Injil Mateus

22/01/2010

Injil Mateus

Yesus sebagai Musa baru.

Helmut Koester:

John H. Morison Professor of New Testament Studies and Winn Professor of Ecclesiastical History Harvard Divinity School

YESUS DALAM MATEUS —SEORANG LELAKI DARI ISRAEL

Injil Mateus berkenaan dengan sikap gereja-gereja Kristen purba dalam Israel, atau dalam hubungan dengan apa yang kita sebut Yudaisme. Dan itu adalah masalah-masalah yang muncul di masa sesudah kejatuhan Yerusalem. Bagaimana komunitas-komunitas Kristen itu, yang bahkan tidak menyebut diri mereka sendiri Kristen, dan barangkali bahkan tidak memiliki kesadaran bahwa mereka berbeda dari Israel, bagaimana mereka berhubungan dengan orang-orang lain yang menyatakan diri sebagai Israel? Dan adalah sangat penting bahwa Yesus bagi Mateus adalah sepenuhnya seorang lelaki dari Israel. Karena itu Mateus mengawali injilnya dengan memaparkan seluruh genealogi Yesus; ia ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah keturunan Daud, dan kemudian melacaknya lebih jauh ke belakang sampai ke Abraham. Bagi Mateus, Yesus bukan hanya keturunan Daud; ia keturunan Abraham. Ia benar-benar orang dari Israel. Dan dengan demikian ajaran Yesus juga merupakan ajaran yang sepenuhnya berada dalam tradisi syah ajaran Israel mengenai hukum Allah. Jadi dalam Mateus, tidak dalam sembarang injil lain manapun, kita mendapatkan Yesus yang mengatakan bahwa ia datang bukan untuk menghapuskan hukum itu, melainkan untuk menggenapinya. Dan bahwa tidak ada bagian manapun dari hukum itu yang akan menghilang. . . . .

Mateus mempunyai keraguan lumayan besar untuk menunjukkan bahwa ini juga komunitas untuk orang-orang non-Yahudi. Adalah jelas bahwa, yes, ada injil untuk orang-orang non-Yahudi. Para rasul di akhir injil itu diutus ke semua bangsa, dan disuruh mengajarkan pada  mereka apa yang Yesus ajarkan pada rasul-rasul itu. Maksudnya, mengajarkan pada mereka juga bahwa Yesus datang bukan untuk menghapuskan hukum Allah. Nah, yang jelas pemahaman mengenai hukum Allah itu tidak identik dengan pemahaman dari Yudaisme yang muncul sesudah hancurnya Yerusalem.  Sebab perhatikan bahwa tidak ada penekanan pada hukum ritual. Tidak ada sunat, tidak ada perintah hari Sabbat. Jadi perintah-perintah ritual dari hukum Allah itu telah menghilang. Sekalipun begitu, Mateus ingin agar hal itu dipahami sebagai sebuah interpretasi baru yang syah tentang hukum Musa.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

KOMUNITAS KRISTEN YAHUDI MATEUS

Mateus menulis untuk siapa?

Injil Mateus jelas ditulis untuk komuitas Kristen Yahudi yang hidup di sekitar negeri tanah air orang-orang Yahudi sendiri. Injil Mateus adalah injil yang paling Jewish dari semua injil yang ada. Komunitas untuk siapa injil Mateus ditulis adalah komunitas Kristen Yahudi yang tengah menghadapi beberapa ketegangan baru di masa rekonstruksi setelah pemberontakan Yahudi pertama. Akan tampak bahwa mereka sudah cukup lama ada di situ. Mereka sebenarnya menunjukkan kesadaran tentang sebuah warisan yang lebih tua tentang tradisi Yesus, yang berlangsung sejak sebelum perang. Tetapi sekarang mereka menghadapi ketegangan-ketegangan baru dan masalah-masalah baru sesudah pemberontakan itu ketika rekonstruksi politis dan sosial tengah dilakukan.

Apa rekonstruksi yang tengah dilakukan itu, dalam bahasa sehari-hari yang paling lumrah?

Apa yang ada di balik ketegangan-ketegangan sosial yang tercermin dalam injil Mateus itu barangkali adalah pergeseran populasi Yahudi secara besar-besaran ke wilayah Galilei di utara. Itulah situasi dalam mana injil Mateus ditulis. Tetapi, karena populasi baru itu harus diorganisir, realita-realita politis baru dari kehidupan pedesaan mulai memunculkan ketegangan-ketegangan baru juga. Dalam konteks inilah gerakan Farisi akan menjadi kekuatan dominan baru bagi rekonstruksi kehidupan dan pemikiran Yahudi di masa sesudah pemberrontakan pertama. Dari tradisi Farisi awal akan muncul tradisi Rabbinik dan . . . . para Rabbi sebagai pemimpin dan guru  tradisi Yahudi dan interpreter Torah, hukum, akan menyiapkan panggung bagi pengembangan normatif Yudaisme, sampai ke jaman modern sekarang ini.

KONFLIK DALAM KOMUNITAS MATEUS

Nah, kita harus ingat bahwa justru dalam injil Mateus lah orang-orang Farisi menjadi lawan utama Yesus sepanjang masa hidupnya. Nah, di jaman Yesus sendiri hidup, orang-orang Farisi bukanlah kelompok yang berpengaruh. Mengapa Mateus menceritakan kisahnya seperti itu, sehingga sebuah kelompok yang di jaman Yesus sendiri hidup tidak berkuasa sekarang malah menjadi lawan utama? Justru karena memang itulah yang sedang terjadi dalam kehidupan komunitas Mateus sesudah perang. Orang-orang Farisi sekarang menjadi lawan-lawan mereka dan kita tengah menyaksikan dua kelompok Yahudi, kelompok Kristen Yahudi Mateus dan kelompok-kelompok Farisi lokal, berada dalam ketegangan sehubungan dengan masa depan Yudaisme. Tentu saja, mereka menyodorkan jawaban-jawaban yang berlainan.

Apa jawaban-jawaban mereka? Apa hal-hal spesifik yang mereka perselisihkan?

Komunitas Mateus mematuhi Torah. Dalam Mateus, dalam Khotbah di atas Bukit, Yesus mengatakan, “jangan mengira aku datang untuk menghancurkan hukum  Allah dan nabi-nabi—aku datang bukan untuk menghancurkan mereka, melainkan untuk menggenapi mereka.” Dalam Mateus, Yesus adalah seorang penganjur kesalehan Torah, persis seperti orang-orang Farisi. Jadi, di satu pihak, mereka mengikuti hukum itu dengan cara yang membuat mereka menjadi orang-orang Yahudi yang sangat baik. Di pihak lain, ada ketegangan-ketegangan mengenai apa bentuk yang benar dari kesalehan Torah tadi bagi mereka.

Salah satu indikasi tentang situasi komunitas Mateus mengemuka ketika injil Mateus memberikan peraturan-peraturan untuk bagaimana mendisiplinkan anggota-angggota dalam komunitas jika mereka menyimpang. Bagian itu mengatakan jika ada anggota jemaat yang berdosa, pergi dan katakan pada mereka tentang hal itu, dan jika mereka menolak untuk mendengarkan anda, bawalah seorang teman dan katakan pada mereka tentang hal itu, dan jika mereka menolak untuk mendengarkan anda berdua, bawa mereka ke gereja, dan jika mereka menolak, tendang mereka keluar. Anda secara aktual menendang mereka keluar gereja, keluar dari jemaat. Tetapi apa yang menarik dalam hal ini, dalam aturan-aturan disipliner dari Mateus 18 ini, adalah bahwa ketika anda menendang mereka keluar, ketika anda mengekskomunikasi mereka atau mencoret keanggotaan mereka, anda praktis mengatakan, “sekarang kamu kafir dan pemungut pajak.” Anda memperlakukan mereka sebagai orang luar. Tetapi jika menendang seseorang keluar berarti mereka dianggap orang luar, mereka yang ada di dalam jelas harus memikirkan diri mereka sendiri sebagai masih sepenuhnya Jewish.

YESUS SEBAGAI MUSA

Cara Mateus menceritakan kisah tentang Yesus itu dengan menggunakan banyak simbol dari tradisi Yahudi yang benar-benar mengungkapkan sebuah gambaran tentang Yesus. Yesus  mendaki sebuah gunung untuk mengajar dan di sana bicara tentang hukum Allah. Ia tampak seperti Musa. Yesus menyampaikan lima khotbah semacam itu, persis seperti kelima kitab Torah. Ada banyak elemen dalam kisah itu yang mirip dengan tradisi-tradisi Musa, dari pembunuhan bayi-bayi, dalam naratif tentang kelahiran, sampai ke Khotbah di atas Bukit, bahkan sampai ke bagaimana Yesus mati, persis seperti bagaimana beberapa orang nabi mati, sebagai martir demi panggilan kenabian mereka.

Lebih lanjut mengenai Injil Mateus, baca esei karya Marilyn Mellowes.

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/first/kingdoms.html.

Terjemahan Bern Hidayat, 23 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: