Injil Markus

22/01/2010

Injil Markus

Kisah tentang kerahasiaan dan kesalah-pahaman.

L. Michael White

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

SIAPAKAH MARKUS?

Menurut tradisi, penulisnya, Markus, bukanlah seorang rasul. Bukan salah satu dari rasul-rasul pertama, melainkan pengikut dari salah seorang rasul pertama. Dalam tradisi ia diperkirakan murid Petrus. . . . . Kita tidak tahu persis di mana Markus itu atau di mana ia menulis. Salah satu tradisi menempatkannya di Roma,tetapi sebuah tradisi lain menempatkannya di Alexandria, dan barangkali kisah yang kita sebut Injil Markus itu, yang diperkirakan bermuara pada Petrus, juga merupakan contoh tentang pewarisan sebuah tradisi lisan. Tradisi itu berhutang sejarah pada Markus, terlepas dari apakah Markus adalah orang yang menulisnya atau bukan.

ARTI PENTING INJIL MARKUS

Mengapa Injil Markus penting dalam Kristianitas purba?

Markus adalah yang pertama dari antara injil-injil tertulis. Itulah injil yang membangun . . . . kehidupan Yesus sebagai sebuah bentuk kisah. Injil itu mengembangkan sebuah naratif dari karir awal Yesus, melalui . . . . titik-titik utama kehidupannya dan memuncak pada kematiannya. Dan, sebagaimana halnya, injil itu menetapkan pola bagi semua tradisi injil masa kemudian. Kita tahu bahwa Mateus dan Lukas menggunakan Markus, sebagai sebuah sumber dalam komposisi mereka dan juga mungkin bahwa bahkan Yohanes sendiri mengetahui sesuatu tentang Markus dalam tradisi. Jadi, sebenarnya Markus adalah yang menyiapkan panggung bagi semua penulisan injil Kristen masa berikutnya.

KERAHASIAAN DAN KESALAH-PAHAMAN

Markus menceritakan kembali kisah tentang Yesus. Ia mengawalinya dengan mengambil sejumlah elemen dari tradisi lisan yang lebih awal. Markus rupanya mengetehui sedikit-dikitnya satu dan mungkin juga dua atau tiga dari kumpulan-kumpulan yang berlainan tentang cerita-cerita mukjijat sebagai sebuah sumber. Ia menjalin elemen-elemen itu menjadi satu dengan kisah-kisah lain tentang Yesus, tentang ajaran-ajarannya, tentang perjalanan-perjalanannya, tentang hal-hal; lain, dan menjadikan semua itu sebagai bagian dari pemahamannya mengenai bagaimana kehidupan Yesus berkarya dan apa tujuan kehidupan Yesus itu. Tetapi dalam analisis akhirnya, injil Markus sebenarnya adalah tentang kematian Yesus. Itu adalah sebuah kisah sengsara dengan pendahuluan yang diperpanjang, mungkin begitu kata orang. Markus menceritakan kisah itu dengan berpikir tentang kematian itu dan membiarkan semua kejadian yang mengarah pada kematian itu bergerak ke arah itu dan melewatinya. Jadi, kematian Yesus lah yang menjadi prinsip pemandu bagi injil Markus, bukan kehidupan . . . .

Markus menceritakan kisahnya dengan cara itu untuk menalarkan kematian Yesus dan dari sudut pandang kejadian-kejadian pemberontakan (Yahudi ) pertama. Itulah dua prinsip pemandu alur cerita Markus . . . .

Bagi Markus, Yesus adalah tokoh yang agak enigmatik dan itu sangat penting bagi caranya menceritakan kisah itu. Yesus itu misterius. Yesus secara sengaja membuat orang-orang tidak memahami siapa dia sebenarnya, kadang-kadang. Kadang-kadang, Yesus bahkan membungkam setan-setan yang hendak mengumumkan identitasnya yang sebenarnya. Ketika ia melakukan sebuah mukjijat, ia mengatakan pada orang-orang, jangan katakan apapun pada siapapun mengenai apa yang sudah aku perbuat. Ia bahkan membawa murid-muridnya menyepi, dan mengajar mereka secara privat agar orang-orang lain tidak akan mendengar dan memahami pesannya. Ia tampak sebagai tokoh yang sangat secretive dalam injil Markus.

Nah, mengapa Markus menceritakan kisah itu dengan cara seperti itu? Rupanya ia menggunakan motif kerahasiaan dan kesalah-pahaman sebagai sebuah cara untuk merekonseptualisasikan imaji tentang Yesus. Ada sesuatu mengenai pemahaman-pemahaman dari masa sebelumnya mengenai Yesus, bahkan dalam komunitas Kristen, dan Markus sekarang merasa tergerak untuk mengoreksinya dan memberinya sebuah makna baru, dan barangkali hal itu berhubungan dengan pengalaman pasca-perang. Mengapa semua hal itu terjadi? Apa yang tidak beres? Mengapa Yerusalem dihancurkan? Markus menceritakan kisahnya sedemikian rupa untuk menalarkan hal-hal itu, dari sudut pandang kematian Yesus.

BUKAN SEKEDAR SEORANG PEKERJA MUKJIJAT

Fakta bahwa Markus mengambil sumber-sumber lisan yang lebih awal mengenaim kisah-kisah mukjijat esus mengisyaratkan bahwa, sesungguhnya, salah satu dari cara-cara paling awal dalam memahami Yesus adalah sebagai seorang pekerja mukjijat. Tetapi di jaman kuno itu pekerja mukjijat ribuan jumlahnya. Kita mendengar tentang segala macam orang yang bisa melakukan mukjijat, jadi hal itu tidak akan membuat Yesus tampak istimewa. Tak ada yang unik mengenai hal itu di jaman kuno. Kita mendengar tentang para pekerja mukjijat Yahudi, para pekerja mukjijat kafir, para pekerja mukjijat baik, para pekerja mukjijat jahat. Rupanya salah satu tujuan injil Markus adalah untuk mengatakan, “(Yesus) bukan sekedar seorang pekerja mukjijat; ia lebih dari itu.” Markus malah kadang-kadang membuat Yesus tidak mampu melakukan mukjijat sama sekali, atau enggan melakukan mukjijat. Dalam satu kasus, ia bahkan harus melakukan sebuah mukjijat dua kali baru sukses. Dalam sebuah kasus lain, ia menyembuhkan seorang anak laki-laki menuju kematian dan belakangan terpaksa harus menghidupankannya kembali. Jadi, Yesus adalah seorang pekerja mukjijat yang ganjil, sebagaimana digambarkan dalam injil Markus, dan rupanya hal itu memang merupakan salah satu tujuan Markus.

MESSIAH MARKUS HARUS MATI

Salah satu masalah utama dalam cara Markus menampilkan Yesus adalah apa artinya bagi Yesus untuk menjadi Messiah. Nah, memang benar bahwa dalam injil itu, banyak orang-orang yang berlainan mengerti bahwa ia Messiah. Pada suatu kesempatan, ia menanyai murid-muridnya, “menurut kamu, siapa aku ini?” dan mereka dengan tegas mengatakan, “kamu Messiah.” Meskipun begitu, salah satu dari elemen-elemen paling dramatik dalam injil Markus adalah bahwa sekalipun mereka mengaku bahwa Yesus adalah Messiah, mereka jelas tidak memahami signifikansi dari kematian Messianik Yesus. Injil Markus menggarap isu itu, menyodorkan isu itu ke depan audiens dan mengatakan bahwa inilah titik kuncinya. Apa yang harus kamu pahami adalah apa yang murid-murid itu dahulu gagal pahami, dan bahwa butir terpenting dari identitas Messianik Yesus dalam injil Markus adalah bahwa Yesus harus mati . . . .

Tidak selalu jelas apakah ia benar-benar menganggap dirinya sendiri sebagai Messiah sepanjang masa karirnya, dan bahkan ketika murid-muridnya mengaku bahwa ia Messiah, bahkan ketika mereka akhirnya menyadari bahwa ia Messiah, mereka benar-benar tidak sadar bahwa ia harus mati, bahwa itu adalah bagian dari identitas Messianiknya. Jadi, Markus menceritakan pada kita bahwa menjadi Messiah berarti lebih dari sekedar menjadi seorang pekerja mukjijat atau sekedar mengajarkan ajaran-ajaran indah. Ada hal lain yang maha penting di sini.

MURID-MURID SALAH PAHAM

Injil Markus adalah sebuah komposisi dramatik yang brilyan karena karya itu memungkinkan motif kerahasiaan dan kesalah-pahaman itu menjadi wahana untuk mempersatukan sejumlah momen simbolik kunci dalam kisah tentang Yesus. Dengan demikian, sementara murid-murid, teman-teman terdekat dan para pengikutnya, tidak mampu memahami identitasnya yang sebenarnya, . . . . tidak mampu mengerti bahwa ia harus mati sebagai bagian dari identitas Messianiknya, ada sejumlah tokoh marjinal dalam kisah itu yang rupanya memahami dia dengan lebih correct dan lebih benar, tanpa disuruh-suruh dan tanpa diisyarati. Dalam pengertian tertentu, tokoh-tokoh marjinal lah yang memberikan semacam trik dramatik bagi kisah Markusian itu. Salah satu contoh terbaiknya adalah kisah tentang wanita yang menjelang Perjamuan Terakhir mendatangi Yesus dan mengurapi kakinya, dan murid-murid mencela wanita itu karena mengurapi kaki Yesus. Yesus mengatakan, “dia mengurapi aku untuk persiapan penguburanku, dan tindakannya akan selalu dikenang.” Jadi, wanita itu melihat sesuatu yang murid-murid itu sendiri malah tidak bisa lihat, dan wanita-wanita lah, tokoh-tokoh marjinal, demit-demit, orang-orang pinggiran dalam kisah itu yang sering  menyodorkan pemahaman yang penting mengenai identitas Yesus yang sebenarnya. Ini . . . . ini adalah penyajian yang benar-benar dramatik dan mentakjubkan . . . .

ANAK PEREMPUAN JAIRUS

Salah satu contoh terbaik dari teknik sastra Markus ada pada cara dia merangkaikan kisah-kisah menjadi satu. Salah satu contoh bagus adalah double miracle tentang membangkitkan anak perempuan Jairus dari kematian dan penyembuhan terhadap wanita yang menderita gangguan pendarahan atau menstruasi itu. Nah, aslinya, ini pasti dua cerita yang berdiri sendiri-sendiri, sepenuhnya independen. Markus menyatukan keduanya dengan jalan secara aktual menjalin kisah gadis kecil yang mati itu di seputar kisah tentang wanita lebih tua yang disembuhkan itu, dan kita bisa melihat bahwa Markus menceritakan kisah itu sedemikian rupa untuk membuat agar cerita-cerita itu dibaca bersama-sama, untuk membuat agar elemen-elemen dari satu mukjijat mengalir masuk kedalam mukjijat yang lain. Misalnya, gadis kecil itu berusia 12 tahun . . . .

Cara Markus menceritakan kisahnya begini. Yesus sedang dalam perjalanan pada suatu hari, dan ia diminta untuk datang ke rumah seorang pejabat sinagoga terkemuka untuk menyembuhkan anak gadisnya, usia 12 tahun. Nama pejabat itu Jairus. Sementara Yesus dalam perjalanan ke sana untuk menyembuhkan anak gadis itu, ia melewati kerumunan orang dan tiba-tiba saja ia disentuh oleh seorang wanita yang mengalami gangguan menstruasi. Hal ini menyela kisah itu untuk sesaat, dan di titik inilah kita lihat Markus menyelipkan kedalam kisah tentang anak perempuan Jairus itu sebuah mukjijat terpisah mengenai perempuan dewasa tadi. Nah, dalam pertemuan antara Yesus dengan wanita itu, kita mendapatkan permainan simbol yang sangat menarik. . . . Perempuan itu mengalami gangguan menstruasi. Ia mengalami gangguan itu sudah selama 12 tahun, waktu yang sama persis dengan usia gadis kecil itu. jadi, kedua elemen dalam kisah itu mulai bermain bersama-sama. Fakta bahwa perempuan itu menyentuh Yesus, karena aturan-aturan kesucian, berarti bahwa wanita itu sesungguhnya telah membuat Yesus menjadi najis. Sekarang seharusnya dia tidak melanjutkan urusan dengan pejabat sinagoga itu, karena dia sudah dicemari oleh kenajisan wanita tadi. Jadi ada permainan antara kesucian dan kenajisan, antara status keperempuanan dan status keperawanan si gadis kecil, dan sebagainya dan sebagainya. Ada banyak elemen dramatik seperti ini yang bermain sepanjang kisah itu. Jadi, masing-masing cerita diatur sedemikian rupa sehingga menggerakkan cerita yang lain.

Yang signifikan adalah bahwa wanita itulah yang mengenali Yesus, dan mengulurkan tangan dan menyentuhnya, dan pada saat itu juga ia disembuhkan. Yesus tidak berbuat apa-apa. Ia merasakan kuasanya mengalir keluar dari dirinya dan baru kemudian berpaling untuk menghadapi wanita itu dan mengomentari iman si wanita. Sementara itu, karena penundaan itu, si gadis kecil mati, dan kemudian ketika Yesus menapaki tahap berikutnya dari kisah itu, ia tidak hanya harus menyembuhkan dia, tetapi juga membangkitkan dia kembali . . . . Penutup dramatik  kisah itu adalah ketika Jairus menyambut Yesus di pintu rumahnya dan mengatakan, sudahlah, si anak toh sudah mati. Jairus, pejabat sinagoga itu, tidak mengerti siapa Yesus sebenarnya, apa yang bisa ia lakukan. Jairus tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh wanita tadi . . . . toh wanita itu bukanlah tipe manusia yang diharapkan memiliki pengetahuan religius seperti itu di abad pertama. Dia adalah seorang tokoh marjinal, tetapi dialah yang menunjukkan pemahaman maha penting mengenai identitas Yesus yang sebenarnya.

Kemudian Yesus membangkitkan gadis kecil itu dari kematian, dan dengan demikian membuktikan bagaimana kuasanya yang sebenarnya. Bagaimanapun juga, dan dalam beberapa hal, itu adalah momen yang simbolik, karena semua itu merupakan foreshadowing tentang kebangkitannya sendiri dari kematian. . . . .

AUDIENS PASCA-PEMBERONTAKAN MARKUS

Apa yang memberi kita wawasan kedalam situasi penulisan injil Markus adalah beberapa bukti internal mengenai cara dia menceritakan kisahnya, mengenai audiens yang sedang digapainya. Salah satu bukti terbaik  ada pada Markus 13, apa yang kadang-kadang disebut Little Apocalypse, karena di dalamnya Yesus baru saja keluar dari Bait Allah dan murid-muridnya mendongak dan menudingi bangunan  megah itu dan mengatakan, “Indah ‘kan? Bagaimana menurutmu, Yesus?” Yesus kemudian mengatakan pada mereka tentang kehancuran Bait Allah. Jadi, ini dia, kisah tentang Yesus, sekitar 40 tahun sebelum Bait Allah dihancurkan, sudah meramalkan kehancuran itu. Tetapi, ketika kisah itu menggelinding, menjadi nyatalah bahwa audiens, untuk siapa kitab itu ditulis, memang sudah menyaksikan kehancuran Bait Allah, bahwa terlepas dari apapun yang disugestikan oleh ramalan-ramalan Yesus itu, mereka sendiri sudah tahu.

Kuncinya datang ketika Yesus dibuat mengacu pada penghojatan yang mengenaskan itu, yang dipasang di tempat di mana hal itu seharusnya tidak ada dan kemudian dinyatakan, “biarlah pembaca mengerti.” Yesus tidak pernah menulis apapun. Di jaman dia hidup, siapa yang akan membacanya? Di sini seakan-akan kita mempunyai sebuah solilokui di mana penulisnya, Markus, menapak keluar dari belakang si tokoh, Yesus, dan menyampaikan sesuatu  pada audiens, secara langsung, dari pengalaman-pengalaman mereka sendiri, dari sejarah masa lampau mereka yang belum terlalu jauh berlalu.  Di sinilah kita melihat situasi pemberontakan itu dan hasil akhirnya menjadi stimulus yang sangat penting bagi penulisan injil-injil.

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN MENYEMBUNYIKAN PESAN SEBENARNYA

Salah satu ciri aneh injil Markus dalam penyajiannya tentang Yesus adalah bahwa, ketika Yesus mengajar, ia seringkali menyembunyikan arti-penting kata-katanya sendiri dari khalayak ramai yang menjadi pendengarnya, dan menyampaikan arti-penting itu hanya pada murid-muridnya sendiri. Tiap orang akan tahu bahwa Yesus mengajar dalam perumpamaan-perumpamaan. Tetapi dalam injil Markus, ketika Yesus mengajar dalam perumpamaan-perumpamaan, injil itu secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus melakukan hal itu untuk menjaga agar orang-orang tidak memahami pesan-pesannya. Ia mengajar dalam metafora-metafora itu dan dalam lukisan-lukisan kata itu sedemikian rupa agar orang-orang tidak mengerti. Itu adalah pemahaman yang sangat berbeda tentang Yesus daripada yang mungkin kita asumsikan, secara tradisional, menurut saya. . . .

Motif tentang Yesus menyembunyikan ini itu dan fakta bahwa murid-murid secara karakteristik salah paham adalah bagian dari cara Markus mereinterpretasikan kisah tentang Yesus bagi audiens pasca-perang. Merekalah orang-orang yang mustinya mengerti. Markus benar-benar memanfaatkan kisah-kisah tradisional tentang Yesus yang saat itu sudah diedarkan, melalui tradisi lisan. Dan, dalam merakit kisah-kisah itu sedemikian rupa untuk menyajikan sebuah interpretasi baru, sebuah penghayatan baru tentang Yesus, untuk audiensnya. . . . .

Fakta bahwa Markus dengan jelas tengah merenungkan kehancuran Bait Allah sebagai bagian dari pemahaman tentang signifikansi kehidupan dan kematian Yesus itu merupakan sebuah interkoneksi yang sangat menentukan dalam injil ini. Dengan jalan merangkai cerita-cerita, Markus juga membuat kematian Yesus dan penolakan Yesus menjadi sentral bagi kisah yang memunculkan kehancuran Bait Allah itu. Dengan begitu, kisah tentang pembersihan Bait Allah dalam injil Markus adalah cara Yesus, menurut Markus, untuk menunjukkan bahwa Bait Allah itu tidak memberikan buah yang seharusnya. Yesus kemudian juga mengutuk sebatang pohon fig dan kedua cerita itu dijalin bersama-sama, dalam Markus, dengan cara sedemikian rupa sehingga simbolismenya melimpah dari cerita yang satu ke cerita lainnya. Yesus sedang berdiri menentang Bait Allah, dalam injil Markus, dan Markus ingin agar kita mengerti bahwa hal itu penting bagi mengapa dia harus mati dan mengapa Yerusalem akan hancur.

KEMATIAN YESUS DALAM MARKUS

Injil Markus juga merupakan injil pertama yang menceritakan pada kita kisah tentang sengsara Yesus secara mendetil.  Dan cara Markus menceritakan kisah kematian Yesus . . . . adalah dengan melihatnya sebagai sosok kesepian yang menemui ajalnya dengan ditinggalkan oleh semua pengikut dan pendukungnya dan bahkan ditinggalkan oleh Tuhannya. Yesus dari kayu salib mengatakan. . . .”Tuhanku, Tuhanku, mengapa kau meninggalkan aku?” Yesus injil Markus adalah sosok kesepian yang, kadang-kadang, menunggu pembelaan Tuhan.

Helmut Koester:

John H. Morison Professor of New Testament Studies and Winn Professor of Ecclesiastical History Harvard Divinity School

YESUS DALAM MARKUS —RAHASIA MESSIANIK

Ketika Markus menulis injilnya, ia sudah sadar akan adanya imaji-imaji yang sangat berlainan mengenai Yesus atau kepercayaan-kepercayaan [tentang] siapa Yesus itu . . . . Salah satunya adalah kepercayaan bahwa Yesus adalah Messiah karena mukjijat-mukjijat besar yang telah ia lakukan, dan karena pengajarannya yang kuat, penyembuhannya, bagaimana dia berjalan di atas laut. Dan Markus mengangkat tradisi itu, tetapi ia mengangkatnya dengan cara yang kritis. Ia tidak mengingkari bahwa Yesus membuat mukjijat-mukjijat itu, tetapi ia merangkum aktivitas mukjijat Yesus dalam pertanyaan di pertengahan injil itu, pada adegan terkenal tentang pengakuan Petrus di Kaisaria Filipi dalam Bab 8, [di mana] Yesus menanyai murid-murid, “Menurutmu siapa aku ini?” Dan Petrus tahu persis siapa orang yang telah membuat semua mukjijat itu. Dan mengatakan, “Kaulah Kristus. Kaulah Messiah.” Dan sesudah itu datanglah sebuah belokan tajam dalam injil Markus yang menceritakan pada pembaca bahwa percaya bahwa Yesus adalah Messiah karena ia melakukan mukjijat-mukjijat bukanlah pemahaman sejati mengenai siapa Yesus sebenarnya. Karena langsung sesudah pengakuan Petrus itu, Yesus mengatakan, “Anak Manusia harus menderita dan mati.” Dan Petrus mengatakan, “Mustinya itu tidak akan terjadi padamu,” dan Yesus membentaknya sebagai Setan. . . . .

Selama bertahun-tahun injil Markus didiskusikan di bawah pertanyaan tentang “rahasia Messianik.” Dan ada sejumlah besar penelitian ahli. Hasil penelitian selama lebih dari 100 tahun, mengenai “what is the messianic secret?” Bagi saya rahasia messianik itu adalah bahwa kemessiahan sejati Yesus tidak dapat dikenali dalam mukjijat-mukjijatnya. Murid-murid, ketika mereka menyaksikan mukjijat-mukjijat itu, tidak mengerti. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka diajari untuk mengerti siapa Yesus itu  dari ramalan tentang sengsara dan seterusnya. Dan bahwa rahasia messianik Yesus adalah bahwa ia adalah anak manusia yang harus menderita dan bukan Messiah yang membuat mukjijat-mukjijat besar. Dan itu akan menjadi jelas baru pada akhir kisah tentang Yesus itu. Dan hanya kisah tentang sengsara dan kematian Yesus lah yang mengungkapkan rahasia Yesus, dan mengungkapkan siapa Yesus sebenarnya.

Lebih lanjut tentang Injil Markus, baca esei karya Marilyn Mellowes.

Dari: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/first/kingdoms.html.

Terjemahan: Bern Hidayat, 23 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: