebagai masyarakat-masyarakat sipil, tergantung pada kemampuan kita untuk memelihara kesetiaan dan keyakinan tanpa berpura-pura memiliki kepastian.

Elaine H. Pagels:

The Harrington Spear Paine Foundation Professor of Religion Princeton University

YESUS SEJARAH VS. KRISTUS IMAN

Sekarang ini ada banyak ahli yang tengah mencari-cari Yesus historis. Bukan kiprah baru, tetapi jelas kiprah yang memperoleh dorongan semangat baru berkat penemuan sumber-sumber baru tersebut. Ada orang-orang yang mengatakan, bersama John Dominic Crossan, bahwa Yesus adalah seorang bijak dari sebuah pedesaan Yahudi, dan ada orang-orang yang mengatakan, bersama sekelompok peneliti lain, bahwa Yesus, sebaliknya, adalah seorang guru apokaliptik yang mengajarkan tentang khiamat yang sudah dekat. Kedua kelompok itu mengklaim bahwa mereka bisa sampai pada Yesus yang sebenarnya. Dan itu jika anda membaca sumber-sumbernya dengan benar, jika anda melakukan seleksi yang benar terhadap ucapan-ucapan dan materi-materinya, maka anda akan menemukan Yesus yang sebenarnya. Itu saya ragukan. Terasa bagi saya bahwa sejarah tidak membawa anda ke sana. Akan sangat mentakjubkan andaikata itu benar terwujud. Andaikata kita mempunyai aneka macam videotape; andaikata kita mempunyai aneka macam transkrip. Itu semua tidak kita miliki. Kita memiliki . . . . sederetan refraksi mengenai seseorang yang luar biasa, yang dipandang dari aneka macam sudut pandang yang berlainan. Kita mempunyai fragmen-fragmen, kita mempunyai ucapan-ucapan, kita mempunyai kesan-kesan, kita mempunyai vignet-vignet. Cuma itu yang kita punyai. Dan sebenarnya, setiap kali saya membaca mereka, mereka cukup berbeda-beda, dan mereka cukup bertentangan antara satu dengan lainnya. Mungkin mereka bukannya mustahil direkonsiliasikan, tetapi bagi saya, adalah tidak memuaskan untuk menghampiri sesuatu tipe bukti dan mengatakan, “Inilah Yesus yang sebenarnya,” atau, “Yesus yang sebenarnya adalah yang itu.” Yang saya lihat adalah bahwa sejauh sejarah mampu membawa kita ke belakang, kita melihat aneka macam orang yang berbeda-beda. Nah, sebenarnya tidak ada hal yang sangat mengecewakan pada hal itu. Maksud saya, bagaimana jika kita melihat awal-mula gerakan Kristen itu ternyata sebagai sebuah gerakan dengan perselisihan-perselisihan yang kuat, dengan perspektif-perspektif yang berbeda-beda tetapi masing-masing sangat kuat, orang-orang yang berdialog dengan satu sama lain sambil berusaha keras untuk memahami apa sih yang menjadi kebenaran paling penting dari kehidupan mereka? Apakah itu berbeda jauh dari bagaimana kita sekarang ini mencari kebenaran?

Ini mungkin kedengaran seperti orang yang mengatakan, “Kita tidak akan pernah tahu siapa Yesus itu.” Tetapi pertanyaan itu hanya karena perspektif dari mana saya berbicara adalah perspektif seorang sejarawan. Sebagai seorang sejarawan saya tidak bisa berjalan mundur sampai ke Yesus. Saya kira sejarah tidak akan membawa anda sampai sejauh itu. Tetapi hal itu tidak pernah menghentikan orang-orang Kristen, di seantero dunia ini, dalam jumlah berjuta-juta itu, tidak pernah mampu  mencegah orang-orang Kristen untuk memiliki hubungan yang intim dengan Yesus. Entah mereka Ortodoks Russia, entah mereka Katolik Roma, entah mereka Baptist atau entah mereka Quaker. Jadi yang jelas ada sebuah akses, sebuah akses religius, dalam sumber-sumber itu—sebuah akses menuju sesuatu kehadiran spiritual Kristus, yang cukup berbeda dari apa yang anda akan katakan sebagai seorang sejarawan. Sebab ada banyak orang sekarang ini yang mendasarkan kehidupan mereka pada sebuah hubungan dengan Yesus sebagaimana mereka memandang dia.

Fakta bahwa kita tidak mempunyai sumber-sumber historis untuk mundur ke belakang sampai ke apa yang disebut Yesus yang sebenarnya itu tidak pernah menghentikan gerakan itu untuk hidup terus. Itu sangat kuat, dan bagi saya itu sangat mentakjubkan. Perasaan bahwa jutaan orang di seantero dunia telah menemukan dalam figur Yesus sebuah fokus spiritual bagi kehidupan mereka adalah benar-benar luar biasa, benar-benar mentakjubkan. Bagaimana itu terjadi, khususnya ketika kita tidak mempunyai cara yang betul-betul terjamin untuk membawa anda kembali ke sana secara faktual?

Judul asli: “The Tensions between Faith and History”

Sumber:  http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Diterjemahankan oleh Bern Hidayat, 19 November 2009

FRONTLINE is a registered trademark of wgbh educational foundation.
web site copyright 1995-2008 WGBH educational foundation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: