Injil Roma vs Injil Yesus Kristus

22/01/2010

Injil Roma vs. Injil Yesus Kristus:

Dua Respon Perjanjian Baru dari Gereja-gereja yang didirikan oleh Paulus

oleh Marianne P. Bonz
30 Mei 1998, Harvard University

Sekitar 75 tahun sebelum rasul Paulus mulai mewartakan injil (kabar gembira) Yesus Kristus pada orang-orang non-Yahudi di dunia Romawi pertengahan abad pertama, Roma sudah memformulasikan injilnya sendiri dan menyebar-luaskan pesannya pada bangsa-bangsa di kekaisaran yang baru itu. Gereja-gereja kecil yang Paulus dirikan terbentuk sebagai komunitas-komunitas sebuah jaman baru—sebuah jaman yang diawali dengan kematian dan kebangkitan kembali Kristus, sebuah jaman yang tak lama kemudian mencapai pemenuhannya dengan kembalinya Kristus. Bagi Paulus, pesan injil mengejawantah dalam realita institusional komunitas Kristen. Dan jika injil Kristen harus bersaing dengan injil Romawi, maka gereja-gereja Paulus itu adalah cerminan-cerminan institusional dari persaingan itu.

Esei ini membahas tantangan yang disodorkan oleh pesan teologis injil Romawi dan pengejawantahan institusionalnya dalam organisasi kenegaraan dan kemasyarakatan kekaisaran. Dalam membahas respon-respon Kristen purba pada kedua aspek persaingan dengan Romawi itu, saya akan memusatkan perhatian pada tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang diproduksi di komunitas-komunitas yang aslinya didirikan oleh Paulus. Respon yang paling signifikan pada tantangan teologis yang dihadapkan oleh injil Romawi itu ditemukan dalam naratif utama Lukas-Kisah dalam Perjanjian Baru, di mana kumpulan surat-surat yang secara kolektif disebut Surat Gembala (Pastoral Epistles) merupakan contoh yang menarik mengenai sebuah tahap penting dalam respon gereja terhadap tantangan institusional dan sosial yang dihadapkan oleh Roma. Karena Lukas-Kisah ditulis pada akhir abad pertama dan Pastoral Epistles barangkali ditulis satu generasi sesudah itu, contoh-contoh itu mengungkapkan sesuatu hal yang berkaitan dengan kualitas dinamik persaingan di atas dan konsekuensi-konsekuensi historisnya.

INJIL ROMA

Kisah kita dimulai di abad terakhir Sebelum Era Bersama. Kota-kota Yunani telah menjadi korban para administrator korup Romawi dan pemberontakan-pemberontakan lokal yang bersifat sporadis, ketika perebutan kekuasaan antara faksi-faksi Romawi yang saling bersaing menengarai kematian republik Romawi. Meskipun begitu, semua pertempuran teritorial dan pertarungan faksional yang mewarnai masa akhir era Republik sampai pada titik akhirnya ketika Octavianus (yang, sebagai kaisar, menamakan dirinya sendiri Augustus) mengalahkan pasukan Marcus Antonius dan Cleopatra dalam pertempuran Actium. Dengan datangnya pemerintahan Augustus pada tahun 27 SEB, kehidupan di kota-kota provinsi Yunani Timur menjadi jauh lebih stabil, dan harapan akan masa depan yang makmur adalah jauh lebih besar setelah sekian lama nyaris tak ada harapan sama sekali. Kelegaan bangsa-bangsa terjajah  sangat besar, dan sejumlah kota mengeluarkan dekrit yang menghormati kaisar baru itu sebagai seorang dewa murah hati yang turun ke muka bumi. Salah satu dari prasasti-prasasti yang ada antara lain menyatakan: “Yang Maha Kuasa . . . . .  dengan menghadirkan Augustus telah mengirimkan pada kita dan anak keturunan kita seorang Penyelamat, yang telah mengakhiri peperangan dan menertibkan segala hal. . . . .”

Respon seperti itu bukannya tanpa preseden. Sejak jaman Alexander Agung, orang-orang Yunani telah terbiasa memberikan penghormatan-penghormatan kedewaan pada para penguasa mereka. Tetapi berbeda dari para pengganti Alexander Agung di masa lalu, pemujaan terhadap Augustus tidak terpaku pada sumbangan-sumbangan khusus atau perbaikan-perbaikan prasarana publik. Lebih tepat lagi, Augustus dipuja di seluruh penjuru kekaisaran sebagai penyelamat dan dermawan bagi seluruh dunia, sebagai orang yang telah menyelamatkan dunia dari kejahatan-kejahatan peperangan dan kekacauan. Dan proklamasi tentang tindakan-tindakannya yang heroik serta sumbangan-sumbangannya yang luar biasa merupakan esensi dari injil baru Roma.

Hal lain yang harus dicamkan adalah bahwa, sejak awal mula, injil Roma merupakan pemaduan yang sempurna antara agama dengan politik. Maksudnya, dewa-dewi Yunani dan Romawi memainkan peranan penting dalam mendukung kekuasaan Romawi. Dan peranan dewa-dewa dalam mendukung penguasa itu juga berasal dari adat-istiadat Yunani.

Terkecuali segelintir dewa dan dewi yang hanya mengurusi kebutuhan-kebutuhan privat orang-orang, peranan para dewa yang tinggal dalam mega-mega Gunung Olympus adalah untuk mengurusi berbagai aspek dunia alami dan masyarakat manusia. Demeter adalah dewi biji-bjian pangan dan panenan. Poseidon berkuasa atas lautan. Athena adalah dewi kebijaksanaan, dan sebagainya. Karena itu barangkali tidak mengherankan jika di abad ke-4 SEB, ketika Alexander Agung yang masih muda belia dan mengagumkan itu menaklukkan semua wilayah dari Yunani sampai India dan mempersembahkan kebudayaan serta peradaban Yunani pada wilayah-wilayah barbar yang berada di bawah kontrol pasukan militernya, maka dalam pikiran orang banyak ia lalu diasosiasikan dengan versi belia dewa Dyonisus—dewa yang juga dipercaya telah pergi dari unani ke India sambil menyebarkan buah pertanian dan peradaban. Juga seperti dewa Dionysus sendiri, Alexander belakangan disembah sebagai anak lelaki Zeus sendiri.

Berabad-abad kemudian, ketika Augustus tampil ke tampuk kekuasaan, ia menyatakan mendapatkan perlindungan istimewa dari dewa Apollo. Terutama karena Apollo adalah dewa cahaya matahari dan nubuat, para penyair era Augustus menggambarkan dewa itu sebagai salah satu dari nafiri-nafiri yang mewartakan kembalinya Jaman Keemasan kemakmuran dan kebahagiaan umat manusia.

Dari perspektif murni sastra, tidak diragukan lagi ekspresi yang paling terkenal dan paling lengkap dari ideologi Augustus adalah Aeneid tulisan Virgil, sebuah naratif epik yang menggambarkan pencapaian-pencapaian Augustus sebagai terpenuhinya ramalan dewa dan pemerintahan Augustus sebagai momen penentu sejarah Greko-Romawi. Modifikasi simbolik terhadap masa lampau Yunani itu oleh Virgil digarap dengan jalan menempatkan tokoh legendaris Aeneas sebagai hero cerita epiknya.

Nah, yokoh Aeneas itu berasal dari awal sastra Yunani dan syair Homer. Dua epik besar Homer, Iliad dan Odyssey, adalah cerita-cerita pembentukan bangsa-bangsa Yunani. Pada awal abad pertama, cerita-cerita itu telah dengan mudah mencapai status kitab suci di seluruh penjuru Yunani. Aeneas adalah seorang tokoh yang relatif minor dalam Iliad karya Homer, seorang serdadu Troya yang nyawanya diampuni oleh dewa-dewa sebelum kehancuran Troya. Tetapi jika Iliad berakhir dengan kehancuran Troya, yang diikuti dengan kemenangan nenak moyang favorit Yunani, wangsa Achaean, epik Virgil secara dramatik membalikkan  penjelasan-penjelasan yang lebih tua mengenai makna sejarah. Dalam naratif Virgil, si orang Troya Aeneas lah yang menjadi hero sebuah jaman baru. Dewa-dewa, yang sebelumnya menghendaki kehancuran Troya, sekarang menugaskan Aeneas untuk mendirikan sebuah kota baru. Orang-orang Troya dan Latin akan menyatu untuk membentuk sebuah bangsa baru yang diberkati oleh dewa-dewa. Dengan demikian, lewat karya cipta sastra Virgil yang cerdik, kisah yang belakangan tentang Aeneas itu menjadi akhir yang mencengangkan dari cerita yang diawali dalam Iliad karya Homer. Yang terpenting, dilihat dari perspektif baru itu, semua masa lalu Yunani yang panjang dan gilang gemilang itu diredusir sehingga tinggal menjadi sebuah prologue bagi sejarah Romawi dan kebangkitannya sebagai penguasa dunia.

Pada tingkatannya yang paling dasar, Aeneid menceritakan kisah tentang migrasi pahlawan Troya, Aeneas, dan sisa-sisa bangsa Troya yang masih setia dari puing-puing Troya ke pantai-pantai Italia. Dan sepanjang naratif itu, Virgil menekankan peranan bimbingan ilahi yang sangat menentukan, baik dalam menetapkan misi Aeneas dan para pengikutnya maupun dalam membuat mereka mampu mengatasi rintangan-rintangan yang menghalangi pencapaian misi itu.

Menurut struktur sastranya, Aeneid dibagi menjadi 12 kitab. Paruh yang pertama meminjam banyak tema dari Odyssey karya Homer dalam narasi tentang pengasingan dan pengembaraan Aeneas. Paruh yang kedua sama-sama dipengaruhi oleh terma-tema Iliad karya Homer dan menceritakan permusuhan-permusuhan yang meletup setelah kedatangan Aeneas di Italia.

Tetapi sekalipun Virgil secara sengaja menceritakan kisahnya untuk menunjukkan hubungan-hubungan dengan epik Homer, banyak elemen di situ benar-benar baru. Misalnya, pengungkapan bahwa misi Aeneas dijalankan untuk memenuhi kehendak dewa Jupiter dan sesuai dengan rencana Fate sama sekali tidak ada paralelnya dalam Homer. Dalam Aeneid, kehendak Jupiter dinyatakan di awal naratif dan disampaikan langsung oleh dewa itu sendiri: “Pada bangsa ini [maksudnya, orang-orang Romawi masa mendatang] aku tidak menempatkan batas wilayah atau jaman kekuasaan; aku telah memberi mereka wilayah kekuasaan yang tak berujung.”

Lebih jauh lagi, struktur epik Virgil secara sengaja dibangun sedemikian rupa sehingga pusat narasi syair itu ada pada tema-tema besar misi agung Aeneas dan pemenuhannya, yaitu pemulihan kembali Jaman Keemasan yang akan dirayakan oleh pemerintahan  Augustus. Misalnya, uraian terkenal mengenai perjalanan Aeneas ke Underworld, yang memenuhi seluruh Kitab 6, menjadi sarana dengan mana Virgil menghadirkan visi profetik pertamanya. Di hutan indah dan damai Elysium, tempat tinggal bayang-bayang setiap manusia yang telah mati dan penuh keutamaan sewaktu hidup, Aeneas bertemu dengan ayahnya, Anchises, yang menyampaikan wahyu ilahi tentang sebuah Romawi masa mendatang yang gilang gemilang. Wahyu itu mengambil bentuk sebuah parade para pahlawan  yang mengagumkan, para pemimpin terkenal sejarah Romawi—yang eksistensi masa mendatangnya tergantung pada kesuksesan misi Aeneas.

Dan, tentu saja, di antara kumpulan pemimpin-pemimpin Romawi masa mendatang itu yang paling besar adalah Augustus sendiri. Ia digambarkan sebagai anak seorang dewa, pendiri kedua Roma, dan pemimpin yang akan membangun kembali Jaman Keemasan serta memperluas kekaisarannya sampai menembus perbatasan memasuki wilayah-wilayah yang belum beradab. Dengan kata lain, Augustus adalah pemenuhan historis dari ramalan ilahi yang diwahyukan oleh Jupiter—ramalan yang kutipannya sudah saya sebutkan tadi.

Sebagaimana ditunjukkan secara adramatis oleh adegan profetik dari Aeneid itu, tujuan paling mendasar syair jaman Augustan itu adalah menjelaskan kebangkitan Roma dalam sejarah umat manusia dan peranannya dalam tatanan kosmik. Atas permintaan sang kaisar, Virgil menciptakan sebuah epik fondasional yang sangat kuat dan memukau—sejarah besar keselamatan Roma sendiri. Meskipun Virgil menggunakan sejumlah sumber yang lebih tua, Aeneid merupakan sebuah epik yang benar-benar baru tentang asal-usul bangsa dan janji eskatologis di mana bukan hanya pemerintahan Augustus di masa mendatang dan anak keturunannya, tetapi juga keseluruhan sejarah Roma digambarkan sebagai sebuah perjuangan heroik, yang mencapai puncaknya pada kemenangan dan keselamatan universal yang telah ditakdirkan. Kenyataannya, bukanlah hal yang dibesar-besarkan untuk mengatakan bahwa Aeneid menjadi pengejawantahan sastrawi yang definitif dari injil Roma.

Lukas-Kisah

Tetapi pengaruh macam apa, kalau memang ada, yang diberikan oleh pewartaan yang kuat dari injil Roma itu pada penulisan Perjanjian Baru? Untuk mendapatkan satu jawaban yang sangat penting, saya berpaling pada Lukas-Kisah. Sebagaimana sekarang disadari oleh banyak orang di antara anda sekalian, sebagian besar para ahli Perjanjian Baru percaya bahwa Injil Lukas dan Kisah Para Rasul tidak hanya ditulis oleh satu orang yang sama, tetapi juga sebenarnya merupakan dua paruh dari sebuah karya yang sama. Jika disatukan, Lukas-Kisah benar-benar merupakan sebuah karya yang luar biasa dalam jajaran kumpulan kitab-kitab besar yang kesemuanya membentuk kanon Perjanjian Baru. Pertama, karya itu luar biasa panjang, sampai menyita sepertiga bagian dari seluruh Perjanjian Baru itu sendiri. Kedua, terlepas dari fakta bahwa kita itu secara sadar memadukan banyak tema injili yang lebih tua dan sangat kental dalam penggunaan gaya linguistik injil tradisional, Lukas-Kisah adalah yang paling Greko-Roman di antara semua karya besar Perjanjian Baru, baik dalam phrasing Yunani-nya yang relatif canggih dan dalam keseluruhan gaya sastranya. Ketiga, Lukas-Kisah penuh dengan detil deskriptif yang lengkap, petualangan tingkat tinggi, dan alur naratif yang dibangun dengan cermat.

Jadi, siapa penulis Lukas-Kisah itu, dan apa yang ia ingin lakukan dengan membangun sebuah karya yang secara tidak bisa menyimpang dari norma-norma sastra Perjanjian Baru? Sebagaimana halnya dengan banyak penulis Perjanjian Baru, identitas penulis Lukas-Kisah tidak diketahui, dan baik tanggal maupun tempat penulisan tetap terbuka bagi spekulasi. Tetapi pada umumnya disepakati bahwaLukas-Kisah ditulis antara 90-100 EB, di sebuah komunitas yang aslinya dibangun oleh Paulus, dan barangkali  berlokasi di atau dekat kota penting Ephesus, yang terletak di kawasan pantai Aegea di daerah yang sekarang bernama Turki.

Menjelang akhir abad pertama, pewartaan Kristen mulai membuahkan hasil, khususnya di antara para penduduk yang lebih soleh di provinsi-provinsi yang berbahasa Yunani di kekaisaran Romawi. Kenyataannya, kesuksesan itu begitu mengherankan sampai-sampai beberapa tahun kemudian, Pliny yunior, yang saat itu bertindak sebagai gubernur provinsi Pontus dan Bithynia, merasa perlu berkonsultasi dengan kaisar mengenai masalah-masalah sosial dan ekonomis yang diakibatkan oleh pertobatan orang-orang lokal menjadi Kristen (Pliny, Ephesus 10.96.9-10).

Tetapi yang juga sama-sama mencengangkan selain kemajuan misi Kristen di antara orang-orang non-Yahudi adalah finalitas keterlepasan Kristianitas dari masa lalu religiusnya. Pemisahan diri yang definitif dari Israel, yang barangkali terjadi di akhir tahun-tahun 80an untuk beberapa komunitas Kristen purba, bersamaan dengan pertumbuhan kontinyu pewartaan injil di antara orang-orang non-Yahudi, dengan kuat mengintensifkan kebutuhan untuk mendefinisikan identitas Kristen dan menegaskan status komunitas baru itu sebagai Israel sejati.

Sekarang tampak jelas bahwa solusi Lukas bagi masalah-masalah historis yang disodorkan oleh komunitas-komunitas Kristen generasi Lukas sendiri yang didominasi oleh orang-orang non-Yahudi itu serupa betul betul dengan yang diterapkan oleh Virgil pada masalah-masalah dan tantangan-tantangan msyarakat Augustan. Maksudnya, persis sebagaimana Virgil menciptakan epik fondasional bagi bangsa Romawi dengan jalan meminjam dan mentransformasikan karya-karya Homer, begitu pula Lukas menciptakan epik fondasionalnya bagi gereja-gereja Kristen purba dengan jalan meminjam dan mentransformasikan tradisi-tradisi kudus masa lalu Israel. Dalam naratif Lukas yang terdirid ari dua bagian itu, kisah tentang Yesus dan kelahiran gereja menjadi pemenuhan yang mentakjubkan dari sejarah panjang Tuhan dengan Israel. Tentu saja orang mengharapkan bahwa Lukas akan mendasarkan sajiannya tentang asal-usul Kristen dalam konteks tradisi-tradisi alkitab Yahudi. Tetapi yang agak mengherankan adalah sampai sejauh mana Lukas mengadaptasikan sajiannya untuk meniru gaya naratif dan mengakomodasi bentuk-bentuk artistik yang umumnya diasosiasikan dengan epik Romawi kontemporer.

Kenyataannya, terkecuali bentuk puitisnya yang memang tidak ditonjolkan, naratif Lukas memadukan sejumlah piranti stilistik dan dramatik dari epik Gre-Romawi itu pada umumnya dan khususnya Aeneid dan karya-karya lain yang belakangan mengikutinya . Seperti Aeneid dan epik-epik lain dari masa itu, struktur Lukas-Kisah dibangun dalam dua bagian (yaitu bagian misi Yesus dan bagian misi para pengikutnya). Dan seperti Aeneid serta epik-epik lain di jaman itu, bagian sentral Lukas-Kisah lah (bab-bab terakhir Injil Lukas dan bab-bab awal Kisah Para Rasul) yang mengandung elemen-elemen paling esensiil dari pesan keagamaan Lukas (yaitu, penyaliban, kebangkitan kembali, dan kenaikan Yesus ke surga serta kelahiran gereja). Di seputar inti religius sentral inilah Lukas menata bagian-bagian lain dari naratifnya. Juga seperti Aeneid dan epik-epik lain di jaman itu, struktur plot Lukas-Kisah dibangun di seputar sebuah action sentral, dalam bentuk sebuah misi yang berangkat dari perintah ilahi.

Kesamaan penting lain dengan Aeneid adalah bahwa pemenuhan misi itu melibatkan penggunaan panduan ilahi dan intervensi supernatural secara luas. Nah, sepintas lalu mungkin bukan hal yang luar biasa jika seorang penulis injil merasa harus memasukkan penggunaan supernatural secara luas kedalam naratifnya. Tetapi jika anda betul-betul mencermati naratif Markus, Mateus, dan Yohanes, anda akan melihat makluk-makluk supernatural relatif tidak penting. Sebaliknya, dalam Lukas-Kisah, makluk-makluk supernatural itu penting. Dan khususnya dalam Kisah Para Rasul, malaikat-malaikat secara aktual berpartisipasi dalam narrative action —persis sebagaimana dewa-dewa dan dewi-dewi lakukan dalam epik-epik seperti Aeneid.

Dalam Kisah 5, misalnya, ketika rasul-rasul dijebloskan kedalam penjara oleh penguasa Yerusalem, seorsng malaikat membuka pintu  penjara, membawa rasul-rasul itu keluar, dan memberitahu mereka ke mana mereka harus pergi dan bahkan apa yang harus mereka katakan (Kisah 5:19-20). Dalam bab 8, seorang malaikat juga memberikan petunjuk arah perjalanan pada rasul Filipus. Ketika Petrus dijebloskan ke penjara oleh Herodes dalam bab 12, seorang malaikat memasuki selnya, melepaskan rantai belenggunya, menyuruhnya bangkit berdiri dan berpakaian, dan kemudian menyuruh rasul itu berjalan mengikutinya melewati barisan para pengawal dan keluar dari gerbang kota yang terbuat dari besi baja (Kisah 12:7-10). Lebih jauh lagi, malaikat-malaikat tidak hanya menyelamatkan orang-orang baik; mereka juga menghukum orang-orang jahat. Raja Herodes dibunuh oleh seorng malaikat dalam Kisah 12 sebagai hukuman ilahi karena telah memenjarakan Petrus. Penggunaan malaikat-malaikat oleh Lukas sebagai petugas-petugas dari surga yang secara agak rutin turun ke bumi untuk memandu tindakan-tindakan manusia mengilustrasikan adopsi Lukas atas sebuah konvensi sastra yang, di luar Lukas-Kisah, hanya bisa diketemukan dalam epik-epik besar Yunani dan kekaisaran Romawi.

Di atas semua hal itu, Lukas tampaknya diilhami oleh Virgil dalam presentasinya tentang gereja sebagai satu-satunya pengganti Israel kuno yang alami dan legitim. Dengan berpegangan pada asal-usul ilahi bangsa Troya, yang sudah lama mapan dalam legenda, epik Virgil memperluas klaim-klaim itu sampai mencakup Roma dan para penduduknya. Janji Troya kuno mencapai pemenuhannya dalam terbentuknya bangsa Romawi, persis sebagaimana, dalam naratif Lukas, janji Israel kuno mencapai pemenuhannya dalam pendirian dan pertumbuhan gereja Kristen.

Bahwa Lukas bermaksud menyajikan sebuah interpretasi yang berbeda mengenai ajaran Kristen ditunjukkan oleh pengaturan kata-kata prologue injilnya. Sekalipun mengakui hutang-hutangnya pada sumber-sumber tertulis lain yang lebih tua tentang Yesus, Lukas mengundang pembaca untuk merenungkan sendiri dan menetapkan validitas kalim Kristen yang didasarkan pada pengaturan atau interpretasi Lukas sendiri “menyangkut kejadian-kejadian yang telah terpenuhi di antara kita.”  Yang menjadi pusat permenungan-permenungan teologis Lukas adalah keyakinan bahwa solusi ilahi bagi keselamatan umat manusia tidak hanya melibatkan kematian putera Allah yang terkasih, tetapi juga kelahiran kembali bangsa Allah. Dan dalam menekankan pembentukan orang-orang Kristen, Lukas tidak hanya berusaha mendefinisikan  Israel sejati sebagaimana dipertentangkan dengan visi-visi lain tentang Israel. Lukas juga menegaskan bahwa Israel abru itu adalah pemenuhan historis sejati mengenai ramalan-ramalan otentik dan otoritatif dari Tuhan yang sama. Karena itu, Aeneid karya Virgil, dengan visi alternatifnya mengenai ramalan dan sejarah yang mencapai puncaknya pada kekuasaan Romawi, menjadi model kesastraan yang Lukas berusaha tiru. Dan dalam hal ini, imitasi bukanlah semacam ekspresi menjilat pantat yang dilakukan dengan tulus, melainkan ekspresi persaingan yang benar-benar serius.

Pastoral Epistles

Jika Lukas-Kisah bisa dianggap sebagai respon yang paling eloquent terhadap tantangan Romawi oleh misi Pauline generasi kedua, saya akan mengakhiri presentasi saya dengan respon satu generasi kemudian— apa yang oleh para ahli disebut Pastoral Epistles (tepatnya 1 dan 2 Timotius dan Titus)—yang tidak begitu tegas itu namun yang secara historis amat penting, yang ditulis di masa pemerintahan Hadrian.  Tradisi menyatakan bahwa semua surat itu ditulis oleh Paulus sendiri, dan setidak-tidaknya satu orang ahli Perjanjian Baru yang terkemuka baru-baru ini menegaskan bahwa surat-surat itu betul-betul asli tulisan Paulus.  Meskipun begitu, ada sejumlah alasan kuat untuk meyakini bahwa surat-surat itu ditulis jauh di masa yang lebih muda daripada surat-surat Paulus yang asli.

Salah satu dari argumen yang paling kuat untuk menyimpulkan bahwa Pastoral Epistles tidak ditulis oleh Paulus dan ditulis baru di abad kedua adalah karena surat-surat itu mencerminkan awal-mula organisasi institusional gereja serta hirarki jabatan-jabatan gereja—hal-hal yang belum dikenal dalam komunitas-komunitas Pauline abad pertama. (Lihat diagram “Church Hierarchy. . . .”). Ini terlihat jelas dalam surat-surat Timotius dan Titus, yang secara panjang lebar mendefinisikan tatanan sosial serta perilaku yang benar yang harus diikuti oleh komunitas-komunitas Kristen.

Nah, tatanan sosial hirarkis dalam piramida bawah (diagram “Christian Household”) hanya mencerminkan normal kultural umum dari jaman Greko-Romawi, dan penerimaannya oleh gereja-gereja yang dibentuk oleh Paulus secara eksplisit sudah dinyatakan dalam surat-surat kepada jemaat Kolosus dan Efesus yang berasal dari abad pertama.

Tetapi hirarki yang digambarkan dalam diagram atas  adalah sebuah hirarki organisasi gereja,  yang dalam gereja-gereja abad pertama tidak atau belum dikembangkan sampai ke titik itu. 1 Timotius membahas secara lumayan rinci kriteria untuk memilih uskup (1 Tim 3:1f), diakon (1 Tim 3:8f), dan wanita-wanita yang bertindak sebagai diakon (1 Tim 3:11f). Tatanan itu juga merekomendasikan kompensasi ekstra untuk para tetua, yang berdiri di puncak hirarki gereja lokal, dan bagi janda-janda yang hidupnya saleh dan pantas diteladani. Sebuah petunjuk yang jauh lebih penting tentang perkembangan organisasi egreja yang progresif itu dicantumkan dalam surat kepada Titus, yang mengisyaratkan bahwa uskup-uskup dipilih dari antara kumpulan para tetua gereja yang memenuhi syarat di setiap kota—satu uskup Kristen untuk setiap kota provinsi (Tuitus 1:5-7). Jika kesimpulan itu benar, ini betul-betul signifikan dari sudut pandang sejarah perkembangan, karena kebanyakan kota dipastikan memiliki lebih dari satu gereja lokal, uskup dari sebuah kota akan memiliki yurisdiksi atas beberapa kongregasi atau jemaat lokal. Dengan demikian kita mulai melihat dalam Pastoral Epistles perkembangan yang paling mendasar dari organisasi gereja, yang tidak hanya berkutat di seputar masalah-masalah yang bersifat murni lokal, atau murni parokial.

Elemen lain yang sangat kentara dari surat-surat itu adalah penekanan mereka pada arti penting doktrin yang sehat dan seruan mereka untuk menghormati sebuah tradisi yang sekarang juga mencakup Paulus sebagai salah satu elemen penting dari masa lalu yang dihormati itu. Sekalipun persisnya detil-detil mengenai apa yang disebut doktrin yang sehat itu tidak pernah benar-benar dinyatakan dalam surat-surat itu, esensi dan semangatnya terasa selaras dengan norma-norma filosofis dan etis jaman kekaisaran Romawi.

Nah, sebagian besar interpreter Pastoral Epistles sependapat bahwa konsentrasi surat-surat itu pada struktur-struktur institusional dan penekanan mereka pada doktrin yang benar mencerminkan fakta bahwa masalah utama yang dihadapi oleh para penulis Kristen purba yang menulis surat-surat itu adalah masalah internal, yaitu bidaah. Entah mereka orang-orang Gnostik, para pengikut Marcion, atau sekedar orang-orang asketik Pauline yang radikal, kita bisa menyimpulkan bahwa berbagai oposan penulis tersebut yang sama-sama Kristen mempunyai gaya hidup sosial dan religius yang cenderung membuat diri mereka sendiri menjadi sasaran perhatian masyarakat Greko-Romawi yang lebih luas. Dan dari perspektif penulis tersebut, satu hal yang gereja-gereja itu tidak butuhkan adalah perhatian yang ditujukan pada mereka. Menurut 1 Timotius, misalnya, gereja-gereja harus menghormati otoritas kekaisaran, bahkan mengucapkan doa-doa permohonan dan doa-doa syukur atas nama kaisar, dengan tujuan agar orang-orang Kristen tidak diusik (1 Tim 2:1-2).

Dan kenyataannya, hampir sepanjang abad kedua orang-orang Kristen pada umumnya diabaikan oleh para pejabat pemerintah kekaisaran.  Masa yang relatif damai itu memungkinkan gerakan Kristen memperkuat akar-akar dan tumbuh berkembang. Dengan demikian, dalam pandangan penulis surat-surat itu, diabaikan oleh pejabat-pejabat pemerintah malah menguntungkan. Tetapi apakah itu berarti bahwa Pastoral Epistles hanya atau bahkan terutama mengekspresikan diakomodasikannya nilai-nilai keagamaan dan institusi-institusi sosial kekaisaran? Apakah surat-surat itu mencerminkan sikap pasif terhadap tantangan teologis dan politis yang kuat dari Roma sebagaimana tadi saya beberkan pada anda? Jawaban atas pertanyaan itu saya rasa tegas: TIDAK. Dalam waktu beberapa menit yang masih tersisa ini saya akan menjelaskan alasannya.

Pastoral Epistles dengan jelas mencerminkan komunitas-komunitas Pauline di sebuah masa transisi historis di mana, sebagimana ditunjukkan oleh seorang ahli Perjanjian Baru, warisan Paulus tengah dijadikan bahan perselisihan dan diperebutkan oleh berbagai kelompok Kristen—yang semuanya mengklaim rasul itu sebagai sumber ajaran mereka yang benar. Lebih jauh lagi, saya rasa harus disimpulkan bahwa dari perspektif teologis maupun sosial Pastoral Epistles jelas mewakili kubu konservatif dari tradisi Pauline. Ideal tentang kewarganegaraan Kristen yang diekspresikan dalam Pastoral Epistle adalah anjuran untuk tidak mengaduk-aduk air tenang, dan anjuran untuk hidup saleh tanpa harus menarik perhatian orang banyak.

Meskipun begitu, dorongan mengucapkan doa bagi para penguasa dalam 1 Timotius langsung diikuti dengan penegasan-penegasan bahwa hanya ada satu Tuhan dan hanya ada satu perantara antara Tuhan dan umat manusia, yaitu Yesus Kristus (1 Tim 2:5). Pernyataan itu, bersama penegasan-penegasan lain yang dinyatakan di tempat-tempat lain dalam surat itu—bahwa Yesus adalah terberkati dan satu-satunya penguasa tertinggi, raja para raja dan junjungan para junjungan, dan bahwa baik kekuasaan duniawi maupun surgawi adalah miliknya—nyaris sama sekali tidak memberikan ruang untuk mengakomodasi struktur-struktur sosial dan politis masyarakat kekaisaran. Karena itu—dan poin penting ini sering diabaikan, bahkan oleh penulis Pastoral Epistles itu sendiri—kesalehan Kristen berarti pengasingan dari perayaan-perayaan serta ritual-ritual civic dari struktur-struktur sosial dan administratif elit.  Sebab sebagaimana telah kita lihat, struktur-struktur institusional itu dipenuhi dengan penegasan-penegasan, baik implisit maupun eksplisit, tentang eksistensi dan kekuasaan dewa-dewa Olympia dan dengan klaim-klaim kekaisaran Roma sebagai pihak yang menerima berkat ilahi untuk menjadi penerima kekuasaan tadi.

Dengan demikian, di antara komunitas-komunitas Pauline yang direpresentasikan oleh penulis Pastoral Epistles itu, solusi terhadap impasse dengan kekaisaran tadi adalah dengan memperkuat dan memperluas struktur-struktur institusional gereja. Yang terilustrasi dalam surat-surat itu adalah awal-mula institusionalisasi sebuah negara mini dalam Negara besar. Pengembangan hirarki jabatan-jabatan gereja, penetapan kriteria baik untuk memberikan maupun menerima bantuan amal, penetapan peran-peran pelayanan untuk setiap tataran keanggotaan dalam gereja—semua aspek dari pembentukan komunitas yang tengah berkembang itu paralel dengan struktur-struktur analog dalam organisasi sosial kekaisaran. Tetapi paralel itu—sejauh bahwa hal itu bisa dipandang sebagai sebuah imitasi—lebih merupakan ekspresi persaingan ketimbang akomodasi.

Dalam Pastoral Epistles, komunitas-komunitas Kristen individual mungkin tidak lagi mirip dengan alternatif-alternastif utopian bagi organisasi masyarakat sekuler seperti yang rupanya lebih disukai Paulus. Tetapi pada waktu itu Paulus percaya bahwa apa yang ia sebut “jaman jahat sekarang ini” akan segera tersapu bersih oleh kembalinya Kristus dalam kemuliaan. Apa yang kita lihat dalam Pastoral Epistles adalah sebuah apresiasi yang lebih realistis bahwa sistem kekaisaran masih akan bertahan lama dan sebuah pengakuan bahwa kesetiaan yang efektif pada raja Kristus berarti kewajiban membangun sebuah institusi yang sepenuhnya fungsional sebagai alternatif bagi struktur-struktur politis dan sosial kekaisaran.

Sebagaimana telah kita lihat, tatanan sosial dan politis kekaisaran bersandar pada dua asumsi dasar. Pertama, bahwa Roma telah mencapai kekuasaan duniawi yang praktis tak terbatas atas kehendak para dewa; dan dua, bahwa kaisar adalah insan pilihan ilahi yang ditunjuk oleh Zeus sendiri, manusia yang mengejawantahkan perlindungan dan kekuasaan ilahi atas dunia beradab. Itu sebabnya pergulatan antara injil Kristen dengan injil Roma tak pelak lagi berkembang menjadi sebuah pergulatan politis memperebutkan kekuasaan atas kekaisaran itu sendiri. Dan tulisan-tulisan Lukas-Kisah serta Pastoral Epistles dalam Perjanjian Baru itu menunjukkan persimpangan kritis ini dalam sebuah persaingan yang hanya bisa berakhir dengan kemenangan mutlak atau menyerah tanpa syarat.

Lebih jauh mengenai hal ini, baca esei tentang Injil Lukas tulisan Marilyn Mellowes.

Judul asli: “The Bible of Rome versus the Bible of Jesus Christ”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan bahasa Indonesia: Bern Hidayat, 3 Desember 2009

FRONTLINE is a registered trademark of wgbh educational foundation.
web site copyright 1995-2008 WGBH educational foundation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: