Injil Q – Injil Hipotetis

22/01/2010

Injil Q – Injil Hipotetis

Untuk menjelaskan sebuah teka-teki tekstual, para ahli menghipotesakan adanya sebuah dokumen yang dulu hilang—“Q.” Sekarang kitab hipotetis itu dikenal dengan nama “injil ucapan-ucapan rahasia.”

Elaine H. Pagels

The Harrington Spear Paine Foundation Professor of Religion Princeton University

Sekarang ada orang-orang yang berbicara tentang Q seakan-akan itu adalah sebuah injil sungguhan. Sebagaimana saya memandangnya, Q bukanlah injil. Q adalah sebuah hipotesa. Ketika para ahli pertama-tama mulai mengkaji injil-injil Perjanjian Baru, secara kesastraan, mereka menemukan bahwa baik Mateus maupun Lukas sama-sama menggunakan Markus sebagai intinya—katakanlah, sebagai alur cerita dasar mereka.  Sebab Markus sepenuhnya dipadukan—sebanyak 16 bab—kedalam baik Mateus maupun Lukas. Tetapi keduanya juga menggunakan ucapan-ucapan, perumpamaan-perumpamaan, dan cerita-cerita yang lain, dan sebagainya. Dan para ahli mengamati bahwa ada sebagian dari ucapan-ucapan dalam Mateus yang identik persis dengan ucapan-ucapan dalam Lukas. Kenyataannya, mereka identik dalam bahasa Yunani. Nah, coba pikirkan—Yesus berbahasa Aramaik. Jadi, jika anda menerjemahkan bahasa Aramaik, dan saya menerjemahkan bahasa Aramaik, kedua terjemahan itu hasilnya akan berbeda. Jadi anda hanya akan mempunyai Yesus yang menguvcaspkan ucapan-ucapan identik dalam bahasa Yunani hanya jika anda mempunyai terjemahan tertulis dalam bahasa Yunani dari ucapan-ucapan Yesus tadi. Dan karena itu para ahli memperkirakan bahwa dahulu, selain Markus, pasti ada sesuatu tulisan lain yang bertindak sebagai daftar ucapan-ucapan Yesus, yang diterjemahkan kedalam bahasa Yunani. Dan itu mereka sebut “Quelle,” yang dalam bahasa Jerman berarti sumber. Dan mereka menyingkatnya menjadi “Q” Tidak seorang pun pernah menemukan sumber tertulis ini. Kita bisa merekonstruksikannya karena kita mengira bahwa sumber tertulis seperti itu betul-betul ada, tetapi tidak satu orang pun pernah melihatnya, dan dalam benak saya itu jelas bukan injil. Itu hanya sebuah hipotesa yang sangat bagus dan mempunyai dasar yang kuat.

Kalau bukan injil, lalu apa?

Itu adalah sebuah sumber  yang berisi ucapan-ucapan Yesus, dan itu menghadirkan sebuah gambaran yang lain lagi tentang Yesus. Misalnya, siapa pun yang mengoleksi ucapan-ucapan Q itu tidak tertarik pada kematian Yesus, tidak tertarik pada kebangkitan kembali Yesus. Mereka beranggapan arti penting Yesus adalah apa yang ia katakan, apa yang ia ajarkan. Nah, orang-orang lain berpikir, “Mempunyai ucapan-ucapan Yesus saja tidak cukup. Kamu harus cerita tentang kematiannya dan penyalibannya dan kebangkitannya kembali—itu hal yang paling penting.” Nah, kemudian ada orang yang memadukan keduanya, dan hasilnya kita sebut injil Mateus, dan hasilnya kita sebut injil Lukas. Tetapi aslinya kemungkinan besar adalah gambaran-gambaran yang berbeda-beda.

Lebih jauh mengenai Q,  bacalah esei tulisan Marilyn Mellowes dalam kumpulan situs ini, dan makalah beliau yang lain, The Search for a No-Frills Jesus, dalam Atlantic Monthly.

Terjemahan: Bern Hidayat, 18 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: